Khotbah Minggu
Penulis: Yeremia, Tanggal Penulisan: ± 585-580 SM Pelayanan Yeremia berlangsung di kerajaan Yehuda sekitar 626-586 SM, pada masa-masa terakhir sebelum kehancuran Yerusalem dan Bait Suci oleh Babel. Ia lahir di Anatot dari keluarga imam dan mulai bernubuat pada tahun ke-13 pemerintahan Raja Yosia. Meskipun mendukung pembaharuan Yosia, Yeremia menyadari bahwa bangsa itu belum mengalami pertobatan sejati, sehingga ia terus memperingatkan tentang hukuman Allah. Setelah Babel mengalahkan Mesir di Karkemis pada 605 SM dan menyerang Yehuda pada 597 SM, Yerusalem akhirnya dihancurkan pada 586 SM. Yeremia dikenal sebagai “nabi peratap” karena penderitaannya ketika menyampaikan firman Allah kepada bangsa yang keras hati, tetapi ia tetap setia meskipun ditolak dan dianiaya.
Kitab ini ditulis berdasarkan nubuat Yeremia yang
didiktekan kepada Barukh (Yer. 36:1–4). Setelah gulungan pertama dibakar Raja
Yoyakim, Yeremia mendiktekan kembali nubuat tersebut dengan tambahan.
Kemungkinan besar Barukh menyusun bentuk akhir kitab ini sekitar 585–580 SM.
Kitab Yeremia menegaskan kesetiaan sang nabi sekaligus kepastian hukuman Allah
bagi umat yang menolak bertobat.
Konteks Yeremia 15:15–21 adalah keluhan pribadi Yeremia di tengah penderitaan karena panggilan kenabiannya. Bagian ini muncul setelah Yeremia menyampaikan berita penghukuman Allah atas Yehuda yang terus memberontak. Ia mengalami penolakan, celaan, ancaman, dan kesepian karena menyampaikan firman Tuhan. Dalam ayat 15–18, Yeremia mencurahkan isi hatinya kepada Tuhan: ia mengasihi firman Allah (ay. 16), tetapi justru karena firman itu ia harus menanggung penderitaan dan hidup terpisah dari banyak orang (ay. 17–18). Bahkan dalam penderitaannya, ia merasa seolah-olah Tuhan tidak dapat diandalkan. Ayat 19–21 merupakan jawaban Tuhan kepada Yeremia: Tuhan memanggilnya untuk kembali teguh kepada-Nya, tetap menyampaikan yang benar dan berharga, serta tidak mengikuti jalan bangsa yang menolak Allah. Tuhan kemudian menjanjikan bahwa Yeremia akan menjadi “tembok berkubu dari tembaga”, sehingga sekalipun orang-orang memeranginya, mereka tidak akan mengalahkannya karena Tuhan menyertai dan menyelamatkannya. Jadi, konteks utama Yeremia 15:15–21 adalah pergumulan seorang nabi yang menderita karena kesetiaannya kepada firman Allah, dan peneguhan Tuhan agar ia tetap teguh dalam panggilannya.
Yeremia
15:15-21
15 Engkau mengetahuinya; ya TUHAN,
ingatlah aku dan perhatikanlah aku, lakukanlah pembalasan untukku terhadap
orang-orang yang mengejar aku. Janganlah membiarkan aku
diambil, karena panjang sabar-Mu, ketahuilah bagaimana
aku menanggung celaan oleh karena Engkau! 16 Apabila
aku bertemu dengan perkataan-perkataan-Mu, maka aku menikmatinya; firman-Mu
itu menjadi kegirangan bagiku, dan menjadi kesukaan hatiku ,
sebab nama-Mu y telah diserukan atasku,
ya TUHAN, Allah semesta alam. 17 Tidak pernah aku duduk beria-ria
dalam pertemuan orang-orang yang bersenda gurau; karena tekanan tangan-Mu aku
duduk sendirian, sebab Engkau telah memenuhi aku dengan geram. 18 Mengapakah
penderitaanku tidak berkesudahan, dan lukaku sangat payah, sukar disembuhkan? Sungguh,
Engkau seperti sungai yang curang bagiku, air yang tidak dapat dipercayai. 19 Karena
itu beginilah jawab TUHAN: "Jika engkau mau kembali , Aku
akan mengembalikan engkau menjadi pelayan di hadapan-Ku,
dan jika engkau mengucapkan apa yang berharga dan tidak hina, maka engkau akan
menjadi penyambung lidah bagi-Ku. Biarpun mereka
akan kembali kepadamu, namun engkau tidak perlu kembali kepada mereka. 20 Terhadap
bangsa ini Aku akan membuat engkau sebagai tembok berkubu
dari tembaga; mereka akan memerangi engkau, tetapi tidak akan mengalahkan engkau,
sebab Aku menyertai engkau untuk menyelamatkan dan melepaskan engkau, demikianlah
firman TUHAN. 21 Aku akan melepaskan i engkau dari tangan
orang-orang jahat j dan membebaskan engkau
dari genggaman orang-orang lalim. "
1. Firman Tuhan Menjadi Sukacita di Tengah Penderitaan (Ayat 15-16)
Yeremia sedang berada dalam keadaan yang tidak
mudah. Ia mengalami celaan, penolakan, dan tekanan karena kesetiaannya
menyampaikan firman Tuhan. Namun, di tengah penderitaan itu, ada sesuatu yang
tetap menjadi sumber kekuatan dan sukacita baginya, yaitu firman Tuhan.
Yeremia berkata, “Apabila aku bertemu dengan perkataan-perkataan-Mu, maka aku
menikmatinya; firman-Mu itu menjadi kegirangan bagiku, dan menjadi kesukaan
hatiku.” Ini menunjukkan bahwa firman Tuhan bukan sekadar sesuatu yang ia
sampaikan kepada orang lain, tetapi firman itu terlebih dahulu menghidupkan dan
menguatkan dirinya sendiri.
Menariknya, sukacita Yeremia tidak muncul karena
keadaan hidupnya baik. Justru ketika ia sedang menderita, firman Tuhan menjadi
semakin berharga baginya. Ia mungkin kehilangan penerimaan manusia, tetapi ia
tidak kehilangan sukacita yang berasal dari Tuhan.
Ada kalanya kita juga mengalami keadaan yang
tidak sesuai dengan harapan. Kita mungkin menghadapi masalah, penolakan,
kesulitan dalam pelayanan, atau pergumulan pribadi. Dalam keadaan seperti itu,
kita mudah mencari sukacita dari keadaan di luar diri kita. Namun Yeremia
mengajarkan bahwa sukacita sejati tidak selalu bergantung pada keadaan;
sukacita dapat lahir ketika hati kita berpegang kepada firman Tuhan.
Karena itu, pertanyaannya bukan hanya: “Apakah
hidup saya sedang baik?” tetapi juga: “Apakah firman Tuhan masih menjadi
kesukaan hati saya?”
Ketika firman Tuhan tetap menjadi kegirangan
kita, kita dapat berkata seperti Yeremia: meskipun keadaan berubah, Tuhan dan
firman-Nya tetap menjadi sumber sukacita dalam hidup kita.
2.
Kesetiaan kepada Tuhan Menjadi Kekuatan Menghadapi Pergumulan (Ayat 17-18)
Kesetiaan kepada Tuhan tidak berarti hidup kita akan bebas dari masalah. Justru dalam pengalaman Yeremia, kesetiaan kepada panggilan Tuhan membuat ia harus menghadapi berbagai pergumulan. Ia berkata, “Tidak pernah aku duduk beria-ria dalam pertemuan orang-orang yang bersenda gurau; karena tekanan tangan-Mu aku duduk sendirian” (ay. 17).
Yeremia merasa sendirian. Ia tidak dapat
menikmati kehidupan seperti orang-orang lain karena ia harus menjalankan tugas
kenabiannya. Firman yang ia sampaikan tidak membuat semua orang menerima dan
menghargainya. Sebaliknya, ia mengalami celaan, penolakan, tekanan, bahkan
penderitaan.
Dalam ayat 18, pergumulan Yeremia menjadi
semakin dalam. Ia bertanya kepada Tuhan: “Mengapakah
penderitaanku tidak berkesudahan, dan lukaku sangat payah, sukar disembuhkan?”
Bahkan Yeremia merasa seolah-olah Tuhan seperti “sungai yang curang”, yaitu sesuatu yang tidak dapat dipercayai.
Ini menunjukkan bahwa orang yang setia kepada
Tuhan pun dapat mengalami pergumulan iman. Kesetiaan bukan berarti kita tidak
pernah menangis, kecewa, bertanya, atau merasa lemah. Yeremia tetap datang
kepada Tuhan dan mencurahkan isi hatinya. Justru di situlah terlihat bahwa
pergumulannya tidak membuat dia meninggalkan Tuhan.
Bagi kita, ada kalanya kesetiaan kepada Tuhan
membuat kita harus berjalan melalui jalan yang tidak mudah. Kita mungkin tidak
dipahami, ditolak, atau merasa sendirian. Namun jangan mengukur kesetiaan Tuhan
hanya berdasarkan keadaan yang sedang kita alami.
Pergumulan bukan tanda bahwa Tuhan meninggalkan
kita. Pergumulan dapat menjadi tempat di mana iman kita semakin dimurnikan dan
kekuatan kita semakin bergantung kepada Tuhan.
Karena itu, ketika menghadapi pergumulan, jangan
berhenti datang kepada Tuhan. Boleh mengeluh kepada Tuhan, tetapi jangan
meninggalkan Tuhan. Boleh menangis di hadapan Tuhan, tetapi tetaplah berpegang
kepada-Nya. Seperti Yeremia, kita belajar bahwa kesetiaan kepada Tuhan harus
tetap dipelihara bahkan ketika jalan yang kita lalui penuh penderitaan.
3.
Penyertaan Tuhan Menguatkan untuk Tetap Setia (Ayat 19-21)
Setelah Yeremia mencurahkan keluh kesah dan
pergumulannya kepada Tuhan, Tuhan memberikan jawaban. Tuhan tidak membiarkan
Yeremia terus tenggelam dalam keputusasaan. Tuhan berkata, “Jika engkau mau
kembali, Aku akan mengembalikan engkau menjadi pelayan di hadapan-Ku.” (ay.
19).
Perkataan ini menunjukkan bahwa di tengah
pergumulannya, Yeremia dipanggil kembali untuk meneguhkan hati dan melanjutkan
panggilannya. Tuhan tidak menyuruh Yeremia mengikuti keinginan orang banyak.
Sebaliknya, Tuhan berkata, “Biarpun
mereka akan kembali kepadamu, namun engkau tidak perlu kembali kepada mereka.”
Artinya, Yeremia harus tetap berdiri pada kebenaran Tuhan sekalipun tidak
populer dan sekalipun harus menghadapi penolakan.
Kemudian Tuhan memberikan sebuah gambaran yang
sangat kuat: “Aku akan membuat engkau sebagai tembok berkubu dari tembaga.” Tembok
berkubu menggambarkan sesuatu yang kokoh, kuat, dan tidak mudah dihancurkan.
Yeremia memang akan menghadapi orang-orang yang memeranginya, tetapi Tuhan
menjamin bahwa mereka tidak akan mengalahkannya, sebab Tuhan sendiri
menyertainya.
Di sini kita melihat bahwa kekuatan Yeremia
bukan berasal dari dirinya sendiri, melainkan dari penyertaan Tuhan. Ia mungkin
lemah, takut, kecewa, dan pernah merasa sendirian. Tetapi Tuhan berkata, “Aku menyertai engkau untuk menyelamatkan
dan melepaskan engkau.”
Demikian juga dalam kehidupan kita. Kesetiaan
kepada Tuhan tidak selalu membuat jalan menjadi mudah. Kita tetap dapat
menghadapi tantangan, penolakan, bahkan penderitaan. Tetapi kita tidak
menghadapinya seorang diri. Ada Tuhan yang menyertai, menguatkan, melindungi,
dan menopang kita.
Karena itu, jangan berhenti hanya karena
pergumulan. Jangan meninggalkan panggilan hanya karena ada penolakan. Jangan
meninggalkan kebenaran hanya karena kebenaran itu tidak populer. Tetaplah
setia, sebab Tuhan yang memanggil kita adalah Tuhan yang juga menyertai kita.
Kita mungkin tidak selalu kuat, tetapi Tuhan
yang menyertai kita tidak pernah lemah. Dan ketika Tuhan menjadi kekuatan kita,
kita dapat tetap berdiri teguh sekalipun banyak hal berusaha menjatuhkan kita.
Kesimpulan
Yeremia 15:15-21 mengajarkan bahwa firman Tuhan
tetap menjadi sumber sukacita sekalipun kita berada dalam penderitaan,
kesetiaan kepada Tuhan tetap harus dipertahankan sekalipun kita mengalami
pergumulan, dan penyertaan Tuhan menjadi kekuatan untuk tetap teguh dalam
panggilan. Seperti Yeremia yang tetap berpegang pada firman di tengah penolakan
dan kesepian, kita pun dipanggil untuk tidak meninggalkan Tuhan ketika
menghadapi kesulitan. Sebab Tuhan yang memanggil adalah Tuhan yang menyertai,
menguatkan, menyelamatkan, dan memberi kemampuan kepada kita untuk tetap setia.
Karena itu, marilah kita menjadikan firman Tuhan sebagai kegirangan hati dan
tetap teguh dalam iman, sebab penyertaan Tuhan lebih besar daripada setiap
pergumulan yang kita hadapi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar