Bahan Khotbah: Segala Perkara Dapat Kutanggung di dalam Tuhan Filipi 4:10-19


Pendahuluan

Surat Filipi ditulis oleh Rasul Paulus sekitar tahun 62/63 M,  ketika ia berada dalam penjara di Roma (Fil 1:7,13). Filipi adalah kota Romawi di Makedonia yang menjadi pangkalan militer dan dinamai menurut Raja Filipus II dari Makedonia. Jemaat Filipi didirikan oleh Paulus bersama Silas, Timotius, dan Lukas dalam perjalanan misi yang kedua sebagai respons terhadap penglihatan yang diterima Paulus di Troas (Kis. 16:9-40). Sejak awal berdirinya jemaat, terjalin hubungan yang erat antara Paulus dan jemaat Filipi. Mereka beberapa kali mendukung Paulus secara materi dalam pelayanan pemberitaan Injil dan juga turut mengambil bagian dalam membantu orang-orang percaya yang berkekurangan di Yerusalem. Ketika Paulus berada dalam penjara, jemaat Filipi kembali mengirimkan bantuan melalui Epafroditus. Karena itu, Paulus menulis surat ini antara lain untuk menyampaikan ucapan syukur atas kasih dan dukungan jemaat, sekaligus menguatkan mereka agar tetap hidup dalam sukacita, persatuan, kerendahan hati, dan kesetiaan kepada Kristus di tengah berbagai keadaan dan penderitaan.

Mai kita merenungkan tiga poin penting dari  Filipi 4:10-19; Bersukacita atas Perhatian Jemaat  ayat 10. Jemaat Filipi kembali menunjukkan kasih dan perhatian melalui bantuan kepada Paulus.  Belajar Mencukupkan Diri  ayat 11-13. Paulus mampu menghadapi kekurangan maupun kelimpahan karena kekuatannya berasal dari Kristus. Pemberian Jemaat Berkenan kepada Allah  ayat 14-19.  Bantuan jemaat bukan sekadar pemberian materi, tetapi merupakan persembahan dan partisipasi dalam pelayanan Injil.


Khotbah

1. Bersukacita atas Perhatian Jemaat  (ayat 10)

10 Aku sangat bersukacita dalam Tuhan, bahwa akhirnya pikiranmu dan perasaanmu bertumbuh kembali untuk aku. Memang selalu ada perhatianmu, tetapi tidak ada kesempatan bagimu.

Paulus mengungkapkan sukacitanya dalam Tuhan karena jemaat Filipi kembali menunjukkan perhatian kepadanya. Perhatian itu sebenarnya bukan sesuatu yang baru, sebab Paulus mengatakan bahwa mereka “selalu” mempunyai perhatian kepadanya. Hanya saja, sebelumnya mereka tidak mempunyai kesempatan untuk menyatakan perhatian tersebut melalui tindakan nyata. Kini, melalui bantuan yang mereka kirimkan, Paulus melihat bahwa kasih dan kepedulian jemaat Filipi tetap terpelihara.

Sukacita Paulus bukan terutama karena besar kecilnya pemberian, tetapi karena ia melihat adanya kasih, perhatian, dan persekutuan jemaat dalam pelayanan. Bagi Paulus, perhatian yang diberikan dengan tulus merupakan wujud nyata dari kasih kepada sesama dan dukungan terhadap pekerjaan Tuhan. Karena itu, kita belajar bahwa perhatian yang sederhana sekalipun dapat menjadi sumber sukacita bagi orang lain, terutama ketika diberikan dengan hati yang tulus dan penuh kasih dalam Tuhan.

 

2. Belajar Mencukupkan Diri  (ayat 11-13)

11 Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. 12 Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan. 13 Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.

Paulus menegaskan bahwa ia bersyukur atas pemberian jemaat Filipi bukan karena ia sedang dikuasai oleh kekurangan. Ia telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. Paulus mengalami berbagai keadaan hidup: pernah berkekurangan dan pernah berkelimpahan, pernah kenyang dan pernah lapar. Semua pengalaman itu mengajarkannya untuk tidak menggantungkan sukacita dan kepuasan hidup pada keadaan materi, melainkan belajar menerima dan menjalani setiap keadaan dengan iman kepada Tuhan.

Karena itu Paulus berkata, “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” Ayat ini tidak berarti bahwa Paulus dapat melakukan atau mendapatkan segala sesuatu yang diinginkannya, tetapi bahwa dalam setiap keadaan - baik susah maupun senang, kekurangan maupun kelimpahan- Paulus memperoleh kekuatan dari Kristus untuk menjalaninya. Kekuatan orang percaya bukan terletak pada banyaknya yang dimiliki, tetapi pada Kristus yang menyertai dan memberi kekuatan dalam setiap keadaan.

 

3. Pemberian Jemaat Berkenan kepada Allah  (ayat 14-19)

14 Namun baik juga perbuatanmu, bahwa kamu telah mengambil bagian dalam kesusahanku. 15 Kamu sendiri tahu juga, hai orang-orang Filipi; pada waktu aku baru mulai mengabarkan Injil, ketika aku berangkat dari Makedonia, tidak ada satu jemaatpun yang mengadakan perhitungan hutang dan piutang dengan aku selain dari pada kamu. 16 Karena di Tesalonikapun kamu telah satu dua kali mengirimkan bantuan kepadaku. 17 Tetapi yang kuutamakan bukanlah pemberian itu, melainkan buahnya, yang makin memperbesar keuntunganmu. 18 Kini aku telah menerima semua yang perlu dari padamu, malahan lebih dari pada itu. Aku berkelimpahan, karena aku telah menerima kirimanmu dari Epafroditus, suatu persembahan yang harum, suatu korban yang disukai dan yang berkenan kepada Allah. 19 Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus.

Paulus menghargai pemberian jemaat Filipi karena mereka telah mengambil bagian dalam kesusahannya. Sejak Paulus mulai memberitakan Injil, jemaat Filipi beberapa kali memberikan bantuan kepadanya, bahkan ketika ia berada di Tesalonika. Bagi Paulus, pemberian tersebut bukan sekadar bantuan materi, tetapi merupakan tanda kasih, kepedulian, dan persekutuan mereka dalam pelayanan Injil. Mereka tidak hanya mendukung Paulus dengan kata-kata, tetapi juga dengan tindakan nyata.

Namun, Paulus menegaskan bahwa yang terutama bukanlah pemberian itu, melainkan buah iman yang dihasilkan melalui pemberian tersebut. Ia menggambarkan bantuan jemaat sebagai “persembahan yang harum, suatu korban yang disukai dan yang berkenan kepada Allah.” Karena itu, pemberian yang tulus kepada pekerjaan Tuhan dan kepada sesama menjadi bagian dari kehidupan iman yang berkenan kepada Allah. Paulus kemudian meyakinkan jemaat Filipi bahwa Allah akan memenuhi segala keperluan mereka menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus.

Kesimpulan

Filipi 4:10-19 mengajarkan bahwa hidup dalam Kristus adalah hidup yang penuh sukacita, belajar mencukupkan diri, dan peduli kepada sesama. Paulus tetap bersukacita dalam berbagai keadaan karena kekuatannya berasal dari Kristus. Ia juga menghargai pemberian jemaat Filipi sebagai wujud kasih, persekutuan, dan pelayanan yang berkenan kepada Allah. Karena itu, kita dipanggil untuk belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan, tetap bersukacita dalam Tuhan, serta rela berbagi dan menolong sesama, sambil percaya bahwa Allah akan memenuhi segala keperluan kita menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus.

Oleh: Pdt. Juliman Harefa



Bahan PA: Kasih Allah Kepada Semua Ciptaan-Nya Yunus 4:1-11

 


Pendahuluan

Yunus, yang berarti “merpati”, adalah putra Amitai dan seorang nabi dari Gat-Hefer di Galilea (Yun. 1:1; 2Raj. 14:25). Ia melayani sebagai nabi bagi Kerajaan Utara Israel pada masa pemerintahan Yerobeam II (793-753 SM), sekitar abad ke-8 SM. Pelayanannya berlangsung tidak lama setelah Elisa dan sezaman dengan Amos, kemudian diikuti oleh Hosea. Yunus mendapat tugas khusus dari Allah untuk pergi ke Niniwe, ibu kota penting Asyur yang terletak sekitar 800 kilometer timur laut Galilea, untuk menyerukan pertobatan. Namun, Yunus enggan karena ia mengetahui bahwa Allah adalah Allah yang pengasih, penyayang, panjang sabar, dan berlimpah kasih setia (Yun. 4:2), yang dapat mengampuni bangsa yang bertobat. Karena itu, kisah Yunus memperlihatkan luasnya kasih sayang Allah yang menyelamatkan, bukan hanya bagi Israel, tetapi juga bagi bangsa-bangsa lain.

Yunus 4:1-11 merupakan bagian penutup kitab Yunus dan terjadi setelah penduduk Niniwe menanggapi pemberitaan Yunus dengan pertobatan. Allah melihat pertobatan mereka dan tidak jadi mendatangkan malapetaka atas Niniwe (Yun. 3:10). Keputusan Allah ini justru membuat Yunus marah, karena ia menghendaki Niniwe dihukum. Melalui peristiwa pohon jarak yang tumbuh, kemudian layu, serta melalui pertanyaan-Nya kepada Yunus, Allah mengajarkan bahwa kasih manusia sering terbatas pada kepentingan dan kenyamanan dirinya sendiri, sedangkan kasih Allah jauh lebih luas. Yunus merasa sayang kepada pohon yang tidak ditanamnya, tetapi Allah mengasihi 120.000 orang Niniwe beserta ternaknya. Dengan demikian, bagian ini menegaskan bahwa kasih sayang Allah menjangkau semua ciptaan-Nya dan memberi kesempatan kepada manusia untuk bertobat dan diselamatkan.


Khotbah

1. Kasih Allah untuk semua ciptaanNya (ayat 1-4)

1Tetapi hal itu sangat mengesalkan hati Yunus, lalu marahlah j ia.  2Dan berdoalah ia kepada TUHAN, katanya: "Ya TUHAN, bukankah telah kukatakan itu, ketika aku masih di negeriku? Itulah sebabnya, maka aku dahulu melarikan diri ke Tarsis, sebab aku tahu, bahwa Engkaulah Allah yang pengasih l  dan penyayang, yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia serta yang menyesal karena malapetaka  yang hendak didatangkan-Nya. 3Jadi sekarang, ya TUHAN, cabutlah kiranya nyawaku, karena lebih baik aku mati  dari pada hidup. "  4Tetapi firman TUHAN: "Layakkah engkau marah? " 

Yunus marah ketika Allah mengampuni Niniwe. Setelah Yunus memberitakan penghukuman, penduduk Niniwe bertobat dan berbalik dari jalan mereka yang jahat. Allah melihat pertobatan mereka dan tidak jadi mendatangkan malapetaka atas kota itu. Namun, bukannya bersukacita, Yunus justru sangat kesal. Ia menghendaki Niniwe dihukum karena menurut pandangannya mereka tidak layak menerima belas kasihan Allah. Bahkan Yunus mengakui bahwa ia sebenarnya sudah mengetahui sifat Allah sebagai Allah yang “pengasih dan penyayang, yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia.” Karena itu, ia sejak awal melarikan diri ke Tarsis.

Melalui kemarahan Yunus, Allah mengajarkan bahwa kasih-Nya tidak terbatas pada bangsa, kelompok, atau orang-orang yang kita anggap layak. Ketika Allah bertanya, “Layakkah engkau marah?”, Allah sedang menolong Yunus melihat bahwa kasih dan belas kasihan Allah jauh lebih luas daripada kasih manusia. Allah mengasihi penduduk Niniwe dan memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat dan diselamatkan. Karena itu, kita juga dipanggil untuk belajar menerima bahwa kasih Allah menjangkau semua ciptaan-Nya, termasuk mereka yang mungkin sulit kita kasihi atau yang kita anggap tidak layak menerima pengampunan.

2. Kasih Allah Mengajar Manusia Melihat Lebih dari Kepentingan Diri Sendiri (ayat 5-8)

5 Yunus telah keluar meninggalkan kota itu dan tinggal di sebelah timurnya. Ia mendirikan di situ sebuah pondok dan ia duduk di bawah naungannya menantikan apa yang akan terjadi atas kota itu. 6 Lalu atas penentuan TUHAN Allah tumbuhlah sebatang pohon jarak  melampaui kepala Yunus untuk menaunginya, agar ia terhibur dari pada kekesalan hatinya. Yunus sangat bersukacita karena pohon jarak itu. 7Tetapi keesokan harinya, ketika fajar menyingsing, atas penentuan Allah datanglah seekor ulat, yang menggerek pohon jarak itu, sehingga layu. 8 Segera sesudah matahari terbit, maka atas penentuan Allah bertiuplah angin timur yang panas terik, sehingga sinar matahari menyakiti kepala Yunus, lalu rebahlah ia lesu dan berharap supaya mati, katanya: "Lebih baiklah aku mati dari pada hidup.

Yunus keluar dari kota Niniwe dan mendirikan sebuah pondok di sebelah timur kota itu. Ia masih menunggu dan berharap melihat apa yang akan terjadi atas Niniwe. Allah kemudian menumbuhkan pohon jarak yang memberikan naungan kepada Yunus sehingga ia terlindung dari panas matahari. Yunus sangat bersukacita karena pohon itu. Namun, keesokan harinya Allah mengirim seekor ulat yang menggerek pohon tersebut hingga layu. Ketika matahari terbit dan angin timur yang panas menerpa Yunus, ia merasa sangat menderita dan kembali berharap agar dirinya mati. Peristiwa ini menunjukkan betapa besar perhatian Yunus terhadap kenyamanan dirinya, bahkan terhadap sebuah pohon yang hanya dinikmatinya dalam waktu singkat.

Melalui peristiwa pohon jarak itu, Allah sedang mengajar Yunus untuk melihat kehidupan bukan hanya dari kepentingan dirinya sendiri. Yunus begitu sedih karena kehilangan pohon yang memberikan kenyamanan kepadanya, tetapi sebelumnya ia tidak menunjukkan kesedihan ketika kehidupan ribuan orang Niniwe terancam. Allah ingin mengubah cara pandang Yunus: jangan hanya peduli terhadap apa yang memberikan kenyamanan bagi diri sendiri, tetapi pedulilah terhadap kehidupan sesama dan seluruh ciptaan Tuhan. Kasih Allah mengajarkan kita untuk keluar dari kepentingan diri sendiri dan memiliki hati yang peduli, berbelas kasih, dan menghargai kehidupan yang Tuhan ciptakan.

3. Kasih Allah Menjangkau Semua Ciptaan-Nya (ayat 9-11)

" 9Tetapi berfirmanlah Allah kepada Yunus: "Layakkah engkau marah  karena pohon jarak  itu?" Jawabnya: "Selayaknyalah aku marah sampai mati." 10Lalu Allah berfirman: "Engkau sayang kepada pohon jarak itu, yang untuknya sedikitpun engkau tidak berjerih payah dan yang tidak engkau tumbuhkan, yang tumbuh dalam satu malam dan binasa dalam satu malam pula. 11Bagaimana tidak Aku akan sayang kepada Niniwe, kota yang besar itu, yang berpenduduk lebih dari seratus dua puluh ribu orang, yang semuanya tak tahu membedakan tangan kanan dari tangan kiri, dengan ternaknya yang banyak?"


Allah kembali bertanya kepada Yunus, “Layakkah engkau marah karena pohon jarak itu?” Yunus menjawab bahwa ia layak marah sampai mati. Kemudian Allah menjelaskan bahwa Yunus merasa sayang kepada pohon jarak yang tidak ia tanam dan tidak ia usahakan, yang tumbuh hanya dalam satu malam dan binasa dalam satu malam pula. Jika Yunus begitu peduli terhadap sebuah pohon yang hanya memberikan kenyamanan kepadanya, maka Allah mengajarkan bahwa kepedulian-Nya jauh lebih besar terhadap manusia yang diciptakan-Nya.

Karena itu Allah berkata, “Bagaimana tidak Aku akan sayang kepada Niniwe, kota yang besar itu?” Allah bukan hanya memperhatikan 120.000 penduduk Niniwe, tetapi juga ternak mereka. Hal ini menunjukkan betapa luasnya kasih dan belas kasihan Allah terhadap seluruh ciptaan-Nya. Allah memberikan kesempatan kepada penduduk Niniwe untuk bertobat dan memperoleh keselamatan. Melalui bagian ini, kita belajar bahwa kasih Allah tidak terbatas dan tidak membeda-bedakan; kasih-Nya menjangkau manusia dan seluruh ciptaan yang berada dalam pemeliharaan-Nya.

 

Kesimpulan

Yunus 4:1-11 mengajarkan bahwa kasih Allah jauh lebih luas daripada kasih manusia. Yunus marah ketika Allah mengampuni Niniwe, lebih peduli pada kenyamanan dirinya melalui pohon jarak daripada keselamatan orang-orang Niniwe. Namun, Allah menunjukkan bahwa setiap manusia dan seluruh ciptaan-Nya berharga di hadapan-Nya. Karena itu, sebagai orang percaya kita dipanggil untuk meninggalkan sikap mementingkan diri sendiri, tidak membatasi kasih kepada orang yang kita sukai atau anggap layak, tetapi belajar memiliki hati yang penuh belas kasihan, mengasihi sesama, dan peduli terhadap seluruh ciptaan Tuhan.

Pertanyaan Diskusi

Mengapa Yunus lebih mudah merasa sayang kepada pohon jarak daripada kepada penduduk Niniwe, dan apa yang dapat kita pelajari dari sikap Yunus dalam kehidupan kita?

Jawaban:
Yunus lebih memikirkan kenyamanan dan kepentingan dirinya sendiri daripada kehidupan orang lain. Ia merasa kehilangan ketika pohon jarak yang menaunginya mati, tetapi tidak bersukacita ketika penduduk Niniwe bertobat dan diselamatkan. Dari sikap Yunus, kita belajar untuk tidak membatasi kasih hanya kepada diri sendiri, keluarga, kelompok, atau orang yang kita sukai. Kita dipanggil untuk memiliki hati seperti Allah yang mengasihi, mengampuni, dan peduli terhadap semua ciptaan-Nya.

 

 

 

Khotbah Minggu: Tuhan Melakukan Perbuatan Besar Bagi Umat-Nya. Keluaran 14:19-31

Pendahuluan


Kitab Keluaran menceritakan bagaimana bangsa Israel yang telah lama menjadi budak di Mesir dibebaskan oleh Allah melalui Musa. Firaun pada awalnya menolak membiarkan Israel pergi, sehingga Allah mendatangkan sepuluh tulah atas Mesir.  Setelah tulah terakhir, yaitu kematian anak sulung Mesir, Firaun akhirnya mengizinkan Israel meninggalkan Mesir (Kel. 12). Israel kemudian bergerak keluar dari tanah Mesir m

enuju tanah yang dijanjikan Allah kepada nenek moyang mereka.

Namun, pembebasan itu belum langsung berarti mereka bebas dari ancaman. Firaun berubah pikiran dan kembali mengejar Israel dengan pasukan, kereta, dan orang-orang berkudanya. Sebelum Keluaran 14:19-31, Israel telah sampai di dekat laut. Di depan mereka terdapat laut, sedangkan dari belakang datang tentara Mesir.

Keadaan ini sangat menakutkan. Israel merasa bahwa mereka akan mati. Mereka bahkan berkata kepada Musa: “Apakah karena tidak ada kuburan di Mesir, maka engkau membawa kami untuk mati di padang gurun ini?” (Kel. 14:11).

Jadi, persoalan utama dalam pasal ini bukan sekadar perjalanan menyeberangi laut. Israel sedang menghadapi situasi yang secara manusiawi tidak mempunyai jalan keluar. Musa kemudian berkata: “Janganlah takut, berdirilah tetap dan lihatlah keselamatan dari TUHAN.” (Kel. 14:13). Dan ayat 14 menjadi kunci: “TUHAN akan berperang untuk kamu, dan kamu akan diam saja.”

Dengan demikian, Keluaran 14:19-31 merupakan penggenapan nyata dari perkataan Musa dalam ayat 13-14: Allah sendiri berperang bagi Israel.

Khotbah

1. Allah melindungi Israel  (ayat 19-20)

19 Kemudian bergeraklah Malaikat Allah,   yang tadinya berjalan di depan tentara Israel, lalu berjalan di belakang mereka; dan tiang awan  itu bergerak dari depan mereka, lalu berdiri di belakang  mereka. 20 Demikianlah tiang itu berdiri di antara tentara orang Mesir dan tentara orang Israel; dan oleh karena awan itu menimbulkan kegelapan,  maka malam itu lewat, sehingga yang satu tidak dapat mendekati yang lain, semalam-malaman itu. 

Malaikat Allah dan tiang awan yang sebelumnya berjalan di depan Israel, sekarang berpindah ke belakang mereka. Hali ini berarti bahwa Allah bukan hanya menunjukkan jalan kepada Israel, tetapi juga menjadi pelindung mereka.

Tiang awan berdiri di antara Israel dan Mesir sehingga tentara Mesir tidak dapat mendekati Israel sepanjang malam. Allah berada di depan ketika Israel membutuhkan arah dan berada di belakang ketika Israel membutuhkan perlindungan.

Ini menunjukkan bahwa penyertaan Allah kepada kita umat-Nya bukan sekadar simbol, tetapi menjadi tindakan nyata dalam menghadapi ancaman.

2. Allah membuka jalan di tengah laut (ayat 21-22)

21  Lalu Musa mengulurkan tangannya   ke atas laut,  dan semalam-malaman itu TUHAN menguakkan air laut dengan perantaraan angin timur  yang keras, membuat laut itu menjadi tanah kering;  maka terbelahlah  air itu. 22 Demikianlah orang Israel berjalan dari tengah-tengah laut   di tempat kering  ;  sedang di kiri dan di kanan mereka air itu sebagai tembok  bagi mereka. 

Musa mengulurkan tangannya ke atas laut. Kemudian TUHAN menggunakan angin timur yang keras sepanjang malam untuk menguak air laut.

Israel kemudian berjalan:“di tempat kering dari tengah-tengah laut.” Air berada di sebelah kiri dan kanan mereka seperti tembok.

Di sini  terdapat gambaran penting mengenai keselamatan Allah.  Israel tidak menemukan jalan keluar sendiri. Allah menciptakan jalan di tempat yang kelihatannya tidak mungkin ada jalan.

Laut yang bagi Israel merupakan penghalang justru menjadi jalan keselamatan.  Kita bisa belajar bahwa  Allah menggunakan caranya sendiri yakni mujizat dalam menolong orang yang membutuhkan pertolongan.

Bahan PA: Panggilan Kepada Orang Beriman Untuk Meninggalkan Hidup yang Lama dan Membangun Hidup yang Baru 1 Petrus 2:1-10


 
Yesus Kristus batu penjuru

1 Karena itu buanglah   segala kejahatan, segala tipu muslihat dan segala macam kemunafikan, kedengkian dan fitnah.   2 Dan jadilah sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu ingin akan air susu yang murni   dan yang rohani , supaya olehnya kamu bertumbuh  dan beroleh keselamatan, 3  jika kamu benar-benar telah mengecap kebaikan   Tuhan. 4 Dan datanglah kepada-Nya, batu  yang hidup itu, yang memang dibuang oleh manusia, tetapi yang dipilih dan dihormat di hadirat Allah.  5 Dan biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan  suatu rumah rohani,  bagi suatu imamat kudus  ,  untuk mempersembahkan persembahan rohani yang karena Yesus Kristus   berkenan kepada Allah. 6 Sebab ada tertulis dalam Kitab Suci: "Sesungguhnya, Aku meletakkan di Sion sebuah batu yang terpilih, sebuah batu penjuru   yang mahal, dan siapa yang percaya kepada-Nya, tidak akan dipermalukan. " 7 Karena itu bagi kamu, yang percaya, ia mahal, tetapi bagi mereka yang tidak percaya:  "Batu yang telah dibuang  oleh tukang-tukang bangunan, telah menjadi batu penjuru,  juga telah menjadi batu sentuhan dan suatu batu sandungan. " 8 Mereka tersandung padanya, karena mereka tidak taat kepada Firman Allah; dan untuk itu mereka juga telah disediakan. 9 Tetapi kamulah bangsa yang terpilih,   imamat  yang rajani, bangsa  yang kudus  , umat kepunyaan Allah  sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya  yang ajaib:  kamu, yang dahulu bukan umat Allah, tetapi yang sekarang telah menjadi umat-Nya,  yang dahulu tidak dikasihani tetapi yang sekarang telah beroleh belas kasihan.

Pendahuluan

Surat ini dibuka dengan nama Petrus, rasul Yesus Kristus (1Ptr. 1:1). Tradisi gereja memahami penulisnya sebagai Rasul Petrus, salah seorang dari dua belas murid Yesus dan tokoh penting dalam gereja mula-mula.

Petrus menulis bukan terutama untuk memberikan teori teologi, tetapi untuk menguatkan orang-orang percaya yang sedang mengalami tekanan, penderitaan, dan penolakan karena iman mereka kepada Kristus. Surat ini ditujukan  ke beberapa wilayah: Pontus, Galatia, Kapadokia, Asia dan Bitinia1 Petrus 1:1 wilayah-wilayah tersebut berada di Asia Kecil, yaitu bagian dari wilayah yang sekarang secara umum merupakan Turki.

Khotbah

1. Meninggalkan Hidup Lama dan Bertumbuh dalam Kristus (ayat 1-3)

 

Petrus mengawali nasihatnya dengan berkata, “Karena itu, buanglah” segala kejahatan, tipu muslihat, kemunafikan, kedengkian, dan fitnah (ay. 1). Kata “karena itu” menghubungkan nasihat ini dengan kehidupan baru yang telah diterima orang percaya. Jadi, karena mereka telah mengalami kebaikan Tuhan, mereka tidak boleh lagi hidup dengan pola kehidupan lama yang merusak hubungan dengan sesama. Setelah itu, ayat 2 memberikan gambaran positif: “jadilah seperti bayi yang baru lahir, yang selalu ingin akan air susu yang murni dan yang rohani.” Artinya, meninggalkan kehidupan lama harus diikuti dengan kerinduan terhadap makanan rohani. Kita tidak cukup hanya membuang yang buruk; kita harus mengisi kehidupan dengan sesuatu yang baik, yaitu firman dan kebenaran Tuhan. Dengan demikian, ayat 1 berbicara tentang apa yang harus dibuang, sedangkan ayat 2 berbicara tentang apa yang harus dicari dan dirindukan.

Kemudian ayat 3 memberikan dasar atau alasan dari semuanya: “Jika kamu benar-benar telah mengecap kebaikan Tuhan.” Jadi, urutannya sangat jelas: karena telah mengecap kebaikan Tuhan (ay. 3), orang percaya membuang kehidupan lama (ay. 1), merindukan makanan rohani (ay. 2), dan melalui semuanya itu mereka bertumbuh menuju keselamatan (ay. 2). Dengan kata lain, pertumbuhan rohani dimulai dari pengalaman akan kebaikan Tuhan, diwujudkan dengan meninggalkan perilaku lama, dipelihara melalui kerinduan terhadap makanan rohani, dan menghasilkan kehidupan yang semakin dewasa dalam Kristus.

2. Kristus sebagai Batu Penjuru (ayat 4-8)

Setelah berbicara tentang pertumbuhan rohani pada ayat 1–3, Petrus membawa jemaat kepada pusat dan dasar pertumbuhan itu, yaitu Kristus. Ia berkata, “Dan datanglah kepada-Nya, batu yang hidup itu” (ay. 4). Kristus disebut Batu yang hidup karena sekalipun Ia ditolak dan disalibkan oleh manusia, Allah membangkitkan dan memilih-Nya sebagai batu penjuru yang mahal dan berharga. Untuk menjelaskan hal ini, Petrus mengutip beberapa teks Perjanjian Lama: Yesaya 28:16 tentang batu yang terpilih dan mahal di Sion, Mazmur 118:22 tentang batu yang dibuang oleh tukang bangunan tetapi menjadi batu penjuru, dan Yesaya 8:14 tentang batu sandungan. Semuanya diterapkan Petrus kepada Yesus Kristus. Batu penjuru adalah batu yang sangat penting dalam bangunan karena menjadi dasar dan penentu bagi keseluruhan struktur. Karena itu, secara teologis Petrus menegaskan bahwa Kristus adalah dasar, pusat, dan penentu kehidupan umat Allah. Orang yang percaya kepada-Nya memperoleh keselamatan, tetapi orang yang menolak-Nya akan menjadikan Kristus sebagai batu sandungan.

Huhuo ba luo Migu: Fa’omasi khὃ Lowalangi ba ba Nawὃda Niha. Luka 10:25-27


 


Famrὃgὃ

Sura Luka andre nisura me dὃfi 60-63 M (Masehi). Luka andre tenga niha Yehuda, banua Gereka ia, doto ia ba awὃ Waulo ba halὃwὃ gὃi.  Sura andre nifa'ema khὃ Teofilo (Luka 1:1,3)

Dumaduma: Niha silὃ faduhu tὃdὃ (Ilustrasi: Ateis yang Baik)

So samὃsa iramatua (ateis) mefalukhὃ ia khὃ samὃsa ira alawe sino atua sinuma lὃ fa’abölὃnia ba wowὃli daludalu ba ba wamu’ὃ okosi nomo.  Ateis andre mὃi ia khô alawe satua sinuma andre. I’ohe ba nomonia i’rorogὃ simane ina nia samὃsa. I fa’anὃ naha wemorὃ ba gὃnia, i’ὃli daludalu ba ifasao ba omo zofὃkhὃ. i’tolo ira alawe satua andre irugi abὃlὃ ia. Ato sitokea bὃrὃ me ira matua sanolo andre tenga niha sifaduhu tὃdὃ khὃ Lowalangi (Ateis). (Nisura: Herb Vander Lugt)


Niha Yerikhὃ

Ba dumaduma andre, Niha soroi ba Yeresalema si mὃi mi tou ba Yerikho lὃ aboto ba dὃdὃda haniha ia andre, ni’ilada’i yaia andre niha nirabu, nibõbõzi ba larὃi manὃ ia ba dalu lala arakhagὃ  mate.  Yerusalema no so ba hili  numalo mitou ba Yerikhὃ lala silὃ sὃkhi ba ginõtõ da’õ.  Me lala andre numalὃ mitou ba ndraso mo kara ba lὃ nihaniha ba zifasui, andrὃ wa dania molala ba nemali ba worabu ma ba wo anagὃi niha sanõrὃ lala andrὃ.   

Tokea dὃdὃ niha  Yehuda ba wamondrondrongo dumaduma nibe’e Yesu sanandrὃsa niha Samaria sisὃkhi tὃdὃ.   I’suno Yesu wa’asὃkhiὃ dὃdὃ niha Samaria andre, tokea ira me niha Yehuda lὃ irai atulὃ dὃdὃra nasa ba niha Samaria, ba i’oguna’ὃ Dawa Samaria tobali dumaduma.

Ba Luka 10:25-27, so niha sangila amakhoita manὃfu khὃ Yesu: Hewisa lala ba wanema’ὃ fa’auri silὃ’aetu.  Ba ifuli isofu Yesu hadia ia nisura ba goroisa. Ba itema sangila oroisa andrὃ omasiὃ Lowalangiu Yehowa moroi si’aikὃ ba dὃdὃu ba awὃu niha gulidanὃ. 

Ba huhuo andre taila dania wa fa’omasi ba nawaὃ niwa’ὃ Yesu tenga ha mangi’ila haniha niha  ni’omasi’ὃ andrὃ me sabὃlὃ moguna ta’amuataigὃ ba ta’ aurifagὃ fa’omasi andrὃ ba wanolo awὃda niha si so ba wa’abu dὃdὃ.    

Da ta erenusi dumaduma andre amuata: Ere, Lewi ba Dawa Samaria ba da Fili ba ba tandrösaigö ba wa'aurida amuata sinangea tafalua ba wa'aurida.

Huhuo

1. Amuata Ere (ayati 25-31)

25.  III. Ba hiza, maoso zangila amachoita, samõsa, manandraigõ jaʼia, imane: He samahaõ, he oewisa, enaʼõ oesõndra waʼaoeri si lõ aetoe andrõ?26. Ba imane chõnia: Hadia ba zoera goroisa andrõ? he wisa wombasooe? 27. Ba itema linia, imane: ”Omasiʼõ Zoʼaja, Lowalangioe, moroi siʼaikõ ba dõdõoe, nosooe maʼasamboea zangomasiʼõ jaʼia, ba õhorigõ waʼabõlõoe, awõ geraʼeraoe wangomasiʼõ jaʼia; ba omasiʼõ zahatõ chõoe, si mane faʼomasioe ndraʼoegõ.” 28. Ba imane chõnia: Si ndroehoe niw̃aʼõoe, oʼõ daʼõ, ba aoeri ndraʼoegõ.  29. Ba iboeʼa enaʼõ, imane chõ Jesoe: Ba ha niha zahatõ chõgoe? 30. Ba imane Jesoe: So niha, si mõi misi tooe, iʼotarai Jeroezalema, noemalõ ba Jericho, ba faloecha ia zoraboe, laheta noechania, labõbõzi ia ba lalaoe mofanõ, larõi tooe ia, aracha mate. 31. Ba itõrõ misi tooe lala andrõ ere, ba iʼila, ba itõrõ manõ.

Ere andre sohalὃwὃ ba gotalua agama niha Yahuda ba ndraono Gizera’eli Ba itõrõ misi tou lala andrõ ere, ba iʼila, ba itõrõ manõ. (ayati 31). Ta’ila ba da’e wa ere andrὃ i’ila nirabu, niheta nukha, nibõbõzi  ba nirõi ba lala  arakhagõ mate ba itõrõ manõ, lὃ itolo.

Oroma khὃda wa dadaoma ba agama ba he fa’atuatua ba wangi’ila amakhoita tenga bὃrὃ wa so dὃdὃ wa’omasi ba nawὃ ba wanolo niha nirabu ba sabutὃdὃ, ha bὃrὃ wamalua goi-goi agama. ba imane Yehowa khõ Moze: Be’e li ba gere andrõ, iraono Ga’aroni, õmane khõra: Lõ tola ihalõ fa’ara’iõnia mboto zi mate ba niwara ere. (3 Moz3 21:1) ba Ha niha zombambaya si mate, hadia ia mboto niha si no mate, ba fitu bongi ra'iὃ ia (3 Moze 19:11). He wa'ae lõ aboto sibai ba dõdõnia na no mate na lõ'õ nirabu andrõ, ba me itolo nirabu andrõ dania Dawa Samaria aboto ba dõdõda wa lõ simate nirabu andrõ. 

4. Amuata Ono Lewi (ayati 32)

Ba si manõ gõi nono Lewi, samõsa, me iroegi daʼõ, iʼila,

Niha Lewi ba no banua Lewi, so halὃwὃ ba so amakhaita ba lala halὃwὃ ba wamalua halὃwὃ fasumangeta khὃ Lowalangi ba gosali. Ba si manõ gõi nono Lewi, samõsa, me irugi daʼõ, iʼila, ba itὃrὃ manὃ, lὃ itolo.  Eluhania niha nitὃtὃna samalua wa’omasi ba nawὃ me sohalὃwὃ ba gosali  sinagea samalua fa’omasi ba nawὃ ba lὃ ifalua wanolo niha dirabu, ni’bὃbὃzi ba sarakhagὃ mate. 

He ere ba  he Lewi faoma la ila wa so niha sarakhagὃ mate me no larabu ba la bὃbὃzi ba lὃ latolo bὃrὃ wamalua niwa'ὃ ba goroisa; ba imane Yehowa khõ Moze: ba Ha niha zombambaya si mate, hadia ia mboto niha si no mate, ba fitu bongi ra'iὃ ia (3 Moze 19:11). Hewa'ae lõ tatu no nomate hina nirabu andrõ na lõ'õ.

Bahan PA: Berkat bagi yang Mengasihi dan Taat pada Perintah Tuhan Ulangan 11:13-21

 

   

Pendahuluan

Kitab Ulangan berisi pidato-pidato Musa kepada bangsa Israel menjelang mereka memasuki Tanah Kanaan. Generasi yang mengalami keluarnya Israel dari Mesir sebagian besar telah meninggal di padang gurun, dan pada bagian ini, Musa sedang mempersiapkan generasi baru yang lahir di padang gurun untuk hidup sebagai umat Allah di tanah Kanaan, tanah perjanjian. Tema umum kita Ulangan ialah mengingat, mengasihi dan menaati perintah Tuhan

Ulangan 11:13-21 merupakan bagian dari pesan Musa kepada bangsa Israel sebelum mereka memasuki Tanah Perjanjian. Musa mengingatkan bahwa kehidupan mereka di tanah yang Tuhan berikan sangat bergantung pada hubungan mereka dengan Tuhan. Karena itu, bagian ini mengajarkan kita pada tiga hal penting.  Pertama, ayat 13–15 berbicara tentang berkat bagi mereka yang mengasihi dan taat kepada perintah Tuhan.  Kedua, ayat 16-17 memberikan peringatan dan teguran agar Israel tidak menyimpang dan menyembah allah lain. Jika mereka meninggalkan Tuhan, ada konsekuensi yang harus mereka tanggung.  Ketiga, ayat 18-21 berbicara tentang mewarisi dan meneruskan perintah Tuhan.  

Khotbah

1. Berkat bagi yang Mengasihi dan Taat pada Perintah Tuhan (ayat 13-14)

13 Jika kamu dengan sungguh-sungguh mendengarkan perintah yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, sehingga kamu mengasihi TUHAN, Allahmu, dan beribadah kepada-Nya dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu, 14 maka Ia akan memberikan hujan untuk tanahmu pada masanya, hujan awal dan hujan akhir, sehingga engkau dapat mengumpulkan gandummu, anggurmu dan minyakmu, 15 dan Dia akan memberi rumput di padangmu untuk hewanmu, sehingga engkau dapat makan dan menjadi kenyang. 

Ayat 13-14 memiliki pola “jika-maka”. Kata “jika” menunjukkan syarat, sedangkan kata “maka” menunjukkan akibat atau janji Tuhan. Pola ini menghubungkan tiga hal penting, yaitu mendengarkan perintah Tuhan, mengasihi Tuhan, dan beribadah kepada-Nya dengan segenap hati dan jiwa.

Dengan kata lain, “jika–maka” bukan sekadar hubungan antara ketaatan dan keuntungan, tetapi menggambarkan hubungan perjanjian antara Tuhan dan Israel. Israel dipanggil untuk hidup dalam kasih dan ketaatan kepada Tuhan, sementara Tuhan berjanji untuk memelihara kehidupan mereka di tanah yang telah diberikan-Nya.

Berkat yang disebutkan dalam ayat 14-15, yaitu hujan pada waktunya, hasil gandum, anggur, minyak, dan rumput bagi ternak, menunjukkan bahwa kehidupan Israel di Tanah Perjanjian sepenuhnya bergantung kepada pemeliharaan Tuhan. Bagi masyarakat agraris seperti Israel, hujan merupakan kebutuhan yang sangat penting bagi pertanian dan kehidupan ternak. Karena itu, berkat tersebut bukan sekadar janji tentang kelimpahan materi, tetapi merupakan tanda pemeliharaan Tuhan atas umat-Nya.

Karena itu orang percaya perlu taat kepada perintah Tuhan sebab ketaatan adalah wujud kasih kepada Tuhan, dan berkat adalah tanda pemeliharaan Tuhan atas umat yang hidup dalam perjanjian dengan-Nya.”

 

Khotbah Minggu: Kasih kepada Allah dan Sesama Manusia Lukas 10:25-37

Pendahuluan

Injil Lukas ditulis oleh Lukas, Tanggal Penulisan: Sekitar tahun 60-63 M. Injil Lukas adalah kitab pertama dari dua kitab yang ditulis oleh Lukas dan ditujukan kepada seorang bernama Teofilus (Luk. 1:1,3; Kis. 1:1). Lukas adalah seorang bukan Yahudi, kemungkinan berasal dari Yunani. Ia juga seorang dokter dan merupakan teman serta rekan pelayanan Paulus

Lukas adalah seorang yang terpelajar dan seorang penulis yang teliti. Lukas secara khusus menunjukkan bahwa Yesus adalah Juruselamat bagi semua orang, baik orang Yahudi maupun bukan Yahudi. Karena itu, Injil Lukas sangat penting bagi gereja yang terdiri dari berbagai bangsa. Lukas menulis Injilnya agar pembaca kitab mengetahui bahwa apa yang mereka telah dengar tentang Yesus adalah benar dan dapat dipercaya (Luk. 1:4).

 

Ilustrasi: Ateis yang Baik

Ketika seorang pria tahu ada seorang wanita tua yang tak sanggup membeli obat dan membayar sewa rumah, ia datang membantu wanita tua itu. Ia membawa wanita itu ke rumahnya dan merawatnya seperti ibunya sendiri. Ia menyiapkan tempat tidur dan makanan, membelikan obat, serta mengantar wanita tua tersebut ketika ia butuh perawatan. Ia terus merawatnya sampai wanita itu tak dapat lagi mengurus diri sendiri. Saya takjub ketika tahu bahwa pria yang baik itu seorang ateis yang fanatik!

Yesus menceritakan perumpamaan ini untuk menantang para pendengar- Nya. Cerita tentang orang Samaria dan orang ateis yang baik hati mengingatkan kita tentang tingginya standar firman Allah: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!” Roma 13:9 (ditulis oleh: Herb Vander Lugt)


Siapa orang dari Yerikho ?

Dalam perumpamaan itu, Yesus berkata: “Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho...” (Lukas 10:30). Yesus tidak menyebut nama atau identitas orang itu. Ia hanya mengatakan bahwa orang tersebut sedang melakukan perjalanan dari Yerusalem ke Yerikho. Orang itu kemudian dirampok, dipukuli, dan ditinggalkan hampir mati.

Jadi, kita tidak tahu apakah dia orang Yahudi, orang kaya, miskin, atau siapa namanya. Yang penting dalam cerita adalah bahwa dia adalah seorang manusia yang sedang membutuhkan pertolongan.

Mengapa Yesus memakai Yerikho ?

Karena jalan dari Yerusalem ke Yerikho memang merupakan perjalanan yang terkenal dan cukup berbahaya pada zaman itu. Yerusalem berada di daerah yang tinggi, sedangkan Yerikho berada jauh lebih rendah, dekat Laut Mati. Perjalanannya menurun dan melewati daerah yang berbatu dan sepi. Kondisi seperti ini membuat seseorang lebih mudah menjadi sasaran perampok. Karena itu, ketika Yesus mengatakan seorang yang “turun dari Yerusalem ke Yerikho”, pendengar-Nya dapat membayangkan sebuah perjalanan yang berisiko.

Orang-orang Yahudi terguncang oleh perumpamaan Yesus tentang orang Samaria yang baik hati. Yesus memuji kebaikan orang Samaria itu. Orang Yahudi sangat merendahkan orang Samaria, sama seperti saya yang cenderung memandang rendah orang ateis.

Seorang ahli Taurat mencobai Yesus dengan bertanya bagaimana ia dapat memperoleh hidup kekal. Lalu Yesus menanyakan apa yang dituliskan hukum Taurat tentang hal itu. Ahli Taurat tersebut menjawab bahwa ia harus mengasihi Tuhan dengan segenap hati dan mengasihi sesama seperti dirinya sendiri (Lukas 10:25-27). Lalu sang ahli Taurat bertanya kembali, “Dan siapakah sesamaku manusia?” (ayat 29). Dalam perumpamaan Yesus, orang Samaria itu adalah sesama manusia yang menunjukkan kebaikan kepada orang yang terluka.

Dari perjalanan seorang dari Yerusalem ke Yerikho Yesus sedang mengajarkan tentang kasih kepada sesama, bahkan kepada orang yang mungkin berbeda dengan kita. Marilah kita belajar dari tiga tokoh dalam teks ini yakni: Imam, Lewi dan orang Samaria.


Khotbah

1. Sikap Seoran imam



Imam adalah orang yang melayani dalam kehidupan keagamaan Israel, khususnya dalam pelayanan di Bait Allah.  Dalam cerita Yesus: “Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan.” (Luk. 10:31).  Alasannya karena imam akan najis bila mereka menyentuh mayat TUHAN berfirman kepada Musa: "Berbicaralah kepada para imam, anak-anak Harun, dan katakan kepada mereka: Seorang imam janganlah menajiskan diri dengan orang mati di antara orang-orang sebangsanya, (Im. 21:1) dan Orang yang kena kepada mayat, ia najis tujuh hari lamanya (Bil. 19:11). Padahal ia belum memastikan bahwa korban perampokan itu sudah jadi mayat atau belum dan ternyata ia masih hidup karena ditolong oleh orang Samaria.

Yang menarik adalah: imam itu melihat orang yang terluka, tetapi tidak menolongnya. Jadi, Yesus sedang menunjukkan bahwa jabatan agama dan pengetahuan tentang Tuhan tidak otomatis membuat seseorang mengasihi sesamanya karena menjalankan kewajiban agamanya. Apakah karena menjalankan kewajiban agama kita tidak perlu membantu sesama ?

4. Sikap Seorang Lewi



Orang Lewi adalah anggota suku Lewi. Mereka mempunyai tugas-tugas yang berhubungan dengan pelayanan ibadah di Bait Allah. Orang Lewi juga melihat korban tersebut: “Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan.” (Luk. 10:32) karena Orang yang kena kepada mayat, ia najis tujuh hari lamanya (Bil. 19:11), karena sedang menjalani kewajiban agamanya, namun ia belum memastikan apakah orang tersebut sudah meninggal atau belum dan ternyata ia masih hidup

Jadi, imam dan orang Lewi sama-sama melihat, tetapi keduanya tidak menolong. Ini membuat cerita Yesus semakin kuat: orang yang dianggap dekat dengan kehidupan keagamaan justru tidak menunjukkan belas kasihan hanya karena menjalankan kewajiban agamanya. 

3. Sikap Seorang Samaria

Orang Samaria adalah penduduk Samaria. Pada zaman Yesus, hubungan antara orang Yahudi dan orang Samaria sangat buruk. Ada perbedaan sejarah, agama, dan identitas yang membuat kedua kelompok ini saling bermusuhan dan saling memandang rendah. Karena itu, ketika Yesus mengatakan: “Tetapi seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, datang ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan.”
(Luk. 10:33)
Pendengar Yesus mungkin tidak menyangka bahwa orang Samaria akan menjadi tokoh yang baik dalam cerita.  Justru orang Samaria itulah yang:  Melihat orang yang terluka, merasa kasihan, mendekatinya, membalut lukanya, menuangkan minyak dan anggur, menaikkannya ke atas keledainya, membawanya ke penginapan, dan dembayar biaya perawatannya.

Arti Perumpamaan

Seorang ahli Taurat bertanya kepada Yesus: “Siapakah sesamaku manusia?” (Luk. 10:29).  Yesus kemudian membalik pertanyaan itu. Bukan hanya: “Siapa yang harus saya kasihi?” Tetapi: “Apakah saya bersedia menjadi sesama bagi orang yang membutuhkan?” Itulah sebabnya tokoh orang Samaria sangat penting. Yesus sedang mengajarkan bahwa kasih kepada sesama tidak boleh dibatasi oleh suku, agama, kelompok, atau permusuhan. Kasih kepada sesama menjadi bukti kasih manusia kepada Allah . Dalam Matius 25:35 tertulis: Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan

1.       Orang yang terluka: orang yang membutuhkan pertolongan.

2.       Imam: orang yang tahu tentang Tuhan tetapi tidak menolong.

3.       Orang Lewi : orang yang juga melihat kebutuhan tetapi melewatinya.

4.       Orang Samaria: orang yang dianggap musuh, tetapi justru menunjukkan kasih.

Jadi pesan Yesus:  Jangan hanya bertanya, “Siapa sesamaku?” Tetapi jadilah sesama bagi orang yang membutuhkan pertolongan. Dan Yesus menutup perumpamaan itu dengan perintah: “Pergilah, dan perbuatlah demikian!” (Lukas 10:37)

Kesimpulan

Perumpamaan Orang Samaria yang Baik Hati mengajarkan bahwa kasih kepada sesama tidak ditentukan oleh jabatan, pengetahuan agama, suku, atau hubungan kelompok, melainkan oleh kesediaan untuk menunjukkan belas kasihan dan memberikan pertolongan kepada orang yang membutuhkan. Imam dan orang Lewi melihat orang yang terluka, tetapi memilih untuk melewatinya, sedangkan orang Samaria yang dianggap sebagai musuh justru mendekati, menolong, merawat, dan menanggung biaya orang tersebut. Dengan demikian, Yesus mengajarkan bahwa menjadi sesama bukan sekadar mengetahui siapa yang harus dikasihi, tetapi bersedia menjadi sesama bagi setiap orang yang membutuhkan pertolongan. Karena itu, sebagai pengikut Kristus, kita dipanggil bukan hanya untuk mengetahui dan mengajarkan kasih, tetapi untuk melakukan kasih secara nyata, sebagaimana perintah Yesus: “Pergilah, dan perbuatlah demikian!” (Luk. 10:37).

Oleh: Pdt. Juliman Harefa

Bahan Khotbah: Segala Perkara Dapat Kutanggung di dalam Tuhan Filipi 4:10-19

Pendahuluan Surat Filipi ditulis oleh Rasul Paulus sekitar tahun 62/63 M ,  ketika ia berada dalam penjara di Roma (Fil 1:7,13). Filipi ad...