Pendahuluan
Surat Paulus kepada Titus ditulis dalam konteks
pelayanan Injil di pulau Kreta. Titus mendapat tugas untuk menata kehidupan
jemaat dan memastikan bahwa ajaran yang benar tidak hanya diajarkan dengan
kata-kata, tetapi juga diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu
Paulus menasihati Titus: “Tetapi engkau,
beritakanlah apa yang sesuai dengan ajaran yang sehat” (Titus 2:1).
Ayat ini menunjukkan bahwa pemberitaan Injil
tidak berhenti pada mimbar atau khotbah di gereja. Injil harus masuk ke dalam
kehidupan keluarga, pekerjaan, hubungan sosial, dan seluruh kehidupan manusia.
Orang yang telah menerima Injil dipanggil untuk hidup sedemikian rupa sehingga
melalui kehidupannya Tuhan dimuliakan.
Hal ini sangat relevan dengan sejarah pekabaran
Injil di Nias. Ketika Injil datang ke Nias, pemberitaan Injil tidak hanya
dilakukan melalui khotbah. Injil juga diperkenalkan melalui pendidikan,
kehidupan bersama masyarakat, pelayanan kesehatan, penerjemahan dan pengajaran,
serta pembentukan kehidupan jemaat. Dengan demikian, Injil perlahan-lahan
menyentuh kehidupan pribadi, keluarga, dan masyarakat Nias. Prinsip Titus
2:1–10 mengingatkan kita bahwa pekabaran Injil harus terlihat dalam
kehidupan yang berubah dan menjadi kesaksian bagi orang lain.
1. Tugas Mengabarkan Injil ,
ayat 1
Paulus berkata kepada Titus: “Tetapi engkau, beritakanlah apa yang sesuai
dengan ajaran yang sehat.” Ini adalah tugas yang jelas. Titus tidak hanya
diminta untuk mengurus organisasi jemaat, tetapi terutama untuk memberitakan
ajaran yang sehat. Injil harus terus disampaikan supaya jemaat mengenal
kebenaran Allah dan hidup menurut kebenaran itu.
Mengabarkan Injil bukan hanya tugas pendeta atau
penginjil. Setiap orang yang telah menerima Kristus mempunyai tanggung jawab
untuk menjadi saksi Kristus. Pemberitaan Injil dapat dilakukan melalui khotbah,
pengajaran, kesaksian, pelayanan, maupun melalui kehidupan yang benar. Sebab
Injil yang kita beritakan dengan mulut harus sesuai dengan Injil yang kita
tunjukkan melalui kehidupan.
Dalam konteks Nias, pekabaran Injil juga
mengalami proses yang demikian. Para pembawa Injil tidak hanya menyampaikan
berita tentang Kristus, tetapi berusaha hadir di tengah masyarakat. Pendidikan,
pelayanan kepada masyarakat, penggunaan bahasa yang dapat dipahami, dan
hubungan yang dekat dengan masyarakat menjadi bagian dari proses memperkenalkan
Injil. Ini menunjukkan bahwa pekabaran Injil harus menyentuh kehidupan manusia
secara utuh.
Karena itu, pertanyaan bagi kita bukan hanya,
“Apakah kita sudah mendengar Injil?” tetapi juga, “Apakah melalui kehidupan
kita orang lain dapat melihat kemuliaan Tuhan?” Inilah makna tema kita: Muliakan
Tuhan dalam segala hal.
2. Menginjili Mulai dari
Keluarga, ayat 2-8
Setelah berbicara tentang ajaran yang sehat,
Paulus langsung menghubungkannya dengan kehidupan keluarga dan pribadi. Kepada
laki-laki yang tua, perempuan yang tua, perempuan muda, dan laki-laki muda
diberikan nasihat yang berbeda sesuai dengan tanggung jawab mereka. Ayat 7
bahkan berkata kepada Titus: “Dan
jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik.”
Di sini kita melihat bahwa keluarga merupakan
tempat yang sangat penting bagi pekabaran Injil. Injil tidak boleh hanya
terdengar pada hari Minggu di gereja, tetapi harus terdengar dan terlihat
setiap hari di dalam keluarga. Anak-anak belajar iman bukan hanya melalui apa
yang dikatakan orang tua, tetapi terutama melalui apa yang mereka lihat dalam
kehidupan orang tua.
Orang tua yang jujur sedang mengajarkan Injil.
Suami dan istri yang saling mengasihi sedang menunjukkan Injil. Orang yang tua
yang menjadi teladan bagi generasi muda sedang mengabarkan Injil. Anak muda
yang hidup bertanggung jawab, menjaga perkataan dan pergaulannya, juga sedang
menjadi saksi Kristus.
Inilah yang sangat penting dalam kehidupan
jemaat di Nias. Ketika Injil mulai diterima oleh masyarakat Nias, perubahan
kehidupan tidak hanya terjadi di dalam gedung gereja. Injil masuk ke dalam
keluarga dan membentuk cara orang memahami perkawinan, pendidikan anak,
hubungan antara generasi, kehidupan bersama, serta tanggung jawab moral. Dengan
demikian, keluarga menjadi salah satu tempat utama di mana iman Kristen
diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Karena itu, jika kita ingin menginjili
masyarakat, jangan lupa mulai dari rumah sendiri. Tidak ada gunanya kita
berbicara tentang kasih Kristus kepada banyak orang, tetapi di dalam keluarga
kita sendiri tidak ada kasih, pengampunan, kesetiaan, dan keteladanan.
Pekabaran Injil yang paling dekat dengan kita adalah kehidupan kita sendiri di
tengah keluarga.
3. Menginjili Sesama
Manusia, ayat 9-10
Pada ayat 9–10 Paulus berbicara kepada
hamba-hamba supaya mereka tunduk kepada tuannya, menyenangkan hati dalam segala
hal, tidak membantah, tidak mencuri, tetapi menunjukkan kesetiaan yang tulus.
Tujuannya sangat jelas: “supaya dalam
segala hal mereka memuliakan ajaran Allah, Juruselamat kita.”
Perhatikan bahwa Paulus menghubungkan perilaku
seorang Kristen dengan kesaksian Injil. Orang lain dapat melihat Injil melalui
cara kita bekerja, berbicara, memperlakukan sesama, dan menjalankan tanggung
jawab. Dengan kata lain, pekerjaan dan hubungan sosial menjadi tempat
pekabaran Injil.
Kita tidak selalu mempunyai kesempatan untuk
berkhotbah kepada semua orang. Tetapi kita selalu mempunyai kesempatan untuk
menjadi saksi Kristus. Di tempat kerja, di tengah masyarakat, di pasar, di
lingkungan keluarga, dalam pelayanan gereja, bahkan ketika berhadapan dengan
orang yang berbeda pendapat dengan kita, kita dipanggil untuk menunjukkan
karakter Kristus.
Pekabaran Injil di Nias juga harus dipahami
dalam kerangka ini. Injil yang datang ke Nias kemudian membentuk kehidupan
masyarakat dan melahirkan komunitas Kristen yang semakin luas. Nilai-nilai yang
baik dalam budaya tidak harus dibuang, tetapi diterangi dan diarahkan oleh
Injil. Sementara nilai-nilai yang bertentangan dengan kasih, keadilan,
kebenaran, dan kehendak Allah perlu dikoreksi dan ditransformasikan.
Karena itu, pekabaran Injil bukan berarti
menghancurkan identitas masyarakat. Injil membawa manusia untuk memuliakan
Allah dalam seluruh kehidupannya. Dari sinilah kehidupan keluarga, kehidupan
sosial, pendidikan, pelayanan, dan kehidupan bergereja diarahkan kepada satu
tujuan: supaya nama Tuhan dimuliakan.
Kesimpulan
Titus 2:1–10 mengajarkan bahwa pekabaran Injil
tidak dapat dipisahkan dari kehidupan. Pertama, kita mempunyai tugas untuk
mengabarkan Injil dengan ajaran yang sehat. Kedua, pekabaran Injil harus
dimulai dari keluarga, melalui kehidupan yang menjadi teladan bagi
anak-anak dan generasi berikutnya. Ketiga, pekabaran Injil harus dilanjutkan
kepada sesama manusia, melalui pekerjaan, pelayanan, perkataan, dan
perilaku yang menunjukkan karakter Kristus.
Sejarah pekabaran Injil di Nias mengingatkan
kita bahwa Injil dapat masuk ke dalam kehidupan masyarakat dan membawa
perubahan. Namun tugas itu belum selesai. Setiap generasi Kristen dipanggil
untuk meneruskan kesaksian Injil dalam konteks zamannya.
Karena itu, marilah kita tidak hanya menjadi
orang yang mendengar Injil, tetapi menjadi orang yang menghidupi Injil.
Mulailah dari diri sendiri, kemudian dari keluarga, dan selanjutnya kepada
sesama manusia. Apa pun pekerjaan dan pelayanan kita, semuanya dapat menjadi
kesempatan untuk memberitakan Kristus.
Akhirnya, sesuai dengan semangat Titus 2:10,
biarlah melalui seluruh kehidupan kita orang lain dapat melihat keindahan
ajaran Allah. Sebab tujuan akhir dari pekabaran Injil bukanlah supaya manusia
memuji kita, melainkan supaya Tuhan dimuliakan dalam segala hal.