Kamis, 21 Mei 2026

Keturunan Kain dan Keturunan Set yang Memanggil Nama Tuhan Kejadian 4:17-26

 

Pendahuluan

Pasal 4 Kitab Kejadian menggambarkan keadaan manusia setelah jatuh ke dalam dosa. Dosa yang dimulai dari ketidaktaatan Adam dan Hawa berkembang menjadi kebencian dan pembunuhan ketika Kain membunuh Habel. Namun kisah ini tidak berhenti pada kejahatan manusia saja. Di tengah dunia yang semakin rusak, Allah tetap bekerja memelihara rencana-Nya.

Keturunan Kain menunjukkan perkembangan peradaban manusia. Mereka membangun kota, mengembangkan peternakan, musik, dan teknologi. Akan tetapi, kemajuan itu tidak diiringi dengan kehidupan yang takut akan Tuhan. Dosa justru semakin berkembang menjadi kekerasan, kesombongan, dan balas dendam.

Pada masa Enos, manusia mulai memanggil nama TUHAN. Hal ini menjadi tanda bahwa di tengah dunia yang penuh dosa, Allah tetap memelihara umat yang hidup dalam penyembahan kepada-Nya.

 

Keturunan Kain, Set dan Enos

17Kain bersetubuh dengan isterinya  dan mengandunglah perempuan itu, lalu melahirkan Henokh; kemudian Kain mendirikan suatu kota   dan dinamainya kota itu Henokh, menurut nama anaknya.  18 Bagi Henokh lahirlah Irad, dan Irad itu memperanakkan Mehuyael dan Mehuyael memperanakkan Metusael, dan Metusael memperanakkan Lamekh.  19 Lamekh mengambil isteri  dua orang ;   yang satu namanya Ada, yang lain Zila.  20 Ada itu melahirkan Yabal; dialah yang menjadi bapa orang yang diam dalam kemah dan memelihara ternak.  21 Nama adiknya ialah Yubal; dialah yang menjadi bapa semua orang yang memainkan kecapi  dan suling.   22 Zila juga melahirkan anak, yakni Tubal-Kain, bapa semua tukang tembaga  dan tukang besi. Adik perempuan Tubal-Kain ialah Naama. 23 Berkatalah Lamekh kepada kedua isterinya itu: "Ada dan Zila, dengarkanlah suaraku: hai isteri-isteri Lamekh, pasanglah telingamu kepada perkataanku ini: Aku telah membunuh  seorang laki-laki karena ia melukai aku, membunuh seorang muda karena ia memukul aku sampai bengkak; 24 sebab jika Kain harus dibalaskan  tujuh kali lipat,   maka Lamekh tujuh puluh tujuh kali lipat. " 

 

Rabu, 20 Mei 2026

RAGAM KARUNIA DALAM SATU ROH 1 Korintus 3-11

 Khotbah Minggu 24 Mei 2026, Hari Pentakosta



Pendahuluan

Kata Pentakosta berasal dari bahasa Yunani, yaitu Pentēkostē (πεντηκοστή), yang berarti “kelima puluh” menunjuk pada hari ke-50 setelah Paskah Yahudi. Dalam tradisi Yahudi, hari tersebut dikenal sebagai Hari Raya Tujuh Minggu (Shavuot), yaitu perayaan panen dan ucapan syukur kepada Allah. Pentakosta berasal dari kata Penta = lima, Pentēkostē = kelima puluh, Pentakosta = hari kelima puluh setelah Paskah.

Dalam tradisi Kristen, Pentakosta diperingati lima puluh hari setelah kebangkitan Yesus Kristus, yaitu saat Roh Kudus dicurahkan kepada para murid di Yerusalem sebagaimana dicatat dalam Kisah Para Rasul pasal 2.

Hari Pentakosta adalah hari raya Kristiani yang memperingati peristiwa dicurahkannya Roh Kudus kepada para rasul di Yerusalem. Pada hari Pentakosta, Roh Kudus dicurahkan sesuai dengan janji Yesus setelah kenaikan-Nya ke surga. Peristiwa tercurahnya Roh Kudus menunjukkan bahwa Tuhan menggenapi janji dan perkataan-Nya kepada murid-murid-Nya dan umat-Nya.

Pentakosta menekankan pentingnya persatuan dan kesatuan dalam Kristus. Selain itu, Pentakosta juga menandai permulaan gereja Kristen, karena setelah turunnya Roh Kudus, para pengikut Yesus menjadi berani dan terdorong untuk memberitakan Injil kepada orang-orang di sekitar mereka.

Melalui peristiwa tercurahnya Roh Kudus, Tuhan menghendaki bukan pertikaian atau kesombongan, melainkan kebersamaan dalam mempermuliakan nama-Nya melalui berbagai karunia yang diberikan kepada umat Tuhan. Inilah yang hendak diajarkan Rasul Paulus kepada jemaat di Korintus, supaya umat Tuhan tidak menjadi batu sandungan, melainkan menjadi teladan bagi setiap orang yang mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan.

Dalan 1 Korintus 12:3-11 kita akan mendengarkan penjelasan tentang. 1. Pengakuan bahwa Yesus adalah Tuhan berasal dari Roh Kudus, dan 2. Roh yang sama mempersatukan berbagai karunia serta pelayanan  dan 3. Karunia Roh Kudus diberikan kepada setiap orang percaya untuk membangun jemaat dan mempermuliakan Tuhan, sebagai berikut:

1. Pengakuan bahwa Yesus adalah Tuhan Berasal dari Roh Kudus (ayat 3)

“Karena itu aku mau meyakinkan kamu, bahwa tidak ada seorangpun yang berkata-kata oleh Roh Allah, dapat berkata: ‘Terkutuklah Yesus!’ dan tidak ada seorangpun, yang dapat mengaku: ‘Yesus adalah Tuhan’, selain oleh Roh Kudus.” (ay 3)

Ayat ini merupakan bagian penting dalam pembahasan Rasul Paulus mengenai karunia-karunia Roh Kudus. Sebelum menjelaskan berbagai karunia rohani, Paulus terlebih dahulu menekankan dasar utama pekerjaan Roh Kudus, yaitu memuliakan Yesus Kristus. Dengan demikian, pusat dari seluruh pekerjaan Roh Kudus bukanlah manusia, melainkan Kristus sendiri.

Paulus menjelaskan bahwa tidak ada seorang pun yang dipimpin oleh Roh Allah dapat berkata, “Terkutuklah Yesus.” Pernyataan ini menunjukkan bahwa Roh Kudus tidak pernah bekerja untuk menghina, menolak, atau merendahkan Yesus Kristus. Pada masa jemaat Korintus, banyak pengaruh penyembahan berhala dan ajaran yang menyesatkan, sehingga jemaat perlu belajar membedakan mana yang benar-benar berasal dari Roh Allah dan mana yang bukan. Oleh sebab itu, Paulus memberikan ukuran yang jelas bahwa setiap pekerjaan Roh Kudus pasti akan membawa orang kepada penghormatan dan pengakuan yang benar terhadap Yesus.

Melalui ayat ini, Paulus mengingatkan jemaat bahwa tanda utama pekerjaan Roh Kudus bukan hanya mujizat atau tanda-tanda lahiriah, tetapi hati yang sungguh-sungguh mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan. Roh Kudus bekerja dalam kehidupan orang percaya untuk membawa mereka hidup dalam iman, ketaatan, dan penyembahan kepada Kristus.

Dengan demikian, 1 Korintus 12:3 menegaskan bahwa pusat dari seluruh pekerjaan Roh Kudus adalah Yesus Kristus. Roh Kudus memimpin orang percaya untuk mengenal, mengasihi, dan memuliakan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat.

 

2. Kesatuan Roh Kudus dalam Berbagai Karunia dan Pelayanan (ayat 4-7)

4 Ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh.  5. Dan ada rupa-rupa pelayanan, tetapi satu Tuhan.  6 Dan ada berbagai-bagai perbuatan ajaib, tetapi Allah   adalah satu yang mengerjakan semuanya dalam semua orang.   7 Tetapi kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh  untuk kepentingan bersama.  

Dalam bagian ini Rasul Paulus menjelaskan bahwa di dalam jemaat terdapat berbagai macam karunia, pelayanan, dan pekerjaan rohani, tetapi semuanya berasal dari Allah yang sama. Paulus ingin menolong jemaat Korintus memahami bahwa perbedaan karunia bukan alasan untuk merasa lebih hebat atau lebih rendah, sebab sumbernya tetap satu, yaitu Allah sendiri.

Paulus mulai dengan mengatakan bahwa ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh. Ini berarti Roh Kudus memberikan karunia yang berbeda-beda kepada setiap orang percaya. Tidak semua orang memiliki karunia yang sama. Ada yang dipakai dalam mengajar, bernubuat, melayani, menyembuhkan, memimpin, atau bentuk pelayanan lainnya. Walaupun berbeda, semuanya berasal dari Roh Kudus yang sama. Karena itu tidak boleh ada iri hati atau persaingan di antara anggota jemaat.

Pada ayat 7 Paulus memberikan tujuan utama dari semua karunia Roh, yaitu untuk kepentingan bersama. Karunia Roh Kudus diberikan bukan untuk keuntungan pribadi, melainkan untuk membangun jemaat dan menolong sesama orang percaya. Setiap karunia harus dipakai dalam kasih, kerendahan hati, dan tanggung jawab agar tubuh Kristus semakin bertumbuh.

Melalui bagian ini Paulus mengajarkan pentingnya kesatuan di tengah keberagaman. Walaupun orang percaya memiliki kemampuan, tugas, dan pelayanan yang berbeda, semuanya dipersatukan oleh Roh Kudus, Tuhan, dan Allah yang sama. Dengan demikian jemaat dipanggil untuk saling menghargai, bekerja sama, dan memakai karunia yang dimiliki demi kemuliaan Tuhan dan kebaikan bersama.

 

3. Karunia-Karunia Roh Kudus untuk Membangun Jemaat  (ayat 8-11)

Dalam 1 Korintus 12:8-10 terdapat 9 karunia Roh Kudus yang Allah berikan kepada setiap umat-Nya yang berguna dalam pelayanan dan dalam kehidupan sehari-hari.

8 Sebab kepada yang seorang Roh memberikan karunia untuk berkata-kata dengan hikmat,  dan kepada yang lain Roh yang sama memberikan karunia berkata-kata dengan pengetahuan.   9 Kepada yang seorang Roh yang sama memberikan iman,  dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menyembuhkan.   10 Kepada yang seorang Roh memberikan kuasa  untuk mengadakan mujizat, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk bernubuat,   dan kepada yang lain lagi Ia memberikan karunia untuk membedakan bermacam-macam roh.  Kepada yang seorang Ia memberikan karunia untuk berkata-kata dengan bahasa roh,  dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menafsirkan bahasa roh itu.  Tetapi semuanya ini dikerjakan oleh Roh  yang satu dan yang sama, yang memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendaki-Nya.

 

1)      Karunia berkata-kata dengan hikmat

Karunia untuk menyampaikan hikmat Allah dalam memberi nasihat, keputusan, dan tuntunan rohani. “Karena kepada yang seorang Roh memberikan karunia untuk berkata-kata dengan hikmat. (ayat 8)  “Jika di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit, maka hal itu akan diberikan kepadanya.” Yakobus 1:5

2)      Karunia berkata-kata dengan pengetahuan

Karunia memahami dan menyampaikan pengetahuan rohani yang berasal dari Roh Kudus.
“...dan kepada yang lain Roh yang sama memberikan karunia berkata-kata dengan pengetahuan.” (ay. 8) “Sebab TUHANlah yang memberikan hikmat, dari mulut-Nya datang pengetahuan dan kepandaian.”Amsal 2:6

3)      Karunia iman

Iman yang luar biasa untuk percaya kepada kuasa Allah dalam situasi yang sulit. “Kepada yang seorang Roh yang sama memberikan iman...” (ayat 9) “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.”Ibrani 11:1

4)      Karunia menyembuhkan

Karunia untuk menjadi alat Tuhan dalam membawa kesembuhan. “...dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menyembuhkan.” (ay. 9)  “Kalau ada seorang di antara kamu yang sakit, baiklah ia memanggil para penatua jemaat, supaya mereka mendoakan dia serta mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan. Dan doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang sakit itu dan Tuhan akan membangunkan dia...”  Yakobus 5:14-15

5)      Kuasa mengadakan mujizat

Karunia untuk melakukan pekerjaan ajaib oleh kuasa Allah. “Kepada yang seorang Roh memberikan kuasa untuk mengadakan mujizat...”1 Kor. 12:10, “Dan oleh rasul-rasul diadakan banyak tanda dan mujizat di antara orang banyak...”Kisah Para Rasul 5:12

6)      Karunia bernubuat

Karunia menyampaikan pesan Allah untuk membangun, menasihati, dan menghibur jemaat.
“...kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk bernubuat...”(ay. 10) “Siapa yang bernubuat, ia berkata-kata kepada manusia, ia membangun, menasihati dan menghibur.”Korintus 14:3

7)      Karunia membedakan bermacam-macam roh

Karunia untuk membedakan roh yang berasal dari Allah dan yang bukan. “...dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk membedakan bermacam-macam roh. (aya.10)  “Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah...” 1 Yohanes 4:1

8)      Karunia berkata-kata dengan bahasa roh

Karunia berbicara dalam bahasa yang diberikan oleh Roh Kudus. “...kepada yang seorang Ia memberikan karunia berkata-kata dengan bahasa roh...”(ay. 10) “Mereka semua penuh dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya.” Kisah Para Rasul 2:4

9)      Karunia menafsirkan bahasa roh

Karunia menjelaskan arti bahasa roh supaya jemaat dibangun. “...dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menafsirkan bahasa roh itu. (Ay. 10)  “Karena itu siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, ia harus berdoa, supaya ia dapat menafsirkannya.”1 Korintus 14:13

Kesimpulan

Hari Pentakosta mengingatkan kita bahwa Roh Kudus telah dicurahkan kepada gereja untuk menggenapi janji Tuhan dan memampukan orang percaya hidup bagi Kristus. Rasul Paulus dalam 1 Korintus 12:3-11 menegaskan bahwa Roh Kudus memimpin setiap orang untuk mengakui Yesus sebagai Tuhan, mempersatukan jemaat di tengah berbagai perbedaan karunia dan pelayanan, serta memberikan karunia-karunia rohani untuk membangun tubuh Kristus. Semua karunia berasal dari Roh yang sama dan harus dipakai bukan untuk kepentingan pribadi atau kesombongan, melainkan untuk kemuliaan Tuhan dan kepentingan bersama. Karena itu, gereja yang dipenuhi Roh Kudus adalah gereja yang hidup dalam kesatuan, kasih, pelayanan, dan ketaatan kepada Kristus.

Aplikasi

  1. Hiduplah dalam pengakuan bahwa Yesus adalah Tuhan
    Orang yang dipimpin Roh Kudus akan hidup dalam iman, ketaatan, dan penyembahan kepada Yesus Kristus, bukan hanya melalui perkataan tetapi juga melalui perbuatan sehari-hari.
  2. Gunakan karunia untuk melayani, bukan meninggikan diri
    Setiap orang percaya memiliki karunia yang berbeda-beda. Karena itu, jangan membandingkan diri atau merasa lebih hebat dari orang lain, tetapi pakailah karunia yang Tuhan berikan untuk melayani dan membangun jemaat.
  3. Peliharalah persatuan dalam jemaat
    Walaupun memiliki tugas dan kemampuan yang berbeda, semua orang percaya dipanggil untuk bekerja sama dalam kasih dan kerendahan hati sebagai satu tubuh di dalam Kristus.

 

 

 

Oleh: Pdt. Juliman Harefa

 

 

Rabu, 13 Mei 2026

Tuhan Memberkati dan Melindungi Engkau Bilangan 6:22-2

 Khotbah Minggu, 17 Mei 2026

  Pengantar

Allah memerintahkan agar imam-imam Israel mengucapkannya. Berkat tersebut kita temukan dalam Bilangan 6:22-27, yang sering disebut sebagai Berkat Harun atau Berkat Imamat. Berkat ini memiliki kedalaman teologis dan spiritual yang besar, sebab berisi janji Allah untuk memberkati, melindungi, mengasihi, dan memberikan damai sejahtera kepada umat-Nya. Berkat ini tetap dipelihara dalam liturgi, menegaskan bahwa umat Allah hidup di bawah naungan kasih dan penyertaan-Nya.

Berkat berasal dari Allah, bukan dari manusia. Berkat ini bukan sekadar doa, melainkan firman yang  bersifat menyeluruh dimulai dengan berkat jasmani (ay.24), lalu kasih karunia rohani (ayat 25), dan terakhir berkat damai sejahtera yang sempurna (ay.26). Berkat ini bersifat relasional.

 

Khotbah

 1. Berkat dan Perlindungan (ayat 23-24)

22 TUHAN berfirman kepada Musa: 23 "Berbicaralah kepada Harun dan anak-anaknya: Beginilah harus kamu memberkati orang Israel, katakanlah kepada mereka: 24 TUHAN memberkati engkau dan melindungi engkau

Berkat untuk bangsa Israel dan umatmanusia bukan berasl dari manusia, walaupun manusia yangmenyampaikan berkat tetapi berkat itu bersal dari Allah dan atas perinta Allah.  Allah sendiri. Allah yang memberi kalimat berkat tersebut, dan tentu Allah pula yang memberi kuasa atasnya. Allah menggunakan mulut para iman atau para pendeta di masa kini utnuk mengucapkan berkat dari Firman berkat tersebut. Hal ini selaras dengan keyakinan bahwa Allah bekerja melalui sarana lahiriah. Sedangka paa Pendeta alat, tetapi yang bekerja adalah Allah sendiri melalui Firman dan sakramen. Dengan demikian, ketika berkat diucapkan dalam ibadah, isi berkata dalam ayat 24 adalah berkat adalah Berkat dan Perlingungan.  

Allah yang aktif melimpahkan berkat-Nya. Berkat Dalam Alkitab, berkat berarti segala sesuatu yang baik yang diberikan Allah: kehidupan, kesehatan, makanan, keluarga, pekerjaan, dan melainkan keselamatan dalam perjanjian Allah. Dalam Perjanjian Baru, segala keperluan sehari-hari.

Berkat Perlindungan dari Allah berarti penjagaan dari segala marabahaya, baik jasmani maupun rohani. Perlindungan ini bukan berarti bebas dari penderitaan, tetapi Dalam Kristus, perlindungan ini terjamin sampai pada hidup kekal. Allah berarti Allah tetap menyertai dan tidak membiarkan umat-Nya binasa bukan hanya memberi, tetapi juga menjaga. Ia tidak hanya melimpahkan berkat, tetapi juga memastikan berkat itu tidak dirampas musuh.

3. Berkat Sinar Wajah Allah dan Kasih-Nya (ayat 25)

“TUHAN menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia.” (25)

Ketika Allah menyinari umat-Nya dengan wajah-Nya, hal itu berarti bahwa Allah berkenan kepada mereka. Kehadiran-Nya membawa terang, sukacita, pengharapan, dan pemulihan hidup. Allah bukan hanya menyinari umat-Nya dari kejauhan, tetapi menghadapkan wajah-Nya secara pribadi kepada mereka. Ini menunjukkan bahwa Allah menghendaki hubungan yang dekat dengan umat-Nya. Ia bukan Allah yang jauh dan tidak peduli, melainkan Allah yang hadir, menyertai, dan berkomunikasi dengan umat-Nya.

MI’ONDRASI LOWALANGI BA I’ONDRASI AMI Yakobo 4:6–10

 Bahan PA Migu Sidua Mei 2026

 FAMOBÖRÖ

Sura Yakobo nifaema ba banua niha keriso sifelendrua motua ba nahia wekoli (Yakobo 1:1). Isura sura andre Yakobo me dὃfi 45-49 SM. Ba ginὃtὃ da’ oya ngawalo wananrdaig  ba famakao sifalukha banua niha keriso mendua man mebagotalua zil mamati kh yesu mowanua ira.  Fanandraigὃ ba Famakao andrὃ, bὃrὃ: 

1.    Me ba nahia wekoli so ira,  me tefazawili ira ba  ginὃtὃ famakao (Yak. 1:1)

2.   Fanandraigὃ, bὃrὃ me samati khὃ Yesu ira, la fakao ira  ena’ὃ  larὃ i wamatira khὃ  Keriso (Yak. 1:2)

3.    Fa’atosasa ba soguna he gὃi ba wariawὃsa (ekonomi dan sosial), Yak. 1:9-11

Andr ifaohe sura andre Yakobo, me ba faza  4 andre i’o’ou banua niha keriso ena’ὃ: Laondasi Lowalangi ba latimbag gamuata fangis (hawa nafsu, 4:1), me fangis andr i’asog: wanguaguasa ba falatul (4:1), fangee ba faafokh dd (4:2), fangandr silo atul (4:3), fangerog Lowalangi (4:5), ba fayawasa (4:6).

FANGOSISIÖ

1. Itimba Lowalangi Zifayawa (ayati 6-7)

6 ba ebua sa atõ na wa’ebua dõdõ andrõ, ni’a’asogõnia; andrõ imane: ”Itimba Lowalangi zi fayawa andrõ, ba i’ebua’õ dõdõnia ba zangide’ide’õ ya’ira”.  

Imane Taromali andre ba ayati 6-7 itimba zifayawa (congkak) Lowalangi, fatuwu ba hὃrὃ Lowalangi gamuata dae meno silὃ sokhi (4:16b). Fayawasa andrὃ na ta baso ba sura Amaedola 29:23: “fayawasa andro ba ihondrg tou niha; ba silo fayawasa ba isondra zumange”.  Eluahania; na so niha i hondrὃgὃ awὃnia nih ba andro wa itimba Lowalangi.

MANAHAE YESU BA ZORUGÖ BA MANGAWULI IA DANIA Halöwö Zinengge 1:1-11


Huhuo Sebua luo Kami, 14 Mei 2026



 FAMOBÖRÖ

Ba sura Halöwö Zinengge andre, meno maoso Yesus moroi ba ngai zimate, so dombua gohitö sanura ya’ia zinengge Yesu andrö sotoi Luka: 

1. Yesu, Ifabü’u wa Ifatenge dania zanolo andrö Ehehe Ni’amoni’ö, 

2. Yesu, Ifabü’u wa mangawuli la dania, hulö simane ba wanahae-Nia. 

3. Yesu, Ibe’e goroisa-Nia khöra sinenge-Nia (Rasul), ena’ö möi ira tobali samaduhu’ö ba anuriagö. Turia somuso dödö, i’otarai danö Yeruzalema irugi wondrege danö, Hal. Zin. 1:8  

Aboto ba dödöda wa fatua lö manahae Yesus möi Ia ba zorugö yawa no I’be’e tölu goroisaNias; 1. Ifatengen Geheha sanolo, 2. Manguwuli Ia dania, 3. We amöi ira sinenge ba wanuriagö turia somuso dödö.

 

HUHUO

 1. Ifabu’u Yesu wa I’fatenge Geheha Sanolo (ayati 1-8)

1 No awai khõgu zura si fõfõna andrõ, ya’ugõ Teofilo, no usura fefu nibõrõtaigõ Yesu, folau ba famahaõ, 2 irugi luo tefazawa ia, me no ibe’e goroisa ba zinenge andrõ, ni’anutuyu’õnia Eheha ni’amoni’õ. 3 ba ni’oya’õnia tandra, wangoroma’õ wa no auri ia, me no aefa itaõgõ wamakao andrõ; õfa wulu wongi wa’ara i’oromaroma’õ ia khõra, i’ombakha’õ khõra ngawalõ mbanua Lowalangi andrõ. 4 Ba me orudu ira, me manga ira, ba iwa’õ khõra, bõi larõi Yeruzalema, labaloi gamabu’ula li Nama andrõ, nirongomi khõgu (iwa’õ). 6 Ba lasofu khõnia si so ba da’õ, lamane: He Tua, hadia õfuli õ’a’azõkhi iya’e dania nõri Ndraono Gizeraëli? 7 Ba imane khõra: Tenga si nangea ya’ami zangila bawa ba bu’u li, nihonogõi Nama ba wa’abõlõnia, 8 ba mitema dania wa’abõlõ Geheha ni’amoni’õ, si mõi khõmi, ba samaduhu’õ ami khõgu ba Yeruzalema, ba ba danõ Yudaia, ma’asagõrõ, ba ba Zamaria, ba irugi wondrege danõ.

Ba ayati 1 Imane Luka khõ Teofilo, No awai khõgu zura si fõfõna andrõ, ya’ugõ Teofilo, no usura fefu nibõrõtaigõ Yesu, folau ba famahaõ  Ba zinura Luka andre khö Teofilu, ba wa maduhu’õ wa no  maoso Ia moroi ba lewatö ma moroi ba ngai zino mate. Ba fatua lõ manahae Ia mõi ba zorugo, so sinangea aboto ba dõdõda sitobali ibe’e wamahaõ khodra sinenge:   

            1. Oya tandra, wangoroma’õ wa no auri ia. 

            2. Sindruhu wa no aefa itaõgõ wamakao andrõ; 

            3. I’ombakha’õ khõra ngawalõ mbanua Lowalangi andrõ.

Simanõ zalua ba zi öfa wulu ngaluo no i’oroma’ö la Yesu  khöra he gõi ba wamahaõ  ba zo’amakhaita Mbanua Lowalangi andrö.  Afuriata, ibe’e goroisa-Nia böi laröi Yeruzalema ena’ö labaloi  fanema Eheha meno wu’usa Lowalangi khöra ya’ia wa ibe’e khöra Geheha Ni’amoni’ö, sanolo ba same’e khöra fa’abölö ba wangai lala halöwö fanuriagõ duria somuso dõdõ ba soi niha fefu ba zisagõrõ ulidanõ.

Kamis, 07 Mei 2026

Falukha Wangefa ba Fangorifi ba Niha Sangide-ngide'ö Ya'ia Yobi 33:26-33

 

Fangosisi'ö Taromali ba Migu Sidua bawa-5 2026



FAMOBÖRÖ

Ba faza 33 andre sura Yobi itutunõnõ khõda wehede Elihu khõ Yobi tuhonia famohouni dan fangesa dõdõ niha samati khõ Lowalangi.  Itutunõ Elihu hadia sibai sitobali gohitõ dõdõ Lowalangi ba wamakao salua ba he gõi fotu ba niha samati khõ Lowalangi.  Badae aboto ba dõdõda wa Lowalangi lõ ihuku niha  sinange i’orifi ba i;bohouni.

I’andrõ khõ Yobi Elihu, ena’õ na ifondrongondrongo khõnia.

I’andrõ Elihu khõ Yobi ena’õ irongo niwa’õ nia wa ba wa’ebolo dõdõ. Iwaõ Elihu wa wehedenia moroi siaikõ ba dõdõnia bõrõ me ya’ia hulö simane Yobi niha diwõwõi Lowalangi andrõ wa iandrõ khõ Yobi enaõ bõi so wa’ata'u nia ba wehede nia.   Ohitõ dõdõ Elihu andre enaõ aboto ba dõdõ Yobi wa so gohitõ dõdõ Lowalangi ba wamakao salua ba wa’aurinia (ayat 1-7)

I’otu’õ niha Lowalangi, ba wangehao ya’ia ba ba wangefa’õ ya’ia ba wa’atekiko.(Ayati 8-22)

Bõrõ me Yobi andre niha satulo ba me alua wamakao ba wa’aurinia iwalingagõ no tobali ia nudu khõ Lowalangi andro wa Ibe’e wa’aboto ba dõdõ nis Elihu wa oya lala nitõrõ Lowalangi ba wamaema ohitõ dõdõ-Nia ba niha simane; fangifi, angilata ba he gõi wamakao ba lala wa’auri. na alua wamakao ba niha, famakao andrõ dela khõ Lowalangi enaõ niha samati khõnia bõi aekhu ba horõ. (ayati 8-22)

Na i’ide’ide’õ ia niha, ba ifuli ifarongogõ khõnia wa’ebua dõdõ. (23-25)

Imane Elihu na so niha ni’odela Lowangi ba wanolo niha ba lala satulõ, ba niha andrõ so khõnia wangidengideõ tõdõ ba wangesa tõdõ ba I’oramaõ waebua dõdõnia Lowalangi khõnia i'be’e fangorifi, fanolo ba fangefa moroi ba wamakao, hulö boto nono matua sibohou ebua. (ayti 23-25)

Ba ayati 26-33 itutunõ wa niha samati-sangesa tõdõ itema fanolo, fangefa ba famohouni soroi Lowangi.  Tefahaö ita wa  ba wamakao si lö mo’aetufa si falukha Yobi, moguna ba wanga’aro’ö wamati niha samati ena’ö lö faröi khö Lowalangi ba zisandrohu fa’auri ba famakao niha andrö alua ia ena’ö niha andrö falukha wamohouni ba lala wa’aurinia, enaö Te oroma’ö ba niha wa Lowalangi andrö sebua fa’omasi.  Ohitö dödö ena’ö niha mangawuli khö-Nia. Aboto ba dödö wa lö faröi khö Lowalangi ba ena’ö lö mamalö la’andrö saohagölö fefu howuhowu ba fatolosa Lowalangi khöra.

Me Lowalangi  tola i’oguna’ö gabula dödö ba famakaoda ba wangi’ila ohitö dödö-Nia ba wangorifi ya’ita. Famakaoda moguna ia ba wanga’azökhi fa’aurida ena’ö aro ba sabölö na falukha ita gakaola ba ena’ö itugu aro awö walö faröi ita khö-Nia ba wamati.

 


BÖI MAMALÖ WANGANDRÖ, Kolose 1:9-14

 


9Ba andrõ jaʼaga gõi, lõ mabato, iʼotarai loeo andrõ, me marongo, mangandrõga salahimi, maandrõ, enaʼõ tehõna chõmi waʼaboto ba dõdõmi zomasi ia, na tebeʼe chõmi ngawalõ waʼatoeatoea fefoe, awõ ngawalõ wangila fefoe, soroi ba Geheha, 10enaʼõ amoeata dána chõ Zoʼaja gamoeatami, fa bõi si lõ omasi ia chõmi, enaʼõ mowoea ami, fefoe ngawalõ mboeaboea si sõchi, ba enaʼõ tedooe waʼaboto ba dõdõmi Lowalangi;  11enaʼõ abõlõ ami, enaʼõ tedooe chõmi fefoe ngawalõ waʼabõlõ, dali waʼabõlõ lachõminia andrõ, enaʼõ aʼoi so chõmi wanaha tõdõ, awõ waʼebolo dõdõ, ba enaʼõ omoeso dõdõmi, 12wangandrõ saoha gõlõ chõ Nama, si no mangehao jaʼita, ba wanema tána ba niha niʼamoniʼõ andrõ, ba haga andrõ; 13si no mangefaʼõ jaʼita ba waʼabõlõ zogõmigõmi andrõ, si no mamawoeʼa jaʼita, si no molohe jaʼita ba mbanoea Nono waʼomasinia andrõ.. 14Ba zi so chõda fangõhõli, fangefaʼõ horõ andrõ

FAMOBÖRÖ

Sura Golose andre nisura Waulo ba mbanua niha keriso ba Asia Kecil, nahia andre no  so bagotalua banua soya andre wa oya hada (budaya), Fangerangera niha Gerika (filsafat Yunani), ba hegöi wa fa’aduhu dödö khö Lowalangi bö’ö, dae sitobali amakhaita salua ba gotalua ira samati khö Yesu nitutunö ba Golose 1:9-14.

Sura Waulo da’e nifa’emania ba Mbanua niha keriso si so ba Golose. ba sura andre ifaehagö wa’ömusö dödönia, me no irongo khö Gefafera (Epafras) duria wamati ba faomasi si so ba Mbanua niha Keriso ba Golose andrö. Ba wa’ömusö dödö Waulo andre, lö mamalö i’ohe ira ba wangandrönia salahi khö Lowalangi, sifao ndra awönia enoni ya’ia (Gefafera, Timoteo, Garisaro ba Tikhiko). La’andrö ba wangandröra ena’ö, banua niha keriso si so ba Golose, tobali ira niha samati si fahöna fa’atua-tua ba fa’aboto ba dödö ba wamati moroi ba Geheha.

Kolose 1:9-14 andre, mo’osi ia mene-mene Waulo ba Mbanua niha Keriso ba Golose, ena’ö lö mamalö Mbanua Golose andre igohi tödöra wangalui ba wamalua hadai zomasi Yesu ba wamanöi famatira.

Rabu, 06 Mei 2026

TETAPLAH BERDOA, Kolose 1:9-14

Khotbah Minggu 10 Mei 2026




 PENDAHULUAN

 Surat kepada jemaat di Kolose ditulis oleh Rasul Paulus dalam konteks pelayanan yang tidak mudah. Secara geografis, jemaat Kolose berada di wilayah Asia Kecil, sebuah daerah yang menjadi persimpangan berbagai pengaruh budaya, filsafat Yunani, tradisi Yahudi, serta kepercayaan-kepercayaan mistik. Situasi ini membuka peluang munculnya ajaran-ajaran yang menyimpang dari Injil yang murni. Para pengajar palsu mulai memengaruhi jemaat dengan ajaran yang mencampurkan unsur filsafat manusia, legalisme keagamaan, serta praktik-praktik spiritual yang tidak berpusat pada Kristus (bdk. Kol. 2:8).

 Dalam konteks itulah Paulus menulis surat ini, meskipun ia sendiri kemungkinan besar belum pernah mengunjungi jemaat Kolose secara langsung (bdk. Kol. 1:4; 2:1). Pelayanan kepada jemaat ini kemungkinan besar dimulai oleh Epafras, rekan sekerja Paulus (Kol. 1:7). Mendengar kondisi jemaat yang sedang menghadapi ancaman ajaran palsu, Paulus tidak hanya memberikan peringatan teologis, tetapi terlebih dahulu mengangkat mereka dalam doa. Hal ini menunjukkan prioritas rohani Paulus: sebelum memperbaiki pemahaman, ia lebih dahulu memohon campur tangan Allah dalam kehidupan jemaat.

Dalam Kolose 1:9, Paulus menyatakan bahwa ia “tidak berhenti-henti berdoa” bagi mereka. Doa ini bukan sekadar formalitas, melainkan ungkapan kepedulian pastoral yang mendalam. Isi doa Paulus sangat signifikan: ia tidak meminta agar masalah jemaat segera diselesaikan atau agar tekanan hidup mereka diangkat. Sebaliknya, ia berdoa agar jemaat dipenuhi dengan pengetahuan akan kehendak Allah dalam segala hikmat dan pengertian rohani.

Selasa, 05 Mei 2026

Keselamatan dan Pemulihan bagi Orang yang Rendah Hati (Ayub 33:26–33)

 Bahan Penelaah Alkitan (PA)




Pendahuluan

Kitab Ayub menegaskan pentingnya kesetiaan dan kepercayaan kepada Tuhan. Ada banyak tanggapan dari umat Kristen terkait dengan apa yang dituliskan dalam kitab Ayub. Sebagian orang berpendapat bahwa Ayub adalah “korban” dari perselisihan antara Tuhan Allah dan iblis, sebagaimana dikisahkan dalam percakapan awal antara Tuhan dan iblis (pasal 1).

Dalam pasal 33, Kitab Ayub menampilkan perkataan Elihu kepada Ayub. Sebelum masuk pada ayat 26–33 yang berbicara tentang pemulihan dan pengakuan manusia di hadapan Allah, Elihu terlebih dahulu menjelaskan maksud Allah melalui penderitaan dan teguran. Bagian ini menjadi dasar untuk memahami bahwa Allah tidak hanya menghukum manusia, tetapi juga ingin memulihkan dan menyelamatkannya.

Elihu meminta Ayub agar mendengarkan nasihatnya.

Pada bagian awal, Elihu meminta Ayub untuk mendengarkan perkataannya dengan tenang dan terbuka. Elihu menegaskan bahwa ia berbicara dengan tulus hati dan hikmat yang berasal dari Roh Allah. Ia juga mengingatkan bahwa dirinya sama seperti Ayub, yaitu sama-sama manusia ciptaan Tuhan. Karena itu, Ayub tidak perlu takut mendengar perkataannya. Melalui pendekatan ini, Elihu ingin menunjukkan bahwa nasihat yang akan ia sampaikan bertujuan menolong Ayub memahami kehendak Allah di tengah penderitaannya. (ayat 1-7)

Tuhan menegur manusia untuk memulihkan dan menolong.

Elihu kemudian menanggapi keluhan Ayub yang merasa dirinya benar tetapi diperlakukan seperti musuh oleh Allah. Elihu menjelaskan bahwa Allah tetap berbicara kepada manusia dengan berbagai cara, baik melalui mimpi, penglihatan, maupun penderitaan. Teguran dan penderitaan bukan selalu tanda kebencian Allah, melainkan cara Tuhan mencegah manusia jatuh ke dalam dosa dan kebinasaan. Melalui penderitaan, Allah ingin menyadarkan manusia agar kembali kepada-Nya. Dengan demikian, penderitaan dapat menjadi sarana didikan dan pemulihan rohani. (ayat 8-22)

Jikalau manusia merendahkan hatinya maka Tuhan akan mengasihinya.

Selanjutnya Elihu menjelaskan bahwa apabila ada seorang pengantara yang menuntun manusia kepada jalan yang benar, lalu orang itu merendahkan hati dan bertobat, maka Allah akan menunjukkan kasih karunia-Nya. Tuhan akan membebaskannya dari kebinasaan dan memulihkan hidupnya. Gambaran tubuh yang kembali segar seperti masa muda menunjukkan pemulihan total yang berasal dari belas kasihan Allah. Bagian ini menjadi pengantar penting bagi ayat 26–33, karena di sana dijelaskan bahwa orang yang bertobat dan datang kepada Allah akan mengalami pemulihan dan sukacita dalam hubungannya dengan Tuhan. 23-25)

Sikap Elihu menunjukkan usahanya menolong Ayub memahami bahwa Allah tidak selalu memakai penderitaan untuk menghukum, tetapi juga untuk menegur dan memulihkan manusia. Dengan pemikiran inilah Elihu mengarahkan perkataannya dalam ayat 26-33, yaitu agar Ayub merendahkan hati dan datang berdoa kepada Allah (ayat 26), mengakui dosanya supaya memperoleh pemulihan (ayat 27-28), serta percaya bahwa Allah sanggup menyelamatkan dan memulihkan hidup manusia (ayat 29-30).  Beberapa hal yang perlu kita pelajari adalah: 

1. Kerendahan Hati yang Membawa kepada Doa (ayat 26)

“Karena itu ia berdoa kepada Allah, dan Allah berkenan kepadanya; Ia melihat wajah-Nya dengan sorak-sorai, dan Allah mengembalikan kebenaran kepada manusia.”(ayat 26)

Kerendahan hati nyata dalam sikap datang kepada Tuhan melalui doa. Orang yang rendah hati menyadari keterbatasannya dan ketergantungannya kepada Allah. Dalam kondisi tertekan seperti Ayub, doa bukan sekadar rutinitas, tetapi jalan untuk mengalami perkenanan Tuhan.

Ayat ini menunjukkan bahwa ketika manusia merendahkan diri dan berdoa, Allah merespons dengan kasih-Nya: menerima, memulihkan, dan mengembalikan kebenaran. Keselamatan dimulai dari hati yang tunduk dan berseru kepada Tuhan.

Kamis, 30 April 2026

Berdoa dan Bekerja 2 Tesalonika 3:1-12

 Bahan PA Minggu pertama bulan Mei 2026



 Pendahuluan

Kehidupan orang percaya sering kali dipahami hanya sebatas doa dan ibadah. Namun firman Tuhan dalam 2 Tesalonika pasal 3 menunjukkan bahwa iman Kristen jauh lebih luas dari itu. Iman bukan hanya terlihat dalam hubungan kita dengan Tuhan, tetapi juga dalam cara kita hidup setiap hari.  Rasul Paulus menulis kepada jemaat Tesalonika untuk menegaskan tiga hal penting dalam kehidupan orang percaya:

1.      Pentingnya saling menopang dalam doa, Kita bergantung kepada Tuhan melalui doa

2.      Keyakinan bahwa Tuhan menjaga umat-Nya, Kita percaya pada perlindungan-Nya

3.      Panggilan untuk hidup bertanggung jawab melalui kerja. Kita hidup aktif dan bertanggung jawab dalam dunia ini

Sering kali orang jatuh pada dua ekstrem: hanya berdoa tetapi tidak bertindak, atau bekerja keras tetapi melupakan Tuhan. Namun firman Tuhan mengajarkan keseimbangan berdoa dan bekerja, percaya dan bertanggung jawab.  Melalui bagian ini, kita diajak untuk mengevaluasi diri.   Apakah iman kita hanya sebatas kata-kata? Ataukah benar-benar nyata dalam kehidupan sehari-hari?

 

1. Saling Menopang dalam Doa  (ayat 1-2)

1Selanjutnya, saudara-saudara,  berdoalah untuk kami, supaya firman Tuhan  beroleh kemajuan dan dimuliakan, sama seperti yang telah terjadi di antara kamu, 2 dan supaya kami terlepas dari para pengacau dan orang-orang jahat,  sebab bukan semua orang beroleh iman.

 Paulus sanggup melakukan apa yang dilakukannya bagi Kristus, sebagian karena doa umat Allah. Oleh karena itu dia sering kali memohon doa dari orang-orang yang dilayaninya, sebab menyadari bahwa kehendak Allah bagi kehidupan dan pelayanannya tidak akan terwujud sepenuhnya tanpa doa syafaat sesama. Prinsip rohani kerajaan Allah ini masih berlaku saat ini. Kita memerlukan dukungan doa sesama saudara seiman dan demikian juga mereka. Dengan doa syafaat dalam gereja, kehendak Allah akan tercapai, maksud Iblis akan digagalkan dan segenap kuasa Roh dinyatakan.

 Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, ketika kita membaca bagian ini, kita menemukan sesuatu yang sangat menarik. Rasul Paulus, seorang hamba Tuhan yang besar, seorang penginjil yang luar biasa, ternyata tidak berjalan sendirian. Ia berkata, “Berdoalah untuk kami.”

Kalimat ini sederhana, tetapi sangat dalam maknanya. Paulus menyadari bahwa keberhasilan pelayanannya bukan hanya karena kemampuan, pengalaman, atau keberaniannya, melainkan karena dukungan doa dari umat Allah.

Ia meminta dua hal. Pertama, supaya firman Tuhan beroleh kemajuan dan dimuliakan. Artinya, Injil bukan hanya didengar, tetapi sungguh-sungguh bekerja dalam hidup orang-orang. Firman itu harus hidup, bertumbuh, dan menghasilkan buah. Paulus rindu agar apa yang terjadi di jemaat Tesalonika di mana firman diterima dengan kuasa juga terjadi di tempat lain.

Yang kedua, Paulus meminta supaya ia dilepaskan dari orang-orang jahat dan pengacau. Ini menunjukkan bahwa pelayanan Tuhan tidak pernah lepas dari tantangan. Selalu ada penolakan, selalu ada perlawanan, bahkan ancaman. Paulus tidak menutup mata terhadap realitas ini. Tetapi ia juga tidak menghadapinya dengan kekuatan sendiri ia meminta doa.

Dari sini kita belajar satu hal penting: pelayanan rohani adalah pekerjaan bersama. ada yang pergi memberitakan Injil, tetapi ada juga yang menopang melalui doa. Dan keduanya sama pentingnya di hadapan Tuhan.

Sering kali kita berpikir bahwa doa itu hal kecil, bahkan kadang dianggap sebagai pilihan terakhir. Padahal, dalam pandangan Alkitab, doa justru adalah garis depan peperangan rohani. Melalui doa, jalan dibukakan. Melalui doa, perlindungan diberikan. Melalui doa, kuasa Allah dinyatakan.

Itulah sebabnya gereja mula-mula menjadi gereja yang kuat karena mereka adalah gereja yang berdoa. Ketika mereka berdoa, bukan hanya keadaan berubah, tetapi hati mereka juga dipenuhi keberanian dan kuasa Roh Kudus.

 

Keturunan Kain dan Keturunan Set yang Memanggil Nama Tuhan Kejadian 4:17-26

  Pendahuluan Pasal 4 Kitab Kejadian menggambarkan keadaan manusia setelah jatuh ke dalam dosa. Dosa yang dimulai dari ketidaktaatan Adam da...