Jumat, 24 Juli 2026

Setiap orang yang mendengar dan tidak melupakan Taurat Tuhan adalah umat Tuhan, Keluaran 19:1-6

 Bahan PA


Pendahuluan

Setelah membebaskan bangsa Israel dari perbudakan Mesir, Allah membawa mereka ke Gunung Sinai untuk mengadakan perjanjian dengan mereka. Sebelum memberikan Taurat, Allah terlebih dahulu mengingatkan kasih karunia-Nya yang telah menyelamatkan mereka. Kemudian Allah menegaskan bahwa umat-Nya adalah mereka yang sungguh-sungguh mendengarkan firman-Nya dan berpegang pada perjanjian-Nya. Ketaatan bukanlah jalan untuk memperoleh keselamatan, melainkan buah dari keselamatan yang telah dianugerahkan Allah.

Berdasarkan Keluaran 19:1-6 kita belajar bahwa setiap orang yang mendengar dan tidak melupakan Taurat Tuhan adalah umat-Nya. Orang yang demikian dipanggil untuk hidup dekat dengan Tuhan, selalu mengingat kasih karunia-Nya, dan menaati firman-Nya sehingga menjadi harta kesayangan Allah, kerajaan imam, dan bangsa yang kudus.

 

1. Allah Memanggil Umat-Nya Datang kepada-Nya (Ayat 1-2)

Setelah dibebaskan dari perbudakan di Mesir, bangsa Israel tiba di Padang Gurun Sinai. Perjalanan mereka bukanlah suatu kebetulan, melainkan dipimpin langsung oleh Tuhan. Setelah berangkat dari Rafidim, mereka berkemah di depan Gunung Sinai, gunung tempat Allah akan menyatakan diri-Nya dan mengikat perjanjian dengan umat-Nya. Gunung Sinai menjadi tempat yang sangat penting dalam sejarah Israel, sebab di sanalah mereka akan menerima Taurat dan dipersiapkan menjadi umat kepunyaan Allah.

Demikian pula dengan orang percaya pada masa kini. Tuhan memanggil setiap orang yang telah menerima anugerah keselamatan untuk hidup dekat dengan-Nya. Kedekatan dengan Tuhan diwujudkan melalui ibadah, doa, membaca dan merenungkan firman-Nya, serta hidup dalam ketaatan. Umat Allah bukanlah mereka yang sekadar mengaku percaya, melainkan mereka yang datang kepada Tuhan dengan hati yang siap mendengar dan melakukan kehendak-Nya. Inilah langkah pertama menjadi umat Tuhan: datang kepada-Nya dan membuka hati untuk mendengar firman-Nya.

 

Kamis, 23 Juli 2026

Karya Allah Bagi Orang Pilihan-Nya Roma 8: 26-30

 Khotbah Minggu

 

 Pendahuluan

Kitab Roma ditulis oleh Rasul Paulus sekitar tahun 57-58 M kepada jemaat di Roma. Surat ini menjelaskan secara sistematis tentang Injil dan keselamatan oleh kasih karunia melalui iman kepada Yesus Kristus.

Pasal 8 menunjukan bahwa Allah tidak pernah membiarkan orang-orang pilihan-Nya menjalani hidup ini sendirian. Di tengah kelemahan, penderitaan, dan berbagai pergumulan, Allah terus berkarya dengan kasih dan kuasa-Nya untuk menggenapi rencana keselamatan yang telah ditetapkan sejak semula. Roma 8:26-30 memperlihatkan rangkaian karya Allah yang sempurna bagi umat-Nya: Roh Kudus menolong mereka dalam doa ketika mereka tidak tahu apa yang harus dipanjatkan, Allah bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi-Nya, dan Allah menggenapi rencana kekal-Nya dengan memanggil, membenarkan, serta memuliakan mereka. Kebenaran ini menjadi dasar pengharapan yang teguh bagi setiap orang percaya bahwa hidup mereka senantiasa berada di dalam pemeliharaan dan rencana Allah yang tidak pernah gagal. Karena itu, melalui perikop ini kita akan melihat tiga karya Allah bagi orang pilihan-Nya, yaitu: 1.      Roh Kudus Menolong Orang Pilihan-Nya dalam Doa (Rm. 8:26–27), 2.      Allah Mendatangkan Kebaikan bagi Orang Pilihan-Nya (Rm. 8:28), dan 3.      Rencana Kekal Allah bagi Orang Pilihan-Nya (Rm. 8:29–30).


1.  Roh Kudus Menolong Orang Pilihan-Nya dalam Doa (Ayat 26-27)

 26 Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh  sendiri berdoa untuk kita  kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan. 27 Dan Allah yang menyelidiki hati nurani,  mengetahui maksud Roh itu, yaitu bahwa Ia, sesuai dengan kehendak Allah, berdoa  untuk orang-orang kudus. 

Salah satu karya Allah yang luar biasa bagi orang pilihan-Nya adalah memberikan pertolongan melalui Roh Kudus ketika mereka berdoa. Dalam kelemahan manusia, sering kali orang percaya tidak mengetahui apa yang seharusnya didoakan atau bagaimana menyampaikannya kepada Allah. Namun, Allah tidak membiarkan umat-Nya berjuang sendiri. Kristus bertindak sebagai Pengantara di hadapan Bapa di surga (Rm. 8:34; 1Yoh. 2:1), sementara Roh Kudus menjadi Pengantara yang tinggal di dalam hati orang percaya di bumi. Roh Kudus menyertai setiap pergumulan, bahkan menerjemahkan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan menjadi doa yang berkenan kepada Allah. Kerinduan, desahan, dan harapan rohani yang muncul dalam hati orang percaya merupakan karya Roh Kudus yang terus mengarahkan mereka kepada penggenapan penebusan. Karena Roh Kudus berdoa sesuai dengan kehendak Allah, orang percaya dapat memiliki keyakinan bahwa Allah mendengar dan menjawab doa mereka menurut rencana-Nya yang sempurna. Dengan demikian, pertolongan Roh Kudus dalam doa merupakan bukti nyata kasih dan pemeliharaan Allah bagi orang-orang pilihan-Nya.

 

 2. Allah Mendatangkan Kebaikan bagi Orang Pilihan-Nya (ayat 28)

28 Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan  bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil  sesuai dengan rencana  Allah. 

Roma 8:28 menyatakan salah satu janji Allah yang paling menguatkan bagi orang percaya, khususnya ketika mereka menghadapi penderitaan. Allah bekerja dalam segala keadaan untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia dan yang terpanggil sesuai dengan rencana-Nya. Kebaikan yang dimaksud bukanlah selalu berupa kenyamanan, kesuksesan, atau terbebas dari masalah, melainkan proses Allah membentuk kehidupan orang percaya agar semakin serupa dengan Kristus dan pada akhirnya memperoleh kemuliaan bersama-Nya (Rm. 8:29). Janji ini diberikan secara khusus kepada mereka yang hidup dalam kasih kepada Allah dan telah menyerahkan diri kepada-Nya melalui iman kepada Yesus Kristus. Namun, frasa "Allah turut bekerja dalam segala sesuatu" tidak boleh dipahami sebagai pembenaran terhadap dosa atau kelalaian manusia. Dosa tetap mendatangkan konsekuensi, tetapi dalam kasih karunia-Nya Allah sanggup memakai berbagai keadaan hidup, termasuk penderitaan dan kesulitan, untuk menggenapi tujuan-Nya yang baik bagi orang-orang pilihan-Nya. Dengan demikian, ayat ini menjadi sumber pengharapan yang meneguhkan bahwa tidak ada satu pun pengalaman hidup orang percaya yang berada di luar kendali dan pemeliharaan Allah.

3. Rencana Kekal Allah bagi Orang Pilihan-Nya (Ayat 29-30)

29 Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula ,  mereka juga ditentukan-Nya  dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya,  supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung  di antara banyak saudara. 30 Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula,  mereka itu juga dipanggil-Nya.  Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya.  Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.

Roma 8:29-30 menegaskan bahwa keselamatan orang percaya berakar pada rencana Allah yang kekal. Sejak semula Allah telah mengenal dan mengasihi umat-Nya serta menetapkan mereka untuk menjadi serupa dengan gambar Anak-Nya, Yesus Kristus. Pemilihan Allah bukan sekadar menunjuk kepada keselamatan, tetapi juga kepada proses pembentukan hidup agar semakin mencerminkan karakter Kristus. Karena itu, Allah memanggil mereka melalui Injil, membenarkan mereka oleh iman kepada Kristus, dan pada akhirnya akan memuliakan mereka sesuai dengan rencana-Nya yang sempurna. Rencana kekal ini menunjukkan bahwa seluruh karya keselamatan berasal dari inisiatif Allah dan digenapi oleh kuasa-Nya. Oleh sebab itu, orang percaya dipanggil untuk tetap tinggal di dalam Kristus, memelihara iman, dan hidup sebagai bagian dari tubuh Kristus sampai mencapai kemuliaan yang telah Allah sediakan.

Kesimpulan

Roma 8:26-30 menegaskan bahwa karya keselamatan Allah bagi orang pilihan-Nya adalah karya yang utuh dan sempurna. Allah tidak hanya menyelamatkan, tetapi juga menyertai, memelihara, membentuk, dan pada akhirnya memuliakan umat-Nya. Melalui pertolongan Roh Kudus dalam doa, pemeliharaan Allah yang mendatangkan kebaikan di dalam segala keadaan, serta rencana kekal-Nya yang membawa orang percaya menjadi serupa dengan Kristus, kita memiliki kepastian bahwa tidak ada satu pun yang dapat menggagalkan maksud Allah bagi kehidupan orang-orang yang mengasihi-Nya. Oleh karena itu, marilah kita tetap setia hidup di dalam Kristus, bertekun dalam iman, dan menyerahkan seluruh hidup kepada Allah, sebab Dia yang telah memulai pekerjaan yang baik di dalam kita akan menyempurnakannya sampai pada hari Kristus Yesus (Flp. 1:6).

Oleh:Pdt. Juliman Harefa

 

Sabtu, 18 Juli 2026

Hari Sukacita Bagi Umat Tuhan. Ester 9:15-19

 

Khatbah Minggu 19 JULI 2026




Pendahuluan

Peristiwa ini terjadi di Susan (Susa), ibu kota Kerajaan Persia, pada masa pemerintahan Raja Ahasyweros Pada zaman Ester, banyak orang Yahudi masih hidup di negeri perantauan (diaspora) di bawah pemerintahan Persia. Walaupun masa pembuangan secara resmi telah berakhir melalui dekret Koresh, tidak semua orang Yahudi kembali ke Yerusalem. 

Ester 9:11–19 menceritakan tentang kemenangan orang Yahudi atas musuh-musuh mereka yang kemudian menjadi dasar penetapan Hari Raya Purim. Kata Purim berasal dari bahasa Ibrani pur, yang berarti "undi", yaitu undian yang dilemparkan Haman untuk menentukan hari pemusnahan orang Yahudi (Est. 3:7). Hari Raya Purim ditetapkan sebagai peringatan atas pembebasan umat Yahudi dari rencana jahat Haman dan para pengikutnya yang hendak memusnahkan mereka di Kerajaan Persia. Haman, yang menjabat sebagai pejabat tertinggi setelah raja, telah menyusun rencana untuk membinasakan seluruh bangsa Yahudi. Namun, melalui keberanian Ratu Ester dan hikmat Mordekhai, serta penyelenggaraan Allah yang bekerja di balik setiap peristiwa, rencana jahat itu digagalkan. Sebaliknya, orang Yahudi memperoleh kemenangan atas musuh-musuh mereka di seluruh wilayah kerajaan. Kemenangan tersebut kemudian dikenang melalui penetapan Hari Raya Purim sebagai ungkapan syukur atas perlindungan, pemeliharaan, dan penyelamatan Allah terhadap umat-Nya.

Berdasarkan Ester 9:11–19, kita akan melihat bagaimana Allah bekerja bagi umat-Nya melalui tiga kebenaran penting. Pertama, perlindungan Tuhan yang memberi kemenangan (ayat 11–14), yang menunjukkan bahwa Allah membela dan menyelamatkan umat-Nya dari ancaman musuh. Kedua, kemenangan yang menghadirkan sukacita (ayat 15–17), di mana pertolongan Tuhan membawa keamanan, perhentian, dan damai bagi umat-Nya. Ketiga, merayakan kemenangan dengan sukacita (ayat 18–19), yaitu respons iman umat Tuhan yang mengungkapkan syukur melalui perjamuan, sukacita, dan berbagi dengan sesama. Melalui ketiga kebenaran ini, kita diajak untuk semakin percaya kepada pemeliharaan Tuhan dan senantiasa hidup dalam sukacita serta ucapan syukur atas karya keselamatan-Nya.

1. Perlindungan Tuhan yang Memberi Kemenangan (ayat 11-14)

11 Pada hari itu juga jumlah orang-orang yang terbunuh di dalam benteng Susan disampaikan ke hadapan raja. 12 Lalu titah raja kepada Ester, sang ratu: "Di dalam benteng Susan saja orang Yahudi telah membunuh dan membinasakan lima ratus orang beserta kesepuluh anak Haman. Di daerah-daerah kerajaan yang lain, entahlah apa yang diperbuat mereka. Dan apakah permintaanmu sekarang? Niscaya akan dikabulkan. Dan apakah keinginanmu lagi? Niscaya dipenuhi. " 13 Lalu jawab Ester: "Jikalau baik pada pemandangan raja, diizinkanlah kiranya kepada orang Yahudi yang di Susan untuk berbuat besokpun sesuai dengan undang-undang untuk hari ini, dan kesepuluh anak   Haman itu hendaklah disulakan   pada tiang." 14 Rajapun menitahkan berbuat demikian; maka undang-undang itu dikeluarkan di Susan dan kesepuluh anak Haman disulakan  orang.

 

Ester 9:11-14 adalah bukti perlindungan Tuhan atas umat-Nya melalui Ester pada Ester,   pada hari kemenangan orang Yahudi itu di benteng Susan, jumlah musuh yang terbunuh dilaporkan kepada Raja Ahasyweros. Raja kemudian memberitahukan kepada Ratu Ester bahwa orang Yahudi telah membunuh 500 orang di Susan, termasuk kesepuluh anak Haman, lalu bertanya apakah masih ada permintaan lain yang diinginkan Ester. Ester memohon agar orang Yahudi di Susan diizinkan melanjutkan pembelaan diri pada hari berikutnya sesuai titah raja, serta agar mayat kesepuluh anak Haman digantung pada tiang sebagai tanda hukuman. Raja mengabulkan permintaan itu, mengeluarkan titah di Susan, dan mayat kesepuluh anak Haman pun digantung, sehingga kemenangan orang Yahudi semakin ditegaskan dan ancaman dari para musuh mereka benar-benar diakhiri.

Ester 9:11–14 menegaskan bahwa Allah adalah Pelindung umat-Nya yang setia dan berdaulat atas sejarah, sekalipun nama-Nya tidak disebutkan secara langsung dalam kitab Ester. Melalui keberanian dan hikmat Ester serta keputusan Raja Ahasyweros, Allah membalikkan keadaan dari ancaman kebinasaan menjadi kemenangan dan keamanan bagi umat-Nya. Kemenangan ini bukan semata-mata hasil kekuatan manusia, melainkan bukti penyelenggaraan (providensia) Allah yang bekerja di balik setiap peristiwa untuk menggenapi rencana-Nya. Hukuman terhadap musuh-musuh Israel juga menunjukkan bahwa Allah adalah Hakim yang adil, yang membela umat-Nya dan menegakkan keadilan terhadap kejahatan. Karena itu, orang percaya dipanggil untuk tetap percaya kepada pemeliharaan dan perlindungan Allah, sebab Dia sanggup bekerja melalui berbagai cara dan pribadi untuk menyelamatkan umat-Nya sesuai dengan kehendak-Nya.

Kamis, 09 Juli 2026

Saling Menolong. 3 Yohanes 1:5-8

 Khotbah Minggu



Pendahuluan

Surat 3 Yohanes ditulis oleh Rasul Yohanes kepada seorang percaya bernama Gaius. Ia dikenal sebagai pribadi yang setia menerima dan menolong para pelayan Injil yang sedang melakukan perjalanan pelayanan.

Pada waktu itu muncul seorang pemimpin jemaat bernama Diotrefes yang menolak menerima para pelayan Tuhan, bahkan menghalangi orang lain untuk membantu mereka. Sebaliknya, Gaius dipuji karena keramahannya dan kesediaannya mendukung pekerjaan Injil. Surat ini mengajarkan bahwa setiap orang percaya dipanggil bekerja sama dan saling menopang dalam pelayanan.

 

Khotbah

1. Menolong Pelayan Tuhan Ayat 5

5 Saudaraku yang kekasih, engkau bertindak sebagai orang percaya , di mana engkau berbuat segala sesuatu untuk saudara-saudara,  sekalipun mereka adalah orang-orang asing. 

Pada pendahuluan kitab ini dijelaskan bahwa ada oknum yang menolak menolong para hamba Tuhan yang memberitakan Injil dala pelayanan dan perjalanan mereka tetapi Yohanes memuji seorang yang bernama Gaius karena kesetiaanya kepada Tuhan terlihat melalui kepeduliannya kepada saudara-saudara seiman, bahkan kepada orang yang sebelumnya tidak dikenalnya. Iman sejati selalu menghasilkan tindakan kasih, Ia menolong para hamba Tuhan yang memberitakan Injil.

Gaius membantu para hamba Tuhan dengan membukan ruahnya dan memberi tumpangan dalam perjalanan para pemberita Injil karena pada masa itu belum ada penginapan tempat menginap bagi orang yang melakukan perjalanan.  Bahkan Gaius memberi bekal kepada para hamba Tuhan tersebut ketika mereka melanjutkan perjalanan pelayanan mereka (ayat 5 dan 6).

Gaius merupakan teladan bagi kita dimasa kini bahwa menolong dan membantu para hamba Tuhan dalam pelayanan merupakan bukti kesetiaan kepada Tuhan dan pekerjaan-Nya.

FAMOLALA TÖDÖ ZINUMANA. V Moze 15:6-11

 


Lala Geraera ba PA

FAMOBÖRÖ

Ba daromali ni'angerönusida ma'ökhö andre ifarou ita ba wangoro'ö tangada ba wanolo niha sitosasa, sambö soguna. Andrõ moguna ta sofu ba dõdõda:

1.      Hadia so wehululu dödöda ba wanolo zitosasa?

2.      Hadia, wa fa'ahakhö dödö ba nawö, ba no sambua tandra wa yaita no sisara lal wamati khõ nawõda ?

V Moze 15:6–11 no sambua zura goroisa Lowalangi khö moze fatua lö larugi danö si no ihonogöi khöra Lowalangi.  Faza 15 andre no sambua zura sama'ema fangefa: fefu gömö teheta faböi afökhö dödö si tosasa. Ba ayati 6–11, ba da'e oroma khöda wa ohitö dödö Lowalangi ena'ö böi mu'osiwawöi niha sinumana.

I. ANGOSISILA

1. Howuhowu nitemada no buala Lowalangi (ayati 6)

6 No’a sa ibe’e khõu howuhowu andrõ Lowalangiu, Yehowa, si mane nifabu’unia khõu, tobali oya soi nibe’eu nifalali; ba ya’ugõ, ba alakha lõ õfalali gana’a, ba oya soi dania zi so barõ mbawau; ba lõ’õ sa si mõi ndra’ugõ barõ mbawa.

Dae sitobali dane-dane khöda ba wanolo awöda niha gulidanö ya’ia menotatema buala sino ifabu’u khöda Lowalangi. Ba Ayati 6 andre, ibotokhi ba dödöda wa moroi khö Lowalangi howuhowu, andrö börö da’ö ba niha samati khönia si no manema howuhowu, tekaoni ba wanohugö  howuhowu andrö ba niha sitosasa, tenga ha sanema howuhowu Lowalangi manö ita.  Okhöta nibe’e Lowalangi khöda ba no ndrela ba wanolo awöda. Naso khöda böi tobali fayawasada ba nawöda niha. Yehowa ba Ihöndrögö sa zifayawa tödö me mo okhöta Ia, ba l'ebua'ö dödö-Nia ba zangidendide'ö ya'ia.

Kamis, 25 Juni 2026

Kasih yang Menggembirakan dan Menguatkan. Filemon 1:4-7.

 

Khotbah Minggu

Pendahuluan                                                            

Surat Filemon ditulis oleh Paulus sekitar tahun 60–62 M ketika ia berada di dalam penjara. Filemon adalah seorang rekan sekerja Paulus yang memiliki seorang hamba bernama Onesimus. Onesimus melarikan diri dari Filemon dan kemungkinan telah merugikannya. Dalam pelariannya ke Roma, Onesimus bertemu dengan Paulus, bertobat, dan menjadi pengikut Kristus serta rekan pelayanan Paulus. Namun, Paulus menyadari bahwa hubungan antara Onesimus dan Filemon perlu dipulihkan. Karena itu, Paulus mengirim Onesimus kembali kepada Filemon dengan sebuah surat yang berisi permohonan agar ia diterima kembali, bukan sebagai budak, melainkan sebagai saudara seiman yang terkasih di dalam Tuhan. Dari Kitab Filemon Filemon 1:4-7 kita belajar:

Khotbah

1. Iman yang Bertumbuh dalam Kasih (Ay. 4–5) Paulus bersyukur karena Filemon memiliki iman yang sungguh kepada Kristus. Iman yang benar tidak hanya menjadi pengakuan, tetapi menghasilkan kasih yang nyata kepada sesama, termasuk kesediaan untuk mengampuni dan menerima kembali Onesimus sebagai saudara seiman. 2. Kasih yang Dinyatakan Melalui Perbuatan (Ay. 6) 2. Kasih yang lahir dari iman harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Melalui perbuatan baik, pelayanan, dan kepedulian kepada sesama, orang percaya semakin mengalami kebaikan Tuhan dan membangun persekutuan yang semakin kuat. 3. Kasih yang Menghibur dan Menguatkan (Ay. 7) Kasih Filemon membawa sukacita, penghiburan, dan kekuatan bagi banyak orang, termasuk Paulus. Kehidupan yang dipenuhi kasih Kristus akan menjadi berkat yang menyegarkan dan menguatkan sesama dalam menjalani kehidupan dan pelayanan.

 

SEBOLO TÖDÖ YEHOWA BA SI NO FAHÖNA FA’AHAKHÖ DÖDÖ. IV Moze 14:11-19

 Bahan PA


Famobörö

Sura IV Moze andre tohu-tohu IV Moze faza 13 me ifatenge Moze si 12 niha samauze dano Kana’ana.  Meno mangwauli ira, 10 niha same’e duria sata’u niha, andrö wa mokökökökö ira ba so zedöna mangawuli ba dano Misirayi (14:1-4).  Lö faduhu dödöra khö Lowalangi zui, hewa’ae no oya ni’ilara halöwö sahöli-höli dödö (Muzijat) nifalua Lowalangi khöra.

Simanö zalua ba ndaono gizara’eli andre ba ginötö so ira balala Lotarai ndrawa Misirayi numalö ba danö nifabu’u Lowalangi khöra, abudödöra ba fatahi ira latahigö zolohe ya’ira ba mukökökö ira irege lasofu hana wa i’ohe ita Lowalangi ba danö simate andre, hadia ena’ö mate. Andrö dania wa lö’omasi ira latohugö wofanö ba nifabu’u Lowalangi khöra ba edöna lafuli ira furi.

Ha darua Kalebi ba Yosua sifaduhu tödö  khö Lowalangi wa Lowalangi ba wa’abölö-Nia tola ibe’e khöra danö Kana’ana sino ifabu’u Lowalangi. Andrö wa alua fönu Lowalangi, mangandrö Moze salahi ndraono Gizeraeli me Lowalangi sebolo tödö ba sifahöna fa’omasi.

Ya’ita andre itaria lö faduhu dödö wa Lowalangi no lowalangi sabölö sitola manolo ya’ita ba ngawalö so guna, itaria so khöda waombö dödö ba wangofanöi töröwada, ba tola tobali fekökö khöda ba wanahinahigö Lowalangi ba lala waaurida sero maökhö.

Daroma Li andre wangandrö Moze khö Lowalangi. I’andrö khö Lowalangi bawangefa’ö zala ndraono Gizara’eli ba ena’ö ihakhösi tödö ira Lowalangi meno si lö faduhu tödö ira khö Lowalangi.

Ba i’andrö ena’ö fa’ebua dödö Lowalangi andrö lömamalö te’oroma’ö wa’ebua dödöNia ba wangefa’ö lalöra ba mendruamanö wa lötebulö hasambalö ifalua wawu’usa Li Nia ba ndraono Gizara’eli andrö.

Jumat, 19 Juni 2026

Pemeliharaan Allah yang Universal. Kejadian 21:8-21

 

Bahan Khotbah Minggu

8 Bertambah besarlah anak itu dan ia disapih, lalu Abraham mengadakan perjamuan besar pada hari Ishak disapih itu. 9 Pada waktu itu Sara melihat, bahwa anak yang dilahirkan Hagar, perempuan Mesir itu bagi Abraham, sedang main dengan Ishak, anaknya sendiri. 10 Berkatalah Sara kepada Abraham: "Usirlah hamba perempuan itu beserta anaknya, sebab anak hamba ini tidak akan menjadi ahli waris bersama-sama dengan anakku Ishak." 11 Hal ini sangat menyebalkan Abraham oleh karena anaknya itu. 12 Tetapi Allah berfirman kepada Abraham: "Janganlah sebal hatimu karena hal anak dan budakmu itu; dalam segala yang dikatakan Sara kepadamu, haruslah engkau mendengarkannya, sebab yang akan disebut keturunanmu ialah yang berasal dari Ishak. 13 Tetapi keturunan dari hambamu itu juga akan Kubuat menjadi suatu bangsa, karena iapun anakmu." 14 Keesokan harinya pagi-pagi Abraham mengambil roti serta sekirbat air dan memberikannya kepada Hagar. Ia meletakkan itu beserta anaknya di atas bahu Hagar, kemudian disuruhnyalah perempuan itu pergi. Maka pergilah Hagar dan mengembara di padang gurun Bersyeba. 15 Ketika air yang dikirbat itu habis, dibuangnyalah anak itu ke bawah semak-semak, 16 dan ia duduk agak jauh, kira-kira sepemanah jauhnya, sebab katanya: "Tidak tahan aku melihat anak itu mati." Sedang ia duduk di situ, menangislah ia dengan suara nyaring. 17 Allah mendengar suara anak itu, lalu Malaikat Allah berseru dari langit kepada Hagar, kata-Nya kepadanya: "Apakah yang engkau susahkan, Hagar? Janganlah takut, sebab Allah telah mendengar suara anak itu dari tempat ia terbaring. 18 Bangunlah, angkatlah anak itu, dan bimbinglah dia, sebab Aku akan membuat dia menjadi bangsa yang besar." 19 Lalu Allah membuka mata Hagar, sehingga ia melihat sebuah sumur; ia pergi mengisi kirbatnya dengan air, kemudian diberinya anak itu minum. 20 Allah menyertai anak itu, sehingga ia bertambah besar; ia menetap di padang gurun dan menjadi seorang pemanah. 21 Maka tinggallah ia di padang gurun Paran, dan ibunya mengambil seorang isteri baginya dari tanah Mesir.

 

Pendahuluan

Pemeliharaan Allah adalah salah satu tema besar dalam Alkitab. Sering kali manusia menganggap bahwa Allah hanya memperhatikan orang-orang tertentu atau hanya bekerja bagi mereka yang hidup dalam keadaan baik. Namun, Kejadian 21:8-21 memperlihatkan bahwa pemeliharaan Allah melampaui batas-batas yang sering dibuat manusia. Dalam bagian ini, Allah bukan hanya memelihara Ishak sebagai anak perjanjian, tetapi juga memperhatikan Hagar dan Ismael yang sedang menderita di padang gurun.

Peristiwa ini menunjukkan bahwa kasih dan pemeliharaan Allah bersifat universal. Ia melihat penderitaan manusia, mendengar jeritan mereka, dan bertindak menurut kasih serta rencana-Nya.

1. Allah Memelihara di Tengah Penolakan dan Penderitaan (Ayat 8-14)

8 Bertambah besarlah anak itu dan ia disapih, lalu Abraham mengadakan perjamuan besar pada hari Ishak disapih itu. 9 Pada waktu itu Sara melihat, bahwa anak yang dilahirkan Hagar, perempuan Mesir itu bagi Abraham, sedang main dengan Ishak, anaknya sendiri. 10 Berkatalah Sara kepada Abraham: "Usirlah hamba perempuan itu beserta anaknya, sebab anak hamba ini tidak akan menjadi ahli waris bersama-sama dengan anakku Ishak." 11 Hal ini sangat menyebalkan Abraham oleh karena anaknya itu. 12 Tetapi Allah berfirman kepada Abraham: "Janganlah sebal hatimu karena hal anak dan budakmu itu; dalam segala yang dikatakan Sara kepadamu, haruslah engkau mendengarkannya, sebab yang akan disebut keturunanmu ialah yang berasal dari Ishak. 13 Tetapi keturunan dari hambamu itu juga akan Kubuat menjadi suatu bangsa, karena iapun anakmu." 14 Keesokan harinya pagi-pagi Abraham mengambil roti serta sekirbat air dan memberikannya kepada Hagar. Ia meletakkan itu beserta anaknya di atas bahu Hagar, kemudian disuruhnyalah perempuan itu pergi. Maka pergilah Hagar dan mengembara di padang gurun Bersyeba.

 

Ketika Abraham mengadakan perjamuan besar. Pada saat itu, Sara melihat Ismael mengejek Ishak sehingga ia meminta Abraham mengusir Hagar dan Ismael.

Permintaan itu sangat menyedihkan hati Abraham karena Ismael juga adalah anaknya. Namun Allah menyuruh Abraham mendengarkan Sara karena melalui Ishaklah keturunan perjanjian akan diteruskan. Meskipun demikian, Allah juga memberikan janji bahwa Ismael akan dijadikan bangsa yang besar.

Hal ini menunjukkan bahwa sekalipun Hagar dan Ismael harus meninggalkan rumah Abraham, mereka tidak ditinggalkan oleh Allah. Pemeliharaan Tuhan tidak bergantung pada keadaan yang menyenangkan atau posisi sosial seseorang.

 

2. Allah Mendengar Seruan Orang yang Menderita (Ayat 15-19)

15 Ketika air yang dikirbat itu habis, dibuangnyalah anak itu ke bawah semak-semak, 16 dan ia duduk agak jauh, kira-kira sepemanah jauhnya, sebab katanya: "Tidak tahan aku melihat anak itu mati." Sedang ia duduk di situ, menangislah ia dengan suara nyaring. 17 Allah mendengar suara anak itu, lalu Malaikat Allah berseru dari langit kepada Hagar, kata-Nya kepadanya: "Apakah yang engkau susahkan, Hagar? Janganlah takut, sebab Allah telah mendengar suara anak itu dari tempat ia terbaring. 18 Bangunlah, angkatlah anak itu, dan bimbinglah dia, sebab Aku akan membuat dia menjadi bangsa yang besar." 19 Lalu Allah membuka mata Hagar, sehingga ia melihat sebuah sumur; ia pergi mengisi kirbatnya dengan air, kemudian diberinya anak itu minum.

Di padang gurun, bekal air Hagar habis. Ia meletakkan Ismael di bawah semak-semak karena tidak sanggup melihat anaknya mati kehausan. Hagar menangis dengan putus asa.

Namun Alkitab mencatat bahwa Allah mendengar suara anak itu. Malaikat Tuhan memanggil Hagar dari langit dan berkata agar ia tidak takut, sebab Allah telah mendengar tangisan Ismael.

Kemudian Allah membuka mata Hagar sehingga ia melihat sebuah sumur. Dari sana mereka memperoleh air dan diselamatkan dari kematian.

Peristiwa ini memperlihatkan bahwa Allah bukan hanya melihat kebutuhan manusia, tetapi juga bertindak menyediakan jalan keluar pada waktu yang tepat.

 

 

3. Allah Memelihara Semua Orang Sesuai dengan Rencana-Nya (Ayat 20-21)

20 Allah menyertai anak itu, sehingga ia bertambah besar; ia menetap di padang gurun dan menjadi seorang pemanah. 21 Maka tinggallah ia di padang gurun Paran, dan ibunya mengambil seorang isteri baginya dari tanah Mesir.

 

Allah menyertai Ismael ketika ia bertumbuh dewasa. Ia tinggal di padang gurun, menjadi seorang pemanah, dan kemudian ibunya mengambil seorang istri baginya dari Mesir.

Meskipun Ismael bukan pewaris perjanjian yang diberikan kepada Abraham melalui Ishak, Allah tetap setia pada janji-Nya untuk menjadikannya bangsa yang besar.

Pemeliharaan Allah kepada Ismael mengajarkan bahwa kasih dan perhatian-Nya tidak terbatas hanya pada satu kelompok manusia. Allah tetap bekerja dalam kehidupan banyak orang sesuai dengan tujuan dan rencana-Nya yang berdaulat.

 

Kesimpulan

Kejadian 21:8–21 mengajarkan bahwa Allah adalah Allah yang memelihara. Di tengah penolakan, keputusasaan, dan ancaman kematian, Ia hadir memberikan pertolongan dan pengharapan.

Pemeliharaan Allah yang universal tampak dalam tiga hal:

  1. Allah memelihara di tengah penolakan dan penderitaan.
  2. Allah mendengar seruan orang yang menderita dan menyediakan jalan keluar.
  3. Allah memelihara semua orang sesuai dengan rencana dan kehendak-Nya.

Bagi setiap orang percaya, bagian ini menjadi pengingat bahwa tidak ada situasi yang terlalu sulit bagi Allah. Dia melihat, mendengar, dan tetap bekerja memelihara kehidupan menurut kasih dan hikmat-Nya. Oleh sebab itu, marilah kita hidup dengan iman yang teguh dan percaya kepada pemeliharaan Allah yang tidak pernah gagal.

Aplikasi

1.      Sering kali kita mengalami penolakan, kehilangan, atau situasi yang tidak kita inginkan. Namun, keadaan tersebut tidak berarti Allah meninggalkan kita. Ia tetap bekerja memelihara kehidupan umat-Nya.

2.      Ketika jalan keluar tampaknya tidak ada, Allah sanggup membuka mata kita untuk melihat pertolongan yang telah Ia sediakan. Ia mendengar doa dan jeritan umat-Nya.

3.      Orang percaya dipanggil untuk mencerminkan karakter Allah yang penuh kasih dan tidak membatasi perhatian hanya kepada kelompok tertentu. Kita juga dipanggil untuk menjadi saluran berkat bagi semua orang.

 

 

 

Carilah Dahulu Kerajaan Allah dan Kebenaran-Nya. Matius 6:25–34

 Bahan Pendalaman Alkitab (PA)

 



Hal kekuatiran

6:25 "Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir   akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian? 6:26 Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu? 6:27 Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya? 6:28 Dan mengapa kamu kuatir akan pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal, 6:29 namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannyapun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu. 6:30 Jadi jika demikian Allah mendandani   rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya? 6:31 Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? 6:32 Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. 6:33 Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. 6:34 Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari."

 

Pendahuluan

Kehidupan manusia sering dipenuhi dengan berbagai kekuatiran. Kekuatiran tentang kebutuhan sehari-hari, masa depan, kesehatan, pekerjaan, pendidikan anak, maupun keadaan ekonomi sering kali menguasai pikiran sehingga mengurangi sukacita dan damai sejahtera. Dalam Matius 6:25-34, Tuhan Yesus memberikan pengajaran yang sangat penting bahwa anak-anak Allah tidak boleh hidup dikuasai oleh kekhawatiran, melainkan harus mengutamakan Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya. Janji Tuhan sangat jelas: ketika kita menempatkan Allah sebagai prioritas utama, Ia sendiri yang akan memelihara dan mencukupkan kebutuhan hidup kita.

MUOFŐNAIŐ WANGALUI BANUA LOWALANGI AWO WA'ATULŐ DÖDÖ Matai'o 6:25-34

 Huhuo ba PA


Matai'o 6:25-34

25 V. Andrõ uwa’õ khõmi; Bõi mi’abusi tõdõ nosomi, hadia mbalazomi, ba ma botomi, hadia nukhami. Tenga no ebua noso, moroi ba gõ, ba tenga no ebua mboto, moroi ba nukha?26 Mifaigi wofo andrõ, ba dalu mbanua, lõ manaru ira ba lõ mamasi, lõ mangõhõna ba halasa ira, ba ibalazoi ira Amami andrõ, si so ba zorugo. Tenga no arõu faehu ami wofo? 27 Ba ha niha ba khõmi zangila mondrou’õ fa’anau nosonia samba si’u, na i’abusi tõdõ? 28 Ba ba nukha, ba hana wa mi’abusi tõdõ? Mitõngõni ladari mbõhõ andrõ ba danõ, he wisa wanõinia, lõ mohalõwõ ia, lõ managu. 29 Ba uwa’õ khõmi, lõ si manõ wa’asõkhi nukha Zelomo, ba lakhõminia andrõ fefu, si mane nukha zi sara da’õ. 30 Ba na imanõ Lowalangi wamonukha du’u ba danõ, si so ma’õkh? andre, nitibo’õ ba galitõ mahemolu, ba tenga mendrua manõ imanõ khõmi, ya’ami sambõ famati? 31 Andrõ bõi mibusi dõdõmi ba bõi miwa’õ: Ha ma’a? ma: ha mabadu? ma: ha ma’onukha? 32 A’oi sa ni’alui niha baero da’õ fefu; no’a sa i’ila Amami andrõ, ba zorugo, wa soguna khõmi da’õ fefu. 33 Mi’ofõnai’õ wangalui banua Lowalangi andrõ, awõ wa’atulõ dõdõ andrõ khõnia, ba tebe’e nõnõnõnõ dania khõmi da’õ fefu 34 Andrõ bõi mi’abusi tõdõ zoguna mahemolu; mahemolu tesõndra lala zabu dõdõ mahemolu. Noa manõ wamakao zi sarasara ngaluo.

 

FAMOBÖRÖ

Sura Matai’ö ba nisura me döfi 60-90 Masehi itutunö wa Yesu andrö Mesia Ono Lowalangi samae’ma banua Lowalangi, Faza 6 andre famahaö Yesu ba hili (Faza 5-7), famahaö fa’auri Banua Lowalangi  ba faza 6: 25-34 andre ifahaö ita wa banua Lowalangi tenga ha soroma moroi baero manö no sa fa’atulö dödö tanö föna Lowalangi ni’ofönaiö.

Oya mano niha ba gulidanö andre zarörő tödő, awő zangosiwawõi wangalui banua Lowalangi ba simanö göi wolau si lö atulő tödő khö nawönia niha. Me no ambo fangalui banua Lowalangi awo wa'atulő dödő irege lö falukha howuhowu si'otarai Lowalangi. Me no simanő, hadia zalua? Ambő fa'aro dödő alua fangiwa dödö ba fa'aombö dödő. Börö da'ö, andro wa ifarou dödő ba zura andre ena'o mululu wa auri ba wangofönai'ö wangalui banua Zo'aya ba simanő göi wa'atulö dödő molo'o nibasoda andre.

Ba ginötö andre   ato  niha ba gulidanö andre zarörő tödő  awő wangositengagö wangalui banua Lowalangi awö wolau si lö atulő tödő khö Lowalangi he göi khö nawönia niha gulidanö. Me arörö dödö ba he göi ba wangositengagö fangalui banua Lowalangi awo wa'atulő dödő irege lö falukha howuhowu  ba harazaki si'otarai Lowalangi. Andrö wa dania alua wa’ambö fa'aro dödő alua fangiwa dödö ba fa'aombö dödő.

Andro wa ifarou dödő ba zura andre ena'o so fangesa tödö ba fangosia’agö  ba wangofönai'ö wangalui banua Zo'aya ba simanő göi wa'atulö dödő molo'o nibasoda andre. Da ta’erenusi taromali Lowalangi andre ena’ö fefu soguna khöda nönö andrö tola tatema’ö moroi khö Lowlangi.

 

Minggu, 14 Juni 2026

Te’atulὃ’ὃ Bὃrὃ Wamati. Galatia 2:15-21

 

Te’atulὃ’ὃ Bὃrὃ Wamati

Galatia 2:15-21

15 Ya’ita, ba no to’ua niha Yehuda, ba tenga si so horõ, nga’õtõ niha baero. (Efes. 2, 3 b. t.).

16 Ba me no ta’ila, wa tenga moroi ba wolo’õ oroisa atulõ niha, iwa’õ Lowalangi, ha moroi ba wamati andrõ, khõ Keriso Yesu; ba no mamati ita, khõ Keriso Yesu, ena’õ atulõ ita, iwa’õ Lowalangi, moroi ba wamati andrõ, khõ Keriso, ba tenga moroi ba wolo’õ oroisa, me samõsa lõ’õ, satulõ, iwa’õ Lowalangi, moroi ba wolo’õ oroisa. (F. 3, 11. Hal. zin. 15, 10. 11. Rom. 3, 20. 28; 4, 5).

17 Ba na no oroma, wa no niha si so horõ gõi ita, ya’ita sangalui ena’õ atulõ ita, iwa’õ Lowalangi, ba khõ Keriso, ba ma no sanolo ba horõ Keriso? Bõi si manõ!

18 Na ufuli sa ufazõkhi zi no ududugõ, ba tobali solalõ ndra’o ube’e.

19 Ya’o sa, ba si no mate ba goroisa andrõ, moroi ba goroisa, ena’õ khõ Lowalangi auri ndra’o. (F. 6, 14; Rom. 7, 4; 6, 4—6).

20 No muforõfa ndra’o, awõ Keriso; auri ndra’o, ba tenga sa’ae ya’o, Keriso zauri ba dõdõgu. Ba fa’aurigu iada’e, ba mboto andre, ba no fa’auri ba wamati khõ Nono Lowalangi, si no mangomasi’õ ya’o, si no mame’e salahigu ya’ia. (Kor. II. 13, 5; 5, 15. 17. Gal. 1, 4).

21 Lõ u’ositengagõ wa’ebua dõdõ Lowalangi andrõ; na moroi ba goroisa wa’atulõ dõdõ andrõ mena’õ, ba no zayazaya gõlõ, wa no mate Keriso. (Heb. 7, 11).

 

Famobὃrὃ

Tuho Migu andre khὃda “Te’atulὃ’ὃ Bὃrὃ Wamati”, ba sura Galatia 2:15-21 andre. Faulo itutunὃ khὃda geluha te’atulὃ’ὃ yaia fangatulὃda siotarai Lowalangi, yaia wa niha samati te’atulὃ’ὃ bὃrὃ wamati nia khὃ Yesu Keriso.  Bὃrὃ meno te’atulὃ’ὃ andrὃ wa tatema fangorifi (keselamatan) moroi khὃ Yesu Keriso.

Tuho tefa’ema ba mbanua Galatia andre bὃrὃ me so famahao silὃ atulὃ sangumaὃ wa fangorifi soroi khὃ Lowangi tola tatema na tafalua gὃi goroisa.   Ifaduhὃ Faulo wa samὃsa lὃ ni’atulὃ’ὃ bὃrὃ goroisa andre baero famati khὃ Yesus keriso.

Asese alua ba ginὃtὃda andre wa so manὃ niha samati ba he gὃi niha baero sangumaὃ wa bὃrὃ amuata nia wa tola isὃndra fangorifi soroi Lowalangi.  Sindruhunia amuata sisὃkhi andrὃ bua-bua wamati boro me no tatema fangorifi (keselamatan) soroi Lowalangi ma niha sinὃ manema fangorifi (keselamatan) I’oromaὃ bua-bua wamati yai’ia amuat sisὃkhi.

 

Huhuo

1. Te’atulὃ’ὃ Bὃrὃ Wamati (Ayati 15-16)

Ibὃrὃgὃ famahaὃnia Faulo wangumaὃ wa yaia niha Yehuda, tumbu ia ba nga’ὃtὃ niha Yehuda ba ebua ia ba wamahaὃ moroi goroisa.  Dali wa aniha tola so khὃnia fayawasa menaὃ fayawasa me nga’ὃtὃ Aberahamo ia, sangila amakhoita ba niha farizaio gὃi ia, ba fefu da’ὃ tebali tobali dane-dane fayawasa, fangatulὃ ba fangorifida (keselamatan).

Ifaduhu’ὃ Faulo wa Ayati 16 Ba me no ta’ila, wa tenga moroi ba wolo’õ oroisa atulõ niha, iwa’õ Lowalangi, ha moroi ba wamati andrõ, khõ Keriso Yesu; ba no mamati ita, khõ Keriso Yesu, ena’õ atulõ ita, iwa’õ Lowalangi, moroi ba wamati andrõ, khõ Keriso, ba tenga moroi ba wolo’õ oroisa, me samõsa lõ’õ, satulõ, iwa’õ Lowalangi, moroi ba wolo’õ oroisa. Ba lala wa’auri Waulo aboto ba ddnia wa ba wolo’ oroisa l tesndra fangefa hor ba he gi fangorifi (keselamatan).  Goroisa moguna ba wame’e fa’aboto ba dd niha samati kh Yesu  wa niha andr no sebua hor andr wa moguna fangorifi soroi Yesu Keriso.

 

Setiap orang yang mendengar dan tidak melupakan Taurat Tuhan adalah umat Tuhan, Keluaran 19:1-6

  Bahan PA Pendahuluan Setelah membebaskan bangsa Israel dari perbudakan Mesir, Allah membawa mereka ke Gunung Sinai untuk mengadakan ...