Bahan Khotbah Minggu 31 Mei 2026
Pendahuluan
Matius 28:16-20
dikenal sebagai Amanat Agung Tuhan Yesus. Murid-murid Yesus diberi tugas mulia
yaitu memberitakan kabar baik kepada segala bangsa. Menjadi pemberita Injil
adalah sebuah anugerah dan kesempatan bagi orang-orang yang dipilih Tuhan,
karena tidak semua orang yang dipanggil juga dipilih menjadi pembawa kabar baik
(Mat 22:14).
Matius 28:19 terdapat kata pergi Dalam konteks Amanat Agung, kata ini bukan
hanya berarti berpindah tempat secara fisik, tetapi menunjuk pada tindakan
aktif menjalankan misi Tuhan. Jadi, “pergilah” berarti murid-murid Yesus tidak
boleh diam, melainkan harus keluar membawa Injil kepada segala bangsa. Artinya, dalam seluruh perjalanan hidup,
murid-murid Yesus dipanggil untuk menjadikan semua bangsa murid Kristus. Jadi
fokus utamanya bukan sekadar berpindah tempat, utamanya melaksanakan misi
pemuridan ke mana pun mereka pergi.
Dalam Matius 28:16-20 adalah Amanat Agung yang
mengandung aktivitas pelayanan yang harus dikerjakan para murid Yesus atau para
pelayan Tuhan di masa kini, seperti; Menjadikan murid, mengajar firman Tuhan
dan membaptis.
1. Jadikan semua bangsa muridKu (ayat 16-19a)
Murid-murid Yesus menerima perintah untuk
menjadikan semua bangsa sebagai murid Kristus. Dalam melaksanakan tugas
tersebut, mereka juga berperan sebagai pengajar yang membawa setiap orang
mengenal Yesus sebagai Guru dan mengikuti-Nya sebagai murid. Kata matheteuein dalam bahasa Yunani
mengandung arti menjadi murid dengan belajar, mengikuti, serta melakukan ajaran
dan teladan sang guru. Hal ini menjadi dasar penting dalam proses pemuridan.
Murid-murid Yesus menjadikan kehidupan dan
teladan Yesus sebagai pola hidup mereka, sehingga kehendak Bapa dapat
dinyatakan dan bangsa-bangsa hidup menurut ajaran Sang Guru. Seorang murid
tidak hanya belajar secara teori, tetapi juga aktif mengikuti, meneladani, dan
mempraktikkan ajaran gurunya dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu,
murid-murid Yesus melanjutkan pengajaran Sang Guru Agung dengan hidup yang
dipimpin oleh Roh-Nya dan meneladani kehidupan-Nya.
Mereka mengalami perubahan hidup, dari hati yang
penuh keraguan menjadi hati yang dipenuhi semangat dan keberanian. Dengan roh
yang menyala-nyala, mereka memberitakan kabar baik tentang Tuhan Yesus dan
membawa banyak bangsa menjadi murid-Nya. Kehidupan para murid dipenuhi sukacita
dan semangat karena Tuhan Yesus menjadi pusat kehidupan mereka. Melalui gaya
hidup mereka, teladan Kristus dinyatakan kepada orang lain (1Kor. 11:1).
2. Baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus! (ayat 19b)
Baptisan merupakan salah satu sakramen dalam
kekristenan yang melambangkan penyucian dari dosa, kehidupan baru, persekutuan
dengan Kristus, serta penerimaan seseorang ke dalam keluarga Allah. Dalam
pelaksanaannya, baptisan menggunakan air sebagai lambang pembersihan dosa dan
awal hidup baru bersama Tuhan. Baptisan dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus
menandakan bahwa seseorang menerima tanda dan meterai sebagai anggota Kerajaan
Allah, yaitu bagian dari tubuh Kristus di dunia. Baptisan juga menggambarkan
kematian dan kebangkitan bersama Kristus, pengampunan dosa, serta kehidupan
baru di dalam Dia. Karena itu, murid-murid Yesus menerima tugas untuk membaptis
dalam nama Allah Tritunggal.
Perintah tentang baptisan diberikan langsung oleh
Yesus dan dilaksanakan oleh para murid setelah peristiwa Pentakosta (Kis.
2:38-41). Pada masa gereja mula-mula, baptisan dilakukan dalam nama Yesus
Kristus (Kis. 2:38; 8:16), di mana nama menunjukkan kepemilikan dan otoritas.
Selanjutnya, gereja melaksanakan baptisan dalam nama Tritunggal sebagai
pemahaman teologis mengenai sakramen yang terus digunakan hingga sekarang.
3. Tugas Mengajar dan Penyertaan Tuhan (ayat
20)
Mengajar untuk melakukan menekankan pentingnya
menaati perintah Tuhan. Amanat Agung Tuhan Yesus menugaskan para murid untuk
mengajar dan melakukan perintah-Nya. Hal ini berkaitan dengan kesetiaan dan
ketaatan, sebagaimana Yesus taat hingga akhir hidup-Nya.
Perintah untuk mengajar merupakan tugas gereja
yang tidak boleh diabaikan. Gereja terpanggil untuk terus bersemangat mencari
jiwa-jiwa baru dan membaptis mereka, membuka kelas katekisasi, serta melakukan
penelaahan Alkitab secara terus-menerus sebagai wujud pengajaran kepada jemaat
agar hidup sesuai dengan perintah Tuhan.
Kegiatan pemberitaan Injil sering menghadapi berbagai tantangan, seperti
penolakan dan penganiayaan, masalah keuangan, penyesuaian diri dalam lingkungan
yang majemuk, kurangnya pembinaan, minimnya dukungan lintas budaya, serta
godaan untuk jatuh ke dalam dosa.
Melihat banyaknya tantangan dalam tugas
pemberitaan Injil, Yesus menguatkan murid-murid-Nya dengan janji: “Aku
menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Sebutan Imanuel (Mat.
1:23) menegaskan bahwa Allah menyertai umat-Nya, bukan hanya pada tempat atau
waktu tertentu, melainkan sampai akhir zaman. Dalam melaksanakan Amanat Agung,
murid-murid Yesus tidak dibiarkan menghadapi beban dan tantangan sendirian.
Penyertaan Yesus merupakan janji yang indah; kehadiran dan kuasa-Nya menjadi
sumber kekuatan bagi para pembawa kabar baik untuk tetap setia menjalankan
amanat-Nya ke mana pun mereka pergi hingga masa kini.
Kesimpulan
Amanat Agung dalam Matius 28:16-20 merupakan
panggilan Tuhan Yesus kepada setiap murid-Nya untuk pergi memberitakan Injil,
menjadikan semua bangsa murid Kristus, membaptis, dan mengajar mereka hidup
dalam ketaatan kepada Tuhan. Tugas ini bukan hanya dilakukan dengan perkataan,
tetapi juga melalui teladan hidup yang mencerminkan Kristus. Walaupun pelayanan
sering menghadapi berbagai tantangan, Tuhan Yesus memberikan janji
penyertaan-Nya sampai kepada akhir zaman. Oleh sebab itu, setiap orang percaya
dipanggil untuk tetap setia melaksanakan Amanat Agung dengan iman, semangat,
dan pengharapan kepada Tuhan.
Pdt. Juliman Harefa
