Kamis, 28 Mei 2026

Menjadi Saksi Allah Tritunggal Matius 28:16-20

 Bahan Khotbah Minggu 31 Mei 2026


Pendahuluan

Matius 28:16-20 dikenal sebagai Amanat Agung Tuhan Yesus. Murid-murid Yesus diberi tugas mulia yaitu memberitakan kabar baik kepada segala bangsa. Menjadi pemberita Injil adalah sebuah anugerah dan kesempatan bagi orang-orang yang dipilih Tuhan, karena tidak semua orang yang dipanggil juga dipilih menjadi pembawa kabar baik (Mat 22:14).

Matius 28:19 terdapat kata pergi  Dalam konteks Amanat Agung, kata ini bukan hanya berarti berpindah tempat secara fisik, tetapi menunjuk pada tindakan aktif menjalankan misi Tuhan. Jadi, “pergilah” berarti murid-murid Yesus tidak boleh diam, melainkan harus keluar membawa Injil kepada segala bangsa.  Artinya, dalam seluruh perjalanan hidup, murid-murid Yesus dipanggil untuk menjadikan semua bangsa murid Kristus. Jadi fokus utamanya bukan sekadar berpindah tempat, utamanya melaksanakan misi pemuridan ke mana pun mereka pergi.

Dalam Matius 28:16-20 adalah Amanat Agung yang mengandung aktivitas pelayanan yang harus dikerjakan para murid Yesus atau para pelayan Tuhan di masa kini, seperti; Menjadikan murid, mengajar firman Tuhan dan membaptis.

1. Jadikan semua bangsa muridKu (ayat 16-19a)

Murid-murid Yesus menerima perintah untuk menjadikan semua bangsa sebagai murid Kristus. Dalam melaksanakan tugas tersebut, mereka juga berperan sebagai pengajar yang membawa setiap orang mengenal Yesus sebagai Guru dan mengikuti-Nya sebagai murid. Kata matheteuein dalam bahasa Yunani mengandung arti menjadi murid dengan belajar, mengikuti, serta melakukan ajaran dan teladan sang guru. Hal ini menjadi dasar penting dalam proses pemuridan.

Murid-murid Yesus menjadikan kehidupan dan teladan Yesus sebagai pola hidup mereka, sehingga kehendak Bapa dapat dinyatakan dan bangsa-bangsa hidup menurut ajaran Sang Guru. Seorang murid tidak hanya belajar secara teori, tetapi juga aktif mengikuti, meneladani, dan mempraktikkan ajaran gurunya dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, murid-murid Yesus melanjutkan pengajaran Sang Guru Agung dengan hidup yang dipimpin oleh Roh-Nya dan meneladani kehidupan-Nya.

Mereka mengalami perubahan hidup, dari hati yang penuh keraguan menjadi hati yang dipenuhi semangat dan keberanian. Dengan roh yang menyala-nyala, mereka memberitakan kabar baik tentang Tuhan Yesus dan membawa banyak bangsa menjadi murid-Nya. Kehidupan para murid dipenuhi sukacita dan semangat karena Tuhan Yesus menjadi pusat kehidupan mereka. Melalui gaya hidup mereka, teladan Kristus dinyatakan kepada orang lain (1Kor. 11:1).

2. Baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus! (ayat 19b)

Baptisan merupakan salah satu sakramen dalam kekristenan yang melambangkan penyucian dari dosa, kehidupan baru, persekutuan dengan Kristus, serta penerimaan seseorang ke dalam keluarga Allah. Dalam pelaksanaannya, baptisan menggunakan air sebagai lambang pembersihan dosa dan awal hidup baru bersama Tuhan. Baptisan dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus menandakan bahwa seseorang menerima tanda dan meterai sebagai anggota Kerajaan Allah, yaitu bagian dari tubuh Kristus di dunia. Baptisan juga menggambarkan kematian dan kebangkitan bersama Kristus, pengampunan dosa, serta kehidupan baru di dalam Dia. Karena itu, murid-murid Yesus menerima tugas untuk membaptis dalam nama Allah Tritunggal.

Perintah tentang baptisan diberikan langsung oleh Yesus dan dilaksanakan oleh para murid setelah peristiwa Pentakosta (Kis. 2:38-41). Pada masa gereja mula-mula, baptisan dilakukan dalam nama Yesus Kristus (Kis. 2:38; 8:16), di mana nama menunjukkan kepemilikan dan otoritas. Selanjutnya, gereja melaksanakan baptisan dalam nama Tritunggal sebagai pemahaman teologis mengenai sakramen yang terus digunakan hingga sekarang.

3. Tugas Mengajar dan Penyertaan Tuhan (ayat 20)

Mengajar untuk melakukan menekankan pentingnya menaati perintah Tuhan. Amanat Agung Tuhan Yesus menugaskan para murid untuk mengajar dan melakukan perintah-Nya. Hal ini berkaitan dengan kesetiaan dan ketaatan, sebagaimana Yesus taat hingga akhir hidup-Nya.

Perintah untuk mengajar merupakan tugas gereja yang tidak boleh diabaikan. Gereja terpanggil untuk terus bersemangat mencari jiwa-jiwa baru dan membaptis mereka, membuka kelas katekisasi, serta melakukan penelaahan Alkitab secara terus-menerus sebagai wujud pengajaran kepada jemaat agar hidup sesuai dengan perintah Tuhan.  Kegiatan pemberitaan Injil sering menghadapi berbagai tantangan, seperti penolakan dan penganiayaan, masalah keuangan, penyesuaian diri dalam lingkungan yang majemuk, kurangnya pembinaan, minimnya dukungan lintas budaya, serta godaan untuk jatuh ke dalam dosa.

Melihat banyaknya tantangan dalam tugas pemberitaan Injil, Yesus menguatkan murid-murid-Nya dengan janji: “Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Sebutan Imanuel (Mat. 1:23) menegaskan bahwa Allah menyertai umat-Nya, bukan hanya pada tempat atau waktu tertentu, melainkan sampai akhir zaman. Dalam melaksanakan Amanat Agung, murid-murid Yesus tidak dibiarkan menghadapi beban dan tantangan sendirian. Penyertaan Yesus merupakan janji yang indah; kehadiran dan kuasa-Nya menjadi sumber kekuatan bagi para pembawa kabar baik untuk tetap setia menjalankan amanat-Nya ke mana pun mereka pergi hingga masa kini.

Kesimpulan

Amanat Agung dalam Matius 28:16-20 merupakan panggilan Tuhan Yesus kepada setiap murid-Nya untuk pergi memberitakan Injil, menjadikan semua bangsa murid Kristus, membaptis, dan mengajar mereka hidup dalam ketaatan kepada Tuhan. Tugas ini bukan hanya dilakukan dengan perkataan, tetapi juga melalui teladan hidup yang mencerminkan Kristus. Walaupun pelayanan sering menghadapi berbagai tantangan, Tuhan Yesus memberikan janji penyertaan-Nya sampai kepada akhir zaman. Oleh sebab itu, setiap orang percaya dipanggil untuk tetap setia melaksanakan Amanat Agung dengan iman, semangat, dan pengharapan kepada Tuhan.

Pdt. Juliman Harefa

TUHAN satu-satunya Allah. Yesaya 44:1-8

Bahan PA

Pendahuluan

Dalam kehidupan manusia sering muncul rasa takut, kecewa, putus asa, dan kehilangan harapan, terutama ketika menghadapi penderitaan atau masa-masa sulit. Keadaan seperti ini juga pernah dialami bangsa Israel ketika berada dalam pembuangan di Babel. Mereka kehilangan tanah air, kebebasan, dan mengalami tekanan hidup yang berat. Di tengah keadaan itu, mereka mungkin merasa ditinggalkan dan dilupakan oleh Tuhan.

Namun melalui nabi Yesaya, Tuhan menyampaikan firman penghiburan dan pemulihan kepada umat-Nya. Tuhan menegaskan bahwa Ia tidak pernah melupakan umat pilihan-Nya. Ia adalah Allah yang membentuk mereka sejak dalam kandungan, memelihara, dan terus menyertai kehidupan mereka. Tuhan berjanji mencurahkan Roh-Nya untuk memulihkan kehidupan umat yang kering dan lemah. Selain janji pemulihan, bagian ini juga menegaskan bahwa hanya TUHANlah Allah yang sejati. Ia adalah Raja, Penebus, dan Gunung Batu yang kokoh bagi umat-Nya.

 

1. Allah tidak melupakan Umat-Nya (ayat 1-3)

1"Tetapi sekarang, dengarlah, hai Yakub, hamba-Ku,  dan hai Israel, yang telah Kupilih!   2Beginilah firman TUHAN yang menjadikan  engkau, yang membentuk engkau sejak dari kandungan  dan yang menolong  engkau: Janganlah takut,  hai hamba-Ku  Yakub, dan hai Yesyurun,  yang telah Kupilih! 3Sebab Aku akan mencurahkan air  ke atas tanah   yang haus, dan hujan lebat ke atas tempat yang kering. Aku akan mencurahkan Roh-Ku  ke atas keturunanmu  , dan berkat-Ku  ke atas anak cucumu.  

Teks Firman Tuhan ini menceriterakan bangsa Isreal yang berada di Pembuangan di Babel sedang dalam masa hukuman dari Tuhan, mereka diperbudak, menderita dan kehilangan kemerdekaan atau kebebasan dalam kehidupan sehari-hari terutama kebebasan dalam beribadah kepada Tuhan.  Keadaan ini membuat mereka terpuruk, tetapi dalam situasi dak kondisi ini firman Tuhan datang kepada mereka melalui nabi Yesaya dengan kalimat 1"Tetapi sekarang, dengarlah, hai Yakub, hamba-Ku,  dan hai Israel, yang telah Kupilih!   Kalimat ini menunjukan bahwa Allah tidak melupakan bangsa Israel, umat pilihan-Nya itu.

Firman Tuhan ini juga menegaskan bahwa Allah adalah Pribadi yang membentuk umat-Nya sejak dari kandungan dan terus menolong mereka sepanjang hidupnya. Artinya, Tuhan mengenal umat-Nya secara pribadi dan menyertai perjalanan hidup mereka sejak awal, sehingga mereka tidak perlu takut menghadapi masa depan, sebab Allah masih bekerja untuk memulihkan mereka. Janji tentang pencurahan air ke tanah yang haus dan hujan ke tempat yang kering menggambarkan pemulihan rohani dan kehidupan baru dari Tuhan.

Tanah yang kering melambangkan hati dan kehidupan umat yang lemah, kehilangan pengharapan, dan jauh dari sukacita, tetapi Tuhan berjanji mencurahkan Roh-Nya atas keturunan mereka. Hal ini menunjukkan bahwa pemulihan yang Tuhan berikan bukan hanya secara lahiriah, melainkan juga secara rohani. Roh Tuhan akan menghidupkan kembali umat-Nya, memberi kekuatan, pengharapan, dan masa depan yang baru. Melalui bagian ini kita belajar bahwa sekalipun umat Tuhan dapat jatuh dalam penderitaan, kesalahan, atau masa-masa sulit, Allah tetap setia kepada perjanjian-Nya. Tuhan tidak pernah melupakan umat yang dipilih dan dikasihi-Nya, dan pada waktu manusia merasa kering serta tidak berdaya, Tuhan sanggup mencurahkan Roh-Nya dan memulihkan kehidupan umat-Nya kembali.

 

Selasa, 26 Mei 2026

Kisah Isaura

Menanti Ibu Datang

Saya yang bernama Isaura Tanida Harefa terlahir dari kedua orang tua yang lengkap bernama Juliman Harefa dan Victoria Lase. Saya memiliki satu saudara yaitu abang saya bernama Raphael Omasio Harefa, kami hanya dua bersaudara.

Saya dan abang saya hanya selisih 1 tahun, lebih tepatnya abang lahir tahun 2008 dan saya 2009. Bulan lahir kami sama-sama November, cuma tanggalnya yang beda, saya tanggal 13 dan abang tanggal 18. Saya lahir dari keluarga yang sederhana namun harmonis. Saya lahir di Nias, tepatnya di Gunung Sitoli. Mama saya bilang kalau saya dilahirkan normal tanpa operasi.

Saat saya masih bayi, saya sering dititipkan sama kakek dan nenek, karena pada saat itu mama menderita sakit Steven Johnson yang menyebabkan harus dirawat inap di rumah sakit selama beberapa minggu. Papa saya setia menjaga dan merawat mama setiap pulang kerja sambil membawa abang saya yang tidak bisa dipisahkan sama mama. Puji Tuhan mama bisa sembuh dan sungguh itu mukjizat dari Tuhan karena penyakit mama cukup parah saat itu dan kebanyakan yang kena penyakit itu tidak selamat.

Singkatnya beberapa tahun kemudian kami pindah ke Tangerang karena profesi papa saya seorang pendeta dan tiap 5–7 tahun pindah sesuai SK dari sinode. Saya dan abang hidup di tengah keluarga yang harmonis, kami dibanjiri oleh kasih sayang dan mainan yang banyak sehingga masa kecil kami puas saat itu. Kami sering diajak papa dan mama jalan-jalan ke rumah kakek dan nenek di Cileungsi, ke Jakarta, bertemu keluarga lain hingga ke Jogja untuk menciptakan momen hangat bersama keluarga.

Saat itu saya dan abang TK di NGS (lupa nama panjangnya), tapi kami sekolah hanya 2–3 kali seminggu karena papa sibuk menjadi dosen dan pendeta saat itu, dan mama hanya ibu rumah tangga dan tidak bisa mengantar kami sekolah karena mama belum bisa mengendarai motor dan mobil saat itu. Sehingga beberapa tahun setelahnya kami pindah lagi, masih di Pulau Jawa tapi saya lupa nama kotanya. Di situ abang saya melanjutkan TK-nya di TK Santo Yoseph dan saya tidak karena belum cukup umur. Tapi saat itu rasanya saya pengen banget ikut abang dan bersekolah, sampai mencoba ikut tes yang didampingi guru hanya untuk ditanya soal abjad dan lain-lain. Saya dipuji miss-nya karena saya tahu semua yang ditanya dan saya pikir bakal masuk sekolah, tapi ternyata tidak karena tidak cukup umur tadi.

Di rumah saya benar-benar lasak dan pengen mencoba semua hal. Sampai-sampai saya selalu ditegur dan dinasihati mama karena nakal. Saya suka manjat, minta sesuatu kalau tidak diturutin nangis, dan banyak hal kenakalan lainnya.

Sampai tidak lama, di umur saya yang menginjak 6 tahun kami pindah balik ke Nias karena papa dipindahin lagi di Nias. Saya mencoba masuk SD tapi kata gurunya masih kurang umur, jadi saya lanjut TK B4 di TK Bhayangkari. Di Nias saya makin lasak dan seperti anak perempuan tomboy saking ingin mencoba semua hal tanpa takut risikonya.

Setahun kemudian baru saya masuk SD dan saya masuk ranking 2 karena pada saat itu rasa ingin belajar dan bersekolah saya tinggi sehingga ingin tahu banyak hal. Namun karena saya cepat bosan, ranking saya perlahan naik turun hingga semakin turun mulai dari kelas 4–6 saat Covid mulai melanda.

Saat masih kelas satu saya ikut lomba mewarnai dan dapat juara 2 karena mengikuti arahan guru untuk mewarnai di satu garis saja. Saya juga mulai menyadari kalau saya lumayan bisa menggambar karena banyak teman saya yang minta tolong digambarin juga. Saya juga dijadikan contoh tulisan yang rapi karena sebelum kami mulai belajar tulisan elok di sekolah, saya sudah belajar dari rumah.

Saat kelas dua saya mendapat juara 2 lagi dalam lomba menggambar/mewarnai yang disponsori oleh susu Zee. Oh iya, waktu SD saya bersekolah di SD Swasta RK Mutiara sama dengan abang.

Sehari setelah saya juara lomba di kelas dua itu saya diare dan demam sehingga tidak bisa ke sekolah. Padahal kalau saya datang saya menantikan akan diumumkan dan dipanggil di lapangan saat apel pagi.

(Flashback ke masa waktu saya TK B4)

Waktu TK saya sering nangis kangen papa sama mama waktu awal-awal masuk, karena sebelumnya saya belum pernah merasa benar-benar ditinggalkan di sekolah untuk waktu yang lama. Waktu TK di NGS dulu orang tua menjaga anaknya di lantai satu dan kami belajar di lantai dua sama mister dan miss, sehingga saya jadi sering menghambat pelajaran karena drama saya yang suka nangis sampai guru-guru menenangkan dan menelepon papa mama untuk menjemput. Saya juga pernah pup di sekolah jadi dibantu guru dan teman-teman karena saat itu saya masih belum pandai cebok sendiri.

Terus hal yang paling saya suka saat disuruh ke lab komputer, karena saya sangat suka mengetik waktu itu.

(Kembali ke SD)

Singkatnya pas kelas 4–5 Covid, dan mulai sekolah lagi di kelas 6 saya dapat juara 1 lomba gambar dan juara 1 pidato bahasa Inggris.

 

Pangkalan Kerinci, 26 Mei 2026, 04.04 WIB

Ditulis anakku Isaura. 

 

Hati Isaura

 

Pada Suatu Hari Nanti

Pada suatu hari nanti, aku mungkin sudah tidak ada lagi di dunia ini. Waktu akan terus berjalan, orang-orang akan sibuk dengan kehidupan mereka masing-masing, dan namaku perlahan dilupakan. Namun aku berharap, tulisan-tulisan yang pernah kubuat tetap hidup di hati seseorang.

Setiap malam aku menulis sajak. Dalam setiap baitnya kusimpan rasa rindu, harapan, dan cerita hidupku. Aku sadar manusia tidak akan hidup selamanya, tetapi kata-kata bisa tinggal lebih lama daripada usia manusia.

Aku membayangkan suatu saat seseorang membaca puisiku di tempat yang sunyi. Mungkin ia sedang sedih, merasa sendiri, atau kehilangan arah. Lalu ia menemukan sedikit kekuatan dari larik-larik sederhana yang kutulis. Saat itu, meskipun ragaku telah tiada, aku merasa masih hadir menemaninya.

Kelak suaraku tak lagi terdengar. Tidak ada lagi orang yang mendengar tawaku atau percakapanku. Namun melalui puisi-puisi itu, aku ingin tetap dikenang. Aku ingin seseorang tahu bahwa ada pernah hati yang mencintai kehidupan dan menuangkannya ke dalam kata-kata.

Impian dan cita-citaku mungkin juga akan hilang ditelan waktu. Tetapi aku percaya, selama puisiku masih dibaca, sebagian dari diriku akan terus hidup. Karena itu aku terus menulis, berharap suatu hari nanti akan ada orang yang mencari dan menemukan diriku di sela-sela huruf sajakku.

Setelah Dibawa ke Ruangan Besar

Aku benci pagi
Karena pagi
Selalu memisahkanku
dengan ibu

Di ruangan besar itu
aku duduk diam
menunggu sore datang
bersama langkah ibu
yang kurindukan

Kadang air mataku jatuh
Mbak Ratih memberi permen
dan mainan kecil
agar tangisku reda
meski rinduku
tetap sama

Ibu bilang
aku anak paling hebat
calon pilot
yang akan terbang tinggi
Tapi kenapa bu,
ibu selalu meninggalkanku di sini?

Ayah pun tak pernah pulang
Katanya bekerja jauh
membangun mimpi
untuk keluarga

Aku hanya anak kecil
yang belum mengerti
mengapa orang dewasa
sering menangis
saat mencari kebahagiaan

 

Pangkalan Kerinci 26 Mei 2026, 03.55 WIB

Ditulis oleh anak-ku: Isaura Tanida Harefa

 

 

Kamis, 21 Mei 2026

Keturunan Kain dan Keturunan Set yang Memanggil Nama Tuhan Kejadian 4:17-26

 

Pendahuluan

Pasal 4 Kitab Kejadian menggambarkan keadaan manusia setelah jatuh ke dalam dosa. Dosa yang dimulai dari ketidaktaatan Adam dan Hawa berkembang menjadi kebencian dan pembunuhan ketika Kain membunuh Habel. Namun kisah ini tidak berhenti pada kejahatan manusia saja. Di tengah dunia yang semakin rusak, Allah tetap bekerja memelihara rencana-Nya.

Keturunan Kain menunjukkan perkembangan peradaban manusia. Mereka membangun kota, mengembangkan peternakan, musik, dan teknologi. Akan tetapi, kemajuan itu tidak diiringi dengan kehidupan yang takut akan Tuhan. Dosa justru semakin berkembang menjadi kekerasan, kesombongan, dan balas dendam.

Pada masa Enos, manusia mulai memanggil nama TUHAN. Hal ini menjadi tanda bahwa di tengah dunia yang penuh dosa, Allah tetap memelihara umat yang hidup dalam penyembahan kepada-Nya.

 

Keturunan Kain, Set dan Enos

17Kain bersetubuh dengan isterinya  dan mengandunglah perempuan itu, lalu melahirkan Henokh; kemudian Kain mendirikan suatu kota   dan dinamainya kota itu Henokh, menurut nama anaknya.  18 Bagi Henokh lahirlah Irad, dan Irad itu memperanakkan Mehuyael dan Mehuyael memperanakkan Metusael, dan Metusael memperanakkan Lamekh.  19 Lamekh mengambil isteri  dua orang ;   yang satu namanya Ada, yang lain Zila.  20 Ada itu melahirkan Yabal; dialah yang menjadi bapa orang yang diam dalam kemah dan memelihara ternak.  21 Nama adiknya ialah Yubal; dialah yang menjadi bapa semua orang yang memainkan kecapi  dan suling.   22 Zila juga melahirkan anak, yakni Tubal-Kain, bapa semua tukang tembaga  dan tukang besi. Adik perempuan Tubal-Kain ialah Naama. 23 Berkatalah Lamekh kepada kedua isterinya itu: "Ada dan Zila, dengarkanlah suaraku: hai isteri-isteri Lamekh, pasanglah telingamu kepada perkataanku ini: Aku telah membunuh  seorang laki-laki karena ia melukai aku, membunuh seorang muda karena ia memukul aku sampai bengkak; 24 sebab jika Kain harus dibalaskan  tujuh kali lipat,   maka Lamekh tujuh puluh tujuh kali lipat. " 

 

Rabu, 20 Mei 2026

RAGAM KARUNIA DALAM SATU ROH 1 Korintus 3-11

 Khotbah Minggu 24 Mei 2026, Hari Pentakosta



Pendahuluan

Kata Pentakosta berasal dari bahasa Yunani, yaitu Pentēkostē (πεντηκοστή), yang berarti “kelima puluh” menunjuk pada hari ke-50 setelah Paskah Yahudi. Dalam tradisi Yahudi, hari tersebut dikenal sebagai Hari Raya Tujuh Minggu (Shavuot), yaitu perayaan panen dan ucapan syukur kepada Allah. Pentakosta berasal dari kata Penta = lima, Pentēkostē = kelima puluh, Pentakosta = hari kelima puluh setelah Paskah.

Dalam tradisi Kristen, Pentakosta diperingati lima puluh hari setelah kebangkitan Yesus Kristus, yaitu saat Roh Kudus dicurahkan kepada para murid di Yerusalem sebagaimana dicatat dalam Kisah Para Rasul pasal 2.

Hari Pentakosta adalah hari raya Kristiani yang memperingati peristiwa dicurahkannya Roh Kudus kepada para rasul di Yerusalem. Pada hari Pentakosta, Roh Kudus dicurahkan sesuai dengan janji Yesus setelah kenaikan-Nya ke surga. Peristiwa tercurahnya Roh Kudus menunjukkan bahwa Tuhan menggenapi janji dan perkataan-Nya kepada murid-murid-Nya dan umat-Nya.

Pentakosta menekankan pentingnya persatuan dan kesatuan dalam Kristus. Selain itu, Pentakosta juga menandai permulaan gereja Kristen, karena setelah turunnya Roh Kudus, para pengikut Yesus menjadi berani dan terdorong untuk memberitakan Injil kepada orang-orang di sekitar mereka.

Melalui peristiwa tercurahnya Roh Kudus, Tuhan menghendaki bukan pertikaian atau kesombongan, melainkan kebersamaan dalam mempermuliakan nama-Nya melalui berbagai karunia yang diberikan kepada umat Tuhan. Inilah yang hendak diajarkan Rasul Paulus kepada jemaat di Korintus, supaya umat Tuhan tidak menjadi batu sandungan, melainkan menjadi teladan bagi setiap orang yang mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan.

Dalan 1 Korintus 12:3-11 kita akan mendengarkan penjelasan tentang. 1. Pengakuan bahwa Yesus adalah Tuhan berasal dari Roh Kudus, dan 2. Roh yang sama mempersatukan berbagai karunia serta pelayanan  dan 3. Karunia Roh Kudus diberikan kepada setiap orang percaya untuk membangun jemaat dan mempermuliakan Tuhan, sebagai berikut:

1. Pengakuan bahwa Yesus adalah Tuhan Berasal dari Roh Kudus (ayat 3)

“Karena itu aku mau meyakinkan kamu, bahwa tidak ada seorangpun yang berkata-kata oleh Roh Allah, dapat berkata: ‘Terkutuklah Yesus!’ dan tidak ada seorangpun, yang dapat mengaku: ‘Yesus adalah Tuhan’, selain oleh Roh Kudus.” (ay 3)

Ayat ini merupakan bagian penting dalam pembahasan Rasul Paulus mengenai karunia-karunia Roh Kudus. Sebelum menjelaskan berbagai karunia rohani, Paulus terlebih dahulu menekankan dasar utama pekerjaan Roh Kudus, yaitu memuliakan Yesus Kristus. Dengan demikian, pusat dari seluruh pekerjaan Roh Kudus bukanlah manusia, melainkan Kristus sendiri.

Paulus menjelaskan bahwa tidak ada seorang pun yang dipimpin oleh Roh Allah dapat berkata, “Terkutuklah Yesus.” Pernyataan ini menunjukkan bahwa Roh Kudus tidak pernah bekerja untuk menghina, menolak, atau merendahkan Yesus Kristus. Pada masa jemaat Korintus, banyak pengaruh penyembahan berhala dan ajaran yang menyesatkan, sehingga jemaat perlu belajar membedakan mana yang benar-benar berasal dari Roh Allah dan mana yang bukan. Oleh sebab itu, Paulus memberikan ukuran yang jelas bahwa setiap pekerjaan Roh Kudus pasti akan membawa orang kepada penghormatan dan pengakuan yang benar terhadap Yesus.

Melalui ayat ini, Paulus mengingatkan jemaat bahwa tanda utama pekerjaan Roh Kudus bukan hanya mujizat atau tanda-tanda lahiriah, tetapi hati yang sungguh-sungguh mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan. Roh Kudus bekerja dalam kehidupan orang percaya untuk membawa mereka hidup dalam iman, ketaatan, dan penyembahan kepada Kristus.

Dengan demikian, 1 Korintus 12:3 menegaskan bahwa pusat dari seluruh pekerjaan Roh Kudus adalah Yesus Kristus. Roh Kudus memimpin orang percaya untuk mengenal, mengasihi, dan memuliakan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat.

 

2. Kesatuan Roh Kudus dalam Berbagai Karunia dan Pelayanan (ayat 4-7)

4 Ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh.  5. Dan ada rupa-rupa pelayanan, tetapi satu Tuhan.  6 Dan ada berbagai-bagai perbuatan ajaib, tetapi Allah   adalah satu yang mengerjakan semuanya dalam semua orang.   7 Tetapi kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh  untuk kepentingan bersama.  

Dalam bagian ini Rasul Paulus menjelaskan bahwa di dalam jemaat terdapat berbagai macam karunia, pelayanan, dan pekerjaan rohani, tetapi semuanya berasal dari Allah yang sama. Paulus ingin menolong jemaat Korintus memahami bahwa perbedaan karunia bukan alasan untuk merasa lebih hebat atau lebih rendah, sebab sumbernya tetap satu, yaitu Allah sendiri.

Paulus mulai dengan mengatakan bahwa ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh. Ini berarti Roh Kudus memberikan karunia yang berbeda-beda kepada setiap orang percaya. Tidak semua orang memiliki karunia yang sama. Ada yang dipakai dalam mengajar, bernubuat, melayani, menyembuhkan, memimpin, atau bentuk pelayanan lainnya. Walaupun berbeda, semuanya berasal dari Roh Kudus yang sama. Karena itu tidak boleh ada iri hati atau persaingan di antara anggota jemaat.

Pada ayat 7 Paulus memberikan tujuan utama dari semua karunia Roh, yaitu untuk kepentingan bersama. Karunia Roh Kudus diberikan bukan untuk keuntungan pribadi, melainkan untuk membangun jemaat dan menolong sesama orang percaya. Setiap karunia harus dipakai dalam kasih, kerendahan hati, dan tanggung jawab agar tubuh Kristus semakin bertumbuh.

Melalui bagian ini Paulus mengajarkan pentingnya kesatuan di tengah keberagaman. Walaupun orang percaya memiliki kemampuan, tugas, dan pelayanan yang berbeda, semuanya dipersatukan oleh Roh Kudus, Tuhan, dan Allah yang sama. Dengan demikian jemaat dipanggil untuk saling menghargai, bekerja sama, dan memakai karunia yang dimiliki demi kemuliaan Tuhan dan kebaikan bersama.

 

3. Karunia-Karunia Roh Kudus untuk Membangun Jemaat  (ayat 8-11)

Dalam 1 Korintus 12:8-10 terdapat 9 karunia Roh Kudus yang Allah berikan kepada setiap umat-Nya yang berguna dalam pelayanan dan dalam kehidupan sehari-hari.

8 Sebab kepada yang seorang Roh memberikan karunia untuk berkata-kata dengan hikmat,  dan kepada yang lain Roh yang sama memberikan karunia berkata-kata dengan pengetahuan.   9 Kepada yang seorang Roh yang sama memberikan iman,  dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menyembuhkan.   10 Kepada yang seorang Roh memberikan kuasa  untuk mengadakan mujizat, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk bernubuat,   dan kepada yang lain lagi Ia memberikan karunia untuk membedakan bermacam-macam roh.  Kepada yang seorang Ia memberikan karunia untuk berkata-kata dengan bahasa roh,  dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menafsirkan bahasa roh itu.  Tetapi semuanya ini dikerjakan oleh Roh  yang satu dan yang sama, yang memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendaki-Nya.

 

1)      Karunia berkata-kata dengan hikmat

Karunia untuk menyampaikan hikmat Allah dalam memberi nasihat, keputusan, dan tuntunan rohani. “Karena kepada yang seorang Roh memberikan karunia untuk berkata-kata dengan hikmat. (ayat 8)  “Jika di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit, maka hal itu akan diberikan kepadanya.” Yakobus 1:5

2)      Karunia berkata-kata dengan pengetahuan

Karunia memahami dan menyampaikan pengetahuan rohani yang berasal dari Roh Kudus.
“...dan kepada yang lain Roh yang sama memberikan karunia berkata-kata dengan pengetahuan.” (ay. 8) “Sebab TUHANlah yang memberikan hikmat, dari mulut-Nya datang pengetahuan dan kepandaian.”Amsal 2:6

3)      Karunia iman

Iman yang luar biasa untuk percaya kepada kuasa Allah dalam situasi yang sulit. “Kepada yang seorang Roh yang sama memberikan iman...” (ayat 9) “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.”Ibrani 11:1

4)      Karunia menyembuhkan

Karunia untuk menjadi alat Tuhan dalam membawa kesembuhan. “...dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menyembuhkan.” (ay. 9)  “Kalau ada seorang di antara kamu yang sakit, baiklah ia memanggil para penatua jemaat, supaya mereka mendoakan dia serta mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan. Dan doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang sakit itu dan Tuhan akan membangunkan dia...”  Yakobus 5:14-15

5)      Kuasa mengadakan mujizat

Karunia untuk melakukan pekerjaan ajaib oleh kuasa Allah. “Kepada yang seorang Roh memberikan kuasa untuk mengadakan mujizat...”1 Kor. 12:10, “Dan oleh rasul-rasul diadakan banyak tanda dan mujizat di antara orang banyak...”Kisah Para Rasul 5:12

6)      Karunia bernubuat

Karunia menyampaikan pesan Allah untuk membangun, menasihati, dan menghibur jemaat.
“...kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk bernubuat...”(ay. 10) “Siapa yang bernubuat, ia berkata-kata kepada manusia, ia membangun, menasihati dan menghibur.”Korintus 14:3

7)      Karunia membedakan bermacam-macam roh

Karunia untuk membedakan roh yang berasal dari Allah dan yang bukan. “...dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk membedakan bermacam-macam roh. (aya.10)  “Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah...” 1 Yohanes 4:1

8)      Karunia berkata-kata dengan bahasa roh

Karunia berbicara dalam bahasa yang diberikan oleh Roh Kudus. “...kepada yang seorang Ia memberikan karunia berkata-kata dengan bahasa roh...”(ay. 10) “Mereka semua penuh dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya.” Kisah Para Rasul 2:4

9)      Karunia menafsirkan bahasa roh

Karunia menjelaskan arti bahasa roh supaya jemaat dibangun. “...dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menafsirkan bahasa roh itu. (Ay. 10)  “Karena itu siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, ia harus berdoa, supaya ia dapat menafsirkannya.”1 Korintus 14:13

Kesimpulan

Hari Pentakosta mengingatkan kita bahwa Roh Kudus telah dicurahkan kepada gereja untuk menggenapi janji Tuhan dan memampukan orang percaya hidup bagi Kristus. Rasul Paulus dalam 1 Korintus 12:3-11 menegaskan bahwa Roh Kudus memimpin setiap orang untuk mengakui Yesus sebagai Tuhan, mempersatukan jemaat di tengah berbagai perbedaan karunia dan pelayanan, serta memberikan karunia-karunia rohani untuk membangun tubuh Kristus. Semua karunia berasal dari Roh yang sama dan harus dipakai bukan untuk kepentingan pribadi atau kesombongan, melainkan untuk kemuliaan Tuhan dan kepentingan bersama. Karena itu, gereja yang dipenuhi Roh Kudus adalah gereja yang hidup dalam kesatuan, kasih, pelayanan, dan ketaatan kepada Kristus.

Aplikasi

  1. Hiduplah dalam pengakuan bahwa Yesus adalah Tuhan
    Orang yang dipimpin Roh Kudus akan hidup dalam iman, ketaatan, dan penyembahan kepada Yesus Kristus, bukan hanya melalui perkataan tetapi juga melalui perbuatan sehari-hari.
  2. Gunakan karunia untuk melayani, bukan meninggikan diri
    Setiap orang percaya memiliki karunia yang berbeda-beda. Karena itu, jangan membandingkan diri atau merasa lebih hebat dari orang lain, tetapi pakailah karunia yang Tuhan berikan untuk melayani dan membangun jemaat.
  3. Peliharalah persatuan dalam jemaat
    Walaupun memiliki tugas dan kemampuan yang berbeda, semua orang percaya dipanggil untuk bekerja sama dalam kasih dan kerendahan hati sebagai satu tubuh di dalam Kristus.

 

 

 

Oleh: Pdt. Juliman Harefa

 

 

Rabu, 13 Mei 2026

Tuhan Memberkati dan Melindungi Engkau Bilangan 6:22-2

 Khotbah Minggu, 17 Mei 2026

  Pengantar

Allah memerintahkan agar imam-imam Israel mengucapkannya. Berkat tersebut kita temukan dalam Bilangan 6:22-27, yang sering disebut sebagai Berkat Harun atau Berkat Imamat. Berkat ini memiliki kedalaman teologis dan spiritual yang besar, sebab berisi janji Allah untuk memberkati, melindungi, mengasihi, dan memberikan damai sejahtera kepada umat-Nya. Berkat ini tetap dipelihara dalam liturgi, menegaskan bahwa umat Allah hidup di bawah naungan kasih dan penyertaan-Nya.

Berkat berasal dari Allah, bukan dari manusia. Berkat ini bukan sekadar doa, melainkan firman yang  bersifat menyeluruh dimulai dengan berkat jasmani (ay.24), lalu kasih karunia rohani (ayat 25), dan terakhir berkat damai sejahtera yang sempurna (ay.26). Berkat ini bersifat relasional.

 

Khotbah

 1. Berkat dan Perlindungan (ayat 23-24)

22 TUHAN berfirman kepada Musa: 23 "Berbicaralah kepada Harun dan anak-anaknya: Beginilah harus kamu memberkati orang Israel, katakanlah kepada mereka: 24 TUHAN memberkati engkau dan melindungi engkau

Berkat untuk bangsa Israel dan umatmanusia bukan berasl dari manusia, walaupun manusia yangmenyampaikan berkat tetapi berkat itu bersal dari Allah dan atas perinta Allah.  Allah sendiri. Allah yang memberi kalimat berkat tersebut, dan tentu Allah pula yang memberi kuasa atasnya. Allah menggunakan mulut para iman atau para pendeta di masa kini utnuk mengucapkan berkat dari Firman berkat tersebut. Hal ini selaras dengan keyakinan bahwa Allah bekerja melalui sarana lahiriah. Sedangka paa Pendeta alat, tetapi yang bekerja adalah Allah sendiri melalui Firman dan sakramen. Dengan demikian, ketika berkat diucapkan dalam ibadah, isi berkata dalam ayat 24 adalah berkat adalah Berkat dan Perlingungan.  

Allah yang aktif melimpahkan berkat-Nya. Berkat Dalam Alkitab, berkat berarti segala sesuatu yang baik yang diberikan Allah: kehidupan, kesehatan, makanan, keluarga, pekerjaan, dan melainkan keselamatan dalam perjanjian Allah. Dalam Perjanjian Baru, segala keperluan sehari-hari.

Berkat Perlindungan dari Allah berarti penjagaan dari segala marabahaya, baik jasmani maupun rohani. Perlindungan ini bukan berarti bebas dari penderitaan, tetapi Dalam Kristus, perlindungan ini terjamin sampai pada hidup kekal. Allah berarti Allah tetap menyertai dan tidak membiarkan umat-Nya binasa bukan hanya memberi, tetapi juga menjaga. Ia tidak hanya melimpahkan berkat, tetapi juga memastikan berkat itu tidak dirampas musuh.

3. Berkat Sinar Wajah Allah dan Kasih-Nya (ayat 25)

“TUHAN menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia.” (25)

Ketika Allah menyinari umat-Nya dengan wajah-Nya, hal itu berarti bahwa Allah berkenan kepada mereka. Kehadiran-Nya membawa terang, sukacita, pengharapan, dan pemulihan hidup. Allah bukan hanya menyinari umat-Nya dari kejauhan, tetapi menghadapkan wajah-Nya secara pribadi kepada mereka. Ini menunjukkan bahwa Allah menghendaki hubungan yang dekat dengan umat-Nya. Ia bukan Allah yang jauh dan tidak peduli, melainkan Allah yang hadir, menyertai, dan berkomunikasi dengan umat-Nya.

MI’ONDRASI LOWALANGI BA I’ONDRASI AMI Yakobo 4:6–10

 Bahan PA Migu Sidua Mei 2026

 FAMOBÖRÖ

Sura Yakobo nifaema ba banua niha keriso sifelendrua motua ba nahia wekoli (Yakobo 1:1). Isura sura andre Yakobo me dὃfi 45-49 SM. Ba ginὃtὃ da’ oya ngawalo wananrdaig  ba famakao sifalukha banua niha keriso mendua man mebagotalua zil mamati kh yesu mowanua ira.  Fanandraigὃ ba Famakao andrὃ, bὃrὃ: 

1.    Me ba nahia wekoli so ira,  me tefazawili ira ba  ginὃtὃ famakao (Yak. 1:1)

2.   Fanandraigὃ, bὃrὃ me samati khὃ Yesu ira, la fakao ira  ena’ὃ  larὃ i wamatira khὃ  Keriso (Yak. 1:2)

3.    Fa’atosasa ba soguna he gὃi ba wariawὃsa (ekonomi dan sosial), Yak. 1:9-11

Andr ifaohe sura andre Yakobo, me ba faza  4 andre i’o’ou banua niha keriso ena’ὃ: Laondasi Lowalangi ba latimbag gamuata fangis (hawa nafsu, 4:1), me fangis andr i’asog: wanguaguasa ba falatul (4:1), fangee ba faafokh dd (4:2), fangandr silo atul (4:3), fangerog Lowalangi (4:5), ba fayawasa (4:6).

FANGOSISIÖ

1. Itimba Lowalangi Zifayawa (ayati 6-7)

6 ba ebua sa atõ na wa’ebua dõdõ andrõ, ni’a’asogõnia; andrõ imane: ”Itimba Lowalangi zi fayawa andrõ, ba i’ebua’õ dõdõnia ba zangide’ide’õ ya’ira”.  

Imane Taromali andre ba ayati 6-7 itimba zifayawa (congkak) Lowalangi, fatuwu ba hὃrὃ Lowalangi gamuata dae meno silὃ sokhi (4:16b). Fayawasa andrὃ na ta baso ba sura Amaedola 29:23: “fayawasa andro ba ihondrg tou niha; ba silo fayawasa ba isondra zumange”.  Eluahania; na so niha i hondrὃgὃ awὃnia nih ba andro wa itimba Lowalangi.

MANAHAE YESU BA ZORUGÖ BA MANGAWULI IA DANIA Halöwö Zinengge 1:1-11


Huhuo Sebua luo Kami, 14 Mei 2026



 FAMOBÖRÖ

Ba sura Halöwö Zinengge andre, meno maoso Yesus moroi ba ngai zimate, so dombua gohitö sanura ya’ia zinengge Yesu andrö sotoi Luka: 

1. Yesu, Ifabü’u wa Ifatenge dania zanolo andrö Ehehe Ni’amoni’ö, 

2. Yesu, Ifabü’u wa mangawuli la dania, hulö simane ba wanahae-Nia. 

3. Yesu, Ibe’e goroisa-Nia khöra sinenge-Nia (Rasul), ena’ö möi ira tobali samaduhu’ö ba anuriagö. Turia somuso dödö, i’otarai danö Yeruzalema irugi wondrege danö, Hal. Zin. 1:8  

Aboto ba dödöda wa fatua lö manahae Yesus möi Ia ba zorugö yawa no I’be’e tölu goroisaNias; 1. Ifatengen Geheha sanolo, 2. Manguwuli Ia dania, 3. We amöi ira sinenge ba wanuriagö turia somuso dödö.

 

HUHUO

 1. Ifabu’u Yesu wa I’fatenge Geheha Sanolo (ayati 1-8)

1 No awai khõgu zura si fõfõna andrõ, ya’ugõ Teofilo, no usura fefu nibõrõtaigõ Yesu, folau ba famahaõ, 2 irugi luo tefazawa ia, me no ibe’e goroisa ba zinenge andrõ, ni’anutuyu’õnia Eheha ni’amoni’õ. 3 ba ni’oya’õnia tandra, wangoroma’õ wa no auri ia, me no aefa itaõgõ wamakao andrõ; õfa wulu wongi wa’ara i’oromaroma’õ ia khõra, i’ombakha’õ khõra ngawalõ mbanua Lowalangi andrõ. 4 Ba me orudu ira, me manga ira, ba iwa’õ khõra, bõi larõi Yeruzalema, labaloi gamabu’ula li Nama andrõ, nirongomi khõgu (iwa’õ). 6 Ba lasofu khõnia si so ba da’õ, lamane: He Tua, hadia õfuli õ’a’azõkhi iya’e dania nõri Ndraono Gizeraëli? 7 Ba imane khõra: Tenga si nangea ya’ami zangila bawa ba bu’u li, nihonogõi Nama ba wa’abõlõnia, 8 ba mitema dania wa’abõlõ Geheha ni’amoni’õ, si mõi khõmi, ba samaduhu’õ ami khõgu ba Yeruzalema, ba ba danõ Yudaia, ma’asagõrõ, ba ba Zamaria, ba irugi wondrege danõ.

Ba ayati 1 Imane Luka khõ Teofilo, No awai khõgu zura si fõfõna andrõ, ya’ugõ Teofilo, no usura fefu nibõrõtaigõ Yesu, folau ba famahaõ  Ba zinura Luka andre khö Teofilu, ba wa maduhu’õ wa no  maoso Ia moroi ba lewatö ma moroi ba ngai zino mate. Ba fatua lõ manahae Ia mõi ba zorugo, so sinangea aboto ba dõdõda sitobali ibe’e wamahaõ khodra sinenge:   

            1. Oya tandra, wangoroma’õ wa no auri ia. 

            2. Sindruhu wa no aefa itaõgõ wamakao andrõ; 

            3. I’ombakha’õ khõra ngawalõ mbanua Lowalangi andrõ.

Simanõ zalua ba zi öfa wulu ngaluo no i’oroma’ö la Yesu  khöra he gõi ba wamahaõ  ba zo’amakhaita Mbanua Lowalangi andrö.  Afuriata, ibe’e goroisa-Nia böi laröi Yeruzalema ena’ö labaloi  fanema Eheha meno wu’usa Lowalangi khöra ya’ia wa ibe’e khöra Geheha Ni’amoni’ö, sanolo ba same’e khöra fa’abölö ba wangai lala halöwö fanuriagõ duria somuso dõdõ ba soi niha fefu ba zisagõrõ ulidanõ.

Kamis, 07 Mei 2026

Falukha Wangefa ba Fangorifi ba Niha Sangide-ngide'ö Ya'ia Yobi 33:26-33

 

Fangosisi'ö Taromali ba Migu Sidua bawa-5 2026



FAMOBÖRÖ

Ba faza 33 andre sura Yobi itutunõnõ khõda wehede Elihu khõ Yobi tuhonia famohouni dan fangesa dõdõ niha samati khõ Lowalangi.  Itutunõ Elihu hadia sibai sitobali gohitõ dõdõ Lowalangi ba wamakao salua ba he gõi fotu ba niha samati khõ Lowalangi.  Badae aboto ba dõdõda wa Lowalangi lõ ihuku niha  sinange i’orifi ba i;bohouni.

I’andrõ khõ Yobi Elihu, ena’õ na ifondrongondrongo khõnia.

I’andrõ Elihu khõ Yobi ena’õ irongo niwa’õ nia wa ba wa’ebolo dõdõ. Iwaõ Elihu wa wehedenia moroi siaikõ ba dõdõnia bõrõ me ya’ia hulö simane Yobi niha diwõwõi Lowalangi andrõ wa iandrõ khõ Yobi enaõ bõi so wa’ata'u nia ba wehede nia.   Ohitõ dõdõ Elihu andre enaõ aboto ba dõdõ Yobi wa so gohitõ dõdõ Lowalangi ba wamakao salua ba wa’aurinia (ayat 1-7)

I’otu’õ niha Lowalangi, ba wangehao ya’ia ba ba wangefa’õ ya’ia ba wa’atekiko.(Ayati 8-22)

Bõrõ me Yobi andre niha satulo ba me alua wamakao ba wa’aurinia iwalingagõ no tobali ia nudu khõ Lowalangi andro wa Ibe’e wa’aboto ba dõdõ nis Elihu wa oya lala nitõrõ Lowalangi ba wamaema ohitõ dõdõ-Nia ba niha simane; fangifi, angilata ba he gõi wamakao ba lala wa’auri. na alua wamakao ba niha, famakao andrõ dela khõ Lowalangi enaõ niha samati khõnia bõi aekhu ba horõ. (ayati 8-22)

Na i’ide’ide’õ ia niha, ba ifuli ifarongogõ khõnia wa’ebua dõdõ. (23-25)

Imane Elihu na so niha ni’odela Lowangi ba wanolo niha ba lala satulõ, ba niha andrõ so khõnia wangidengideõ tõdõ ba wangesa tõdõ ba I’oramaõ waebua dõdõnia Lowalangi khõnia i'be’e fangorifi, fanolo ba fangefa moroi ba wamakao, hulö boto nono matua sibohou ebua. (ayti 23-25)

Ba ayati 26-33 itutunõ wa niha samati-sangesa tõdõ itema fanolo, fangefa ba famohouni soroi Lowangi.  Tefahaö ita wa  ba wamakao si lö mo’aetufa si falukha Yobi, moguna ba wanga’aro’ö wamati niha samati ena’ö lö faröi khö Lowalangi ba zisandrohu fa’auri ba famakao niha andrö alua ia ena’ö niha andrö falukha wamohouni ba lala wa’aurinia, enaö Te oroma’ö ba niha wa Lowalangi andrö sebua fa’omasi.  Ohitö dödö ena’ö niha mangawuli khö-Nia. Aboto ba dödö wa lö faröi khö Lowalangi ba ena’ö lö mamalö la’andrö saohagölö fefu howuhowu ba fatolosa Lowalangi khöra.

Me Lowalangi  tola i’oguna’ö gabula dödö ba famakaoda ba wangi’ila ohitö dödö-Nia ba wangorifi ya’ita. Famakaoda moguna ia ba wanga’azökhi fa’aurida ena’ö aro ba sabölö na falukha ita gakaola ba ena’ö itugu aro awö walö faröi ita khö-Nia ba wamati.

 


BÖI MAMALÖ WANGANDRÖ, Kolose 1:9-14

 


9Ba andrõ jaʼaga gõi, lõ mabato, iʼotarai loeo andrõ, me marongo, mangandrõga salahimi, maandrõ, enaʼõ tehõna chõmi waʼaboto ba dõdõmi zomasi ia, na tebeʼe chõmi ngawalõ waʼatoeatoea fefoe, awõ ngawalõ wangila fefoe, soroi ba Geheha, 10enaʼõ amoeata dána chõ Zoʼaja gamoeatami, fa bõi si lõ omasi ia chõmi, enaʼõ mowoea ami, fefoe ngawalõ mboeaboea si sõchi, ba enaʼõ tedooe waʼaboto ba dõdõmi Lowalangi;  11enaʼõ abõlõ ami, enaʼõ tedooe chõmi fefoe ngawalõ waʼabõlõ, dali waʼabõlõ lachõminia andrõ, enaʼõ aʼoi so chõmi wanaha tõdõ, awõ waʼebolo dõdõ, ba enaʼõ omoeso dõdõmi, 12wangandrõ saoha gõlõ chõ Nama, si no mangehao jaʼita, ba wanema tána ba niha niʼamoniʼõ andrõ, ba haga andrõ; 13si no mangefaʼõ jaʼita ba waʼabõlõ zogõmigõmi andrõ, si no mamawoeʼa jaʼita, si no molohe jaʼita ba mbanoea Nono waʼomasinia andrõ.. 14Ba zi so chõda fangõhõli, fangefaʼõ horõ andrõ

FAMOBÖRÖ

Sura Golose andre nisura Waulo ba mbanua niha keriso ba Asia Kecil, nahia andre no  so bagotalua banua soya andre wa oya hada (budaya), Fangerangera niha Gerika (filsafat Yunani), ba hegöi wa fa’aduhu dödö khö Lowalangi bö’ö, dae sitobali amakhaita salua ba gotalua ira samati khö Yesu nitutunö ba Golose 1:9-14.

Sura Waulo da’e nifa’emania ba Mbanua niha keriso si so ba Golose. ba sura andre ifaehagö wa’ömusö dödönia, me no irongo khö Gefafera (Epafras) duria wamati ba faomasi si so ba Mbanua niha Keriso ba Golose andrö. Ba wa’ömusö dödö Waulo andre, lö mamalö i’ohe ira ba wangandrönia salahi khö Lowalangi, sifao ndra awönia enoni ya’ia (Gefafera, Timoteo, Garisaro ba Tikhiko). La’andrö ba wangandröra ena’ö, banua niha keriso si so ba Golose, tobali ira niha samati si fahöna fa’atua-tua ba fa’aboto ba dödö ba wamati moroi ba Geheha.

Kolose 1:9-14 andre, mo’osi ia mene-mene Waulo ba Mbanua niha Keriso ba Golose, ena’ö lö mamalö Mbanua Golose andre igohi tödöra wangalui ba wamalua hadai zomasi Yesu ba wamanöi famatira.

Menjadi Saksi Allah Tritunggal Matius 28:16-20

 Bahan Khotbah Minggu 31 Mei 2026 Pendahuluan Matius 28:16-20 dikenal sebagai Amanat Agung Tuhan Yesus. Murid-murid Yesus diberi tugas m...