Khotbah Minggu: MEMULIAKAN ALLAH DALAM SEGALA HAL. Titus 2:1-10


Pendahuluan

Surat Paulus kepada Titus ditulis dalam konteks pelayanan Injil di pulau Kreta. Titus mendapat tugas untuk menata kehidupan jemaat dan memastikan bahwa ajaran yang benar tidak hanya diajarkan dengan kata-kata, tetapi juga diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu Paulus menasihati Titus: “Tetapi engkau, beritakanlah apa yang sesuai dengan ajaran yang sehat” (Titus 2:1).

Ayat ini menunjukkan bahwa pemberitaan Injil tidak berhenti pada mimbar atau khotbah di gereja. Injil harus masuk ke dalam kehidupan keluarga, pekerjaan, hubungan sosial, dan seluruh kehidupan manusia. Orang yang telah menerima Injil dipanggil untuk hidup sedemikian rupa sehingga melalui kehidupannya Tuhan dimuliakan.

Hal ini sangat relevan dengan sejarah pekabaran Injil di Nias. Ketika Injil datang ke Nias, pemberitaan Injil tidak hanya dilakukan melalui khotbah. Injil juga diperkenalkan melalui pendidikan, kehidupan bersama masyarakat, pelayanan kesehatan, penerjemahan dan pengajaran, serta pembentukan kehidupan jemaat. Dengan demikian, Injil perlahan-lahan menyentuh kehidupan pribadi, keluarga, dan masyarakat Nias. Prinsip Titus 2:1–10 mengingatkan kita bahwa pekabaran Injil harus terlihat dalam kehidupan yang berubah dan menjadi kesaksian bagi orang lain.

1. Tugas Mengabarkan Injil , ayat 1

Paulus berkata kepada Titus: “Tetapi engkau, beritakanlah apa yang sesuai dengan ajaran yang sehat.” Ini adalah tugas yang jelas. Titus tidak hanya diminta untuk mengurus organisasi jemaat, tetapi terutama untuk memberitakan ajaran yang sehat. Injil harus terus disampaikan supaya jemaat mengenal kebenaran Allah dan hidup menurut kebenaran itu.

Mengabarkan Injil bukan hanya tugas pendeta atau penginjil. Setiap orang yang telah menerima Kristus mempunyai tanggung jawab untuk menjadi saksi Kristus. Pemberitaan Injil dapat dilakukan melalui khotbah, pengajaran, kesaksian, pelayanan, maupun melalui kehidupan yang benar. Sebab Injil yang kita beritakan dengan mulut harus sesuai dengan Injil yang kita tunjukkan melalui kehidupan.

Dalam konteks Nias, pekabaran Injil juga mengalami proses yang demikian. Para pembawa Injil tidak hanya menyampaikan berita tentang Kristus, tetapi berusaha hadir di tengah masyarakat. Pendidikan, pelayanan kepada masyarakat, penggunaan bahasa yang dapat dipahami, dan hubungan yang dekat dengan masyarakat menjadi bagian dari proses memperkenalkan Injil. Ini menunjukkan bahwa pekabaran Injil harus menyentuh kehidupan manusia secara utuh.

Karena itu, pertanyaan bagi kita bukan hanya, “Apakah kita sudah mendengar Injil?” tetapi juga, “Apakah melalui kehidupan kita orang lain dapat melihat kemuliaan Tuhan?” Inilah makna tema kita: Muliakan Tuhan dalam segala hal.

2. Menginjili Mulai dari Keluarga, ayat 2-8

Setelah berbicara tentang ajaran yang sehat, Paulus langsung menghubungkannya dengan kehidupan keluarga dan pribadi. Kepada laki-laki yang tua, perempuan yang tua, perempuan muda, dan laki-laki muda diberikan nasihat yang berbeda sesuai dengan tanggung jawab mereka. Ayat 7 bahkan berkata kepada Titus: “Dan jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik.”

Di sini kita melihat bahwa keluarga merupakan tempat yang sangat penting bagi pekabaran Injil. Injil tidak boleh hanya terdengar pada hari Minggu di gereja, tetapi harus terdengar dan terlihat setiap hari di dalam keluarga. Anak-anak belajar iman bukan hanya melalui apa yang dikatakan orang tua, tetapi terutama melalui apa yang mereka lihat dalam kehidupan orang tua.

Orang tua yang jujur sedang mengajarkan Injil. Suami dan istri yang saling mengasihi sedang menunjukkan Injil. Orang yang tua yang menjadi teladan bagi generasi muda sedang mengabarkan Injil. Anak muda yang hidup bertanggung jawab, menjaga perkataan dan pergaulannya, juga sedang menjadi saksi Kristus.

Inilah yang sangat penting dalam kehidupan jemaat di Nias. Ketika Injil mulai diterima oleh masyarakat Nias, perubahan kehidupan tidak hanya terjadi di dalam gedung gereja. Injil masuk ke dalam keluarga dan membentuk cara orang memahami perkawinan, pendidikan anak, hubungan antara generasi, kehidupan bersama, serta tanggung jawab moral. Dengan demikian, keluarga menjadi salah satu tempat utama di mana iman Kristen diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Karena itu, jika kita ingin menginjili masyarakat, jangan lupa mulai dari rumah sendiri. Tidak ada gunanya kita berbicara tentang kasih Kristus kepada banyak orang, tetapi di dalam keluarga kita sendiri tidak ada kasih, pengampunan, kesetiaan, dan keteladanan. Pekabaran Injil yang paling dekat dengan kita adalah kehidupan kita sendiri di tengah keluarga.

3. Menginjili Sesama Manusia, ayat 9-10

Pada ayat 9–10 Paulus berbicara kepada hamba-hamba supaya mereka tunduk kepada tuannya, menyenangkan hati dalam segala hal, tidak membantah, tidak mencuri, tetapi menunjukkan kesetiaan yang tulus. Tujuannya sangat jelas: “supaya dalam segala hal mereka memuliakan ajaran Allah, Juruselamat kita.”

Perhatikan bahwa Paulus menghubungkan perilaku seorang Kristen dengan kesaksian Injil. Orang lain dapat melihat Injil melalui cara kita bekerja, berbicara, memperlakukan sesama, dan menjalankan tanggung jawab. Dengan kata lain, pekerjaan dan hubungan sosial menjadi tempat pekabaran Injil.

Kita tidak selalu mempunyai kesempatan untuk berkhotbah kepada semua orang. Tetapi kita selalu mempunyai kesempatan untuk menjadi saksi Kristus. Di tempat kerja, di tengah masyarakat, di pasar, di lingkungan keluarga, dalam pelayanan gereja, bahkan ketika berhadapan dengan orang yang berbeda pendapat dengan kita, kita dipanggil untuk menunjukkan karakter Kristus.

Pekabaran Injil di Nias juga harus dipahami dalam kerangka ini. Injil yang datang ke Nias kemudian membentuk kehidupan masyarakat dan melahirkan komunitas Kristen yang semakin luas. Nilai-nilai yang baik dalam budaya tidak harus dibuang, tetapi diterangi dan diarahkan oleh Injil. Sementara nilai-nilai yang bertentangan dengan kasih, keadilan, kebenaran, dan kehendak Allah perlu dikoreksi dan ditransformasikan.

Karena itu, pekabaran Injil bukan berarti menghancurkan identitas masyarakat. Injil membawa manusia untuk memuliakan Allah dalam seluruh kehidupannya. Dari sinilah kehidupan keluarga, kehidupan sosial, pendidikan, pelayanan, dan kehidupan bergereja diarahkan kepada satu tujuan: supaya nama Tuhan dimuliakan.

Kesimpulan

Titus 2:1–10 mengajarkan bahwa pekabaran Injil tidak dapat dipisahkan dari kehidupan. Pertama, kita mempunyai tugas untuk mengabarkan Injil dengan ajaran yang sehat. Kedua, pekabaran Injil harus dimulai dari keluarga, melalui kehidupan yang menjadi teladan bagi anak-anak dan generasi berikutnya. Ketiga, pekabaran Injil harus dilanjutkan kepada sesama manusia, melalui pekerjaan, pelayanan, perkataan, dan perilaku yang menunjukkan karakter Kristus.

Sejarah pekabaran Injil di Nias mengingatkan kita bahwa Injil dapat masuk ke dalam kehidupan masyarakat dan membawa perubahan. Namun tugas itu belum selesai. Setiap generasi Kristen dipanggil untuk meneruskan kesaksian Injil dalam konteks zamannya.

Karena itu, marilah kita tidak hanya menjadi orang yang mendengar Injil, tetapi menjadi orang yang menghidupi Injil. Mulailah dari diri sendiri, kemudian dari keluarga, dan selanjutnya kepada sesama manusia. Apa pun pekerjaan dan pelayanan kita, semuanya dapat menjadi kesempatan untuk memberitakan Kristus.

Akhirnya, sesuai dengan semangat Titus 2:10, biarlah melalui seluruh kehidupan kita orang lain dapat melihat keindahan ajaran Allah. Sebab tujuan akhir dari pekabaran Injil bukanlah supaya manusia memuji kita, melainkan supaya Tuhan dimuliakan dalam segala hal.

 


WAÖWAÖ WA’ATOHARE DURIA SOMUSO DÖDÖ BA DANÖ NIHA

 

1.        Famörögö

 

Ya’ami ira talifusö, si sara lala wamati ba khö Keriso Yesu.

Imane Taroma Li Lowalangi: ”Simanö sa wa’omasi Lowalangi nösi gulidanö, no ibe’e Nono-Nia andrö si ha sambua, ena’ö lö tekiko dozi samati khö-Nia, ena’ö so khöra wa’auri si lö aetu” (Yoh 3:16)

Fa’omasi Lowalangi ba khö Yesu Keriso, no ofeta ba danöda ba wangorifi ya’ita Ono Niha, ya’ia ba wa’atohare tenge-tenge Mboto Zanuriaigö Turia Somuso Dödö, soroi Geremani nifotöi RMG, ya’ia zotöi Ludwig Ernst Denninger awö ndra tenge-tenga tanö bö’ö si no molohe haga Keriso ba soida Ono Niha.

Ya’ita ba BNKP, no hasara dödö wamali’ö mbawa si siwa tobali ”September Mission”, ba tafalua wuawua dödö, me ba zi 27 mbawa si Siwa 1865, ba da’ö ihundragö Danö Niha Denninger, ba wolohe Turia Somuso dödö, sangefa’aö ba sangorifi ya’ita.

 

2.        Hadia Zalua Fatua Lö Tohare Misionaris ba Danö Niha?

 

Ono Niha, no soi satua sowanua ba zisagörö Tanö Niha. Töra ngawulu ngahönö fakhe, no monahia wurugö Nono Niha, ba oi muzawili ira ba zi sambua Tanö Niha andre.

Fatua lö tohare zolohe Turia Somuso Dödö, no mowanua ndra furugöda, lafasindro mbanua, lalau gowasa, hewa’ae no fabalibali, ba lö amakhaitara khö nawöra, ba itariana’i alua wasuwöta ba gotalua mbanua, ma ba gotalua nöri. Arakha fefu ira mohalöwö ba danö, ba lafalua göi wamolo awö wo’urifö. Fefu hadia nifaluara ba lafodanedane ba ngawalö ni’olowalangigöra (dewa-dewa), ba lafalua ngawalö wanömba ”Adu”. Ahakhö sibai dödöda ndra furugöda föna, me no toröi ba wa’anuma, mendrua manö me asese itörö ira fökhö solohe ba wa’atekiko (wabah penyakit), simane talu soyo, eha simiwo, malaria, ba tanö bö’önia. Na mu’adogoi’ö wanguma’ö, wa no ba wa’anumana ba toröi furi ndra furugöda föna, fatua lö tohare Haga Zo’aya.

 

3.        Hewisa wa’atohare Misionaris ba Danö Niha

 

Me ba ndröfi 1822/1823 no irai tefatenga misionaris moroi ba Mission Etrangers (badanMisiKatolik Roma),  sotöo Pere Wallonba Pere Barart.Bahiza, lö fakhamö mowua wohalöwöra, me ha 3 ngaluo zi samösa, iröi gulidanö börö wökhö, ba tetanö ba mbanua Lasara – Gunungsitoli. Tölu wawa aefa da’ö ba iröi gulidanö si samösa, irege lö nasa so nono niha sifakhamö labayagö Idanö. Da’ö mbörö wa ba BNKP te’amoni’ö ba mutörö tödö zi 27 September, nifotöida ”hari raya misi”, ba tafaduhu’ö wa Denninger no Sinenge ba Nono Niha (Rasul bagi Ono Niha), me ba zi 27 September 1865 ihundragö danö niha, ba ibayagö idanö me owasa fasa döfi 1874.

 

Denninger andrö, no si otarai mbanua Berlin – Geremani. Tumbu ia me 4 Desember 1815. No samösa si faofao ba ”zekola wangesa dödö” Denninger andre, irege ba ndröfinia si 28 adöni dödönia tobali misionaris. Ifasura’ö döinia ba Mboto Misi sotöi RMG si so ba danö Barmen – Geremani. Me no latema ia, ba labe’e ia ba zekola zending, ba Barmen – Geremani. Me no awai sekolania, ba ndröfi si 1847 tefahowu’ö ia ba tefatenge tobali misionaris ba mbanua Borneo (Kalimantan), ba mbanua Gohong, ba gotalua soi niha Dayak.

 

Me no 12 fakhe lahalö halöwö ba Borneo, ba no ibörögö mowua, irege so nibayagö idanö, bahiza ba ndröfi 1859 alua ”wamadaö soi Dayak”, lafobanö ba labunu niha safusi uli, melawa’ö ”penjajah”, lö lafaehuni ndra misionaris. So da 9 misionaris, fo’omo misionaris awö ndraono zimate nibunu ba wamadaö andrö. Ira Denninger awö misionaris tanö bö’ö, no fakhamö moloi, lasawagö Semarang – Jawa Tengah. Moroi ba da’ö, ihalö gangetula RMG wamöhöi gasagasa halöwö Fanuriaigö turia Somuso dödö ba Borneo, ba lafatenge ndra misionaris ba Danö Mbata, wolohe Turia Wangorifi andrö ba gotalua soi niha mbata, fao Denninger ba da’ö

No ihalö gangetula RMG wamatenge Denninger ba Barus. Andrö me 21 Oktober 1861, iröi Batavia numalö ba Padang, ba ofeta ia me 21 Nopember 1861. Bahiza me no ofeta ia ba Padang, tebai itohugö wofanönia ba danö Mbata, me abölöbölö wökhö wo’omonia. Andrö wa isewa nomo side’ide ba zotöi ”Kampung Cina”. Ba danö falukha ia Nono Niha. Adöni dödönia khöra me faehu faoma niha Wada. Andrö adöni dödönia wangi’ila Li Nono Niha ba Wada andrö. No adönia sibai dödönia ba walukhatania faoma Ono Niha, ba da’ö zolohe ya’ia ba wangai angetula wamalua halöwö wanuriaigö Turia Somuso Dödö ba Danö Niha. Salua ba Borneo, ba ngawalö wamakao sifalukha ia ba Wada, no solohe ”Howuhowu” ba Nono Niha. Fefu zifalukha ya’ia, no tanda da’e ba wolohe turia wangorifi andrö ba gotalua Nono Niha.

 

Hewa’ae lö si so zura wefao dödö RMG wamatenge ya’ia ba Danö Niha, bahiza börö wa’adöni dödönia we’amöi ba Danö Niha, andrö i’andrö zura izi khö zamatörö Balanda si si ba Batavia. Me no isöndra fewao dödö Gubernua Jenderal, andrö ba zi 11 Agustus 1865 iröi Wada, numalö ba Ziboga awena adölö ba Gunungsitoli. Ihundragö Danö Niha me 27 September 1865. Me awena irugi, toröi ia ba nomo Sekretaris Pemerintah – Balanda, bahiza lö ara aefa da’ö, i’öli nomo ba Gunungsitoli, fa’ebua mböli 600 firö. Ba da’ö toröia ia awö wo’omonia ba darua nononia, Carolina faoma Elias Denninger.

 

4.        Hewisa Halöwö Duria Somuso dödö ba Danö Niha?

Ba wamörögö halöwö Fanuriaigö, ifa’anö ia Denninger ba wahuhuosa ba Li Nononiha, me irasoi wa Li si no i’ila me so ia ba Padang no mo’amböta sibai, mendrua manö me Li moroi ba mafi tanö raya. Me no ibörögö i’ila Li Nono Niha ba Gunungsitoli, andrö ibörögö wangowuloi iraono ba wamahaö ya’ira ba Wombaso, Fanura ba Fangerai.

Baero halöwö famahaö, ifalua göi halöwö fame’e dalu-dalu ba zofökhö, ba i’angandröi. Asese fatiti ira ndra Ere faoma Duku ba wame’e daludalu andre, bahiza döhö zofökhö moroi ba daludalu sifao fangandrö moroi khö Denninger, ba soyania lö döhö nifalua gere ma duku. Baero da’ö, owölö’ölö göi Denninger andre wangondrasi ba fahuohuo khö ndra Salawa. Itunö khöra duria somuso dödö.

 

Me no 6 fakhe ihalö halöwö fanuriaigö Denninger, ibörögö oroma mbua, ya’ia me migu ba April 1871, so ma to 140 niha si möi ba kebaktian minggu nidönia’ö Denninger, hewa’ae ato zimöi börö ba wangakali bago, daludalu, ba lasöndra gefe fa’ebua 3 rimi. Itugu tedou halöwö andre, me ba zi 14 Februari 1872 tohare Wilhem Thomas, ba itete Friendrich Kramer ba zi 1 April 1873. Ya’ira andre zanolo Denninger ba wangai sekola, awö halöwö fanuriaigö. Moroi ba da’ö fefu, ba mowua Daroma Li Lowalangi ba wa’auri zamondrongo, irege tefalua wamayagö idanö si föföna ba zi 25 niha soroi mbanua Hilina’a (fao zalawa Yawaduha), ba moroi ba mbanua Nono Zitoli. Tebayagö idanö ira me 5 April 1874 ba lods Gunungsitoli. Famayagö idanö andre lafalua ira Denninger faoma Kramer. 12 Niha ibayagö idanö Denninger, ba 13 niha nibayagö idanö nifalua Kramer. Ya’ira andre Niha Keriso siföföna ba Danö niha. Ba tenga ha da’ö, tefatohu wamayagö idanö andre ba zi 23 Agustus 1874 khö ndra si 19 niha. Fefu zalua andre, ba no tobali omusola dödö, he Denninger ba simanö göi mboto zamatenge ya’ira moroi ba danö Geremani. Andrö ibe’e gangandröwania Denninger khö RMG ba danö Geremani, ena’ö la’oya’ö lafatenge misionaris sohalöwö ba Danö Niha.

 

No ebua sibai halöwö nifalua Denninger ba Danö Niha. Baero wa no so nibayagö idanö, ba fakhamö göi ia wangehao buku wamahaö ba ndraono sekola, ba i’ali zura duria Somuso Dödö nisura Luka, ba li Nono Niha. Me no 60 fakhe ndröfinia, ba göna ia fökhö, irege ihalö wolombase, möi ira ba Bogor, ba toröi ira khö numönönia (fagawe Balanda, sohalöwö ba Bogor). Ha ”folombase sabata gohitönia, aefa da’ö omasi ia mangawuli ba Danö Niha”, bahiza börö me tebai tedaludalunia sa’ae wökhö si no göna ba mboto, andre ba zi 22 Maret 1876, iröi gulidanö, ba tetanö mbotonia ba Lewatö Soya, si so ba Bogor.

 

Na ta’osisi’ö waöwaö halöwö misi nifalua ndra misionaris, ba tola mufosasi ia tölu faosatö. Ba zi 25 fakhe si föföna (1865-1890), ba no ahou sibai wa’ateboloso duria somuso dödö. Ha ba wilayah wamatörö Balanda, nifotöi Rapatgebiet, ya’ia da’ö ba Gunungsitoli, Dahana, Ombolata ba Faekhu. No irai mutandraigö ba Fagulö faoma Bawölowalani, bahiza lö mo’ölö. Awena me ba zi 25 fakhe sidua, ibörögö teboloso duria somuso dödö. Me ba ginötö da’ö, ba ibörögö halöwö famatörö Balanda, ifahono zamadaö, ibokai lala faoma halöwö rodi, ba i’atulö’ö mbanua sifa’udu. Teboloso göi Duria somuso dödö ba zi sagörö tanö. Ba mafi tanö yöu, ba Mbo’usö, Awa’ai, Sowu, ba ba Hilimaziaya awö sifasuinia. Ba mafi tanö ba gatumbukha luo, ya’ia ba Humene, Sogae’adu ba Bawalia. Tanö ba gotalua, ya’ia ba Lölöwua faoma Sifaoro’asi. Tanö ba gaekhula, ya’ia ba Dugala-Lahömi/Fadoro, Lahusa, Lölöwa’u, Lahagu – Oyo, Lölömoyo ba Lawelu. Ba mafi tanö raya, teboloso ba Hilisimaetanö faoma ba Za’ua. Ba ba Hulo Batu, ira misionaris moroi ba mboto misi Lutheran Belanda zi möi ba da’ö.

Ba zi 25 fakhe sitölu (1916-1940), periode si’afuri ba ginötö zending. Ba ginötö da’e ba alua wa’atedou mbanua niha Keriso, mendrua manö me itörö Fangesa Dödö Sebua, salua ba zi sagörö Tanö Niha me döfi 1916-1930. Ba zi 25 fakhe afuriata andre, arakha fefu Nono Niha no laröi ”Nadu”, sifaduhu dödöra föna, awö ngawalö hada ndra tua, ba lasawagö agama sibohou, ya’ia Niha Keriso. Börö da’ö, teföfö’ö ba tefasindro sa’ae Mbanua Niha Keriso ba sinode siföföna me döfi 1936, irege te’osambua’ö fefu zamati ba organisasi sotöi Banua Niha Keriso Protestan, te’adogoi’ö BNKP, nidönia’ö Misionaris A. Luck. Bahiza me döfi 1940, me alua wasuwöta nifotöi Perang Dunia si-2, halöwö fangombakha, fokubaloi ba fondrönia’ö, tebe’e ba danga ndra sohalöwö, Ono Niha.

 

5.        Fondruhö

Simanö waöwaö wa’atohare ba fa’ateboloso duria somuso dödö ba danö niha, ba ginötö Zending. Turia somuso dödö andre, ba no mowua, i’ohe wangefa, fangatulö, fangorifi ba fangosambua’ö ya’ita Ono Niha. Andrö börö da’ö ba wamalua perayaan misi, tekaoni ita ba wamohouni halöwöda, wamalua halöwö misi, molo’ö inötö si so ya’ita. Ya’ihahowu’ö ita Lowalangi. Ya’ahowu.

 

SEJARAH SINGKAT DATANGNYA BERITA INJIL DI NIAS


1.       Pengantar

 

Saudara-saudara seiman di dalam Kristus Yesus.

Firman Tuhan berkata: ”Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yohanes 3:16).

 

Kasih Allah di dalam Yesus Kristus tersebut telah melawat dan menyelamatkan masyarakat Nias melalui kedatangan missionaris yang berhasil membawa Ono Niha ke dalam Terang Kristus, yakni Ludwig Ernst Denninger dan misionaris lainnya, yang diutus oleh badan Misi RMG – Jerman.

 

Kita di BNKP telah menjadikan bulan september sebagai ”September Mission” dan dirayakan sebagai ”Hari Raya Gerejani”, karena pada tanggal 27 September 1865, Denninger menginjakkan kakinya di Pulau Nias untuk membawa Kabar Baik, Injil yang membebaskan dan menyelamatkan.

 

2.       Apa Yang Terjadi Sebelum Misionaris Datang Ke Nias ?

 

Ono Niha adalah suku tertua yang mendiami seluruh kepulauan Nias, yang diperkirakan para leluhur telah bermukim dan menyebar di pulau Nias ribuan tahun yang lalu.

 

Sebelum misionaris tiba, para leluhur kita telah mendirikan ’Banua” dan ”Ori” di hampir seluruh kepulauan Nias, hanya saja terpisah-pisah dan bersifat otonom, bahkan sering terjadi perang antar banua atau antar Öri. Ono Niha yang mayoritas bertani, berburu dan beternak mendasari seluruh aktifitasnya pada kepercayaan kepada dewa-dewa dan melalui ritual dengan media ”Adu” (patung). Kehidupan masyarakat cukup memprihatinkan karena kemiskinan, ketiadaan pendidikan, dan sering dilanda oleh wabah penyakit yang membinasakan, seperti diare, TBC, malaria, dan sebagainya. Tiada andalan mereka selain ”Fo’ere ba Adu”. Singkatnya, para leluhur kita sebelum Injil masuk sangat memprihatinkan dan tinggal dalam kemiskinan dan keterbelakangan.

 

3.       Bagaimana Sejarah Tibanya Misionaris di Nias

 

Padatahun 1822/1823 pernahdatangutusan Mission Etrangers (badanMisiKatolik Roma),  bernamaPere Wallondan Pere Barart, tetapibarutigaharisetelahberada di Lasara, Gunungsitolisalahseorangmeninggalduniadantigabulankemudian yang seoranglagimeninggaldunia, sehinggabelumsempatadabuahpelayanandarimisimereka. Itulahsebabnya, BNKP menyatakandanmerayakantanggal 27 September sebagaiharirayamisi, danpekabarInjilbernamaLidwig Ernst Denningersebagairasulbagi Ono Niha, karenadiamenginjakkan kaki di Niastanggal 27 September 1865, dan yang berhasilmembawa Ono NihamenjadipengikutKristusataumenjadi Kristen padapaskah 1874.

 

Denningerberasaldari Berlin-Jerman. Ialahirpadatanggal 4 Desember 1815. Iaseorang yang aktifdalam “kebangunanRohani”, sehinggapadaUsia 28 TahuniatertarikmenjadiMisionaris. Iamelamarpadabadanzending RMG di Barmen – Jerman, dansetelahditerima, iadididikmenjadimisionaris di SekolahZending RMG di Barmen. Setelahmenamatkansekolahzending, padatahun 1847 iaditahbisdandiutusmenjadimisionaris di Borneo (Kalimantan) di tengahmasyarakatDayak. PusatPekabaranInjilwaktuitubertempat di Gohong-Kalimantan.

 

Setelah 12 tahunmelayani di Borneo dantelahmulaimenampakkanhasildenganadanya orang yang dibaptis, tetapipadatahun 1859, terjadi “pemberontakanHidayat” yang menyerangsemua orang berkulitputihkarenadianggappenjajah, termasukparamisionaris. Ada 9 orang darikalanganmisionaris, isteridananak yang matiterbunuh. Denningerdanbeberapamisionarislainnyasempatmelarikandiri, sehinggalepasdaribahayakematian. Merekamengungsike Semarang – Jawa Tengah. Lalubadanzending RMG memutuskanmengutusmerekake Tanah BatakuntukmelakukanpelayananPekabaranInjil, termasukDenninger.

 

RMG memberitugaskepadaDenningeruntukmelayani di Barus, sehinggapadatanggal 20 Oktober 1861 iabertolakdari Batavia menuju Padang dantibapadatanggal 21 Nopember 1861. Tetapi, iatidakbisamelanjutkanperjalananke Tanah Batak, karena di Padang, isterinyasakitkeras. Terpaksamerekatinggal di Padang denganmenyewasebuahrumahsangatsederhana di kampungCina – Padang. Di sanaiabertemudengan Ono Niha yang jumlahnyacukupbanyakwaktuitu. IaseringberbicaradenganmerekadanbahkanmempelajaribahasaNias. Perjumpaandaninteraksidengan Ono Niha di Padang inilah yang telahmembuatdiasangattertarikuntukdatangdanbermisi di Nias. Peristiwa di Borneo dan penderitaan di Padang – telah membawa “berkat” bagi Ono Niha. Semua yang dialami oleh Denninger merupakan tanda dari Allah, tanda keselamatan bagi orang Nias.

 

Walaupunbelumadapersetujuandaribadanmisi RMG untukbermisi di Nias, namunkarenakeinginandantekadnyakeNias, DenningermengurusizindariGubernurJenderal di Batavia, sehinggapadatanggal 11 Agustus 1865 iabertolakdari Padang keSibolgalalukeNias, danmenginjakkan kaki di bumiNiaspadatanggal 27 September 1865. Padaawaliatibaiatinggal di rumahsekretarispemerintahBelanda, tetapikemudianiamembelisebuahrumah di Gunungsitoli, denganharga 600 gulden. Di sanalahdiadankeluarganyatinggal, bersamaanaknya Carolina dan Elias Denninger.

 

 

 

4.       Bagaimana perkembangan Berita Injil di Nias?

 

Denninger memulai pekerjaan dengan meningkatkan pengetahuan dan kecakapan bahasa Nias, apalagi karena bahasa yang dipelajarinya di Padang lebih bercorak dan berdialeg Nias Selatan. Ia terus belajar melalui interaksi dengan Ono Niha. Setelah bisa berkomunikasi, walaupun sangat terbatas,  ia memulai dengan pendidikan. Ia mengumpulkan anak-anak dan mengajar mereka tentang menulis, membaca dan berhitung.

Selain pendekatan pendidikan, ia juga membantu masyarakat yang menderita berbagai penyakit, dengan memberikan obat-obatan sambil berdoa. Dalam melakukan pelayanan kesehatan ia sering bertentangan dengan para ”Ere” atau ”dukun” yang juga melakukan penyembuhan dengan ritus-ritus terhadap Adu dan memantra obat-obat tradisional yang digunakan. Denninger juga melakukan perkunjungan kepada para Salawa sambil memberitakan kabar baik.

 

Setelah 6 tahunmelakukanpelayanan, makapadasuatuminggu di bulanapril 1871 – terdapatsekitar 140 orang yang datangmengikutikebaktianminggu yang dipimpinoleh L.E. Denninger. Orang Niasmaudatang, tetapidenganharapanbahwaselesaikebaktianmerekaakanmendapattembakau, obat-obatandanuangsebesar 3 rimis. SedikitmelegakanhatiDenningerbahwa RMG mulaimemberiperhatiankeNiasdenganmengutusWihlem Thomas  yang tiba di Niastanggal 14 Februari 1872 dandisusuloleh Friedrich Kramer padatanggal 1 April 1873. Inilah yang membantuDenninger, baik di sekolahmaupun di pelayananPekabaranInjil. Memangsulit, tetapipadaakhirnya, hati orang NiasterbukauntukInjil. MasyarakatasalHilina’adanOnozitolisebanyak 25 orang (termasukkeluargaSalawaYawaduha) memberidiridibaptispadakebaktianPaskah, tanggal 5 April 1874 di Gereja (Lods) Gunungsitoli. PembaptisaninidilaksanakanolehDenninger (untuk 12 orang) danoleh Kramer (bagi 13 orang). Inilah orang Nias yang ada di Nias yang pertamasekalimenerimaInjildanmemberidiridibaptismenjadi Kristen. Tidakberhentisampai di sana, semasihDenningerberada di Nias, padatanggal 23 Agustus 1874 terdapat 19 orang yang telahmengikutikatekisasi,  memberidiridibaptis. PeristiwainimenyukakanhatiDenninger, sehinggaiamendesak RMG untukmeningkatkanjumlah missionaries yang diutusmelayani di Nias.

 

SungguhbesarjasaDenningerbagikekristenan di Nias. Selainberhasilmembaptis, iajugasempatmembuatmateripelajaranbagianak-anakdanmenerjemahkanAlkitab, khususInjil Lukas. Setelahitu, Denninger yang sudahberumur 60 tahunmulaimenderitapenyakit, sehinggaiapergicutike Batavia padatahun 1875. Iatinggal di rumahmenantunya (suamiCalolina, seorangpegawaipemerintahBelanda yang sudahpindahdariNiaske Bogor).  PadaawalnyahanyarencanacutidanmasihadakeinginanmelanjutkanpelayananMissi di Nias, namunkarenapenyakit yang parahdantakterobati, akhirnya L.E. Denningermeninggalduniapadatanggal 22 Maret 1876, sertadikebumikan di kuburandekatanaknyatinggal, yakni di wilayah Bogor.

 

Kalaumelihatperjalananmisi di Nias, makadapatdipetakansebagaiberikut: Pada 25 tahunpertama (1865-1890), kekristenan di Niashanyadapatberkembang di wilayahpemerintahansipilBelanda, yang disebutRapatgebiet. Jemaatberdiri di Gunungsitoli, Dahana, OmbölatadanFaekhu. Sudahdicoba di beberapatempat di luarrapatgebiet, yakni di FagulodanBawolowalani, tetapigagaldan Ono Niha di wilayahtersebutbertahandengankepercayaandankebudayaan lama. Tetapipadakurunwaktu 25 tahunkedua (1890-1915), seiringdenganpenetrasiKolonialBelandakepedesaandenganmenumpasparapemberontakdanmembukajalandenganrodi, makausahaPekabaranInjilpunmasukkeberbagaiwilayahkepulauanNias. UntukwilayahutaramisimasukkeBo’usö, Awa’ai, SowudankemudianHilimaziayasebagaipusatpenginjilan di sekelilingnya. Di belahanTimur, misimasukmelaluiHumene – Sogae’adu – Bawalia. Di bagiantengah, misimasukmelaluiLölöwuadanSifaoro’asi. Kewilayahbarat, misipenetrasikeTugala-Lahömi/Fadoro, Lahusa, Lolowa’u, Lahagu – Oyo, Lolomoyo dan kemudian Lawelu.  Sedang kebelahan Nias Selatan, misi masuk melalui Hilisimaetanö danSa’ua; sedangkankepulau-pulauBatu, misidariBedanMisiLutheran  Belanda yang melayani di sana.

 

Pada 25 tahunketiga (1916-1940) yang dikenaldenganakhirzamanzending, kekristenan di Niasberkembangsangatpesat yang didukungolehgerakanpertobatanmassal yang menyebar di seluruhkepulauanNiaspadatahun 1916-1930. Padatahap 25 tahunterakhirinilah Ono Nihasecarakeseluruhanmeninggalkan agama lamanya, danmasuk agama Kristen, yang dilembagakanmelaluisidangsinode 1 tahun 1936, dengannamaBanuaNihaKerisoProtestan (BNKP). Akhirzamanzendinginiadalahtahun 1940, ketikaterjadiPerangDuniaKedua, dimanaseluruhmisionarisditawanolehtentarabelandadankembalikenegerinya. Dengandemikian, sejaktahun 1940 hinggasekarang BNKP dipimpin, digembalakandandilayanioleh Ono Niha.

 

5.       Penutup

 

Demikianlah sejarah singkat kedatangan dan pertumbuhan Injil di Nias pada zaman zending. Misi telah membebaskan, mendamaikan,  menyelamatkan dan mempersatukan kita masyarakat Nias. Oleh karenanya, melalui perayaan misi dan reformasi, kita perbaharui tekad dan bentuk pelayanan untuk terus bermisi berdasarkan konteks dimana kita berada.Selamat bermisi. Tuhan memberkati.

 

Bahan Khotbah: Segala Perkara Dapat Kutanggung di dalam Tuhan Filipi 4:10-19


Pendahuluan

Surat Filipi ditulis oleh Rasul Paulus sekitar tahun 62/63 M,  ketika ia berada dalam penjara di Roma (Fil 1:7,13). Filipi adalah kota Romawi di Makedonia yang menjadi pangkalan militer dan dinamai menurut Raja Filipus II dari Makedonia. Jemaat Filipi didirikan oleh Paulus bersama Silas, Timotius, dan Lukas dalam perjalanan misi yang kedua sebagai respons terhadap penglihatan yang diterima Paulus di Troas (Kis. 16:9-40). Sejak awal berdirinya jemaat, terjalin hubungan yang erat antara Paulus dan jemaat Filipi. Mereka beberapa kali mendukung Paulus secara materi dalam pelayanan pemberitaan Injil dan juga turut mengambil bagian dalam membantu orang-orang percaya yang berkekurangan di Yerusalem. Ketika Paulus berada dalam penjara, jemaat Filipi kembali mengirimkan bantuan melalui Epafroditus. Karena itu, Paulus menulis surat ini antara lain untuk menyampaikan ucapan syukur atas kasih dan dukungan jemaat, sekaligus menguatkan mereka agar tetap hidup dalam sukacita, persatuan, kerendahan hati, dan kesetiaan kepada Kristus di tengah berbagai keadaan dan penderitaan.

Mari kita merenungkan tiga poin penting dari Filipi 4:10-19; Bersukacita atas Perhatian Jemaat  ayat 10. Jemaat Filipi kembali menunjukkan kasih dan perhatian melalui bantuan kepada Paulus.  Belajar Mencukupkan Diri  ayat 11-13. Paulus mampu menghadapi kekurangan maupun kelimpahan karena kekuatannya berasal dari Kristus. Pemberian Jemaat Berkenan kepada Allah  ayat 14-19.  Bantuan jemaat bukan sekadar pemberian materi, tetapi merupakan persembahan dan partisipasi dalam pelayanan Injil.


Khotbah

1. Bersukacita atas Perhatian Jemaat  (ayat 10)

10 Aku sangat bersukacita dalam Tuhan, bahwa akhirnya pikiranmu dan perasaanmu bertumbuh kembali untuk aku. Memang selalu ada perhatianmu, tetapi tidak ada kesempatan bagimu.

Paulus mengungkapkan sukacitanya dalam Tuhan karena jemaat Filipi kembali menunjukkan perhatian kepadanya. Perhatian itu sebenarnya bukan sesuatu yang baru, sebab Paulus mengatakan bahwa mereka “selalu” mempunyai perhatian kepadanya. Hanya saja, sebelumnya mereka tidak mempunyai kesempatan untuk menyatakan perhatian tersebut melalui tindakan nyata. Kini, melalui bantuan yang mereka kirimkan, Paulus melihat bahwa kasih dan kepedulian jemaat Filipi tetap terpelihara.

Sukacita Paulus bukan terutama karena besar kecilnya pemberian, tetapi karena ia melihat adanya kasih, perhatian, dan persekutuan jemaat dalam pelayanan. Bagi Paulus, perhatian yang diberikan dengan tulus merupakan wujud nyata dari kasih kepada sesama dan dukungan terhadap pekerjaan Tuhan. Karena itu, kita belajar bahwa perhatian yang sederhana sekalipun dapat menjadi sumber sukacita bagi orang lain, terutama ketika diberikan dengan hati yang tulus dan penuh kasih dalam Tuhan.

 

2. Belajar Mencukupkan Diri  (ayat 11-13)

11 Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. 12 Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan. 13 Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.

Paulus menegaskan bahwa ia bersyukur atas pemberian jemaat Filipi bukan karena ia sedang dikuasai oleh kekurangan. Ia telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. Paulus mengalami berbagai keadaan hidup: pernah berkekurangan dan pernah berkelimpahan, pernah kenyang dan pernah lapar. Semua pengalaman itu mengajarkannya untuk tidak menggantungkan sukacita dan kepuasan hidup pada keadaan materi, melainkan belajar menerima dan menjalani setiap keadaan dengan iman kepada Tuhan.

Karena itu Paulus berkata, “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” Ayat ini tidak berarti bahwa Paulus dapat melakukan atau mendapatkan segala sesuatu yang diinginkannya, tetapi bahwa dalam setiap keadaan - baik susah maupun senang, kekurangan maupun kelimpahan- Paulus memperoleh kekuatan dari Kristus untuk menjalaninya. Kekuatan orang percaya bukan terletak pada banyaknya yang dimiliki, tetapi pada Kristus yang menyertai dan memberi kekuatan dalam setiap keadaan.

 

3. Pemberian Jemaat Berkenan kepada Allah  (ayat 14-19)

14 Namun baik juga perbuatanmu, bahwa kamu telah mengambil bagian dalam kesusahanku. 15 Kamu sendiri tahu juga, hai orang-orang Filipi; pada waktu aku baru mulai mengabarkan Injil, ketika aku berangkat dari Makedonia, tidak ada satu jemaatpun yang mengadakan perhitungan hutang dan piutang dengan aku selain dari pada kamu. 16 Karena di Tesalonikapun kamu telah satu dua kali mengirimkan bantuan kepadaku. 17 Tetapi yang kuutamakan bukanlah pemberian itu, melainkan buahnya, yang makin memperbesar keuntunganmu. 18 Kini aku telah menerima semua yang perlu dari padamu, malahan lebih dari pada itu. Aku berkelimpahan, karena aku telah menerima kirimanmu dari Epafroditus, suatu persembahan yang harum, suatu korban yang disukai dan yang berkenan kepada Allah. 19 Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus.

Paulus menghargai pemberian jemaat Filipi karena mereka telah mengambil bagian dalam kesusahannya. Sejak Paulus mulai memberitakan Injil, jemaat Filipi beberapa kali memberikan bantuan kepadanya, bahkan ketika ia berada di Tesalonika. Bagi Paulus, pemberian tersebut bukan sekadar bantuan materi, tetapi merupakan tanda kasih, kepedulian, dan persekutuan mereka dalam pelayanan Injil. Mereka tidak hanya mendukung Paulus dengan kata-kata, tetapi juga dengan tindakan nyata.

Namun, Paulus menegaskan bahwa yang terutama bukanlah pemberian itu, melainkan buah iman yang dihasilkan melalui pemberian tersebut. Ia menggambarkan bantuan jemaat sebagai “persembahan yang harum, suatu korban yang disukai dan yang berkenan kepada Allah.” Karena itu, pemberian yang tulus kepada pekerjaan Tuhan dan kepada sesama menjadi bagian dari kehidupan iman yang berkenan kepada Allah. Paulus kemudian meyakinkan jemaat Filipi bahwa Allah akan memenuhi segala keperluan mereka menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus.

Kesimpulan

Filipi 4:10-19 mengajarkan bahwa hidup dalam Kristus adalah hidup yang penuh sukacita, belajar mencukupkan diri, dan peduli kepada sesama. Paulus tetap bersukacita dalam berbagai keadaan karena kekuatannya berasal dari Kristus. Ia juga menghargai pemberian jemaat Filipi sebagai wujud kasih, persekutuan, dan pelayanan yang berkenan kepada Allah. Karena itu, kita dipanggil untuk belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan, tetap bersukacita dalam Tuhan, serta rela berbagi dan menolong sesama, sambil percaya bahwa Allah akan memenuhi segala keperluan kita menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus.

Oleh: Pdt. Juliman Harefa



Bahan PA: Kasih Allah Kepada Semua Ciptaan-Nya Yunus 4:1-11

 


Pendahuluan

Yunus, yang berarti “merpati”, adalah putra Amitai dan seorang nabi dari Gat-Hefer di Galilea (Yun. 1:1; 2Raj. 14:25). Ia melayani sebagai nabi bagi Kerajaan Utara Israel pada masa pemerintahan Yerobeam II (793-753 SM), sekitar abad ke-8 SM. Pelayanannya berlangsung tidak lama setelah Elisa dan sezaman dengan Amos, kemudian diikuti oleh Hosea. Yunus mendapat tugas khusus dari Allah untuk pergi ke Niniwe, ibu kota penting Asyur yang terletak sekitar 800 kilometer timur laut Galilea, untuk menyerukan pertobatan. Namun, Yunus enggan karena ia mengetahui bahwa Allah adalah Allah yang pengasih, penyayang, panjang sabar, dan berlimpah kasih setia (Yun. 4:2), yang dapat mengampuni bangsa yang bertobat. Karena itu, kisah Yunus memperlihatkan luasnya kasih sayang Allah yang menyelamatkan, bukan hanya bagi Israel, tetapi juga bagi bangsa-bangsa lain.

Yunus 4:1-11 merupakan bagian penutup kitab Yunus dan terjadi setelah penduduk Niniwe menanggapi pemberitaan Yunus dengan pertobatan. Allah melihat pertobatan mereka dan tidak jadi mendatangkan malapetaka atas Niniwe (Yun. 3:10). Keputusan Allah ini justru membuat Yunus marah, karena ia menghendaki Niniwe dihukum. Melalui peristiwa pohon jarak yang tumbuh, kemudian layu, serta melalui pertanyaan-Nya kepada Yunus, Allah mengajarkan bahwa kasih manusia sering terbatas pada kepentingan dan kenyamanan dirinya sendiri, sedangkan kasih Allah jauh lebih luas. Yunus merasa sayang kepada pohon yang tidak ditanamnya, tetapi Allah mengasihi 120.000 orang Niniwe beserta ternaknya. Dengan demikian, bagian ini menegaskan bahwa kasih sayang Allah menjangkau semua ciptaan-Nya dan memberi kesempatan kepada manusia untuk bertobat dan diselamatkan.


Khotbah

1. Kasih Allah untuk semua ciptaanNya (ayat 1-4)

1Tetapi hal itu sangat mengesalkan hati Yunus, lalu marahlah j ia.  2Dan berdoalah ia kepada TUHAN, katanya: "Ya TUHAN, bukankah telah kukatakan itu, ketika aku masih di negeriku? Itulah sebabnya, maka aku dahulu melarikan diri ke Tarsis, sebab aku tahu, bahwa Engkaulah Allah yang pengasih l  dan penyayang, yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia serta yang menyesal karena malapetaka  yang hendak didatangkan-Nya. 3Jadi sekarang, ya TUHAN, cabutlah kiranya nyawaku, karena lebih baik aku mati  dari pada hidup. "  4Tetapi firman TUHAN: "Layakkah engkau marah? " 

Yunus marah ketika Allah mengampuni Niniwe. Setelah Yunus memberitakan penghukuman, penduduk Niniwe bertobat dan berbalik dari jalan mereka yang jahat. Allah melihat pertobatan mereka dan tidak jadi mendatangkan malapetaka atas kota itu. Namun, bukannya bersukacita, Yunus justru sangat kesal. Ia menghendaki Niniwe dihukum karena menurut pandangannya mereka tidak layak menerima belas kasihan Allah. Bahkan Yunus mengakui bahwa ia sebenarnya sudah mengetahui sifat Allah sebagai Allah yang “pengasih dan penyayang, yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia.” Karena itu, ia sejak awal melarikan diri ke Tarsis.

Melalui kemarahan Yunus, Allah mengajarkan bahwa kasih-Nya tidak terbatas pada bangsa, kelompok, atau orang-orang yang kita anggap layak. Ketika Allah bertanya, “Layakkah engkau marah?”, Allah sedang menolong Yunus melihat bahwa kasih dan belas kasihan Allah jauh lebih luas daripada kasih manusia. Allah mengasihi penduduk Niniwe dan memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat dan diselamatkan. Karena itu, kita juga dipanggil untuk belajar menerima bahwa kasih Allah menjangkau semua ciptaan-Nya, termasuk mereka yang mungkin sulit kita kasihi atau yang kita anggap tidak layak menerima pengampunan.

2. Kasih Allah Mengajar Manusia Melihat Lebih dari Kepentingan Diri Sendiri (ayat 5-8)

5 Yunus telah keluar meninggalkan kota itu dan tinggal di sebelah timurnya. Ia mendirikan di situ sebuah pondok dan ia duduk di bawah naungannya menantikan apa yang akan terjadi atas kota itu. 6 Lalu atas penentuan TUHAN Allah tumbuhlah sebatang pohon jarak  melampaui kepala Yunus untuk menaunginya, agar ia terhibur dari pada kekesalan hatinya. Yunus sangat bersukacita karena pohon jarak itu. 7Tetapi keesokan harinya, ketika fajar menyingsing, atas penentuan Allah datanglah seekor ulat, yang menggerek pohon jarak itu, sehingga layu. 8 Segera sesudah matahari terbit, maka atas penentuan Allah bertiuplah angin timur yang panas terik, sehingga sinar matahari menyakiti kepala Yunus, lalu rebahlah ia lesu dan berharap supaya mati, katanya: "Lebih baiklah aku mati dari pada hidup.

Yunus keluar dari kota Niniwe dan mendirikan sebuah pondok di sebelah timur kota itu. Ia masih menunggu dan berharap melihat apa yang akan terjadi atas Niniwe. Allah kemudian menumbuhkan pohon jarak yang memberikan naungan kepada Yunus sehingga ia terlindung dari panas matahari. Yunus sangat bersukacita karena pohon itu. Namun, keesokan harinya Allah mengirim seekor ulat yang menggerek pohon tersebut hingga layu. Ketika matahari terbit dan angin timur yang panas menerpa Yunus, ia merasa sangat menderita dan kembali berharap agar dirinya mati. Peristiwa ini menunjukkan betapa besar perhatian Yunus terhadap kenyamanan dirinya, bahkan terhadap sebuah pohon yang hanya dinikmatinya dalam waktu singkat.

Melalui peristiwa pohon jarak itu, Allah sedang mengajar Yunus untuk melihat kehidupan bukan hanya dari kepentingan dirinya sendiri. Yunus begitu sedih karena kehilangan pohon yang memberikan kenyamanan kepadanya, tetapi sebelumnya ia tidak menunjukkan kesedihan ketika kehidupan ribuan orang Niniwe terancam. Allah ingin mengubah cara pandang Yunus: jangan hanya peduli terhadap apa yang memberikan kenyamanan bagi diri sendiri, tetapi pedulilah terhadap kehidupan sesama dan seluruh ciptaan Tuhan. Kasih Allah mengajarkan kita untuk keluar dari kepentingan diri sendiri dan memiliki hati yang peduli, berbelas kasih, dan menghargai kehidupan yang Tuhan ciptakan.

3. Kasih Allah Menjangkau Semua Ciptaan-Nya (ayat 9-11)

" 9Tetapi berfirmanlah Allah kepada Yunus: "Layakkah engkau marah  karena pohon jarak  itu?" Jawabnya: "Selayaknyalah aku marah sampai mati." 10Lalu Allah berfirman: "Engkau sayang kepada pohon jarak itu, yang untuknya sedikitpun engkau tidak berjerih payah dan yang tidak engkau tumbuhkan, yang tumbuh dalam satu malam dan binasa dalam satu malam pula. 11Bagaimana tidak Aku akan sayang kepada Niniwe, kota yang besar itu, yang berpenduduk lebih dari seratus dua puluh ribu orang, yang semuanya tak tahu membedakan tangan kanan dari tangan kiri, dengan ternaknya yang banyak?"


Allah kembali bertanya kepada Yunus, “Layakkah engkau marah karena pohon jarak itu?” Yunus menjawab bahwa ia layak marah sampai mati. Kemudian Allah menjelaskan bahwa Yunus merasa sayang kepada pohon jarak yang tidak ia tanam dan tidak ia usahakan, yang tumbuh hanya dalam satu malam dan binasa dalam satu malam pula. Jika Yunus begitu peduli terhadap sebuah pohon yang hanya memberikan kenyamanan kepadanya, maka Allah mengajarkan bahwa kepedulian-Nya jauh lebih besar terhadap manusia yang diciptakan-Nya.

Karena itu Allah berkata, “Bagaimana tidak Aku akan sayang kepada Niniwe, kota yang besar itu?” Allah bukan hanya memperhatikan 120.000 penduduk Niniwe, tetapi juga ternak mereka. Hal ini menunjukkan betapa luasnya kasih dan belas kasihan Allah terhadap seluruh ciptaan-Nya. Allah memberikan kesempatan kepada penduduk Niniwe untuk bertobat dan memperoleh keselamatan. Melalui bagian ini, kita belajar bahwa kasih Allah tidak terbatas dan tidak membeda-bedakan; kasih-Nya menjangkau manusia dan seluruh ciptaan yang berada dalam pemeliharaan-Nya.

 

Kesimpulan

Yunus 4:1-11 mengajarkan bahwa kasih Allah jauh lebih luas daripada kasih manusia. Yunus marah ketika Allah mengampuni Niniwe, lebih peduli pada kenyamanan dirinya melalui pohon jarak daripada keselamatan orang-orang Niniwe. Namun, Allah menunjukkan bahwa setiap manusia dan seluruh ciptaan-Nya berharga di hadapan-Nya. Karena itu, sebagai orang percaya kita dipanggil untuk meninggalkan sikap mementingkan diri sendiri, tidak membatasi kasih kepada orang yang kita sukai atau anggap layak, tetapi belajar memiliki hati yang penuh belas kasihan, mengasihi sesama, dan peduli terhadap seluruh ciptaan Tuhan.

Pertanyaan Diskusi

Mengapa Yunus lebih mudah merasa sayang kepada pohon jarak daripada kepada penduduk Niniwe, dan apa yang dapat kita pelajari dari sikap Yunus dalam kehidupan kita?

Jawaban:
Yunus lebih memikirkan kenyamanan dan kepentingan dirinya sendiri daripada kehidupan orang lain. Ia merasa kehilangan ketika pohon jarak yang menaunginya mati, tetapi tidak bersukacita ketika penduduk Niniwe bertobat dan diselamatkan. Dari sikap Yunus, kita belajar untuk tidak membatasi kasih hanya kepada diri sendiri, keluarga, kelompok, atau orang yang kita sukai. Kita dipanggil untuk memiliki hati seperti Allah yang mengasihi, mengampuni, dan peduli terhadap semua ciptaan-Nya.

 

 

 

Khotbah Minggu: MEMULIAKAN ALLAH DALAM SEGALA HAL. Titus 2:1-10

Pendahuluan Surat Paulus kepada Titus ditulis dalam konteks pelayanan Injil di pulau Kreta. Titus mendapat tugas untuk menata kehidupan ...