Khotbah Minggu: Kasih kepada Allah dan Sesama Manusia Lukas 10:25-37

 

Pendahuluan

Injil Lukas ditulis oleh Lukas, Tanggal Penulisan: Sekitar tahun 60-63 M. Injil Lukas adalah kitab pertama dari dua kitab yang ditulis oleh Lukas dan ditujukan kepada seorang bernama Teofilus (Luk. 1:1,3; Kis. 1:1). Lukas adalah seorang bukan Yahudi, kemungkinan berasal dari Yunani. Ia juga seorang dokter dan merupakan teman serta rekan pelayanan Paulus

Lukas adalah seorang yang terpelajar dan seorang penulis yang teliti. Lukas secara khusus menunjukkan bahwa Yesus adalah Juruselamat bagi semua orang, baik orang Yahudi maupun bukan Yahudi. Karena itu, Injil Lukas sangat penting bagi gereja yang terdiri dari berbagai bangsa. Lukas menulis Injilnya agar pembaca kitab mengetahui bahwa apa yang mereka telah dengar tentang Yesus adalah benar dan dapat dipercaya (Luk. 1:4).

 

Ilustrasi: Ateis yang Baik

Ketika seorang pria tahu ada seorang wanita tua yang tak sanggup membeli obat dan membayar sewa rumah, ia datang membantu wanita tua itu. Ia membawa wanita itu ke rumahnya dan merawatnya seperti ibunya sendiri. Ia menyiapkan tempat tidur dan makanan, membelikan obat, serta mengantar wanita tua tersebut ketika ia butuh perawatan. Ia terus merawatnya sampai wanita itu tak dapat lagi mengurus diri sendiri. Saya takjub ketika tahu bahwa pria yang baik itu seorang ateis yang fanatik!

Yesus menceritakan perumpamaan ini untuk menantang para pendengar- Nya. Cerita tentang orang Samaria dan orang ateis yang baik hati mengingatkan kita tentang tingginya standar firman Allah: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!” Roma 13:9 (ditulis oleh: Herb Vander Lugt)


Siapa orang dari Yerikho ?

Dalam perumpamaan itu, Yesus berkata: “Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho...” (Lukas 10:30). Yesus tidak menyebut nama atau identitas orang itu. Ia hanya mengatakan bahwa orang tersebut sedang melakukan perjalanan dari Yerusalem ke Yerikho. Orang itu kemudian dirampok, dipukuli, dan ditinggalkan hampir mati.

Jadi, kita tidak tahu apakah dia orang Yahudi, orang kaya, miskin, atau siapa namanya. Yang penting dalam cerita adalah bahwa dia adalah seorang manusia yang sedang membutuhkan pertolongan.

Mengapa Yesus memakai Yerikho ?

Karena jalan dari Yerusalem ke Yerikho memang merupakan perjalanan yang terkenal dan cukup berbahaya pada zaman itu. Yerusalem berada di daerah yang tinggi, sedangkan Yerikho berada jauh lebih rendah, dekat Laut Mati. Perjalanannya menurun dan melewati daerah yang berbatu dan sepi. Kondisi seperti ini membuat seseorang lebih mudah menjadi sasaran perampok. Karena itu, ketika Yesus mengatakan seorang yang “turun dari Yerusalem ke Yerikho”, pendengar-Nya dapat membayangkan sebuah perjalanan yang berisiko.

Orang-orang Yahudi terguncang oleh perumpamaan Yesus tentang orang Samaria yang baik hati. Yesus memuji kebaikan orang Samaria itu. Orang Yahudi sangat merendahkan orang Samaria, sama seperti saya yang cenderung memandang rendah orang ateis.

Seorang ahli Taurat mencobai Yesus dengan bertanya bagaimana ia dapat memperoleh hidup kekal. Lalu Yesus menanyakan apa yang dituliskan hukum Taurat tentang hal itu. Ahli Taurat tersebut menjawab bahwa ia harus mengasihi Tuhan dengan segenap hati dan mengasihi sesama seperti dirinya sendiri (Lukas 10:25-27). Lalu sang ahli Taurat bertanya kembali, “Dan siapakah sesamaku manusia?” (ayat 29). Dalam perumpamaan Yesus, orang Samaria itu adalah sesama manusia yang menunjukkan kebaikan kepada orang yang terluka.

Dari perjalanan seorang dari Yerusalem ke Yerikho Yesus sedang mengajarkan tentang kasih kepada sesama, bahkan kepada orang yang mungkin berbeda dengan kita. Marilah kita belajar dari tiga tokoh dalam teks ini yakni: Imam, Lewi dan orang Samaria.

1. Sikap Seoran imam

Imam adalah orang yang melayani dalam kehidupan keagamaan Israel, khususnya dalam pelayanan di Bait Allah.  Dalam cerita Yesus: “Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan.” (Luk. 10:31)

Yang menarik adalah: imam itu melihat orang yang terluka, tetapi tidak menolongnya. Jadi, Yesus sedang menunjukkan bahwa jabatan agama dan pengetahuan tentang Tuhan tidak otomatis membuat seseorang mengasihi sesamanya.

4. Sikap Seorang Lewi

Orang Lewi adalah anggota suku Lewi. Mereka mempunyai tugas-tugas yang berhubungan dengan pelayanan ibadah di Bait Allah. Orang Lewi juga melihat korban tersebut: “Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan.” (Luk. 10:32)  Jadi, imam dan orang Lewi sama-sama melihat, tetapi keduanya tidak menolong. Ini membuat cerita Yesus semakin kuat: orang yang dianggap dekat dengan kehidupan keagamaan justru tidak menunjukkan belas kasihan.

3. Sikap Seorang Samaria

Orang Samaria adalah penduduk Samaria. Pada zaman Yesus, hubungan antara orang Yahudi dan orang Samaria sangat buruk. Ada perbedaan sejarah, agama, dan identitas yang membuat kedua kelompok ini saling bermusuhan dan saling memandang rendah. Karena itu, ketika Yesus mengatakan: “Tetapi seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, datang ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan.”
(Luk. 10:33)
Pendengar Yesus mungkin tidak menyangka bahwa orang Samaria akan menjadi tokoh yang baik dalam cerita.  Justru orang Samaria itulah yang:  Melihat orang yang terluka, merasa kasihan, mendekatinya, membalut lukanya, menuangkan minyak dan anggur, menaikkannya ke atas keledainya, membawanya ke penginapan, dan dembayar biaya perawatannya.

Arti perumpamaannya .  Seorang ahli Taurat bertanya kepada Yesus: “Siapakah sesamaku manusia?” (Luk. 10:29).  Yesus kemudian membalik pertanyaan itu. Bukan hanya: “Siapa yang harus saya kasihi?” Tetapi: “Apakah saya bersedia menjadi sesama bagi orang yang membutuhkan?” Itulah sebabnya tokoh orang Samaria sangat penting. Yesus sedang mengajarkan bahwa kasih kepada sesama tidak boleh dibatasi oleh suku, agama, kelompok, atau permusuhan. Kasih kepada sesama menjadi bukti kasih manusia kepada Allah . Dalam Matius 25:35 tertulis: Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan

1.       Orang yang terluka: orang yang membutuhkan pertolongan.

2.       Imam: orang yang tahu tentang Tuhan tetapi tidak menolong.

3.       Orang Lewi : orang yang juga melihat kebutuhan tetapi melewatinya.

4.       Orang Samaria: orang yang dianggap musuh, tetapi justru menunjukkan kasih.

Jadi pesan Yesus:  Jangan hanya bertanya, “Siapa sesamaku?” Tetapi jadilah sesama bagi orang yang membutuhkan pertolongan. Dan Yesus menutup perumpamaan itu dengan perintah: “Pergilah, dan perbuatlah demikian!” (Lukas 10:37)

Kesimpulan

Perumpamaan Orang Samaria yang Baik Hati mengajarkan bahwa kasih kepada sesama tidak ditentukan oleh jabatan, pengetahuan agama, suku, atau hubungan kelompok, melainkan oleh kesediaan untuk menunjukkan belas kasihan dan memberikan pertolongan kepada orang yang membutuhkan. Imam dan orang Lewi melihat orang yang terluka, tetapi memilih untuk melewatinya, sedangkan orang Samaria yang dianggap sebagai musuh justru mendekati, menolong, merawat, dan menanggung biaya orang tersebut. Dengan demikian, Yesus mengajarkan bahwa menjadi sesama bukan sekadar mengetahui siapa yang harus dikasihi, tetapi bersedia menjadi sesama bagi setiap orang yang membutuhkan pertolongan. Karena itu, sebagai pengikut Kristus, kita dipanggil bukan hanya untuk mengetahui dan mengajarkan kasih, tetapi untuk melakukan kasih secara nyata, sebagaimana perintah Yesus: “Pergilah, dan perbuatlah demikian!” (Luk. 10:37).

Sunday Sermon: The Word of God Becomes My Joy,. Jeremiah 15:15–21

 

Backgound

The Book of Jeremiah contains the prophecies of the prophet Jeremiah and was written around 585-580 BC. Jeremiah’s ministry took place in the kingdom of Judah around 626-586 BC, during the final years before the destruction of Jerusalem and the Temple by Babylon. He was born in Anathoth into a priestly family and began prophesying in the thirteenth year of King Josiah’s reign. Although he supported Josiah’s reforms, Jeremiah realized that the nation had not truly repented. Therefore, he continued to warn the people about God’s judgment. After Babylon defeated Egypt at Carchemish in 605 BC and attacked Judah in 597 BC, Jerusalem was eventually destroyed in 586 BC. Jeremiah is known as the “weeping prophet” because of his suffering as he proclaimed God’s word to a hard-hearted nation, yet he remained faithful despite rejection and persecution.

Huhuo ba Luo Migu: Taroma Li Lowalangi Fa’omusὃ Dὃdὃgu. Yeremia 15:15-21

 

Famobὃrὃ

Sura Yeremia andre, wama'ele'ö Yeremia, nifasuraönia khö Barukhi (Yer. 36:1-4) me dὃfi 585-580 SM. fanuriagὃ nifalua Yeremia ibὃrὃgὃ me dὃfi 626-586 SM, fatua lὃ adudu Yerusalema ba osali Lowalangi nifalua soi Babeli. 

Tumbu Yeremia andre ono ere, tumbu ia  ba banua Anatoti, ibὃrὃgὃ halὃwὃ fanuriagὃ me no 13 fakhe sa’ae tobali razo Yosia. Huhuo Yeremia andrõ, ono Hilikia, oi ya’ira gere andrõ ba Ganatoti, ba danõ mado Mbeniyami, (Yer. 1:1). Ba Yer. 1:5 tesura: "Lõ niwõwõigu ya’ugõ na, ba dalu ninau, ba noa sa’ae u’ila’õ; ba lõ si tumbu’õ na, ba no u’amoni’õ ndra’ugõ; no uhonogõi, sama’ele’õ ndra’ugõ ba ngawalõ soi niha". Yeremia no nifotὃi göi ia sama'ele'ὃ  “sa-ngenungenu” (Nabi yang meratap) bὃrὃ famakao nitaὃgὃnia ba wa’atobali enoni.  He wa’ae so niha silὃ manema'ö ya'ia, he gὃi turia ni'fa’emania ba  Yeremia lὃ irὃi Lowalangi ba lὃ ibato wanuarigὃ taromali Lowalangi.

He wa’ae itundreheni halὃwὃ famohouni nifalua razo Yosia ba i’ila samae’ele’ὃ Yeremia andre wa lὃ nasa safὃnu famati ndraono Gizaraeli khὃ Lowalangi. andrὃ wa ifangelama ira ena’ὃ so fangesa dὃdὃ fabὃi ihuku ira Lolawalangi.  Meno sa’ae soi Babeli ikalaisi soi Misirayi me dὃfi 605 SM ba lasuwὃ gὃi Yehuda me 597 SM ba me dὃfi 586 SM adudu Yerusalaem andrὃ.

Ba Yeremia 15:15-21 hikaya famakao nitaὃgὃ ba nitὃrὃ  Yeremia bὃrὃ me lὃ farὃi ia khὃ Lowalangi.  Ba ayati 15-16 Taromali Lowalangi sitobali omusola dὃdὃ khὃ Yeremia, ayati 17-18 itutunὃ ὃsi dὃdὃnia khὃ Lowalangi ba ayati 19-21 Fangaro dὃdὃ moroi khὃ Lowangi.


Huhuo

1. Taroma Li Lowalangi Sitobali Gõ ba Omusola Dὃdὃ (ayati 15-16)

 

15 Õ’ila sa’ae, ya’ugõ Yehowa! Tõrõ tõdõu ndra’odo, tolodo ba lau mbalõgu ba zolohi ya’odo; bõi bunudo, ba wa’ebolo dõdõu andrõ [khõra]: tõrõ tõdõu, wa no bõrõ ndra’ugõ, wa ulu’i wa’aila! 16 Falukhado daroma li khõu, ba no amaedola gõgu, ba tobali fa’omuso dõdõgu daroma liu andrõ, ba fa’owuawua dõdõgu, no tõimõ mbõrõ wamotõi ya’odo, ya’ugõ Yehowa, Lowalangi ngahõnõ.

Ba ayati 15 andre i’faema angandrõwa dõdõnia khõ Lowalangi me ba wa’abu dõdõ so ia.  i’angarõfili Lowalangi; tolodo, me so solihi yaia, sedõna mamunu yaia, sinangea i’agarõfili Lowalangi bõrõ me halõwõ nifaluania, halõwõ ni be’e Lowalangi khõnia.

Fangosisi’õ Tarima Li: Takula Fa’atulὃ dὃdὃ Gurakha Zamati si lὃ Farὃi. 2 Timotius 4:6-8

 Fangosisiõ Daroma Li

 


Famobὃrὃ

Sura 2 Timoteo andre nisura Faulo khὃ Dimoteo awὃ ba lala halὃwὃ wanuriagὃ.  Sura andre isura me so ia ba gurunga, “aboto” ba dὃdὃ Waulo gὃi wa no ahatὃ inὃtὃ wa’amatenia, andrὃ wa ὃsi zura andre hulὃ menemene ba draono omasiὃ nirὃi amania.

I’andrὃ Waulo khὃ Dimoteo enaὃ  lὃ farὃi ia ba lala halὃwὃ wanuriagὃ taromali Lowalangi, ba enaὃ aro ia ba wa’atulὃ dὃdὃ, abὃlὃ ba wa’abu dὃdὃ ba lὃ farὃi ba lala halὃwo wa’a’enoni hewa’ae oya noro dὃdὃ sifalukha ero ma’ὃkhὃ (4:1-5).. andrὃ wa sura 2 Timoteo andre ὃsi nia  hewisa ba wamὃrὃgὃ lala halὃwὃ sisὃkhi ba he gὃi ba wangasiwai yaia ba zisὃkhi.

Imane Faulo: “Ba ia da’e sa’ae, ba no mufὃfὃ’ὃ khὃgu dakula ba wa’atulὃ dὃdὃ andrὃ, nibe’e Zo’aya andrv. (ayati 8a) da’a sitobali eluaha daromali andre khὃda fefu wa so luo khὃdra enoni-Nia si lὃ farὃi ba ba niha samati khὃnia.

1. Ibe’e tobali sumange kh Lowalangi fa’auri-nia Faulo (ayati 6)

6. Ya’odo sa, ba nibe’e sumange sa’ae, ba lõ ara tõ, ba irugi bawa wangefagu andrõ.

Ba ayati 6 andre itutunὃ Waulo hadia ia zalua ba wa’aurinia ba ginὃtὃ fὃna; aboto ba dὃdὃnia wa no ahatὃ inὃtὃ wa’amatenia.  Ba dὃdὃ Waulo fa’amatenia dania no amaedola  fasὃmbatania ma sumange khὃ Lowalangi sino mogaoni ya’ia, wa tola i’asiwai fahulὃsa wa’auri andre, fa’amatenia tobali tandra wano irugi amozua halὃwὃnia, ba no irorogὃ gὃi wamatinia khὃ Lowalangi.

Lala wa’auri ba lala halὃwὃ sino itὃrὃ Faulo no wondrege wa’amarase ba no itὃrὃ fa’afὃkhὃ, hegὃi noro dὃdὃ ba lala halὃwὃ ba wanuriagὃ taromali Lowalangi.  Hewa’ae simanὃ lὃ irὃi halὃwὃ sino ifaduhusi tὃdὃ khὃnia Lowalangi.

Sindruhunia fa’alὃ farὃi andrὃ tenga ha oroma ia na falukha fa’omusὃ dὃdὃ.  Fa’alὃ farὃi sindruhu oroma ba ginotὃ so abula dὃdὃ lὃ farὃi ita khὃ Lowlaangi. 

PA: Mahkota Kebenaran Upah bagi yang Setia. 2 Timotius 4:6-8


Pendahuluan

Surat 2 Timotius merupakan surat Paulus kepada Timotius, seorang rekan pelayanan dan anak rohaninya. Surat ini ditulis dalam situasi Paulus sedang berada dalam penjara dan menyadari bahwa akhir hidupnya sudah dekat. Karena itu, surat ini memiliki nuansa yang sangat pribadi dan penuh pesan terakhir.

Paulus mendorong Timotius agar tetap setia memberitakan Injil, berpegang pada kebenaran, berani menghadapi penderitaan, dan tidak meninggalkan panggilannya sekalipun menghadapi berbagai tantangan. Dengan demikian, 2 Timotius bukan hanya berbicara tentang bagaimana memulai pelayanan, tetapi terutama bagaimana menyelesaikan pelayanan dengan tetap setia kepada Tuhan.

Dalam bagian sebelumnya, Paulus telah menasihati Timotius untuk tetap memberitakan firman dan melaksanakan tugas pelayanannya dengan sungguh-sungguh (4:1-5).

Kemudian pada ayat 6-8, Paulus berbicara tentang dirinya sendiri. Ia menyadari bahwa hidupnya segera berakhir. Ia menggambarkan kematiannya sebagai persembahan yang dicurahkan bagi Tuhan dan menyatakan bahwa ia telah menyelesaikan pertandingan, mencapai garis akhir, serta memelihara iman.

Puncaknya adalah pengharapan Paulus: “Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran.” Mahkota tersebut bukan sekadar penghargaan atas keberhasilan manusia, melainkan gambaran upah dari Tuhan bagi orang yang tetap setia sampai akhir. Bahkan Paulus menegaskan bahwa mahkota itu bukan hanya untuk dirinya, tetapi juga bagi semua orang yang merindukan kedatangan Kristus.

Khotbah Minggu: Firman Tuhan Menjadi Kegirangan Bagiku. Yeremia 15:15-21


Kitab Yeremia adalah nubuatan nabi Yeremia yang penulisannya: ± 585-580 SM  Pelayanan Yeremia berlangsung di kerajaan Yehuda sekitar 626-586 SM, pada masa-masa terakhir sebelum kehancuran Yerusalem dan Bait Suci oleh Babel. Ia lahir di Anatot dari keluarga imam dan mulai bernubuat pada tahun ke-13 pemerintahan Raja Yosia. Meskipun mendukung pembaharuan Yosia, Yeremia menyadari bahwa bangsa itu belum mengalami pertobatan sejati, sehingga ia terus memperingatkan tentang hukuman Allah. Setelah Babel mengalahkan Mesir di Karkemis pada 605 SM dan menyerang Yehuda pada 597 SM, Yerusalem akhirnya dihancurkan pada 586 SM. Yeremia dikenal sebagai “nabi peratap” karena penderitaannya ketika menyampaikan firman Allah kepada bangsa yang keras hati, tetapi ia tetap setia meskipun ditolak dan dianiaya.

Kitab ini ditulis berdasarkan nubuat Yeremia yang didiktekan kepada Barukh (Yer. 36:1-4). Setelah gulungan pertama dibakar Raja Yoyakim, Yeremia mendiktekan kembali nubuat tersebut dengan tambahan. Kemungkinan besar Barukh menyusun bentuk akhir kitab ini sekitar 585-580 SM. Kitab Yeremia menegaskan kesetiaan sang nabi sekaligus kepastian hukuman Allah bagi umat yang menolak bertobat.

Konteks Yeremia 15:15-21 adalah keluhan pribadi Yeremia di tengah penderitaan karena panggilan kenabiannya. Bagian ini muncul setelah Yeremia menyampaikan berita penghukuman Allah atas Yehuda yang terus memberontak. Ia mengalami penolakan, celaan, ancaman, dan kesepian karena menyampaikan firman Tuhan. Dalam ayat 15-18, Yeremia mencurahkan isi hatinya kepada Tuhan: ia mengasihi firman Allah (ay. 16), tetapi justru karena firman itu ia harus menanggung penderitaan dan hidup terpisah dari banyak orang (ay. 17-18). Bahkan dalam penderitaannya, ia merasa seolah-olah Tuhan tidak dapat diandalkan. Ayat 19-21 merupakan jawaban Tuhan kepada Yeremia: Tuhan memanggilnya untuk kembali teguh kepada-Nya, tetap menyampaikan yang benar dan berharga, serta tidak mengikuti jalan bangsa yang menolak Allah. Tuhan kemudian menjanjikan bahwa Yeremia akan menjadi “tembok berkubu dari tembaga”, sehingga sekalipun orang-orang memeranginya, mereka tidak akan mengalahkannya karena Tuhan menyertai dan menyelamatkannya. Jadi, konteks utama Yeremia 15:15-21 adalah pergumulan seorang nabi yang menderita karena kesetiaannya kepada firman Allah, dan peneguhan Tuhan agar ia tetap teguh dalam panggilannya.

Khotbah Minggu: Kasih kepada Allah dan Sesama Manusia Lukas 10:25-37

  Pendahuluan Injil Lukas ditulis oleh Lukas, Tanggal Penulisan: Sekitar tahun 60-63 M. Injil Lukas adalah kitab pertama dari dua kitab ...