Kamis, 23 April 2026

Hatiku Bersukacita dan Jiwaku Bersorak-sorak (Kisah Para Rasul 2:22-28)

Khotbah Minggu 26 April 2026

Pendahaluan

Bagian firman Tuhan ini membawa kita kepada inti dari Injil: tentang Yesus dari Nazaret yang datang ke dunia, mati disalibkan, dan dibangkitkan oleh Allah. Dalam khotbah Rasul Petrus pada hari Pentakosta, ia menjelaskan bahwa semua yang terjadi atas Yesus bukanlah kebetulan, melainkan bagian dari rencana Allah yang kekal.

Yesus dinyatakan di tengah manusia melalui mujizat, tanda, dan kuasa Allah. Namun manusia menolak-Nya dan menyalibkan-Nya. Meski demikian, kematian bukan akhir dari cerita, sebab Allah membangkitkan Dia dan mematahkan kuasa maut. Kebangkitan Kristus menjadi bukti bahwa dosa, penderitaan, dan kematian tidak memiliki kemenangan terakhir.

Nas ini juga mengingatkan kita bahwa sejak dahulu Daud telah menubuatkan pengharapan akan Mesias yang tidak akan dibiarkan binasa. Di dalam Kristus, kita menemukan jalan kehidupan, sukacita sejati, dan pengharapan yang kokoh.

Melalui firman ini, kita diajak untuk melihat bahwa Yesus bukan hanya tokoh sejarah, tetapi Tuhan yang hidup, yang berkuasa menyelamatkan dan memberi hidup baru bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya.

 I. Kuasa Kebangkitan Mengalahkan Maut (ayat 22-23)

Pada hari Pentakosta, Petrus berdiri di hadapan orang banyak dan berkata, “Hai orang-orang Israel, dengarlah perkataan ini” (ayat 22). Melalui kalimat ini, Petrus memanggil bangsa itu untuk memberi perhatian penuh kepada kebenaran yang akan ia sampaikan. Ia ingin mereka membuka hati dan pikiran untuk memahami karya Allah yang sedang dinyatakan.

Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya. (1 Tawarikh 16:28-36)

 aPendahuluan

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, setiap orang tentu pernah mengalami masa-masa sulit dalam hidup. Ada saat ketika doa belum terjawab, usaha belum berhasil, kesehatan menurun, keluarga menghadapi pergumulan, dan masa depan terasa tidak pasti. Dalam keadaan seperti itu, sering kali ucapan syukur menjadi hal yang paling sulit dilakukan. Bibir lebih mudah mengeluh daripada memuji Tuhan.

Namun firman Tuhan hari ini mengajarkan sesuatu yang sangat penting: syukur tidak bergantung pada keadaan, tetapi bergantung pada siapa Tuhan itu. Dalam 1 Tawarikh 16:28-36, umat Israel diajak untuk memuji dan bersyukur kepada Tuhan bukan karena hidup mereka selalu mudah, tetapi karena Tuhan itu baik, berkuasa, adil, dan kasih setia-Nya kekal selamanya.

Ketika Daud membawa tabut Allah dan umat berkumpul memuji Tuhan, mereka sedang menyatakan bahwa Tuhan tetap layak dipuji dalam segala musim kehidupan. Demikian juga kita hari ini. Apa pun keadaan kita, selalu ada alasan untuk bersyukur kepada Tuhan.

Hari ini kita akan belajar tiga alasan mengapa kita harus tetap bersyukur kepada Tuhan.

 

1. Bersyukurlah karena TUHAN layak menerima kemuliaan dan penyembahan (ay. 28-29)

28Kepada TUHAN, hai suku-suku bangsa, kepada TUHAN sajalah kemuliaan dan kekuatan!  29Berilah kepada TUHAN kemuliaan nama-Nya,  bawalah persembahan dan masuklah menghadap Dia! Sujudlah menyembah kepada TUHAN dengan berhiaskan kekudusan.

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, bagian firman ini dimulai dengan sebuah ajakan yang tegas: “Hai kaum-kaum bangsa, berilah kepada TUHAN, berilah kepada TUHAN kemuliaan dan kekuatan!” Ini berarti bahwa setiap manusia, setiap bangsa, setiap suku, dipanggil untuk mengakui bahwa hanya Tuhan yang layak menerima hormat dan pujian. Tidak ada pribadi, jabatan, kekayaan, atau kuasa dunia ini yang pantas mengambil tempat Tuhan dalam hidup kita.

Senin, 20 April 2026

Mengenal Alkitab

 Oleh: Pdt. Juliman Harefa


Alkitab terdiri dari 66 kitab, yang dimana terdiri dari 2 perjanjianyaitu Perjanjian Lama (PL) dan Perjanjian Baru (PB). Kitab PL terdiri dari 39 kitab dan kitab PB terdiri dari 27 kitab. 

Kitab Perjanjian Lama

Kitab ini menyatakan perjanjian anugerah Allah sebelum kedatangan Yesus Kristus ke dalam dunia ini. yang menjadi pertanyaannya ialah apa yang merupakan perjanjian lama?

  1. Allah memberikan perjanjian-Nya khusus kepada satu bangsa, yaitu keturunan Abraham, yang kemudian disebut orang Ibrani atau bangsa Israel atau orang Yahudi. Allah memutuskan untuk menyatakan diriNya kepada segenap umat manusia melalui bangsa itu. Allah menentukan hal ini karena kasih-Nya kepada mereka, bukan karena mereka lebih baik dari bangsa lain.
  2. Allah berjanji kepada mereka bahwa: (a) Ia akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat milik Allah sendiri; (b) Tanah kanaan (yang juga disebut Palestina, Israel atau Yudea di Timur Tegah) akan menjadi tempat kediaman mereka; dan (c) keturunan Abraham akan menjadi bangsa yang besar.
  3. Allah menentukan cara hidup (amanat hidup) bagi mereka, dengan perkataan Nabi Musa, Allah memberikan hukum-hukum da peraturan-peraturan kepadabangsa Israel supaya menjadi nyata kepada semua bangsa, bahwa Allah menyatakan diriNya melalui bangsa Israel.

 

Kitab Perjanjian Baru

             Kita telah mengetahui bahwa sebelumnya anugerah Allah dalam Perjanjian Lamaditolak oleh bangsa Israel, dalam berbagai cara bangsa Israel menolak anugerah Allah kepada mereka:

  1. Mereka tidak setia kepada Allah, dan mulai menyembah berhala dan dewa-dewi bangsa lain
  2. Mereka tidak taat kepada peraturan dan ketetapan Allah
  3. Mereka lupa bahwa kedudukan mereka itu hanyalah karena kasih Allah.

        Dari penjelasan di atas kita dapat mengethui bahwa Bangsa itu mulai menyalahgunakan perintah Allah untuk memaksa Allah memberkati mereka. Ternyata mereka tidak dapat melaksanakan segala sesuatu yang diperintahkan Allah. Karena itu, perlulah suatu perjanjian yang baru. Yesus Kristus lahir di Israel sebagai Yahudi. Ia menyatakan Allah secara sempurna. Iamenjadi satu-satunya jalan bagi manusia dari semua bangsa untuk mengenal Allah dan menerima anugerah-Nya. Kedatangan Yesus membawa perjanjian yang baru kepada manusia. Perjanjian itu dinyatakan dalam kitab Perjanjian Baru. Untuk itu, yang merupakan perjanjian baru ialah:

1)      Allah memberikan perjanjian-Nya kepada manusia dan setiap bangsa yang percaya kepada Yesus Kristus sebagai juruslamat satu-satunya. Allah memanggil manusia untuk mengenal-Nya dengan dipersatukan oleh iman dalam Yesus Kristus yang mati di kayu salib dan telah bangkit kembali.

2)      Allah berjanji kepada mereka bahwa: (a) Ia akan menjadi Allah mereka dan mereka menjadi umat-Nya untuk selama-lamanya; (b) Dosa mereka diampuni dan hidup yang kekal dianugerahkan kepada mereka; (c) mereka dijadikan anak-anak Allah dan pewaris-pewaris-Nya.

3)   Allah mengutus RohNya untuk mendiami setiap orang yang percaya kepada Kristus, sehingga hidupnya menyatakan bahwa orang itu mengenal Allah dan telah memperolehhidup daripada-Nya.

 

Sabtu, 18 April 2026

Bergembira Dalam Tuhan (Habakuk 3:10-19)

 

Khotbah Minggu 19 April 2026


 Doa nabi Habakuk

10melihat Engkau, gunung-gunung gemetar,  air bah menderu lalu, samudera raya memperdengarkan suaranya   dan mengangkat tangannya.   11Matahari, bulan berhenti   di tempat kediamannya, karena cahaya anak-anak panah-Mu   yang melayang laju, karena kilauan   tombak-Mu yang berkilat.  12Dalam kegeraman Engkau melangkah melintasi bumi, dalam murka Engkau menggasak   bangsa-bangsa.  13Engkau berjalan maju  untuk menyelamatkan  umat-Mu, untuk menyelamatkan orang yang Kauurapi.  Engkau meremukkan   bagian atas rumah orang-orang fasik dan Kaubuka dasarnya sampai batu yang penghabisan. Sela.  14Engkau menusuk dengan anak panahnya sendiri kepala lasykarnya, yang mengamuk untuk menyerakkan aku  dengan sorak-sorai, seolah-olah mereka menelan orang tertindas   secara tersembunyi.  15Dengan kuda-Mu, Engkau menginjak laut,  timbunan air  yang membuih.  16Ketika aku mendengarnya, gemetarlah hatiku, mendengar bunyinya, menggigillah bibirku; tulang-tulangku seakan-akan kemasukan sengal, dan aku gemetar   di tempat aku berdiri; namun dengan tenang  akan kunantikan hari kesusahan, yang akan mendatangi bangsa yang bergerombolan menyerang kami.  17Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan,  kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang,   18namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN,  beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan  aku.  19ALLAH Tuhanku itu kekuatanku:   Ia membuat kakiku seperti kaki rusa, Ia membiarkan aku berjejak di bukit-bukitku.  (Untuk pemimpin biduan. Dengan permainan kecapi).

 

Latar belakang Kitab

Yang dapat kita ketahui dengan pasti tentang Habakuk adalah bahwa ia seorang nabi yang hidup pada periode sebelum pembuangan dalam sejarah Israel. Makna namanya masih diperdebatkan. Nama ini mungkin berasal dari kata kerja Ibrani ḥābaq, yang berarti “melipat tangan” atau “memeluk.” Dalam hal ini, namanya dapat diartikan sebagai “orang yang memeluk” atau “orang yang dipeluk.”

Rabu, 15 April 2026

Hatiku Memuliakan Tuhan Kerena Ia Menghidupkanku (Lukas 1:46-55)

 Bahan PA  

Nyanyian pujian Maria

46Lalu kata Maria: "Jiwaku memuliakan Tuhan,  47dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku , 48sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya.  Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia,  49karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar  kepadaku dan nama-Nya  adalah kudus.  50Dan rahmat-Nya turun-temurun  atas orang yang takut akan Dia. 51Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya  dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya;  52Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah;   53Ia melimpahkan segala yang baik   kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa;  54Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya, 54seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya   untuk selama-lamanya."

  

 Pendahuluan

 Injil Lukas adalah kitab pertama dari kedua kitab yang dialamatkan kepada seorang bernama Teofilus (Luk 1:1,3; Kis 1:1).  Lukas adalah seorang petobat Yunani, satu-satunya orang bukan Yahudi yang menulis sebuah kitab di dalam Alkitab. Roh Kudus mendorong dia untuk menulis kepada Teofilus (artinya, "seorang yang mengasihi Allah") guna memenuhi suatu kebutuhan dalam jemaat yang terdiri dari orang bukan Yahudi akan kisah yang lengkap mengenai permulaan kekristenan. Lukas menulis kisah tentang kelahiran, kehidupan dan pelayanan, kematian, kebangkitan, dan kenaikan Yesus (Injil Lukas)

Lukas 1:46–55 merupakan pujian yang dinaikkan kepada Tuhan oleh Maria saat ia mengunjungi Elisabet. Bayi di dalam rahim Elisabet melonjak ketika mendengar salam Maria (ay. 41, 44). Lalu Elisabet mengucapkan berkat bagi Maria karena ia telah dipilih menjadi ibu Tuhan (ay. 42–43), serta karena Maria percaya bahwa perkataan Allah akan digenapi (ay. 45).

 Meskipun apa yang akan terjadi pada Maria tampak mustahil, Elisabet tetap percaya akan kasih setia Allah. Oleh karena itu, ia tidak cemburu meskipun mengetahui bahwa Maria menerima berkat yang lebih besar. Hal ini membuat Maria bersukacita atas karya besar Allah bagi dunia melalui dirinya. Sukacita ini diekspresikan dalam pujian yang sering disebut Magnificat (yang berarti “memuliakan” dalam bahasa Latin, diambil dari kata pertama pujian Maria).

Maria memuliakan Allah karena karya-Nya dalam hidupnya (ay. 46–49). Ia yang rendah telah diperhatikan oleh Allah, sehingga “segala keturunan akan menyebutnya berbahagia.” Maria juga memuji karya Allah bagi orang-orang yang takut akan Dia; sebaliknya, Ia mempermalukan orang-orang yang melawan-Nya (ay. 50–53). Allah dipuji karena telah menggenapi harapan umat-Nya melalui Putra yang akan dilahirkan oleh Maria (ay. 54–55). 

Berikut adalah uraian dari Firman Tuhan tentang tema: Hatiku  Memuliakan Tuhan Kerena Ia Menghidupkanku.

 

Selasa, 07 April 2026

Nasihat untuk Kekudusan Hidup dan Ketaatan kepada Tuhan (Imamat 20:1-7)

 

Bahan PA: Imamat 20:1-7



Pendahuluan

Kitab Imamat. Kitab Imamat berisi peraturan mengenai kehidupan dan penyembahan umat Allah. Sebagian besar isinya berkaitan dengan imam-imam dari suku Lewi. Namun, pengulangan kalimat “Berbicaralah kepada orang Israel…” menunjukkan bahwa kitab ini ditujukan kepada seluruh umat Israel.

Kitab Imamat merupakan bagian dari Pentateukh (lima kitab pertama Alkitab). Kitab Keluaran menceritakan bagaimana Allah membebaskan Israel dari Mesir dan mengikat perjanjian dengan mereka. Sementara itu, Imamat menjelaskan bagaimana kehidupan dan penyembahan umat perjanjian itu diatur.

Kitab Imamat tidak secara eksplisit menyebutkan nama penulisnya. Sebagian besar isinya diyakini berasal dari firman Allah yang disampaikan kepada Musa di Gunung Sinai. Namun, waktu dan proses penyusunan akhir kitab ini tidak dapat dipastikan secara detail.

 

Isi Kitab Imamat. Kitab Imamat terutama berisi hukum dan peraturan. Namun, terdapat juga bagian naratif yang menunjukkan bahwa hukum-hukum tersebut berkaitan dengan kehidupan nyata umat Israel.  Secara garis besar, kitab ini terbagi menjadi dua bagian:

  1. Pemulihan hubungan dengan Allah
    (peraturan tentang korban dan penyucian)
  2. Hidup sebagai umat Allah
    (peraturan tentang kekudusan hidup)

Hukum Dalam Kitab Imamat.  Sebagian besar hukum dalam Imamat berkaitan dengan:

  • Upacara keagamaan
  • Kebersihan
  • Moral hidup

Semua hukum ini mencerminkan kehendak Allah dan harus ditaati. Dalam Perjanjian Baru, pengorbanan Kristus telah menggenapi sistem korban, sehingga hukum korban tidak lagi berlaku. Namun, hukum-hukum tersebut tetap penting untuk memahami makna kematian Kristus.

Jenis-jenis Korban dalam Imamat

  1. Korban Persembahan (memuliakan Allah)
    • Korban bakaran: binatang dibakar seluruhnya
    • Korban sajian: persembahan non-hewani
  2. Korban Keselamatan (memelihara hubungan dengan Allah)
    • Korban perdamaian: sebagian dibakar, sebagian dimakan bersama
  3. Korban Penyucian (pengampunan dosa)
    • Korban penghapus dosa
    • Korban penebus salah
    • Korban pentahbisan

 

I. Peringatan Tegas Allah: Hukuman atas Dosa Mempersembahkan Anak kepada Molokh (ayat 1-3)

“TUHAN berfirman kepada Musa: ‘Engkau harus berkata kepada orang Israel: Setiap orang, baik dari antara orang Israel maupun dari antara orang asing yang tinggal di Israel, yang menyerahkan anaknya kepada Molokh, pastilah ia dihukum mati; rakyat negeri harus melontari dia dengan batu. Aku sendiri akan menentang orang itu dan melenyapkannya dari tengah-tengah bangsanya, oleh karena ia telah menyerahkan anaknya kepada Molokh, sehingga ia menajiskan tempat kudus-Ku dan melanggar kekudusan nama-Ku.’”

Musa diperintahkan untuk menyampaikan kembali hukum Tuhan kepada bangsa Israel, sekalipun hukum itu telah difirmankan sebelumnya.  Di antara hukum tersebut, terdapat dosa besar yang diancam dengan hukuman mati, yaitu orang tua yang mempersembahkan anak-anak mereka kepada Molokh. Tindakan ini merupakan bentuk penyembahan berhala yang sangat keji dan merendahkan martabat manusia, karena orang tua justru menjadi pelaku kehancuran bagi anak-anaknya sendiri. Praktik ini menunjukkan betapa manusia telah kehilangan akal sehat dan kasih alami, bahkan menyerahkan diri kepada kuasa jahat yang menginginkan penderitaan dan kehancuran manusia.

Perbuatan ini tidak dapat dibenarkan dengan alasan apa pun, dan tidak bisa disamakan dengan kisah Abraham yang mempersembahkan Ishak, karena Allah sendiri menghentikan tindakan Abraham. Sebaliknya, penyembahan kepada Molokh adalah bentuk pemberontakan yang nyata terhadap Allah. Oleh sebab itu, Allah menetapkan hukuman yang sangat keras: pelakunya harus dihukum mati, bahkan jika manusia lalai menghukumnya, Allah sendiri akan bertindak dan melenyapkannya.

Dosa ini bukan hanya pelanggaran moral, tetapi juga menajiskan kekudusan Allah dan melanggar nama-Nya yang kudus. Terlebih lagi bagi bangsa Israel, yang telah mengenal Allah, perbuatan ini menjadi dosa yang lebih berat karena mereka tetap datang beribadah kepada Tuhan sambil hidup dalam penyembahan berhala. Hal ini menunjukkan adanya kemunafikan rohani, seolah-olah Allah dapat disamakan dengan berhala.

Dengan demikian, melalui hukum ini Allah menegaskan bahwa tidak ada dosa yang tersembunyi dari hadapan-Nya, dan tidak ada kompromi terhadap kejahatan. Umat Tuhan dipanggil untuk hidup dalam kekudusan yang sejati, menjauhkan diri dari segala bentuk penyembahan berhala, dan menjaga kemurnian iman di hadapan Allah yang kudus.

 

Senin, 06 April 2026

Hidup Dalam Kekudusan (1 Pet. 1:13-16

 Khotbah Minggu 12 April 2026




1 Petrus 1:13-16

13 Sebab itu siapkanlah akal budimu, waspadalah dan letakkanlah pengharapanmu seluruhnya atas kasih karunia yang dianugerahkan kepadamu pada waktu penyataan Yesus Kristus. 14 Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu, 15 tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, 16 sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.

Pedahuluan

Kitab 1 Petrus  mengajarkan orang percaya untuk memahami ajaran Kristen, hidup kudus, dan tetap setia di tengah penderitaan, dalam kehidupan orang percaya, kekudusan bukanlah pilihan tambahan, melainkan inti dari panggilan Kristen itu sendiri.

Rasul Petrus, dalam 1 Petrus 1:13-16, menuliskan nasihat yang sangat penting kepada jemaat yang telah ia gambarkan sebelumnya sebagai umat yang menerima anugerah besar dari Allah.

Melalui bagian ini, Petrus menunjukkan bahwa anugerah Allah tidak hanya mengubah status manusia, tetapi juga menuntut perubahan hidup yang nyata. Kekristenan bukan sekadar pengetahuan rohani atau pengakuan iman, tetapi suatu kehidupan yang diarahkan kepada kesalehan dan kekudusan.

Karena itu, nasihat yang diberikan Petrus bergerak dari dalam ke luar: dimulai dari pembaharuan akal budi, diwujudkan dalam ketaatan sebagai anak-anak Allah, dan mencapai puncaknya dalam panggilan untuk hidup kudus seperti Allah yang kudus. Dengan demikian, kehidupan orang percaya adalah respons yang utuh terhadap anugerah Allah yang telah diterima.

Di sini Rasul Petrus memulai dengan nasihat-nasihatnya kepada orang-orang yang disuratinya itu, yang sebelumnya ia gambarkan berada dalam keadaan mulia. Dengan begitu, ia mengajar kita bahwa Kekristenan adalah ajaran yang sesuai dengan kesalehan, yang dirancang untuk membuat kita bukan hanya lebih bijak, melainkan juga lebih baik.

 

I. Akal Budi yang Kudus (Ay. 13)

13 Sebab itu siapkanlah akal budimu, waspadalah dan letakkanlah pengharapanmu seluruhnya atas kasih karunia yang dianugerahkan kepadamu pada waktu penyataan Yesus Kristus.

Kalimat Sebab itu siapkanlah akal budimu menunjukkan bahwa kita demikian dihormati dan dibedakan, siapkanlah akal budimu karena adanya perjalanan yang harus kita tempuh, pertandingan yang harus kita ikuti, peperangan yang harus kita menangkan, dan pekerjaan besar yang harus kita lakukan. Sebagaimana seorang pelancong, petanding, prajurit, dan pekerja mempersiapkan diri serta mengencangkan pakaian mereka yang panjang dan longgar supaya lebih siap, cepat, dan sigap dalam tugas mereka, demikian pula dengan pikiranmu dan segala perasaan yang berdiam di dalamnya: siapkanlah semuanya itu, bereskanlah, dan jangan biarkan menggantung longgar atau terabaikan. Artinya agar kita sebagai orang percaya mengencangkan apa yang longgar, dan mengarahkan seluruh kekuatan serta daya pikiranmu untuk menjalankan kewajiban juga melepaskan diri dari segala sesuatu yang dapat menghambat, dan bertekad untuk tetap taat.

Dalam hal ini Petrus menasehatkan: Waspadalah terhadap segala bahaya dan musuh rohanimu. Jangan berlebih-lebihan dalam makan, minum, berpakaian, berlibur, bekerja, maupun dalam seluruh perilakumu. Waspadalah juga dalam berpikir dan bertindak, serta rendahkanlah hatimu dalam menilai dirimu sendiri.”

Tuhan Membangkitkan Orang Mati

Paskah 2: 

Yesaya 26:17-19

17 Seperti perempuan yang mengandung yang sudah dekat waktunya untuk melahirkan,  menggeliat sakit, mengerang karena sakit beranak, demikianlah tadinya keadaan kami di hadapan-Mu, ya TUHAN: 18 Kami mengandung, kami menggeliat sakit, tetapi seakan-akan kami melahirkan angin: kami tidak dapat mengadakan keselamatan  di bumi, dan tiada lahir penduduk dunia. 19 Ya, TUHAN, orang-orang-Mu yang mati  akan hidup pula, mayat-mayat mereka akan bangkit pula. Hai orang-orang yang sudah dikubur di dalam tanah   bangkitlah dan bersorak-sorai! Sebab embun TUHAN ialah embun terang, dan bumi akan melahirkan arwah  kembali.

Pendahuluan

Paskah kita tidak hanya merayakan kebangkitan Yesus Kristus sebagai peristiwa sejarah, tetapi juga sebagai kuasa Allah yang masih bekerja sampai hari ini. Namun realitas hidup sering kali berbeda. Ada saat-saat di mana kita sudah berdoa, berjuang, dan berharap, tetapi yang kita alami justru penderitaan. Bahkan lebih berat lagi, ada harapan-harapan yang ternyata kosong seolah-olah kita “melahirkan angin.”

Firman Tuhan dalam Kitab Yesaya 26:17–19 membawa kita masuk dalam tiga realitas hidup iman: penderitaan, kekecewaan, dan akhirnya kebangkitan oleh kuasa Tuhan. Di sinilah kita belajar bahwa Tuhan tidak pernah berhenti bekerja, bahkan ketika manusia sudah tidak mampu lagi berharap.

 I. Umat Tuhan Menghadapi Penderitaan (ayat 17)

“Seperti perempuan yang mengandung yang sudah dekat waktunya untuk melahirkan, menggeliat sakit dan mengerang karena sakit beranak, demikianlah keadaan kami di hadapan-Mu, ya TUHAN.”

Mereka mengalami penderitaan yang sangat dalam, seperti seorang perempuan yang hendak melahirkan. Mereka berkata, “Kami sudah seperti perempuan yang hendak melahirkan, yang mengerang karena sakit beranak. Dengan kecemasan dan upaya yang sangat besar, kami telah berusaha menolong diri kami sendiri, tetapi masalah-masalah kami justru semakin bertambah karena usaha-usaha itu.” Keadaan ini mengingatkan pada saat Musa datang untuk membebaskan Israel, namun justru beban mereka semakin berat, bahkan jumlah batu bata yang harus mereka buat dilipatgandakan.

Doa-doa mereka lahir dari penderitaan yang mendalam. Jeritan mereka menjadi kuat dan nyaring, seperti teriakan seorang perempuan yang sedang bersalin. “Demikianlah keadaan kami di hadapan-Mu, ya TUHAN!” Namun, di tengah penderitaan itu, ada penghiburan: Allah melihat mereka. Ia tidak menutup mata terhadap kesesakan mereka. Ia mengenal rasa sakit dan mendengar doa-doa mereka. Seperti tertulis dalam Kitab Mazmur 38:10, “Tuhan, Engkau mengetahui segala keinginanku, dan keluhku pun tidak tersembunyi bagi-Mu.”

Setiap kali mereka datang kepada Tuhan dengan keluhan dan permohonan, mereka merasakannya dengan sangat mendalam seperti seorang perempuan yang sedang menanggung sakit bersalin.

Sabtu, 04 April 2026

Yesus Bangkit pada Hari yang Ketiga

 Khotbah:  PASKAH

1 Korintus 15:1-11


Pendahuluan

Korintus, sebuah kota kuno di Yunani, dalam banyak hal merupakan kota metropolitan Yunani yang terkemuka pada zaman Paulus. Seperti halnya banyak kota yang makmur pada masa kini, Korintus menjadi kota yang angkuh secara intelek, kaya secara materi, dan bejat secara moral. Segala macam dosa merajalela di kota ini yang terkenal karena perbuatan cabul dan hawa nafsu.

Bersama dengan Priskila dan Akwila (1Kor 16:19) dan rombongan rasulinya sendiri (Kis 18:5), Paulus mendirikan jemaat Korintus itu selama delapan belas bulan pelayanannya di Korintus pada masa perjalanan misinya yang kedua (Kis 18:1-17). Jemaat di Korintus terdiri dari beberapa orang Yahudi tetapi kebanyakan adalah orang bukan Yahudi yang dahulu menyembah berhala. Setelah Paulus meninggalkan Korintus, berbagai macam masalah timbul dalam gereja yang masih muda itu, diantaranya adalah keraguan akan kepastian kebangakitan Tuhan Yesus pada hari yang ketiga.  

Nats 1 Korintus 15:1-11 menghilangkan keraguan tersebut di atas.  Yesus bangkit pada hari yang ketiga ini merupkan bukti tertulis dalam Alkitab bahwa pertama, kebangkitan Yesus merupakan bukti Iman (ayat 1-2) kedua, adanya saksi mata kebangkitan Yesus tersebut (ayat 3-9) dan yang ketiga, kebangkitan Yesus merupakan kasih karunia Allah bagi orang percaya (Ayat 10-11)

1 Korintus 15:1-11

1. Dan sekarang, saudara-saudara, aku mau mengingatkan kamu kepada Injil yang aku beritakan kepadamu dan yang kamu terima, dan yang di dalamnya kamu teguh berdiri. 2. Oleh Injil itu kamu diselamatkan, asal kamu teguh berpegang padanya, seperti yang telah kuberitakan kepadamu kecuali kalau kamu telah sia-sia saja menjadi percaya. 3.Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, 4. bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci; 5.bahwa Ia telah menampakkan diri kepada Kefas dan kemudian kepada kedua belas murid-Nya. 6. Sesudah itu Ia menampakkan diri kepada lebih dari lima ratus saudara sekaligus; kebanyakan dari mereka masih hidup sampai sekarang, tetapi beberapa di antaranya telah meninggal. 7. Selanjutnya Ia menampakkan diri kepada Yakobus, kemudian kepada semua rasul. 8. Dan yang paling akhir dari semuanya Ia menampakkan diri juga kepadaku, sama seperti kepada anak yang lahir sebelum waktunya. 9. Karena aku adalah yang paling hina dari semua rasul, bahkan tidak layak disebut rasul, sebab aku telah menganiaya Jemaat Allah. 10. Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku. 11. Sebab itu, baik aku, maupun mereka, demikianlah kami mengajar dan demikianlah kamu menjadi percaya.

 

Khotbah

I. Kebangkitan Yesus sebagai Bukti Iman (1 Korintus 15:1-2)

1. Dan sekarang, saudara-saudara, aku mau mengingatkan kamu kepada Injil yang aku beritakan kepadamu dan yang kamu terima, dan yang di dalamnya kamu teguh berdiri. 2. Oleh Injil itu kamu diselamatkan, asal kamu teguh berpegang padanya, seperti yang telah kuberitakan kepadamu kecuali kalau kamu telah sia-sia saja menjadi percaya.

Kamis, 02 April 2026

Sungguh Yesus adalah Anak Allah (Jumat Agung)

 Khotbah:  Jumaat Agung


Matius 27: 45-56



45 Mulai dari jam dua belas kegelapan  meliputi seluruh daerah itu sampai jam tiga. 46 Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: "Eli, Eli, lama sabakhtani?" Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku  ?

47 Mendengar itu, beberapa orang yang berdiri di situ berkata: "Ia memanggil Elia." 48 Dan segeralah datang seorang dari mereka; ia mengambil bunga karang, mencelupkannya ke dalam anggur asam,   lalu mencucukkannya pada sebatang buluh dan memberi Yesus minum.

49 Tetapi orang-orang lain berkata: "Jangan, baiklah kita lihat, apakah Elia datang untuk menyelamatkan Dia." 50 Yesus berseru pula  dengan suara nyaring lalu menyerahkan nyawa-Nya.51 Dan lihatlah, tabir Bait Suci   terbelah dua   dari atas sampai ke bawah dan terjadilah gempa bumi, dan bukit-bukit batu terbelah,  52 dan kuburan-kuburan terbuka dan banyak orang kudus yang telah meninggal bangkit  . 53 Dan sesudah kebangkitan Yesus, merekapun keluar dari kubur, lalu masuk ke kota kudus  dan menampakkan diri kepada banyak orang. 54 Kepala pasukan dan prajurit-prajuritnya yang menjaga  Yesus menjadi sangat takut ketika mereka melihat gempa bumi dan apa yang telah terjadi, lalu berkata: "Sungguh, Ia ini adalah Anak Allah. " 55 Dan ada di situ banyak perempuan yang melihat dari jauh, yaitu perempuan-perempuan yang mengikuti Yesus dari Galilea untuk melayani   Dia. 56 Di antara mereka terdapat Maria Magdalena, dan Maria ibu Yakobus dan Yusuf, dan ibu anak-anak Zebedeus. 

 

Pendahuluan

Penyaliban merupakan hukuman paling kejam dalam kekuasaan Romawi, biasanya dijatuhkan kepada penjahat berat dan pemberontak. Dalam peristiwa ini, Yesus disalibkan bersama para penjahat, sehingga Ia diperlakukan sebagai orang berdosa, padahal Ia tidak bersalah.  Peristiwa ini terjadi menjelang perayaan Paskah Yahudi, suatu momen penting yang memperingati pembebasan Israel dari Mesir. Dalam konteks ini, kematian Yesus memiliki makna teologis yang dalam, karena Ia dipahami sebagai Anak Domba Paskah yang dikorbankan untuk menghapus dosa manusia.

Dalam Matius 27:54 terdapat pengakuan yang sangat penting: kepala prajurit dan para tentara berkata, “Sungguh, Ia ini Anak Allah.” Pengakuan ini muncul setelah mereka menyaksikan berbagai peristiwa luar biasa kegelapan, gempa bumi, dan cara Yesus mati. Mereka menjadi takut dan menyadari bahwa Yesus bukanlah orang biasa.  Yang menarik, pengakuan ini justru datang dari seorang perwira Romawi, bukan dari pemimpin agama Yahudi. Ini menunjukkan bahwa di tengah penolakan banyak orang, masih ada yang melihat dan mengakui kebenaran tentang Yesus.

Dengan demikian, pengakuan ini menjadi kesaksian bahwa di balik penderitaan dan kematian-Nya, terucap pengakuan: Sunggu Yesus adalah Anak Allah.

I.   Yesus Kristus Menanggung Dosa Manusia (Ayat 45-46)

Kegelapan yang terjadi dari jam dua belas hingga jam tiga sore, sebagaimana juga dicatat dalam Lukas 23:45, merupakan fenomena yang tidak dapat dijelaskan sebagai gerhana matahari biasa, mengingat peristiwa tersebut berlangsung pada masa bulan purnama. Oleh karena itu, kegelapan ini dipahami sebagai tanda kosmis yang bersifat teologis.

Rabu, 01 April 2026

Kehendak Allah Bapa yang Jadi

 

Khotbah:  Kamis Putih

Markus 14:32-42

Pendahuluan

Taman Getsemani adalah tempat di mana kita melihat sisi kemanusiaan Yesus yang paling dalam sekaligus ketaatan-Nya yang paling sempurna. Di tempat ini, Yesus tidak sedang melakukan mujizat, tidak sedang mengajar orang banyak, tetapi sedang bergumul dalam doa menghadapi penderitaan yang akan datang.  Di sini kita belajar bahwa kehidupan orang percaya tidak lepas dari pergumulan, tekanan, dan pencobaan. Bahkan Yesus sendiri mengalaminya. Namun, yang membedakan adalah bagaimana kita meresponsnya.

Apakah kita seperti murid-murid yang tertidur, atau seperti Yesus yang berdoa dan berserah kepada kehendak Bapa?

 

I. Yesus berdoa Pribadi di taman Getsemani (32-36)

32 Lalu sampailah Yesus dan murid-murid-Nya ke suatu tempat yang bernama Getsemani. Kata Yesus kepada murid-murid-Nya: "Duduklah di sini, sementara Aku berdoa  ." 33 Dan Ia membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes  serta-Nya. Ia sangat takut dan gentar, 34 lalu kata-Nya kepada mereka: "Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati   rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah." 35 Ia maju sedikit, merebahkan diri ke tanah dan berdoa supaya, sekiranya mungkin, saat itu   lalu dari pada-Nya  .36 Kata-Nya: "Ya Abba, ya Bapa,   tidak ada yang mustahil bagi-Mu, ambillah cawan   ini dari pada-Ku, tetapi janganlah apa yang Aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki. 

Yesus menyuruh murid-murid-Nya duduk dan menunggu, sementara Ia pergi sedikit jauh untuk berdoa sendiri. Walaupun sebelumnya Ia sudah berdoa bersama mereka (Yoh. 17), Ia tetap meluangkan waktu untuk doa pribadi. Ini mengajarkan bahwa doa bersama tidak boleh menggantikan hubungan pribadi kita dengan Allah.

Yesus membawa tiga murid terdekat-Nya.  Yesus membawa Petrus, Yakobus, dan Yohanes untuk menyertai-Nya. Mereka dipilih karena sebelumnya merasa sanggup menderita bersama Yesus. Namun, melalui pengalaman ini, Yesus ingin menunjukkan bahwa penderitaan-Nya sangat berat, sehingga mereka sadar akan kelemahan mereka sendiri. Orang yang merasa paling kuat sering kali justru perlu diuji terlebih dahulu.

Yesus mengalami pergumulan yang sangat berat.  Yesus mulai merasakan ketakutan dan kesedihan yang sangat dalam. Ini adalah pergumulan yang luar biasa berat, bahkan belum pernah dialami siapa pun. Namun, walaupun Ia sangat tertekan, emosi-Nya tetap terkendali karena Ia tidak berdosa. Berbeda dengan manusia yang emosinya mudah kacau, Yesus tetap murni dan terarah. Pergumulan ini juga bisa termasuk serangan dari Iblis yang berusaha menggagalkan tugas-Nya.

Yesus mengungkapkan kesedihan-Nya.  Yesus berkata, “Hati-Ku sangat sedih.” Ia merasakan beban dosa manusia yang harus ditanggung-Nya. Ia sangat memahami betapa beratnya dosa itu, sekaligus memiliki kasih yang besar kepada Allah dan manusia. Karena itulah, hati-Nya sangat terluka dan penuh dukacita.

Pokok Doa Yesus: Kata-Nya: "Ya Abba, ya Bapa,   tidak ada yang mustahil bagi-Mu, ambillah cawan   ini dari pada-Ku, tetapi janganlah apa yang Aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki.

Hatiku Bersukacita dan Jiwaku Bersorak-sorak (Kisah Para Rasul 2:22-28)

Khotbah Minggu 26 April 2026 Pendahaluan Bagian firman Tuhan ini membawa kita kepada inti dari Injil: tentang Yesus dari Nazaret yang datang...