Pendahuluan
Setiap orang
percaya tentu ingin memuliakan Allah. Kita memuliakan Allah ketika beribadah,
berdoa, menyanyi, membaca firman dan melayani. Tetapi pertanyaannya: apakah
kita hanya memuliakan Allah ketika berada di gereja? Bagaimana ketika kita
berada di rumah, di tempat kerja, dalam keluarga, dalam pergaulan, bahkan
ketika menghadapi masalah?
Titus 2:1–10
mengingatkan bahwa iman Kristen tidak boleh hanya menjadi pengakuan di mulut,
tetapi harus terlihat dalam kehidupan. Tujuannya sangat jelas, yaitu “supaya
dalam segala hal mereka memuliakan ajaran Allah, Juruselamat kita” (Titus
2:10). Jadi, seluruh kehidupan kita adalah kesempatan untuk memuliakan Allah.
Surat Titus
termasuk Surat-Surat Pastoral, bersama 1 dan 2 Timotius. Surat ini ditujukan
kepada Titus, rekan pelayanan Paulus yang melayani jemaat-jemaat di Kreta.
Titus mendapat tugas untuk menata kehidupan jemaat dan memastikan bahwa ajaran
yang benar menghasilkan kehidupan yang benar.
Karena itu
Paulus berkata dalam Titus 2:1, “Tetapi engkau, beritakanlah apa yang sesuai
dengan ajaran yang sehat.” Ajaran yang sehat harus menghasilkan kehidupan yang
sehat. Iman yang benar harus terlihat dalam perbuatan yang benar.
Dalam pasal 2,
Paulus berbicara kepada berbagai kelompok dalam jemaat: orang-orang tua,
perempuan-perempuan tua, perempuan-perempuan muda, orang-orang muda dan para
hamba. Artinya, setiap orang, dalam keadaan dan tanggung jawabnya
masing-masing, dipanggil untuk memuliakan Allah melalui kehidupannya.
Khotbah
1. Memuliakan
Allah melalui Karakter Kehidupan
Dalam Titus
2:1–5 Paulus menasihati orang-orang yang lebih tua agar hidup sederhana,
terhormat, bijaksana, sehat dalam iman, kasih dan ketekunan. Mereka juga
dipanggil menjadi teladan bagi generasi yang lebih muda.
Paulus tidak
pertama-tama berbicara tentang jabatan, tetapi tentang karakter. Mengapa?
Karena kehidupan kita adalah kesaksian. Orang mungkin tidak membaca Alkitab,
tetapi mereka membaca kehidupan kita. Mereka melihat bagaimana kita berbicara,
memperlakukan keluarga, menghadapi masalah dan memperlakukan sesama.
Ketika kita
memilih untuk jujur, kita memuliakan Allah. Ketika kita mengampuni, kita
memuliakan Allah. Ketika kita menjaga perkataan, menahan amarah dan tetap setia
dalam kesulitan, kita memuliakan Allah.
Karena itu kita
perlu bertanya: Apakah karakter kehidupan saya sudah mencerminkan iman saya
kepada Kristus?
Jangan sampai
kita rajin beribadah, tetapi kehidupan di rumah tidak menunjukkan kasih. Jangan
sampai kita berbicara tentang kebenaran, tetapi dalam pekerjaan kita tidak
jujur. Tuhan bukan hanya melihat apa yang kita lakukan di gereja; Tuhan melihat
seluruh kehidupan kita.
2. Memuliakan
Allah melalui Keteladanan
Dalam Titus
2:6–8 Paulus berbicara kepada orang-orang muda dan secara khusus menasihati
Titus: “Jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik.”
Paulus tidak
hanya berkata, “Ajarkan yang baik,” tetapi “jadikanlah dirimu teladan.”
Artinya, kehidupan Kristen bukan hanya tentang perkataan, tetapi juga tentang
keteladanan.
Orang tua dapat
mengajarkan kejujuran, tetapi harus terlebih dahulu hidup jujur. Orang tua
dapat mengajarkan doa, tetapi anak-anak juga perlu melihat orang tuanya berdoa.
Seorang pemimpin dapat mengajarkan kasih, tetapi kehidupannya harus menunjukkan
kasih.
Generasi muda
membutuhkan nasihat, tetapi mereka juga membutuhkan teladan. Kehidupan kita
mempunyai pengaruh terhadap orang-orang di sekitar kita.
Karena itu
marilah kita bertanya: “Apabila orang lain mengikuti cara saya hidup, apakah
mereka akan semakin dekat kepada Kristus?”
Kiranya
kehidupan kita menjadi kesaksian yang hidup dan bukan batu sandungan bagi orang
lain.
3. Memuliakan
Allah dalam Pekerjaan dan Tanggung Jawab Sehari-hari
Dalam Titus 2:9-10
Paulus berbicara kepada para hamba. Mereka diminta untuk taat, tidak membantah,
tidak mencuri dan menunjukkan kesetiaan. Tujuannya adalah “…supaya dalam segala
hal mereka memuliakan ajaran Allah, Juruselamat kita.”
Di sinilah inti
tema kita: “dalam segala hal.”
Memuliakan Allah
bukan hanya ketika beribadah atau melayani di gereja. Pekerjaan dan tanggung
jawab sehari-hari juga merupakan kesempatan untuk memuliakan Allah.
Seorang guru
memuliakan Allah melalui pekerjaannya. Pedagang melalui kejujuran. Pegawai
melalui tanggung jawab. Pengusaha melalui integritas. Orang tua melalui
tanggung jawab membangun keluarga. Bahkan hal-hal kecil seperti mengembalikan
sesuatu yang bukan milik kita, bekerja dengan sungguh-sungguh walaupun tidak
diawasi, serta menggunakan media sosial dengan bijaksana adalah bentuk
kesaksian iman.
Karena itu kita
tidak memiliki dua kehidupan: kehidupan di gereja dan kehidupan di luar gereja.
Kita hanya memiliki satu kehidupan, dan seluruhnya berada di hadapan Allah.
Pertanyaannya
bukan hanya, “Apakah pekerjaan saya rohani?”, tetapi “Apakah saya melakukan
pekerjaan saya dengan cara yang memuliakan Allah?”
Di mana pun
Tuhan menempatkan kita, di situlah kita dipanggil untuk memuliakan Dia.
Kesimpulan
Titus 2:1-10
mengajarkan bahwa iman Kristen tidak boleh berhenti pada pengakuan di bibir.
Iman harus menjadi nyata dalam kehidupan.
Kita memuliakan
Allah melalui karakter kehidupan, melalui keteladanan, dan melalui pekerjaan
serta tanggung jawab sehari-hari.
Mari kita
mengingat kembali Titus 2:10:
Kiranya melalui
kehidupan kita, orang lain bukan hanya mendengar tentang Kristus, tetapi juga
dapat melihat Kristus melalui kehidupan kita.
Jangan hanya
memuliakan Allah dengan bibir ketika berada di gereja. Marilah kita memuliakan
Allah dengan seluruh kehidupan kita, di mana pun kita berada dan dalam segala
sesuatu yang kita kerjakan.
