Khotbah: Jumaat Agung
Matius 27: 45-56
Pendahuluan
Penyaliban merupakan hukuman paling kejam dalam kekuasaan
Romawi, biasanya dijatuhkan kepada penjahat berat dan pemberontak. Dalam
peristiwa ini, Yesus disalibkan bersama para penjahat, sehingga Ia diperlakukan
sebagai orang berdosa, padahal Ia tidak bersalah. Peristiwa ini terjadi menjelang perayaan
Paskah Yahudi, suatu momen penting yang memperingati pembebasan Israel dari
Mesir. Dalam konteks ini, kematian Yesus memiliki makna teologis yang dalam,
karena Ia dipahami sebagai Anak Domba Paskah yang dikorbankan untuk menghapus
dosa manusia.
Dalam Matius 27:54 terdapat pengakuan yang sangat penting: kepala prajurit dan para tentara berkata, “Sungguh, Ia ini Anak Allah.” Pengakuan ini muncul setelah mereka menyaksikan berbagai peristiwa luar biasa kegelapan, gempa bumi, dan cara Yesus mati. Mereka menjadi takut dan menyadari bahwa Yesus bukanlah orang biasa. Yang menarik, pengakuan ini justru datang dari seorang perwira Romawi, bukan dari pemimpin agama Yahudi. Ini menunjukkan bahwa di tengah penolakan banyak orang, masih ada yang melihat dan mengakui kebenaran tentang Yesus.