Selasa, 31 Maret 2026

Sungguh Yesus adalah Anak Allah

 Khotbah:  Jumaat Agung

Matius 27: 45-56




Pendahuluan

Penyaliban merupakan hukuman paling kejam dalam kekuasaan Romawi, biasanya dijatuhkan kepada penjahat berat dan pemberontak. Dalam peristiwa ini, Yesus disalibkan bersama para penjahat, sehingga Ia diperlakukan sebagai orang berdosa, padahal Ia tidak bersalah.  Peristiwa ini terjadi menjelang perayaan Paskah Yahudi, suatu momen penting yang memperingati pembebasan Israel dari Mesir. Dalam konteks ini, kematian Yesus memiliki makna teologis yang dalam, karena Ia dipahami sebagai Anak Domba Paskah yang dikorbankan untuk menghapus dosa manusia.

Dalam Matius 27:54 terdapat pengakuan yang sangat penting: kepala prajurit dan para tentara berkata, “Sungguh, Ia ini Anak Allah.” Pengakuan ini muncul setelah mereka menyaksikan berbagai peristiwa luar biasa kegelapan, gempa bumi, dan cara Yesus mati. Mereka menjadi takut dan menyadari bahwa Yesus bukanlah orang biasa.  Yang menarik, pengakuan ini justru datang dari seorang perwira Romawi, bukan dari pemimpin agama Yahudi. Ini menunjukkan bahwa di tengah penolakan banyak orang, masih ada yang melihat dan mengakui kebenaran tentang Yesus.

Dengan demikian, pengakuan ini menjadi kesaksian bahwa di balik penderitaan dan kematian-Nya, terucap pengakuan: Sunggu Yesus adalah Anak Allah.

I.   Yesus Kristus Menanggung Dosa Manusia (Ayat 45-46)

Kegelapan yang terjadi dari jam dua belas hingga jam tiga sore, sebagaimana juga dicatat dalam Lukas 23:45, merupakan fenomena yang tidak dapat dijelaskan sebagai gerhana matahari biasa, mengingat peristiwa tersebut berlangsung pada masa bulan purnama. Oleh karena itu, kegelapan ini dipahami sebagai tanda kosmis yang bersifat teologis.

Dalam kerangka teologi Injil, kegelapan tersebut tidak hanya berfungsi sebagai latar peristiwa, tetapi juga sebagai simbol penghakiman ilahi atas dosa manusia dan penolakan terhadap Yesus sebagai Mesias. Fenomena ini sekaligus memperdalam dimensi penderitaan Kristus, bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara rohani.

Namun demikian, tanda yang begitu dramatis ini tidak menghasilkan respons pertobatan secara luas. Sebaliknya, sebagian besar orang tetap tidak peka, sementara seorang perwira Romawi justru memberikan pengakuan iman bahwa Yesus adalah Anak Allah.

Secara simbolis, kegelapan ini juga merepresentasikan realitas kebutaan rohani dan dominasi “kuasa kegelapan” pada saat penderitaan Kristus mencapai klimaksnya. Lebih jauh, kegelapan tersebut mencerminkan pengalaman batin Kristus sendiri, yakni penanggungan dosa manusia dan penderitaan rohani yang mendalam, yang dalam tradisi teologis dipahami sebagai bentuk “pengosongan diri” (kenosis) demi terlaksananya karya keselamatan.

 

II. Yesus Kristus Menderita di Kayu Salib  (Ayat 46-49)

Seruan Yesus, “Eli, Eli, lama sabakhtani?” yang dicatat dalam Matius 27:46, berasal dari Mazmur 22:1. Ungkapan ini merupakan campuran bahasa Ibrani dan Aram, yang berarti: “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”

Dalam seruan ini, Yesus menyebut Allah sebagai “Allah-Ku,” menunjukkan hubungan-Nya sebagai manusia yang bersandar penuh kepada Allah. Meskipun Ia adalah Anak Allah, dalam penderitaan-Nya Ia berbicara sebagai manusia sejati yang berdoa, percaya, dan taat kepada Bapa.

Ketika Yesus berkata “ditinggalkan,” hal itu tidak berarti Ia benar-benar terpisah dari Allah atau kehilangan kasih Bapa. Kesatuan ilahi tetap utuh. Namun, Ia tidak merasakan kehadiran dan penghiburan Allah, karena sedang menanggung hukuman atas dosa manusia. Sebagai pengganti manusia berdosa, Ia mengalami penderitaan rohani yang sangat dalam, termasuk rasa ditinggalkan oleh Allah.

Seruan ini bukan karena ketidaktahuan, ketidaksabaran, atau keputusasaan. Yesus tahu alasan penderitaan-Nya dan dengan rela menerimanya. Bahkan di tengah penderitaan, Ia tetap menunjukkan iman yang kuat dengan tetap berseru kepada “Allah-Ku.”

Peristiwa ini menegaskan bahwa Yesus sungguh-sungguh manusia, yang merasakan penderitaan jiwa yang nyata. Hal ini juga menunjukkan betapa seriusnya dosa, yang sampai membuat Sang Anak menanggung “peninggalan” demi keselamatan manusia.

Di sisi lain, ini menyatakan kasih dan kerendahan hati Kristus: Ia rela mengalami penderitaan terdalam untuk mendekatkan manusia kepada Allah. Karena itu, orang percaya dapat terhibur ketika merasa seolah-olah ditinggalkan, mereka tahu bahwa Kristus pernah mengalami hal yang sama dan memahami pergumulan tersebut.

Beberapa orang yang berdiri di dekat salib, sambil menyaksikan dan mengejek Yesus, mendengar seruan-Nya: “Eli, Eli…”. Namun mereka salah memahami atau mungkin sengaja memutarbalikkan kata-kata itu dengan berkata, “Ia memanggil Elia.” Mereka kemungkinan adalah orang-orang Yahudi yang tidak menangkap dengan jelas ucapan tersebut, atau dengan sengaja mengejek Yesus seolah-olah Ia sedang memanggil nabi Elia untuk menolong-Nya.

Lalu dengan segera, salah satu dari mereka berlari mengambil bunga karang yang ada di dekat situ, mencelupkannya ke dalam anggur asam yang tersedia, kemudian menaruhnya pada sebatang buluh dan memberikannya kepada Yesus untuk diminum. Tindakan ini bukanlah bentuk belas kasihan, melainkan bagian dari ejekan, karena sebelumnya Yesus menyatakan bahwa Ia haus.

Peristiwa ini menunjukkan betapa kerasnya hati orang-orang yang menyaksikan penyaliban itu. Di tengah penderitaan yang begitu berat, Yesus tidak hanya mengalami sakit fisik, tetapi juga penghinaan dan ejekan dari manusia.

Sebagian orang lain yang berada di dekat salib berkata, “Biarkan Dia,” yakni melarang orang yang hendak memberi minum kepada Yesus. Mereka ingin melihat apa yang akan terjadi selanjutnya, sambil berkata dengan nada mengejek, “Mari kita lihat apakah Elia akan datang untuk menyelamatkan-Nya.”

Perkataan ini muncul karena kepercayaan orang Yahudi bahwa nabi Elia akan datang sebagai pendahulu Mesias. Namun, ucapan mereka bukanlah ungkapan iman, melainkan sindiran. Mereka sebenarnya tidak sungguh-sungguh percaya bahwa Elia akan datang menolong Yesus, melainkan ingin memperolok-Nya di tengah penderitaan-Nya.

Sikap ini menunjukkan kerasnya hati mereka. Di saat Yesus sedang menderita di kayu salib, mereka justru menjadikannya tontonan dan bahan ejekan, seolah-olah menantang bukti bahwa Ia adalah Mesias.

Sementara itu, peristiwa lain seperti penusukan lambung Yesus yang mengeluarkan darah dan airdicatat secara khusus dalam Yohanes 19:34. Hal ini menegaskan bahwa penderitaan Yesus bukan hanya penuh hinaan, tetapi juga mencapai puncaknya dalam pengorbanan yang nyata dan sempurna.

 

III. Pengakuan bahwa Yesus adalah Anak Allah Mat 27:50

Inilah tahap kesepuluh dari penderitaan-Nya. Dengan nyaring Ia mengucapkan kata-kata-Nya yang terakhir, "Sudah selesai" (Yoh 19:30). Seruan ini menandakan akhir dari segala penderitaan-Nya serta penyelesaian karya penebusan. Hutang dosa kita telah dilunasi, dan rencana keselamatan ditegakkan. Pada saat itulah Dia memanjatkan doa yang terakhir, "Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku" (Luk 23:46). (untuk tahap pertama penderitaan Kristus

 


Ayat 51 Tabir adalah tirai tebal yang memisahkan Tempat Kudus dari Ruang Maha Kudus di Bait Allah. Di balik tabir itu, hadirat Allah dinyatakan, dan hanya imam besar yang boleh masuk, itupun hanya sekali setahun. Ketika tabir itu terkoyak menjadi dua dari atas ke bawah, hal ini bukan peristiwa biasa, melainkan tanda ilahi. Peristiwa ini menunjukkan bahwa penghalang antara manusia dan Allah telah dibuka.

Secara rohani, pengoyakan tabir melambangkan bahwa melalui kematian Kristus, jalan menuju hadirat Allah kini terbuka bagi semua orang. Seperti yang dinyatakan dalam Ibrani 10:19-20, orang percaya sekarang dapat dengan berani datang kepada Allah melalui “jalan yang baru dan hidup,” yaitu melalui pengorbanan Kristus sendiri. Dengan demikian, tabir yang terkoyak menjadi tanda bahwa hubungan antara Allah dan manusia telah dipulihkan melalui Yesus Kristus.

Ayat 52-53 Kebangkitan orang-orang benar dipahami sebagai tanda bahwa zaman Mesias telah tiba, sebagaimana dinubuatkan dalam Yesaya 26:19, Yehezkiel 37, dan Daniel 12:2.

Melalui kematian Kristus, mereka dibebaskan dari kuasa dunia orang mati (Syeol), seperti yang juga disinggung dalam Matius 16:18. Mereka kemudian menantikan kebangkitan Yesus, dan bersama Dia masuk ke Kota Suci, yaitu Yerusalem sorgawi, sebagaimana digambarkan dalam Wahyu 21:2 dan Wahyu 22:19.

Penafsiran ini dikenal dalam pemikiran para bapa Gereja mula-mula, yang melihat peristiwa tersebut sebagai bukti bahwa kematian dan kebangkitan Kristus membawa pembebasan bagi orang-orang benar yang telah meninggal. Hal ini juga berkaitan dengan keyakinan bahwa Yesus turun ke dalam dunia orang mati untuk memberitakan kemenangan-Nya, seperti disebutkan dalam 1 Petrus 3:19. Dengan demikian, peristiwa ini menegaskan bahwa karya Kristus tidak hanya berdampak bagi orang hidup, tetapi juga bagi mereka yang telah mati membuka jalan menuju kehidupan kekal.

Ketika kepala prajurit dan para tentara yang menjaga Yesus melihat gempa bumi serta peristiwa-peristiwa luar biasa lainnya, termasuk cara Yesus menghembuskan napas terakhir mereka menjadi sangat takut. Lalu mereka mengakui, “Sungguh, Ia ini Anak Allah.” Pengakuan ini muncul karena mereka melihat kuasa ilahi dalam semua yang terjadi, meskipun mereka belum sepenuhnya memahami makna rohani dari penderitaan Kristus.

 

Di tempat itu juga ada banyak perempuan yang menyaksikan dari kejauhan. Mereka adalah pengikut setia Yesus yang telah mengikuti-Nya sejak dari Galilea dan melayani-Nya dengan setia. Berbeda dengan para murid yang sebagian besar tidak hadir, para perempuan ini tetap setia menyertai Yesus sampai akhir. Di antara mereka terdapat Maria Magdalena, Maria ibu Yakobus dan Yoses, serta ibu anak-anak Zebedeus (Salome). Mereka menyaksikan penderitaan Yesus dengan penuh kasih, iman, dan kesetiaan.

 

Kesimpulan

Kematian Yesus dalam Matius 27:45-56 bukan sekadar peristiwa penderitaan, tetapi puncak karya keselamatan Allah. Di tengah kegelapan, penderitaan, dan ejekan, nyata bahwa Yesus sungguh menanggung dosa manusia. Tanda-tanda ilahi yang terjadi dan pengakuan kepala prajurit menegaskan satu kebenaran: Yesus adalah Anak Allah, yang melalui kematian-Nya membuka jalan keselamatan bagi manusia.

 

Refleksi

1.      Hargai pengorbanan Kristus

Yesus rela menanggung penderitaan yang sangat dalam demi menebus manusia dari. Karena itu, kita dipanggil untuk hidup dalam pertobatan dan menghargai kasih-Nya.

2.      Tetap percaya dalam “kegelapan” hidup

Seperti Yesus yang tetap berseru kepada Allah di tengah penderitaan, kita pun diajak untuk tetap beriman walau tidak selalu merasakan kehadiran-Nya.

3.      Setia mengikut Kristus sampai akhir

Teladan para perempuan menunjukkan kesetiaan di saat yang paling sulit. Kita pun dipanggil untuk tetap setia, bukan hanya saat mudah, tetapi juga dalam penderitaan.


Oleh: Juliman Harefa

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jawaban Tuhan di Awal Tahun

Sungguh Yesus adalah Anak Allah

  Khotbah:   Jumaat Agung Matius 27: 45-56 Pendahuluan Penyaliban merupakan hukuman paling kejam dalam kekuasaan Romawi, biasanya dija...

Khotbah