Khotbah: Jumaat Agung
Matius 27: 45-56
Pendahuluan
Penyaliban merupakan hukuman paling kejam dalam kekuasaan
Romawi, biasanya dijatuhkan kepada penjahat berat dan pemberontak. Dalam
peristiwa ini, Yesus disalibkan bersama para penjahat, sehingga Ia diperlakukan
sebagai orang berdosa, padahal Ia tidak bersalah. Peristiwa ini terjadi menjelang perayaan
Paskah Yahudi, suatu momen penting yang memperingati pembebasan Israel dari
Mesir. Dalam konteks ini, kematian Yesus memiliki makna teologis yang dalam,
karena Ia dipahami sebagai Anak Domba Paskah yang dikorbankan untuk menghapus
dosa manusia.
Dalam Matius 27:54 terdapat pengakuan yang sangat penting: kepala prajurit dan para tentara berkata, “Sungguh, Ia ini Anak Allah.” Pengakuan ini muncul setelah mereka menyaksikan berbagai peristiwa luar biasa kegelapan, gempa bumi, dan cara Yesus mati. Mereka menjadi takut dan menyadari bahwa Yesus bukanlah orang biasa. Yang menarik, pengakuan ini justru datang dari seorang perwira Romawi, bukan dari pemimpin agama Yahudi. Ini menunjukkan bahwa di tengah penolakan banyak orang, masih ada yang melihat dan mengakui kebenaran tentang Yesus.
Dengan demikian, pengakuan ini menjadi kesaksian bahwa di
balik penderitaan dan kematian-Nya, terucap pengakuan: Sunggu Yesus adalah Anak
Allah.
I. Yesus Kristus Menanggung Dosa Manusia (Ayat 45-46)
Kegelapan yang terjadi dari jam dua belas hingga jam tiga
sore, sebagaimana juga dicatat dalam Lukas 23:45, merupakan fenomena yang tidak
dapat dijelaskan sebagai gerhana matahari biasa, mengingat peristiwa tersebut
berlangsung pada masa bulan purnama. Oleh karena itu, kegelapan ini dipahami
sebagai tanda kosmis yang bersifat teologis.
Dalam kerangka teologi Injil, kegelapan tersebut tidak hanya
berfungsi sebagai latar peristiwa, tetapi juga sebagai simbol penghakiman ilahi
atas dosa manusia dan penolakan terhadap Yesus sebagai Mesias. Fenomena ini
sekaligus memperdalam dimensi penderitaan Kristus, bukan hanya secara fisik,
tetapi juga secara rohani.
Namun demikian, tanda yang begitu dramatis ini tidak
menghasilkan respons pertobatan secara luas. Sebaliknya, sebagian besar orang
tetap tidak peka, sementara seorang perwira Romawi justru memberikan pengakuan
iman bahwa Yesus adalah Anak Allah.
Secara simbolis, kegelapan ini juga merepresentasikan
realitas kebutaan rohani dan dominasi “kuasa kegelapan” pada saat penderitaan
Kristus mencapai klimaksnya. Lebih jauh, kegelapan tersebut mencerminkan
pengalaman batin Kristus sendiri, yakni penanggungan dosa manusia dan penderitaan rohani yang
mendalam, yang dalam tradisi teologis dipahami sebagai bentuk “pengosongan
diri” (kenosis) demi terlaksananya karya keselamatan.
II. Yesus Kristus Menderita di Kayu Salib (Ayat 46-49)
Seruan Yesus, “Eli, Eli, lama sabakhtani?” yang dicatat dalam
Matius 27:46, berasal dari Mazmur 22:1. Ungkapan ini merupakan campuran bahasa
Ibrani dan Aram, yang berarti: “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan
Aku?”
Dalam seruan ini, Yesus menyebut Allah sebagai “Allah-Ku,”
menunjukkan hubungan-Nya sebagai manusia yang bersandar penuh kepada Allah.
Meskipun Ia adalah Anak Allah, dalam penderitaan-Nya Ia berbicara sebagai
manusia sejati yang berdoa, percaya, dan taat kepada Bapa.
Ketika Yesus berkata “ditinggalkan,” hal itu tidak berarti Ia
benar-benar terpisah dari Allah atau kehilangan kasih Bapa. Kesatuan ilahi
tetap utuh. Namun, Ia tidak merasakan kehadiran dan penghiburan Allah, karena
sedang menanggung hukuman atas dosa manusia. Sebagai pengganti manusia berdosa,
Ia mengalami penderitaan rohani yang sangat dalam, termasuk rasa ditinggalkan
oleh Allah.
Seruan ini bukan karena ketidaktahuan, ketidaksabaran, atau
keputusasaan. Yesus tahu alasan penderitaan-Nya dan dengan rela menerimanya.
Bahkan di tengah penderitaan, Ia tetap menunjukkan iman yang kuat dengan tetap
berseru kepada “Allah-Ku.”
Peristiwa ini menegaskan bahwa Yesus sungguh-sungguh manusia,
yang merasakan penderitaan jiwa yang nyata. Hal ini juga menunjukkan betapa
seriusnya dosa, yang sampai membuat Sang Anak menanggung “peninggalan” demi
keselamatan manusia.
Di sisi lain, ini menyatakan kasih dan kerendahan hati
Kristus: Ia rela mengalami penderitaan terdalam untuk mendekatkan manusia
kepada Allah. Karena itu, orang percaya dapat terhibur ketika merasa
seolah-olah ditinggalkan, mereka tahu bahwa Kristus pernah mengalami hal yang
sama dan memahami pergumulan tersebut.
Beberapa orang yang berdiri di dekat salib, sambil
menyaksikan dan mengejek Yesus, mendengar seruan-Nya: “Eli, Eli…”. Namun mereka
salah memahami atau mungkin sengaja memutarbalikkan kata-kata itu dengan
berkata, “Ia memanggil Elia.” Mereka kemungkinan adalah orang-orang Yahudi yang
tidak menangkap dengan jelas ucapan tersebut, atau dengan sengaja mengejek
Yesus seolah-olah Ia sedang memanggil nabi Elia untuk menolong-Nya.
Lalu dengan segera, salah satu dari mereka berlari mengambil
bunga karang yang ada di dekat situ, mencelupkannya ke dalam anggur asam yang
tersedia, kemudian menaruhnya pada sebatang buluh dan memberikannya kepada
Yesus untuk diminum. Tindakan ini bukanlah bentuk belas kasihan, melainkan
bagian dari ejekan, karena sebelumnya Yesus menyatakan bahwa Ia haus.
Peristiwa ini menunjukkan betapa kerasnya hati orang-orang
yang menyaksikan penyaliban itu. Di tengah penderitaan yang begitu berat, Yesus
tidak hanya mengalami sakit fisik, tetapi juga penghinaan dan ejekan dari
manusia.
Sebagian orang lain yang berada di dekat salib berkata,
“Biarkan Dia,” yakni melarang orang yang hendak memberi minum kepada Yesus.
Mereka ingin melihat apa yang akan terjadi selanjutnya, sambil berkata dengan
nada mengejek, “Mari kita lihat apakah Elia akan datang untuk
menyelamatkan-Nya.”
Perkataan ini muncul karena kepercayaan orang Yahudi bahwa
nabi Elia akan datang sebagai pendahulu Mesias. Namun, ucapan mereka bukanlah
ungkapan iman, melainkan sindiran. Mereka sebenarnya tidak sungguh-sungguh
percaya bahwa Elia akan datang menolong Yesus, melainkan ingin memperolok-Nya
di tengah penderitaan-Nya.
Sikap ini menunjukkan kerasnya hati mereka. Di saat Yesus
sedang menderita di kayu salib, mereka justru menjadikannya tontonan dan bahan
ejekan, seolah-olah menantang bukti bahwa Ia adalah Mesias.
Sementara itu, peristiwa lain seperti penusukan lambung Yesus
yang mengeluarkan darah dan airdicatat secara khusus dalam Yohanes 19:34. Hal
ini menegaskan bahwa penderitaan Yesus bukan hanya penuh hinaan, tetapi juga
mencapai puncaknya dalam pengorbanan yang nyata dan sempurna.
III. Pengakuan bahwa Yesus adalah Anak Allah Mat 27:50
Inilah tahap kesepuluh dari
penderitaan-Nya. Dengan nyaring Ia mengucapkan kata-kata-Nya yang terakhir,
"Sudah selesai" (Yoh 19:30). Seruan ini menandakan akhir dari segala
penderitaan-Nya serta penyelesaian karya penebusan. Hutang dosa kita telah
dilunasi, dan rencana keselamatan ditegakkan. Pada saat itulah Dia memanjatkan
doa yang terakhir, "Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku"
(Luk 23:46). (untuk tahap pertama penderitaan Kristus
Ayat 51 Tabir adalah tirai tebal yang memisahkan Tempat Kudus
dari Ruang Maha Kudus di Bait Allah. Di balik tabir itu, hadirat Allah
dinyatakan, dan hanya imam besar yang boleh masuk, itupun hanya sekali setahun.
Ketika tabir itu terkoyak menjadi dua dari atas ke bawah, hal ini bukan
peristiwa biasa, melainkan tanda ilahi. Peristiwa ini menunjukkan bahwa
penghalang antara manusia dan Allah telah dibuka.
Secara rohani, pengoyakan tabir melambangkan bahwa melalui
kematian Kristus, jalan menuju hadirat Allah kini terbuka bagi semua orang.
Seperti yang dinyatakan dalam Ibrani 10:19-20, orang percaya sekarang dapat
dengan berani datang kepada Allah melalui “jalan yang baru dan hidup,” yaitu
melalui pengorbanan Kristus sendiri. Dengan demikian, tabir yang terkoyak
menjadi tanda bahwa hubungan antara Allah dan manusia telah dipulihkan melalui
Yesus Kristus.
Ayat 52-53 Kebangkitan orang-orang benar dipahami sebagai
tanda bahwa zaman Mesias telah tiba, sebagaimana dinubuatkan dalam Yesaya
26:19, Yehezkiel 37, dan Daniel 12:2.
Melalui kematian Kristus, mereka dibebaskan dari kuasa dunia
orang mati (Syeol), seperti yang juga disinggung dalam Matius 16:18. Mereka
kemudian menantikan kebangkitan Yesus, dan bersama Dia masuk ke Kota Suci,
yaitu Yerusalem sorgawi, sebagaimana digambarkan dalam Wahyu 21:2 dan Wahyu
22:19.
Penafsiran ini dikenal dalam
pemikiran para bapa Gereja mula-mula, yang melihat peristiwa tersebut sebagai
bukti bahwa kematian dan kebangkitan Kristus membawa pembebasan bagi
orang-orang benar yang telah meninggal. Hal ini juga berkaitan dengan keyakinan
bahwa Yesus turun ke dalam dunia orang mati untuk memberitakan kemenangan-Nya,
seperti disebutkan dalam 1 Petrus 3:19. Dengan demikian, peristiwa ini
menegaskan bahwa karya Kristus tidak hanya berdampak bagi orang hidup, tetapi
juga bagi mereka yang telah mati membuka jalan menuju kehidupan kekal.
Ketika kepala prajurit dan para tentara yang menjaga Yesus
melihat gempa bumi serta peristiwa-peristiwa luar biasa lainnya, termasuk cara
Yesus menghembuskan napas terakhir mereka menjadi sangat takut. Lalu mereka
mengakui, “Sungguh, Ia ini Anak Allah.” Pengakuan ini muncul karena
mereka melihat kuasa ilahi dalam semua yang terjadi, meskipun mereka belum
sepenuhnya memahami makna rohani dari penderitaan Kristus.
Di tempat itu juga ada banyak perempuan yang menyaksikan dari
kejauhan. Mereka adalah pengikut setia Yesus yang telah mengikuti-Nya sejak
dari Galilea dan melayani-Nya dengan setia. Berbeda dengan para murid yang
sebagian besar tidak hadir, para perempuan ini tetap setia menyertai Yesus
sampai akhir. Di antara mereka terdapat Maria Magdalena, Maria ibu Yakobus dan
Yoses, serta ibu anak-anak Zebedeus (Salome). Mereka menyaksikan penderitaan
Yesus dengan penuh kasih, iman, dan kesetiaan.
Kesimpulan
Kematian Yesus dalam Matius 27:45-56 bukan sekadar peristiwa
penderitaan, tetapi puncak karya keselamatan Allah. Di tengah kegelapan,
penderitaan, dan ejekan, nyata bahwa Yesus sungguh menanggung dosa manusia.
Tanda-tanda ilahi yang terjadi dan pengakuan kepala prajurit menegaskan satu
kebenaran: Yesus adalah Anak Allah, yang melalui kematian-Nya membuka jalan
keselamatan bagi manusia.
Refleksi
1. Hargai
pengorbanan Kristus
Yesus rela menanggung penderitaan yang sangat dalam demi menebus manusia
dari. Karena itu, kita dipanggil untuk hidup dalam pertobatan dan menghargai
kasih-Nya.
2. Tetap percaya
dalam “kegelapan” hidup
Seperti Yesus yang tetap berseru kepada Allah di tengah penderitaan, kita
pun diajak untuk tetap beriman walau tidak selalu merasakan kehadiran-Nya.
3. Setia mengikut
Kristus sampai akhir
Teladan para perempuan menunjukkan
kesetiaan di saat yang paling sulit. Kita pun dipanggil untuk tetap setia,
bukan hanya saat mudah, tetapi juga dalam penderitaan.
Oleh: Juliman Harefa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar