Tampilkan postingan dengan label KHOTBAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KHOTBAH. Tampilkan semua postingan

Khotbah Minggu: Tuhan Melakukan Perbuatan Besar Bagi Umat-Nya. Keluaran 14:19-31

Pendahuluan


Kitab Keluaran menceritakan bagaimana bangsa Israel yang telah lama menjadi budak di Mesir dibebaskan oleh Allah melalui Musa. Firaun pada awalnya menolak membiarkan Israel pergi, sehingga Allah mendatangkan sepuluh tulah atas Mesir.  Setelah tulah terakhir, yaitu kematian anak sulung Mesir, Firaun akhirnya mengizinkan Israel meninggalkan Mesir (Kel. 12). Israel kemudian bergerak keluar dari tanah Mesir m

enuju tanah yang dijanjikan Allah kepada nenek moyang mereka.

Namun, pembebasan itu belum langsung berarti mereka bebas dari ancaman. Firaun berubah pikiran dan kembali mengejar Israel dengan pasukan, kereta, dan orang-orang berkudanya. Sebelum Keluaran 14:19-31, Israel telah sampai di dekat laut. Di depan mereka terdapat laut, sedangkan dari belakang datang tentara Mesir.

Keadaan ini sangat menakutkan. Israel merasa bahwa mereka akan mati. Mereka bahkan berkata kepada Musa: “Apakah karena tidak ada kuburan di Mesir, maka engkau membawa kami untuk mati di padang gurun ini?” (Kel. 14:11).

Jadi, persoalan utama dalam pasal ini bukan sekadar perjalanan menyeberangi laut. Israel sedang menghadapi situasi yang secara manusiawi tidak mempunyai jalan keluar. Musa kemudian berkata: “Janganlah takut, berdirilah tetap dan lihatlah keselamatan dari TUHAN.” (Kel. 14:13). Dan ayat 14 menjadi kunci: “TUHAN akan berperang untuk kamu, dan kamu akan diam saja.”

Dengan demikian, Keluaran 14:19-31 merupakan penggenapan nyata dari perkataan Musa dalam ayat 13-14: Allah sendiri berperang bagi Israel.

Khotbah

1. Allah melindungi Israel  (ayat 19-20)

19 Kemudian bergeraklah Malaikat Allah,   yang tadinya berjalan di depan tentara Israel, lalu berjalan di belakang mereka; dan tiang awan  itu bergerak dari depan mereka, lalu berdiri di belakang  mereka. 20 Demikianlah tiang itu berdiri di antara tentara orang Mesir dan tentara orang Israel; dan oleh karena awan itu menimbulkan kegelapan,  maka malam itu lewat, sehingga yang satu tidak dapat mendekati yang lain, semalam-malaman itu. 

Malaikat Allah dan tiang awan yang sebelumnya berjalan di depan Israel, sekarang berpindah ke belakang mereka. Hali ini berarti bahwa Allah bukan hanya menunjukkan jalan kepada Israel, tetapi juga menjadi pelindung mereka.

Tiang awan berdiri di antara Israel dan Mesir sehingga tentara Mesir tidak dapat mendekati Israel sepanjang malam. Allah berada di depan ketika Israel membutuhkan arah dan berada di belakang ketika Israel membutuhkan perlindungan.

Ini menunjukkan bahwa penyertaan Allah kepada kita umat-Nya bukan sekadar simbol, tetapi menjadi tindakan nyata dalam menghadapi ancaman.

2. Allah membuka jalan di tengah laut (ayat 21-22)

21  Lalu Musa mengulurkan tangannya   ke atas laut,  dan semalam-malaman itu TUHAN menguakkan air laut dengan perantaraan angin timur  yang keras, membuat laut itu menjadi tanah kering;  maka terbelahlah  air itu. 22 Demikianlah orang Israel berjalan dari tengah-tengah laut   di tempat kering  ;  sedang di kiri dan di kanan mereka air itu sebagai tembok  bagi mereka. 

Musa mengulurkan tangannya ke atas laut. Kemudian TUHAN menggunakan angin timur yang keras sepanjang malam untuk menguak air laut.

Israel kemudian berjalan:“di tempat kering dari tengah-tengah laut.” Air berada di sebelah kiri dan kanan mereka seperti tembok.

Di sini  terdapat gambaran penting mengenai keselamatan Allah.  Israel tidak menemukan jalan keluar sendiri. Allah menciptakan jalan di tempat yang kelihatannya tidak mungkin ada jalan.

Laut yang bagi Israel merupakan penghalang justru menjadi jalan keselamatan.  Kita bisa belajar bahwa  Allah menggunakan caranya sendiri yakni mujizat dalam menolong orang yang membutuhkan pertolongan.

Khotbah Minggu: Kasih kepada Allah dan Sesama Manusia Lukas 10:25-37

Pendahuluan

Injil Lukas ditulis oleh Lukas, Tanggal Penulisan: Sekitar tahun 60-63 M. Injil Lukas adalah kitab pertama dari dua kitab yang ditulis oleh Lukas dan ditujukan kepada seorang bernama Teofilus (Luk. 1:1,3; Kis. 1:1). Lukas adalah seorang bukan Yahudi, kemungkinan berasal dari Yunani. Ia juga seorang dokter dan merupakan teman serta rekan pelayanan Paulus

Lukas adalah seorang yang terpelajar dan seorang penulis yang teliti. Lukas secara khusus menunjukkan bahwa Yesus adalah Juruselamat bagi semua orang, baik orang Yahudi maupun bukan Yahudi. Karena itu, Injil Lukas sangat penting bagi gereja yang terdiri dari berbagai bangsa. Lukas menulis Injilnya agar pembaca kitab mengetahui bahwa apa yang mereka telah dengar tentang Yesus adalah benar dan dapat dipercaya (Luk. 1:4).

 

Ilustrasi: Ateis yang Baik

Ketika seorang pria tahu ada seorang wanita tua yang tak sanggup membeli obat dan membayar sewa rumah, ia datang membantu wanita tua itu. Ia membawa wanita itu ke rumahnya dan merawatnya seperti ibunya sendiri. Ia menyiapkan tempat tidur dan makanan, membelikan obat, serta mengantar wanita tua tersebut ketika ia butuh perawatan. Ia terus merawatnya sampai wanita itu tak dapat lagi mengurus diri sendiri. Saya takjub ketika tahu bahwa pria yang baik itu seorang ateis yang fanatik!

Yesus menceritakan perumpamaan ini untuk menantang para pendengar- Nya. Cerita tentang orang Samaria dan orang ateis yang baik hati mengingatkan kita tentang tingginya standar firman Allah: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!” Roma 13:9 (ditulis oleh: Herb Vander Lugt)


Siapa orang dari Yerikho ?

Dalam perumpamaan itu, Yesus berkata: “Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho...” (Lukas 10:30). Yesus tidak menyebut nama atau identitas orang itu. Ia hanya mengatakan bahwa orang tersebut sedang melakukan perjalanan dari Yerusalem ke Yerikho. Orang itu kemudian dirampok, dipukuli, dan ditinggalkan hampir mati.

Jadi, kita tidak tahu apakah dia orang Yahudi, orang kaya, miskin, atau siapa namanya. Yang penting dalam cerita adalah bahwa dia adalah seorang manusia yang sedang membutuhkan pertolongan.

Mengapa Yesus memakai Yerikho ?

Karena jalan dari Yerusalem ke Yerikho memang merupakan perjalanan yang terkenal dan cukup berbahaya pada zaman itu. Yerusalem berada di daerah yang tinggi, sedangkan Yerikho berada jauh lebih rendah, dekat Laut Mati. Perjalanannya menurun dan melewati daerah yang berbatu dan sepi. Kondisi seperti ini membuat seseorang lebih mudah menjadi sasaran perampok. Karena itu, ketika Yesus mengatakan seorang yang “turun dari Yerusalem ke Yerikho”, pendengar-Nya dapat membayangkan sebuah perjalanan yang berisiko.

Orang-orang Yahudi terguncang oleh perumpamaan Yesus tentang orang Samaria yang baik hati. Yesus memuji kebaikan orang Samaria itu. Orang Yahudi sangat merendahkan orang Samaria, sama seperti saya yang cenderung memandang rendah orang ateis.

Seorang ahli Taurat mencobai Yesus dengan bertanya bagaimana ia dapat memperoleh hidup kekal. Lalu Yesus menanyakan apa yang dituliskan hukum Taurat tentang hal itu. Ahli Taurat tersebut menjawab bahwa ia harus mengasihi Tuhan dengan segenap hati dan mengasihi sesama seperti dirinya sendiri (Lukas 10:25-27). Lalu sang ahli Taurat bertanya kembali, “Dan siapakah sesamaku manusia?” (ayat 29). Dalam perumpamaan Yesus, orang Samaria itu adalah sesama manusia yang menunjukkan kebaikan kepada orang yang terluka.

Dari perjalanan seorang dari Yerusalem ke Yerikho Yesus sedang mengajarkan tentang kasih kepada sesama, bahkan kepada orang yang mungkin berbeda dengan kita. Marilah kita belajar dari tiga tokoh dalam teks ini yakni: Imam, Lewi dan orang Samaria.


Khotbah

1. Sikap Seoran imam



Imam adalah orang yang melayani dalam kehidupan keagamaan Israel, khususnya dalam pelayanan di Bait Allah.  Dalam cerita Yesus: “Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan.” (Luk. 10:31).  Alasannya karena imam akan najis bila mereka menyentuh mayat TUHAN berfirman kepada Musa: "Berbicaralah kepada para imam, anak-anak Harun, dan katakan kepada mereka: Seorang imam janganlah menajiskan diri dengan orang mati di antara orang-orang sebangsanya, (Im. 21:1) dan Orang yang kena kepada mayat, ia najis tujuh hari lamanya (Bil. 19:11). Padahal ia belum memastikan bahwa korban perampokan itu sudah jadi mayat atau belum dan ternyata ia masih hidup karena ditolong oleh orang Samaria.

Yang menarik adalah: imam itu melihat orang yang terluka, tetapi tidak menolongnya. Jadi, Yesus sedang menunjukkan bahwa jabatan agama dan pengetahuan tentang Tuhan tidak otomatis membuat seseorang mengasihi sesamanya karena menjalankan kewajiban agamanya. Apakah karena menjalankan kewajiban agama kita tidak perlu membantu sesama ?

4. Sikap Seorang Lewi



Orang Lewi adalah anggota suku Lewi. Mereka mempunyai tugas-tugas yang berhubungan dengan pelayanan ibadah di Bait Allah. Orang Lewi juga melihat korban tersebut: “Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan.” (Luk. 10:32) karena Orang yang kena kepada mayat, ia najis tujuh hari lamanya (Bil. 19:11), karena sedang menjalani kewajiban agamanya, namun ia belum memastikan apakah orang tersebut sudah meninggal atau belum dan ternyata ia masih hidup

Jadi, imam dan orang Lewi sama-sama melihat, tetapi keduanya tidak menolong. Ini membuat cerita Yesus semakin kuat: orang yang dianggap dekat dengan kehidupan keagamaan justru tidak menunjukkan belas kasihan hanya karena menjalankan kewajiban agamanya. 

3. Sikap Seorang Samaria

Orang Samaria adalah penduduk Samaria. Pada zaman Yesus, hubungan antara orang Yahudi dan orang Samaria sangat buruk. Ada perbedaan sejarah, agama, dan identitas yang membuat kedua kelompok ini saling bermusuhan dan saling memandang rendah. Karena itu, ketika Yesus mengatakan: “Tetapi seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, datang ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan.”
(Luk. 10:33)
Pendengar Yesus mungkin tidak menyangka bahwa orang Samaria akan menjadi tokoh yang baik dalam cerita.  Justru orang Samaria itulah yang:  Melihat orang yang terluka, merasa kasihan, mendekatinya, membalut lukanya, menuangkan minyak dan anggur, menaikkannya ke atas keledainya, membawanya ke penginapan, dan dembayar biaya perawatannya.

Arti Perumpamaan

Seorang ahli Taurat bertanya kepada Yesus: “Siapakah sesamaku manusia?” (Luk. 10:29).  Yesus kemudian membalik pertanyaan itu. Bukan hanya: “Siapa yang harus saya kasihi?” Tetapi: “Apakah saya bersedia menjadi sesama bagi orang yang membutuhkan?” Itulah sebabnya tokoh orang Samaria sangat penting. Yesus sedang mengajarkan bahwa kasih kepada sesama tidak boleh dibatasi oleh suku, agama, kelompok, atau permusuhan. Kasih kepada sesama menjadi bukti kasih manusia kepada Allah . Dalam Matius 25:35 tertulis: Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan

1.       Orang yang terluka: orang yang membutuhkan pertolongan.

2.       Imam: orang yang tahu tentang Tuhan tetapi tidak menolong.

3.       Orang Lewi : orang yang juga melihat kebutuhan tetapi melewatinya.

4.       Orang Samaria: orang yang dianggap musuh, tetapi justru menunjukkan kasih.

Jadi pesan Yesus:  Jangan hanya bertanya, “Siapa sesamaku?” Tetapi jadilah sesama bagi orang yang membutuhkan pertolongan. Dan Yesus menutup perumpamaan itu dengan perintah: “Pergilah, dan perbuatlah demikian!” (Lukas 10:37)

Kesimpulan

Perumpamaan Orang Samaria yang Baik Hati mengajarkan bahwa kasih kepada sesama tidak ditentukan oleh jabatan, pengetahuan agama, suku, atau hubungan kelompok, melainkan oleh kesediaan untuk menunjukkan belas kasihan dan memberikan pertolongan kepada orang yang membutuhkan. Imam dan orang Lewi melihat orang yang terluka, tetapi memilih untuk melewatinya, sedangkan orang Samaria yang dianggap sebagai musuh justru mendekati, menolong, merawat, dan menanggung biaya orang tersebut. Dengan demikian, Yesus mengajarkan bahwa menjadi sesama bukan sekadar mengetahui siapa yang harus dikasihi, tetapi bersedia menjadi sesama bagi setiap orang yang membutuhkan pertolongan. Karena itu, sebagai pengikut Kristus, kita dipanggil bukan hanya untuk mengetahui dan mengajarkan kasih, tetapi untuk melakukan kasih secara nyata, sebagaimana perintah Yesus: “Pergilah, dan perbuatlah demikian!” (Luk. 10:37).

Oleh: Pdt. Juliman Harefa

Khotbah Minggu: Firman Tuhan Menjadi Kegirangan Bagiku. Yeremia 15:15-21


Kitab Yeremia adalah nubuatan nabi Yeremia yang penulisannya: ± 585-580 SM  Pelayanan Yeremia berlangsung di kerajaan Yehuda sekitar 626-586 SM, pada masa-masa terakhir sebelum kehancuran Yerusalem dan Bait Suci oleh Babel. Ia lahir di Anatot dari keluarga imam dan mulai bernubuat pada tahun ke-13 pemerintahan Raja Yosia. Meskipun mendukung pembaharuan Yosia, Yeremia menyadari bahwa bangsa itu belum mengalami pertobatan sejati, sehingga ia terus memperingatkan tentang hukuman Allah. Setelah Babel mengalahkan Mesir di Karkemis pada 605 SM dan menyerang Yehuda pada 597 SM, Yerusalem akhirnya dihancurkan pada 586 SM. Yeremia dikenal sebagai “nabi peratap” karena penderitaannya ketika menyampaikan firman Allah kepada bangsa yang keras hati, tetapi ia tetap setia meskipun ditolak dan dianiaya.

Kitab ini ditulis berdasarkan nubuat Yeremia yang didiktekan kepada Barukh (Yer. 36:1-4). Setelah gulungan pertama dibakar Raja Yoyakim, Yeremia mendiktekan kembali nubuat tersebut dengan tambahan. Kemungkinan besar Barukh menyusun bentuk akhir kitab ini sekitar 585-580 SM. Kitab Yeremia menegaskan kesetiaan sang nabi sekaligus kepastian hukuman Allah bagi umat yang menolak bertobat.

Konteks Yeremia 15:15-21 adalah keluhan pribadi Yeremia di tengah penderitaan karena panggilan kenabiannya. Bagian ini muncul setelah Yeremia menyampaikan berita penghukuman Allah atas Yehuda yang terus memberontak. Ia mengalami penolakan, celaan, ancaman, dan kesepian karena menyampaikan firman Tuhan. Dalam ayat 15-18, Yeremia mencurahkan isi hatinya kepada Tuhan: ia mengasihi firman Allah (ay. 16), tetapi justru karena firman itu ia harus menanggung penderitaan dan hidup terpisah dari banyak orang (ay. 17-18). Bahkan dalam penderitaannya, ia merasa seolah-olah Tuhan tidak dapat diandalkan. Ayat 19-21 merupakan jawaban Tuhan kepada Yeremia: Tuhan memanggilnya untuk kembali teguh kepada-Nya, tetap menyampaikan yang benar dan berharga, serta tidak mengikuti jalan bangsa yang menolak Allah. Tuhan kemudian menjanjikan bahwa Yeremia akan menjadi “tembok berkubu dari tembaga”, sehingga sekalipun orang-orang memeranginya, mereka tidak akan mengalahkannya karena Tuhan menyertai dan menyelamatkannya. Jadi, konteks utama Yeremia 15:15-21 adalah pergumulan seorang nabi yang menderita karena kesetiaannya kepada firman Allah, dan peneguhan Tuhan agar ia tetap teguh dalam panggilannya.

Teguh Berpegang pada Kebenaran Efesus 4:7-16

Khotbah Minggu

Pendahuluan

Paulus memperkenalkan dirinya sebagai “rasul Kristus Yesus oleh kehendak Allah.”Surat ini berkaitan erat dengan pelayanan Paulus kepada jemaat-jemaat di wilayah Asia Kecil, khususnya jemaat di Efesus. Surat ini ditujukan kepada orang-orang percaya di Efesus, sebuah kota penting di Asia Kecil, yang sekarang berada di wilayah Turki.

Efesus merupakan kota yang sangat strategis secara ekonomi, politik, dan keagamaan. Kota ini terkenal sebagai pusat penyembahan kepada Artemis. Karena itu, kehidupan jemaat Kristen berada di tengah lingkungan yang memiliki berbagai pengaruh agama, budaya, filsafat, dan praktik kehidupan yang tidak selalu sesuai dengan iman Kristen.

Efesus 4:7-16. Kristus memberikan berbagai karunia dan pelayanan kepada anggota tubuh-Nya, tetapi semua karunia itu mempunyai satu tujuan: membangun tubuh Kristus dan membawa jemaat kepada kedewasaan iman.

 

Khotbah

 

1. Membangun Tubuh Kristus (Ayat 7-12)

Paulus memulai dengan mengatakan bahwa kepada setiap orang percaya telah dianugerahkan kasih karunia menurut ukuran pemberian Kristus. Artinya, setiap orang percaya mempunyai tempat dan fungsi dalam tubuh Kristus. Kristus memberikan berbagai karunia dan pelayanan: rasul, nabi, pemberita Injil, gembala, dan pengajar. Tujuannya bukan supaya beberapa orang menjadi lebih tinggi daripada yang lain.

Pelayan Tuhan bukan dipanggil untuk melakukan segala sesuatu sendirian, tetapi memperlengkapi seluruh umat Tuhan supaya bersama-sama melayani. Gereja yang sehat bukan gereja yang hanya memiliki banyak kegiatan, tetapi gereja yang setiap anggotanya bertumbuh dan mengambil bagian dalam pelayanan.

Taatilah Hukum dan Tegakkan Keadilan. Yesaya 56:1-8

 Khotbah Minggu

 Pendahuluan

Bagian ini berbicara tentang kehidupan umat Allah setelah masa pembuangan, ketika mereka dipanggil untuk membangun kembali kehidupan yang sesuai dengan kehendak Tuhan.Ketaatan kepada Tuhan tidak cukup hanya dinyatakan melalui perkataan atau ibadah. Ketaatan harus terlihat dalam kehidupan sehari-hari, terutama melalui menegakkan keadilan, melakukan kebenaran, dan menghormati hukum Tuhan.

Yesaya 56:1-8 juga memberikan pesan yang sangat kuat: Allah tidak hanya memperhatikan kelompok tertentu. Orang asing dan mereka yang sebelumnya merasa berada di luar komunitas umat Allah juga diterima apabila mereka mengasihi Tuhan, beribadah kepada-Nya, dan berpegang pada perjanjian-Nya.

Dengan demikian, teks ini mengajarkan bahwa umat Tuhan dipanggil menjadi komunitas yang taat kepada hukum Allah, adil terhadap sesama, dan terbuka kepada setiap orang yang sungguh-sungguh datang kepada Tuhan.

Kitab Yesaya memuat pelayanan nabi Yesaya kepada bangsa Yehuda dalam situasi politik dan rohani yang penuh pergumulan. Bangsa Israel mengalami ketidaktaatan kepada Tuhan, ketidakadilan sosial, dan akhirnya menghadapi hukuman serta pembuangan.

Yesaya 56 berada pada bagian akhir kitab yang banyak berbicara mengenai pemulihan umat Allah. Setelah pengalaman pembuangan, umat dipanggil bukan hanya untuk kembali ke tanah mereka, tetapi juga untuk kembali kepada kehidupan yang benar di hadapan Allah.

Menariknya, dalam bagian ini Allah juga menyebut orang asing dan sida-sida. Mereka yang dahulu dianggap berada di luar komunitas Israel diberi tempat apabila mereka berpegang pada perjanjian Tuhan. Ini menunjukkan bahwa keselamatan dan kasih Allah memiliki jangkauan yang lebih luas daripada batas-batas sosial manusia.

Tenanglah, Jangan Takut. Matius 14:22-23

 

Khotbah Minggu

Tenanglah, Jangan Takut

Matius 14:22-23

 

Yesus berjalan di atas air

22 Sesudah itu Yesus segera memerintahkan murid-murid-Nya naik ke perahu dan mendahului-Nya ke seberang, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang. 23 Dan setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa j  seorang diri . Ketika hari sudah malam, Ia sendirian di situ. 24 Perahu murid-murid-Nya sudah beberapa mil jauhnya dari pantai dan diombang-ambingkan gelombang, karena angin sakal. 25 Kira-kira jam tiga malam datanglah Yesus kepada mereka berjalan di atas air. 26 Ketika murid-murid-Nya melihat Dia berjalan di atas air, mereka terkejut dan berseru: "Itu hantu!  ", lalu berteriak-teriak karena takut. 27 Tetapi segera Yesus berkata kepada mereka: "Tenanglah!  Aku ini, jangan takut !  " 28 Lalu Petrus berseru dan menjawab Dia: "Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air." 29 Kata Yesus: "Datanglah!" Maka Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus. 30 Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak: "Tuhan, tolonglah aku!" 31 Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: "Hai orang yang kurang percaya,  mengapa engkau bimbang?" 32 Lalu mereka naik ke perahu dan anginpun redalah. 33 Dan orang-orang yang ada di perahu menyembah Dia, katanya: "Sesungguhnya Engkau Anak Allah.  "

 

Pendahuluan

Peristiwa dalam Matius 14:22-33 terjadi segera setelah Yesus melakukan mukjizat memberi makan lebih dari lima ribu orang dengan lima roti dan dua ikan (Matius 14:13-21). Mukjizat ini membuat orang banyak semakin mengagumi Yesus. Setelah itu, Yesus segera menyuruh murid-murid-Nya naik perahu dan menyeberangi Danau Galilea, sementara Ia sendiri menyuruh orang banyak pulang.

Sesudah semua orang pergi, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri kepada Bapa (ayat 23). Di tengah kesibukan pelayanan dan besarnya tuntutan orang banyak, Yesus tetap mengutamakan persekutuan dengan Allah. Hal ini menunjukkan bahwa doa merupakan sumber kekuatan dalam menjalankan kehendak Bapa.

Sementara itu, perahu para murid sudah berada jauh dari pantai dan dihantam gelombang karena angin sakal (ayat 24). Danau Galilea memang dikenal sering mengalami badai yang datang secara tiba-tiba akibat kondisi geografisnya. Murid-murid yang sebagian besar adalah nelayan berpengalaman pun tidak mampu mengendalikan keadaan. Mereka bergumul sepanjang malam hingga menjelang dini hari.

Dalam situasi itulah Yesus menyatakan diri-Nya dengan berkata, "Tenanglah! Aku ini, jangan takut!" (ayat 27).

1. Ketenangan Berawal dari Persekutuan Doa dengan Allah (Matius 14:22-23)

"Dan setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri."

Perikop ini diawali dengan tindakan Yesus yang sangat menarik. Setelah selesai memberi makan lebih dari lima ribu orang, Yesus tidak membiarkan diri-Nya larut dalam popularitas dan kesibukan pelayanan. Ia segera menyuruh murid-murid-Nya menyeberangi danau, memulangkan orang banyak, lalu naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri kepada Bapa.

Tindakan Yesus menunjukkan bahwa persekutuan dengan Allah lebih penting daripada kesibukan pelayanan. Meskipun banyak orang masih membutuhkan-Nya, Yesus memahami bahwa sumber kekuatan pelayanan bukanlah aktivitas yang padat, melainkan hubungan yang intim dengan Bapa. Sebelum menghadapi tantangan berikutnya, Ia terlebih dahulu mencari wajah Allah dalam doa.

Hal ini menjadi teladan bagi setiap orang percaya. Sering kali kita begitu sibuk dengan pekerjaan, pelayanan, keluarga, atau berbagai tanggung jawab sehingga waktu untuk berdoa justru menjadi yang pertama dikorbankan. Kita berharap memiliki hati yang tenang, tetapi mengabaikan sumber ketenangan itu sendiri. Padahal, ketenangan sejati tidak lahir dari keadaan yang nyaman, melainkan dari persekutuan yang erat dengan Tuhan.

Menariknya, setelah Yesus selesai berdoa, murid-murid-Nya sedang menghadapi badai di tengah danau. Ini mengajarkan bahwa doa bukanlah jaminan kita tidak akan menghadapi badai kehidupan. Sebaliknya, doa mempersiapkan kita untuk menghadapi badai dengan iman dan ketenangan. Yesus telah lebih dahulu bersekutu dengan Bapa sebelum menolong murid-murid-Nya yang sedang bergumul.

2. Jangan Takut, Yesus Hadir di Tengah Badai (Matius 14:24-27)

"Tetapi segera Yesus berkata kepada mereka: 'Tenanglah! Aku ini, jangan takut!'" (Mat. 14:27)

Setelah Yesus menyuruh murid-murid-Nya menyeberangi Danau Galilea, mereka menghadapi badai yang dahsyat. Perahu mereka diombang-ambingkan gelombang karena angin sakal. Yang menarik, badai ini bukan terjadi karena mereka melawan kehendak Tuhan, melainkan justru karena mereka menaati perintah Yesus (ay. 22). Hal ini mengajarkan bahwa ketaatan kepada Tuhan tidak membuat seseorang kebal terhadap kesulitan. Orang yang hidup setia kepada Kristus pun dapat mengalami sakit, kehilangan, tekanan ekonomi, penolakan, atau berbagai pergumulan hidup.

Ironisnya, ketika Yesus datang, murid-murid tidak langsung mengenali-Nya. Mereka justru mengira bahwa yang datang adalah hantu sehingga ketakutan mereka semakin besar. Ketakutan sering kali membuat manusia sulit melihat bahwa Tuhan sedang bekerja. Dalam keadaan panik, kita mudah melihat ancaman lebih besar daripada penyertaan Tuhan.

Karena itu Yesus segera berkata, "Tenanglah! Aku ini, jangan takut!" Perkataan "Aku ini" (Yunani: egō eimi) bukan sekadar memperkenalkan diri, tetapi mengingatkan pada penyataan Allah dalam Perjanjian Lama, "AKU ADALAH AKU" (Kel. 3:14). Dengan kata lain, Yesus sedang menyatakan bahwa Dia adalah Tuhan yang hadir bersama umat-Nya. Dasar ketenangan murid-murid bukanlah karena badai sudah berhenti, melainkan karena Tuhan sendiri hadir di tengah badai itu.

3. Iman yang Tertuju kepada Kristus Mengalahkan Ketakutan (Matius 14:28-33)

"Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?" (Mat. 14:31)

Setelah mendengar suara Yesus berkata, "Tenanglah! Aku ini, jangan takut!", Petrus memberikan respons yang berbeda dari murid-murid lainnya. Ia berkata, "Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air." Ketika Yesus menjawab, "Datanglah!", Petrus turun dari perahu dan mulai berjalan di atas air menuju Yesus.

Peristiwa ini menunjukkan bahwa iman sanggup membawa seseorang melakukan hal yang di luar kemampuan manusia. Petrus bukan berjalan di atas air karena kekuatannya sendiri, melainkan karena ia percaya kepada perkataan Yesus. Selama pandangannya tertuju kepada Kristus, ia mampu melangkah di atas gelombang yang sebelumnya menakutkan.

Namun, keadaan berubah ketika Petrus mulai memperhatikan tiupan angin dan besarnya ombak. Alkitab mencatat, "Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam." Ketika fokusnya bergeser dari Yesus kepada keadaan di sekelilingnya, ketakutan mengambil alih, dan imannya menjadi goyah. Ketakutan sering kali muncul bukan karena Tuhan berubah, tetapi karena perhatian kita lebih tertuju pada besarnya persoalan daripada kepada kebesaran Tuhan.

Meskipun demikian, Petrus melakukan satu hal yang benar. Ia tidak mengandalkan dirinya sendiri, tetapi segera berseru, "Tuhan, tolonglah aku!" Seruan yang singkat itu lahir dari iman bahwa hanya Yesus yang sanggup menyelamatkannya. Alkitab berkata, "Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia." Kata "segera" menunjukkan bahwa Yesus tidak menunda pertolongan-Nya. Ia tidak membiarkan Petrus tenggelam karena kegagalannya, tetapi dengan kasih dan anugerah mengangkatnya kembali. Setelah itu Yesus berkata, "Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?" Teguran ini bukan untuk menghukum Petrus, melainkan untuk menolongnya bertumbuh dalam iman yang lebih teguh.

Ketika Yesus dan Petrus naik ke dalam perahu, angin pun reda. Melihat semua yang terjadi, murid-murid menyembah Yesus dan berkata, "Sesungguhnya Engkau Anak Allah." Badai yang mereka alami akhirnya membawa mereka kepada pengenalan yang lebih dalam akan pribadi Kristus. Mereka bukan hanya melihat mukjizat, tetapi juga mengakui bahwa Yesus adalah Anak Allah yang berkuasa atas alam dan layak menerima penyembahan.

 

Kesimpulan

Matius 14:22-33 mengajarkan bahwa ketenangan sejati bukanlah keadaan tanpa badai, melainkan keyakinan bahwa Yesus hadir dan berkuasa di tengah badai kehidupan. Karena itu, ketika menghadapi berbagai persoalan, jangan biarkan ketakutan menguasai hati kita. Bangunlah persekutuan dengan Allah melalui doa, percayalah bahwa Yesus tidak pernah meninggalkan kita, dan tetaplah arahkan pandangan iman kepada-Nya. Seperti Petrus, mungkin ada saatnya kita menjadi takut, bimbang, bahkan merasa mulai tenggelam, tetapi kita selalu dapat berseru, “Tuhan, tolonglah aku!” Tangan Tuhan tetap terulur untuk menolong dan menguatkan kita. Maka, apa pun badai yang sedang kita hadapi, dengarkanlah kembali suara Kristus: “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” Sebab bersama Yesus, kita tidak pernah menghadapi badai seorang diri.

 

 

 

Semua Janji Tuhan Dipenuhi. Yosua 21:43-45

 

Khotbah Minggu

 

Pendahuluan:

Kitab Yosua merupakan kelanjutan dari kitab Ulangan. Setelah Musa meninggal, Allah memilih Yosua sebagai pemimpin Israel untuk membawa bangsa itu masuk ke Tanah Perjanjian. Kitab ini menggambarkan bagaimana Allah setia menggenapi janji-Nya kepada Abraham, Ishak, dan Yakub, yaitu memberikan negeri Kanaan kepada keturunan mereka (Kej. 12:7; 15:18-21). Walaupun bangsa Israel harus menghadapi peperangan, kota-kota berkubu, dan bangsa-bangsa yang kuat, Allah berjalan bersama mereka dan memberikan kemenangan.

Di tengah dunia yang penuh ketidakpastian dan janji manusia yang sering tidak ditepati, firman Tuhan mengingatkan bahwa Allah adalah Pribadi yang tidak pernah ingkar janji. Karena itu, orang percaya dipanggil untuk hidup dalam keyakinan dan ketaatan kepada-Nya.

 

1. Tuhan Menggenapi Janji-Nya dengan Memberikan Berkat yang Dijanjikan (ayat 43)

"Demikianlah TUHAN memberikan kepada orang Israel seluruh negeri yang dijanjikan-Nya dengan sumpah..."

Tanah Kanaan bukanlah hasil kekuatan Israel semata, melainkan pemberian Allah. Janji yang diucapkan kepada Abraham sekitar ratusan tahun sebelumnya akhirnya menjadi kenyataan. Allah mengingat setiap janji yang telah diucapkan-Nya.

Sering kali manusia merasa Tuhan terlambat menjawab doa. Namun, keterlambatan menurut manusia bukan berarti Tuhan lupa. Allah bekerja menurut waktu-Nya yang sempurna.

 

2. Tuhan Menggenapi Janji-Nya dengan Memberikan Kemenangan dan Ketenangan (ayat 44)

"TUHAN mengaruniakan keamanan kepada mereka..."

Sesudah memasuki tanah Kanaan, Israel menghadapi banyak peperangan. Namun akhirnya Tuhan memberikan keamanan dan kemenangan atas musuh-musuh mereka. Ini menunjukkan bahwa damai sejati berasal dari Tuhan.

Dalam kehidupan, kita juga menghadapi banyak "musuh": persoalan keluarga, penyakit, tekanan ekonomi, pergumulan pelayanan, bahkan ketakutan akan masa depan. Tuhan tidak selalu menghilangkan semua pergumulan seketika, tetapi Ia menyertai dan memberikan kemenangan serta ketenangan kepada orang yang berharap kepada-Nya.

 

3. Tuhan Menggenapi Seluruh Janji-Nya Tanpa Ada yang Gagal (ayat 45)

"Dari segala yang baik yang dijanjikan TUHAN... tidak ada yang tidak dipenuhi; semuanya terpenuhi."

Inilah puncak pesan bagian ini, bahwa tidak satu pun janji Tuhan gagal. Kesetiaan Allah menjadi dasar iman umat-Nya.

Di dalam Yesus Kristus, kita melihat penggenapan terbesar dari janji Allah, yaitu keselamatan bagi semua orang yang percaya. Karena Allah setia pada masa lalu, kita juga dapat mempercayai-Nya untuk masa kini dan masa depan.

Kesimpulan

Yosua 21:43-45 mengajarkan bahwa Allah adalah Tuhan yang setia. Ia memberikan apa yang dijanjikan-Nya, menyertai umat-Nya dalam perjuangan, memberikan kemenangan, dan tidak pernah gagal menepati firman-Nya.

Kesetiaan Allah pada masa lalu menjadi jaminan bagi kehidupan kita hari ini. Oleh sebab itu, marilah kita tetap percaya, taat, dan berharap kepada Tuhan. Walaupun jalan hidup tidak selalu mudah, kita dapat yakin bahwa semua janji Tuhan akan dipenuhi menurut waktu dan kehendak-Nya yang sempurna.

Karya Allah Bagi Orang Pilihan-Nya Roma 8: 26-30

 Khotbah Minggu

 

 Pendahuluan

Kitab Roma ditulis oleh Rasul Paulus sekitar tahun 57-58 M kepada jemaat di Roma. Surat ini menjelaskan secara sistematis tentang Injil dan keselamatan oleh kasih karunia melalui iman kepada Yesus Kristus.

Pasal 8 menunjukan bahwa Allah tidak pernah membiarkan orang-orang pilihan-Nya menjalani hidup ini sendirian. Di tengah kelemahan, penderitaan, dan berbagai pergumulan, Allah terus berkarya dengan kasih dan kuasa-Nya untuk menggenapi rencana keselamatan yang telah ditetapkan sejak semula. Roma 8:26-30 memperlihatkan rangkaian karya Allah yang sempurna bagi umat-Nya: Roh Kudus menolong mereka dalam doa ketika mereka tidak tahu apa yang harus dipanjatkan, Allah bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi-Nya, dan Allah menggenapi rencana kekal-Nya dengan memanggil, membenarkan, serta memuliakan mereka. Kebenaran ini menjadi dasar pengharapan yang teguh bagi setiap orang percaya bahwa hidup mereka senantiasa berada di dalam pemeliharaan dan rencana Allah yang tidak pernah gagal. Karena itu, melalui perikop ini kita akan melihat tiga karya Allah bagi orang pilihan-Nya, yaitu: 1.      Roh Kudus Menolong Orang Pilihan-Nya dalam Doa (Rm. 8:26–27), 2.      Allah Mendatangkan Kebaikan bagi Orang Pilihan-Nya (Rm. 8:28), dan 3.      Rencana Kekal Allah bagi Orang Pilihan-Nya (Rm. 8:29–30).


1.  Roh Kudus Menolong Orang Pilihan-Nya dalam Doa (Ayat 26-27)

 26 Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh  sendiri berdoa untuk kita  kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan. 27 Dan Allah yang menyelidiki hati nurani,  mengetahui maksud Roh itu, yaitu bahwa Ia, sesuai dengan kehendak Allah, berdoa  untuk orang-orang kudus. 

Salah satu karya Allah yang luar biasa bagi orang pilihan-Nya adalah memberikan pertolongan melalui Roh Kudus ketika mereka berdoa. Dalam kelemahan manusia, sering kali orang percaya tidak mengetahui apa yang seharusnya didoakan atau bagaimana menyampaikannya kepada Allah. Namun, Allah tidak membiarkan umat-Nya berjuang sendiri. Kristus bertindak sebagai Pengantara di hadapan Bapa di surga (Rm. 8:34; 1Yoh. 2:1), sementara Roh Kudus menjadi Pengantara yang tinggal di dalam hati orang percaya di bumi. Roh Kudus menyertai setiap pergumulan, bahkan menerjemahkan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan menjadi doa yang berkenan kepada Allah. Kerinduan, desahan, dan harapan rohani yang muncul dalam hati orang percaya merupakan karya Roh Kudus yang terus mengarahkan mereka kepada penggenapan penebusan. Karena Roh Kudus berdoa sesuai dengan kehendak Allah, orang percaya dapat memiliki keyakinan bahwa Allah mendengar dan menjawab doa mereka menurut rencana-Nya yang sempurna. Dengan demikian, pertolongan Roh Kudus dalam doa merupakan bukti nyata kasih dan pemeliharaan Allah bagi orang-orang pilihan-Nya.

 

 2. Allah Mendatangkan Kebaikan bagi Orang Pilihan-Nya (ayat 28)

28 Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan  bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil  sesuai dengan rencana  Allah. 

Roma 8:28 menyatakan salah satu janji Allah yang paling menguatkan bagi orang percaya, khususnya ketika mereka menghadapi penderitaan. Allah bekerja dalam segala keadaan untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia dan yang terpanggil sesuai dengan rencana-Nya. Kebaikan yang dimaksud bukanlah selalu berupa kenyamanan, kesuksesan, atau terbebas dari masalah, melainkan proses Allah membentuk kehidupan orang percaya agar semakin serupa dengan Kristus dan pada akhirnya memperoleh kemuliaan bersama-Nya (Rm. 8:29). Janji ini diberikan secara khusus kepada mereka yang hidup dalam kasih kepada Allah dan telah menyerahkan diri kepada-Nya melalui iman kepada Yesus Kristus. Namun, frasa "Allah turut bekerja dalam segala sesuatu" tidak boleh dipahami sebagai pembenaran terhadap dosa atau kelalaian manusia. Dosa tetap mendatangkan konsekuensi, tetapi dalam kasih karunia-Nya Allah sanggup memakai berbagai keadaan hidup, termasuk penderitaan dan kesulitan, untuk menggenapi tujuan-Nya yang baik bagi orang-orang pilihan-Nya. Dengan demikian, ayat ini menjadi sumber pengharapan yang meneguhkan bahwa tidak ada satu pun pengalaman hidup orang percaya yang berada di luar kendali dan pemeliharaan Allah.

3. Rencana Kekal Allah bagi Orang Pilihan-Nya (Ayat 29-30)

29 Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula ,  mereka juga ditentukan-Nya  dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya,  supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung  di antara banyak saudara. 30 Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula,  mereka itu juga dipanggil-Nya.  Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya.  Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.

Roma 8:29-30 menegaskan bahwa keselamatan orang percaya berakar pada rencana Allah yang kekal. Sejak semula Allah telah mengenal dan mengasihi umat-Nya serta menetapkan mereka untuk menjadi serupa dengan gambar Anak-Nya, Yesus Kristus. Pemilihan Allah bukan sekadar menunjuk kepada keselamatan, tetapi juga kepada proses pembentukan hidup agar semakin mencerminkan karakter Kristus. Karena itu, Allah memanggil mereka melalui Injil, membenarkan mereka oleh iman kepada Kristus, dan pada akhirnya akan memuliakan mereka sesuai dengan rencana-Nya yang sempurna. Rencana kekal ini menunjukkan bahwa seluruh karya keselamatan berasal dari inisiatif Allah dan digenapi oleh kuasa-Nya. Oleh sebab itu, orang percaya dipanggil untuk tetap tinggal di dalam Kristus, memelihara iman, dan hidup sebagai bagian dari tubuh Kristus sampai mencapai kemuliaan yang telah Allah sediakan.

Kesimpulan

Roma 8:26-30 menegaskan bahwa karya keselamatan Allah bagi orang pilihan-Nya adalah karya yang utuh dan sempurna. Allah tidak hanya menyelamatkan, tetapi juga menyertai, memelihara, membentuk, dan pada akhirnya memuliakan umat-Nya. Melalui pertolongan Roh Kudus dalam doa, pemeliharaan Allah yang mendatangkan kebaikan di dalam segala keadaan, serta rencana kekal-Nya yang membawa orang percaya menjadi serupa dengan Kristus, kita memiliki kepastian bahwa tidak ada satu pun yang dapat menggagalkan maksud Allah bagi kehidupan orang-orang yang mengasihi-Nya. Oleh karena itu, marilah kita tetap setia hidup di dalam Kristus, bertekun dalam iman, dan menyerahkan seluruh hidup kepada Allah, sebab Dia yang telah memulai pekerjaan yang baik di dalam kita akan menyempurnakannya sampai pada hari Kristus Yesus (Flp. 1:6).

Oleh:Pdt. Juliman Harefa

 

Khotbah Minggu: Tuhan Melakukan Perbuatan Besar Bagi Umat-Nya. Keluaran 14:19-31

Pendahuluan Kitab Keluaran menceritakan bagaimana bangsa Israel yang telah lama menjadi budak di Mesir dibebaskan oleh Allah melalui Musa. F...