Kitab Ulangan berisi pidato-pidato Musa kepada
bangsa Israel menjelang mereka memasuki Tanah Kanaan. Generasi yang mengalami
keluarnya Israel dari Mesir sebagian besar telah meninggal di padang gurun, dan
pada bagian ini, Musa sedang mempersiapkan generasi baru yang lahir di padang
gurun untuk hidup sebagai umat Allah di tanah Kanaan, tanah perjanjian. Tema
umum kita Ulangan ialah mengingat, mengasihi dan menaati perintah Tuhan
Ulangan 11:13-21 merupakan bagian dari pesan
Musa kepada bangsa Israel sebelum mereka memasuki Tanah Perjanjian. Musa
mengingatkan bahwa kehidupan mereka di tanah yang Tuhan berikan sangat
bergantung pada hubungan mereka dengan Tuhan. Karena itu, bagian ini mengajarkan
kita pada tiga hal penting. Pertama,
ayat 13–15 berbicara tentang berkat bagi mereka yang mengasihi dan taat kepada
perintah Tuhan. Kedua, ayat 16-17
memberikan peringatan dan teguran agar Israel tidak menyimpang dan menyembah
allah lain. Jika mereka meninggalkan Tuhan, ada konsekuensi yang harus mereka
tanggung. Ketiga, ayat 18-21 berbicara
tentang mewarisi dan meneruskan perintah Tuhan.
Khotbah
1. Berkat bagi yang Mengasihi dan Taat pada Perintah Tuhan (ayat 13-14)
13 Jika kamu dengan sungguh-sungguh mendengarkan perintah yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, sehingga kamu mengasihi TUHAN, Allahmu, dan beribadah kepada-Nya dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu, 14 maka Ia akan memberikan hujan untuk tanahmu pada masanya, hujan awal dan hujan akhir, sehingga engkau dapat mengumpulkan gandummu, anggurmu dan minyakmu, 15 dan Dia akan memberi rumput di padangmu untuk hewanmu, sehingga engkau dapat makan dan menjadi kenyang.
Ayat 13-14 memiliki pola “jika-maka”.
Kata “jika” menunjukkan syarat, sedangkan kata “maka” menunjukkan akibat atau
janji Tuhan. Pola ini menghubungkan tiga hal penting, yaitu mendengarkan
perintah Tuhan, mengasihi Tuhan, dan beribadah kepada-Nya dengan segenap hati
dan jiwa.
Dengan kata lain, “jika–maka” bukan sekadar
hubungan antara ketaatan dan keuntungan, tetapi menggambarkan hubungan
perjanjian antara Tuhan dan Israel. Israel dipanggil untuk hidup dalam kasih
dan ketaatan kepada Tuhan, sementara Tuhan berjanji untuk memelihara kehidupan
mereka di tanah yang telah diberikan-Nya.
Berkat yang disebutkan dalam ayat 14-15, yaitu hujan
pada waktunya, hasil gandum, anggur, minyak, dan rumput bagi ternak,
menunjukkan bahwa kehidupan Israel di Tanah Perjanjian sepenuhnya bergantung
kepada pemeliharaan Tuhan. Bagi masyarakat agraris seperti Israel, hujan
merupakan kebutuhan yang sangat penting bagi pertanian dan kehidupan ternak.
Karena itu, berkat tersebut bukan sekadar janji tentang kelimpahan materi,
tetapi merupakan tanda pemeliharaan Tuhan atas umat-Nya.
Karena itu orang percaya perlu taat kepada
perintah Tuhan sebab ketaatan adalah wujud kasih kepada Tuhan, dan berkat
adalah tanda pemeliharaan Tuhan atas umat yang hidup dalam perjanjian
dengan-Nya.”
2. Peringatan Tuhan dan Terguran (ayat 16-17)
16 Hati-hatilah, supaya jangan hatimu terbujuk, sehingga kamu menyimpang dengan beribadah kepada allah lain dan sujud menyembah kepadanya. 17 Jika demikian, maka akan bangkitlah murka TUHAN terhadap kamu dan Ia akan menutup langit, sehingga tidak ada hujan dan tanah tidak mengeluarkan hasil, lalu kamu lenyap dengan cepat dari negeri yang baik yang diberikan TUHAN kepadamu.
Ayat 16-17 menggunakan pola “jika–maka” juga, tetapi dalam bentuk peringatan dan konsekuensi dari ketidaktaatan. Kata “jika” dalam ayat 17 menunjuk pada kemungkinan Israel menyimpang, yaitu beribadah dan sujud menyembah kepada allah lain. Sedangkan kata “maka” menunjukkan konsekuensi dari penyimpangan tersebut, yaitu murka Tuhan, langit yang tertutup sehingga tidak ada hujan, tanah yang tidak menghasilkan, dan akhirnya Israel kehilangan negeri yang baik yang telah diberikan Tuhan kepada mereka.
Dengan demikian, pola “jika–maka” dalam ayat
16–17 menunjukkan bahwa ketidaktaatan kepada Tuhan membawa konsekuensi bagi
kehidupan Israel. Peringatan ini sekaligus menegaskan bahwa berkat yang mereka
terima di Tanah Perjanjian tidak boleh membuat mereka melupakan Tuhan. Mereka
harus tetap setia kepada Tuhan yang telah memberikan dan memelihara kehidupan
mereka.
Umat percaya saat ini, diperingati agar tidak
terlena dan hatinya terbujuk untuk menyimpang dari Tuhan, atau akan menerima konsekuensi
ketidaktaatan tersebut di atas
3. Mewarisi Perintah Tuhan (ayat 18-21)
18 Tetapi
kamu harus menaruh perkataanku ini dalam hatimu dan dalam jiwamu; kamu harus
mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di
dahimu. 19 Kamu harus mengajarkannya kepada
anak-anakmu dengan membicarakannya, apabila engkau duduk di rumahmu dan
apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila
engkau bangun; 20 engkau harus menuliskannya pada tiang pintu
rumahmu dan pada pintu gerbangmu, 21 supaya panjang umurmu
dan umur anak-anakmu di tanah yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek
moyangmu untuk memberikannya kepada mereka, selama ada langit di atas bumi.
Pada ayat 18-21, Musa menunjukkan bahwa perintah
Tuhan bukan hanya untuk didengar dan ditaati oleh satu generasi, tetapi harus disimpan
dalam hati, dihidupi dalam kehidupan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Firman Tuhan harus ditempatkan dalam hati dan jiwa. Gambaran mengikatkannya
pada tangan dan menjadikannya lambang pada dahi menunjukkan bahwa firman Tuhan
harus memengaruhi apa yang dipikirkan dan apa yang dilakukan oleh umat Tuhan.
Selanjutnya, ayat 19 memberikan perhatian khusus
kepada anak-anak. Perintah Tuhan harus diajarkan dan dibicarakan terus-menerus,
baik ketika berada di rumah, dalam perjalanan, ketika berbaring maupun ketika
bangun. Ini menunjukkan bahwa pewarisan iman tidak terjadi hanya melalui
pengajaran formal, tetapi melalui kehidupan sehari-hari. Anak-anak belajar
mengenal Tuhan melalui perkataan, teladan, dan kehidupan orang tua.
Ayat 20 menambahkan bahwa firman Tuhan harus
dituliskan pada tiang pintu rumah dan pada pintu gerbang. Rumah dan lingkungan
kehidupan umat menjadi tempat untuk terus mengingat dan menghidupi firman
Tuhan. Dengan demikian, firman Tuhan tidak boleh hanya berada di tempat ibadah,
tetapi harus hadir dalam kehidupan pribadi, keluarga, dan masyarakat.
Semua tindakan tersebut memiliki tujuan yang
dinyatakan dengan kata “supaya” pada ayat 21. Israel dan anak-anak mereka
diharapkan dapat menikmati kehidupan yang panjang di tanah yang telah
dijanjikan Tuhan kepada nenek moyang mereka. Jadi, pewarisan perintah Tuhan
bukan hanya bertujuan agar anak-anak mengetahui firman, tetapi agar mereka mengenal
Tuhan, hidup dalam ketaatan kepada-Nya, dan meneruskan iman itu kepada generasi
sesudah mereka.
Karena itu, kita dimasa kini yang menerima
warisan perintah Tuhan bukan hanya
menerima firman dari generasi sebelumnya, tetapi kita juga memastikan bahwa
firman itu tetap hidup dan diteruskan kepada generasi sesudah kita yakni anak
dan cucu.
Kesimpulan
Ulangan 11:13-21 mengingatkan kita bahwa mengasihi
Tuhan harus nyata dalam ketaatan kepada perintah-Nya. Ketaatan membawa kita
kepada pengalaman akan pemeliharaan dan berkat Tuhan, sedangkan ketidaktaatan
dan penyembahan kepada allah lain membawa konsekuensi. Karena itu, firman Tuhan
tidak cukup hanya didengar, tetapi harus disimpan dalam hati, dihidupi dalam
kehidupan sehari-hari, diajarkan kepada anak-anak, dan diwariskan kepada
generasi berikutnya. Sebagai orang percaya, kita dipanggil bukan hanya untuk
menerima warisan iman dari generasi sebelumnya, tetapi juga menjadi penerus
iman yang memastikan firman Tuhan tetap hidup dalam keluarga dan generasi
anak-anak serta cucu kita.
Pertanyaan: Apa yang Tuhan kehendaki
dari umat-Nya berdasarkan Ulangan 11:13–21?
Jawaban: Tuhan menghendaki umat-Nya mengasihi dan menaati
perintah-Nya, tidak menyimpang kepada allah lain, serta memelihara dan
mewariskan firman-Nya kepada anak-anak dan generasi berikutnya. Ketaatan kepada
Tuhan menjadi wujud kasih dan kesetiaan kepada-Nya, sementara firman Tuhan
harus terus hidup dalam keluarga dan kehidupan sehari-hari.
Oleh:Pdt. Juliman Harefa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar