1. Pendahuluan
Kitab Keluaran menceritakan bagaimana bangsa Israel yang telah lama menjadi budak di Mesir dibebaskan oleh Allah melalui Musa. Firaun pada awalnya menolak membiarkan Israel pergi, sehingga Allah mendatangkan sepuluh tulah atas Mesir. Setelah tulah terakhir, yaitu kematian anak sulung Mesir, Firaun akhirnya mengizinkan Israel meninggalkan Mesir (Kel. 12). Israel kemudian bergerak keluar dari tanah Mesir menuju tanah yang dijanjikan Allah kepada nenek moyang mereka.
Namun, pembebasan itu belum langsung berarti mereka bebas dari ancaman. Firaun berubah pikiran dan kembali mengejar Israel dengan pasukan, kereta, dan orang-orang berkudanya. Sebelum Keluaran 14:19-31, Israel telah sampai di dekat laut. Di depan mereka terdapat laut, sedangkan dari belakang datang tentara Mesir.
Keadaan ini sangat menakutkan. Israel merasa bahwa mereka akan mati. Mereka bahkan berkata kepada Musa: “Apakah karena tidak ada kuburan di Mesir, maka engkau membawa kami untuk mati di padang gurun ini?” (Kel. 14:11).
Jadi, persoalan utama dalam pasal ini bukan sekadar perjalanan menyeberangi laut. Israel sedang menghadapi situasi yang secara manusiawi tidak mempunyai jalan keluar. Musa kemudian berkata: “Janganlah takut, berdirilah tetap dan lihatlah keselamatan dari TUHAN.” (Kel. 14:13). Dan ayat 14 menjadi kunci: “TUHAN akan berperang untuk kamu, dan kamu akan diam saja.”
Dengan demikian, Keluaran 14:19-31 merupakan penggenapan nyata dari perkataan Musa dalam ayat 13-14: Allah sendiri berperang bagi Israel.
Khotbah
1. Allah melindungi Israel (ayat 19-20)
19 Kemudian bergeraklah Malaikat Allah, yang tadinya berjalan di depan tentara Israel, lalu berjalan di belakang mereka; dan tiang awan itu bergerak dari depan mereka, lalu berdiri di belakang mereka. 20 Demikianlah tiang itu berdiri di antara tentara orang Mesir dan tentara orang Israel; dan oleh karena awan itu menimbulkan kegelapan, maka malam itu lewat, sehingga yang satu tidak dapat mendekati yang lain, semalam-malaman itu.
Malaikat Allah dan tiang awan yang sebelumnya berjalan di depan Israel, sekarang berpindah ke belakang mereka. Hali ini berarti bahwa Allah bukan hanya menunjukkan jalan kepada Israel, tetapi juga menjadi pelindung mereka.
Tiang awan berdiri di antara Israel dan Mesir sehingga tentara Mesir tidak dapat mendekati Israel sepanjang malam. Allah berada di depan ketika Israel membutuhkan arah dan berada di belakang ketika Israel membutuhkan perlindungan.
Ini menunjukkan bahwa penyertaan Allah kepada kita umat-Nya bukan sekadar simbol, tetapi menjadi tindakan nyata dalam menghadapi ancaman.
2. Allah membuka jalan di tengah laut (ayat 21-22)
21 Lalu Musa mengulurkan tangannya ke atas laut, dan semalam-malaman itu TUHAN menguakkan air laut dengan perantaraan angin timur yang keras, membuat laut itu menjadi tanah kering; maka terbelahlah air itu. 22 Demikianlah orang Israel berjalan dari tengah-tengah laut di tempat kering ; sedang di kiri dan di kanan mereka air itu sebagai tembok bagi mereka.
Musa mengulurkan tangannya ke atas laut. Kemudian TUHAN menggunakan angin timur yang keras sepanjang malam untuk menguak air laut.
Israel kemudian berjalan:“di tempat kering dari tengah-tengah laut.” Air berada di sebelah kiri dan kanan mereka seperti tembok.
Di sini terdapat gambaran penting mengenai keselamatan Allah. Israel tidak menemukan jalan keluar sendiri. Allah menciptakan jalan di tempat yang kelihatannya tidak mungkin ada jalan.
Laut yang bagi Israel merupakan penghalang justru menjadi jalan keselamatan. Kita bisa belajar bahwa Allah menggunakan caranya sendiri yakni mujizat dalam menolong orang yang membutuhkan pertolongan.
3. Allah Mengalahkan Musuh Umat-Nya (ayat 23-31)
23 Orang Mesir mengejar dan menyusul mereka segala kuda Firaun, keretanya dan orangnya yang berkuda sampai ke tengah-tengah laut. 24 Dan pada waktu jaga pagi, TUHAN yang di dalam tiang api dan awan itu memandang kepada tentara orang Mesir, lalu dikacaukan-Nya tentara orang Mesir itu. 25 Ia membuat roda keretanya berjalan miring dan maju dengan berat, sehingga orang Mesir berkata: "Marilah kita lari meninggalkan orang Israel, sebab Tuhanlah yang berperang untuk mereka melawan Mesir. " 26 Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Ulurkanlah tanganmu ke atas laut, supaya air berbalik meliputi orang Mesir, meliputi kereta mereka dan orang mereka yang berkuda." 27 Musa mengulurkan tangannya ke atas laut, maka menjelang pagi berbaliklah air laut ke tempatnya, sedang orang Mesir lari menuju air itu; demikianlah TUHAN mencampakkan orang Mesir ke tengah-tengah laut. 28 Berbaliklah segala air itu , lalu menutupi kereta dan orang berkuda dari seluruh pasukan Firaun, yang telah menyusul orang Israel itu ke laut; seorangpun tidak ada yang tinggal dari mereka. 29 Tetapi orang Israel berjalan di tempat kering dari tengah-tengah laut, sedang di kiri dan di kanan mereka air itu sebagai tembok bagi mereka. 30 Demikianlah pada hari itu TUHAN menyelamatkan orang Israel dari tangan orang Mesir. Dan orang Israel melihat orang Mesir mati terhantar di pantai laut. 31 Ketika dilihat oleh orang Israel, betapa besarnya perbuatan yang dilakukan TUHAN terhadap orang Mesir, maka takutlah bangsa itu kepada TUHAN dan mereka percaya kepada TUHAN dan kepada Musa, hamba-Nya itu.
Tentara Mesir mengejar Israel dan masuk ke tengah laut. Tetapi apa yang menjadi jalan keselamatan bagi Israel, menjadi tempat penghukuman bagi Mesir. Pada waktu jaga pagi, TUHAN mengacaukan tentara Mesir. Roda kereta mereka berjalan miring dan berat. Orang Mesir sendiri akhirnya menyadari, Tuhanlah yang berperang untuk Israel melawan Mesir. Ini merupakan pengakuan yang sangat penting. Bahkan musuh Israel akhirnya menyadari bahwa mereka sedang berhadapan dengan Allah Israel.
Ketika Musa mengulurkan tangannya kembali, air laut berbalik dan menutupi pasukan Firaun. Ayat 28 menegaskan: “Seorangpun tidak ada yang tinggal dari mereka.”
Jadi, kemenangan Israel bukan karena kekuatan militer mereka. Israel bahkan tidak perlu berperang. Allah sendiri yang bertindak. Keluaran 14 bukan hanya cerita tentang “laut terbelah”. Ini adalah pernyataan tentang identitas dan kuasa Allah.
Hal ini terlihat jelas dalam ayat 31: “maka takutlah bangsa itu kepada TUHAN dan mereka percaya kepada TUHAN dan kepada Musa, hamba-Nya itu.” Perhatikan bahwa ketakutan Israel mengalami perubahan. Sebelumnya mereka takut kepada Mesir (14:10). Setelah melihat tindakan Allah, mereka takut kepada TUHAN (14:31).
Jadi, pesan utama teks ini adalah: Allah mengubah ketakutan terhadap manusia menjadi takut dan percaya kepada Allah.
Kesimpulan
Keluaran 14:19- 31 menegaskan bahwa Tuhan melakukan perbuatan besar bagi umat-Nya: Ia melindungi Israel ketika mereka terancam, membuka jalan ketika mereka tidak melihat jalan keluar, dan mengalahkan musuh ketika Israel tidak mampu melawannya. Karena itu, ketika kita menghadapi persoalan, tekanan, ketakutan, dan keadaan yang secara manusiawi tampak tidak mempunyai jalan keluar, janganlah kita menyerah kepada ketakutan, melainkan tetap percaya kepada Tuhan yang berkuasa membuka jalan di tengah jalan buntu.
Laut yang menjadi penghalang bagi Israel justru dipakai Tuhan menjadi jalan keselamatan, dan musuh yang mengejar mereka akhirnya dikalahkan oleh kuasa Tuhan. Maka, seperti Israel yang setelah melihat perbuatan besar Tuhan menjadi takut akan Tuhan dan percaya kepada-Nya, demikian juga kita dipanggil untuk mengubah ketakutan menjadi iman, karena Tuhan yang dahulu melakukan perbuatan besar bagi umat-Nya adalah Tuhan yang tetap menyertai, melindungi, membuka jalan, dan berperang bagi umat-Nya sampai hari ini.