Pendahuluan
Surat Filipi ditulis oleh Rasul Paulus sekitar
tahun 62/63 M, ketika ia berada dalam penjara di
Roma (Fil 1:7,13). Filipi adalah kota Romawi di Makedonia yang menjadi pangkalan militer dan
dinamai menurut Raja Filipus II dari Makedonia. Jemaat Filipi didirikan oleh
Paulus bersama Silas, Timotius, dan Lukas dalam perjalanan misi yang kedua
sebagai respons terhadap penglihatan yang diterima Paulus di Troas (Kis. 16:9-40).
Sejak awal berdirinya jemaat, terjalin hubungan yang erat antara Paulus dan
jemaat Filipi. Mereka beberapa kali mendukung Paulus secara materi dalam
pelayanan pemberitaan Injil dan juga turut mengambil bagian dalam membantu
orang-orang percaya yang berkekurangan di Yerusalem. Ketika Paulus berada dalam
penjara, jemaat Filipi kembali mengirimkan bantuan melalui Epafroditus. Karena
itu, Paulus menulis surat ini antara lain untuk menyampaikan ucapan syukur atas
kasih dan dukungan jemaat, sekaligus menguatkan mereka agar
tetap hidup dalam sukacita, persatuan, kerendahan hati, dan kesetiaan kepada
Kristus di tengah berbagai keadaan dan penderitaan.
Mai
kita merenungkan tiga poin penting dari Filipi 4:10-19; Bersukacita atas Perhatian
Jemaat ayat 10. Jemaat Filipi kembali
menunjukkan kasih dan perhatian melalui bantuan kepada Paulus. Belajar Mencukupkan Diri ayat 11-13. Paulus mampu menghadapi kekurangan
maupun kelimpahan karena kekuatannya berasal dari Kristus. Pemberian Jemaat
Berkenan kepada Allah ayat 14-19. Bantuan jemaat bukan sekadar pemberian
materi, tetapi merupakan persembahan dan partisipasi dalam pelayanan Injil.
Khotbah
1. Bersukacita atas Perhatian Jemaat (ayat 10)
10 Aku sangat bersukacita dalam Tuhan, bahwa
akhirnya pikiranmu dan perasaanmu bertumbuh kembali untuk aku. Memang selalu
ada perhatianmu, tetapi tidak ada kesempatan bagimu.
Paulus
mengungkapkan sukacitanya
dalam Tuhan karena jemaat Filipi kembali menunjukkan perhatian
kepadanya. Perhatian itu sebenarnya bukan sesuatu yang baru, sebab Paulus
mengatakan bahwa mereka “selalu” mempunyai perhatian kepadanya. Hanya saja,
sebelumnya mereka tidak mempunyai kesempatan untuk menyatakan perhatian
tersebut melalui tindakan nyata. Kini, melalui bantuan yang mereka kirimkan,
Paulus melihat bahwa kasih dan kepedulian jemaat Filipi tetap terpelihara.
Sukacita Paulus bukan terutama karena besar kecilnya
pemberian, tetapi karena ia melihat adanya kasih, perhatian,
dan persekutuan jemaat dalam pelayanan. Bagi Paulus, perhatian yang diberikan
dengan tulus merupakan wujud nyata dari kasih kepada sesama dan dukungan
terhadap pekerjaan Tuhan. Karena itu, kita belajar bahwa perhatian yang
sederhana sekalipun dapat menjadi sumber sukacita bagi orang lain,
terutama ketika diberikan dengan hati yang tulus dan penuh kasih dalam Tuhan.
2. Belajar Mencukupkan Diri (ayat
11-13)
11
Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan
diri dalam segala keadaan. 12 Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu
kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang
merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan,
baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan. 13 Segala perkara dapat
kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.
Paulus menegaskan bahwa ia bersyukur atas
pemberian jemaat Filipi bukan karena ia sedang dikuasai oleh kekurangan. Ia
telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. Paulus mengalami berbagai
keadaan hidup: pernah berkekurangan dan pernah berkelimpahan, pernah kenyang
dan pernah lapar. Semua pengalaman itu mengajarkannya untuk tidak
menggantungkan sukacita dan kepuasan hidup pada keadaan materi, melainkan
belajar menerima dan menjalani setiap keadaan dengan iman kepada Tuhan.
Karena itu Paulus berkata, “Segala perkara dapat
kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” Ayat ini tidak berarti
bahwa Paulus dapat melakukan atau mendapatkan segala sesuatu yang
diinginkannya, tetapi bahwa dalam setiap keadaan - baik susah maupun senang,
kekurangan maupun kelimpahan- Paulus memperoleh kekuatan dari Kristus untuk
menjalaninya. Kekuatan orang percaya bukan terletak pada banyaknya yang
dimiliki, tetapi pada Kristus yang menyertai dan memberi kekuatan dalam setiap
keadaan.
3. Pemberian Jemaat Berkenan kepada Allah (ayat 14-19)
14 Namun
baik juga perbuatanmu, bahwa kamu telah mengambil bagian dalam kesusahanku. 15
Kamu sendiri tahu juga, hai orang-orang Filipi; pada waktu aku baru mulai
mengabarkan Injil, ketika aku berangkat dari Makedonia, tidak ada satu
jemaatpun yang mengadakan perhitungan hutang dan piutang dengan aku selain dari
pada kamu. 16 Karena di Tesalonikapun kamu telah satu dua kali mengirimkan
bantuan kepadaku. 17 Tetapi yang kuutamakan bukanlah pemberian itu, melainkan
buahnya, yang makin memperbesar keuntunganmu. 18 Kini aku telah menerima semua
yang perlu dari padamu, malahan lebih dari pada itu. Aku berkelimpahan, karena
aku telah menerima kirimanmu dari Epafroditus, suatu persembahan yang harum,
suatu korban yang disukai dan yang berkenan kepada Allah. 19 Allahku akan
memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus
Yesus.
Paulus menghargai pemberian jemaat Filipi karena
mereka telah mengambil bagian dalam kesusahannya. Sejak Paulus mulai
memberitakan Injil, jemaat Filipi beberapa kali memberikan bantuan kepadanya,
bahkan ketika ia berada di Tesalonika. Bagi Paulus, pemberian tersebut bukan
sekadar bantuan materi, tetapi merupakan tanda kasih, kepedulian, dan
persekutuan mereka dalam pelayanan Injil. Mereka tidak hanya mendukung Paulus
dengan kata-kata, tetapi juga dengan tindakan nyata.
Namun, Paulus menegaskan bahwa yang terutama bukanlah pemberian itu, melainkan buah iman yang dihasilkan melalui pemberian tersebut. Ia menggambarkan bantuan jemaat sebagai “persembahan yang harum, suatu korban yang disukai dan yang berkenan kepada Allah.” Karena itu, pemberian yang tulus kepada pekerjaan Tuhan dan kepada sesama menjadi bagian dari kehidupan iman yang berkenan kepada Allah. Paulus kemudian meyakinkan jemaat Filipi bahwa Allah akan memenuhi segala keperluan mereka menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus.
Kesimpulan
Filipi 4:10-19 mengajarkan bahwa hidup dalam
Kristus adalah hidup yang penuh sukacita, belajar mencukupkan diri, dan peduli
kepada sesama. Paulus tetap bersukacita dalam berbagai keadaan karena
kekuatannya berasal dari Kristus. Ia juga menghargai pemberian jemaat Filipi
sebagai wujud kasih, persekutuan, dan pelayanan yang berkenan kepada Allah.
Karena itu, kita dipanggil untuk belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan,
tetap bersukacita dalam Tuhan, serta rela berbagi dan menolong sesama, sambil
percaya bahwa Allah akan memenuhi segala keperluan kita menurut kekayaan dan
kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus.
Oleh: Pdt. Juliman Harefa