Bahan Khotbah: Segala Perkara Dapat Kutanggung di dalam Tuhan Filipi 4:10-19


Pendahuluan

Surat Filipi ditulis oleh Rasul Paulus sekitar tahun 62/63 M,  ketika ia berada dalam penjara di Roma (Fil 1:7,13). Filipi adalah kota Romawi di Makedonia yang menjadi pangkalan militer dan dinamai menurut Raja Filipus II dari Makedonia. Jemaat Filipi didirikan oleh Paulus bersama Silas, Timotius, dan Lukas dalam perjalanan misi yang kedua sebagai respons terhadap penglihatan yang diterima Paulus di Troas (Kis. 16:9-40). Sejak awal berdirinya jemaat, terjalin hubungan yang erat antara Paulus dan jemaat Filipi. Mereka beberapa kali mendukung Paulus secara materi dalam pelayanan pemberitaan Injil dan juga turut mengambil bagian dalam membantu orang-orang percaya yang berkekurangan di Yerusalem. Ketika Paulus berada dalam penjara, jemaat Filipi kembali mengirimkan bantuan melalui Epafroditus. Karena itu, Paulus menulis surat ini antara lain untuk menyampaikan ucapan syukur atas kasih dan dukungan jemaat, sekaligus menguatkan mereka agar tetap hidup dalam sukacita, persatuan, kerendahan hati, dan kesetiaan kepada Kristus di tengah berbagai keadaan dan penderitaan.

Mai kita merenungkan tiga poin penting dari  Filipi 4:10-19; Bersukacita atas Perhatian Jemaat  ayat 10. Jemaat Filipi kembali menunjukkan kasih dan perhatian melalui bantuan kepada Paulus.  Belajar Mencukupkan Diri  ayat 11-13. Paulus mampu menghadapi kekurangan maupun kelimpahan karena kekuatannya berasal dari Kristus. Pemberian Jemaat Berkenan kepada Allah  ayat 14-19.  Bantuan jemaat bukan sekadar pemberian materi, tetapi merupakan persembahan dan partisipasi dalam pelayanan Injil.


Khotbah

1. Bersukacita atas Perhatian Jemaat  (ayat 10)

10 Aku sangat bersukacita dalam Tuhan, bahwa akhirnya pikiranmu dan perasaanmu bertumbuh kembali untuk aku. Memang selalu ada perhatianmu, tetapi tidak ada kesempatan bagimu.

Paulus mengungkapkan sukacitanya dalam Tuhan karena jemaat Filipi kembali menunjukkan perhatian kepadanya. Perhatian itu sebenarnya bukan sesuatu yang baru, sebab Paulus mengatakan bahwa mereka “selalu” mempunyai perhatian kepadanya. Hanya saja, sebelumnya mereka tidak mempunyai kesempatan untuk menyatakan perhatian tersebut melalui tindakan nyata. Kini, melalui bantuan yang mereka kirimkan, Paulus melihat bahwa kasih dan kepedulian jemaat Filipi tetap terpelihara.

Sukacita Paulus bukan terutama karena besar kecilnya pemberian, tetapi karena ia melihat adanya kasih, perhatian, dan persekutuan jemaat dalam pelayanan. Bagi Paulus, perhatian yang diberikan dengan tulus merupakan wujud nyata dari kasih kepada sesama dan dukungan terhadap pekerjaan Tuhan. Karena itu, kita belajar bahwa perhatian yang sederhana sekalipun dapat menjadi sumber sukacita bagi orang lain, terutama ketika diberikan dengan hati yang tulus dan penuh kasih dalam Tuhan.

 

2. Belajar Mencukupkan Diri  (ayat 11-13)

11 Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. 12 Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan. 13 Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.

Paulus menegaskan bahwa ia bersyukur atas pemberian jemaat Filipi bukan karena ia sedang dikuasai oleh kekurangan. Ia telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. Paulus mengalami berbagai keadaan hidup: pernah berkekurangan dan pernah berkelimpahan, pernah kenyang dan pernah lapar. Semua pengalaman itu mengajarkannya untuk tidak menggantungkan sukacita dan kepuasan hidup pada keadaan materi, melainkan belajar menerima dan menjalani setiap keadaan dengan iman kepada Tuhan.

Karena itu Paulus berkata, “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” Ayat ini tidak berarti bahwa Paulus dapat melakukan atau mendapatkan segala sesuatu yang diinginkannya, tetapi bahwa dalam setiap keadaan - baik susah maupun senang, kekurangan maupun kelimpahan- Paulus memperoleh kekuatan dari Kristus untuk menjalaninya. Kekuatan orang percaya bukan terletak pada banyaknya yang dimiliki, tetapi pada Kristus yang menyertai dan memberi kekuatan dalam setiap keadaan.

 

3. Pemberian Jemaat Berkenan kepada Allah  (ayat 14-19)

14 Namun baik juga perbuatanmu, bahwa kamu telah mengambil bagian dalam kesusahanku. 15 Kamu sendiri tahu juga, hai orang-orang Filipi; pada waktu aku baru mulai mengabarkan Injil, ketika aku berangkat dari Makedonia, tidak ada satu jemaatpun yang mengadakan perhitungan hutang dan piutang dengan aku selain dari pada kamu. 16 Karena di Tesalonikapun kamu telah satu dua kali mengirimkan bantuan kepadaku. 17 Tetapi yang kuutamakan bukanlah pemberian itu, melainkan buahnya, yang makin memperbesar keuntunganmu. 18 Kini aku telah menerima semua yang perlu dari padamu, malahan lebih dari pada itu. Aku berkelimpahan, karena aku telah menerima kirimanmu dari Epafroditus, suatu persembahan yang harum, suatu korban yang disukai dan yang berkenan kepada Allah. 19 Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus.

Paulus menghargai pemberian jemaat Filipi karena mereka telah mengambil bagian dalam kesusahannya. Sejak Paulus mulai memberitakan Injil, jemaat Filipi beberapa kali memberikan bantuan kepadanya, bahkan ketika ia berada di Tesalonika. Bagi Paulus, pemberian tersebut bukan sekadar bantuan materi, tetapi merupakan tanda kasih, kepedulian, dan persekutuan mereka dalam pelayanan Injil. Mereka tidak hanya mendukung Paulus dengan kata-kata, tetapi juga dengan tindakan nyata.

Namun, Paulus menegaskan bahwa yang terutama bukanlah pemberian itu, melainkan buah iman yang dihasilkan melalui pemberian tersebut. Ia menggambarkan bantuan jemaat sebagai “persembahan yang harum, suatu korban yang disukai dan yang berkenan kepada Allah.” Karena itu, pemberian yang tulus kepada pekerjaan Tuhan dan kepada sesama menjadi bagian dari kehidupan iman yang berkenan kepada Allah. Paulus kemudian meyakinkan jemaat Filipi bahwa Allah akan memenuhi segala keperluan mereka menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus.

Kesimpulan

Filipi 4:10-19 mengajarkan bahwa hidup dalam Kristus adalah hidup yang penuh sukacita, belajar mencukupkan diri, dan peduli kepada sesama. Paulus tetap bersukacita dalam berbagai keadaan karena kekuatannya berasal dari Kristus. Ia juga menghargai pemberian jemaat Filipi sebagai wujud kasih, persekutuan, dan pelayanan yang berkenan kepada Allah. Karena itu, kita dipanggil untuk belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan, tetap bersukacita dalam Tuhan, serta rela berbagi dan menolong sesama, sambil percaya bahwa Allah akan memenuhi segala keperluan kita menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus.

Oleh: Pdt. Juliman Harefa



Bahan Khotbah: Segala Perkara Dapat Kutanggung di dalam Tuhan Filipi 4:10-19

Pendahuluan Surat Filipi ditulis oleh Rasul Paulus sekitar tahun 62/63 M ,  ketika ia berada dalam penjara di Roma (Fil 1:7,13). Filipi ad...