Bahan PA: Kasih Allah Kepada Semua Ciptaan-Nya Yunus 4:1-11

 


Pendahuluan

Yunus, yang berarti “merpati”, adalah putra Amitai dan seorang nabi dari Gat-Hefer di Galilea (Yun. 1:1; 2Raj. 14:25). Ia melayani sebagai nabi bagi Kerajaan Utara Israel pada masa pemerintahan Yerobeam II (793-753 SM), sekitar abad ke-8 SM. Pelayanannya berlangsung tidak lama setelah Elisa dan sezaman dengan Amos, kemudian diikuti oleh Hosea. Yunus mendapat tugas khusus dari Allah untuk pergi ke Niniwe, ibu kota penting Asyur yang terletak sekitar 800 kilometer timur laut Galilea, untuk menyerukan pertobatan. Namun, Yunus enggan karena ia mengetahui bahwa Allah adalah Allah yang pengasih, penyayang, panjang sabar, dan berlimpah kasih setia (Yun. 4:2), yang dapat mengampuni bangsa yang bertobat. Karena itu, kisah Yunus memperlihatkan luasnya kasih sayang Allah yang menyelamatkan, bukan hanya bagi Israel, tetapi juga bagi bangsa-bangsa lain.

Yunus 4:1-11 merupakan bagian penutup kitab Yunus dan terjadi setelah penduduk Niniwe menanggapi pemberitaan Yunus dengan pertobatan. Allah melihat pertobatan mereka dan tidak jadi mendatangkan malapetaka atas Niniwe (Yun. 3:10). Keputusan Allah ini justru membuat Yunus marah, karena ia menghendaki Niniwe dihukum. Melalui peristiwa pohon jarak yang tumbuh, kemudian layu, serta melalui pertanyaan-Nya kepada Yunus, Allah mengajarkan bahwa kasih manusia sering terbatas pada kepentingan dan kenyamanan dirinya sendiri, sedangkan kasih Allah jauh lebih luas. Yunus merasa sayang kepada pohon yang tidak ditanamnya, tetapi Allah mengasihi 120.000 orang Niniwe beserta ternaknya. Dengan demikian, bagian ini menegaskan bahwa kasih sayang Allah menjangkau semua ciptaan-Nya dan memberi kesempatan kepada manusia untuk bertobat dan diselamatkan.


Khotbah

1. Kasih Allah untuk semua ciptaanNya (ayat 1-4)

1Tetapi hal itu sangat mengesalkan hati Yunus, lalu marahlah j ia.  2Dan berdoalah ia kepada TUHAN, katanya: "Ya TUHAN, bukankah telah kukatakan itu, ketika aku masih di negeriku? Itulah sebabnya, maka aku dahulu melarikan diri ke Tarsis, sebab aku tahu, bahwa Engkaulah Allah yang pengasih l  dan penyayang, yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia serta yang menyesal karena malapetaka  yang hendak didatangkan-Nya. 3Jadi sekarang, ya TUHAN, cabutlah kiranya nyawaku, karena lebih baik aku mati  dari pada hidup. "  4Tetapi firman TUHAN: "Layakkah engkau marah? " 

Yunus marah ketika Allah mengampuni Niniwe. Setelah Yunus memberitakan penghukuman, penduduk Niniwe bertobat dan berbalik dari jalan mereka yang jahat. Allah melihat pertobatan mereka dan tidak jadi mendatangkan malapetaka atas kota itu. Namun, bukannya bersukacita, Yunus justru sangat kesal. Ia menghendaki Niniwe dihukum karena menurut pandangannya mereka tidak layak menerima belas kasihan Allah. Bahkan Yunus mengakui bahwa ia sebenarnya sudah mengetahui sifat Allah sebagai Allah yang “pengasih dan penyayang, yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia.” Karena itu, ia sejak awal melarikan diri ke Tarsis.

Melalui kemarahan Yunus, Allah mengajarkan bahwa kasih-Nya tidak terbatas pada bangsa, kelompok, atau orang-orang yang kita anggap layak. Ketika Allah bertanya, “Layakkah engkau marah?”, Allah sedang menolong Yunus melihat bahwa kasih dan belas kasihan Allah jauh lebih luas daripada kasih manusia. Allah mengasihi penduduk Niniwe dan memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat dan diselamatkan. Karena itu, kita juga dipanggil untuk belajar menerima bahwa kasih Allah menjangkau semua ciptaan-Nya, termasuk mereka yang mungkin sulit kita kasihi atau yang kita anggap tidak layak menerima pengampunan.

2. Kasih Allah Mengajar Manusia Melihat Lebih dari Kepentingan Diri Sendiri (ayat 5-8)

5 Yunus telah keluar meninggalkan kota itu dan tinggal di sebelah timurnya. Ia mendirikan di situ sebuah pondok dan ia duduk di bawah naungannya menantikan apa yang akan terjadi atas kota itu. 6 Lalu atas penentuan TUHAN Allah tumbuhlah sebatang pohon jarak  melampaui kepala Yunus untuk menaunginya, agar ia terhibur dari pada kekesalan hatinya. Yunus sangat bersukacita karena pohon jarak itu. 7Tetapi keesokan harinya, ketika fajar menyingsing, atas penentuan Allah datanglah seekor ulat, yang menggerek pohon jarak itu, sehingga layu. 8 Segera sesudah matahari terbit, maka atas penentuan Allah bertiuplah angin timur yang panas terik, sehingga sinar matahari menyakiti kepala Yunus, lalu rebahlah ia lesu dan berharap supaya mati, katanya: "Lebih baiklah aku mati dari pada hidup.

Yunus keluar dari kota Niniwe dan mendirikan sebuah pondok di sebelah timur kota itu. Ia masih menunggu dan berharap melihat apa yang akan terjadi atas Niniwe. Allah kemudian menumbuhkan pohon jarak yang memberikan naungan kepada Yunus sehingga ia terlindung dari panas matahari. Yunus sangat bersukacita karena pohon itu. Namun, keesokan harinya Allah mengirim seekor ulat yang menggerek pohon tersebut hingga layu. Ketika matahari terbit dan angin timur yang panas menerpa Yunus, ia merasa sangat menderita dan kembali berharap agar dirinya mati. Peristiwa ini menunjukkan betapa besar perhatian Yunus terhadap kenyamanan dirinya, bahkan terhadap sebuah pohon yang hanya dinikmatinya dalam waktu singkat.

Melalui peristiwa pohon jarak itu, Allah sedang mengajar Yunus untuk melihat kehidupan bukan hanya dari kepentingan dirinya sendiri. Yunus begitu sedih karena kehilangan pohon yang memberikan kenyamanan kepadanya, tetapi sebelumnya ia tidak menunjukkan kesedihan ketika kehidupan ribuan orang Niniwe terancam. Allah ingin mengubah cara pandang Yunus: jangan hanya peduli terhadap apa yang memberikan kenyamanan bagi diri sendiri, tetapi pedulilah terhadap kehidupan sesama dan seluruh ciptaan Tuhan. Kasih Allah mengajarkan kita untuk keluar dari kepentingan diri sendiri dan memiliki hati yang peduli, berbelas kasih, dan menghargai kehidupan yang Tuhan ciptakan.

3. Kasih Allah Menjangkau Semua Ciptaan-Nya (ayat 9-11)

" 9Tetapi berfirmanlah Allah kepada Yunus: "Layakkah engkau marah  karena pohon jarak  itu?" Jawabnya: "Selayaknyalah aku marah sampai mati." 10Lalu Allah berfirman: "Engkau sayang kepada pohon jarak itu, yang untuknya sedikitpun engkau tidak berjerih payah dan yang tidak engkau tumbuhkan, yang tumbuh dalam satu malam dan binasa dalam satu malam pula. 11Bagaimana tidak Aku akan sayang kepada Niniwe, kota yang besar itu, yang berpenduduk lebih dari seratus dua puluh ribu orang, yang semuanya tak tahu membedakan tangan kanan dari tangan kiri, dengan ternaknya yang banyak?"


Allah kembali bertanya kepada Yunus, “Layakkah engkau marah karena pohon jarak itu?” Yunus menjawab bahwa ia layak marah sampai mati. Kemudian Allah menjelaskan bahwa Yunus merasa sayang kepada pohon jarak yang tidak ia tanam dan tidak ia usahakan, yang tumbuh hanya dalam satu malam dan binasa dalam satu malam pula. Jika Yunus begitu peduli terhadap sebuah pohon yang hanya memberikan kenyamanan kepadanya, maka Allah mengajarkan bahwa kepedulian-Nya jauh lebih besar terhadap manusia yang diciptakan-Nya.

Karena itu Allah berkata, “Bagaimana tidak Aku akan sayang kepada Niniwe, kota yang besar itu?” Allah bukan hanya memperhatikan 120.000 penduduk Niniwe, tetapi juga ternak mereka. Hal ini menunjukkan betapa luasnya kasih dan belas kasihan Allah terhadap seluruh ciptaan-Nya. Allah memberikan kesempatan kepada penduduk Niniwe untuk bertobat dan memperoleh keselamatan. Melalui bagian ini, kita belajar bahwa kasih Allah tidak terbatas dan tidak membeda-bedakan; kasih-Nya menjangkau manusia dan seluruh ciptaan yang berada dalam pemeliharaan-Nya.

 

Kesimpulan

Yunus 4:1-11 mengajarkan bahwa kasih Allah jauh lebih luas daripada kasih manusia. Yunus marah ketika Allah mengampuni Niniwe, lebih peduli pada kenyamanan dirinya melalui pohon jarak daripada keselamatan orang-orang Niniwe. Namun, Allah menunjukkan bahwa setiap manusia dan seluruh ciptaan-Nya berharga di hadapan-Nya. Karena itu, sebagai orang percaya kita dipanggil untuk meninggalkan sikap mementingkan diri sendiri, tidak membatasi kasih kepada orang yang kita sukai atau anggap layak, tetapi belajar memiliki hati yang penuh belas kasihan, mengasihi sesama, dan peduli terhadap seluruh ciptaan Tuhan.

Pertanyaan Diskusi

Mengapa Yunus lebih mudah merasa sayang kepada pohon jarak daripada kepada penduduk Niniwe, dan apa yang dapat kita pelajari dari sikap Yunus dalam kehidupan kita?

Jawaban:
Yunus lebih memikirkan kenyamanan dan kepentingan dirinya sendiri daripada kehidupan orang lain. Ia merasa kehilangan ketika pohon jarak yang menaunginya mati, tetapi tidak bersukacita ketika penduduk Niniwe bertobat dan diselamatkan. Dari sikap Yunus, kita belajar untuk tidak membatasi kasih hanya kepada diri sendiri, keluarga, kelompok, atau orang yang kita sukai. Kita dipanggil untuk memiliki hati seperti Allah yang mengasihi, mengampuni, dan peduli terhadap semua ciptaan-Nya.

 

 

 

Bahan Khotbah: Segala Perkara Dapat Kutanggung di dalam Tuhan Filipi 4:10-19

Pendahuluan Surat Filipi ditulis oleh Rasul Paulus sekitar tahun 62/63 M ,  ketika ia berada dalam penjara di Roma (Fil 1:7,13). Filipi ad...