Bahan PA
Pendahuluan
Setelah membebaskan bangsa Israel dari perbudakan Mesir, Allah membawa
mereka ke Gunung Sinai untuk mengadakan perjanjian dengan mereka. Sebelum
memberikan Taurat, Allah terlebih dahulu mengingatkan kasih karunia-Nya yang
telah menyelamatkan mereka. Kemudian Allah menegaskan bahwa umat-Nya adalah
mereka yang sungguh-sungguh mendengarkan firman-Nya dan berpegang pada
perjanjian-Nya. Ketaatan bukanlah jalan untuk memperoleh keselamatan, melainkan
buah dari keselamatan yang telah dianugerahkan Allah.
Berdasarkan Keluaran 19:1-6 kita belajar bahwa setiap orang yang
mendengar dan tidak melupakan Taurat Tuhan adalah umat-Nya. Orang yang
demikian dipanggil untuk hidup dekat dengan Tuhan, selalu mengingat kasih
karunia-Nya, dan menaati firman-Nya sehingga menjadi harta kesayangan Allah,
kerajaan imam, dan bangsa yang kudus.
1. Allah Memanggil Umat-Nya Datang kepada-Nya (Ayat 1-2)
Setelah dibebaskan dari perbudakan di Mesir, bangsa Israel tiba di
Padang Gurun Sinai. Perjalanan mereka bukanlah suatu kebetulan, melainkan
dipimpin langsung oleh Tuhan. Setelah berangkat dari Rafidim, mereka berkemah
di depan Gunung Sinai, gunung tempat Allah akan menyatakan diri-Nya dan
mengikat perjanjian dengan umat-Nya. Gunung Sinai menjadi tempat yang sangat
penting dalam sejarah Israel, sebab di sanalah mereka akan menerima Taurat dan
dipersiapkan menjadi umat kepunyaan Allah.
Demikian pula dengan orang percaya pada masa kini. Tuhan memanggil
setiap orang yang telah menerima anugerah keselamatan untuk hidup dekat
dengan-Nya. Kedekatan dengan Tuhan diwujudkan melalui ibadah, doa, membaca dan
merenungkan firman-Nya, serta hidup dalam ketaatan. Umat Allah bukanlah mereka
yang sekadar mengaku percaya, melainkan mereka yang datang kepada Tuhan dengan
hati yang siap mendengar dan melakukan kehendak-Nya. Inilah langkah pertama
menjadi umat Tuhan: datang kepada-Nya dan membuka hati untuk mendengar
firman-Nya.
2. Allah Mengingatkan Umat-Nya akan Kasih
Karunia-Nya (Ayat 3-4)
Setelah bangsa Israel berkemah di Padang Gurun Sinai, Musa naik
menghadap Allah. Dari Gunung Sinai Tuhan memanggil Musa dan memerintahkannya
untuk menyampaikan firman kepada seluruh bangsa Israel. Sebelum Tuhan
memberikan hukum Taurat dan menuntut ketaatan dari umat-Nya, terlebih dahulu Ia
mengingatkan mereka akan karya kasih karunia-Nya yang telah mereka alami. Tuhan
berkata, "Kamu sendiri telah melihat
apa yang Kulakukan kepada orang Mesir, dan bagaimana Aku telah mendukung kamu
di atas sayap rajawali dan membawa kamu kepada-Ku." Dengan demikian,
Allah mengajak Israel mengingat kembali pengalaman penyelamatan yang telah
mereka saksikan dengan mata kepala sendiri.
Ungkapan "mendukung kamu di atas sayap rajawali"
adalah gambaran tentang kasih, perlindungan, dan pemeliharaan Allah yang begitu
besar. Sebagaimana seekor rajawali menjaga, melindungi, dan mengajar
anak-anaknya terbang, demikian pula Tuhan memelihara Israel sepanjang
perjalanan mereka keluar dari Mesir. Ia mengalahkan Firaun, membelah Laut
Teberau, menyediakan manna dari langit, memberi air dari gunung batu, dan
memimpin mereka dengan tiang awan pada siang hari serta tiang api pada malam
hari. Semua itu membuktikan bahwa keselamatan Israel semata-mata merupakan
anugerah Allah, bukan karena jasa atau kebaikan mereka.
Karena itu, ketika Allah kemudian memberikan Taurat, Taurat bukanlah
syarat agar mereka diselamatkan, melainkan pedoman hidup bagi umat yang telah
lebih dahulu diselamatkan. Ketaatan mereka harus lahir dari hati yang penuh
syukur atas kasih karunia Allah, bukan sebagai usaha untuk memperoleh
keselamatan. Prinsip yang sama berlaku bagi orang percaya pada masa kini. Kita
tidak diselamatkan karena menaati firman Tuhan, tetapi karena kasih karunia
Allah di dalam Kristus. Namun, setelah diselamatkan, kita dipanggil untuk hidup
taat sebagai ungkapan syukur atas keselamatan yang telah kita terima. Orang
yang senantiasa mengingat karya penyelamatan Tuhan akan terdorong untuk
mengasihi, mendengar, dan menaati firman-Nya.
3. Allah Menjadikan Orang yang Mendengar dan
Berpegang pada Firman-Nya sebagai Umat Milik-Nya (Ayat 5-6)
Setelah mengingatkan bangsa Israel akan kasih karunia-Nya, Tuhan
menyatakan tanggung jawab umat-Nya, yaitu sungguh-sungguh mendengarkan
firman-Nya dan berpegang pada perjanjian-Nya. Mendengar dalam pengertian
Alkitab bukan sekadar menyimak dengan telinga, tetapi menaati dengan hati dan
tindakan. Ketaatan bukanlah syarat untuk memperoleh keselamatan, melainkan
respons iman dan syukur dari umat yang telah lebih dahulu diselamatkan oleh
kasih karunia Allah. Karena itu, setiap orang yang setia mendengar dan melakukan
firman Tuhan menunjukkan bahwa ia hidup dalam hubungan perjanjian dengan Allah.
Kepada mereka yang taat, Allah memberikan tiga identitas yang mulia: harta
kesayangan-Nya, kerajaan imam, dan bangsa yang kudus. Sebagai
harta kesayangan, umat Allah memiliki tempat yang istimewa di hadapan-Nya;
sebagai kerajaan imam, mereka dipanggil menjadi saksi dan saluran berkat bagi
dunia; dan sebagai bangsa yang kudus, mereka harus hidup berbeda dari dunia
dengan mencerminkan karakter Allah. Janji ini juga digenapi dalam kehidupan
orang percaya melalui Kristus. Oleh sebab itu, setiap orang yang
sungguh-sungguh mendengar, mengingat, dan berpegang pada firman Tuhan
membuktikan bahwa ia adalah umat milik Allah yang dipanggil untuk hidup kudus
dan memuliakan nama-Nya.
Kesimpulan
Keluaran 19:1-6 mengajarkan bahwa Allah memanggil umat-Nya datang
kepada-Nya, mengingatkan mereka akan kasih karunia-Nya, dan menetapkan mereka
sebagai umat milik-Nya. Semua itu berpuncak pada panggilan untuk mendengarkan
dan berpegang teguh pada firman Tuhan. Demikian juga pada masa kini, orang yang
sungguh-sungguh mengasihi firman Tuhan, mengingat karya keselamatan Kristus,
dan hidup taat kepada-Nya menunjukkan bahwa ia adalah umat Allah. Karena itu,
marilah kita bukan hanya menjadi pendengar firman, tetapi juga pelaku firman,
sehingga melalui hidup kita nama Tuhan dimuliakan.
Pertanyaan Diskusi dan Jawaban
1. Mengapa Allah membawa bangsa Israel ke Gunung
Sinai setelah membebaskan mereka dari Mesir?
Jawaban: Karena tujuan pembebasan bukan hanya membebaskan mereka dari
perbudakan, tetapi membawa mereka kepada Allah untuk hidup dalam persekutuan
dengan-Nya, menerima firman-Nya, dan menjadi umat perjanjian-Nya.
2. Mengapa Allah mengingatkan Israel akan
penyelamatan dari Mesir sebelum memberikan Taurat?
Jawaban: Agar mereka menyadari bahwa keselamatan adalah anugerah Allah.
Oleh sebab itu, ketaatan kepada Taurat merupakan ungkapan syukur atas kasih
karunia Allah, bukan usaha untuk memperoleh keselamatan.
3. Apa ciri orang yang benar-benar menjadi umat
Allah menurut Keluaran 19:5-6?
Jawaban: Orang yang sungguh-sungguh mendengarkan firman Tuhan,
berpegang pada perjanjian-Nya, dan hidup dalam ketaatan. Mereka menjadi harta
kesayangan Allah, kerajaan imam, dan bangsa yang kudus, yang mencerminkan
kemuliaan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.
Oleh: Pdt. Juliman Harefa