Khotbah Minggu
Tenanglah, Jangan Takut
Matius
14:22-23
Yesus berjalan di atas air
22 Sesudah
itu Yesus segera memerintahkan murid-murid-Nya naik ke perahu dan
mendahului-Nya ke seberang, sementara itu Ia menyuruh orang banyak
pulang. 23 Dan setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke
atas bukit untuk berdoa j seorang diri .
Ketika hari sudah malam, Ia sendirian di situ. 24 Perahu murid-murid-Nya
sudah beberapa mil jauhnya dari pantai dan diombang-ambingkan gelombang, karena
angin sakal. 25 Kira-kira jam tiga malam datanglah Yesus kepada mereka
berjalan di atas air. 26 Ketika murid-murid-Nya melihat Dia berjalan di
atas air, mereka terkejut dan berseru: "Itu hantu! ",
lalu berteriak-teriak karena takut. 27 Tetapi segera Yesus berkata
kepada mereka: "Tenanglah! Aku ini, jangan
takut ! " 28 Lalu Petrus
berseru dan menjawab Dia: "Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang
kepada-Mu berjalan di atas air." 29 Kata Yesus: "Datanglah!" Maka
Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus. 30 Tetapi
ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak:
"Tuhan, tolonglah aku!" 31 Segera Yesus mengulurkan
tangan-Nya, memegang dia dan berkata: "Hai orang yang kurang percaya,
mengapa engkau bimbang?" 32 Lalu mereka naik ke perahu dan anginpun
redalah. 33 Dan orang-orang yang ada di perahu menyembah Dia, katanya:
"Sesungguhnya Engkau Anak Allah. "
Pendahuluan
Peristiwa dalam Matius 14:22-33 terjadi segera setelah Yesus melakukan
mukjizat memberi makan lebih dari lima ribu orang dengan lima roti dan dua ikan
(Matius 14:13-21). Mukjizat ini membuat orang banyak semakin mengagumi Yesus.
Setelah itu, Yesus segera menyuruh murid-murid-Nya naik perahu dan menyeberangi
Danau Galilea, sementara Ia sendiri menyuruh orang banyak pulang.
Sesudah semua orang pergi, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa
seorang diri kepada Bapa (ayat 23). Di tengah kesibukan pelayanan dan besarnya
tuntutan orang banyak, Yesus tetap mengutamakan persekutuan dengan Allah. Hal
ini menunjukkan bahwa doa merupakan sumber kekuatan dalam menjalankan kehendak
Bapa.
Sementara itu, perahu para murid sudah berada jauh dari pantai dan
dihantam gelombang karena angin sakal (ayat 24). Danau Galilea memang dikenal
sering mengalami badai yang datang secara tiba-tiba akibat kondisi
geografisnya. Murid-murid yang sebagian besar adalah nelayan berpengalaman pun
tidak mampu mengendalikan keadaan. Mereka bergumul sepanjang malam hingga
menjelang dini hari.
Dalam situasi itulah Yesus menyatakan diri-Nya dengan berkata, "Tenanglah!
Aku ini, jangan takut!" (ayat 27).
1. Ketenangan Berawal dari Persekutuan Doa
dengan Allah (Matius 14:22-23)
"Dan
setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk
berdoa seorang diri."
Perikop ini diawali dengan tindakan Yesus
yang sangat menarik. Setelah selesai memberi makan lebih dari lima ribu orang,
Yesus tidak membiarkan diri-Nya larut dalam popularitas dan kesibukan
pelayanan. Ia segera menyuruh murid-murid-Nya menyeberangi danau, memulangkan
orang banyak, lalu naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri kepada Bapa.
Tindakan Yesus menunjukkan bahwa
persekutuan dengan Allah lebih penting daripada kesibukan pelayanan. Meskipun
banyak orang masih membutuhkan-Nya, Yesus memahami bahwa sumber kekuatan
pelayanan bukanlah aktivitas yang padat, melainkan hubungan yang intim dengan
Bapa. Sebelum menghadapi tantangan berikutnya, Ia terlebih dahulu mencari wajah
Allah dalam doa.
Hal ini menjadi teladan bagi setiap orang
percaya. Sering kali kita begitu sibuk dengan pekerjaan, pelayanan, keluarga,
atau berbagai tanggung jawab sehingga waktu untuk berdoa justru menjadi yang
pertama dikorbankan. Kita berharap memiliki hati yang tenang, tetapi
mengabaikan sumber ketenangan itu sendiri. Padahal, ketenangan sejati tidak
lahir dari keadaan yang nyaman, melainkan dari persekutuan yang erat dengan
Tuhan.
Menariknya, setelah Yesus selesai berdoa,
murid-murid-Nya sedang menghadapi badai di tengah danau. Ini mengajarkan bahwa
doa bukanlah jaminan kita tidak akan menghadapi badai kehidupan. Sebaliknya,
doa mempersiapkan kita untuk menghadapi badai dengan iman dan ketenangan. Yesus
telah lebih dahulu bersekutu dengan Bapa sebelum menolong murid-murid-Nya yang
sedang bergumul.
2. Jangan Takut, Yesus
Hadir di Tengah Badai (Matius 14:24-27)
"Tetapi segera Yesus berkata kepada mereka:
'Tenanglah! Aku ini, jangan takut!'" (Mat. 14:27)
Setelah Yesus menyuruh murid-murid-Nya menyeberangi Danau Galilea,
mereka menghadapi badai yang dahsyat. Perahu mereka diombang-ambingkan
gelombang karena angin sakal. Yang menarik, badai ini bukan terjadi karena
mereka melawan kehendak Tuhan, melainkan justru karena mereka menaati perintah
Yesus (ay. 22). Hal ini mengajarkan bahwa ketaatan kepada Tuhan tidak membuat
seseorang kebal terhadap kesulitan. Orang yang hidup setia kepada Kristus pun
dapat mengalami sakit, kehilangan, tekanan ekonomi, penolakan, atau berbagai
pergumulan hidup.
Ironisnya, ketika Yesus datang, murid-murid tidak langsung
mengenali-Nya. Mereka justru mengira bahwa yang datang adalah hantu sehingga
ketakutan mereka semakin besar. Ketakutan sering kali membuat manusia sulit
melihat bahwa Tuhan sedang bekerja. Dalam keadaan panik, kita mudah melihat
ancaman lebih besar daripada penyertaan Tuhan.
Karena itu Yesus segera berkata, "Tenanglah! Aku ini, jangan
takut!" Perkataan "Aku ini" (Yunani: egō eimi) bukan sekadar memperkenalkan diri, tetapi mengingatkan
pada penyataan Allah dalam Perjanjian Lama, "AKU ADALAH AKU" (Kel.
3:14). Dengan kata lain, Yesus sedang menyatakan bahwa Dia adalah Tuhan yang
hadir bersama umat-Nya. Dasar ketenangan murid-murid bukanlah karena badai
sudah berhenti, melainkan karena Tuhan sendiri hadir di tengah badai itu.
3. Iman yang Tertuju kepada
Kristus Mengalahkan Ketakutan (Matius 14:28-33)
"Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau
bimbang?" (Mat. 14:31)
Setelah mendengar suara Yesus berkata, "Tenanglah! Aku ini, jangan
takut!", Petrus memberikan respons yang berbeda dari murid-murid lainnya.
Ia berkata, "Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu
berjalan di atas air." Ketika Yesus menjawab, "Datanglah!",
Petrus turun dari perahu dan mulai berjalan di atas air menuju Yesus.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa iman sanggup membawa seseorang
melakukan hal yang di luar kemampuan manusia. Petrus bukan berjalan di atas air
karena kekuatannya sendiri, melainkan karena ia percaya kepada perkataan Yesus.
Selama pandangannya tertuju kepada Kristus, ia mampu melangkah di atas
gelombang yang sebelumnya menakutkan.
Namun, keadaan berubah ketika Petrus mulai memperhatikan tiupan angin
dan besarnya ombak. Alkitab mencatat, "Tetapi
ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam."
Ketika fokusnya bergeser dari Yesus kepada keadaan di sekelilingnya, ketakutan
mengambil alih, dan imannya menjadi goyah. Ketakutan sering kali muncul bukan
karena Tuhan berubah, tetapi karena perhatian kita lebih tertuju pada besarnya
persoalan daripada kepada kebesaran Tuhan.
Meskipun demikian, Petrus melakukan satu hal yang benar. Ia tidak
mengandalkan dirinya sendiri, tetapi segera berseru, "Tuhan, tolonglah
aku!" Seruan yang singkat itu lahir dari iman bahwa hanya Yesus yang
sanggup menyelamatkannya. Alkitab berkata, "Segera Yesus mengulurkan
tangan-Nya, memegang dia." Kata "segera" menunjukkan bahwa Yesus
tidak menunda pertolongan-Nya. Ia tidak membiarkan Petrus tenggelam karena
kegagalannya, tetapi dengan kasih dan anugerah mengangkatnya kembali. Setelah
itu Yesus berkata, "Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau
bimbang?" Teguran ini bukan untuk menghukum Petrus, melainkan untuk
menolongnya bertumbuh dalam iman yang lebih teguh.
Ketika Yesus dan Petrus naik ke dalam perahu, angin pun reda. Melihat
semua yang terjadi, murid-murid menyembah Yesus dan berkata, "Sesungguhnya
Engkau Anak Allah." Badai yang mereka alami akhirnya membawa mereka kepada
pengenalan yang lebih dalam akan pribadi Kristus. Mereka bukan hanya melihat
mukjizat, tetapi juga mengakui bahwa Yesus adalah Anak Allah yang berkuasa atas
alam dan layak menerima penyembahan.
Kesimpulan
Matius 14:22-33 mengajarkan bahwa ketenangan sejati bukanlah keadaan
tanpa badai, melainkan keyakinan bahwa Yesus hadir dan berkuasa di tengah badai
kehidupan. Karena itu, ketika menghadapi berbagai persoalan, jangan biarkan
ketakutan menguasai hati kita. Bangunlah persekutuan dengan Allah melalui doa,
percayalah bahwa Yesus tidak pernah meninggalkan kita, dan tetaplah arahkan
pandangan iman kepada-Nya. Seperti Petrus, mungkin ada saatnya kita menjadi
takut, bimbang, bahkan merasa mulai tenggelam, tetapi kita selalu dapat
berseru, “Tuhan, tolonglah aku!” Tangan Tuhan tetap terulur untuk menolong dan
menguatkan kita. Maka, apa pun badai yang sedang kita hadapi, dengarkanlah
kembali suara Kristus: “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” Sebab bersama Yesus,
kita tidak pernah menghadapi badai seorang diri.