Kamis, 06 Agustus 2026

Tenanglah, Jangan Takut. Matius 14:22-23

 

Khotbah Minggu

Tenanglah, Jangan Takut

Matius 14:22-23

 

Yesus berjalan di atas air

22 Sesudah itu Yesus segera memerintahkan murid-murid-Nya naik ke perahu dan mendahului-Nya ke seberang, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang. 23 Dan setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa j  seorang diri . Ketika hari sudah malam, Ia sendirian di situ. 24 Perahu murid-murid-Nya sudah beberapa mil jauhnya dari pantai dan diombang-ambingkan gelombang, karena angin sakal. 25 Kira-kira jam tiga malam datanglah Yesus kepada mereka berjalan di atas air. 26 Ketika murid-murid-Nya melihat Dia berjalan di atas air, mereka terkejut dan berseru: "Itu hantu!  ", lalu berteriak-teriak karena takut. 27 Tetapi segera Yesus berkata kepada mereka: "Tenanglah!  Aku ini, jangan takut !  " 28 Lalu Petrus berseru dan menjawab Dia: "Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air." 29 Kata Yesus: "Datanglah!" Maka Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus. 30 Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak: "Tuhan, tolonglah aku!" 31 Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: "Hai orang yang kurang percaya,  mengapa engkau bimbang?" 32 Lalu mereka naik ke perahu dan anginpun redalah. 33 Dan orang-orang yang ada di perahu menyembah Dia, katanya: "Sesungguhnya Engkau Anak Allah.  "

 

Pendahuluan

Peristiwa dalam Matius 14:22-33 terjadi segera setelah Yesus melakukan mukjizat memberi makan lebih dari lima ribu orang dengan lima roti dan dua ikan (Matius 14:13-21). Mukjizat ini membuat orang banyak semakin mengagumi Yesus. Setelah itu, Yesus segera menyuruh murid-murid-Nya naik perahu dan menyeberangi Danau Galilea, sementara Ia sendiri menyuruh orang banyak pulang.

Sesudah semua orang pergi, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri kepada Bapa (ayat 23). Di tengah kesibukan pelayanan dan besarnya tuntutan orang banyak, Yesus tetap mengutamakan persekutuan dengan Allah. Hal ini menunjukkan bahwa doa merupakan sumber kekuatan dalam menjalankan kehendak Bapa.

Sementara itu, perahu para murid sudah berada jauh dari pantai dan dihantam gelombang karena angin sakal (ayat 24). Danau Galilea memang dikenal sering mengalami badai yang datang secara tiba-tiba akibat kondisi geografisnya. Murid-murid yang sebagian besar adalah nelayan berpengalaman pun tidak mampu mengendalikan keadaan. Mereka bergumul sepanjang malam hingga menjelang dini hari.

Dalam situasi itulah Yesus menyatakan diri-Nya dengan berkata, "Tenanglah! Aku ini, jangan takut!" (ayat 27).

1. Ketenangan Berawal dari Persekutuan Doa dengan Allah (Matius 14:22-23)

"Dan setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri."

Perikop ini diawali dengan tindakan Yesus yang sangat menarik. Setelah selesai memberi makan lebih dari lima ribu orang, Yesus tidak membiarkan diri-Nya larut dalam popularitas dan kesibukan pelayanan. Ia segera menyuruh murid-murid-Nya menyeberangi danau, memulangkan orang banyak, lalu naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri kepada Bapa.

Tindakan Yesus menunjukkan bahwa persekutuan dengan Allah lebih penting daripada kesibukan pelayanan. Meskipun banyak orang masih membutuhkan-Nya, Yesus memahami bahwa sumber kekuatan pelayanan bukanlah aktivitas yang padat, melainkan hubungan yang intim dengan Bapa. Sebelum menghadapi tantangan berikutnya, Ia terlebih dahulu mencari wajah Allah dalam doa.

Hal ini menjadi teladan bagi setiap orang percaya. Sering kali kita begitu sibuk dengan pekerjaan, pelayanan, keluarga, atau berbagai tanggung jawab sehingga waktu untuk berdoa justru menjadi yang pertama dikorbankan. Kita berharap memiliki hati yang tenang, tetapi mengabaikan sumber ketenangan itu sendiri. Padahal, ketenangan sejati tidak lahir dari keadaan yang nyaman, melainkan dari persekutuan yang erat dengan Tuhan.

Menariknya, setelah Yesus selesai berdoa, murid-murid-Nya sedang menghadapi badai di tengah danau. Ini mengajarkan bahwa doa bukanlah jaminan kita tidak akan menghadapi badai kehidupan. Sebaliknya, doa mempersiapkan kita untuk menghadapi badai dengan iman dan ketenangan. Yesus telah lebih dahulu bersekutu dengan Bapa sebelum menolong murid-murid-Nya yang sedang bergumul.

2. Jangan Takut, Yesus Hadir di Tengah Badai (Matius 14:24-27)

"Tetapi segera Yesus berkata kepada mereka: 'Tenanglah! Aku ini, jangan takut!'" (Mat. 14:27)

Setelah Yesus menyuruh murid-murid-Nya menyeberangi Danau Galilea, mereka menghadapi badai yang dahsyat. Perahu mereka diombang-ambingkan gelombang karena angin sakal. Yang menarik, badai ini bukan terjadi karena mereka melawan kehendak Tuhan, melainkan justru karena mereka menaati perintah Yesus (ay. 22). Hal ini mengajarkan bahwa ketaatan kepada Tuhan tidak membuat seseorang kebal terhadap kesulitan. Orang yang hidup setia kepada Kristus pun dapat mengalami sakit, kehilangan, tekanan ekonomi, penolakan, atau berbagai pergumulan hidup.

Ironisnya, ketika Yesus datang, murid-murid tidak langsung mengenali-Nya. Mereka justru mengira bahwa yang datang adalah hantu sehingga ketakutan mereka semakin besar. Ketakutan sering kali membuat manusia sulit melihat bahwa Tuhan sedang bekerja. Dalam keadaan panik, kita mudah melihat ancaman lebih besar daripada penyertaan Tuhan.

Karena itu Yesus segera berkata, "Tenanglah! Aku ini, jangan takut!" Perkataan "Aku ini" (Yunani: egō eimi) bukan sekadar memperkenalkan diri, tetapi mengingatkan pada penyataan Allah dalam Perjanjian Lama, "AKU ADALAH AKU" (Kel. 3:14). Dengan kata lain, Yesus sedang menyatakan bahwa Dia adalah Tuhan yang hadir bersama umat-Nya. Dasar ketenangan murid-murid bukanlah karena badai sudah berhenti, melainkan karena Tuhan sendiri hadir di tengah badai itu.

3. Iman yang Tertuju kepada Kristus Mengalahkan Ketakutan (Matius 14:28-33)

"Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?" (Mat. 14:31)

Setelah mendengar suara Yesus berkata, "Tenanglah! Aku ini, jangan takut!", Petrus memberikan respons yang berbeda dari murid-murid lainnya. Ia berkata, "Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air." Ketika Yesus menjawab, "Datanglah!", Petrus turun dari perahu dan mulai berjalan di atas air menuju Yesus.

Peristiwa ini menunjukkan bahwa iman sanggup membawa seseorang melakukan hal yang di luar kemampuan manusia. Petrus bukan berjalan di atas air karena kekuatannya sendiri, melainkan karena ia percaya kepada perkataan Yesus. Selama pandangannya tertuju kepada Kristus, ia mampu melangkah di atas gelombang yang sebelumnya menakutkan.

Namun, keadaan berubah ketika Petrus mulai memperhatikan tiupan angin dan besarnya ombak. Alkitab mencatat, "Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam." Ketika fokusnya bergeser dari Yesus kepada keadaan di sekelilingnya, ketakutan mengambil alih, dan imannya menjadi goyah. Ketakutan sering kali muncul bukan karena Tuhan berubah, tetapi karena perhatian kita lebih tertuju pada besarnya persoalan daripada kepada kebesaran Tuhan.

Meskipun demikian, Petrus melakukan satu hal yang benar. Ia tidak mengandalkan dirinya sendiri, tetapi segera berseru, "Tuhan, tolonglah aku!" Seruan yang singkat itu lahir dari iman bahwa hanya Yesus yang sanggup menyelamatkannya. Alkitab berkata, "Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia." Kata "segera" menunjukkan bahwa Yesus tidak menunda pertolongan-Nya. Ia tidak membiarkan Petrus tenggelam karena kegagalannya, tetapi dengan kasih dan anugerah mengangkatnya kembali. Setelah itu Yesus berkata, "Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?" Teguran ini bukan untuk menghukum Petrus, melainkan untuk menolongnya bertumbuh dalam iman yang lebih teguh.

Ketika Yesus dan Petrus naik ke dalam perahu, angin pun reda. Melihat semua yang terjadi, murid-murid menyembah Yesus dan berkata, "Sesungguhnya Engkau Anak Allah." Badai yang mereka alami akhirnya membawa mereka kepada pengenalan yang lebih dalam akan pribadi Kristus. Mereka bukan hanya melihat mukjizat, tetapi juga mengakui bahwa Yesus adalah Anak Allah yang berkuasa atas alam dan layak menerima penyembahan.

 

Kesimpulan

Matius 14:22-33 mengajarkan bahwa ketenangan sejati bukanlah keadaan tanpa badai, melainkan keyakinan bahwa Yesus hadir dan berkuasa di tengah badai kehidupan. Karena itu, ketika menghadapi berbagai persoalan, jangan biarkan ketakutan menguasai hati kita. Bangunlah persekutuan dengan Allah melalui doa, percayalah bahwa Yesus tidak pernah meninggalkan kita, dan tetaplah arahkan pandangan iman kepada-Nya. Seperti Petrus, mungkin ada saatnya kita menjadi takut, bimbang, bahkan merasa mulai tenggelam, tetapi kita selalu dapat berseru, “Tuhan, tolonglah aku!” Tangan Tuhan tetap terulur untuk menolong dan menguatkan kita. Maka, apa pun badai yang sedang kita hadapi, dengarkanlah kembali suara Kristus: “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” Sebab bersama Yesus, kita tidak pernah menghadapi badai seorang diri.

 

 

 

Tenanglah, Jangan Takut. Matius 14:22-23

  Khotbah Minggu Tenanglah, Jangan Takut Matius 14:22-23   Yesus berjalan di atas air 22 Sesudah itu Yesus segera memerintahkan ...