Khotbah Minggu: Kasih kepada Allah dan Sesama Manusia Lukas 10:25-37

 

Pendahuluan

Injil Lukas ditulis oleh Lukas, Tanggal Penulisan: Sekitar tahun 60-63 M. Injil Lukas adalah kitab pertama dari dua kitab yang ditulis oleh Lukas dan ditujukan kepada seorang bernama Teofilus (Luk. 1:1,3; Kis. 1:1). Lukas adalah seorang bukan Yahudi, kemungkinan berasal dari Yunani. Ia juga seorang dokter dan merupakan teman serta rekan pelayanan Paulus

Lukas adalah seorang yang terpelajar dan seorang penulis yang teliti. Lukas secara khusus menunjukkan bahwa Yesus adalah Juruselamat bagi semua orang, baik orang Yahudi maupun bukan Yahudi. Karena itu, Injil Lukas sangat penting bagi gereja yang terdiri dari berbagai bangsa. Lukas menulis Injilnya agar pembaca kitab mengetahui bahwa apa yang mereka telah dengar tentang Yesus adalah benar dan dapat dipercaya (Luk. 1:4).

 

Ilustrasi: Ateis yang Baik

Ketika seorang pria tahu ada seorang wanita tua yang tak sanggup membeli obat dan membayar sewa rumah, ia datang membantu wanita tua itu. Ia membawa wanita itu ke rumahnya dan merawatnya seperti ibunya sendiri. Ia menyiapkan tempat tidur dan makanan, membelikan obat, serta mengantar wanita tua tersebut ketika ia butuh perawatan. Ia terus merawatnya sampai wanita itu tak dapat lagi mengurus diri sendiri. Saya takjub ketika tahu bahwa pria yang baik itu seorang ateis yang fanatik!

Yesus menceritakan perumpamaan ini untuk menantang para pendengar- Nya. Cerita tentang orang Samaria dan orang ateis yang baik hati mengingatkan kita tentang tingginya standar firman Allah: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!” Roma 13:9 (ditulis oleh: Herb Vander Lugt)


Siapa orang dari Yerikho ?

Dalam perumpamaan itu, Yesus berkata: “Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho...” (Lukas 10:30). Yesus tidak menyebut nama atau identitas orang itu. Ia hanya mengatakan bahwa orang tersebut sedang melakukan perjalanan dari Yerusalem ke Yerikho. Orang itu kemudian dirampok, dipukuli, dan ditinggalkan hampir mati.

Jadi, kita tidak tahu apakah dia orang Yahudi, orang kaya, miskin, atau siapa namanya. Yang penting dalam cerita adalah bahwa dia adalah seorang manusia yang sedang membutuhkan pertolongan.

Mengapa Yesus memakai Yerikho ?

Karena jalan dari Yerusalem ke Yerikho memang merupakan perjalanan yang terkenal dan cukup berbahaya pada zaman itu. Yerusalem berada di daerah yang tinggi, sedangkan Yerikho berada jauh lebih rendah, dekat Laut Mati. Perjalanannya menurun dan melewati daerah yang berbatu dan sepi. Kondisi seperti ini membuat seseorang lebih mudah menjadi sasaran perampok. Karena itu, ketika Yesus mengatakan seorang yang “turun dari Yerusalem ke Yerikho”, pendengar-Nya dapat membayangkan sebuah perjalanan yang berisiko.

Orang-orang Yahudi terguncang oleh perumpamaan Yesus tentang orang Samaria yang baik hati. Yesus memuji kebaikan orang Samaria itu. Orang Yahudi sangat merendahkan orang Samaria, sama seperti saya yang cenderung memandang rendah orang ateis.

Seorang ahli Taurat mencobai Yesus dengan bertanya bagaimana ia dapat memperoleh hidup kekal. Lalu Yesus menanyakan apa yang dituliskan hukum Taurat tentang hal itu. Ahli Taurat tersebut menjawab bahwa ia harus mengasihi Tuhan dengan segenap hati dan mengasihi sesama seperti dirinya sendiri (Lukas 10:25-27). Lalu sang ahli Taurat bertanya kembali, “Dan siapakah sesamaku manusia?” (ayat 29). Dalam perumpamaan Yesus, orang Samaria itu adalah sesama manusia yang menunjukkan kebaikan kepada orang yang terluka.

Dari perjalanan seorang dari Yerusalem ke Yerikho Yesus sedang mengajarkan tentang kasih kepada sesama, bahkan kepada orang yang mungkin berbeda dengan kita. Marilah kita belajar dari tiga tokoh dalam teks ini yakni: Imam, Lewi dan orang Samaria.

1. Sikap Seoran imam

Imam adalah orang yang melayani dalam kehidupan keagamaan Israel, khususnya dalam pelayanan di Bait Allah.  Dalam cerita Yesus: “Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan.” (Luk. 10:31)

Yang menarik adalah: imam itu melihat orang yang terluka, tetapi tidak menolongnya. Jadi, Yesus sedang menunjukkan bahwa jabatan agama dan pengetahuan tentang Tuhan tidak otomatis membuat seseorang mengasihi sesamanya.

4. Sikap Seorang Lewi

Orang Lewi adalah anggota suku Lewi. Mereka mempunyai tugas-tugas yang berhubungan dengan pelayanan ibadah di Bait Allah. Orang Lewi juga melihat korban tersebut: “Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan.” (Luk. 10:32)  Jadi, imam dan orang Lewi sama-sama melihat, tetapi keduanya tidak menolong. Ini membuat cerita Yesus semakin kuat: orang yang dianggap dekat dengan kehidupan keagamaan justru tidak menunjukkan belas kasihan.

3. Sikap Seorang Samaria

Orang Samaria adalah penduduk Samaria. Pada zaman Yesus, hubungan antara orang Yahudi dan orang Samaria sangat buruk. Ada perbedaan sejarah, agama, dan identitas yang membuat kedua kelompok ini saling bermusuhan dan saling memandang rendah. Karena itu, ketika Yesus mengatakan: “Tetapi seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, datang ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan.”
(Luk. 10:33)
Pendengar Yesus mungkin tidak menyangka bahwa orang Samaria akan menjadi tokoh yang baik dalam cerita.  Justru orang Samaria itulah yang:  Melihat orang yang terluka, merasa kasihan, mendekatinya, membalut lukanya, menuangkan minyak dan anggur, menaikkannya ke atas keledainya, membawanya ke penginapan, dan dembayar biaya perawatannya.

Arti perumpamaannya .  Seorang ahli Taurat bertanya kepada Yesus: “Siapakah sesamaku manusia?” (Luk. 10:29).  Yesus kemudian membalik pertanyaan itu. Bukan hanya: “Siapa yang harus saya kasihi?” Tetapi: “Apakah saya bersedia menjadi sesama bagi orang yang membutuhkan?” Itulah sebabnya tokoh orang Samaria sangat penting. Yesus sedang mengajarkan bahwa kasih kepada sesama tidak boleh dibatasi oleh suku, agama, kelompok, atau permusuhan. Kasih kepada sesama menjadi bukti kasih manusia kepada Allah . Dalam Matius 25:35 tertulis: Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan

1.       Orang yang terluka: orang yang membutuhkan pertolongan.

2.       Imam: orang yang tahu tentang Tuhan tetapi tidak menolong.

3.       Orang Lewi : orang yang juga melihat kebutuhan tetapi melewatinya.

4.       Orang Samaria: orang yang dianggap musuh, tetapi justru menunjukkan kasih.

Jadi pesan Yesus:  Jangan hanya bertanya, “Siapa sesamaku?” Tetapi jadilah sesama bagi orang yang membutuhkan pertolongan. Dan Yesus menutup perumpamaan itu dengan perintah: “Pergilah, dan perbuatlah demikian!” (Lukas 10:37)

Kesimpulan

Perumpamaan Orang Samaria yang Baik Hati mengajarkan bahwa kasih kepada sesama tidak ditentukan oleh jabatan, pengetahuan agama, suku, atau hubungan kelompok, melainkan oleh kesediaan untuk menunjukkan belas kasihan dan memberikan pertolongan kepada orang yang membutuhkan. Imam dan orang Lewi melihat orang yang terluka, tetapi memilih untuk melewatinya, sedangkan orang Samaria yang dianggap sebagai musuh justru mendekati, menolong, merawat, dan menanggung biaya orang tersebut. Dengan demikian, Yesus mengajarkan bahwa menjadi sesama bukan sekadar mengetahui siapa yang harus dikasihi, tetapi bersedia menjadi sesama bagi setiap orang yang membutuhkan pertolongan. Karena itu, sebagai pengikut Kristus, kita dipanggil bukan hanya untuk mengetahui dan mengajarkan kasih, tetapi untuk melakukan kasih secara nyata, sebagaimana perintah Yesus: “Pergilah, dan perbuatlah demikian!” (Luk. 10:37).

Sunday Sermon: The Word of God Becomes My Joy,. Jeremiah 15:15–21

 

Backgound

The Book of Jeremiah contains the prophecies of the prophet Jeremiah and was written around 585-580 BC. Jeremiah’s ministry took place in the kingdom of Judah around 626-586 BC, during the final years before the destruction of Jerusalem and the Temple by Babylon. He was born in Anathoth into a priestly family and began prophesying in the thirteenth year of King Josiah’s reign. Although he supported Josiah’s reforms, Jeremiah realized that the nation had not truly repented. Therefore, he continued to warn the people about God’s judgment. After Babylon defeated Egypt at Carchemish in 605 BC and attacked Judah in 597 BC, Jerusalem was eventually destroyed in 586 BC. Jeremiah is known as the “weeping prophet” because of his suffering as he proclaimed God’s word to a hard-hearted nation, yet he remained faithful despite rejection and persecution.

Huhuo ba Luo Migu: Taroma Li Lowalangi Fa’omusὃ Dὃdὃgu. Yeremia 15:15-21

 

Famobὃrὃ

Sura Yeremia andre, wama'ele'ö Yeremia, nifasuraönia khö Barukhi (Yer. 36:1-4) me dὃfi 585-580 SM. fanuriagὃ nifalua Yeremia ibὃrὃgὃ me dὃfi 626-586 SM, fatua lὃ adudu Yerusalema ba osali Lowalangi nifalua soi Babeli. 

Tumbu Yeremia andre ono ere, tumbu ia  ba banua Anatoti, ibὃrὃgὃ halὃwὃ fanuriagὃ me no 13 fakhe sa’ae tobali razo Yosia. Huhuo Yeremia andrõ, ono Hilikia, oi ya’ira gere andrõ ba Ganatoti, ba danõ mado Mbeniyami, (Yer. 1:1). Ba Yer. 1:5 tesura: "Lõ niwõwõigu ya’ugõ na, ba dalu ninau, ba noa sa’ae u’ila’õ; ba lõ si tumbu’õ na, ba no u’amoni’õ ndra’ugõ; no uhonogõi, sama’ele’õ ndra’ugõ ba ngawalõ soi niha". Yeremia no nifotὃi göi ia sama'ele'ὃ  “sa-ngenungenu” (Nabi yang meratap) bὃrὃ famakao nitaὃgὃnia ba wa’atobali enoni.  He wa’ae so niha silὃ manema'ö ya'ia, he gὃi turia ni'fa’emania ba  Yeremia lὃ irὃi Lowalangi ba lὃ ibato wanuarigὃ taromali Lowalangi.

He wa’ae itundreheni halὃwὃ famohouni nifalua razo Yosia ba i’ila samae’ele’ὃ Yeremia andre wa lὃ nasa safὃnu famati ndraono Gizaraeli khὃ Lowalangi. andrὃ wa ifangelama ira ena’ὃ so fangesa dὃdὃ fabὃi ihuku ira Lolawalangi.  Meno sa’ae soi Babeli ikalaisi soi Misirayi me dὃfi 605 SM ba lasuwὃ gὃi Yehuda me 597 SM ba me dὃfi 586 SM adudu Yerusalaem andrὃ.

Ba Yeremia 15:15-21 hikaya famakao nitaὃgὃ ba nitὃrὃ  Yeremia bὃrὃ me lὃ farὃi ia khὃ Lowalangi.  Ba ayati 15-16 Taromali Lowalangi sitobali omusola dὃdὃ khὃ Yeremia, ayati 17-18 itutunὃ ὃsi dὃdὃnia khὃ Lowalangi ba ayati 19-21 Fangaro dὃdὃ moroi khὃ Lowangi.


Huhuo

1. Taroma Li Lowalangi Sitobali Gõ ba Omusola Dὃdὃ (ayati 15-16)

 

15 Õ’ila sa’ae, ya’ugõ Yehowa! Tõrõ tõdõu ndra’odo, tolodo ba lau mbalõgu ba zolohi ya’odo; bõi bunudo, ba wa’ebolo dõdõu andrõ [khõra]: tõrõ tõdõu, wa no bõrõ ndra’ugõ, wa ulu’i wa’aila! 16 Falukhado daroma li khõu, ba no amaedola gõgu, ba tobali fa’omuso dõdõgu daroma liu andrõ, ba fa’owuawua dõdõgu, no tõimõ mbõrõ wamotõi ya’odo, ya’ugõ Yehowa, Lowalangi ngahõnõ.

Ba ayati 15 andre i’faema angandrõwa dõdõnia khõ Lowalangi me ba wa’abu dõdõ so ia.  i’angarõfili Lowalangi; tolodo, me so solihi yaia, sedõna mamunu yaia, sinangea i’agarõfili Lowalangi bõrõ me halõwõ nifaluania, halõwõ ni be’e Lowalangi khõnia.

Fangosisi’õ Tarima Li: Takula Fa’atulὃ dὃdὃ Gurakha Zamati si lὃ Farὃi. 2 Timotius 4:6-8

 Fangosisiõ Daroma Li

 


Famobὃrὃ

Sura 2 Timoteo andre nisura Faulo khὃ Dimoteo awὃ ba lala halὃwὃ wanuriagὃ.  Sura andre isura me so ia ba gurunga, “aboto” ba dὃdὃ Waulo gὃi wa no ahatὃ inὃtὃ wa’amatenia, andrὃ wa ὃsi zura andre hulὃ menemene ba draono omasiὃ nirὃi amania.

I’andrὃ Waulo khὃ Dimoteo enaὃ  lὃ farὃi ia ba lala halὃwὃ wanuriagὃ taromali Lowalangi, ba enaὃ aro ia ba wa’atulὃ dὃdὃ, abὃlὃ ba wa’abu dὃdὃ ba lὃ farὃi ba lala halὃwo wa’a’enoni hewa’ae oya noro dὃdὃ sifalukha ero ma’ὃkhὃ (4:1-5).. andrὃ wa sura 2 Timoteo andre ὃsi nia  hewisa ba wamὃrὃgὃ lala halὃwὃ sisὃkhi ba he gὃi ba wangasiwai yaia ba zisὃkhi.

Imane Faulo: “Ba ia da’e sa’ae, ba no mufὃfὃ’ὃ khὃgu dakula ba wa’atulὃ dὃdὃ andrὃ, nibe’e Zo’aya andrv. (ayati 8a) da’a sitobali eluaha daromali andre khὃda fefu wa so luo khὃdra enoni-Nia si lὃ farὃi ba ba niha samati khὃnia.

1. Ibe’e tobali sumange kh Lowalangi fa’auri-nia Faulo (ayati 6)

6. Ya’odo sa, ba nibe’e sumange sa’ae, ba lõ ara tõ, ba irugi bawa wangefagu andrõ.

Ba ayati 6 andre itutunὃ Waulo hadia ia zalua ba wa’aurinia ba ginὃtὃ fὃna; aboto ba dὃdὃnia wa no ahatὃ inὃtὃ wa’amatenia.  Ba dὃdὃ Waulo fa’amatenia dania no amaedola  fasὃmbatania ma sumange khὃ Lowalangi sino mogaoni ya’ia, wa tola i’asiwai fahulὃsa wa’auri andre, fa’amatenia tobali tandra wano irugi amozua halὃwὃnia, ba no irorogὃ gὃi wamatinia khὃ Lowalangi.

Lala wa’auri ba lala halὃwὃ sino itὃrὃ Faulo no wondrege wa’amarase ba no itὃrὃ fa’afὃkhὃ, hegὃi noro dὃdὃ ba lala halὃwὃ ba wanuriagὃ taromali Lowalangi.  Hewa’ae simanὃ lὃ irὃi halὃwὃ sino ifaduhusi tὃdὃ khὃnia Lowalangi.

Sindruhunia fa’alὃ farὃi andrὃ tenga ha oroma ia na falukha fa’omusὃ dὃdὃ.  Fa’alὃ farὃi sindruhu oroma ba ginotὃ so abula dὃdὃ lὃ farὃi ita khὃ Lowlaangi. 

PA: Mahkota Kebenaran Upah bagi yang Setia. 2 Timotius 4:6-8


Pendahuluan

Surat 2 Timotius merupakan surat Paulus kepada Timotius, seorang rekan pelayanan dan anak rohaninya. Surat ini ditulis dalam situasi Paulus sedang berada dalam penjara dan menyadari bahwa akhir hidupnya sudah dekat. Karena itu, surat ini memiliki nuansa yang sangat pribadi dan penuh pesan terakhir.

Paulus mendorong Timotius agar tetap setia memberitakan Injil, berpegang pada kebenaran, berani menghadapi penderitaan, dan tidak meninggalkan panggilannya sekalipun menghadapi berbagai tantangan. Dengan demikian, 2 Timotius bukan hanya berbicara tentang bagaimana memulai pelayanan, tetapi terutama bagaimana menyelesaikan pelayanan dengan tetap setia kepada Tuhan.

Dalam bagian sebelumnya, Paulus telah menasihati Timotius untuk tetap memberitakan firman dan melaksanakan tugas pelayanannya dengan sungguh-sungguh (4:1-5).

Kemudian pada ayat 6-8, Paulus berbicara tentang dirinya sendiri. Ia menyadari bahwa hidupnya segera berakhir. Ia menggambarkan kematiannya sebagai persembahan yang dicurahkan bagi Tuhan dan menyatakan bahwa ia telah menyelesaikan pertandingan, mencapai garis akhir, serta memelihara iman.

Puncaknya adalah pengharapan Paulus: “Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran.” Mahkota tersebut bukan sekadar penghargaan atas keberhasilan manusia, melainkan gambaran upah dari Tuhan bagi orang yang tetap setia sampai akhir. Bahkan Paulus menegaskan bahwa mahkota itu bukan hanya untuk dirinya, tetapi juga bagi semua orang yang merindukan kedatangan Kristus.

Khotbah Minggu: Firman Tuhan Menjadi Kegirangan Bagiku. Yeremia 15:15-21


Kitab Yeremia adalah nubuatan nabi Yeremia yang penulisannya: ± 585-580 SM  Pelayanan Yeremia berlangsung di kerajaan Yehuda sekitar 626-586 SM, pada masa-masa terakhir sebelum kehancuran Yerusalem dan Bait Suci oleh Babel. Ia lahir di Anatot dari keluarga imam dan mulai bernubuat pada tahun ke-13 pemerintahan Raja Yosia. Meskipun mendukung pembaharuan Yosia, Yeremia menyadari bahwa bangsa itu belum mengalami pertobatan sejati, sehingga ia terus memperingatkan tentang hukuman Allah. Setelah Babel mengalahkan Mesir di Karkemis pada 605 SM dan menyerang Yehuda pada 597 SM, Yerusalem akhirnya dihancurkan pada 586 SM. Yeremia dikenal sebagai “nabi peratap” karena penderitaannya ketika menyampaikan firman Allah kepada bangsa yang keras hati, tetapi ia tetap setia meskipun ditolak dan dianiaya.

Kitab ini ditulis berdasarkan nubuat Yeremia yang didiktekan kepada Barukh (Yer. 36:1-4). Setelah gulungan pertama dibakar Raja Yoyakim, Yeremia mendiktekan kembali nubuat tersebut dengan tambahan. Kemungkinan besar Barukh menyusun bentuk akhir kitab ini sekitar 585-580 SM. Kitab Yeremia menegaskan kesetiaan sang nabi sekaligus kepastian hukuman Allah bagi umat yang menolak bertobat.

Konteks Yeremia 15:15-21 adalah keluhan pribadi Yeremia di tengah penderitaan karena panggilan kenabiannya. Bagian ini muncul setelah Yeremia menyampaikan berita penghukuman Allah atas Yehuda yang terus memberontak. Ia mengalami penolakan, celaan, ancaman, dan kesepian karena menyampaikan firman Tuhan. Dalam ayat 15-18, Yeremia mencurahkan isi hatinya kepada Tuhan: ia mengasihi firman Allah (ay. 16), tetapi justru karena firman itu ia harus menanggung penderitaan dan hidup terpisah dari banyak orang (ay. 17-18). Bahkan dalam penderitaannya, ia merasa seolah-olah Tuhan tidak dapat diandalkan. Ayat 19-21 merupakan jawaban Tuhan kepada Yeremia: Tuhan memanggilnya untuk kembali teguh kepada-Nya, tetap menyampaikan yang benar dan berharga, serta tidak mengikuti jalan bangsa yang menolak Allah. Tuhan kemudian menjanjikan bahwa Yeremia akan menjadi “tembok berkubu dari tembaga”, sehingga sekalipun orang-orang memeranginya, mereka tidak akan mengalahkannya karena Tuhan menyertai dan menyelamatkannya. Jadi, konteks utama Yeremia 15:15-21 adalah pergumulan seorang nabi yang menderita karena kesetiaannya kepada firman Allah, dan peneguhan Tuhan agar ia tetap teguh dalam panggilannya.

Teguh Berpegang pada Kebenaran Efesus 4:7-16

Khotbah Minggu

Pendahuluan

Paulus memperkenalkan dirinya sebagai “rasul Kristus Yesus oleh kehendak Allah.”Surat ini berkaitan erat dengan pelayanan Paulus kepada jemaat-jemaat di wilayah Asia Kecil, khususnya jemaat di Efesus. Surat ini ditujukan kepada orang-orang percaya di Efesus, sebuah kota penting di Asia Kecil, yang sekarang berada di wilayah Turki.

Efesus merupakan kota yang sangat strategis secara ekonomi, politik, dan keagamaan. Kota ini terkenal sebagai pusat penyembahan kepada Artemis. Karena itu, kehidupan jemaat Kristen berada di tengah lingkungan yang memiliki berbagai pengaruh agama, budaya, filsafat, dan praktik kehidupan yang tidak selalu sesuai dengan iman Kristen.

Efesus 4:7-16. Kristus memberikan berbagai karunia dan pelayanan kepada anggota tubuh-Nya, tetapi semua karunia itu mempunyai satu tujuan: membangun tubuh Kristus dan membawa jemaat kepada kedewasaan iman.

 

Khotbah

 

1. Membangun Tubuh Kristus (Ayat 7-12)

Paulus memulai dengan mengatakan bahwa kepada setiap orang percaya telah dianugerahkan kasih karunia menurut ukuran pemberian Kristus. Artinya, setiap orang percaya mempunyai tempat dan fungsi dalam tubuh Kristus. Kristus memberikan berbagai karunia dan pelayanan: rasul, nabi, pemberita Injil, gembala, dan pengajar. Tujuannya bukan supaya beberapa orang menjadi lebih tinggi daripada yang lain.

Pelayan Tuhan bukan dipanggil untuk melakukan segala sesuatu sendirian, tetapi memperlengkapi seluruh umat Tuhan supaya bersama-sama melayani. Gereja yang sehat bukan gereja yang hanya memiliki banyak kegiatan, tetapi gereja yang setiap anggotanya bertumbuh dan mengambil bagian dalam pelayanan.

Hukum yang Adil dan Lurus yang Allah Kehendaki. Amos 5:24-27

 Bahan PA


Pendahuluan

Kitab Amos ditulis oleh Amos, seorang peternak domba dan penggembala dari Tekoa, Yehuda, yang dipanggil Allah untuk menyampaikan firman kepada kerajaan Israel Utara. Amos melayani pada masa pemerintahan Yerobeam II, ketika Israel mengalami kemakmuran ekonomi dan perkembangan politik, tetapi pada saat yang sama terjadi ketidakadilan sosial, penindasan terhadap orang miskin, korupsi, dan kehidupan keagamaan yang hanya bersifat lahiriah. Bangsa Israel tetap melakukan ibadah dan perayaan keagamaan, tetapi kehidupan mereka tidak mencerminkan kehendak Allah. Karena itu, Amos tampil sebagai nabi yang dengan keras menyerukan pertobatan dan menegaskan bahwa Allah menghendaki keadilan, kebenaran, dan kehidupan yang benar, bukan sekadar ritual keagamaan.

Amos 5:24-27 berada dalam bagian ketika Allah menegur Israel karena ibadah mereka tidak disertai kehidupan yang benar. Dalam ayat 21-23, Allah bahkan mengatakan bahwa Ia membenci dan menolak perayaan, korban, dan nyanyian mereka karena semuanya tidak berkenan kepada-Nya ketika kehidupan sosial mereka dipenuhi ketidakadilan. Puncaknya terdapat dalam ayat 24: “Tetapi biarlah keadilan bergulung-gulung seperti air dan kebenaran seperti sungai yang selalu mengalir.” Jadi, yang Allah kehendaki bukan agama yang hanya tampak dalam ibadah, tetapi kehidupan yang menghasilkan keadilan dan kebenaran secara terus-menerus. Ayat 25-27 kemudian mengingatkan Israel bahwa sejak dahulu mereka tidak boleh menggantikan ketaatan kepada Allah dengan praktik-praktik keagamaan yang menyimpang.

1. Allah menghendaki keadilan, bukan hanya kegiatan keagamaan (ayat 24)

“Tetapi biarlah keadilan bergulung-gulung seperti air dan kebenaran seperti sungai yang selalu mengalir.”

Israel rajin melakukan kegiatan keagamaan, tetapi kehidupan mereka penuh ketidakadilan. Bagi Allah, ibadah tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Seseorang tidak dapat berkata bahwa ia mengasihi Allah tetapi pada saat yang sama menindas, merugikan, atau memperlakukan sesamanya dengan tidak adil.

Ibadah yang benar harus menghasilkan kehidupan yang benar. Gereja tidak hanya dipanggil untuk berbicara tentang Allah, tetapi juga menghadirkan keadilan dan kebenaran dalam kehidupan bersama.

Taatilah Hukum dan Tegakkan Keadilan. Yesaya 56:1-8

 Khotbah Minggu

 Pendahuluan

Bagian ini berbicara tentang kehidupan umat Allah setelah masa pembuangan, ketika mereka dipanggil untuk membangun kembali kehidupan yang sesuai dengan kehendak Tuhan.Ketaatan kepada Tuhan tidak cukup hanya dinyatakan melalui perkataan atau ibadah. Ketaatan harus terlihat dalam kehidupan sehari-hari, terutama melalui menegakkan keadilan, melakukan kebenaran, dan menghormati hukum Tuhan.

Yesaya 56:1-8 juga memberikan pesan yang sangat kuat: Allah tidak hanya memperhatikan kelompok tertentu. Orang asing dan mereka yang sebelumnya merasa berada di luar komunitas umat Allah juga diterima apabila mereka mengasihi Tuhan, beribadah kepada-Nya, dan berpegang pada perjanjian-Nya.

Dengan demikian, teks ini mengajarkan bahwa umat Tuhan dipanggil menjadi komunitas yang taat kepada hukum Allah, adil terhadap sesama, dan terbuka kepada setiap orang yang sungguh-sungguh datang kepada Tuhan.

Kitab Yesaya memuat pelayanan nabi Yesaya kepada bangsa Yehuda dalam situasi politik dan rohani yang penuh pergumulan. Bangsa Israel mengalami ketidaktaatan kepada Tuhan, ketidakadilan sosial, dan akhirnya menghadapi hukuman serta pembuangan.

Yesaya 56 berada pada bagian akhir kitab yang banyak berbicara mengenai pemulihan umat Allah. Setelah pengalaman pembuangan, umat dipanggil bukan hanya untuk kembali ke tanah mereka, tetapi juga untuk kembali kepada kehidupan yang benar di hadapan Allah.

Menariknya, dalam bagian ini Allah juga menyebut orang asing dan sida-sida. Mereka yang dahulu dianggap berada di luar komunitas Israel diberi tempat apabila mereka berpegang pada perjanjian Tuhan. Ini menunjukkan bahwa keselamatan dan kasih Allah memiliki jangkauan yang lebih luas daripada batas-batas sosial manusia.

Tenanglah, Jangan Takut. Matius 14:22-23

 

Khotbah Minggu

Tenanglah, Jangan Takut

Matius 14:22-23

 

Yesus berjalan di atas air

22 Sesudah itu Yesus segera memerintahkan murid-murid-Nya naik ke perahu dan mendahului-Nya ke seberang, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang. 23 Dan setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa j  seorang diri . Ketika hari sudah malam, Ia sendirian di situ. 24 Perahu murid-murid-Nya sudah beberapa mil jauhnya dari pantai dan diombang-ambingkan gelombang, karena angin sakal. 25 Kira-kira jam tiga malam datanglah Yesus kepada mereka berjalan di atas air. 26 Ketika murid-murid-Nya melihat Dia berjalan di atas air, mereka terkejut dan berseru: "Itu hantu!  ", lalu berteriak-teriak karena takut. 27 Tetapi segera Yesus berkata kepada mereka: "Tenanglah!  Aku ini, jangan takut !  " 28 Lalu Petrus berseru dan menjawab Dia: "Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air." 29 Kata Yesus: "Datanglah!" Maka Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus. 30 Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak: "Tuhan, tolonglah aku!" 31 Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: "Hai orang yang kurang percaya,  mengapa engkau bimbang?" 32 Lalu mereka naik ke perahu dan anginpun redalah. 33 Dan orang-orang yang ada di perahu menyembah Dia, katanya: "Sesungguhnya Engkau Anak Allah.  "

 

Pendahuluan

Peristiwa dalam Matius 14:22-33 terjadi segera setelah Yesus melakukan mukjizat memberi makan lebih dari lima ribu orang dengan lima roti dan dua ikan (Matius 14:13-21). Mukjizat ini membuat orang banyak semakin mengagumi Yesus. Setelah itu, Yesus segera menyuruh murid-murid-Nya naik perahu dan menyeberangi Danau Galilea, sementara Ia sendiri menyuruh orang banyak pulang.

Sesudah semua orang pergi, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri kepada Bapa (ayat 23). Di tengah kesibukan pelayanan dan besarnya tuntutan orang banyak, Yesus tetap mengutamakan persekutuan dengan Allah. Hal ini menunjukkan bahwa doa merupakan sumber kekuatan dalam menjalankan kehendak Bapa.

Sementara itu, perahu para murid sudah berada jauh dari pantai dan dihantam gelombang karena angin sakal (ayat 24). Danau Galilea memang dikenal sering mengalami badai yang datang secara tiba-tiba akibat kondisi geografisnya. Murid-murid yang sebagian besar adalah nelayan berpengalaman pun tidak mampu mengendalikan keadaan. Mereka bergumul sepanjang malam hingga menjelang dini hari.

Dalam situasi itulah Yesus menyatakan diri-Nya dengan berkata, "Tenanglah! Aku ini, jangan takut!" (ayat 27).

1. Ketenangan Berawal dari Persekutuan Doa dengan Allah (Matius 14:22-23)

"Dan setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri."

Perikop ini diawali dengan tindakan Yesus yang sangat menarik. Setelah selesai memberi makan lebih dari lima ribu orang, Yesus tidak membiarkan diri-Nya larut dalam popularitas dan kesibukan pelayanan. Ia segera menyuruh murid-murid-Nya menyeberangi danau, memulangkan orang banyak, lalu naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri kepada Bapa.

Tindakan Yesus menunjukkan bahwa persekutuan dengan Allah lebih penting daripada kesibukan pelayanan. Meskipun banyak orang masih membutuhkan-Nya, Yesus memahami bahwa sumber kekuatan pelayanan bukanlah aktivitas yang padat, melainkan hubungan yang intim dengan Bapa. Sebelum menghadapi tantangan berikutnya, Ia terlebih dahulu mencari wajah Allah dalam doa.

Hal ini menjadi teladan bagi setiap orang percaya. Sering kali kita begitu sibuk dengan pekerjaan, pelayanan, keluarga, atau berbagai tanggung jawab sehingga waktu untuk berdoa justru menjadi yang pertama dikorbankan. Kita berharap memiliki hati yang tenang, tetapi mengabaikan sumber ketenangan itu sendiri. Padahal, ketenangan sejati tidak lahir dari keadaan yang nyaman, melainkan dari persekutuan yang erat dengan Tuhan.

Menariknya, setelah Yesus selesai berdoa, murid-murid-Nya sedang menghadapi badai di tengah danau. Ini mengajarkan bahwa doa bukanlah jaminan kita tidak akan menghadapi badai kehidupan. Sebaliknya, doa mempersiapkan kita untuk menghadapi badai dengan iman dan ketenangan. Yesus telah lebih dahulu bersekutu dengan Bapa sebelum menolong murid-murid-Nya yang sedang bergumul.

2. Jangan Takut, Yesus Hadir di Tengah Badai (Matius 14:24-27)

"Tetapi segera Yesus berkata kepada mereka: 'Tenanglah! Aku ini, jangan takut!'" (Mat. 14:27)

Setelah Yesus menyuruh murid-murid-Nya menyeberangi Danau Galilea, mereka menghadapi badai yang dahsyat. Perahu mereka diombang-ambingkan gelombang karena angin sakal. Yang menarik, badai ini bukan terjadi karena mereka melawan kehendak Tuhan, melainkan justru karena mereka menaati perintah Yesus (ay. 22). Hal ini mengajarkan bahwa ketaatan kepada Tuhan tidak membuat seseorang kebal terhadap kesulitan. Orang yang hidup setia kepada Kristus pun dapat mengalami sakit, kehilangan, tekanan ekonomi, penolakan, atau berbagai pergumulan hidup.

Ironisnya, ketika Yesus datang, murid-murid tidak langsung mengenali-Nya. Mereka justru mengira bahwa yang datang adalah hantu sehingga ketakutan mereka semakin besar. Ketakutan sering kali membuat manusia sulit melihat bahwa Tuhan sedang bekerja. Dalam keadaan panik, kita mudah melihat ancaman lebih besar daripada penyertaan Tuhan.

Karena itu Yesus segera berkata, "Tenanglah! Aku ini, jangan takut!" Perkataan "Aku ini" (Yunani: egō eimi) bukan sekadar memperkenalkan diri, tetapi mengingatkan pada penyataan Allah dalam Perjanjian Lama, "AKU ADALAH AKU" (Kel. 3:14). Dengan kata lain, Yesus sedang menyatakan bahwa Dia adalah Tuhan yang hadir bersama umat-Nya. Dasar ketenangan murid-murid bukanlah karena badai sudah berhenti, melainkan karena Tuhan sendiri hadir di tengah badai itu.

3. Iman yang Tertuju kepada Kristus Mengalahkan Ketakutan (Matius 14:28-33)

"Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?" (Mat. 14:31)

Setelah mendengar suara Yesus berkata, "Tenanglah! Aku ini, jangan takut!", Petrus memberikan respons yang berbeda dari murid-murid lainnya. Ia berkata, "Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air." Ketika Yesus menjawab, "Datanglah!", Petrus turun dari perahu dan mulai berjalan di atas air menuju Yesus.

Peristiwa ini menunjukkan bahwa iman sanggup membawa seseorang melakukan hal yang di luar kemampuan manusia. Petrus bukan berjalan di atas air karena kekuatannya sendiri, melainkan karena ia percaya kepada perkataan Yesus. Selama pandangannya tertuju kepada Kristus, ia mampu melangkah di atas gelombang yang sebelumnya menakutkan.

Namun, keadaan berubah ketika Petrus mulai memperhatikan tiupan angin dan besarnya ombak. Alkitab mencatat, "Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam." Ketika fokusnya bergeser dari Yesus kepada keadaan di sekelilingnya, ketakutan mengambil alih, dan imannya menjadi goyah. Ketakutan sering kali muncul bukan karena Tuhan berubah, tetapi karena perhatian kita lebih tertuju pada besarnya persoalan daripada kepada kebesaran Tuhan.

Meskipun demikian, Petrus melakukan satu hal yang benar. Ia tidak mengandalkan dirinya sendiri, tetapi segera berseru, "Tuhan, tolonglah aku!" Seruan yang singkat itu lahir dari iman bahwa hanya Yesus yang sanggup menyelamatkannya. Alkitab berkata, "Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia." Kata "segera" menunjukkan bahwa Yesus tidak menunda pertolongan-Nya. Ia tidak membiarkan Petrus tenggelam karena kegagalannya, tetapi dengan kasih dan anugerah mengangkatnya kembali. Setelah itu Yesus berkata, "Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?" Teguran ini bukan untuk menghukum Petrus, melainkan untuk menolongnya bertumbuh dalam iman yang lebih teguh.

Ketika Yesus dan Petrus naik ke dalam perahu, angin pun reda. Melihat semua yang terjadi, murid-murid menyembah Yesus dan berkata, "Sesungguhnya Engkau Anak Allah." Badai yang mereka alami akhirnya membawa mereka kepada pengenalan yang lebih dalam akan pribadi Kristus. Mereka bukan hanya melihat mukjizat, tetapi juga mengakui bahwa Yesus adalah Anak Allah yang berkuasa atas alam dan layak menerima penyembahan.

 

Kesimpulan

Matius 14:22-33 mengajarkan bahwa ketenangan sejati bukanlah keadaan tanpa badai, melainkan keyakinan bahwa Yesus hadir dan berkuasa di tengah badai kehidupan. Karena itu, ketika menghadapi berbagai persoalan, jangan biarkan ketakutan menguasai hati kita. Bangunlah persekutuan dengan Allah melalui doa, percayalah bahwa Yesus tidak pernah meninggalkan kita, dan tetaplah arahkan pandangan iman kepada-Nya. Seperti Petrus, mungkin ada saatnya kita menjadi takut, bimbang, bahkan merasa mulai tenggelam, tetapi kita selalu dapat berseru, “Tuhan, tolonglah aku!” Tangan Tuhan tetap terulur untuk menolong dan menguatkan kita. Maka, apa pun badai yang sedang kita hadapi, dengarkanlah kembali suara Kristus: “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” Sebab bersama Yesus, kita tidak pernah menghadapi badai seorang diri.

 

 

 

Pagi Subuh yang Sunyi

 

Di Tengah Pagi yang Sunyi

"TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya."
Mazmur 34:19



Pagi itu masih gelap. Embun belum menghilang, dan udara di perkebunan masih terasa dingin. Seperti hari-hari sebelumnya, seorang anak perempuan berusia 12 tahun bangun lebih awal untuk membantu kedua orang tuanya. Dengan wajah yang ceria dan hati yang tulus, ia menemani mereka bekerja. Tidak ada seorang pun yang menyangka bahwa pagi itu akan menjadi pagi yang mengubah kehidupan keluarga mereka untuk selamanya.

Di tengah kesunyian subuh, seekor harimau tiba-tiba menyerang. Peristiwa itu terjadi begitu cepat. Anak yang masih belia itu meninggal dunia. Kepergiannya meninggalkan luka yang begitu dalam bagi ayah, ibu, kakak, adik, dan semua orang yang mengenalnya.

Penggenapan Janji Allah dalam Yesus Kristus 2 Korintus 1:15-24

 

Bahan Pendalaman Alkitab (PA)


Pendahuluan: Latar Belakang Kitab

Surat 2 Korintus ditulis oleh Rasul Paulus kepada jemaat di Korintus sekitar tahun 55-56 M. Jemaat ini adalah jemaat yang dinamis, tetapi juga penuh dengan persoalan, seperti perpecahan, pengaruh guru-guru palsu, dan keraguan terhadap kerasulan Paulus. Salah satu tuduhan yang diarahkan kepada Paulus adalah bahwa ia tidak dapat dipercaya karena mengubah rencana kunjungannya ke Korintus.

Dalam 2 Korintus 1:15-24, Paulus menjelaskan bahwa perubahan rencananya bukan karena ia tidak konsisten, melainkan demi kebaikan jemaat. Ia kemudian mengarahkan perhatian mereka kepada sesuatu yang jauh lebih penting, yaitu kesetiaan Allah. Berbeda dengan manusia yang terbatas dan dapat berubah, Allah tidak pernah berubah. Semua janji Allah mencapai penggenapannya di dalam Yesus Kristus. Oleh karena itu, dasar iman orang percaya bukanlah kesempurnaan manusia, melainkan kesetiaan Allah yang dinyatakan melalui Kristus.

 

1. Kesetiaan Allah Tidak Bergantung pada Kelemahan Manusia (ayat 15-17)

Paulus mengakui bahwa ia mengubah rencana perjalanan ke Korintus. Namun, perubahan itu bukan karena ia tidak dapat dipercaya, melainkan karena ia ingin menghindarkan jemaat dari teguran yang lebih keras. Paulus tidak mengambil keputusan berdasarkan kepentingan dirinya, tetapi demi pertumbuhan rohani jemaat.

Melalui penjelasan ini, Paulus mengingatkan bahwa manusia memang dapat berubah karena keterbatasannya. Namun, perubahan manusia tidak membatalkan kesetiaan Allah.

2. Semua Janji Allah Digenapi di dalam Yesus Kristus (ayat 18-20)

Inilah inti dari bagian ini. Paulus berkata bahwa pemberitaannya tentang Kristus bukanlah "ya dan tidak," sebab Yesus Kristus adalah "Ya" bagi semua janji Allah. Segala janji Allah tentang keselamatan, pengampunan dosa, kehidupan kekal, damai sejahtera, dan pemulihan menemukan penggenapannya di dalam Kristus.  Karena itu, jemaat menjawab dengan "Amin," yaitu ungkapan iman dan keyakinan bahwa Allah pasti menepati firman-Nya.

3. Roh Kudus Menjamin Penggenapan Janji Allah dalam Hidup Orang Percaya (ayat 21-24)

Paulus menjelaskan bahwa Allah sendiri telah meneguhkan orang percaya di dalam Kristus. Allah mengurapi mereka, memeteraikan mereka, dan memberikan Roh Kudus sebagai jaminan.

Meterai Roh Kudus menunjukkan bahwa orang percaya adalah milik Allah, sedangkan Roh Kudus sebagai jaminan memberikan kepastian bahwa seluruh janji keselamatan akan digenapi sampai akhir.

Pelayanan Paulus juga tidak bertujuan menguasai iman jemaat, melainkan bekerja sama agar mereka semakin teguh dalam iman.

 

Kesimpulan

Melalui 2 Korintus 1:15-24, Paulus mengajarkan bahwa manusia dapat berubah karena keterbatasannya, tetapi Allah tidak pernah berubah. Semua janji-Nya telah digenapi di dalam Yesus Kristus, dan Roh Kudus diberikan sebagai jaminan bahwa Allah akan menyelesaikan karya keselamatan-Nya.

Karena itu, orang percaya dipanggil untuk tetap percaya kepada Kristus, hidup dalam ketaatan kepada firman-Nya, dan memegang teguh pengharapan bahwa Allah selalu setia menggenapi setiap janji-Nya.

Pertanyaan Diskusi dan Jawaban

1. Mengapa Paulus menjelaskan perubahan rencana perjalanannya kepada jemaat Korintus?

Jawaban: Karena ada yang menuduh Paulus tidak konsisten. Paulus menjelaskan bahwa perubahan itu dilakukan demi kebaikan jemaat, bukan karena ia tidak dapat dipercaya.

2. Apa arti pernyataan bahwa semua janji Allah adalah "Ya" di dalam Kristus?

Jawaban: Artinya, seluruh janji Allah mengenai keselamatan, kasih karunia, pengampunan, dan kehidupan kekal telah digenapi melalui pribadi dan karya Yesus Kristus. Dialah kepastian dari semua janji Allah.

3. Apa makna Roh Kudus sebagai meterai dan jaminan bagi orang percaya?

Jawaban: Roh Kudus menandai bahwa kita adalah milik Allah dan menjadi jaminan bahwa Allah akan menyempurnakan keselamatan serta menggenapi seluruh janji-Nya bagi setiap orang yang percaya kepada Kristus.

 

Khotbah Minggu: Kasih kepada Allah dan Sesama Manusia Lukas 10:25-37

  Pendahuluan Injil Lukas ditulis oleh Lukas, Tanggal Penulisan: Sekitar tahun 60-63 M. Injil Lukas adalah kitab pertama dari dua kitab ...