Khotbah Minggu 10 Mei 2026
PENDAHULUAN
Surat kepada
jemaat di Kolose ditulis oleh Rasul Paulus dalam konteks pelayanan yang tidak
mudah. Secara geografis, jemaat Kolose berada di wilayah Asia Kecil, sebuah
daerah yang menjadi persimpangan berbagai pengaruh budaya, filsafat Yunani,
tradisi Yahudi, serta kepercayaan-kepercayaan mistik. Situasi ini membuka
peluang munculnya ajaran-ajaran yang menyimpang dari Injil yang murni. Para
pengajar palsu mulai memengaruhi jemaat dengan ajaran yang mencampurkan unsur
filsafat manusia, legalisme keagamaan, serta praktik-praktik spiritual yang
tidak berpusat pada Kristus (bdk. Kol. 2:8).
Dalam konteks
itulah Paulus menulis surat ini, meskipun ia sendiri kemungkinan besar belum
pernah mengunjungi jemaat Kolose secara langsung (bdk. Kol. 1:4; 2:1).
Pelayanan kepada jemaat ini kemungkinan besar dimulai oleh Epafras, rekan
sekerja Paulus (Kol. 1:7). Mendengar kondisi jemaat yang sedang menghadapi
ancaman ajaran palsu, Paulus tidak hanya memberikan peringatan teologis, tetapi
terlebih dahulu mengangkat mereka dalam doa. Hal ini menunjukkan prioritas
rohani Paulus: sebelum memperbaiki pemahaman, ia lebih dahulu memohon campur
tangan Allah dalam kehidupan jemaat.
Dalam Kolose
1:9, Paulus menyatakan bahwa ia “tidak berhenti-henti berdoa” bagi mereka. Doa
ini bukan sekadar formalitas, melainkan ungkapan kepedulian pastoral yang
mendalam. Isi doa Paulus sangat signifikan: ia tidak meminta agar masalah
jemaat segera diselesaikan atau agar tekanan hidup mereka diangkat. Sebaliknya,
ia berdoa agar jemaat dipenuhi dengan pengetahuan akan kehendak Allah dalam
segala hikmat dan pengertian rohani.
Pengetahuan
tentang kehendak Allah yang dimaksud di sini bukan sekadar pengetahuan
intelektual, tetapi pengenalan yang hidup dan relasional. Kata “hikmat” dan
“pengertian rohani” menunjuk pada kemampuan yang diberikan oleh Roh Kudus untuk
memahami dan menerapkan kebenaran Allah dalam kehidupan sehari-hari. Dengan
demikian, Paulus menegaskan bahwa kehidupan Kristen tidak hanya berhenti pada
pengakuan iman, tetapi harus diwujudkan dalam kehidupan yang nyata dan berkenan
kepada Tuhan.
Melalui Kolose
1:9-14, kita melihat suatu pola kehidupan iman yang utuh: dimulai dari doa,
bertumbuh dalam pengenalan akan Allah, diwujudkan dalam kehidupan yang berbuah,
dan berakhir dalam ucapan syukur. Paulus menegaskan bahwa kekuatan iman Kristen
tidak ditentukan oleh bebasnya seseorang dari masalah, melainkan oleh
kedewasaan rohani dalam menghadapi realitas hidup.
Oleh sebab itu,
perikop ini sangat relevan bagi kehidupan orang percaya masa kini. Di tengah
dunia yang penuh dengan berbagai ajaran, tekanan hidup, dan ketidakpastian,
umat Tuhan dipanggil untuk kembali kepada dasar iman yang sejati: hidup yang
berakar dalam doa, bertumbuh dalam pengenalan akan Allah, serta menghasilkan
buah dan ucapan syukur sebagai respons atas kasih karunia-Nya.
KHOTBAH
1. Doa
sebagai Nafas Kehidupan Orang Percaya (ayat 1:9)
“Sebab itu sejak waktu kami mendengarnya,
kami tiada berhenti-henti berdoa untuk kamu. Kami meminta, supaya kamu menerima
segala hikmat dan pengertian yang benar, untuk mengetahui kehendak Tuhan dengan
sempurna.” (1:9)
Paulus
menunjukkan bahwa kehidupan orang percaya harus dimulai dari doa, dan ia
sendiri memberi teladan dengan tidak berhenti berdoa bagi jemaat. Baginya, doa
adalah dasar pertumbuhan rohani yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan umat
Kristen. Doa bukan sekadar sarana untuk menyampaikan permohonan, tetapi
terutama sebagai jalan untuk mengenal kehendak Allah dan membangun relasi yang
intim dengan-Nya. Melalui doa, orang percaya diarahkan untuk hidup sesuai
dengan rencana Tuhan, sementara para pemimpin rohani dipanggil untuk
mengutamakan doa demi pertumbuhan jemaat, bukan hanya berfokus pada
penyelesaian masalah semata.
2. Iman yang
Bertumbuh di Tengah Pergumulan (ayat 10–11)
“Sehingga hidupmu layak di hadapan-Nya serta
berkenan kepada-Nya dalam segala hal dan kamu memberi buah dalam segala
pekerjaan yang baik dan bertumbuh dalam pengetahuan yang benar tentang Allah;
dan dikuatkan dengan segala kekuatan oleh kuasa kemuliaan-Nya untuk menanggung
segala sesuatu dengan tekun dan sabar.” (ayat :10–11)
Paulus
menegaskan bahwa tujuan doa adalah perubahan hidup. Iman yang bertumbuh nyata
dalam kehidupan yang berkenan kepada Tuhan, menghasilkan buah, serta tetap kuat
dalam kesabaran. Kekuatan iman tidak diukur dari mudahnya keadaan, melainkan
dari ketekunan dan kesetiaan dalam menghadapi berbagai pergumulan hidup.
Dalam
realitasnya, hidup sering kali tidak berjalan sesuai harapan. Penderitaan,
kegagalan, dan kecemasan pun menjadi bagian yang tidak terhindarkan. Namun,
semua itu bukan alasan untuk meragukan Tuhan. Justru melalui situasi tersebut,
iman dimurnikan dan dikuatkan. Karena itu, Paulus menekankan bahwa orang
percaya dipanggil untuk tetap setia dan taat, sebab di sanalah terlihat
kekuatan iman yang sejati—iman yang tetap teguh, bahkan di tengah kesulitan.
3. Hidup
yang Berbuah dan Penuh Ucapan Syukur (ayat 12–14)
“Dan mengucap syukur dengan sukacita kepada
Bapa, yang melayakkan kamu untuk mendapat bagian dalam apa yang ditentukan
untuk orang-orang kudus di dalam kerajaan terang. Ia telah melepaskan kita dari
kuasa kegelapan dan memindahkan kita ke dalam Kerajaan Anak-Nya yang kekasih;
di dalam Dia kita memiliki penebusan kita, yaitu pengampunan dosa.” (Kolose
1:12–14)
Paulus menutup
dengan penekanan pada ucapan syukur sebagai respons atas karya keselamatan
Allah. Dasar syukur bukanlah keadaan hidup, melainkan anugerah Tuhan yang telah
melepaskan kita dari kuasa kegelapan dan memindahkan kita ke dalam terang.
Karena itu, kehidupan orang percaya seharusnya dipenuhi dengan rasa syukur yang
lahir dari kesadaran akan kasih karunia-Nya.
Iman yang benar
akan nyata dalam kehidupan sehari-hari, menghasilkan buah dan tercermin dalam
sikap serta tindakan. Pengenalan akan Allah tidak berhenti pada pengetahuan,
tetapi terwujud dalam hidup yang berkenan kepada-Nya. Dalam hal ini, ucapan
syukur menjadi ciri utama orang percaya bukan karena keadaan selalu baik,
melainkan karena keyakinan bahwa Allah telah menyelamatkan dan membawa kita
dari kegelapan kepada terang.
KESIMPULAN
Doa adalah
dasar kehidupan iman, karena melalui doa kita mengenal kehendak Tuhan. Iman
yang benar terlihat dari kehidupan yang berkenan kepada Tuhan serta tetap kuat
dalam kesabaran. Ucapan syukur lahir dari kesadaran akan keselamatan yang telah
kita terima di dalam Kristus.
Pdt. Juliman
Harefa