Rabu, 06 Mei 2026

TETAPLAH BERDOA, Kolose 1:9-14

Khotbah Minggu 10 Mei 2026


 

PENDAHULUAN

 Surat kepada jemaat di Kolose ditulis oleh Rasul Paulus dalam konteks pelayanan yang tidak mudah. Secara geografis, jemaat Kolose berada di wilayah Asia Kecil, sebuah daerah yang menjadi persimpangan berbagai pengaruh budaya, filsafat Yunani, tradisi Yahudi, serta kepercayaan-kepercayaan mistik. Situasi ini membuka peluang munculnya ajaran-ajaran yang menyimpang dari Injil yang murni. Para pengajar palsu mulai memengaruhi jemaat dengan ajaran yang mencampurkan unsur filsafat manusia, legalisme keagamaan, serta praktik-praktik spiritual yang tidak berpusat pada Kristus (bdk. Kol. 2:8).

 Dalam konteks itulah Paulus menulis surat ini, meskipun ia sendiri kemungkinan besar belum pernah mengunjungi jemaat Kolose secara langsung (bdk. Kol. 1:4; 2:1). Pelayanan kepada jemaat ini kemungkinan besar dimulai oleh Epafras, rekan sekerja Paulus (Kol. 1:7). Mendengar kondisi jemaat yang sedang menghadapi ancaman ajaran palsu, Paulus tidak hanya memberikan peringatan teologis, tetapi terlebih dahulu mengangkat mereka dalam doa. Hal ini menunjukkan prioritas rohani Paulus: sebelum memperbaiki pemahaman, ia lebih dahulu memohon campur tangan Allah dalam kehidupan jemaat.

Dalam Kolose 1:9, Paulus menyatakan bahwa ia “tidak berhenti-henti berdoa” bagi mereka. Doa ini bukan sekadar formalitas, melainkan ungkapan kepedulian pastoral yang mendalam. Isi doa Paulus sangat signifikan: ia tidak meminta agar masalah jemaat segera diselesaikan atau agar tekanan hidup mereka diangkat. Sebaliknya, ia berdoa agar jemaat dipenuhi dengan pengetahuan akan kehendak Allah dalam segala hikmat dan pengertian rohani.

Pengetahuan tentang kehendak Allah yang dimaksud di sini bukan sekadar pengetahuan intelektual, tetapi pengenalan yang hidup dan relasional. Kata “hikmat” dan “pengertian rohani” menunjuk pada kemampuan yang diberikan oleh Roh Kudus untuk memahami dan menerapkan kebenaran Allah dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, Paulus menegaskan bahwa kehidupan Kristen tidak hanya berhenti pada pengakuan iman, tetapi harus diwujudkan dalam kehidupan yang nyata dan berkenan kepada Tuhan.

 Melalui Kolose 1:9-14, kita melihat suatu pola kehidupan iman yang utuh: dimulai dari doa, bertumbuh dalam pengenalan akan Allah, diwujudkan dalam kehidupan yang berbuah, dan berakhir dalam ucapan syukur. Paulus menegaskan bahwa kekuatan iman Kristen tidak ditentukan oleh bebasnya seseorang dari masalah, melainkan oleh kedewasaan rohani dalam menghadapi realitas hidup.

 Oleh sebab itu, perikop ini sangat relevan bagi kehidupan orang percaya masa kini. Di tengah dunia yang penuh dengan berbagai ajaran, tekanan hidup, dan ketidakpastian, umat Tuhan dipanggil untuk kembali kepada dasar iman yang sejati: hidup yang berakar dalam doa, bertumbuh dalam pengenalan akan Allah, serta menghasilkan buah dan ucapan syukur sebagai respons atas kasih karunia-Nya.

 

KHOTBAH

1. Doa sebagai Nafas Kehidupan Orang Percaya (ayat 1:9)

 

“Sebab itu sejak waktu kami mendengarnya, kami tiada berhenti-henti berdoa untuk kamu. Kami meminta, supaya kamu menerima segala hikmat dan pengertian yang benar, untuk mengetahui kehendak Tuhan dengan sempurna.” (1:9)

 Paulus menunjukkan bahwa kehidupan orang percaya harus dimulai dari doa, dan ia sendiri memberi teladan dengan tidak berhenti berdoa bagi jemaat. Baginya, doa adalah dasar pertumbuhan rohani yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan umat Kristen. Doa bukan sekadar sarana untuk menyampaikan permohonan, tetapi terutama sebagai jalan untuk mengenal kehendak Allah dan membangun relasi yang intim dengan-Nya. Melalui doa, orang percaya diarahkan untuk hidup sesuai dengan rencana Tuhan, sementara para pemimpin rohani dipanggil untuk mengutamakan doa demi pertumbuhan jemaat, bukan hanya berfokus pada penyelesaian masalah semata.

 

2. Iman yang Bertumbuh di Tengah Pergumulan (ayat 10–11)

 “Sehingga hidupmu layak di hadapan-Nya serta berkenan kepada-Nya dalam segala hal dan kamu memberi buah dalam segala pekerjaan yang baik dan bertumbuh dalam pengetahuan yang benar tentang Allah; dan dikuatkan dengan segala kekuatan oleh kuasa kemuliaan-Nya untuk menanggung segala sesuatu dengan tekun dan sabar.” (ayat :10–11)

Paulus menegaskan bahwa tujuan doa adalah perubahan hidup. Iman yang bertumbuh nyata dalam kehidupan yang berkenan kepada Tuhan, menghasilkan buah, serta tetap kuat dalam kesabaran. Kekuatan iman tidak diukur dari mudahnya keadaan, melainkan dari ketekunan dan kesetiaan dalam menghadapi berbagai pergumulan hidup.

Dalam realitasnya, hidup sering kali tidak berjalan sesuai harapan. Penderitaan, kegagalan, dan kecemasan pun menjadi bagian yang tidak terhindarkan. Namun, semua itu bukan alasan untuk meragukan Tuhan. Justru melalui situasi tersebut, iman dimurnikan dan dikuatkan. Karena itu, Paulus menekankan bahwa orang percaya dipanggil untuk tetap setia dan taat, sebab di sanalah terlihat kekuatan iman yang sejati—iman yang tetap teguh, bahkan di tengah kesulitan.

 

3. Hidup yang Berbuah dan Penuh Ucapan Syukur (ayat 12–14)

 “Dan mengucap syukur dengan sukacita kepada Bapa, yang melayakkan kamu untuk mendapat bagian dalam apa yang ditentukan untuk orang-orang kudus di dalam kerajaan terang. Ia telah melepaskan kita dari kuasa kegelapan dan memindahkan kita ke dalam Kerajaan Anak-Nya yang kekasih; di dalam Dia kita memiliki penebusan kita, yaitu pengampunan dosa.” (Kolose 1:12–14)

 Paulus menutup dengan penekanan pada ucapan syukur sebagai respons atas karya keselamatan Allah. Dasar syukur bukanlah keadaan hidup, melainkan anugerah Tuhan yang telah melepaskan kita dari kuasa kegelapan dan memindahkan kita ke dalam terang. Karena itu, kehidupan orang percaya seharusnya dipenuhi dengan rasa syukur yang lahir dari kesadaran akan kasih karunia-Nya.

Iman yang benar akan nyata dalam kehidupan sehari-hari, menghasilkan buah dan tercermin dalam sikap serta tindakan. Pengenalan akan Allah tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi terwujud dalam hidup yang berkenan kepada-Nya. Dalam hal ini, ucapan syukur menjadi ciri utama orang percaya bukan karena keadaan selalu baik, melainkan karena keyakinan bahwa Allah telah menyelamatkan dan membawa kita dari kegelapan kepada terang.

 

KESIMPULAN

Doa adalah dasar kehidupan iman, karena melalui doa kita mengenal kehendak Tuhan. Iman yang benar terlihat dari kehidupan yang berkenan kepada Tuhan serta tetap kuat dalam kesabaran. Ucapan syukur lahir dari kesadaran akan keselamatan yang telah kita terima di dalam Kristus.

 

Pdt. Juliman Harefa

TETAPLAH BERDOA, Kolose 1:9-14

Khotbah Minggu 10 Mei 2026   PENDAHULUAN   Surat kepada jemaat di Kolose ditulis oleh Rasul Paulus dalam konteks pelayanan yang tidak mudah....