Bergembira Dalam Tuhan (Habakuk 3:10-19)

 

Khotbah Minggu 19 April 2026



 Doa nabi Habakuk

10melihat Engkau, gunung-gunung gemetar,  air bah menderu lalu, samudera raya memperdengarkan suaranya   dan mengangkat tangannya.   11Matahari, bulan berhenti   di tempat kediamannya, karena cahaya anak-anak panah-Mu   yang melayang laju, karena kilauan   tombak-Mu yang berkilat.  12Dalam kegeraman Engkau melangkah melintasi bumi, dalam murka Engkau menggasak   bangsa-bangsa.  13Engkau berjalan maju  untuk menyelamatkan  umat-Mu, untuk menyelamatkan orang yang Kauurapi.  Engkau meremukkan   bagian atas rumah orang-orang fasik dan Kaubuka dasarnya sampai batu yang penghabisan. Sela.  14Engkau menusuk dengan anak panahnya sendiri kepala lasykarnya, yang mengamuk untuk menyerakkan aku  dengan sorak-sorai, seolah-olah mereka menelan orang tertindas   secara tersembunyi.  15Dengan kuda-Mu, Engkau menginjak laut,  timbunan air  yang membuih.  16Ketika aku mendengarnya, gemetarlah hatiku, mendengar bunyinya, menggigillah bibirku; tulang-tulangku seakan-akan kemasukan sengal, dan aku gemetar   di tempat aku berdiri; namun dengan tenang  akan kunantikan hari kesusahan, yang akan mendatangi bangsa yang bergerombolan menyerang kami.  17Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan,  kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang,   18namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN,  beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan  aku.  19ALLAH Tuhanku itu kekuatanku:   Ia membuat kakiku seperti kaki rusa, Ia membiarkan aku berjejak di bukit-bukitku.  (Untuk pemimpin biduan. Dengan permainan kecapi).

 

Latar belakang Kitab

Yang dapat kita ketahui dengan pasti tentang Habakuk adalah bahwa ia seorang nabi yang hidup pada periode sebelum pembuangan dalam sejarah Israel. Makna namanya masih diperdebatkan. Nama ini mungkin berasal dari kata kerja Ibrani ḥābaq, yang berarti “melipat tangan” atau “memeluk.” Dalam hal ini, namanya dapat diartikan sebagai “orang yang memeluk” atau “orang yang dipeluk.”

Martin Luther berpendapat bahwa nama tersebut menunjukkan bahwa Habakuk memeluk bangsanya untuk menghibur dan meneguhkan mereka. Sementara itu, Jerome menafsirkannya sebagai gambaran bahwa ia “memeluk” persoalan keadilan ilahi di dunia, yang memang menjadi pokok bahasan utama kitab ini.  Isi kitab ini, yang memadukan unsur sastra hikmat dan sebuah pujian, menunjukkan bahwa Habakuk bukan hanya seorang nabi, tetapi juga seorang penyair.

Ada tradisi mengenai siapa Habakuk yang, meskipun hanya sedikit didukung oleh fakta, tetap menarik. Karena ayat terakhir kitab ini memuat notasi musik yang mirip dengan beberapa mazmur, sejumlah ahli menyimpulkan bahwa ia adalah seorang musisi dan mungkin seorang Lewi.

Menurut sumber-sumber rabinik, Habakuk adalah anak dari perempuan Sunem yang dihidupkan kembali oleh Elisa (2 Raja-Raja 4). Dasar dari pandangan ini adalah bahwa hamba Elisa mengatakan kepada perempuan itu bahwa ia akan “memeluk” seorang anak laki-laki (2 Raja-Raja 4:16), dan nama Habakuk memiliki kemiripan dengan kata Ibrani yang berarti “pelukan.”

 

I. Kuasa Allah atas Ciptaan-Nya (ayat 10-12)

10melihat Engkau, gunung-gunung gemetar,  air bah menderu lalu, samudera raya memperdengarkan suaranya   dan mengangkat tangannya.   11Matahari, bulan berhenti   di tempat kediamannya, karena cahaya anak-anak panah-Mu   yang melayang laju, karena kilauan   tombak-Mu yang berkilat.  12Dalam kegeraman Engkau melangkah melintasi bumi, dalam murka Engkau menggasak   bangsa-bangsa. 

Dalam bagian ini, nabi Habakuk menggambarkan kedahsyatan kuasa Allah yang dinyatakan melalui alam semesta. Ketika Tuhan hadir dan bertindak, tidak ada satu pun ciptaan yang dapat tetap tenang. Gunung-gunung yang kokoh pun digambarkan gemetar, seolah-olah kehilangan kekuatannya di hadapan Sang Pencipta. Air bah menderu dan samudera raya mengangkat “tangannya,” suatu gambaran puitis bahwa seluruh alam merespons dengan gentar terhadap kehadiran Allah.

Bahkan benda-benda langit seperti matahari dan bulan pun berhenti pada tempatnya. Ini menunjukkan bahwa hukum alam tunduk sepenuhnya kepada otoritas Tuhan. Cahaya panah dan kilauan tombak-Nya melukiskan tindakan Allah yang aktif, penuh kuasa, dan tidak tertahan. Ia bukan Allah yang pasif, tetapi Allah yang bertindak dalam sejarah.

Ayat 12 menegaskan bahwa langkah Tuhan melintasi bumi bukanlah tanpa tujuan. Ia berjalan dalam kegeraman dan murka untuk menghakimi bangsa-bangsa. Kuasa-Nya tidak hanya terlihat dalam ciptaan, tetapi juga dalam keadilan-Nya atas manusia. Allah berdaulat penuh, baik atas alam maupun atas bangsa-bangsa di bumi.

Melalui gambaran ini, kita diingatkan bahwa tidak ada yang lebih besar dari Tuhan. Segala sesuatu, baik yang kelihatan maupun yang tidak, berada di bawah kendali-Nya. Oleh karena itu, respons yang tepat bagi manusia adalah hormat, takut akan Tuhan, dan percaya kepada kuasa-Nya yang sempurna.

II. Tindakah Tuhan untuk Menolong Umat-Nya (ayat 13-15)

12Dalam kegeraman Engkau melangkah melintasi bumi, dalam murka Engkau menggasak   bangsa-bangsa.  13Engkau berjalan maju  untuk menyelamatkan  umat-Mu, untuk menyelamatkan orang yang Kauurapi.  Engkau meremukkan   bagian atas rumah orang-orang fasik dan Kaubuka dasarnya sampai batu yang penghabisan. Sela.  14Engkau menusuk dengan anak panahnya sendiri kepala lasykarnya, yang mengamuk untuk menyerakkan aku  dengan sorak-sorai, seolah-olah mereka menelan orang tertindas   secara tersembunyi.  15Dengan kuda-Mu, Engkau menginjak laut,  timbunan air  yang membuih. 

Setelah menggambarkan kuasa Allah yang mengguncang alam, bagian ini menegaskan tujuan dari tindakan-Nya, yaitu untuk menyelamatkan umat-Nya. Tuhan tidak hanya menunjukkan kuasa-Nya secara dahsyat, tetapi Ia juga bertindak secara pribadi dan penuh kasih bagi mereka yang menjadi milik-Nya. Ia berjalan maju sebagai pahlawan ilahi untuk menyelamatkan umat dan orang yang diurapi-Nya.

Keselamatan yang dikerjakan Tuhan selalu disertai dengan penghakiman atas kejahatan. Ia meremukkan “bagian atas rumah orang fasik” dan membuka dasarnya sampai ke fondasi yang paling dalam. Gambaran ini menunjukkan bahwa Tuhan tidak hanya menghukum secara permukaan, tetapi menghancurkan akar kejahatan sampai tuntas. Tidak ada kejahatan yang dapat bertahan di hadapan keadilan-Nya.

Lebih lanjut, Tuhan membalikkan kekuatan musuh menjadi alat kehancuran mereka sendiri. Mereka yang datang dengan kesombongan dan kekerasan untuk menindas, justru dikalahkan oleh senjata mereka sendiri. Ini menegaskan bahwa Tuhan berdaulat penuh atas setiap peperangan dan strategi manusia. Tidak ada rencana jahat yang dapat berhasil melawan kehendak-Nya.

Ayat 15 kembali menampilkan kebesaran kuasa Tuhan, ketika Ia digambarkan menginjak laut dengan kuda-Nya, membuat air yang bergelora menjadi tunduk di bawah kendali-Nya. Ini mengingatkan bahwa bahkan kekuatan yang paling liar sekalipun berada di bawah otoritas Allah.

Melalui bagian ini, kita melihat bahwa Tuhan adalah pembela umat-Nya. Ia bukan hanya Allah yang berkuasa, tetapi juga Allah yang bertindak untuk menyelamatkan, melindungi, dan membela mereka yang percaya kepada-Nya. Oleh karena itu, umat Tuhan dapat hidup dengan keyakinan bahwa di tengah ancaman dan penindasan, Tuhan tetap bekerja membawa kemenangan dan keselamatan.

III. Bergembira dalam Tuhan di Tengah Krisis (ayat 16-19)

16Ketika aku mendengarnya, gemetarlah hatiku, mendengar bunyinya, menggigillah bibirku; tulang-tulangku seakan-akan kemasukan sengal, dan aku gemetar   di tempat aku berdiri; namun dengan tenang  akan kunantikan hari kesusahan, yang akan mendatangi bangsa yang bergerombolan menyerang kami.  17Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan,  kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang,   18namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN,  beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan  aku.  19ALLAH Tuhanku itu kekuatanku:   Ia membuat kakiku seperti kaki rusa, Ia membiarkan aku berjejak di bukit-bukitku.  (Untuk pemimpin biduan. Dengan permainan kecapi).

Habakuk menggambarkan respons pribadinya terhadap kedahsyatan pekerjaan Tuhan. Hatinya gemetar, bibirnya menggigil, tubuhnya diliputi kelemahan. Rasa takut muncul karena kesadaran akan kuasa dan penghakiman Tuhan. Situasi yang dihadapi tidak ringan. Ancaman nyata. Masa depan tampak penuh kesusahan.

Sikap hati berubah menjadi ketenangan. Penantian dilakukan dengan diam. Keyakinan muncul bahwa hari kesusahan tetap berada dalam kendali Tuhan. Tidak ada kepanikan. Tidak ada keputusasaan. Keadaan digambarkan sangat sulit. Pohon ara tidak berbunga. Pohon anggur tidak berbuah. Hasil zaitun mengecewakan. Ladang tidak menghasilkan makanan. Ternak tidak ada. Sumber ekonomi hilang. Kehidupan tampak kosong.

Keputusan iman dinyatakan dengan tegas. Sukacita tidak bergantung pada keadaan. Pujian tetap dinaikkan kepada Tuhan. Allah menjadi sumber keselamatan. Sukacita lahir dari hubungan dengan-Nya, bukan dari berkat jasmani. Pengakuan iman diteguhkan. Tuhan menjadi kekuatan. Langkah dibuat teguh seperti kaki rusa. Tempat tinggi menjadi pijakan yang aman. Kehidupan dinaikkan di atas keadaan. Iman yang matang terlihat jelas. Ketakutan berubah menjadi ketenangan. Kekurangan tidak menghilangkan sukacita. Tuhan tetap menjadi pusat pengharapan dan kekuatan.

Kesimpulan

Dari Kitab Habakuk 3:10–19 terlihat satu rangkaian iman yang utuh. Allah dinyatakan sebagai Penguasa atas seluruh ciptaan. Alam tunduk. Bangsa-bangsa berada di bawah otoritas-Nya. Tidak ada yang mampu menandingi kuasa-Nya. Kuasa tersebut tidak bersifat jauh dan abstrak. Allah bertindak nyata dalam sejarah. Ia menghakimi kejahatan. Ia membela dan menyelamatkan umat-Nya. Musuh dihancurkan. Umat dipelihara. Keselamatan menjadi tujuan utama dari tindakan-Nya.

Respons manusia ditunjukkan melalui iman Habakuk. Ketakutan tidak disangkal. Krisis tidak dihindari. Kekurangan tetap nyata. Sukacita tetap dipilih. Tuhan menjadi sumber kekuatan. Pengharapan tidak bergantung pada keadaan. Gambaran iman yang matang terlihat jelas. Mengenal kuasa Allah. Mempercayai tindakan-Nya. Tetap bersukacita dalam segala keadaan. Tuhan menjadi pusat kehidupan, kekuatan, dan keselamatan.

 

Refleksi

Dari Kitab Habakuk 3:10–19, setiap orang diajak melihat kembali dasar imannya. Allah yang disembah bukan Allah yang lemah. Ia berkuasa atas alam, sejarah, dan kehidupan manusia. Pertanyaan yang muncul: apakah hati benar-benar percaya akan kedaulatan-Nya, atau masih mudah goyah oleh keadaan?

Realitas hidup sering tidak sesuai harapan. Usaha bisa gagal. Kebutuhan bisa tidak terpenuhi. Rasa takut dan cemas muncul. Habakuk tidak menutupi ketakutannya. Ia gemetar. Ia lemah. Namun ia tidak berhenti di sana. Ia memilih untuk tetap percaya dan menanti dengan tenang. Di sini iman diuji: tetap percaya saat belum melihat pertolongan.

Bagian ini juga menantang sikap hati terhadap berkat. Sukacita tidak boleh bergantung pada kelimpahan. Ketika “pohon ara tidak berbunga,” iman sejati tetap berkata: Tuhan cukup. Ini bukan sikap pasrah yang lemah, tetapi keputusan iman yang kuat. Apakah sukacita masih ada ketika berkat berkurang?

Akhirnya, refleksi ini mengarahkan pada satu hal: Tuhan adalah kekuatan sejati. Bukan keadaan, bukan harta, bukan manusia. Ia yang membuat langkah tetap teguh, bahkan di “tempat tinggi” yang sulit. Hidup bersama Tuhan tidak selalu mudah, tetapi selalu memiliki arah dan kepastian.

 

Oleh: Pdt. Juliman Harefa

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sungguh Yesus adalah Anak Allah (Jumat Agung)

Yesus Kristus Adalah Tuhan

Tuhan Pemberi Nafas Kehidupan Yehezkiel 37:1–14