“Yesus memandang mereka dan berkata: ‘Bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin.’”
Realita Kehidupan
Malam itu, seorang ibu duduk di
sudut ruang tamunya. Udara malam terasa sunyi, tetapi gemuruh di hatinya tak
dapat disembunyikan. Tangannya gemetar memegang ponsel, jantungnya berdebar
kencang. Sudah beberapa malam ia terjaga, memikirkan hasil ujian Pegawai
Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K) yang menjadi harapannya untuk
memberikan kehidupan yang lebih baik bagi keluarganya.
Jam demi jam berlalu dengan lambat. Ia menatap layar ponselnya berkali-kali, seolah berharap pengumuman itu muncul lebih cepat. Dalam keheningan malam, ia bergumul dengan pikirannya sendiri. Rasa takut akan kegagalan bercampur dengan harapan yang terus ia pelihara.
Setiap detik terasa begitu
panjang. Ia mengingat perjalanan hidupnya yang tidak mudah. Banyak air mata,
perjuangan, dan pengorbanan yang telah ia lalui. Ia bukan hanya berjuang untuk
dirinya sendiri, tetapi juga untuk anak-anaknya yang ia kasihi. Ia teringat
bagaimana ia harus membagi waktu antara pekerjaan, keluarga, dan belajar. Dalam
keterbatasan, ia tetap berusaha setia melakukan yang terbaik.
Tidak jarang ia merasa lelah. Ada
saat-saat ia hampir menyerah karena tekanan hidup yang begitu berat. Namun,
setiap kali ia memandang wajah anak-anaknya, ia kembali menemukan alasan untuk
bangkit dan melanjutkan perjuangan. Baginya, masa depan mereka adalah motivasi
terbesar.
Sepanjang penantian, doanya tak
pernah berhenti. Ia memohon dengan sepenuh hati, menyerahkan segala upayanya
kepada Tuhan. Dalam malam-malam penuh kecemasan, ia mengingat kasih Tuhan yang
terus menyertainya, sebagaimana ayat dalam Mazmur 103:13 mengajarkannya untuk
percaya bahwa Tuhan mengasihi dan peduli seperti seorang bapa kepada
anak-anak-Nya.
Ada saat-saat ia hampir putus
asa. Pikiran negatif datang silih berganti, membisikkan keraguan dalam hatinya.
Ia bertanya-tanya, apakah usahanya selama ini akan berbuah hasil? Namun, di
tengah pergumulan itu, ia memilih untuk tetap percaya. Ia kembali berlutut dan
berkata, “Tuhan, aku percaya Engkau tidak pernah meninggalkanku.” Keyakinan itu
menjadi kekuatan yang menopangnya untuk tetap bertahan.
Akhirnya, malam yang dinantikan
itu tiba. Pengumuman resmi dirilis. Dengan tangan gemetar, ia membuka situs
pengumuman tersebut. Nafasnya tertahan, jantungnya berdetak semakin cepat.
Matanya membaca perlahan, memastikan tidak salah melihat. Lalu ia menemukan
kata yang telah lama ia impikan: “LULUS.”
Sejenak ia terdiam. Seolah tidak
percaya dengan apa yang dilihatnya. Kemudian, air mata mengalir deras di
pipinya. Tangis itu bukan sekadar ekspresi kebahagiaan, tetapi juga pelepasan
dari semua beban, ketakutan, dan perjuangan yang selama ini ia pendam.
Sukacita dan rasa syukur meluap
dalam hatinya. Ia merasa begitu kecil di hadapan Allah yang Maha Besar, tetapi
juga begitu dikasihi oleh-Nya. Semua pergumulan terasa terbayar. Ia sadar,
bukan hanya hasil yang ia terima, tetapi juga penyertaan Tuhan sepanjang proses
itulah yang paling berharga.
Dalam keharuan itu, ia menengadah
dan berbisik, “Terima kasih, Tuhan.” Kalimat sederhana, tetapi penuh makna. Itu
adalah ungkapan hati yang tulus dari seseorang yang mengalami kasih Tuhan
secara nyata.
Kemudian ia mengetik sebuah pesan
kepada pendeta di gerejanya:
"Selamat malam, Pak
Pendeta. Pengumuman ujian P3K sudah keluar malam ini, dan saya dinyatakan
lulus. Firman Tuhan yang pernah saya dengar dari khotbah pada ibadah Minggu di Gereja dan saya imani; Bagi Tuhan tidak ada yang mustahil, jadi kenyataan dalam hidup saya. Terima kasih atas doanya."
Pesan itu sederhana, tetapi penuh
makna. Di dalamnya ada ungkapan syukur, iman, dan pengakuan bahwa Tuhanlah
sumber segala berkat. Ia tidak lupa bahwa di balik keberhasilannya, ada doa-doa
yang dipanjatkan, baik oleh dirinya sendiri maupun oleh orang-orang yang
mengasihinya.
Refleksi
Renungan ini mengingatkan kita akan kasih Tuhan yang tak berkesudahan. Ia bukan Allah yang jauh dan tidak peduli, melainkan Bapa yang dekat dan penuh kasih. Ia mengenal setiap pergumulan kita, bahkan sebelum kita mengungkapkannya dalam doa.
Tidak ada satu pun air mata yang terbuang sia-sia di hadapan-Nya. Setiap pergumulan yang kita alami diperhatikan oleh Tuhan. Ia melihat usaha kita, kesetiaan kita, dan bahkan kelemahan kita. Seperti seorang bapa yang penuh kasih, Tuhan tidak hanya melihat hasil akhir, tetapi juga proses yang kita jalani.
Firman Tuhan dalam Matius 19:26 berkata, “Bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin.” Ayat ini mengingatkan kita bahwa keterbatasan manusia bukanlah batas bagi kuasa Tuhan. Apa yang kita anggap mustahil, Tuhan sanggup ubahkan menjadi mungkin menurut kehendak-Nya.
Sering kali kita ingin jawaban yang cepat. Kita berharap Tuhan segera bertindak sesuai dengan keinginan kita. Namun, Tuhan bekerja dengan cara dan waktu-Nya sendiri. Jawaban-Nya mungkin tidak selalu sesuai dengan harapan kita, tetapi selalu yang terbaik bagi kita.
Melalui kisah ini, kita belajar bahwa iman bukan hanya tentang menerima berkat, tetapi juga tentang tetap percaya dalam proses. Percaya ketika belum melihat. Percaya ketika hati penuh kekhawatiran. Percaya bahwa Tuhan tetap bekerja, bahkan dalam diam.
Karena itu, kita diajak untuk tetap setia. Tetap berdoa, tetap berharap, dan tetap berjalan bersama Tuhan. Sebab kasih-Nya tidak pernah berubah, dan tidak ada yang mustahil bagi Dia.
Doa
Tuhan yang penuh kasih, terima
kasih karena Engkau selalu hadir di tengah pergumulan kami. Engkau adalah Bapa
yang setia, yang tidak pernah meninggalkan anak-anak-Mu.
Di saat kami lemah, Engkau
menguatkan. Di saat kami takut, Engkau memberikan keberanian. Di saat kami
ragu, Engkau meneguhkan iman kami.
Ajarlah kami untuk selalu percaya
kepada-Mu, bahkan ketika kami tidak mengerti jalan-Mu. Kuatkan hati kami untuk
tetap berharap dan berserah sepenuhnya, seperti seorang anak yang mengandalkan
bapa-Nya.
Biarlah hidup kami menjadi
kesaksian tentang kasih-Mu yang nyata. Dan dalam setiap keadaan, mampukan kami
untuk tetap bersyukur.
Kami percaya bagi-Mu tidak ada yang mustahil, Engkau akan
menjawab doa kami pada waktu yang terbaik menurut kehendak-Mu.
Dalam nama Yesus, kami berdoa.
Amin.
Tuhan Yesus Memberkati
Juliman Harefa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar