"Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya; jikalau bukan TUHAN yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga."
Pendahuluan
Hari ini adalah hari yang penuh sukacita bagi keluarga ini. Kita
berkumpul untuk melaksanakan ibadah peletakan batu pertama sebagai tanda
dimulainya pembangunan sebuah rumah. Sebuah rumah bukan hanya sekadar bangunan
yang terdiri dari tembok, atap, dan ruangan-ruangan. Rumah adalah tempat
keluarga tinggal, tempat anak-anak dibesarkan, tempat kasih dan kebersamaan
dipelihara.
Namun Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita bahwa keberhasilan sebuah rumah tidak hanya ditentukan oleh kekuatan manusia, kemampuan finansial, atau perencanaan yang baik. Mazmur 127:1 berkata:
"Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya." Artinya, segala usaha manusia akan menjadi sia-sia jika Tuhan tidak turut bekerja di dalamnya. Oleh karena itu, dalam membangun rumah, kita harus melibatkan Tuhan sebagai dasar dan pusat dari segala sesuatu. Melalui firman ini kita belajar tiga kebenaran penting: Tuhan adalah dasar pembangunan rumah, Tuhan adalah pelindung rumah, dan Tuhan harus menjadi pusat kehidupan dalam rumah itu.
1. Tuhan adalah Dasar Pembangunan
Rumah
Mazmur ini mengajarkan bahwa Tuhanlah
yang sesungguhnya membangun rumah. Manusia memang bekerja, merancang, dan
mendirikan bangunan, tetapi keberhasilan sejati berasal dari Tuhan.
Alkitab menegaskan bahwa segala
sesuatu harus dimulai dengan mengandalkan Tuhan. Amsal 3:5–6 berkata:
"Percayalah kepada TUHAN dengan
segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah
Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu."
Ayat ini mengingatkan kita bahwa
setiap rencana hidup, termasuk pembangunan rumah, harus dimulai dengan percaya
kepada Tuhan. Ketika kita mengakui Tuhan dalam setiap langkah, Ia akan memimpin
dan memberkati pekerjaan kita.
Dalam Perjanjian Baru, Yesus juga
memberikan gambaran tentang dasar kehidupan. Dalam Matius 7:24–25 Ia berkata:
"Setiap orang yang mendengar
perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang
mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir,
lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak roboh, sebab didirikan di
atas batu."
Rumah yang dibangun di atas batu melambangkan kehidupan yang dibangun di atas firman Tuhan. Jika sebuah keluarga membangun hidupnya di atas Tuhan dan firman-Nya, maka rumah itu akan tetap berdiri kuat meskipun menghadapi berbagai tantangan hidup.
2. Tuhan adalah Pelindung Rumah
Mazmur 127:1 juga berkata:
"Jikalau bukan TUHAN yang mengawal kota, sia-sialah pengawal
berjaga-jaga."
Pada zaman dahulu, kota-kota memiliki tembok dan penjaga yang berjaga sepanjang malam untuk melindungi kota dari serangan musuh. Namun pemazmur mengatakan bahwa sekalipun penjaga berjaga dengan tekun, keamanan sejati tetap berasal dari Tuhan. Hal ini juga berlaku bagi rumah tangga. Manusia dapat memasang pagar, kunci, atau sistem keamanan, tetapi perlindungan sejati tetap berasal dari Tuhan. Mazmur 121:7–8 berkata: "TUHAN akan menjaga engkau terhadap segala kecelakaan; Ia akan menjaga nyawamu. TUHAN akan menjaga keluar masukmu, dari sekarang sampai selama-lamanya." Ayat ini memberi kita penghiburan bahwa Tuhan adalah penjaga kehidupan kita. Ia menjaga keluarga kita, melindungi kita dari bahaya, dan menyertai kita setiap hari.
Karena itu ketika kita memulai pembangunan rumah ini, kita juga memohon agar Tuhan sendiri yang menjaga rumah ini. Kiranya rumah ini menjadi tempat yang aman, penuh damai sejahtera, dan dipenuhi oleh kehadiran Tuhan.
3. Tuhan Harus Menjadi Pusat
Kehidupan Dalam Rumah
Rumah yang baik bukan hanya rumah
yang indah secara fisik, tetapi rumah yang di dalamnya Tuhan dihormati. Rumah
yang diberkati adalah rumah yang menjadikan Tuhan sebagai pusat kehidupan.
Yosua pernah menyatakan komitmen yang sangat indah bagi keluarganya. Dalam Yosua 24:15 ia berkata: "Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN." Ini adalah prinsip penting bagi setiap keluarga Kristen. Rumah harus menjadi tempat di mana Tuhan disembah, firman Tuhan diajarkan, dan kasih Kristus dinyatakan.
Ulangan 6:6–7 juga mengingatkan orang tua untuk mengajarkan firman Tuhan kepada anak-anak mereka: "Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu." Artinya rumah bukan hanya tempat tinggal, tetapi juga tempat pendidikan iman. Di dalam rumah anak-anak belajar tentang kasih, iman, pengampunan, dan kehidupan bersama Tuhan.
Ketika Tuhan menjadi pusat kehidupan
keluarga, rumah itu akan dipenuhi dengan damai sejahtera, kasih, dan sukacita.
Kesimpulan
Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita bahwa pembangunan rumah bukan hanya pekerjaan manusia, tetapi juga pekerjaan Tuhan. Tanpa Tuhan, segala usaha bisa menjadi sia-sia. Karena itu ketika kita meletakkan batu pertama hari ini, kita juga meletakkan sebuah komitmen rohani: bahwa rumah ini akan dibangun bersama Tuhan.
Kiranya Tuhan menjadi dasar dari rumah ini. Kiranya Tuhan menjadi pelindung rumah ini. Dan kiranya Tuhan menjadi pusat kehidupan keluarga yang akan tinggal di dalamnya. rumah ini menjadi tempat yang penuh kasih, damai sejahtera, dan sukacita. Tempat di mana keluarga bertumbuh dalam iman, saling mengasihi, dan memuliakan nama Tuhan. Sebagaimana Mazmur 127 mengingatkan kita, hanya Tuhanlah yang membuat usaha manusia berhasil. Karena itu marilah kita menyerahkan pembangunan rumah ini ke dalam tangan Tuhan. Kiranya Tuhan memberkati setiap proses pembangunan, melindungi setiap pekerja, dan kelak menjadikan rumah ini sebagai rumah yang penuh berkat bagi keluarga yang tinggal di dalamnya.
Oleh: Juliman Harefa