Senin, 23 Maret 2026

Marilah Sekarang Kita Pergi Ke Betlehem (Lukas 2:15b)

By:  Juliman Harefa 

Pendahuluan

Tema Natal, Marilah sekarang kita pergi ke Betlehem (Lukas 2:15b), merupakan sebuah ajakan yang sarat makna rohani. Ajakan ini pertama kali diucapkan oleh para gembala setelah mereka mendengar kabar dari malaikat tentang kelahiran Yesus Kristus. Mereka adalah orang-orang sederhana, namun justru kepada merekalah kabar keselamatan pertama kali diberitakan.

Malaikat berkata:

“Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud” (Lukas 2:11).

Kabar ini adalah sukacita bagi seluruh manusia, tanpa memandang status sosial. Oleh karena itu, Natal bukan sekadar perayaan, tetapi juga undangan untuk merespons karya keselamatan Allah.

Menariknya, peristiwa ini terjadi di Betlehem, sebuah kota kecil yang namanya berarti Rumah Roti.” Nama ini bukan hanya menunjuk pada lokasi geografis, tetapi juga mengandung makna teologis yang mendalam.

Makna Teologis Betlehem

Secara etimologis, Betlehem berasal dari bahasa Ibrani Beit (rumah) dan Lechem (roti atau makanan).¹ Secara historis, Betlehem dikenal sebagai daerah yang subur dan menjadi penghasil gandum, sehingga melambangkan pemeliharaan Allah terhadap kebutuhan jasmani manusia.

Namun, makna ini menjadi lebih dalam ketika dikaitkan dengan Yesus sebagai “Roti Hidup” (Yohanes 6:35). Ia hadir bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan fisik, tetapi juga kebutuhan rohani manusia. Dengan demikian, Betlehem menjadi simbol tempat di mana Allah menyediakan kehidupan sejati bagi umat-Nya.

Betlehem dalam Sejarah dan Nubuat

Betlehem memiliki peran penting dalam sejarah keselamatan. Kota ini adalah tempat kelahiran Raja Daud (1 Samuel 16:1–13), yang menjadi bagian dari garis keturunan Mesias.

Selain itu, nabi Mikha telah menubuatkan bahwa seorang pemimpin akan lahir dari Betlehem (Mikha 5:2). Nubuat ini digenapi dalam kelahiran Yesus Kristus sebagaimana dicatat dalam Injil Lukas.² Hal ini menunjukkan bahwa Allah bekerja secara konsisten dalam sejarah untuk menggenapi janji-Nya.

Yesus sebagai “Roti Hidup”

Yesus berkata:

“Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi” (Yohanes 6:35).

Pernyataan ini menunjukkan bahwa manusia memiliki kebutuhan rohani yang hanya dapat dipenuhi oleh Kristus. Kelahiran Yesus di Betlehem semakin memperkuat simbolisme ini.

Bahkan, Yesus diletakkan di palungan setelah kelahiran-Nya (Lukas 2:7), yang secara simbolis menggambarkan bahwa Ia menjadi “makanan rohani” bagi dunia.³ Roti juga menjadi elemen penting dalam Perjamuan Kudus, yang melambangkan tubuh Kristus yang diberikan bagi umat manusia (Lukas 22:19).

Dengan demikian, Betlehem menjadi tempat yang sangat tepat bagi kelahiran Sang Juruselamat, karena di sanalah “Roti Hidup” dinyatakan kepada dunia.

Makna Ajakan: “Marilah Kita Pergi ke Betlehem”

Ajakan para gembala memiliki makna teologis yang mendalam bagi kehidupan orang percaya.

Pertama, ajakan untuk merespons kabar baik.
Para gembala tidak hanya mendengar berita malaikat, tetapi segera bertindak. Hal ini menunjukkan bahwa iman sejati selalu disertai tindakan nyata.

Kedua, ajakan untuk mencari Yesus.
Betlehem menjadi simbol tempat perjumpaan dengan Allah. Kelahiran Yesus menunjukkan bahwa keselamatan tersedia bagi semua orang, tanpa memandang latar belakang.

Ketiga, ajakan untuk bersaksi dan memuliakan Allah.
Setelah melihat Yesus, para gembala memuliakan Allah dan memberitakan kabar tersebut kepada orang lain. Ini menunjukkan bahwa perjumpaan dengan Kristus menghasilkan kesaksian hidup.

Keempat, ajakan untuk merenungkan rencana Allah.
Betlehem mengajarkan bahwa Allah bekerja melalui cara yang sederhana namun penuh makna. Ia setia menggenapi janji-Nya dalam sejarah manusia.

Refleksi Iman

Natal menjadi momen refleksi bagi setiap orang percaya:

  • Apakah kita telah merespons kabar keselamatan dengan iman?

  • Apakah hidup kita mencerminkan Kristus bagi sesama?

Kesimpulan

Kelahiran Yesus di Betlehem, yang berarti “Rumah Roti,” merupakan penggenapan rencana keselamatan Allah yang sempurna. Di tempat yang sederhana itu, Allah memberikan “Roti Hidup” bagi dunia, yaitu Yesus Kristus.

Ajakan, “Marilah kita pergi ke Betlehem,” adalah undangan bagi setiap orang untuk datang kepada Kristus, mengalami kasih-Nya, dan hidup dalam terang keselamatan.

Natal mengingatkan kita bahwa Allah hadir di tengah dunia untuk membawa damai sejahtera dan kehidupan kekal. Oleh karena itu, marilah kita merespons kabar baik ini dengan iman, sukacita, dan kehidupan yang memuliakan Tuhan.

Catatan Kaki

  1. Reinhard Achenbach, Kamus Ibrani-Indonesia (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 2012), hlm. 51–52, 161.

  2. “Essential Facts About Bethlehem in the Bible,” diakses 9 Desember 2024, https://trustinthebible.com/facts-about-bethlehem-in-the-bible/.

  3. Jonathan Rowlands, “On Chickens, Eggs, and the Birthplace of Jesus,” Journal for the Study of the Historical Jesus 20, no. 3 (2022).

  4. Morgan DePerno et al., “Fully Human and Fully Divine: The Birth of Christ and the Role of Mary,” Religions 6, no. 1 (2015).


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jawaban Tuhan di Awal Tahun

Refleksi: Suara Hati Perempuan Nigeria

                              Pendahuluan Pada hari Minggu tanggal 22 Maret adalah pelaksanaan ibadah Hari Doa sedunia [1] , ibadah HDS ini...

Khotbah