PANDUAN LITUGI
BNKP[1]
A. PENGANTAR
Liturgi (Agendre) yang
dipakai oleh BNKP merupakan warisan misionaris dan disusun menurut liturgi yang
dikenal di Jerman pada abad 19. Namun penting diketahui bahwa gereja-gereja di
Jerman telah lama dan berulang-ulang membaharui Liturginya. Memang BNKP pernah
merevisi Liturgi, namun hanya bersifat teknis, dan belum disusun menurut
liturgi Gereja Lutheran, padahal BNKP telah menentukan identitas sebagai Gereja
Lutheran dan anggota Lutheran World Federation (LWF). Oleh karenanya pada Rapat
Kerja Pendeta dan Persidangan Majelis Sinode BNKP terus menerus menggumuli dan
akhirnya diputuskan untuk melakukan pembaharuan Liturgi dan menyusunnya baik
dalam Bahasa Nias (dan Pulau-Pulau Batu), maupun Bahasa Indonesia.
Bertolak
dari keputusan Persidangan Majelis Sinode seperti dikemukakan di atas, maka
disusunlah Liturgi (Agendre) BNKP dalam bingkai Lutheran, baik dalam Bahasa
Nias maupun dalam Bahasa Indonesia. Liturgi (Agendre) inilah yang digunakan di
BNKP mulai 1 Januari 2016. Agar warga jemaat maupun pelayan dapat memahami
liturgi baru ini, maka dengan ini disusun panduan menyangkut pemahaman arti dan
makna unsur-unsur liturgi, penatataan interior gereja, dan penjelasan tentang
kain dan warna liturgi, termasuk jubah dan stola.
Untuk memahami susunan
dan unsur liturgi menurut Gereja Lutheran, maka perlu diketahui bahwa bagi
Gereja Lutheran, ibadah dipahami sebagai penyataan diri Allah sendiri dalam
Yesus Kristus, dan tanggapan manusia terhadap-Nya. Melalui Firman-Nya, Allah
menyingkapkan dan mengkomunikasikan keberadaan-Nya yang sesungguhnya kepada
manusia. Jadi ibadah Kristen nampak dalam kata: "Penyataan dan
Tanggapan". Martin Luther menggunakan istilah Gottesdienst untuk
merumuskan ibadah, yang berarti pelayanan Allah kepada manusia, dan
pelayanan/penyembahan manusia kepada Allah. Semua ini bertolak dari ajaran
Luther tentang hanya oleh anugerah (Sola Gratia) di dalam Yesus Kristus (Solus
Christus), yang disambut dengan hanya oleh iman (Sola Fide), berdasarkan hanya
oleh kitab suci (Sola Scriptura), demi kemuliaan Allah (Soli Deo Gloria).
Bertolak
dari pemahaman ibadah tersebut, maka dalam liturgi Lutheran terdapat perjumpaan
dan dialog antara “Tuhan” dengan “umat-Nya”. Tuhan yang memanggil dan
menghimpun, Tuhan yang mengampuni, Tuhan yang berfirman, Tuhan berkarya melalui
Sakramen Baptisan dan Perjamuan Kudus, Tuhan yang mengutus dan mengizinkan. Di
pihak lain, umat menyambut panggilan dan pelayanan Allah dengan:
·
Berhimpun hanya di
dalam nama-Nya
·
Mengaku dosa dan
memohon ampun dari Allah
·
Bersyukur kepada
Tuhan atas kasih karunia yang telah diterima, baik melalui nyanyian pujian
maupun dengan persembahan
·
Menyambut karya
Allah dengan membawa anak-anak kepada-Nya untuk dibaptis dan setelah dewasa
ikut dalam Perjamuan Kudus
·
Menyambut Firman
Tuhan dengan menyatakan Pengakuan Iman
·
Menyatakan
kesediaan untuk menjadi pelayan-Nya,
·
Mengaminkan
pengutusan dan berkat Tuhan.
Dengan pemahaman ibadah sebagaimana telah dikemukakan
di atas, maka ada 5 (lima) poin dalam Liturgi BNKP yang baru ini, yang
mengalami perubahan:
1.
Panggilan dan
Salam. Pada bagian ini telah dipindahkan dari Pengakuan Dosa ungkapan
"Tuhan Allah beserta saudara-saudara" - "Roh-Nya menyertai
saudara" - menjadi unsur salam, karena sesungguhnya ungkapan tersebut
merupakan "salam rasuli".
2.
Votum mengalami
perubahan, yakni ditambahnya unsur introitus (Firman pembukaan yang sesuai
dengan Tahun Gerejawi) dan Doa pembukaan.
3.
Persembahan. Pada
liturgi (Agendre) yang lama ada 3 (tiga) kali pelaksanaan pengumpulan
persembahan, yakni sebelum khotbah; sesudah khotbah dan sebelum doa syafaat.
Pada Liturgi baru ini, hanya ada satu kali waktu pengumpulan persembahan,
walaupun jumlah kantong persembahan yang matiarkan tetap sama, yakni 3 (tiga)
kantong atau lebih. Di sini ada memperkenalkan Firman Tuhan, ada nyanyian yang
menghantarkan persembahan, serta doa persembahan.
4.
Pengakuan Iman
Rasuli. Dilaksanakan setelah khotbah, sebagai sambutan umat atas Sabda Tuhan
yang didengarnya.
5.
Pengurusan, yaitu
adanya ungkapan pengutusan umat untuk beribadah dalam kehidupan sehari-hari,
dan kemudian berkat (howuhowu).
Agar
para pelayan dan segenap warga jemaat memahami arti dan makna unsur-unsur
liturgi tersebut, maka dalam panduan ini diuraikan unsur-unsur liturgi dan
teknis pelaksanaannya.
1. PANGGILAN DAN SALAM
a.
Dimulai dengan
"panggilan" umat untuk menghadap Allah Tri-Tunggal. Hal ini ditandai
dengan membunyikan Lonceng dan boleh juga dengan kentongan (koko) atau bel.
Namun, kalau peralatan tersebut tidak dimiliki oleh jemaat, maka tidak menjadi
hambatan untuk memulai ibadah.
b.
Ketika lonceng,
kentongan atau bel dibunyikan maka pelayan ibadah berjalan dari pintu utama
memasuki gedung gereja (di sini pengkhotbah memegang Alkitab). Ini merupakan
tanda bahwa ibadah akan dimulai, dan oleh karena itu "umat" berdiam
diri dan bersaat teduh serta berdoa dalam hati masing-masing sebagai kesiapan
menghadap Tuhan.
c.
Pada hari-hari
besar gerejawi atau upacara khusus di gereja, maka dapat dilaksanakan
"prosesi ibadah". Pengertian 'prosesi ibadah' ialah penyambutan
kehadiran Tuhan yang hadir di tengah umat-Nya, ditandai dengan simbol-simbol
ibadah dan para pelayan-Nya yang memasuki gedung gereja. Pelaksanaannya, sbb:
1. Lonceng/kentongan/bel
dibunyikan, dan seluruh jemaat bangkit berdiri. Jemaat bernyanyi yang dipandu
oleh salah seorang pelayan dan sementara itu para pelayan prosesi ibadah
memasuki gedung gereja atau tempat ibadah sebagai tanda kehadiran Tuhan.
2. Dalam
pelaksanaan prosesi ibadah, para pelayan membawa simbol-simbol ibadah, dengan
urutan[2]
pembawa salib, pembawa Alkitab, pembawa lilin (bila ada), lalu disusul oleh
para pelayan ibadah (pengkhotbah, liturgos, kolektan, dan pelayan lainnya).
Apabila ada pelayanan sakramen, upacara atau penahbisan, maka ikut juga dalam
barisan prosesi ibadah. Setelah prosesi ibadah mengambil tempatnya
masing-masing barulah umat duduk kembali.
3. Apabila dalam perayaan tersebut diikuti oleh
para pejabat pemerintah dan dilaksanakan perayaan terhadap mereka, maka hal
tersebut dilaksanakan sebelum prosesi ibadah. Ketika semua telah memasuki
gedung gereja (tempat ibadah), maka barulah "prosesi ibadah"
dilaksanakan.
4. Penting
dipahami bahwa yang memanggil umat, bukanlah manusia, melainkan Allah
Tri-Tunggal. Itulah sebabnya "Salam" disampaikan atas nama-Nya dan
bukan atas nama "Majelis Jemaat". Rumusan panggilan dan salam ini
telah dimuat dalam liturgi yang dilakukan secara responsoria. Para pelayan
perlu mensosialisasikannya kepada warga jemaat sesuai dengan liturgi yang telah
disusun.
2. NYANYIAN
Setelah
salam, maka umat diundang untuk datang dihadapan Tuhan dengan sorak-sorai
melalui nyanyian, memuji dan mensyukuri anugerah Tuhan. Ini sesuai dengan
Mazmur 100:4 "Masuklah melalui pintu gerbang-Nya dengan nyanyian syukur,
ke dalam pelataran-Nya dengan puji-pujian, bersyukurlah kepada-Nya dan pujilah
nama-Nya!"
3. VOTUM/INTROITUS/DOA
a.
Ibadah bukanlah
seperti pertemuan biasa atau pertemuan akbar, dan juga bukan seperti upacara
adat-istiadat, atau pertemuan pemerintahan. Ibadah adalah persekutuan umat
dengan Tuhan dan sesama, dimana Allah berkarya dan umat menyambut-Nya. Allah
mengabdi, umat bersyukur dan menyembah. Itulah sebabnya umat datang dan
berhimpun hanya di dalam nama Allah Tri-Tunggal.
b.
Votum ini adalah
suatu penyataan dan peneguhan bahwa perhimpunan umat adalah persekutuan
anak-anak Tuhan, yang datang ke hadapan Tuhan untuk beribadah. Oleh karena itu,
baik pada ibadah minggu, maupun pada persekutuan doa atau penelaahan Alkitab,
wajiblah meneguhkan persekutuan di dalam nama Allah Tri-Tunggal dengan
menggunakan votum.
c.
Sikap umat ketika
liturgos mengungkapkan votum atau persekutuan di dalam nama Allah Tri-Tunggal
adalah mengaminkan (Amin atau Yaduhu).
d.
Setelah votum,
dilanjutkan dengan firman Tuhan yang disebut dengan "introitus".
Firman Tuhan yang dibaca di sini merujuk dan sesuai dengan nama minggu menurut
Tahun Gerejani. Tujuannya adalah supaya umat memahami nama minggu pada
pelaksanaan ibadah tersebut, baik nama minggu biasa maupun hari-hari raya
Gerejani. Sambutan terhadap firman introitus ini adalah dengan bernyanyi:
HALELUYA, atau HOSIANA, atau MARANATA sesuai dengan minggu menurut Tahun
Gerejani. Penting diketahui bahwa Firman Tuhan dalam introitus[3]
ini terdiri dari beberapa ayat yang disusun menurut Tahun Gerejani.
e.
Setelah nyanyian,
maka dilanjutkan sambutan umat dengan doa, yang juga disusun menurut Tahun
Gerejani[4].
f.
Dalam pelaksanaan unsur
"Votum/Introitus/Doa", jemaat diundang berdiri dan kembali duduk
setelah doa.
g.
Pelaksana votum
adalah Liturgos (Satua Niha Keriso, Guru Jemaat, Pendeta atau pelayan lainnya
yang telah diordinasi/ditahbis atau diteguhkan untuk jabatan pelayan tersebut).
Apabila yang melayani sebagai Liturgos bukan unsur pelayan, tetapi dipimpin
oleh non-pelayan (misalnya dari unsur komisi atau warga) terutama pada Ibadah
Kreatif (atau yang dikenal dengan ibadah semi KKR selama ini), maka votum
dilaksanakan oleh pengkhotbah.
4. PEMBACAAN FIMAN ALLAH DARI PERJANJIAN
LAMA
a.
Setelah kita
berhimpun di hadapan Allah, maka perlu bertanya: “Layakkah kita berada di
hadapan Allah yang Mahakudus? Kita perlu memeriksa/menyelidiki diri dengan
bercermin pada Firman Allah atau Taurat. Itulah sebabnya mengapa Perjanjian
Lama (atau bisa juga Dasa Titah) dibacakan.
b.
Sementara
pembacaan Firman Tuhan, maka sikap umat adalah mendengarkan Sabda dengan
sungguh-sungguh sambil memeriksa diri di hadapan Tuhan: “Apakah saya sudah
hidup menurut Firman Allah?” Dalam Roma 3:10-11, Paulus berkata: "seperti
ada tertulis: "Tidak ada yang benar, seorang pun tidak. Tidak ada seorang
pun yang berakal budi, tidak ada seorang pun yang mencari Allah.
c.
Sambutan umat atas
firman Allah adalah dengan nyanyian Kidung Jemaat No 258:1, atau No.5:1 atau
No.144b atau No.406:1 atau nomor lainnya sebagaimana tertulis dalam liturgi -
sebagai penyataan bahwa kemuliaan hanya kepada Tuhan yang Mahakudus, yang telah
memanggil umat-Nya menerima keselamatan.
5. DOA PENGAKUAN DOSA DAN BERITA
PENGAMPUNAN
a.
Setelah kita
bercermin pada Firman dan menyadari bahwa sesungguhnya kita tidak layak di
hadapan Allah, namun karena Allah itu Mahakasih, la menyambut umat yang datang
dan mengaku dosa di hadapan-Nya. Oleh karenya, setelah pembacaan Firman
dilanjutkan dengan "pengakuan dosa”[5]
seraya memohon belas-kasihan dan pengampunan dari Tuhan. Selain yang telah
dirumuskan dalam liturgi, umat dapat juga mengaku dosa yang diungkapkan dalam
hati masing-masing.
b.
Penting
diperhatikan: bahwa pada minggu Adven, Akhir Tahun, Palmarum hingga kebangkitan
Yesus, Pentakosta, peringatan hidup yang kekal dan Perjamuan Kudus ada doa
dalam hati masing-masing (1-2 menit). Apabila pada hari raya tersebut
dilaksanakan Perjamuan Kudus, maka tidak perlu dilaksanakan doa masing-masing
(1-2 menit) pada unsur Doa Pengakuan Dosa, melainkan dilaksanakan pada liturgi
Perjamuan Kudus.
c.
Hendaknya umat
mengikuti dalam hati masing-masing doa pengakuan dosa tersebut, dan menyanyikan
dengan sungguh-sungguh nyanyian "Tuhan Kasihani" (KJ. No 42 atau KJ.
No. 39:1 atau KJ.No. 29).
d.
Bertolak dari 1
Yohanes 1:9 yang berkata: “Jika kita mengaku dosa kita, maka la adalah setia
dan adil, sehingga la akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari
segala kejahatan – maka pelayan ibadah (Liturgos) menyampaikan berita “berita
pengampunan dosa”[6]
Tuhan telah membenarkan dan mendamaikan kita melalui Yesus Kristus, sehingga
kita beroleh pembenaran dan pendamaian. Oleh karenanya, kita juga terpanggil
mewujudkan damai dengan sesama.
e.
Umat menyambut
berita pengampunan dosa tersebut dengan nyanyian Malaikat dalam Lukas 2:14:
"Kemuliaan bagi Allah di tempat yang Mahatinggi, dan kedamaian sejahtera
di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya." Nyanyian ini
diungkapkan dengan responsoria. Liturgos berkata: "Kemuliaan bagi Allah di
tempat yang Mahatinggi", dan umat melanjutkan dengan mengatakan:
"...dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan
kepada-Nya."
f.
Sikap umat pada
Doa Pengakuan ini adalah berdiri. Dalam tradisi gereja lain (terutama Katolik
Roma dan aliran lainnya) sikap umat adalah duduk atau berlutut. Tetapi BNKP
tetap mempertahankan tradisi yang telah dimulai pada masa misionaris, yang
mengadopsi tradisi Nias dahulu, di mana seseorang yang bersalah mengaku
kesalahan di hadapan Salawa dan Ere serta para aparat pemerintahan dengan sikap
bediri. Tradisi yang diwarisi misionaris inilah yang diikuti di BNKP hingga
kini. Tetapi perlu dipahami bahwa yang paling penting adalah kerendahan hati
mengaku dosa di hadapan Tuhan dan memohon pengampunan dari Tuhan.
6. PEMBACAAN FIRMAN TUHAN DARI
PERJANJIAN BARU[7]
a. Setelah
umat memperoleh dosa, maka dipanggil untuk hidup sebagai anak-anak terang,
sebagai manusia baru. Umat dipanggil untuk hidup seturut kehendak Tuhan. Oleh
karena itu diperdengarkan Sabda Tuhan, berita kegembiraan dan petunjuk hidup
baru bagi umat Tuhan dalam menjalani kehidupan di dunia ini.
b. Dalam
Liturgi lama, Sabda Tuhan disambut dengan nyanyian "HALELUYA....",
tetapi pada Liturgi yang baru, berhubung HALELUYA telah dinyanyikan menyambut
Votum, maka Berbagai umat untuk firman Tuhan adalah dengan mengatakan: Amin.
7. SAKRAMEN BAPTISAN
a.
Karya penebusan
dan penyelamatan Allah bagi dunia disambut dengan iman percaya kepada Yesus
Kristus. Salah satu bukti iman adalah membawa anak yang telah dipercayakan
Tuhan pada umat-Nya untuk menjadi anggota keluarga Allah, karena anak-anak itu
dikasihi oleh Tuhan, dan bagi merekalah janji keselamatan Allah itu. Inilah
yang dilaksanakan pada Sakramen Baptisan. Penting diperhatikan bahwa dalam
Liturgi Sakramen Baptisan, ada pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada orang
tua, dan sebelum itu orangtua bersama seluruh jemaat mengucapkan Pengakuan Iman
Rasuli. Oleh karenanya tidak lagi diulangi sesudah khotbah. Tetapi bila tidak
ada Sakramen Baptisan, maka Pengakuan Iman dilaksanakan sesudah khotbah sebagai
sambutan atas pemberitaan Firman Tuhan.
b.
Pelaksanaan
Liturgi Sakramen Baptisan adalah di belakang meja Altar, tetapi ketika
pelaksanaan baptisan, maka pendeta datang di depan meja Altar untuk
melaksanakan pembaptisan.
8. PERSEMBAHAN (PESTA MENANAM &
PESTA PANEN)
a. Persembahan
1. Memberi
persembahan secara Kristiani adalah ungkapan syukur atas kasih karunia yang
telah diterima dari Tuhan.Tidaklah sesuai iman Kristen bila motivasi memberi
"persembahan" dengan harapan menerima balasan (bukan seperti orang
yang memancing ikan, mengharap pamrih, mencari keuntungan, dll). Tetapi sebagai
syukur kita kepada Tuhan atas berkat yang telah kita terima, baik berkat
keselamatan maupun berkat dalam kehidupan sehari-hari. Kita telah lebih dahulu
menerima, oleh karenanya kita menyatakan syukur kepada Tuhan melalui
persembahan.
2. Dalam
liturgi yang baru ini, hanya ada satu kali waktu pengumpulan atau penyampaian
persembahan, tetapi bisa beberapa jenis dan kantong persembahan (misalnya
persembahan pertama hingga ketiga, persembahan persepuluhan, persembahan untuk
pembangunan, persembahan diakonia, dsb).
Teknis
pengumpulan atau penyampaian persembahan
Ø Para
kolektan mengedarkan kantong persembahan kepada warga jemaat, dengan cara
bertahap. Diedarkan perkantong persembahan dengan tujuan agar ada kesempatan
kepada warga jemaat untuk memberikan persembahannya baik yang pertama maupun
kedua dan seterusnya.
Ø Cara
lain adalah warga jemaah yang diberi kesempatan untuk datang ke depan
menyampaikan persembahannya di tempat yang telah disediakan (menurut jenis atau
banyaknya persembahan).
Ø Dapat
juga dengan cara gabungan, khususnya bila ada persembahan persepuluhan atau
pembangunan dan diakonia. Caranya ialah kolektan mengedarkan kantong
persembahan pertama hingga ketiga secara bertahap; kemudian deretan
bangku/tempat yang telah memberi persembahan datang ke depan memberi
persembahan persepuluhan atau pembangunan atau diakonia (sesuai program
jemaat).
b. Tata
cara pelaksanaan liturgi pada pengumpulan atau persembahan ini, sebagai
berikut:
1. Telah
tersedia meja/tempat persembahan di depan, di tempat paduan suara selama ini,
yang ditempatkan berhadapan/simetris dengan meja altar.
2. Acara
yang dipimpin oleh Liturgos dengan berkata: "Sekarang diberi kesempatan
kepada jemaat memberikan persembahan yang pertama, kedua dan ketiga, kepada
Tuhan dengan mengingat Firman Tuhan yang mengatakan:
ü Hendaklah
masing-masing memberi menurut kerelaan hati. Jangan dengan sedih hati atau
dengan paksaan, karena Allah menyayangi orang yang memberi dengan kegembiraan
(II Kor.9:7).
Atau
ü Siapa
yang mempersembahkan syukur sebagai korban, ia memuliakan Aku; siapa yang jujur
jalannya, keselamatan yang dari Allah akan Kuperlihatkan kepadanya (Mazmur
50:23).
Sambil mengumpulkan persembahan kepada
Tuhan, mari kita bernyanyi dari Kidung Jemaat No. perikopen) (sesuai
3. Pada
waktu pembacaan firman Tuhan, para kolektan datang ke depan mengambil
tempat/kantong persembahan dan selanjutnya diedarkan kepada warga jemaat.
4. Apabila
telah selesai mengumpulkan persembahan, para kolektan berada di belakang, dan
Liturgos berkata: "Marilah kita menghantarkan persembahan kepada Tuhan,
jemaat diundang berdiri dan kita bernyanyi dari Kidung Keesaan No. 361,
"INILAH PERSEMBAHAN KAMI". Teknisnya sebagai berikut:
a. Pada
saat menyanyikan lagu "TUHAN INILAH PERSEMBHAN", maka para petugas
atau kolektan serentak melangkah dari belakang ke depan dengan mengikuti irama
lagu "TUHAN INILAH PERSEMBHAN", untuk membawa di tempat yang telah
disediakan. Dan ketika para kolektan hampir tiba di depan, pengkhotbah menuju
belakang meja persembahan untuk menerima persembahan jemaat dari para kolektan.
b. Setelah
kolektan tiba di depan, salah satu dari mereka berdoa mewakili umat
menyampaikan persembahan kepada Tuhan, kemudian menyerahkan kepada pengkhotbah
dan pengkhotbah yang meletakkan di atas meja/tempat persembahan, dan seterusnya
mempersilakan jemaat duduk kembali.
c. Apabila
cara yang dilakukan dengan warga jemaat datang ke depan menyampaikan
persembahan, maka teknisnya sebagai berikut:
1. Telah
disediakan tempat persembahan menurut jenis atau jumlah persembahan yang telah
diprogram.
2. BPMJ
telah menentukan personil petugas persembahan yang datang ke depan dan berdoa
setelah selesai penyampaikan persembahan.
3. Umat
datang memberi persembahan ke depan pada saat mulai dinyanyikan: "TUHAN
INILAH PERSEMBAHAN."
4. Setelah
selesai menyampaikan persembahan, Liturgos mengundang jemaat bangkit berdiri
dan petugas datang ke depan (menurut jumlah dan jenis persembahan)
mengambil/mengangkat (bila berupa keranjang) setinggi dada, lalu salah seorang
diantara petugas atau kolektan berdoa.
5. Setelah selesai berdoa, maka pengkhotbah
menerima persembahan tersebut dan menaruhnya di tempat yang telah disediakan,
barulah petugas kembali ke tempat dan Liturgos mempersilahkan jemaat duduk
kembali.
Penting
diperhatikan: Apabila ada persembahan persepuluhan, maka setelah petugas
berdoa, lalu pengkhotbah menerima tempat persepuluhan tersebut dari petugas,
lalukhotbah berkata: "Bawalah peng seluruh persembahan persepuluhan itu
ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan
ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membuka bagimu
tingkap-tingkap langit dan mengungkapkan berkatmu sampai berkelimpahan. Aku
akan menghardik bagimu belalang pelahap, supaya jangan dihabisinya hasil
tanahmu dan supaya jangan pohon anggur di padang tidak berbuah bagimu, firman
TUHAN semesta alam."
Kemudian
meletakkan persembahan tersebut di tempat yang telah disediakan, selanjutnya
petugas kembali ke tempat dan liturgos mempersilahkan umat duduk kembali.
c. Pesta Menanam dan Pesta Panen
1. Pelaksanaan Pesta Menanam
a.
Sebelum minggu
pelaksanaan "pesta menanam", para Satua Niha Keriso di lingkungan
masing-masing mengunjungi warga jemaat memberitahukan bahwa pesta menanam akan
dilaksanakan, dan sambil mengumpulkan benih/bibit, baik untuk pertanian dan
peternakan, maupun berupa uang bagi non-petani/peternak untuk di bawa ke
gereja.
b.
Pada ibadah minggu
dilaksanakan acara, yakni sesudah persembahan dikumpulkan/disampaikan.
Teknisnya:
ü Pelaksanaannya
sesudah acara persembahan biasa, dan oleh karenanya pengkhotbah tetap mengambil
tempat di belakang meja persembahan. Pengkhotbah melanjutkan pelaksanaan
"pesta menanam", dengan berkata: "Marilah kita berdoa khusus
untuk benih/bibit yang hendak ditanam atau dikerjakan oleh warga jemaat menurut
pekerjaan masing-masing, dan untuk itu mari kita bernyanyi dari Kidung Jemaat
No. ..."
ü Pada
waktu bernyanyi, maka petugas (yang membawa benih/bibit/amplop, dari pintu
belakang/utama datang ke depan di meja persembahan.
ü Sesudah
bernyanyi, para petugas menyerahkan bibit/benih/amplop kepada pengkhotbah, lalu
menaruhnya di meja/tempat yang telah disediakan untuk itu.
ü Kemudian
pengkhotbah membaca Firman Tuhan dari Ulangan 28:12a: "TUHAN akan membuka
bagimu perbendaharaan-Nya yang melimpah, yakni langit, untuk memberi hujan bagi
tanahmu pada masanya dan memberkati segala pekerjaanmu...." Amin.
Selanjutnya pengkhotbah berdoa mengucap syukur kepada Tuhan atas karunia-Nya
menciptakan segala sesuatu, termasuk tempat bagi umat bekerja, seraya memohon
berkat-Nya untuk benih/bibit dan segala usaha umat, sehingga memberi hasil yang
berlipat-ganda.
ü Setelah
berdoa, petugas kembali ke tempat.
2. Pelaksanaan Pesta
Panen
a.
Sebelum minggu
pelaksanaan "Pesta Panen", para Satua Niha Keriso di lingkungan
masing-masing mengunjungi warga jemaat memberitahukan bahwa pesta panen akan
dilaksanakan, dan sambil mengumpulkan hasil panen yang ditujukan ungkapan
syukur kepada Tuhan, untuk di bawa ke gereja.
b.
Pada ibadah minggu
dilaksanakan acara, yakni sesudah persembahan dikumpulkan/disampaikan.
Teknisnya:
ü Pelaksanaannya
sesudah acara persembahan biasa, dan oleh karenanya pengkhotbah tetap mengambil
tempat di belakang meja persembahan. Pengkhotbah melanjutkan pelaksanaan
"pesta panen", dengan berkata:
"Marilah kita mengucapkan terima
kasih kepada Tuhan atas berkat-Nya bagi umat-Nya yang telah membantu usaha dan
pekerjaan masing-masing. Untuk itu mari kita naikkan pujian syukur dengan
bernyanyi dari Kidung Jemaat No...."
ü Pada
waktu bernyanyi, maka petugas (yang membawa hasil panen) dari pintu
belakang/utama datang ke depan di meja persembahan.
ü Sesudah
bernyanyi, para petugas menyerahkan "hasil panen" kepada pengkhotbah,
lalu menaruhnya di meja/tempat yang telah disediakan untuk itu.
ü Sebelum
pengkhotbah berdoa, diberi kesempatan kepada kelompok paduan suara untuk memuji
Tuhan dan bersyukur kepada-Nya atas berkat-Nya kepada umat-Nya. Syair paduan
suara/vokal group hendaknya yang berkaitan dengan panen.
ü Setelah
itu pengkhotbah berdoa dan boleh juga membaca Ulangan 26:2: "Maka
haruslah engkau membawa hasil pertama dari bumi yang telah kau kumpulkan dari
tanahmu, yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, dan haruslah engkau
memasukkannya ke dalam bakul, kemudian pergi ke tempat yang akan dipilih TUHAN,
Allahmu, untuk membuat nama-Nya diam di sana". lalu berdoa mengucap
syukur atas penyertaan dan terima kasih Tuhan bagi umat-Nya. Selanjutnya
diakhiri dengan nyanyian dari Kidung Jemaat No.
ü Setelah
bernyanyi, petugas kembali ke tempat.
9. GRUP KOR/VOKAL
a.
Sebagai respon
kita atas Kabar Baik dan keselamatan daripada-Nya, maka kita bersyukur dengan
memuji memuliakan Tuhan, melalui Kor dan Vokal Grup.
b.
Ada baiknya syair
dari paduan suara atau vokal grup disesuaikan dengan nama minggu atau nats
khotbah pada minggu itu. Tetapi boleh juga syair lain untuk memuliakan nama
Tuhan.
c.
Tempat pelaksanaan
Kor/Vokal Grup, sebaiknya di tempat duduk masing-masing yang telah dikhususkan
untuk paduan suara, atau tempat lain dengan tidak membelakangi
"Altar", karena kor/vokal group adalah sambutan umat atas karya
penyelamatan Tuhan bagi umat-Nya. Kor/Vokal Grup adalah pujian untuk memuliakan
Tuhan. Penting dipahami bahwa bagi Gereja Lutheran, segenap pelayanan Tuhan
bagi umat-Nya melalui para hamba-Nya (seperti Panggilan beribadah, Penyampaian
Berita Pengampunan Dosa, Pembacaan Firman, pelayanan Sakramen, Penahbisan,
Pemberitaan Firman, Pengutusan dan Berkat) dilaksanakan di Altar, yang adalah
simbol kehadiran Allah. Sebaliknya seluruh sambutan umat (Doa, Pujian baik
nyanyian bersama maupun paduan suara, Persembahan, Ikrar menyambut Firman Tuhan
dengan Pengakuan Iman Rasuli, sambutan pengutusan dan berkat) dilaksanakan
ditempat umat berada.
d.
Liturgos atau
Pengkhotbah sebaiknya tidak ikut paduan suara/vokal grup, agar tidak
meninggalkan mimbar/altar, sebab pada waktu itu mereka alat/pelayan yang
melaksanakan pelayanan Tuhan bagi umat-Nya.
10.
NYANYIAN
Nyanyian
di sini adalah persiapan umat untuk mendengarkan Firman Allah. Nyanyian menurut
perikopen atau nyanyian dari Pelengkap Kidung Jemaat No 15:1: "KUSIAPKAN
HATIKU TUHAN".
11.
KHOTBAH
a.
Sesuai ajaran
Reformator, Martin Luther bahwa yang paling penting dalam setiap persekutuan
umat adalah umat merasakan karya penyelamatan dari Allah. Hal ini terjadi
apabila Pemberitaan Firman dan Sakramen dilaksanakan dengan baik oleh
karenanya, para pengkhotbah perlu dan benar. mempersiapkan diri atas bimbingan
Roh Kudus, sehingga firman itu hidup dalam hati setiap pendengar.
b.
Pada liturgi lama,
pengkhotbah memulai sapaan kepada jemaat dengan menggunakan 2 Korintus 13:13.
Berhubung perikop tersebut adalah termasuk berkat dalam unsur liturgi, maka
pada liturgi baru, sapaan pengkhotbah kepada jemaat adalah Filipi 4:7: "Damai
sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu
dalam Kristus Yesus." Sesudah itu langsung pengkhotbah berkata:
"kita berdoa...." untuk memohon pertolongan Roh Kudus.
c.
Selesai membaca
firman Tuhan, teks khotbah sesuai perikopen, langsung dilanjutkan dengan
pemberitaan (khotbah), tidak lagi berdoa. Selesai pemberitaan diakhiri dengan
ayat hafalan, kemudian berdoa dan umat menyambut dengan nyanyian: "DI HATI
KAMI TUHAN".
12. PENGAKUAN IMAN[8]
a.
Pada liturgi lama,
pelaksanaan Pengakuan Iman adalah sebelum paduan suara. Tetapi pada liturgi
baru dilaksanakan setelah pemberitaan firman (khotbah).
b.
Mengapa Pengakuan
Iman setelah khotbah? Karena setelah Firman Tuhan diberitakan, yakni Kabar
Baik, berita keselamatan dari Allah di dalam Yesus Kristus, maka kita diundang
menyambutnya dengan iman. Paulus dalam Roma 10:17 mengatakan bahwa: "Jadi,
iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh Firman Kristus."
Pengakuan Iman yang digunakan adalah Pengakuan Iman Rasuli.
c.
Yang memandu
pelaksanaan Pengakuan Iman Rasuli adalah Liturgos.
d.
Pada waktu
pengucapan Pengakuan Iman Rasuli, jemaat diundang bangkit berdiri. Walaupun ada
beberapa denominasi yang tidak menutup mata pada pengucapan Pengakuan Iman
Rasuli, namun BNKP tetap melaksanakan seperti posisi berdoa, walaupun ini bukan
doa. Tujuannya adalah agar pengakuan iman tersebut diungkapkan dengan
sungguh-sungguh dari hati yang terdalam.
13. PELAYANAN PENAHBISAN/PELANTIKAN DAN UPACARA[9]
Pada
bagian ini dilaksanakan pelayanan, seperti Ordinasi Pendeta, Peneguhan Sidi,
Peneguhan pelayan, dan pelantikan-pelantikan (Majelis Jemaat, Majelis Resort,
BPMJ, BPPJ, BPMR, BPHMS, BPMS, komisi-komisi, panitia-panitia, serta pembacaan
liturgi pendisplinan."[10]
14. WARTA JEMAAT
a. Mengapa
warta jemaat termasuk unsur liturgi? Mengapa pelaksanaannya bukan selesai
ibadah? Kita di BNΚΡ memahami bahwa hal-hal yang diwartakan, seperti: tentang
persembahan, tentang pelayanan, tentang warga yang lahir, menikah dan
meninggal, dan informasi lainnya adalah bagian dari pelayanan kepada jemaat,
dan mengandung unsur pujian, penyembahan dan doa kepada Allah. Artinya isi dari
warta adalah untuk didoakan dan dilaksanakan demi kemuliaan Tuhan.
b. Dalam
menyusun warta, perlu mempertimbangkan bahasa yang tidak berteletele, jelas,
singkat, sopan dan transparan. Diupayakan agar warta jemaat jangan membuat
warga menjadi bosan.
c. Pada
saat warta inilah juga pembacaan informasi yang menjalani
"penggembalaan" atau yang telah selesai digembalakan sesuai dengan
peraturan BNKP.
15. NYANYIAN
a. Nyanyian
jemaat pada bagian ini adalah yang mengantarkan jemaat pada Doa Syafaat,
Pengutusan dan Berkat.
b. Apabila
dilaksanakan Perjamuan Kudus, maka nyanyian ditiadakan di bagian ini, melainkan
langsung pada Liturgi Sakramen Perjamuan Kudus hingga akhir ibadah.
16. DOA
SYAFAAT, DOA ΒΑΡΑ ΚΑΜΙ, PENGUTUSAN
DAN
BERKAT
a. Doa Syafaat
Pelaksanaan
Doa Syafaat dalam ibadah berdasar pada 1 Timotius 2:1-2, yang berbunyi: "Pertama-tama
aku menasihatkan: Naikkanlah permohonan, doa syafaat dan ucapan terima kasih
untuk semua orang, untuk raja-raja dan untuk semua pembesar, agar kita dapat
hidup tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan." Jadi
doa syafaat merupakan buah iman dan menyatakan persekutuan dan saling mendukung
satu dengan lainnya. Doa syafaat ini dilaksanakan baik dalam ibadah minggu,
maupun oleh orang-orang percaya dimanapun berada.
b.
Doa
Bapa Kami
Dengan
kesadaran bahwa kita tidak sempurna berdoa, oleh karenanya Yesus telah mengajar
para pengikut-Nya tentang bagaimana berdoa. Itulah sebabnya setelah doa syafaat
dilanjutkan dengan Doa Bapa Kami.
c.
Pengutusan
Seusai
Doa Bapa Kami, dilanjutkan dengan ungkapan pengutusan. Apa maksudnya?
Pengurusan didasarkan pada pemahaman bahwa ibadah tidak hanya ibadah minggu,
tetapi juga ibadah sepanjang minggu dalam kehidupan sehari-hari, kapan dan
dimanapun berada. Itulah alasannya sebelum menyampaikan berkat, pengkhotbah
menyampaikan pengutusan. Rumusan pengutusan ini ada dalam liturgi, tetapi bisa
juga dirumuskan dari inti khotbah oleh pengkhotbah.
d.
Berkat
Untuk
kembali ke kehidupan sehari-hari sebagai umat Tuhan, kita tidak perlu takut
karena Yesus yang senantiasa beserta kita setiap saat, seperti janji-Nya dalam
Matius 28:20: "Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada
akhir zaman." Oleh karenanya, Tuhan melalui hamba-Nya memberi kita berkat,
yaitu "Berkat Imam Harun" dalam Bilangan 6:24-26 atau berkat dalam 2
Korintus 13:13. Ada dua cara pelaksanaan berkat:
1. Berkat yang disampaikan.
Ini hanya dilaksanakan oleh pelayan yang melaksanakan sakramen (pendeta).
Sehingga ia berkata:
“TUHAN memberkati engkau dan melindungi
engkau;
TUHAN menyinari engkau dengan wajah-Nya
dan memberi engkau kasih karunia; TUHAN menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan
memberi engkau damai sejahtera.” Amin
Atau
"Anugerah Tuhan Yesus Kristus, Kasih setia Allah Bapa, dan persekutuan
dengan Roh Kudus, kiranya beserta saudara-saudara sekalian." Amin.
2. Berkat yang didoakan. Ini digunakan
oleh pengkhotbah yang bukan pelaksana sakramen (non-pendeta). Sehingga
kesimpulannya:
“TUHAN memberkati kita dan melindungi kita;
TUHAN
menyinari kita dengan wajah-Nya dan memberi kita kasih karunia; TUHAN
menghadapkan wajah-Nya kepada kita dan memberi kita damai sejahtera.” Amin
Atau "Anugerah Tuhan Yesus
Kristus, Kasih setia Allah Bapa, dan bersekutu dengan Roh Kudus, kiranya
beserta kita sekalian." Amin.
→ Sikap waktu berkat warga jemaat pada
disampaikan/didoakan adalah seperti berdoa, melipat tangan, tetapi membuka hati
dengan sungguh-sungguh menyambut berkat Allah. Kita tidak bersikap seperti
aliran lain yang menengadah menyambut berkat. Karena yang paling penting adalah
membuka hati untuk berkat Allah.
(Penting dimengerti dan dihayati bahwa
bukan pendeta atau pengkhotbah sumber berkat, melainkan bersumber dari Allah.
Pendeta atau pengkhotbah hanya yang menyampaikan dan mendoakan)
→Umat menyambut pengutusan dan berkat ini dengan
pemandangan sebagaimana telah disusun dalam liturgi.
Penting diingat
bahwa; Tuhan yang memberkati umat-Nya, sedangkan pendeta atau pengkhotbah hanya
sebagai alat. Itu sebabnya tempat penyampaian berkat adalah di depan meja
altar.
17. PENUTUP
Seusai
berkat, disambut dengan nyanyian sesuai perikopen, lalu menyampaikan salam "Shalom",
kemudian umat duduk untuk bersaat teduh sejenak. Sementara itu para pelayan
ibadah menuju pintu keluar/pintu utama untuk bersalaman dengan warga jemaat.
Tujuannya adalah untuk mempererat persekutuan, tetapi juga untuk mengenal siapa
yang berhalangan datang pada ibadah minggu, sehingga pelayan dapat melaksanakan
kunjungan dan pelayanan pastoral di tempat warga jemaat masing-masing.
[1] Sumber: Liturgi
BNKP (Bahasa Indonsia). Tim Penyusun Liturgi BNKP: PT. Gramedia Printing. 2025.
Halaman IV-XX
[2]
Dalam prosesi dapat berbaris satu, dan juga bisa berbaris 2. Bila berbaris dua,
maka bagian depan adalah pembawa Salib dan Alkitab, kemudian pembawa lilin, dan
diikuti oleh para pelayan.
[3] Introitus
tersebu disesuaikan dengan tahun gerejani
[4] Doa
Pembukaan ini disesuaikan menurut tahun gerejani
[6] Untuk perikop sesuai
Tahun Gerejani yang terdapat dalam agendre
[7]
Ada tiga cara umat menyambut pembacaan firman Tuhan sebelum khotbah yaitu: 1).
Sakramen Baptisan; 2). Pengumpulan persembahan; 3). Koor dan Vokal Grup.
[8] Sikap umat setelah mendengarkan
firman Tuhan melalui Khotbah yaitu: 1). Umat menyambut dengan nyanyian KJ No.
54:4 "DI HATI KAMI TUHAN"; 2). Pengakuan Iman Rasuli; 3). Perjamuan
Kudus/Upacara Gerejawi (bila ada). Inilah alasan Pengakuan Iman Rasuli
dilaksanakan setelah khotbah, sesuai dengan Roma 10:17.
[9] Pelaksanaan
ordinansi, Peneguhan Sidi, Pelantikan-pelantikan
[10] Liturgi pendisplinan adalah
"fangefa'o Niha Keriso", antara lain karena Poligami, dan alasan
lainnya sesuai peraturan BNKP.