Senin, 30 Maret 2026

Alat Musik Tradisional Nias (Penelitian)

PENDAHULUAN

             Penelitian ini adalah penelitian dosen STT BNKP Sundermann dalam upaya melaksanakan salah satu unsur dari Tri Dari Perguruan Tinggi di bidang pendidikan dan pengajaran yakni Penelitian Dosen, untuk meningkatkan kualitas sumber daya dosen khususnya di STT BNKP Sundermann.

            Penelitian ini terinspirasi dari isi Alkitab  tentang  alat-alat musik yang digunakan dalam memuji dan memuliakan TUHAN khususnya kitab-kitab Perjanjian Lama sebagai landasan Alkitabiah dalam melakukan penelitian.

            Dalam konteks masyarakat Nias sangat relevan untuk kontekstualisasi isi Alkitab yang berkaitan dengan alat-alat musik.   Masyarakat Nias memiliki ragam seni budaya yang tidak lepas dengan penggunaan alat-alat musik termasuk hal-hal yang bersifat “pemujaan” .

            Untuk itu penelitian ini dilakukan dalam rangka menggali kembali alat-alat musik tradisional Nias baik dari sisi sejarah, cara membuat dan cara menggunakannya.  Dalam observasi awal ternyata masyarakat Nias memiliki banyak alat-alat musik yang dapat dipergunakan, namuh hanya sedikit saja yang digunakan pada masa kini.

Hasil dari penelitian ini akan mengupayakan sumbangsih untuk memperkaya liturgi BNKP.  Untuk mencapai hasil maksimal penelitian ini melibakan mahasiswa dalam mendapatkan data-data yang diperlukan dan melakukan kajian untuk memadukan unsur alat musik tradisional Nias dan alat muski modern dalam liturgi BNKP.       

 

A.     LATAR BELAKANG MASALAH

             Biarlah segala yang bernafas memuji TUHAN! Haleluya! (Mazmur 150: 6), artinya segala yang bernafas   memberikan pujian kepada  TUHAN.    Dalam keseluruhan kitab Mazmur dan kitab-kitab lainnya dalam  kitab Perjanjian Lama, alat-alat musik digabungkan dengan sebuah paduan suara untuk memuji TUHAN[1].

            Dalam Alkitab peran alat-alat musik sangat besar fungsi, manfaat dan kegunaannya dalam mendukung segala yang bernafas memuji TUHAN.   Pada awal zaman Perjanjian Lama alat-alat musik sudah mulai diciptakan seperti alat musik tiup dan berdawai dan digunakan untuk nyanyian memuji TUHAN, seperti pada waktu pembebasan Umat Israel dari kejaran Firaun (Kel 15:21), Kemenangan Deborah dan Barak atas raja Sisera (Hakim 5), Pada waktu sepuluh perintah Allah diturunkan.   Kuasa Tuhan nyata pada waktu memainkan alat musik (2 Raja 3: 14-15), dan Raja Daud menggunakan alat musik untuk memuji TUHAN atas kemenangan yang diraih berkat pertolongan TUHAN[2].

            Alat musik perlu dilestarikan dan dijaga karena alat musik dapat digunakan untuk memuji TUHAN atas kemenangan, sukacita maupun dukacita dan  bahkan dalam mencari kehendak TUHAN.

            Dalam kitab-kitab Perjanjian Lama ada beberapa alat musik yang diciptakan dan digunakan untuk memuji TUHAN.

 

1.                  ALAT MUSIK TIUP

 

1.1.   Syofar, Sangkakala (Trumpet)

            Pujilah Dia dengan tiupan sangkakala, pujilah Dia dengan gambus dan kecapi  ! (Mazmur 150:3)

Alat musik Syofar Ibrani  שׁוֹפָר  adalah yang paling sering disebut dalam Kitab Mazmur. Alat musik ini terbuat dari tanduk binatang misalnya tanduk kambing atau domba atau antelop.

Syofar/Sangkakala (trumpet) dipakai untuk menyambut para penguasa dan pada hari-hari raya.  Syofar  terbuat dari Tanduk Hewan.

 

1.2.  Khatsuts’rah – Nafiri (Clarion/Trumpet)

Tiuplah trompet dan sangkakala, bersoraklah bagi TUHAN, Raja kita. (Maz. 98:6).

Menurut ayat di atas, Nafiri, Trumpet (Ibrani: חֲצֹצְרָה – Khatsuts’rah) dimainkan bersama dengan Sangkakala (Ibrani: שׁוֹפָר - Syofar).

             Alat bunyi-bunyian ini dimaksudkan untuk membuat tanda-tanda, agar orang-orang Israel tahu kapan mereka harus memulai perjalanan dan kapan harus berhenti.

 

1.3.  Seruling (Flute)

Pujilah Dia dengan rebana dan tari-tarian, pujilah Dia dengan permainan kecapi dan seruling (Maz. 150:4), Kejadian 4:21. 

Alat musik kecapi/ harpa (Ibrani: כִּנּוֹר - Kinor) dan Seruling/ flute/ pipe (Ibrani עוּגָב - Ugav).

Dalam Ayub 21:12; 30:31 disebutkan bahwa Yubal adalah bapa semua orang yang memainkan kecapi dan suling. Yubal mungkin adalah penemu alat musik berdawai maupun alat musik tiup, atau mungkin ia memelopori suatu profesi, yang memberikan dorongan besar untuk kemajuan musik.

 

 1.4.  Khalil, Seruling/Pipe/Klarinet

Sesudah itu engkau akan sampai ke Gibea Allah, tempat kedudukan pasukan orang Filistin. Dan apabila engkau masuk kota, engkau akan berjumpa di sana dengan serombongan nabi, yang turun dari bukit pengorbanan dengan gambus, rebana, suling (Khalil) dan kecapi di depan mereka; mereka sendiri akan kepenuhan seperti nabi. (1 Samuel 10:5). Seruling/pipe dalam bahasa Ibrani adalah חָלִיל – Khalil.

 

1.5.   Nehilot, Suling/Klarinet

Untuk pemimpin biduan. Dengan permainan suling (Nekhilot). Mazmur Daud. (5:1-2) Berilah telinga kepada perkataanku, ya TUHAN, indahkanlah keluh kesahku.

Terdapat kata Ibrani: נְּחִילֹות - Nekhilot (bentuk plural), adalah sejenis alat musik tiup, suling/ klarinet/ pipe.

 

2.         ALAT MUSIK BERSENAR

        2.1.  Kecapi (Lyre/Harp)

Alat musik kecapi/ harpa (Ibrani: כִּנּוֹר - Kinor) dan Seruling/ flute/ pipe (Ibrani עוּגָב - Ugav), adalah 2 alat musik yang disebut pertama kali dalam Alkitab :

Nama adiknya ialah Yubal; dialah yang menjadi bapa semua orang yang memainkan kecapi (KINOR) dan suling. (Kejadian 4:21).  Pujilah Dia dengan tiupan sangkakala, pujilah Dia dengan gambus dan kecapi (Kinor)! Mazmur 150:3

 

Kinor adalah  jenis Lyra/ kecapi kecil ini itu adalah kecapi yang dimainkan dipangkuan seseorang dengan memetik senarnya, yang menurut bukti sejarah dan arkeologi, senarnya ini dibuat dari usus domba.

 

2.2. Sheminit, Kecapi

Untuk pemimpin biduan. Dengan permainan kecapi. Menurut lagu: Yang kedelapan. Mazmur Daud.   Ya TUHAN, janganlah menghukum aku dalam murka-Mu, dan janganlah menghajar aku dalam kepanasan amarah-Mu. Mazmur 6:1-2

Ada jenis alat musik petik berdawai 8 yang disebut שְּׁמִינִית - Syeminit, Syeminit ini diyakini sebagai alat musik yang digunakan dalam berbagai aktivitas. Instrumen kecapi dengan 8 atau 10 dawai yang dimainkan di acara-acara yang sangat khusus.

 

2.3.  Minim

Pujilah Dia dengan rebana dan tari-tarian, pujilah Dia dengan permainan kecapi dan seruling!.  Mazmur 150:4

Istilah Ibrani מִינִּים - MINIM, ini tidak terlalu jelas bagaimana bentuk-bentuknya. Namun beberapa penafsir melihat "MINIM" ini adalah jenis-jenis musik petik berdawai.

 

2.4.  Shalish

Tetapi pada waktu mereka pulang, ketika Daud kembali sesudah mengalahkan orang Filistin itu, keluarlah orang-orang perempuan dari segala kota Israel menyongsong raja Saul sambil menyanyi dan menari-nari dengan memukul rebana, dengan bersukaria dan dengan membunyikan gerincing. 1 Samuel 18:6

Alat musik yang disebut שָׁלִישׁ - SYALISY/ SHALISH adalah alat musik berbentuk segi tiga dengan tiga tali, ini mungkin adalah salah satu "alat musik" yang  dimainkan oleh wanita dan tidak diikutsertakan dalam orkes di Bait Suci.

 

2.5.  Gitit, Gittith

Untuk pemimpin biduan. Menurut lagu: Gitit. Mazmur Daud. (8:2) Ya TUHAN, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi! Keagungan-Mu yang mengatasi langit dinyanyikan. Mazmur 8:1-2

Dalam bahasa Ibrani  גִּתִּית Gitit, Instrumen musik yang khusus ini adalah semacam kecapi, yaitu alat musik berdawai yang permainannya dengan petikan.

 

 3.        ALAT MUSIK PERKUSI (Pukul)

 

              3.1. Tof, Rebana (Tabret, Timbrel)

Mengapa engkau lari diam-diam dan mengakali aku? Mengapa engkau tidak memberitahu kepadaku, supaya aku menghantarkan engkau dengan sukacita dan nyanyian dengan rebana (Tof) dan kecapi ?.  Kejadian 31:27

Rebana dalam bahasa Ibrani: תֹּף – Tof. Tof ini digunakan juga oleh para gembala dan juga banyak digunakan dalam banyak upacara menggunakan alat musik ini. "Tof" selalu berhubungan dengan lagu-lagu keriangan dan terhubung dengan tarian dan lagu-lagu pujian (lihat Mazmur 150:4).

 

              3.2. Tselatsal Ceracap (Cymbal, Jingle)

Metselet dalam bahasa Ibrani adalah : מְצֵלֶת - Metselet, yang diterjemahkan "ceracap." Tapi jelas dalam 1 Tawarikh 15:16 alat music yang disebut "Metselet" ini juga digunakan dalam masa Raja Daud

Ceracap digunakan bersama-sama dengan nafiri dan para penyanyi untuk mengungkapkan sukacita dan ucapan syukur kepada Tuhan (1 Tawarikh 15:16; 16:5).

            3.3.  Meneanim, kelentung, Sistrum/Castanets

Daud dan seluruh kaum Israel menari-nari di hadapan TUHAN dengan sekuat tenaga, diiringi nyanyian, kecapi, gambus, rebana, kelentung dan ceracap. 2 Samuel 6:5

            Dalam bahasa Ibrani kelentung, castanets/ sistrums adalah מַנְעַנְעִים Mene'anim adalah jenis-jenis alat musik perkusi sejenis "kelentung," dari bahan logam panjang dalam bentuk tertentu yang dipukul.

  

            3.4.  Metsilot, Giring-giring/Bell

Giring-giring kuda, Kerencingan kuda (Ibrani: מְצִלֹּות הַסּוּס – Metsilot Hasus). Giring-giring kuda, Kerencingan kuda digunakan juga dalam menyajikan musik sebagai jenis alat musik perkusi.

Pada hari itu akan tertulis pada giring-giring kuda, "Kudus bagi TUHAN ." Dan belanga-belanga di bait TUHAN akan menjadi seperti bokor-bokor penyiraman di depan mezbah. Zakharia 14:20.

 

            3. 5.  Guitar (Qitaros/Qatros)

Dalam bahasa Ibrani Guitar adalah  קִיתָרֹס - QITAROS atau קתרוס - QAT'ROS (bahasa Aramaic).

Demi kamu mendengar bunyi sangkakala, seruling, kecapi, rebab, gambus, serdam dan berbagai-bagai jenis bunyi-bunyian, maka haruslah kamu sujud menyembah patung yang telah didirikan raja Nebukadnezar itu,  Daniel 3:5.

 

             3. 6.  Sabekha, Rebab

Demi kamu mendengar bunyi sangkakala, seruling, kecapi, rebab, gambus, serdam dan berbagai-bagai jenis bunyi-bunyian, maka haruslah kamu sujud menyembah patung yang telah didirikan raja Nebukadnezar itu.  Daniel 3:5

Kata Aramaic: סַבְּכָא – Sabekha, Rebab, adalah alat musik berbentuk segitiga dengan empat senar, mirip dengan "kecapi". Dalam LAI-TB diterjemahkan dengan "rebab" yaitu alat musik berdawai dari Arab.

 

            3.7.  Sum’pon, Serdam

Demi kamu mendengar bunyi sangkakala, seruling, kecapi, rebab, gambus, serdam dan berbagai-bagai jenis bunyi-bunyian, maka haruslah kamu sujud menyembah patung yang telah didirikan raja Nebukadnezar itu. Daniel 3:5

Kata Aramaic: סוּמְפֹּנְיָה -Sum’pon’yah, diterjemahkan dengan "serdam" yaitu alat musik tiup seperti suling.

            Dalam konteks masyarakat Nias sebelum masyarakat Nias menjadi orang Kristen maupun setelah menjadi orang yang percaya kepada Tuhan Yesus, masyarakat Nias sudah mengenal alat musik bahkan menciptakan alat musik sendiri untuk keperluaan pemujaan, pesta-pesta dan hiburan-hiburan, dapat dikatakan bahwa alat musik tidak bisa lepas dalam kehidupan keseharian masyarakat Nias. Karena itu penulis mengadakan penelitian tentang alat-alat musik tradisional Nias, untuk mengenal karya seni masyarakat Nias, cara membuat, sejarah dan penempatannya dalam liturgi untuk memuji TUHAN.

Urgensi penelitian ini ialah kondisi musik tradisional Nias terancam punah dan penggunaan musik tradisional Nias dalam liturgi di gereja adalah sebuah ironi karena gereja lebih banyak menggunakan musik modern sebagai pengiring lagu dalam ibadah daripada musik yang dihasilkan oleh kebudayaanya.  Liturgi alternatif untuk musik tradisional dan kolaborasi dengan musik modern menjadi komunisi yang dapat melestarikan seni musik Nias.

 

 

A.     JUDUL

Penelitian ini berjudul : Alat-alat Musik Tradisional Nias (Penelitan tentang  upaya memperkaya liturgi BNKP)  

 

B.     RUMUSAN MASALAH

Rumusan masalah penelitian  adalah :

Bagaimana  musik tradisional  Nias memperkaya liturgi BNKP ?

C.      TUJUAN PENELITIAN

1.      Tujuan penelitian

Berkenaan dengan rumusan masalah tersebut di atas maka tujuan penelitian ini adalah :

1)     Menemukan jenis-jenis alat musik tradisional Nias  dan mencari arti dan maknanya musik tradisional Nias

2)     Menguraikan cara membuat musik tradisional Nias

3)     Menuliskan  sejarah singkat setiap alat musik trasional Nias

4)      Mengklasifikasikan fungsi dan kegunaan musik tradisional

5)     Menemukan Jenis/pola nyanyian orang Nias

6)     Menempatkan musik tradisional Nias dalam susunan liturgi

 

D.     METODE PENELITIAN

Metode penelitian yang digunakan adalah metode pendekatan kualitatif deskriptif yang berkarakteristik alami sebagai sumber data langsung yang mengutamakan proses penelitianm menganalisa secara induktif untuk mendapatkan makna hasi yang esensial.

            Berdasarkan penelitian kualitatif tersebut di atas maka peneliti akan melaksanakan kegiatan penelitian berupa; pemerikasaan data-data hasil wawancara mendalam tentang sejarah, cara pembuata dan kegunaan dari objek penelitian yang berkaitan dengan gejala, pengalaman, cara hidup, makna, data, informasi, isi dan faktor-faktor.

 

a.       Sumber data dan tempat penelitian :

Sumber data utama penelitian ini adalah kata-kata dan tindakan informan dana alat-alat musik tradisional Nias baik yang diobservasi secara langsung, terdokumentasi maupun foto-foto dari objek penelitian. Untuk mendapatkan data-data dimaksud maka peneliti (sebagai instrument penelitian)  ini akan melakukan wawancara kepada ahli seni budaya Nias, pemerhati  alat-alat musik tradisional Nias dan tokoh masyarakat Nias   yakni :

1)     Pastor Johannes Hammerle

2)     Para staf Museum Pusaka Nias

3)     O’oziduhu Zebua (Ama Dendi)

 

Lokasi penelitian adalah :

1.      Kota Gunungsitoli

2.      Museum Pusaka Nias

3.      Perpustakaan Museum Pusaka Nias

 

b.      Teknik Pengumpulan Data

Wawancara adalah metode dalam pengumpulan data  yang menggunakan model wawancara Andreas W. Subagyo, yakni wawancara mendalam (tidak terstruktur) yang untuk keterbukaan, keterlibatan emosional dan kepercayaan pewawancara dan orang yang akan diwawancarai (informan).   Dalam hal wawancara mendalam ini peneliti akan :

a.       Memberitahukan informan tentang pandangan, sikap, nilai dan kepercayaan adalah sumber informasi yang terbaik

b.      Memberikan pertanyaan yang  mendalam bila ada informasi yang rumit dari informan

c.       Memberikan pertanyaan yang lebih mendalam bila membutuhkan pertanyaan lebih lanjut dari informan

d.      Memberikan pertanyaan lebih mendalam lagi  jika membutuhkan penjelasan lebih lanjut terhadap informasi yang telah dikumpulkan dari informan. (2001:228)

            Metode pengumpulan data wawancara mendalam ini dilakukan untuk mendapat keuntungan  informasi yang diperoleh secara langsung dari subyek penelitian, memungkinkan mendapatkan informasi lebih lanjut, memperjelas informasi data dan dapat mengatasi kerumitan data serta mampu mengklarifikasi informasi yang sudah diperoleh sehingga data menjadi valid.

 

c.       Alat pengumpulan data atau Instrument penelitian

Peneliti sendiri adalah instrument penelitian akan membuat pedoman untuk wawancara mendalam kepada para informan penelitian yakni tujuan dan topik wawancara yang jelas dalam wawancara tidak terstruktur (mendalam) dan  sifat wawancara adalah informal. Wawancara tidak terstruktur dimulai dengan mengeksplorasi  topik dari objek penelitian  secara umum mengenai objek penelitian.

Karena menggunakan teknik wawancara mendalam maka menurut Sorosa; Pewawancara tidak memilik daftar pertanyaan yang menuntun ke arah wawancara.  Meskipun demikian  pewawancara memiliki tujuan dan topik wawancara yang jelas agar sehingga wawancara tidak terlalu jauh menyimpang (Sarosa, 2012: 46)

d.      Analisa Data

                                                          i.      Analisa data kualitatif deskriptif

            Analisa data kualitatif deskriptif dimungkinkan karena metode pengumpulan data wawancara mendalam oleh peneliti dimana peneliti langsung mengalami (mengamati secara partisipatif), menyelidiki (mewawancarai) dan memeriksa (menyelidiki data).  Data deskriptis yang dikumpulkan akan dianalisa agar dapat diartikan.

            Dalam hal ini model analisa yang digunakan peneliti adalah proses analisis data kualititatif Wolcott  yakni " mengubah sifat" (transforming) data dan mencakup sub proses, yaitu: deskripsi, analisis dan interpretasi dan juga menggunakan analisa data model Huberman dan Miles yakni yang menambahkan analisa data secara umum yakni display (penyajian data), data reduction (Peringkasan data, yang adalah analisis itu sendiri) dan conclusions drawing and verifications (penarikan kesimpulan-kesimpulan dan penafsiran), (Subagyo: 259) .

 

                                                       ii.       Prosedur pengolahan data

            Prosedur penelitian ini menempuh tiga tahap yakni : 1. Tahap Orientasi, 2. Tahap  Eksplorasi dan, 3 Member check, dengan pengertian sebagai berikut :

1.         Tahap Orientasi ;

dilakukan untuk memperoleh gambaran yang jelas, tepat dan jelas tentang masalah yang diteliti.  Kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam tahap ini adalah :

(a)  Melakukan studi pendahuluan atau penjajakan langsung pada kegiatan-kegiatan seni budaya Nias

(b)  Mempersiapkan berbagai referensi yang dibutuhkan.

(c)   Mendisain pra penelitian

(d)  Menyusun kisi-kisi penelitian seperti pedoman  wawancara

2.   Tahap Ekplorasi :  Bertujuan untuk menggali informasi dan pengumpulannya dengan focus tujuan penelitian. 

3.   Member check : Tahap ini bertujuan untuk melakukan pengecekan kebenaran hasil Wawancara. Kegiatan yang dilakukan dalam tahap ini adalah.  Menyusun hasil wawancara berdasarkan item-item dan mengkonfirmasi hasil observasi kepada nara sumber.

 

e.       Pengolahan dan penyajian data

 Pengolahan dan teknik analisa data dikerjakan sejak awal dimulainya penelitian ini, dan dikerjakan secara seksama dan hati-hati, baik ketika berada di di lapangan maupun setelahnya.  Model yang digunakan dalam pengolahan data adalah model interaktif. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah :

Koleksi data (data collection). Peneliti melakukan pemeriksaan data  subyek penelitian dan sumbeer data serta hasil  wawancara dan  dituangkan dalam bentuk tulisan oleh peneliti.

Penyederhanaan Data (data reductional).  Peneliti melakukan penelaah data hasil wawancara, observasi dan dokumentasi untuk memperoleh hal-hal pokok berkaitan dengan focus penelitian

Penyajian data (data display). Merupakan kegiatan peneliti yang menyusun pola dan pokok masalah secara sistimatis, sehingga diperoleh tema dengan jelas tentang masalah penelitian untuk menarik kesimpulan.

Pengambilan kesimpulan dan verifikasi (conclution dan data verivying)

Upaya mengolah data yang telah dikumpulkan dengan mencari pola, tema, hubungan persamaan, perbedaan-perbedaan, hal-hal yang timbul dan lain sebagainya.

 

E.      KERANGKA TEORI

Musik tradisional Nias adalah warisan budaya leluhur ononiha (orang Nias), namun perkembangan, pemanfaatan dan pelestarian musik tradisional Nias tersebut sangat kurang dan dikuatirkan pada masa depan musik tradisional akan musnah.  Kekuatiran ini sangat mendasar karena dari 24  jenis alat musik tradisional Nias hanya 3 jenis yang umumnya digunakan seperti garamba, gondra dan faritia.   Alat-alat musik lainnya tidak banyak digunakan bahkan hanya bisa dilihat di museum pusaka Nias sebagai peninggalan sejarah.  

Keadaan ini semakin menyedihkan karena orang-orang yang dapat memainkan alat musik tersebut telah meninggal dunia dan belum kemungkinan belum sempat mewariskan cara memainkan alat musik tersebut kepada generasi muda Nias, membuat musik tradisional sangat miskin bila dibandingkan dengan musik tradisional daerah lain.[3]

Nyanyian tradisional Nias juga sangat sedikit sekali, para pencipta lagu Nias tidak banyak.   Nyanyian tradisional Nias hanya muncul dan digunakan pada acara-acara pesta adat saja seperti pesta pernikahan dan pelaksanaan owasa (pesta) adat di kampung-kampung.    Generasi muda sekarang seperti sangat asing dengan nyanyian-nyanyian budaya Nias, walaupun masih ada yang dinyanyikan seperti pada saat tari maena dan tari moyo. 

Musik tradisional Nias seperti alat-alat musik dan nyanyian sangat jarang digunakan dalam liturgi di gereja, hal tersebut disebabkan oleh karena nyanyian dalam ibadah (Buku sinuno dan Kidung Jemaat) berasal dari daerah di luar Nias dan Eropa yang dibawa oleh para missionaris atau para zending.  Dari sejumlah alat musik trasional Nias ada beberapa yang sudah dan dapat diinkulturasikan di gereja dalam liturgi seperti :           Doli-doli, Tutu hao,    Fondrahi, Gondra, Aramba, Faritia dan Sigu/surune. [4] Musik Nias digunakan pada upacara-upacara adat, pengiring tari-tarian seperti maena dan juga digunakan dalam menolak bala, wabah penyakit dan kematian. [5]  Musik tradisional masyarakat Nias dapat dibagi dalam  dua bagian yaitu : pertama, Instrument atau alat musik dan yang kedua adalah lagu tradisional Nias, kedua kelompok musik tradisional Nias. Beberapa alat musik tradisional  Nias  tersebut memiliki fungsi sebagai  musik ritmik yaitu; alat musik yang berfungsi dan berperan memaikan irama seperti Gondra, Tutu, Tabolia, Koko, Famaerua dan alat musik melodik yang berfungsi dan berperan memainkan melodik tertentu seperti Lagia, Faritia, Doli-doli, Sigu, Surune, Duri Mbewe, Aramba, Duri Gahe.

Dewasa ini Fungsi dari alat musik tradisional ini digunakan untuk hiburan,  upacara ritual dan  alat musik berburu dan ekspresi diri. Tetapi hanya tiga alat musik yang difungsikan ketika ada pesta, seperti garamba, gendara dan faritia.  Dari beberapa alat musik hanyalah ketiga alat musik ini yang suaranya besar sehingga alat musik ini cocok digunakan saat ada pesta.[6]

Hal tersebut diungkapkan pula oleh Simion Diparuma Harianja dan Dra. Pestaria Naibaho dalam buku liturgi dan musik gerejawi, menurut mereka ; Gereja-gereja Lutheran di Indonesia masih menggunakan musik bercorak Barat, menurut mereka lagi keadaan ini adalah sebuah ironi khususnya jika dikaitkan dengan pembangunan dan pemanfaatan alat-alat musik tradisional dalam liturgi ibadah di gereja[7]

Lebih dalam Emanuel Martasudjita, Pr bahwa musik dalam liturgi mengandung tiga dimensi 1. Dimensi liturgis; Musik sebagai alat liturgi, 2. Dimensi Ekklesiologis musik harus mengungkapkan partisipasi umat, 3. Dimensi kristologis musik memperjelas misteri Kristus.[8]

Penelitian ini  berusaha meneliti kembali alat-alat musik tradisional Nias sebagai salah satu   unsur seni budaya tradisional Nias termasuk diantaranya  Musik, jenis nyanyian dan  pola bernyanyi  orang Nias  dan untuk memperkaya liturgi BNKP.  

Peneliti sangat menyadari bahwa tidak semua unsur seni budaya Nias telah dan dapat memperkaya dalam hal ini liturgi  di BNKP khususnya.  Untuk itu peneliti akan selektif terhadap unsur-unsur tersebut dan kemungkinan-kemungkinan dikombinasikan dalam liturgi.

BAB  II

HASIL PENELITIAN ALAT MUSIK TRADISIONAL NIAS


A.   JENIS ALAT MUSIK PERKUSI (PUKUL)

  1. GONDRA (Gendang)

Gondra[9] adalah alat musik tradisional Nias, merupakan alat musik perkusi (pukul)  pusaka peninggal leluhur Nias.   Alat musik ini masih digunakan sampai saat ini dan selalu digunakan pada acara pesta adat perkawinan di lingkungan masyarakat Nias bersama alat musik lainnya seperti aramba dan faritia. 

Gondra (Gendang)[10]

Umumnya alat musik Gondra ini dimainkan menjelang pesta perkawinan adat di keluarga kedua belah pihak,  sampai pengantin perempuan tiba di rumah pengantin laki-laki.

 

1.1.  Cara pembuatan

Untuk membuat alat musik ini dibutuhkan bahan-bahan dari : 1. Kayu (Jenis kayu Tumusi,  A’ awa, Tuho, Silo’ato), 2.  Kulit Kambing atau kulit ular sawah  dan 3. Rotan.

Gondra (Aramba)[11]

 Untuk membuatnya dimulai dengan:

a.       Memilih satu jenis batang kayu bulat yang memungkinkan dapat mencapai garis tengah 70 s/d 90 cm.

b.      Kayu dipotong sepanjang ukuran yang dimaksud pada poin a di atas dan dikupas kulitnya lalu ditarah sedikit agar lebih bulat dan sambil membentuk tempat tali gantungannya.

c.       Setelah itu baru dilobang dari ujung ke ujung  menggunakan pahat, kapak dan lain-lain dengan meninggalkan tepinya/pinggiran 1 cm rata-rata.

d.      Kemudian dikeringkan di dapur agar kena panas api dapur dan asap dapur setiap hari selamat satu bulan.

e.       Setelah kering maka kedua ujungnya ditutup/dibalut dengan kulit kambing yang sudah kering.  Sebaikknya pemasangan dilakukan pada saat cuaca hujan.  Kulit kambing tadi dililit-ikatkan dengan tali rotan yang dihubungkan dengan ikatan ujung yang satu saling menyelingi agar terdapat hiasan lilitan pada badan Gondra tersebut,  selesailah pembuatan Gondra.   Biasaya bila tidak digunakan, gondra disimpan dengan cara digantungkan di langit-langit rumah, agat tetapi kering, semakin keringa suaranya akan semakin nyaring [12].

Jenis-jenis alat musik Gondra antara lain :

1)     Gondra Uli zawa.

Terbuat dari kayu bulat yang dibolongkan dengan dinding tipis +- 2 jari, bentuknya seperti trapesium. Panjangnya 9 si;u a lalu’a atau 7 si’u a sagofa atau 5 si’u a lito. Ujung yang terluas dibalut dengan kulit ular ( Sawah/piton), yang sebelahnya lagi tanpa balutan. Berdasarkan urutan besarnya ukuran tadi, Gondra Uli Zawa diberi nama:

a)     Gondra Famahowu, hanya dibunyikan pada saat penobatan satus tertinggi dalam adat atau Mondrako.

b)     Gondra Fa’awali, dibunyikan  pada pesta (owasa) besar. Juga dibunyikan pada saat upacara Famahowu sebagai iringan.

c)      Gondra Fo’ ana’a, dibunyikan pada saat pesta/upacara Fangaruwusi/ Fangoroma Ana’a Wa’asalawa yang baru siap ditempa.

 

2)     Gondra Uli Laoyo, ukurannya 3 si’u a lalu’a dengan diameter yang sama ujung ke ujung. Kedua ujungnya dibalut dengan kulit ( kambing/kijang, dsb). Berdasarkan cara memalu, Gondra ini dibedakan atas.

a)     Gondra Folobo Hilihili dano

b)     Gondra Famosi Hilihili dano

c)      Gondra Fa’abolo.[13]

1.2.           Cara Memainkan

 

Cara memaikan Gondra[14]

Gondra ini dimainkan oleh  oleh 2 (dua) orang pemain dengan memakai 2 (dua) belah bambu tiap orang panjangnya 70 s/d 80 cm, tebal 1 cm, lebar 2 cm.  Para pemain musik ini  memukulkan bilah bambu pada ujung gondra yang sudah ditutup dengan kulit kambing secara bergantian untuk mendapatkan nada/irama yang baik.  Biasanya kalau gondra dimaikan  harus diiringi dengan alat musik lainnya yakni Faritia (gamelan) dan Aramba (Gong) . Dalm arti alat musik yang seperangkatan pemakainya.

  1. TAMBURU

Tamburu adalah alat musik yang dibuat dengan memasangkan kulit binatang selah kiri dan kanan, sering dipakai pada saat pernikahan.

tamburu

Tamburu[15]

2.1.           Cara pembuatan

Tamburu[16] ini dari kayu yang cara pembuatannya sama dengan TUTU dimana kayu bulat  sepotong dilubangi yang berukuran 40 s/d 50 cm yng bergaris menengah 25 s/d 30 cm.   Tebal dinding penampang lubang kira-kira 1 cm.  Setelah siap dilubangi dan dibersihkan maka kedua ujung lubangnya ditutup dengan kulit kambing kering atau kulit biawak lalu seterusnya diikat dengan rotan.

Tamburu[17]

Rotan dililitkan dan dihubungkan pada ujung lilitan  yang satu dan lalu disilang kembali maka terjadi lilitan menyilang keliling yang menjadi hiasan  pada seluruh bulatan badan Tamburu.

2.2.           Cara Memainkan

Tamburu diikatkan pada ikat pinggang dengan supaya salah satu permukaannya Berada di atas lalu dimainkan dengan menggunakan i 2 potong kayu bulat garis tengah 1,5 cm panjangnya 25cm sebagai alat Pemukul.  Tamburu ini juga dapat dimaikan dengan duduk dan menggunakan kedua tangan.

 

Cara memainkan Tamburu[18]

Tamburu juga dapat  dipakai pada waktu rombongan mempelai ( penganten laki-laki) Berangkat menuju rumah penganten perempuan dimana pesta perkawinan  dilaksanakan. Tamburu digendangkan sepanjang jalan bersama dengan fatitia atau canang kecil.

 

3.      TUTU

3.1.           Sejarah

Tutu[19] ini adalah peninggalan leluhur yang aslinya sudah langka.

 

museum_pusaka_nias_alat_musik_tutu

Tutu[20]

 

3.2.           Cara Pembuatannya

Tutu ini dari bahan kayu Afoa atau Manowa, dengan ukuran besarnya: 25 s/d 30 cm dan garis menengahnya 18-20 cm. Kayu ini dilubangi, sehingga membuat permukaan kedua belah potongan kayu. Setelah dibersihkan seluruhnya maka ditutup dengan kulit Biawak yang sudah kering dan diikat dengan tali rotan sekaligus menjadi  hiasan pada badan Tutu itu sendiri.

 

3.3.           Cara Memainkan

Alat musik  Tutu ini dipakai pada waktu pelaksanaan upacara Fo’ere, alat musik ini dimainkan dengaan cara dipukul dengan menggunakan sekerat kayu atau juga dipukul dengan tangan.

 

4.      FONDRAHI

Fondrahi[21] adalah alat musik  tabuhan merupakan alat musik khas Nias yang masih dapat dilihat di Museum pusaka Nias.

 

fondrahi

 

Fondrahi[22]

4.1.           Sejarahnya:

Alat musik Fondrahi[23] itu adalah salah satu alat musik  peninggalan leluhur dari dulu yang digunakan untuk pemujaan kepada dewa atau roh-roh.  Sekarang ini tidak dipergunakan lagi karena pengaruh Agama. Oleh karena itu alat ini dialihkan Memainkannya pada golongan musik  ere atau famaerua sama sekali terlepas dari syair lagu mantera-mantera.  Benda aslinya tidak ada dan benda ini sudah langka sekali tetapi duplikatnya dapat di lihat di Museum Pusaka Nias.

 

4.2.           Cara Pembuatan

Alat musik ini dibuat dari sepotong batang aren yang tua yang dipotong panjangnya kira-kira 70 s/d 80cm, garis menengahnya 18 s/d 20cm. Setelah itu isi tengah potongan tadi dikeluarkan supaya menghasilkan lubang sampai  keujung sebelah ( seperti pipa), tebal dindingnya yang menyerupai kulit setebal 1 cm.

 

Fondrahi[24]

 

Setelah selesai dilobangi  dan dibersihkan  potongan batang aren tadi maka pada penampang salah satu ujung ditutup dengan kulit kambing yang mudah dan kering atau kulit biawak kemudian diikat kulit tadi dengan rotan berulang-ulang kali sambil membentuk hiasan dengan lilitan rotan tersebut pada badan fondrahi sampai pada pertengahan, hiasan tersebut bermotif ni’ohulayo.

 

 

4.3.           Cara Memainkan

Alat musik  fondrahi ini adalah alat musik yang dipukul dengan 2 (dua) batang kayu bulat garis tengah 2 cm panjang 20 s/d 25 cm, atau dengan telapak tangan bersama jari seperti memukul rebana. Biasanya Fondrahi ini dipakai pada waktu mengadakan upacara penyembuhan orang sakit yang dilaksanakan oleh seorang ahli yang bernama “Ere “ atau dukun.

Cara memainkan Fondrahi ketika melakukan pemujaan

 kepada dewa-dewa dan roh-roh[25]

 

Cara memainkannya Ere duduk dilantai dengan bersila dan meletakkkan Fondrahi diantara paha kanan sebelah bawah dan pada paha kiri sebelah atas dan dijepitoleh kedua ujung kaki sedang yang disampingnya juga alat-alat musik lainnya yang bersamaan dipukul berganti-ganti oleh Ere. Ere memulai menyembuhkan orang sakit dengan memukul Fondrahi dehulu lalu diiringi dengan menembangkan lagu/mantera-mantera kata –kata penyembuhan.

Cara memainkan Fondrahi

untuk penyembuhan[26]

 

Demikian dilakukan terus –menerus sampai si ERE menghentikannya dengan waktu yang ia tentukan sendiri atau berdasarkan berat ringannya penyakit yang disembuhkan kadang-kadang sampai sehari penuh atau 3 hari tiga malam berturut-turut.

 

5.      RAFA’I

museum_pusaka_nias_alat_musik_rafai

Rafa’i[27]

Rafa’i[28] adalah sejenis alat musik gendang tradisional Nias yang memainkanya dilakukan dengan mendudukan benda ini di atas tanah, ukuran alat muski ini jauh lebih kecil dibandingkan dengan Gondra.

 

6.      TABURANI

 

museum_pusaka_nias_alat_musik_tamburana

Taburani[29]

Taburani[30] adalah Alat musik tradisional Nias sejenis bedug yang hanya terdapat di rumah bangsawan.

  1. ARAMBA (Gong)

Aramba[31] adalah jenis alat musik tradisional Nias yang digunakan untuk pada acara-acara tertentu dalam kehidupan masyarakat Nias misalnya pesta adat untuk perkawinan, peristiwa pembunuhan, kebakaran, peperangan, kematian ketua adat dan Raja Adat.    Aramba terbuat dari logam dan di Nias ada beberapa jenis ukuran dan kegunaan. 

Aramba[32]

             7.1. Sejarahnya:

Aramba[33] ini adalah salah satu alat musik peninggalan leluhur yang diperkirakan telah berumur lebih kurang 100 tahun dan masih terdapat dan dipakai sampai sekarang. 

7.2.     Cara pembuatan

Aramba[34]

Masyarakat Nias membuatnya dari bahan campuran logam yang dicairkan oleh pandai besi dan membentuknya sesuai dengan bentuk dan ukuran yang dikehendaki.

7.3.  Cara memainkan

Alat musik aramba adalah salah satu jenis alat musik perkusi (alat musik pukul).   Aramba dimainkan dengan cara memukul bentolan alat tersebut yang terdapat di bagian tengah (hagu) dengan menggunakan kayu/stik yang ujungnya dibungkus dengan kain atau kain goni berbentuk bulatan.  Pada saat dimainkan alat ini dipukulkan dengan mengikuti irama alat musik lainnya.

 

Cara memainkan Aramba[35]

 

Alat musik ini bila dipakai pada waktu kebakaran, peperangan pembunuhan dan kematian ketua adat atau raja adat. Dengan memukul-mukul bentolan ( Hagu) Gong dengan menggunakan sepotong kayu yang dibungkus dengan kain atau goni. Fungsi Gong/ Aramba ini adalah memberitahukan/ memberi kabar bahwa ada sesuatu kejadian yang mengerikan atau kekacauan kepada seluruh penduduk desa dan sekitarnya.

          Memainkan aramba disesuaikan dengan peruntukan acara yang dilaksanakan.   Bentuk dan ukuran aramba pun disesuaikan dengan kebutuhan acara dimaksud misalnya :

a.       Aramba Duria/Famaonndru, untuk memanggil rakyat agar berkumpul dibalai atau duduk untuk menyiarkan pesan dari Salawa/Tuhenori. Besarnya melebihi sedikit besarnya Saraina, diameter 30cm.

b.      Aramba Fatao, untuk mengikuti bunyi Gondra dalam pesta adat, besarnya melebihi sedikit besarnya Famaondru, diameter 45 cm.

c.       Aramba Famolaya/Famanari, lebih besar dari Fatao. Dalam pesta adat setelah bunyi Fatao 2 kali, Aramba Famolaya/Famanari ini dibunyikan 1 kali, diameter 65 cm.

d.      Aramba Hongo, berukuran terbesar, terdalam dan bernada terendah. Dipakai untuk pesta Owasa Negeri dalam hal peresmian status sosial yang dihadiri oleh tokoh adat desa sekitar, diameter 80cm.

e.       Aramba Fa’awali/Famahono Lofo, ukurannnya merupakan yang terbesar dengan nada yang rendah. Alat ini diperdengarkan pada pesta Owasa besar, diameter 100 cm.[36]

 

  1. FARITIA (Canang)

8.1.           Sejarahnya

Alat musik Faritia[37] ini adalah peninggalan nenek moyang  orang Nias.  Alat musik ini  berasal dari luar daerah. Dan masih digunakan  sampai sekarang. Dapat diperkirakan  Faritia ini sudah berada di Nias lebih dari 100 tahun lamanya  dan telah menjadi alat musik  yang penting di Nias. 

 

Faritia[38]

Alat musik ini digunakan bersamaan dengan memainkan Gondra dan Aramba pada waktu pesta adat perkawinan.  Akan tetapi Faritia ini juga dapat digunakan tanpa Gondra dan Aramba saat mengiringi datangnya pengatin laki-lagi dan ketika meninggalkan rumah pengantin perempuan pada waktu pesat adat perkawinan.

8.2.           Cara pembuatannya

Alat musik ini dapat dibuat dari bahan-bahan berupa Bahan 1) Tembaga, kuningan, suasa dan nikel,  2)  Tali oholu, 3) kayu.

Faritia[39]

Alat musik Faritia ini adalah diperbuat dari pada campuran logam-logam tersebut diatas. Alat ini diperkirakan baru diketahui setelah pedagang-pedagang dari luar masuk ke daerah ini. 

8.3.           Cara Memainkan

Melodi bunyi alat musik Faritia :

1 3         1   3          1 1 3 3       1 1 3 3                          Atau

                        5    6       5    6        5 5 6 6       5 5 66

Faritia[40] ini dipakai pada waktu pesta adat seperti: pesta kawin, pesta owasa, dimainkan dengan  2 buah (sepasang) Faritia  oleh dua orang juga dengan menggunakan sepotong kayu bulat panjangnya 20 cm garis tengah 2 cm,. Alat musik ini dimainkan dengan cara  mereka memukulkan kayu tersebut pada bagian tengah dari Faritia yang menonjol. Kayu pukulan ini diusahakan kayu yang lembut/lunak, jangan yang keras. Kedua buah Faritia ini menghasilkan dua warna suara yaitu :

a.      Suara tinggi:  dinamakan Faritia perempuan ( Si alawe)

b.      Suara rendah: dinamakan Faritia laik-laki ( ( Si matua)

Cara memainkan Faritia[41]

Dipukul silih berganti untuk menghasilakan  suara/bunyi yang berirama bersahut-sahutan dengan berfariasi sesuai dengan cara memukulnya.  Ukuran-ukuran Faritia ini adalah:   Garis tengah penampang mulutnya +_ 18 cm, Garis tengah permukaan 1 cm lempengan +_ 21 cm, Lebar bibir melengkung +- 5 cm, tebal lempengan +- 4mm, Bagian yang menonjol pada permukaan; garis tengahnya - 4 s/d 5 cm dan tingginya 2 s/d 3 cm.

Jadi, alat ini berpasang-pasangan (sepasang atau lebih) untuk mengiringi rombongan dalam perjalanan dalam rangka pesta adat.   Biasanya alat ini pada saat dimainkan diiringi juga oleh tetabuhan Tamburu, sebagai pelengkap dalam seprangkat musik tradisional.    Alat ini juga dipakai sebagai pengiring fanari dan folaya bersama dengan intrument lainnya seperti Tutu, Fondrahi, dan Gondra[42]

 

  1.  DOLI-DOLI (Gahe/Ahita)

9.1.           Sejarahnya:

Doli-doli adalah suatu alat musik traditional jenis bilangan yang sering dimainkan oleh muda –mudi di ladang akan dibawah sambil menjaga burung dan sebagai penghibur leluhur. 

museum_pusaka_nias_ala_musik_doli_doli_gahe2

Doli-doli[43]

9.2.           Cara Pembuatan     :

Alat musik Doli-Doli ini dibuat dari pada kayu.  Kayu yang baik dipergunakan adalah jenis kayu “ duri dan kayu Handrifa” yang bulat batangnya dipotong dua potong panjangnya 30 s/d 50cm, kulit kayunya dibuka.  Lebar garis tengahnya kira-kira 5 s/d 6 cm, kemudian dibelah rata ditengah sehingga satu potong menjadi dua bilah yang sama. Kemudian dikeringkan selama  1 s/d 2 minggu lamanya.

 

Doli-doli[44]

Selanjutnya untuk membentuknya, bilah-bilah tadi diketok-ketok untuk mencari nada suara jika agak parau suaranya, maka sisi bilah belahan tadi diraut sedikit lalu diketok-ketok lagi untuk mencari nada yang sesuai dengan tinggi nada yang dikehendaki,  setidak-tidaknya terdapat urutan nada do-re-fa-mi.  Jumlah bilah doli-doli ini hanya 4 bilah saja.

 

9.3.           Cara Memainkan

Alat musik doli-doli ini disusun diatas pangkuan  pemain, dalam arti si pemain berada duduk di atas tempat yang agak tinggi sehingga kedua kaki gontai sedikit, selanjutnya keempat bilah kayu tadi disusun menurut tangga nada do-re-fa-mi.   

 

Cara memainkan Doli-doli

Kemudian  Doli-doli dimainkan dengan memakai 2 ( dua) potong kayu bulat ukuran kira-kira 20cm yang bergaris tengah 2cm.   Kayu ini adalah alat untuk memukul  bilah-bilah kayu (doli-doli) tadi yang berada diatas pangkuan silih berganti dipukul menurut nada/ lagu/ irama yang dikehendaki oleh si pemain (sj pendendang).

 

  1.  DOLI-DOLI BUE

10.1.      Sejarahnya

Doli-doli bue ini adalah alat musik, pelengkap alat-alat musik lain yang merupakan alat hiburan, alat ini adalah peninggalan leluhur masyarakat Nias.

 

museum_pusaka_nias_alat_musik_doli_doli_haua2

Doli-doli Bue[45]

 

10.2.      Cara Pembuatan

Doli-doli bue ini dibuat dari  sepotong kayu La’ore, Houra, Bui yang baru kurun panjang 20 s/d 100cm, yang bergaris menengah bulatan batang 6 s/d 8 cm. Mula-mula kulit kayu dikupas sesudah itu ditaruh melengkung dari ujung ke ujung sepertiga bulatan batang. Sisanya yang dua pertiga diraut halus dan disalah satu ujung dibuatkan lubang tempat ikatan tali rotan.

10.3.      Cara Memainkan:

Ujung doli-doli yang telah diikat dengan tali rotan tadi diikatkan pada satu tiang dalam rumah atau dimana saja pada tempat yang dapat memuat gantunagan doli doli tersebut.

Doli-doli Bue[46]

Ujung sebelah dipegang dan diambil sepotong dahan kayu yang bulat keras, panjangnya 20 s/d 30cm garis tengah  2cm, sebagai alat memukul. Doli-doli ini dimainkan dengan cara memukul  oleh seorang sambil memutar-mutar tangan pada ujung pegangan dan dipukul tengahnya, demikian dilakukan berulang-ulang.

 

11.   DURI GAHE

11.1.  Sejarahnya:

Alat musik ini adalah peninggalan nenek moyang ( leluhur). Benda aslinya sudah jarang terdapat lagi, karena daya bahan bambu kadang-kadang berapa waktu saja, atau mengalami kerusakan /pecah dan sebagainya. Maka alat musik ini boleh di dapat yaitu merupakan duplikatnya, yang dibuat dengan tidak menghlangkan ciri khas dan bentuk aslinya.

 

duri-gahe

Duri Gahe[47]

11.2  Cara Pembuatan

Dari beberapa batang  bambu, dikeringkan atau di simpan di dalam rumah menunggu sampai bambu itu tidak berair lagi (kering). Kemudian bambu ini dipilih tentang mana yang baik untuk dipotong atau dikerat. Di dalam pemotongan ini, buku bambu harus ikut serta dan berada di pertengahan bambu tersebut. Setelah dipotong (dikerat), maka diraut, sehingga membentuk cocor bebek atau dengan istilah daerah ( sobawa baewa).

Duri Gahe[48]

Pengrautan ini dimulai dari: buku bambu di ukur 0,5 s/d 4 cm. Kemudian dilobangi diukur antara buku bambu 2cm arah rautan cocor bebek yang garis menengahnya 0,5 cm. Lobang ini adalah lobang suara yang dapat menentukan atau mengecilkan suara. Seterusnya pengrautan tersebut dilakukan sebelah menyebelah batang bambu sehingga membentuk cocor bebek atau sobawa baewa. Jumlah alat ini adalah sepasang. Ukuran panjangnya: 1K. 40cm. Dengan garis menengah penampang bambu:  2,5 s/d 3 cm.

 

11.3. Cara Memainkan

Pada umumnya alat musik ini dipakai adalah untuk hiburan. Bilamana waktu senggang selesai kerja dan sebagainya.   Cara memainkan Durimbal ini adalah yang di pukulkan cocor bebeknya  pada paha atau dengkul kaki, sambil duduk bersila atau berdiri dengan jarin jempol mengatup-ngatupkan lobang suara, di samping getaran cocor bebek membentuk suara. 

 

12.  KOKO (Kentongan)

12.1. Sejarahnya

Kentongan/ koko ini juga peninggalan nenek moyang yang benda aslinya sudah langka tidak ada lagi.

museum_pusaka_nias_alat_musik_koko_koko2

Koko[49]

 

12.2.  Cara Pembuatan:

Salah satu  jenis kayu tersebut diatas dipotong sepanjang: 70 s/d 80 cm, yang bergaris tengah bulatan badannya 15 s/d 20 cm. Lalu dikuliti sehingga bersih.Kemudian dimulai membuat lubang ketinggian: panjangnya: 45 s/d 55 cm dan lebarnya 7 s/d 10 cm.

Koko[50]

 

Pada ujung sebelah atas dibuat mencuat tempat tali gantungan dan kemudian dilubangi tempat tali. Alat untuk membuat lubang kentongan adalah kapak. Pahat dan baliung.

12.3.  Cara pemakaian:

Kentongan (koko) ini digantung dirumah adat atau rumah kepala adat. Dan bila ada pertemuan atau sesuatu yang perlu untuk memanggil orang banyak.

Letak dan cara memainkan koko

 maka kentongan (koko) tersebut dipalukan dengan sepotong kayu yang telah disediakan dan biasanya berada dalam koko itu sendiri. Waktu digunakan adalah pada saat diperlukan atau saat penting.

 

13.        TABOLIA

13.1.      Sejarahnya:

Pada mulanya Tabolia ini adalah asal dari koko( keuntungan ) untuk memanggil/

membangunkan orang di desa bila ada kejadian huru-hara atau memanggil ibu diladang

yang bunyinya menangis-nangis di danau, digubuk  atau di rumah.   Suara kentongan ini  memang nyaring (baik) dan para seniman musik daerah mengambil perhatian, bahwa suara ini perlu dialihkan kedalam musik, maka lahirlah suatu pembuatan alat musik yang sangat identik dengan koko, yaitu tabolia.

 

museum_pusaka_nias_alat_musik_tabolia

Tabolia[51]

Dan alat musik ini adalah juga peninggalan leluhur dan aslinya juga sudah langka dan dapat di buat duplikatnya bila dikehendaki, dengan tidakmenghilangkan bentuk keasliannya.

13.2.      Cara pembuatan

Diambil sebatang bambu, kemudian dikerat sepanjang 40cm dengan ketentuan bahan Kedua bambu harus  ikut dalam keratan batang bambu itu. Garis menengah bambu tersebut Sebesar 10cm, pemotongan bambu pada salah satu buku. Dilewatkan dari buku bambu 3cm.  Dan ini adalah sebagai  kaki Tabolia. Kemudian pengeratan/emotongan pada buku bambu yang lalu: 10 cm dari buku bambu ke atas.Dan ini adalah sebagai . seterusnya bambu ini dikeringkan didalam rumah atau di asapi/digantung  diatas dapur dengan maksud agar bambu ini cepat kering. Waktu pengeringan selama 1 atau 2 minggu.

Tabolia[52]

Setelah kering, maka dimulailah pengolahannya yang pertama kali menaruh sebagian badan Tabolia dengan tujuan membuat lubang yang panjangnya 15cm  dan lebarnya 5cm, dari antara buku ke buku bambu itu  sendiri. Jarak anatara dari buku bambu sebelah atas ke rautan 4cm. Demikian pula sebaliknya jarak antara pada buku sebelah bawah (buku pada kaki Tabolia). Lubang ini adalah lubang suara. Dan pada kepala tabolia juga diraut membentuk suatu bilangan dengan menggunakan garis klasik yang merupakan niobawa lawolo.

 

13.3.      Cara Memainkan:

Tabolia ini di dudukkan di lantai sambil duduk untuk membuatnya, dengan mengguini nakan Sebuah atau sepotong kayu keras bulat garis tengah 2 s/d 3 cm panjangnya 1k. 25 s/d 30 Cm. Kayu ini dipukulkan pada dinding atau dimaksudkan ke lubang suara tabolia itu sendiri, Sesuai dengan penghayatan si penabuhnya. Alat ini dapat di gunakan untuk intro atau sound Efek dan sebagainya.

14.        Tutuhao/Tutuhena

14.1.      Sejarahnya

Alat musik ini adalah peminggalan leluhur ( nenek moyang). Dan jarang sekali terdapat lagi  Yang sudah berumur.Karena benda ini adalah dibuat dari bambu, maka berapalah daya tahan bambu, dan apalagi bila mengalami  kerusakan dan sebagainya.

 

tutu-hao

Tutuhao[53]

14.2.      Cara Pembuatan

Dibuat dari pada seruas bambu yang tua, termasuk kedalam ruas tersebut. Adapun  ukuran  Ruasnya: panjang 1k: 70cm dan garis menengah bambu: 10cm. Kemudian senarnya terdiri  Dari  kulit badan bambu itu sendiri yang di cungkil membentuk senarnya yang lebarnya: 0,5 cm dan tebalnya 2cm. Sejumlah 2 (dua) buah senar.

Tutuhao[54]

 Pada ujung-ujung kedua senarnya  diberi ganjal yang dibuat dari kayu yang apanjangnya: 1cm , dan besarnya ; Garis menengah:  O,5 cm, sehingga tempatnya lebih tinggi dari pada permulaan badan tubuhnya itu sendiri. Ditengah-tengah badan tutuhao dekat senr ( disamping) dibuat sebuah lobang: 2,5 cm garis  menengahnya. Lubang ini adalah lubang suara. Selanjutnya pada senar  yang tidak berdekatan dengan Lubang suara, diberi sebuah kuda-kuda yang tingginya 4 s/d 5cm, sehingga menimbulkan suara tinggi yang letaknya dipertengahan senar. Dan tempat lidah suar ini tepat ( setengah) lubang suara. Ujung sebelah kiri lubang. Kemudian kedua bambu tersebut juga di lubangi dengan ukuran garis menengahnya 1 cm juga sebagai lubang suara.

14.3.      Cara Memainkan

Alat musik ini adalah golongan alat musik pukul. Musik ini ditabuh pada waktu senggang dan cara memainkannya sambil duduk dan Tutuhao ini disandarkan pada lutut kiri, sedangkan ujung Tutuhao yang lain disebelah berada dibawah Tutuhao ini ditabuh dengan memakai pukulan sepotong kayu. 

 

Cara memainkan Tutuhao[55]

Dan gendang dan gong. Kemudian tangan kiri, memeti-suara gendang.  Tutuhao terbuat dari seruas bambu (Hao, Kauko/Lewuo Guru) yang kedua ujungnya berbuku.

 

15.        RITI-RITI SOLE

Alat musik Riti-riti sole ini dibuat dari tempurung kelapa yang diisi dengan biji-jian kemudian dimaikna dengan pada kedua tangan dan digerak-gerakkan.

 

museum_pusaka_nias_alat_musik_riti_sole

Riti-riti sole[56]

 

B.  JENIS ALAT MUSIK GESEK

 

1.   LAGIA

Lagia adalah alat musik tradisional Nias, termasuk sebagai alat musik gesek  merupakan peninggalan leluhur Nias.

 

lagia

Lagia[57]

 

 Sampai sekarang benda ini tidak dapat dilupakan oleh masyarkat Nias tetap benda aslinya tidak ditemukan lagi  karena kurangnya  pengurusan,  hanya duplikatnya saja yang ada.

 

1.1. Sejarah

Sejarah alat musik Lagia dilatarbelakangi oleh cerita rakyat[58] dimana seorang anak yatim  bernama Ba’aruna, anak dari seorang janda bernama Bulu Mbagoa yang beberapa waktu kemudian meninggal dunia.  Sejak ia ditinggal ibunya tidak ada lagi orang yang menjaga dan merawatnya, hingga suatu saat ia terkena penyakit kulit yang sangat menjijikan, ia dijauhi orang dan dibuang ke hutan.   

Berbekal kapak kecil yang ia bawa, ia memahat kayu yang sudah kian berlubang dan ia membuat alat musik dari kayu tersebut dangan menggunakan tali dari “waifo” sejenis tumbuhan merambat dan menyebut benda tersebut sebagai Lagia.  Kemudian ia menggesek Lagia tersebut dengan menyanyikan lagu balada yang begitu menyayat hati.   Warga kampung yang mendengar lagu tersebut merasa tergugah dan membawanya kembali ke kampung mereka.

 

1.2.  Cara membuat

Untuk membuat alat musik Lagia diperlukan bahan-bahan dari :  1. Batang aren dan batang Nibung,   2. Kayu, 3. Akar salak, 4. Tali rotan,   5. Pelepah pinang.  Lankah-langkah yang dilakukan untuk membuat alat musik Lagia adalah :

Lagia[59]

 

a.       Mula-mula batang aren/batang nibung dipotong sepanjang lebih kurang 50cm, garis tengahnya 20cm. Kemudian kulit ari dibuang lalu sesudah itu dilubangi/ dikerak dimulai dari pemulaan ujung sebelah sampai tembus ke ujung sebelah, pinggirnya tebalnya 1cm.

b.      Setelah selesai pengerekan dan dibersihkan maka dipilih sepotong kayu untuk lahan lagia yang ditempatkan pada salah satu ujung penampang atau dibuat lubang ditengah-tengah badan lagia, lalu leher/kayu dipancangkan dengan baik, gunanya tempat mengikatkan ujung tali senar dari akar salak.

c.       Ukuran kayu tiang/ leher lagia kira-kira 60 s/d 70cm, lebarnya/tebalnya 3 cm, dengan cara perautan tiang/ leher ini berangsur – angsur menipis sampai ke ujung tebalnya tinggal 7 m lagi.

d.      Selanjutnya ujung penampang lainnya ditutup dengan pelepah pinang ( mowa wino) yang mudah kering dengan memberikan perekatnya/lemnya dari getah kayu mbinu-mbinu. Setelah itu dibuat lubang ditengah-tengah tutup tadi dengan ukuran 2 cm X 3 cm.

e.       Leher lagia diikatkan pada badan lagia pada tempat yang sudah ditentukan kemudian diikat dengan tali rotan yang selanjutnya juga menjadi ikatan kayu leher lagi.

f.        Sebelah bawah yang langsung berhubungan dengan pangkal tali senar untuk selanjutnya diteruskan ke atas ( ke ujung kayu leher lagia yang ) melalui ujung penampang yang telah ditutup tadi dengan pelepah pinang .

g.       Kemudian diberi kuda-kuda tali senarterbuat dari bahan kayu yang bercabang dua dan diletakkkan pada pinggir lubang suara, sedang tali senar berada diatas kuda-kuda yang melalui pertengahan tutup pelepah pinang yang berlubang tadi.

h.      Kemudian pada ujung tali senar yang diikatkan pada ujung atas leher lagia diikatkan rautan tali rotan yang agak halus guna menekan tali senar itu berfungsi sebagai alat menyetem tinggi rendah pada suara lagia.

i.        Penggosok lagia terdiri dari bahan rotan atau bilah bambu yang dilengkungkan bentuknya setengah atau seperempat lingkaran. Caranya membentuk dengan mengikatkan tali rotan/ akar salak pada ujung keujung dengan tegang yang ukuran panjangnya setidak-tidaknya 30cm.

   1.3.  Cara Memainkan

Bunyi alat musik lagia :

1    2      1      1       .       1    2    1    1    .    .    .

haoyo    Lagia               haoyo  Lagia

Alat musik ini adalah alat musik gesek jenis biola yang tergolong dalam musik hiburan. Musik gesek  lagia ini dimainkan oleh seorang pemain yang duduk di lantai.  Pemain lagia menyandarkan lehernya pada ujung leher lagia sebelah atas.

Cara memainkan Lagia[60]

Jari jempol kiri dimasukkan diantara tali dan dengan senarnya dan seterusnya jari telunjuk dan jari tengah berganti-ganti menekan tali senar yang digesek agar terdapat irama yang dikehendaki sesuai dengan tembangan lagu yang dilagukan oleh sipemain lagia.  Letak duduk si penggesek lagia harus berada pada permukaan badan lagia dekat piring suara atau pelepah pinang penutup sebelah atas. Lagia ini biasa dimainkan orang pada waktu senggang sebagai hiburan pelipur lara.

 

2.  RABA

Raba adalah alat musik yang berasal dari Tello, sebuah alat musik gesek dibuat dari tempurang, sebatang kaya dan tali.  Pada tempurung dipasang tali dan dibuatkan juga alat geseknya.

Cara memainkan Raba[61]

C.  JENIS ALAT MUSIK TIUP

 

1.      TAMBURA DANO

Alat musik tradisional ini dibuat dengan menggali tanah ditutup dengan mowa fino, di atasnya dipasang wewe iti-iti (ici-ici) sejenis tumbuhan menjalar.

museum_pusaka_nias_istiadat_alat_musik_tamburu_dano

Tambura dano[62]

2.      NDURI MBEWE

 

ndruri-mbewe

Ndruri Mbewe[63]

 

Alat musik ini dibuat dari besi yang diletakkan di mulut yang terbuka.  Kemungkinan besar alat musik ini di bawa oleh misionaris ke Nias.

 

Cara memainkan Ndruri Mbewe[64]

3.      NDURI WETO

Ndruri weto adalah alat musik yang sama dengan ndruri mbewe cara menggunakannya yakni dimainkan pada mulut yang terbuka, namun dibuat dengan bahan yang berbeda. Ndru weto dibuat dari Feto.

 

museum_pusaka_nias_ala_musik_ndruri_weto

Ndruri weto[65]

 

 

4.       SIGU ( Suling)

sigu-lewuo

Suling[66]

4.1.           Sejarahnya

 Alat ini adalah sejenis alat musik tiup peninggalan leluhur. Alat musik ini masih dipakai sekarang oleh orang-orang diladang/ sawah.

 

4.2.           Cara Pembuatan:

Dipilih sebatang bambu yang agak tipis dan ruas bukunya agak panjang kurang lebih 30 s/d 40 cm. Bambu ini biasa disebut “ Lewuo mbanua”  dipotong seruas yang sesuai ukuran diatas dan bergaris menengah penampangnya 1.5 cm. Kemudian diberi lubang 4 buah berturut-turut dengan jarak tiap lubang 2 s/d 2,5 cm. Jarak lubang pertama + _ 3 cm.

 

Suling[67]

Ujung sebelah tidak berbuku tetapi penampangnya disumbat dengan sepotong kayu lembut yang berukuran 3 cm panjangnya lalu diberi lubang tepinya, ini adalah jalan embusan/tiupan.

 

4.3.           Cara Memainkan

Cara memainkan Suling[68]

Alat musik  ini dimainkan orang dengan cara meniup pada mulut yang telah disumbat dan 2 jari kanan menekan 2 buah lubang dan 3 jari kiri menekan 2 buah lubang juga sedang kedua jari besar menekan dari bawah, lalu diembus berganti-ganti jari-jari tadi buka tutup. Disesuaikan dengan lagu yang akan ditembangkan oleh sipemain.

5.         RIRI LEWUO

Riri lewuo adalah alat dari bambu yang di tiup, berasala dari Nias Utara

 

Riri Lewuo[69]

6.             FIFI FOFO

Fifi fofo adalah alat musik yang sangat sederhana dibuat dari bahan bambu atau kayu sejenis.  Alat musik ini berguna untuk menirukan suara burung, sering dipergunakan oleh pemburu untuk menangkap burung.   Alat musik ini dikenal juga dengan nama ufu-ufu.

Riri lewuo[70]

B.  JENIS ALAT MUSISK PETIK

7.         MAGE-MAGE (Koroco)

Mage-mage adalah alat musik yang sangat populer di Nias, dimainkan dengan cara yang hampir sama dengan gitar.

mage-mage

Koroco[71]                                   Cara memainkan koroco[72]

BAB III

NYANYIAN TRADISIONAL NIAS

 

A.         JENIS-JENIS NYANYIAN ORANG NIAS

 

1.      Nyanyian di pesta (sinuno ba gowasa)

Nada fangowai :

5             .      5    5    5    3    3    3    3   .   .   .

No          so   a   mi  i -  ra   a-  ma

 

1.1.            Bölihae

Boli hae dilakukan oleh tamu pada saat mereka mengikuti pesta. seperti mendirikan rumah Adat, molau mbanua, molau öri, pesta pernikahan (fagowalu), famasindro gowe, dalam melaksanakan bölihae diiringi dengan maena dari tuan rumah (sowatö), dan tamu (tome). Serta diiringi dengan  gözö-gözö atau  nyanyian bebas, contohnya naese-naese. Maola dilakukan oleh tuan rumah,  maola ibarat sepatah kata.[73]

 

1.2.            Maola-maola yang di lakukan oleh tuan rumah dan tamu.

o   Sowato

Fanehe: sindruhu sa niwaö’u andrö solau maola, arara sa niwao’u andro bame yaia

Tola maola :

1.      Ba da wö uborogo sa maola da,

Baya wo utohu doi khomi bagamaedola

2.      Hanasa, wa mi o oudo andro sa ba maola,

Irono wo draodo khomi andro wo silo mangila.


3.      Mi tegu we draono andro wo sangaoha-ngaoha,

Lo lai zatua ebolo wo dodora.

Lo lai zatua ebolo wo dodora.

 

4.      Hadia wo tacufa andro wo dola sa maolada,

Hadia wo tacufa doi wo khomi gamaedola.

 

o   Tome

1.3.            Fanehe : sindruhu sa niwaö’u andrö solau maola, arara sa niwao’u andro bame yaia

Tola maola :

1.      iza nina sobowo andro wa torosi,

iza nina so wua khomi ba ndrima laosi

 

2.      iza wo me moi mangawa ia me moi mondri,

tou wo ba hele tolu khonia teoli.

           

3.      Icueni sa nora hao kho nia ora ohi,

Icueni we noro kho nia siwa wosi.[74]

 

1.4.            Fanehe fangowai atau fame afo :   

                        5    .    3     .

                        He -   e

 

2.      Hoho (Wolaya, hiwö, wanari, maena) dalam masyarakat Nias

Syair pada tari folaya

0    1    1    1    2    3    4    3    2    .    2

                Ae  da  ta-lau       mo -     la  -    ya

0    1    1    1    2    3    4    3    2    .    2

      Mo-la-ya  ma-     na  -    li     -    khi

 

3.      Pengertian hoho

Secara etimologi kata hoho berasal dari akar kata oho (angin sepoi-sepoi). Dalam kaitannya dengan komunikasi atau pembicaraan umum, terutama dalam kegiatan sosial dan budaya, hoho berarti pengungkapan pikiran, perasaan, atau ide kepada orang lain dengan meilih kata yang menarik dan disampaikan dengan lemah lembut seperti tiupan angin sepoi-sepoi.[75]  Salah satu kebiasaan Ono Niha dalam menyampaikan ide, pikiran, perasaan yakni dengan hoho (puisi kuno). Contoh penggunaan hoho  dalam tindak tutur :

 

Penutur A:

Ba he yaugo amagu Balugu

He yaami amagu Salawa

 

Yae zumange sino ona-ona

Yae zumange si lo bago-bagolo

 

Penutur B:

Ba yaia ae zumange andre Balugu

Yaia ae mbeeso ndra salawa.

 

Hoho ini dituturkan oleh penurut A pada saat memberikan sesuatu (sumange) kepada penutur si B. dalam sastra Melayu hoho ini dapat disejajarkan dengan syair. Atau dalam tradisi lisan Jawa memiliki kesamaan (tidak persis sama) dengan macapat. Jadi hoho adalah salah satu tradisi lisan Nias berbentuk syair yang ditembangkan untuk menyampaikan sesuatu pikiran, perasaan, atau ide. Hoho adalah salah satu tradisi lisan Nias yang merupakan ungkapan perasaan atau nyanyian keluh kesah dan di nyanyikan orang dalam pesta-pesta adat.

 

4.      Bentuk hoho

Hoho dalam masyarakat Nias pada hakikatnya berbentuk syair. Hoho ini diucpkan oleh seseorang pada saat pesta adat (mungkin pesta pernikahan) dari pihak tamu. Dalam acara pesa pernikahan masyarakat Nias ada dua pihak yang turut berperan yaitu pihak pengantin laki-laki yang disebut tome, (tamu) dan pihak pengantin perempuan yang disebut sowato (pemilik rumah/keluarga). Jadi sebelum pembicaraan dilanjutkan, pihak sowato wajib memberikan afo (sekpur sirih)  kepada tome yang diantar dengan hoho. Kemudian tome pun wajib menerimanya dengan hoho pula[76]. 

Ho ho terbagi beberapa bagian yaitu untuk kematian, dan pesta. Ho ho dalam pesta ada 2 yaitu ada dari sowato dan tome. Yang membedakan hoho kematian dengan hoho pesta yaitu berdasarkan syair hoho. Hoho untuk kematian hanya dilakukan kepada keluarga bangsawan atau satua Banua, yang dipimpin oleh ere. 

Wolaya hampir sama dengan boli hae,  hiwo adalah salah satu tarian dari nias, yang dilakukan oleh laki-laki dan perempuan, wanari dan maena merupakan ciri khas orang Nias dan daerah  dimana untuk mempererat hubungan persaudaraan serta kekompakan dalam suatu perkumpulan namun beda kelompok.

 

5.      Hendri-hendri

 

5    3    5    3    0    5    .    3    5    3    5 

Ae  ba  no  ta  -    te   -   ma  na  -    fo

 

 

o   Sowato :

Ae bano tabe’e nafo, ae bano zitenga bӧ’ӧ

Hatotoi nafo bowo, hakoli-koli mbua mawӧ-mawӧ,

 

Ha leu-leu dawuo danӧ,

Ayau wa’ebolo dӧdӧ

yaugo sitenga bӧ’ӧ andro da’ӧ.

 

o   Tome :

Ae bano matema nafo Moroi badanga zo watӧ,

Bama owai afo manӧ,

 

Fӧfӧnafo ndrundru tanӧ

Sifao memufailo mbowo raya ba mboto Mazingo.

 

Si hekeini bae. Ae he he he he dan seterusnya:

Akha alawa Hendri – hendri Sowato moroi ba Dome. Niwao gamaedola Alawa ngofi moroi ba molo.

 

o   Sowato

 

Mutandrosaigo,

Andro waatumbu khoma lala wamoto-motokhi,

Andro waatumbu khoma lala waneha nehago.

 

Yaaga simano sowato melo ayama uwu mbalota mbago, ha maola-maola uwu duru. Hamaola maola uwu danga. Ha kalinawa todo lalu’a, ha sarano talinga za’a, no mafo’osi ombuyu dalu mbenua, baato sifasala bawamailo, bago sifasala ba wanada, fofo nafo boro zinumana. Heebolo dodo mihona lo’o ira ama/ina.[77]

 

6.      Hu ina

Hu ina ini, dilakukan oleh pengantin perempuan pada saat acara fame’e bene’ö, dimana pengantin perempuan atau bene’ö menangis kepada orangtuanya, saudara dan keluarga besarnya karena pertanda mengakhiri masa dewasanya atau onolawe dan membentuk keluarga baru (mogambato), dimana ia hidup bersama suaminya dan mertuanya. Ini menandakan bahwa pengantin perempuan sedih karna berpisah dengan keluarganya yang melahirkan dia.

 

7.      Fanguhugo adalaah pertanda mulai sebuah acara adat.[78]

Holi-holi wanguhugo yaita sihasara dodo....oooo

Huuuu

8.      Nyanyian pada saat kematian

a)     Fange’esi : luapan perasaan orang yang ditinggal oleh orang yang meninggal karena berpisah dengan keluarga untuk selamanya.

b)     Hoho ba zimate : ini dilakukan kepada golongan bangsawan untuk menjunjung tinggi kehormatan pemimpi kampung atau satua mbanua, yang dilakukan oleh ere.[79]

Andro owulo ita oi faondra,

Andro owulo it oi so,

 

            Andro tokea tobali-bali dodo,

            Andro tokea tobali-bali mbo,

 

Me so yomo garamba ni zambu-sambua,

Me so dutu nihela famago,

 

            Me so yomo zatua sawali-wali,

            Me so yomo zatua saetu no so.[80]

 

9.      Sinuno ba wo’adu

a)     Fo’ere :    

Fo’ere adalah sebuah instrumen perkusi tradisional di Nias Selatan, yang berfungsi mengiringi pengucapan mantra. Fo’ere memiliki bentuk yang dapat dibagi menjadi tiga bagian yaitu: bidang atas, tengah dan bawah. Pada bidang tengah dan bawah tidak digunakan sebagai bidang pukul. Antara bidang atas dan bidang tengah terdapat pahatan yang sedikit lebih dalam sehingga berkesan berpinggang. Fo’ere digunakan sebagai alat musik pukul untuk mengiringi upacara yang berkaitan dengan religi lama. Fo’ere hanya digunakan oleh para ere (dukun), sehingga fo’ere memiliki tempat yang sangat sacral bagi masyarakat Nias (alat musik fo’ere sering disamakan dengan alat musik fondrahi)[81]

b)     Foere ba ngawalo Nadu

Tuha Mbumbu

Ibozi fondrahi ere imane :         

                  Mogaoni nonobohu bola                   

mogaoini nono si matua,

ikaoni Zobawi Si Hono,

Ikaoni Zobawi Banua.

           

....

            Oi fakao niha ba mbato

            Oi fakao niha ba zua

            La be zumange solifua

            Fasombata kho Lowalangi

 

Fasombata kho  Luo Sambua,

Ae timba lala wa’amate,

Ae timba lala wamunua,

Ae timba horo ba danari,

O timba horo ba mbanua.[82]

....

 

                                   

B.         NYANYIAN LAINNYA

a)     Ngenu-ngenu       : sebuah ratapan isi hati dalam kehidupan sehari-hari.

b)     Mbolo-mbolo   : ini merupakan nyanyian sembarangan dimana syairnya tidak menentu, namun ini merupakan penghibur saja saat lagi suntuk.

c)      Mangdolu

d)     Kibu-kibu

Contoh lagu saat menghibur diri ketika menjaga sawah atau ladang :

 

e)     Lailo/miti-miti : ungkapan perasaan yang dimiliki seseorang untuk menghibur dirinya yang lagi sedih atau suntuk.

 

 

C.         MUSIK DAN NYANYIAN MODERN

 

            Pada pertengahan abad ke 19 masyarakat Nias mengenal alat musik modern seperti Biola, Gitar, piano, drum, dan keyboard sehingga banyak masyarakat menciptakan lagu-lagu Nias yang diiringi oleh musik modern bahkan melakukan rekaman, jadi pengaruh ataupun kolaborasi musik Nias tradisional dan musik modern tidak dapat dihindarkan[83] .  Contoh lagu-lagu Nias modern sangat kenal baik oleh masyarakat Nias, lagu ini sangat populer ditengah masyarakat Nias baik yang ada di Nias lbeih lagi bagi mereka yang telah lama hidup di perantauan.

 

           

 

 

 

 

 

BAB  IV

PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN

 

A.         WARISAN LELUHUR

Nenek moyang atau leluhur masyarakat Nias telah mewarisi musik tradisional bagi generasi sekarang ini, memang dalam kenyataannya masyarakat Nias tidak dapat dipisahkan dari seni musik, boleh dikatakan bahwa masyarakat  Nias tidak dapat hidup tanpa musik yang mengiringi kegiatan ritual, kebudayaan dan kehidupan sehari-hari baik mereka yang memiliki keahlian dalam memainkan alat musik, bernyanyi maupun yang memiliki hobby mendengarkan musik.

Seni musik telah menjadi tradisi dalam kehidupan kebudayaan masyarakat Nias, baik itu seni memainkan alat musik maupun seni vocal yang ditampilkan baik dalam kegiatan perorangan, kelompok dan dalam kegiatan-kegiatan ritual apalagi dalam kegiatan adat istiadat dan budaya pasti tidak lepas dari seni musik.

Karena itu musik tradisional Nias telah menjadi bagian dari kehidupannya dimana  musik menandai setia aktifitas sehari-hari, hal tersebut terlihat dari  pemakaian alat musik bagi masyarakat Nias dapat dibedakan menurut jenis dan fungsi bahkan status orang yang memainkannya juga tempat dimana musik itu dimainkan, misalnya untuk musik hiburan, musik ritual, musik untuk komunikasi dan musik untuk acara adat istiadat.

 

B.       KEPUNAHAN

Masyarakat Nias memiliki kurang lebih 24 bentuk-bentuk alat musik yang telah diwariskan oleh para leluhur masyarakat Nias, akan tetapi sangat disayangkan karena dari 24 alat musik yang berhasil diteliti ternyata hanya tiga alat musik yang masih sering digunakan yaitu Gondra, Aramba dan faritia, sedangakan alat musik lainnya sebanyak 21 jenis sangat jarang digunakan dalam bentuk foto dan duplikat yang dapat dilihat di Museum Pusaka Nias.

Alat musik tradisional Nias akan punah karena cara membuat tidak diwariskan, cara memainkannya tidak diajarkan secara turun temurun sementara mencipta atau pembuat alat musik tersebut sudah meniggal dunia.   Dewasa ini, generasi muda  banyak yang tidak berminat menggunakan alat-alat musik tradisional, karena kehadiran musik modern yang dapat mewakili nada, melodi dan irama musiknya.

Kendatipun demikian, Puji Tuhan, karena saat ini pihak Museum Pusaka Nias sedang berusaha membuat kembali alat musik tradisional tersebut untuk dilestarikan dan dikembangkan, walaupun benda-benda asli dari setiap alat musik tradisional Nias tersebut belum dapat ditemukan apakah masih ada atau tidak.

           

C.   PENGELOMPOKKAN ALAT MUSIK

Alat  musik tradisional Nias  dapat dikelompokkan berdasarkan cara pemakaiannya seperti :

1.1.           Jenis alat musik perkusi (pukul):

1)     Gondra

9)   Doli-doli

2)     Tamburu

10) Doli-doli bue

3)     Tutu

11) Koko

4)     Fondrahi

12) Tabolia

5)     Fafa’i

13) Tutuhao

6)     Taburani

14)  Duri Gahe

7)     Aramba

15)  Riti-riti Sole

8)     Faritia

 

1.2.           Jenis alat musik Gesek:

9)     Lagia

10)Raba

11)Tambuni Dano

1.3.           Jenis alat musik tiup:

1)      Nduri Mbewe

2)     Ndrui Weto

3)     Sigu

4)     Fifi Fofo

5)     Riri Lewuo

1.4.           Jenis alat musik petik :

1)     Mage

2)     mage (Koroco)

 

            Alat-alat musik tradisional Nias tersebut di atas dapat berfungsi sebagai alat musik yang menghasilkan irama dan nada tertentu sesuaia dengan kebutuhan dan peruntukannya, namun beberapa alat musik Nias memiliki kelemahan karena tidak memenuhi semua nada dalam solmisasi.

 

  1. Kegunaan alat musik dan lagu tradisional Nias

2.1.           Musik ritual

Sebelum masyarakat Nias mengenal Injil, nenek moyang telah memiliki kegiatan ritual dengan menghormati roh-roh nenek moyangnya yang telah meninggal dan menyembah roh-roh yang diyakini berdiam di pohon-pohon besar, gua-gua dan gunung-gunung tertentu.  Untuk melakukan hal tersebut maka masyarakat Nias menggunakan jasa Ere (imam, pawang atau dukun) untuk melakukan ritual yang disebut sebagaio fo’ere.

Ere akan melakukan ritual dengan mengucapkan mantra-mantra yang diiringi dengan musik  Fondrahi dan Tutu, jadi kedua alat musik tersebut dikenal sebagaio alat musik untuk memanggil arwah nenek moyang yang telah meninggal, memuja roh-roh.  Tujuan foere ialah untuk meminta berkat dan menyembuhkan penyakit.   Jadi kedua alat musik tersebut dikenal sebagai alat musik ritual kepercayaan kepada roh nenek moyang yang telah meninggal dan memuja roh-roh.

2.2.           Musik hiburan (Fondrara dodo)

Masyarakat Nias yang mayoritas bercocok tanam seperti sawah dan ladang yang berlokasi jauh dari tempat bermukim sehingga mendirikan pondok-pondok (Ose-ose) karena keadaan yang sunyi, maka untuk menghibur diri mereka memainkan alat musik atau benyanyi  dengan menggunakan musik seperti :


1.      Lagia

2.      Doli-doli

3.      Tabolia

4.      Koko

5.      Duri gahe

6.      Tutuhao

7.      Tamburu

8.      Sigu


 

Alat instrument tersebut di atas digunakan juga untuk mengiringi nyannyian lainnya, seperti :

1.      Solo     : lailo, ngenu-ngenu atau mbolo-mbolo

2.      Tarian : Bolihae, hiwo-hiwo, Hoho, hendri-hendri, maola dan Liwa-liwa.

 

2.3.           Musik komunikasi

Masyarakat Nias memiliki dua alat musik yang berguna sebagai alat komunikasi dalam memanggil, memberikan aba-aba, dan ronda malam, kedua alat musik tersebut adalah :

1)     Koko adalah kentongan yang terbuat dari bahan kayu

2)     Tabolia kentongan yang terbuat dari bahan bambu

Kedua alat musik tersebut dipergunakan untuk kehipan keseharian warga  masyarakat Nias dalam berkomunikasi jarak jauh dengan sesama warga

       lainnya seperti :

1)     Memanggil atau mengingatkan orang-orang yang sedang bekerja disawah atau ladang untuk kembali ke rumah karena waktunya pulang atau ada sesuatu yang terjadi di rumahnya misalnya ada anaknya yang sakit atau mereka kedatangan tamu penting di rumah.

2)     Memberikan aba-aba kepada warga untuk berkumpul karena ada kebakaran, pencurian, musuh yang menyerang dan juga untuk memanggil warga ke balai desa untuk mengadakan pertemuan.

3)     Sebagai hiburan bagi penunggu sawah atau ladang bila diserang ras ngantuk.

2.4.           Upacara adat

Musik tradisional Nias sangat berguna untuk acara adat istiadat seperti pesta perkawinan, kematian para bangsawan/tokoh adat, pemberian gelar kebangsawanan.  Alat musik yang digunakan adalah :

1)     Gondra

2)     Aramba

3)     Faritia

Bahkan juga dipakai untuk mengiringi tari-tarian, seperti : tari Moyo, tari Nihele, fanari Saembu dan tarian penghormatan kepada tamu.

2.5.           Lagu Tradisional Nias

Lagu tradisional Nias sudah ada sebelum Injil masuk ke pulau Nias, itulah sebabnya lagu tradisional Nias tidak ditujukan untuk menyembah Tuhan Yesus Kristus tetapi Hoho atau syair lagu tradisional Nias ditujukan untuk menyembah roh-roh nenek moyang yang telah meninggal dan menyembah roh-roh yang ada di alam semesta yang diwujukan melalui foere.

Syair hoho ditujukan juga untuk ungkapan penghibur diri, berkomunikasi dengan sesama dan alat untuk ungkapan penghormatan dalam acara-acara adat istiadat di tengah masyarakat Nias.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB V

UPAYA MEMPERKAYA LITURGI BNKP

 

            Masyarakat Nias memiliki kekayaan seni musik yang bernilai sangat  tinggi.  Nenek moyang masyarakat Nias telah mewarisi kepada generasi sekang alat-alat musik yang sangat indah dan menghasilkan bunyi-bunyian yang mampu menggugah hati setiap kali musik tersebut didengarkan.    Masyarakat Nias juga memiliki nyanyian dalam bentuk hoho syair lagu yang mengandung makna yang sangat dalam dan sangat berarti dalam kehidupan karena memiliki tujuan kemanusiaan dan keilahian.   Masyarakt Nias tidak bisa lepas dari musik dan tidak bisa hidupan tanpa musik.

 

A. IBADAH

 

Salah satu kebiasaan nenek moyang Nias pada zaman dulu adalah menggunakan.  Alat musik –khususnya- Fondrahi dan Tutu untuk “ibadah” menyembah roh-roh dan memuja dan menghormati roh nenek moyang untuk memohon berkat dan pertolongan.   Hal itu terjadi sebelum Injil masuk ke Nias.   Kebiasaan menggunakan alat musik untuk menyembah roh-roh sudah lama ditinggalkan oleh masyarakat Nias umumnya,  seiring dengan Injil Kristus yang telah memasuki kehidupan masyarakat Nias, Injil telah menguduskan kehidupan beribadah masyarakat Nias dan tentunya Injil juga menguduskan semua hasil karya kebudayaan orang Nias termasuk alat-alat musik, irama dan nada nyanyiannya.

            Kebiasaan menggunakan musik tradisional untuk ibadah ini perlu terus dilestarikan, dihidupkan dan dikembangkan dengan menggunakan  musik dan nada serta irama nyanyian tradisional dibawa masuk kedalam liturgi gereja dalam bentuk ibadah. 

 Salah satu contoh nyanyian berirama etnik Nias adalah Buku Zinuno No. 261 ;

 

 

 

261. YA'E ZUMANGE

 

  1. (ira alawe) Ya'e zumange fasõmbata, ma'ohe sumange Yehowa.

 (iramatua) Ma'andrõ khõu fahowu'õ, zumange ni'ohema khõ-Mõ.

 

  1. (ira'alawe) Ya'e zumange fasõmbata, mabe'e soroi dõdõma.

(iramatua) Ma'andrõ khõu fahowu'õ, zumange ni'ohema khõ-Mõ.

 

  1. (ira alawe) Ya'e zumange fasõmbata, buala si'otarai nama.

(iramatua) Ma'andrõ khõu fahowu'õ, zumange ni'ohema khõ-Mõ.

 

  1. (ira alawe) Ya'e zumange fasõmbata, boto, noso, ba fa'aurima.

(iramatua) Ma'andrõ khõu fahowu'õ, zumange ni'ohema khõ-Mõ.

 

  1. (ira alawe) Ya'e zumange fasõmbata, lõ irugi zomasi dõdõ-U.

 (iramatua) Ma'andrõ khõu fahowu'õ,zumange ni'ohema khõ-Mõ.

 

  1. (ira alawe) Ya'e zumange fasõmbata, ma'aohasi gõlõ Zo’aya.

 (iramatua) Ma'andrõ khõu fahowu'õ, zumange ni'ohema khõ-Mõ.

 

 

Lagu tersebut sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dalam Kidung Keesaan No. 386;

Karena musik dan nyanyian tidak dapat dipisahkan dari  perkembangan dan kehidupan liturgi di gereja.   Saat ini hampir semua gereja-gereja bercorak Lutheran di Indonesia menggunakan musik dan nyanyian bercorak barat.   Sudah saatnya gereja bercorak Lutheran menggunakan musik-musik tradisional untuk mengiringi liturgi dalam gereja khususnya dalam masyarakat Nias yang kehidupannya digerakkan oleh musik dan lagu, adalah hal yang sangat mendasar untuk menggerakkan jiwa dan kehidupan masyarakat Nias dengan musik dan lagu tradisionalnya sendiri karena dapat menghantar  jiwa dan semangat jemaat untuk beribadah.

 

B.  FUNGSI ALAT MUSIK DALAM IBADAH

Musik Nias full dapat ditempatkan dalam liturgi BNKP sebagai pengiring lagu-lagu tertentu dalam ibadah, alat-alat musik tersebut adalah ; Gondra, Aramba, Faritia, doli-doli, sigu, dll.

 

 

 

1.1.           Liturgi/Tata Ibadah

Tata Ibadah

Nyanyian

Alat musik pengiring

 

 

 

 

Persiapan Ibadah

 

BZ. 1 = Haleluyah kho Yehowa

 

  1. Haleluya khõ Yehowa, wa'omuso dõdõgu. Suno Ia si lõ'aetu, khõ-Nia wanunõgu. Sagõtõ fa'aurigu, lõ ubato wanuno

 

 

  1. Gondra
  2. Aramba
  3. Faritia
  4. Doli-doli
  5. Sigu

 

 

 

 

 

Lagu pujian

 

BZ. 10 = Moroi ba dododa

 

  1. Moroi ba dõdõda, ta'andõ saohagõlõ. Khõ Lowalangida, sanolo no abõlõ. Sagõtõ ya'ita, lõ ifamalõsa,  Wanolo ya'ita, da'õ nisunoda.

 

 

 

  1. Gondra
  2. Aramba
  3. Faritia
  4. Doli-doli
  5. Sigu

 

 

 

Pengakuan dosa

BZ. 212 = Metana khou ndrao

 

  1. Me tana-khõ-U ndra'o, Lowalangi. Khõu udõna-dõna, wangorifi. He asese farõi ndra'o ba wamati. Lõ nirõi-Mõ ya'o,Lowalangi.

 

  1. Gondra
  2. Aramba
  3. Faritia
  4. Doli-doli
  5. Sigu

 

 

 

 

Pesembahan

 

BZ. 261 = Yae zumange

 

  1. (ira alawe) Ya'e zumange fasõmbata, ma'ohe sumange Yehowa.

 (iramatua) Ma'andrõ khõu fahowu'õ, zumange ni'ohema khõ-Mõ.

 

 

  1. Gondra
  2. Aramba
  3. Faritia
  4. Doli-doli
  5. Sigu

 

 

 

 

 

 

 

 

Persiapan Khotbah

 

BZ. 163 = Uhonogo Sibai dodogu

 

Uhonogõ sibai dõdõgu, Ba wamondrondrongo li-Mõ Yesu. Mangalulu ndra'odo fõna-U ba gametahõ-Mõ iada'a.

Obayoini eheha-U Yesu,  dozigõ mbanua samati khõ-U. Ubokai dõdõgu khõu Yesu,nahia daromali-U.

 Taromali-Mõ lõ fa'atebulõ, menewi, ma'õkhõ,  Ba si'ogõtõ'õ, lõ sa mamalõ. Taromali-Mõ simõi fangabõlõ,  Utema'õ soroi ba dõdõ,  tolo ba wolo'õ.

 

 

  1. Gondra
  2. Aramba
  3. Faritia
  4. Doli-doli
  5. Sigu

 

 

 

 

Respon atas Pemberitaan Firman Tuhan

BZ. = No mafondrondrongo Liu

 

  1. No ma fondrondrongo li-U, Lowalangi So’aya.  Tanõ badõdõma ia, fabõi olifuga. Fahowu'õ ia khõma, ena'õ ohahau dõdõma fefu. Heta badõdõ zi lõ sõkhi, ma'o'õ niwaõ-U.

 

  1. Gondra
  2. Aramba
  3. Faritia
  4. Doli-doli
  5. Sigu

 

 

 

 

Penutup Ibadah

BZ. Ba danga Lowalangi

 

  1. Ba danga Lowalangi, be lalamõ andrõ. Sangila mamolala, abula dõdõ-Mõ. Andrõ bõi ae ba mbõ'õ, na tosasa dõdõ. Fõna Yesu õtou'õ, Irara dõdõmõ

 

 

  1. Gondra
  2. Aramba
  3. Faritia
  4. Doli-doli
  5. Sigu

 

 

C. KOLABORASI

Kendatipun alat musik tradisional Nias dapat mengiring lagu-lagu tetapi musik Nias tetap membutuhkan musik lain untuk berkolaborasi, apalagi musik Nias tidak memiliki solmisasi dan accord  yang lengkap.  Kalaborasi akan menghasilkan irama musik yang indah dan  menciptakan ruang bagi musik Nias  yang kurang mendapatkan tempat, bahkan kolaborasi akan membuat alat musik Nias bertahan juga tidak membosankan bila dikemas dengan baik bahkan akan mengangkat hati untuk memuji Tuhan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KESIMPULAN DAN SARAN

 

Dalam Alkitab khususnya kitab Perjanjian Lama terdapat beberapa kitab yang memuat tentang alat-alat musik yang digunakan untuk memuji TUHAN.   Alat-alat musik baik yang  dicatat dalam Alkitab adalah alat musik yang dihasilkan oleh budi dan daya (budaya) manusia secara tradisional oleh manusia yang hidup di zamannya dan digunakan untuk memuji TUHAN.

Dalam Alkitab terdapat bebearapa alat musik seperti alat musik tiup yakni :  Syofar Ibrani  שׁוֹפָר , Nafiri, Trumpet (Ibrani: חֲצֹצְרָה – Khatsuts’rah), kecapi/ harpa (Ibrani: כִּנּוֹר - Kinor), Seruling/pipe dalam bahasa Ibrani adalah חָלִיל – Khalil dan suling (Nekhilot) kata Ibrani: נְּחִילֹות - Nekhilot (bentuk plural).

Alat musik bersenar seperti : kecapi/ harpa (Ibrani: כִּנּוֹר - Kinor) dan Seruling/ flute/ pipe (Ibrani עוּגָב - Ugav) dan Ada jenis alat musik petik berdawai 8 yang disebut שְּׁמִינִית – Syeminit, istilah Ibrani מִינִּים – Minim ada Alat musik yang disebut שָׁלִישׁ – Syalisy  dan   גִּתִּית - Gitit.

Alat musik perkusi (pukul)Rebana dalam bahasa  Ibrani adalah : תֹּף – Tof, Ceracap dalam bahasa Ibrani: צְלָצַ  – Tselatsal, metselet dalam bahasa Ibrani adalah : מְצֵלֶת - Metselet, kelentung, castanets/ sistrums adalah מַנְעַנְעִים Mene'anim, giring-giring kuda, Kerencingan kuda (Ibrani: מְצִלֹּות הַסּוּס – Metsilot Hasus), Guitar adalah  קִיתָרֹס - Qitaros atau קתרוס - Qatros (bahasa Aramaic), סַבְּכָא - Sabkha dan Serdam kata Aramaic: סוּמְפֹּנְיָה -Sum’pon’yah.

Musik tradisional Nias musik warisan nenek moyang masyarakat Nias yang bernilai seni tinggi.  Nias memiliki lebih dari 24 jenis dan bentuk  alat musik tradisional akan tetapi hanya sekitar 3-5 jenis alat musik yang selalu dipergunakan , seperti ; Gondra, Aramba,            Faritia, Doli-doli dan Sigu, namun alat-alat musik tersebut akan menuju kepada kepunahan bila tidak dilestarikan.

Nyanyian masyarakat Nias yang dikenal dengan Hoho juga memiliki Nilai seni yang sangat tinggi,  Hoho Nias sarat dengan makan yang menganggungkan sang pencipta, relasi dengan sesama, diri sendiri dan alam semesta.   Hoho Nias akan semakin berkembang bila diaktualkan dalam kehidupan masyarakat Nias pada zaman modern ini.

Injil membawa perubahan mendasar bagi kehidupan masyarakat Nias, musik dan nyanyian berubah arah dari menyembah roh-roh orang yang sudah meninggal dan memuja roh-roh kepada Allah yang hidup di dalam Tuhan Yesus Kristus.   Alat-alat musik Nias perlu diberi tempat dalam ibadah disamping sebagai sarana pendukung liturgi juga melestarikannya.

Oleh karena itu alat musik dan nyanyian tradisional Nias tidak lagi dipandang sebagai alat untuk tujuan animisme tetapi telah menjadi simbol kebudayaan masyarakat Nias untuk kemuliaan Tuhan.

            SARAN-SARAN

1.      Semua alat musik tradisional Nias perlu diproduksi ulang

2.      Semua alat musik Nias perlu dilestarikan agar tidak punah

3.      Alat musik Nias perlu dikembangkan penggunaanya di dalam kegiatan kemasyarakatan dan keagamaan

4.      Musik tradisional Nias terus dikolaborasikan dengan musik modern melalui festival-festival musik

5.      Nyanyian-nyanyian Nias diperlombakan untuk menarik minat penyanyi, pemerhati musik dan pencipta lagu

6.      Perintah dan gereja perlu membuat dan mengembangkan sanggar budaya Nias untuk memelihara musik Nias

7.      Gereja perlu juga menciptkan tata ibadah alternatif untuk memberi tempat bagi musik tradisional Nias dan musik kolaborasi dalam liturgi di BNKP.

 

 AFTAR

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 _______________Alkitab edisi Studi, Jakarta: LAI,2013

                     Achmadi, H. Abu dan Narbuko Cholid, Metodologi Penelitian,  Jakarta: Bumi Aksara, 2013.

                    Arikunto, Suharsimi., Prosedur Penelitian (suatu pendekatan praktik), Jakarta: Rineka Cipta, 2010.

                    Arlette Ziegler dan Alain M Viaro. Traditional architecture of Nias Island. Gunung Sitoli: Yayasan Pusaka Nias, 1993.

                    Bernard Niali, P Telaumbanua, OFMCap Disampaikan pada Semiloka dan Diskusi Panel Tentang BNKP dan Budaya

                   B. Bevans Stephen. Model-model teologi kontekstual. Yogyakarta: Ledalero, 2013

              

                 Dra Pestaria Naibaho, M. Th dan Simion Diparuma Harianja. Liturgi.  Dan musik Gerejawi Medan: Mitra dwi Lestari, 2011

 

                 Edward Rommen dan Hesselgrave David J. Kontekstualisasi Makna, Metode, dan model. Jakarta: BPK Gunung Mulia,  2010 dan musik gerejawi.

 

                Emanuel Martasudjita, Emanuel, Pr., Liturgi,  Pengantar untuk Studi dan Praktisis Liturgi Yogyakarta:Kanisus, 2011

                  Gulo. W Injil dan Budaya Nias9 laporan seminar lokakarya perjumpaan injil dan budaya Nias di Gunung Sitoli, Nias 6-8 Maret 2004). Panitia seminar lokakarya perjumpaan Injil dan budaya Nias 2004.

                  Hesselgrave David J. Communicating Christ cross- culturally second edition. Malang: Literatur SAAT,2005

 

                 Jebadu, Alex,  Bukan Berhala!( penghormatan kepada para leluhur). Yogyakarta: Ledalero, 2009.

                 M Hammerle, Johannes (Editor)., Hikaya Nadu.Gunung Sitoli: Yayasan Pusaka Nias, 1995.

                 M. Hammerle Johannes. He’iwisa ba dano Neho?. Gunung Sitoli: Yayasan Pusaka Nias,1998.

                 M Hammerle Johannes. Tuturan Tiga sosok Nias. Gunung Sitoli: Yayasan Pusaka Nias, 2008

              M Hammerle Johannes. Ulu noyo ( cerita rakyat di hulu sungai oyo), Gunung Sitoli: Yayasan Pusaka Nias, 2012

                   M Hammerle Johannes. Asal-usul Masyarakat Nias. Gunungsitoli: Yayasan Pustaka Nias, 2015

                  Nias Dalam Rangka Perayaan Yubileum 150 Tahun Misi di Nias, Auditorium STT BNKP Sundermann,  23 September 2015

                  Rachman, Rasid, Pengantar Sejarah Liturgi, Tangerang: Bintang Fajar, 1999

                  Sarosa, Samiaji, Penelitian Kualitatif ( dasar-dasar), Jakarta: Indeks, 2012.

                  Subagyo, Andreas B, Pengantar Riset (kuantitatif dan kualitatif), Bandung: Yayasan Kalam  Kudus, 2004.

                 Stauffer, S. Anita., Christian Worship: Unity in Cultural Diversity, Departement for Theology and Studies LWF, Geneva, 1996.

                 Saleh, Widdwissoeli. Hari raya dan Simbol Gerejawi. Yogyakarta: Taman Pustaka Kristen, 2008 Niebuhr H Richard Kristus dan Kebudayaan. Jakarta: Petra Jaya, 2016

                Telaumbanua, Dr. Sadieli ,  “Representasi Budaya Nias Dalam Tradisi Lisan” Gunungsitoli 2006)

                Peter Henriot SJ dan Joe Holland Analisis Sosial dan Refleksi teologis (kaitan iman dan keadilan) Yogyakarta: Kanisius, 1985

 

               Prier sj, Karl-Edmund, Sejarah Musik jilid 1, Yogyakarta Pusat Musik Liturgi,1991

 

              Wiradnyana, Ketut “Legitimasi Kekuasaan Pada Budaya Nias” Yayasan Pustaka Obor Indonesia 2010)

 

 


 PUSTA



[1] .....................Alkitab edisi Studi, (Jakarta: LAI, 2013) h. 10006

[2] Karl-Edmund Prier sj,  Sejarah Musik jilid 1, Yogyakarta Pusat Musik Liturgi,1991, h. 13-17

[3] Wawancara dengan O’o Zebua, Pemerhaiti dan pencipta lagu-lagu Nias, 19 dan 23 Agustus 2017

[4] Wawancara dengan Pastor Yohanness Hammerle, Pendiri Museum Pusaka Nias.

[5] Hasil wawancara kepada bapak Hezatulö Ndruru (menjaga ruang pameran atau konservasi di Museum Pusaka Nias)

[6] Wawancara kepada bapak Hezatulö Ndruru,  (staf  Museum Pusaka Nias)

[7] Simion Diparuma Harianja dan Dra. Pestaria Naibaho, liturgi dan musik gerejawi (Medan, Mitra (IKAPI: 2011) 49

[8] Emanuel Martasudjita, Pr., Liturgi, Pengantar untuk studi dan praksis liturgi (Semarang: Kanisius 2011) 195-196.

[9] Alat musik Gondra milik STT BNKP Sundermann, disimpan di Laboratorium Musik

[10] http://www.museum-nias.org/tarian-musik/

 

[11]101 Kumpulan catatan Pra survey benda-benda koleksi kebudayaan kabupaten Nias, h.16-17, 1984

[12] 101 Kumpulan catatan pra survey...h.16-17

[13] Bahasa dan sastra Nias...h. 119-120, 2003

[14] Para mahasiswa STT BNKP Sunderman sedang memainkan Gondra

[15] http://www.museum-nias.org/tarian-musik/

[16] 101 Kumpulan catatan pra survey....15

[17] 101 Kumpulan catatan pra survey...h...31

[18]http://www.museum-nias.org/tarian-musik/

[19] 101 Kumpulan catatan pra survey...14

[20] http://www.museum-nias.org/tarian-musik/

[21] 101 Kumpulan catatan pra survey...12

[22] http://www.museum-nias.org/tarian-musik/

[23] Bahasa dan sastra Nias, h. 116

[24] 101 kumpulan catatan pra survey...h.30

[25] Ensiklopedia Pusaka Pulau Nias, halaman sampul dan h. 22

[26] http://www.museum-nias.org/tarian-musik/

[27] http://www.museum-nias.org/tarian-musik/

[28] http://www.museum-nias.org/tarian-musik/

[29] http://www.museum-nias.org/tarian-musik/

[30] http://www.museum-nias.org/tarian-musik/

[31] 101 Kumpulan catatan pra survey...18

[32] Aramba milik STT BNKP Sundermann disimpan di Laboratorium Musik

[33] 101 Kumpulan catatan pra survey...h.20-22

[34] 101 kumpulan catatan pra survey...h. 34

[35] Mahasiswa STT BNKP Sunderman sedang memainkan Aramba

[36] Makalah Tim Penata Karya Seni Budaya Nias bekerjasama dengan Dinas Pariwisata Kab. Nias, h. 119 tahun 2003

[37] 101 Kumpulan catatan pra survey...18

[38]Faritia milik STT BNKP Sundermann disimpan di Lab Musik

[39] 101 kumpulan catatan pra survey...33

[40]101 Kumpulan catatan pra survey...h. 18-19

[41] Mahasiswa STT BNKP Sundermann sedang memainkan Faritia

[42] Makalah Tim Penata Karya Seni Budaya Nias..., h. 118., 2003

[43] http://www.museum-nias.org/tarian-musik/

[44] 101 kumpulan catatan pra survey...h.26

[45] http://www.museum-nias.org/tarian-musik/

[46] 101 kumpulan catatan pra survey....h. 26

[47] http://www.museum-nias.org/tarian-musik/

[48] 101 kumpulan catatan pra survey...h.27

[49] http://www.museum-nias.org/tarian-musik/

[50] 101 kumpulan catatan pra survey...h.37

[51] http://www.museum-nias.org/tarian-musik/

[52] 101 kumpulan catatan pra survey...h.29

[53] http://www.museum-nias.org/tarian-musik/

[54] 101 kumpulan catatan pra survey...h.28

[55] http://www.museum-nias.org/tarian-musik/

[56] http://www.museum-nias.org/tarian-musik/

[57] http://www.museum-nias.org/tarian-musik/

[58] Tim penyusun Ensiklopedia Pusaka Pulau Nias, (Gunungsitoli:PNPM-R2PN, 2011) h.24-25

[59] 101 kumpulan catatan survey...h.25

[60] http://www.museum-nias.org/tarian-musik/

[61] http://www.museum-nias.org/tarian-musik/

[62] http://www.museum-nias.org/tarian-musik/

[63] http://www.museum-nias.org/tarian-musik/

[64] http://www.museum-nias.org/tarian-musik/

[64] 101 kumpulan catatan pra survey...h.27

[65] http://www.museum-nias.org/tarian-musik/

[66] http://www.museum-nias.org/tarian-musik/

[67] 101 kumpulan catatan pra survey...h.36

[68] http://www.museum-nias.org/tarian-musik/

[69] http://www.museum-nias.org/tarian-musik/

[70] http://www.museum-nias.org/tarian-musik/

[71] http://www.museum-nias.org/tarian-musik/

[72] http://www.museum-nias.org/tarian-musik/

[73] Hasil wawancara kepada bapak Hezatulö Ndruru (menjaga ruang pameran atau konservasi di Museum Pusaka Nias)

[74] OFM.Cap, P.Johannes M. Hammerle Ulu Noyo, cerita rakyat di hulu sungai oyo.(penerbit: Yayasan Pusaka Nias Maret 2012). Hal 125-126

[75] Wawancara dengan P.Johannes Hammerle 24 Juni 2017

[76]Dr. Sadieli Telaumbanua, M.Pd, M.A “Representasi Budaya Nias Dalam Tradisi Lisan” Gunungsitoli 2006, hlm 70-73

[77] Hasil wawancara kepada bapak Hezatulö Ndruru (staf pameran atau konservasi di Museum Pusaka Nias)

[78] Wawancara, Hezatulo Ndruru, staf Museum Pusaka Nias, 21 Agustus 2017

[79] Wawancara, Hezatulo Ndruru, Staf Museum Pusaka Nias,21 Agustus 2017

[80] P. Yohannes M. Hammerle, OFMCap, Lawaendrona (Gunungsitoli : MPN, 1-2) 2013

[81] Ketut Wiradnyana “Legitimasi Kekuasaan Pada Budaya Nias” Yayasan Pustaka Obor Indonesia 2010, hlm 32-34

[82] P. Yohannes M. Hammerle, OFMCap, Hikaya Nadu (Gunungsitoli : MPN, 527) 1995

[83] Wawancara dengan Bp. Faty Zebua, pemerhati musik Nias, penulis dan pencipta lagu tradisional Nias dan musik modern

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jawaban Tuhan di Awal Tahun

Alat Musik Tradisional Nias (Penelitian)

BAB I PENDAHULUAN                Penelitian ini adalah penelitian dosen STT BNKP Sundermann dalam upaya melaksanakan salah satu unsur da...

Khotbah