PENDAHULUAN
Penelitian ini terinspirasi dari isi Alkitab tentang alat-alat musik yang digunakan dalam memuji dan memuliakan TUHAN khususnya kitab-kitab Perjanjian Lama sebagai landasan Alkitabiah dalam melakukan penelitian.
Dalam konteks masyarakat Nias sangat
relevan untuk kontekstualisasi isi Alkitab yang berkaitan dengan alat-alat
musik. Masyarakat Nias memiliki ragam
seni budaya yang tidak lepas dengan penggunaan alat-alat musik termasuk hal-hal
yang bersifat “pemujaan” .
Untuk itu penelitian ini dilakukan
dalam rangka menggali kembali alat-alat musik tradisional Nias baik dari sisi
sejarah, cara membuat dan cara menggunakannya.
Dalam observasi awal ternyata masyarakat Nias memiliki banyak alat-alat
musik yang dapat dipergunakan, namuh hanya sedikit saja yang digunakan pada
masa kini.
Hasil dari penelitian ini akan mengupayakan
sumbangsih untuk memperkaya liturgi BNKP.
Untuk mencapai hasil maksimal penelitian ini melibakan mahasiswa dalam
mendapatkan data-data yang diperlukan dan melakukan kajian untuk memadukan
unsur alat musik tradisional Nias dan alat muski modern dalam liturgi BNKP.
A.
LATAR BELAKANG MASALAH
Dalam Alkitab peran alat-alat musik
sangat besar fungsi, manfaat dan kegunaannya dalam mendukung segala yang
bernafas memuji TUHAN. Pada awal zaman
Perjanjian Lama alat-alat musik sudah mulai diciptakan seperti alat musik tiup
dan berdawai dan digunakan untuk nyanyian memuji TUHAN, seperti pada waktu
pembebasan Umat Israel dari kejaran Firaun (Kel 15:21), Kemenangan Deborah dan
Barak atas raja Sisera (Hakim 5), Pada waktu sepuluh perintah Allah
diturunkan. Kuasa Tuhan nyata pada
waktu memainkan alat musik (2 Raja 3: 14-15), dan Raja Daud menggunakan alat
musik untuk memuji TUHAN atas kemenangan yang diraih berkat pertolongan TUHAN[2].
Alat musik perlu dilestarikan dan
dijaga karena alat musik dapat digunakan untuk memuji TUHAN atas kemenangan,
sukacita maupun dukacita dan bahkan
dalam mencari kehendak TUHAN.
Dalam kitab-kitab Perjanjian Lama
ada beberapa alat musik yang diciptakan dan digunakan untuk memuji TUHAN.
1.
ALAT
MUSIK TIUP
1.1. Syofar,
Sangkakala (Trumpet)
Pujilah Dia dengan tiupan
sangkakala, pujilah Dia dengan gambus dan kecapi ! (Mazmur 150:3)
Alat musik Syofar Ibrani שׁוֹפָר adalah yang paling sering disebut dalam Kitab
Mazmur. Alat musik ini terbuat dari tanduk binatang misalnya tanduk kambing
atau domba atau antelop.
Syofar/Sangkakala
(trumpet) dipakai untuk menyambut para penguasa dan pada hari-hari raya. Syofar
terbuat dari Tanduk Hewan.
1.2. Khatsuts’rah
– Nafiri (Clarion/Trumpet)
Tiuplah trompet dan sangkakala, bersoraklah bagi
TUHAN, Raja kita. (Maz. 98:6).
Menurut ayat di atas, Nafiri, Trumpet (Ibrani: חֲצֹצְרָה
– Khatsuts’rah) dimainkan bersama dengan Sangkakala (Ibrani: שׁוֹפָר
- Syofar).
Alat bunyi-bunyian ini dimaksudkan
untuk membuat tanda-tanda, agar orang-orang Israel tahu kapan mereka harus
memulai perjalanan dan kapan harus berhenti.
1.3. Seruling
(Flute)
Pujilah Dia dengan rebana dan tari-tarian, pujilah
Dia dengan permainan kecapi dan seruling (Maz. 150:4), Kejadian 4:21.
Alat musik kecapi/
harpa (Ibrani: כִּנּוֹר - Kinor)
dan Seruling/ flute/ pipe (Ibrani עוּגָב - Ugav).
Dalam Ayub 21:12; 30:31 disebutkan bahwa Yubal
adalah bapa semua orang yang memainkan kecapi dan suling. Yubal mungkin adalah
penemu alat musik berdawai maupun alat musik tiup, atau mungkin ia memelopori
suatu profesi, yang memberikan dorongan besar untuk kemajuan musik.
Sesudah itu engkau akan sampai ke Gibea Allah,
tempat kedudukan pasukan orang Filistin. Dan apabila engkau masuk kota, engkau
akan berjumpa di sana dengan serombongan nabi, yang turun dari bukit
pengorbanan dengan gambus, rebana, suling (Khalil) dan kecapi di depan mereka;
mereka sendiri akan kepenuhan seperti nabi. (1 Samuel 10:5). Seruling/pipe
dalam bahasa Ibrani adalah חָלִיל – Khalil.
1.5. Nehilot, Suling/Klarinet
Untuk pemimpin biduan. Dengan permainan suling
(Nekhilot). Mazmur Daud. (5:1-2) Berilah telinga kepada perkataanku, ya TUHAN,
indahkanlah keluh kesahku.
Terdapat kata Ibrani: נְּחִילֹות
- Nekhilot (bentuk plural), adalah sejenis alat musik tiup, suling/ klarinet/
pipe.
2. ALAT
MUSIK BERSENAR
Alat musik kecapi/ harpa (Ibrani: כִּנּוֹר
- Kinor) dan Seruling/ flute/ pipe (Ibrani עוּגָב
- Ugav), adalah 2 alat musik yang disebut pertama kali dalam Alkitab :
Nama adiknya ialah
Yubal; dialah yang menjadi bapa semua orang yang memainkan kecapi (KINOR) dan
suling. (Kejadian 4:21). Pujilah Dia
dengan tiupan sangkakala, pujilah Dia dengan gambus dan kecapi (Kinor)! Mazmur
150:3
Kinor adalah
jenis Lyra/ kecapi kecil ini itu adalah kecapi yang dimainkan dipangkuan
seseorang dengan memetik senarnya, yang menurut bukti sejarah dan arkeologi,
senarnya ini dibuat dari usus domba.
2.2. Sheminit, Kecapi
Untuk pemimpin biduan. Dengan permainan kecapi.
Menurut lagu: Yang kedelapan. Mazmur Daud.
Ya TUHAN, janganlah menghukum aku dalam murka-Mu, dan janganlah
menghajar aku dalam kepanasan amarah-Mu. Mazmur 6:1-2
Ada jenis alat
musik petik berdawai 8 yang disebut שְּׁמִינִית -
Syeminit, Syeminit ini diyakini sebagai alat musik yang digunakan dalam
berbagai aktivitas. Instrumen kecapi dengan 8 atau 10 dawai yang dimainkan di
acara-acara yang sangat khusus.
2.3. Minim
Pujilah Dia dengan rebana dan tari-tarian, pujilah
Dia dengan permainan kecapi dan seruling!.
Mazmur 150:4
Istilah Ibrani מִינִּים
- MINIM, ini tidak terlalu jelas bagaimana bentuk-bentuknya. Namun beberapa
penafsir melihat "MINIM" ini adalah jenis-jenis musik petik berdawai.
2.4. Shalish
Tetapi pada waktu mereka pulang, ketika Daud kembali
sesudah mengalahkan orang Filistin itu, keluarlah orang-orang perempuan dari
segala kota Israel menyongsong raja Saul sambil menyanyi dan menari-nari dengan
memukul rebana, dengan bersukaria dan dengan membunyikan gerincing. 1 Samuel
18:6
Alat musik yang disebut שָׁלִישׁ
- SYALISY/ SHALISH adalah alat musik berbentuk segi tiga dengan tiga tali, ini
mungkin adalah salah satu "alat musik" yang dimainkan oleh wanita dan tidak
diikutsertakan dalam orkes di Bait Suci.
2.5. Gitit,
Gittith
Untuk pemimpin biduan. Menurut lagu: Gitit. Mazmur
Daud. (8:2) Ya TUHAN, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi!
Keagungan-Mu yang mengatasi langit dinyanyikan. Mazmur 8:1-2
Dalam bahasa Ibrani
גִּתִּית – Gitit, Instrumen
musik yang khusus ini adalah semacam kecapi, yaitu alat musik berdawai yang
permainannya dengan petikan.
3. ALAT
MUSIK PERKUSI (Pukul)
3.1.
Tof, Rebana (Tabret, Timbrel)
Mengapa engkau lari diam-diam dan mengakali aku?
Mengapa engkau tidak memberitahu kepadaku, supaya aku menghantarkan engkau
dengan sukacita dan nyanyian dengan rebana (Tof) dan kecapi ?. Kejadian 31:27
Rebana dalam bahasa Ibrani: תֹּף – Tof.
Tof ini digunakan juga oleh para gembala dan juga banyak digunakan dalam banyak
upacara menggunakan alat musik ini. "Tof" selalu berhubungan dengan
lagu-lagu keriangan dan terhubung dengan tarian dan lagu-lagu pujian (lihat
Mazmur 150:4).
3.2. Tselatsal Ceracap (Cymbal, Jingle)
Metselet dalam bahasa Ibrani adalah : מְצֵלֶת
- Metselet, yang diterjemahkan "ceracap." Tapi jelas dalam 1 Tawarikh
15:16 alat music yang disebut "Metselet" ini juga digunakan dalam
masa Raja Daud
Ceracap digunakan bersama-sama dengan nafiri dan
para penyanyi untuk mengungkapkan sukacita dan ucapan syukur kepada Tuhan (1
Tawarikh 15:16; 16:5).
3.3. Meneanim, kelentung, Sistrum/Castanets
Daud dan seluruh kaum Israel menari-nari di hadapan
TUHAN dengan sekuat tenaga, diiringi nyanyian, kecapi, gambus, rebana,
kelentung dan ceracap. 2 Samuel 6:5
Dalam
bahasa Ibrani kelentung, castanets/ sistrums adalah מַנְעַנְעִים
Mene'anim adalah jenis-jenis alat musik perkusi sejenis "kelentung,"
dari bahan logam panjang dalam bentuk tertentu yang dipukul.
3.4. Metsilot, Giring-giring/Bell
Giring-giring kuda, Kerencingan kuda (Ibrani: מְצִלֹּות
הַסּוּס –
Metsilot Hasus). Giring-giring kuda, Kerencingan kuda digunakan juga dalam
menyajikan musik sebagai jenis alat musik perkusi.
Pada hari itu akan tertulis pada giring-giring kuda,
"Kudus bagi TUHAN ." Dan belanga-belanga di bait TUHAN akan menjadi
seperti bokor-bokor penyiraman di depan mezbah. Zakharia 14:20.
3. 5. Guitar (Qitaros/Qatros)
Dalam bahasa Ibrani Guitar adalah קִיתָרֹס - QITAROS
atau קתרוס - QAT'ROS
(bahasa Aramaic).
Demi kamu mendengar bunyi sangkakala, seruling,
kecapi, rebab, gambus, serdam dan berbagai-bagai jenis bunyi-bunyian, maka
haruslah kamu sujud menyembah patung yang telah didirikan raja Nebukadnezar
itu, Daniel 3:5.
3. 6. Sabekha, Rebab
Demi kamu mendengar bunyi sangkakala, seruling,
kecapi, rebab, gambus, serdam dan berbagai-bagai jenis bunyi-bunyian, maka
haruslah kamu sujud menyembah patung yang telah didirikan raja Nebukadnezar
itu. Daniel 3:5
Kata Aramaic: סַבְּכָא
– Sabekha, Rebab, adalah alat musik berbentuk segitiga dengan empat senar,
mirip dengan "kecapi". Dalam LAI-TB diterjemahkan dengan
"rebab" yaitu alat musik berdawai dari Arab.
3.7. Sum’pon,
Serdam
Demi kamu mendengar bunyi sangkakala, seruling,
kecapi, rebab, gambus, serdam dan berbagai-bagai jenis bunyi-bunyian, maka
haruslah kamu sujud menyembah patung yang telah didirikan raja Nebukadnezar
itu. Daniel 3:5
Kata Aramaic: סוּמְפֹּנְיָה
-Sum’pon’yah, diterjemahkan dengan "serdam" yaitu alat musik tiup
seperti suling.
Dalam konteks masyarakat Nias
sebelum masyarakat Nias menjadi orang Kristen maupun setelah menjadi orang yang
percaya kepada Tuhan Yesus, masyarakat Nias sudah mengenal alat musik bahkan
menciptakan alat musik sendiri untuk keperluaan pemujaan, pesta-pesta dan hiburan-hiburan,
dapat dikatakan bahwa alat musik tidak bisa lepas dalam kehidupan keseharian
masyarakat Nias. Karena itu penulis mengadakan penelitian tentang alat-alat
musik tradisional Nias, untuk mengenal karya seni masyarakat Nias, cara
membuat, sejarah dan penempatannya dalam liturgi untuk memuji TUHAN.
Urgensi
penelitian ini ialah kondisi musik tradisional Nias terancam punah dan
penggunaan musik tradisional Nias dalam liturgi di gereja adalah sebuah ironi
karena gereja lebih banyak menggunakan musik modern sebagai pengiring lagu
dalam ibadah daripada musik yang dihasilkan oleh kebudayaanya. Liturgi alternatif untuk musik tradisional
dan kolaborasi dengan musik modern menjadi komunisi yang dapat melestarikan
seni musik Nias.
Penelitian
ini berjudul : Alat-alat Musik Tradisional Nias (Penelitan tentang upaya memperkaya liturgi BNKP)
Rumusan
masalah penelitian adalah :
Bagaimana musik tradisional Nias memperkaya liturgi BNKP ?
C.
TUJUAN PENELITIAN
1. Tujuan
penelitian
Berkenaan
dengan rumusan masalah tersebut di atas maka tujuan penelitian ini adalah :
1) Menemukan
jenis-jenis alat musik tradisional Nias
dan mencari arti dan maknanya musik tradisional Nias
2) Menguraikan
cara membuat musik tradisional Nias
3) Menuliskan sejarah singkat setiap alat musik trasional
Nias
4) Mengklasifikasikan fungsi dan kegunaan musik
tradisional
5) Menemukan
Jenis/pola nyanyian orang Nias
6) Menempatkan
musik tradisional Nias dalam susunan liturgi
D.
METODE PENELITIAN
Metode penelitian yang digunakan adalah metode pendekatan
kualitatif deskriptif yang berkarakteristik alami sebagai sumber data langsung
yang mengutamakan proses penelitianm menganalisa secara induktif untuk
mendapatkan makna hasi yang esensial.
Berdasarkan penelitian kualitatif
tersebut di atas maka peneliti akan melaksanakan kegiatan penelitian berupa;
pemerikasaan data-data hasil wawancara mendalam tentang sejarah, cara pembuata
dan kegunaan dari objek penelitian yang berkaitan dengan gejala, pengalaman,
cara hidup, makna, data, informasi, isi dan faktor-faktor.
a.
Sumber data dan
tempat penelitian :
Sumber
data utama penelitian ini adalah kata-kata dan tindakan informan dana alat-alat
musik tradisional Nias baik yang diobservasi secara langsung, terdokumentasi
maupun foto-foto dari objek penelitian. Untuk mendapatkan data-data dimaksud
maka peneliti (sebagai instrument penelitian)
ini akan melakukan wawancara kepada ahli seni budaya Nias,
pemerhati alat-alat musik tradisional
Nias dan tokoh masyarakat Nias yakni :
1) Pastor
Johannes Hammerle
2) Para
staf Museum Pusaka Nias
3) O’oziduhu
Zebua (Ama Dendi)
Lokasi
penelitian adalah :
1. Kota
Gunungsitoli
2. Museum
Pusaka Nias
3. Perpustakaan
Museum Pusaka Nias
b.
Teknik Pengumpulan
Data
Wawancara
adalah metode dalam pengumpulan data
yang menggunakan model wawancara Andreas W. Subagyo, yakni wawancara
mendalam (tidak terstruktur) yang untuk keterbukaan, keterlibatan emosional dan
kepercayaan pewawancara dan orang yang akan diwawancarai (informan). Dalam hal wawancara mendalam ini peneliti
akan :
a. Memberitahukan
informan tentang pandangan, sikap, nilai dan kepercayaan adalah sumber
informasi yang terbaik
b. Memberikan
pertanyaan yang mendalam bila ada
informasi yang rumit dari informan
c. Memberikan
pertanyaan yang lebih mendalam bila membutuhkan pertanyaan lebih lanjut dari
informan
d. Memberikan
pertanyaan lebih mendalam lagi jika
membutuhkan penjelasan lebih lanjut terhadap informasi yang telah dikumpulkan
dari informan. (2001:228)
Metode pengumpulan data wawancara
mendalam ini dilakukan untuk mendapat keuntungan informasi yang diperoleh secara langsung dari
subyek penelitian, memungkinkan mendapatkan informasi lebih lanjut, memperjelas
informasi data dan dapat mengatasi kerumitan data serta mampu mengklarifikasi
informasi yang sudah diperoleh sehingga data menjadi valid.
c.
Alat pengumpulan
data atau Instrument penelitian
Peneliti
sendiri adalah instrument penelitian akan membuat pedoman untuk wawancara
mendalam kepada para informan penelitian yakni tujuan dan topik wawancara yang
jelas dalam wawancara tidak terstruktur (mendalam) dan sifat wawancara adalah informal. Wawancara
tidak terstruktur dimulai dengan mengeksplorasi
topik dari objek penelitian
secara umum mengenai objek penelitian.
Karena
menggunakan teknik wawancara mendalam maka menurut Sorosa; Pewawancara tidak
memilik daftar pertanyaan yang menuntun ke arah wawancara. Meskipun demikian pewawancara memiliki tujuan dan topik
wawancara yang jelas agar sehingga wawancara tidak terlalu jauh menyimpang
(Sarosa, 2012: 46)
d.
Analisa Data
i.
Analisa data
kualitatif deskriptif
Analisa data kualitatif deskriptif
dimungkinkan karena metode pengumpulan data wawancara mendalam oleh peneliti
dimana peneliti langsung mengalami (mengamati secara partisipatif), menyelidiki
(mewawancarai) dan memeriksa (menyelidiki data). Data deskriptis yang dikumpulkan akan
dianalisa agar dapat diartikan.
Dalam hal ini model analisa yang
digunakan peneliti adalah proses analisis data kualititatif Wolcott yakni " mengubah sifat"
(transforming) data dan mencakup sub proses, yaitu: deskripsi, analisis dan
interpretasi dan juga menggunakan analisa data model Huberman dan Miles yakni
yang menambahkan analisa data secara umum yakni display (penyajian data), data
reduction (Peringkasan data, yang adalah analisis itu sendiri) dan conclusions
drawing and verifications (penarikan kesimpulan-kesimpulan dan penafsiran),
(Subagyo: 259) .
ii.
Prosedur pengolahan
data
Prosedur penelitian ini menempuh
tiga tahap yakni : 1. Tahap Orientasi, 2. Tahap
Eksplorasi dan, 3 Member check, dengan pengertian sebagai berikut :
1. Tahap Orientasi ;
dilakukan
untuk memperoleh gambaran yang jelas, tepat dan jelas tentang masalah yang
diteliti. Kegiatan-kegiatan yang
dilakukan dalam tahap ini adalah :
(a) Melakukan
studi pendahuluan atau penjajakan langsung pada kegiatan-kegiatan seni budaya
Nias
(b) Mempersiapkan
berbagai referensi yang dibutuhkan.
(c) Mendisain
pra penelitian
(d) Menyusun
kisi-kisi penelitian seperti pedoman
wawancara
2. Tahap Ekplorasi : Bertujuan untuk menggali informasi dan
pengumpulannya dengan focus tujuan penelitian.
3. Member check : Tahap ini bertujuan untuk
melakukan pengecekan kebenaran hasil Wawancara. Kegiatan yang dilakukan dalam
tahap ini adalah. Menyusun hasil
wawancara berdasarkan item-item dan mengkonfirmasi hasil observasi kepada nara
sumber.
e.
Pengolahan dan
penyajian data
Pengolahan dan teknik analisa data dikerjakan
sejak awal dimulainya penelitian ini, dan dikerjakan secara seksama dan
hati-hati, baik ketika berada di di lapangan maupun setelahnya. Model yang digunakan dalam pengolahan data
adalah model interaktif. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah
:
Koleksi
data (data collection). Peneliti melakukan pemeriksaan data subyek penelitian dan sumbeer data serta
hasil wawancara dan dituangkan dalam bentuk tulisan oleh
peneliti.
Penyederhanaan
Data (data reductional). Peneliti
melakukan penelaah data hasil wawancara, observasi dan dokumentasi untuk
memperoleh hal-hal pokok berkaitan dengan focus penelitian
Penyajian
data (data display). Merupakan kegiatan peneliti yang menyusun pola dan pokok
masalah secara sistimatis, sehingga diperoleh tema dengan jelas tentang masalah
penelitian untuk menarik kesimpulan.
Pengambilan
kesimpulan dan verifikasi (conclution dan data verivying)
Upaya mengolah data yang telah dikumpulkan
dengan mencari pola, tema, hubungan persamaan, perbedaan-perbedaan, hal-hal
yang timbul dan lain sebagainya.
E. KERANGKA TEORI
Musik tradisional Nias adalah warisan budaya leluhur
ononiha (orang Nias), namun perkembangan, pemanfaatan dan pelestarian musik
tradisional Nias tersebut sangat kurang dan dikuatirkan pada masa depan musik
tradisional akan musnah. Kekuatiran ini
sangat mendasar karena dari 24 jenis
alat musik tradisional Nias hanya 3 jenis yang umumnya digunakan seperti
garamba, gondra dan faritia. Alat-alat
musik lainnya tidak banyak digunakan bahkan hanya bisa dilihat di museum pusaka
Nias sebagai peninggalan sejarah.
Keadaan ini semakin menyedihkan karena orang-orang
yang dapat memainkan alat musik tersebut telah meninggal dunia dan belum
kemungkinan belum sempat mewariskan cara memainkan alat musik tersebut kepada
generasi muda Nias, membuat musik tradisional sangat miskin bila dibandingkan
dengan musik tradisional daerah lain.[3]
Nyanyian tradisional Nias juga sangat sedikit
sekali, para pencipta lagu Nias tidak banyak.
Nyanyian tradisional Nias hanya muncul dan digunakan pada acara-acara
pesta adat saja seperti pesta pernikahan dan pelaksanaan owasa (pesta) adat di
kampung-kampung. Generasi muda
sekarang seperti sangat asing dengan nyanyian-nyanyian budaya Nias, walaupun
masih ada yang dinyanyikan seperti pada saat tari maena dan tari moyo.
Musik tradisional Nias seperti alat-alat musik dan
nyanyian sangat jarang digunakan dalam liturgi di gereja, hal tersebut
disebabkan oleh karena nyanyian dalam ibadah (Buku sinuno dan Kidung Jemaat)
berasal dari daerah di luar Nias dan Eropa yang dibawa oleh para missionaris
atau para zending. Dari
sejumlah alat musik trasional Nias ada beberapa yang sudah dan dapat
diinkulturasikan di gereja dalam liturgi seperti : Doli-doli, Tutu hao, Fondrahi,
Gondra, Aramba, Faritia dan Sigu/surune. [4] Musik Nias digunakan pada
upacara-upacara adat, pengiring tari-tarian seperti maena dan juga digunakan
dalam menolak bala, wabah penyakit dan kematian. [5] Musik
tradisional masyarakat Nias dapat dibagi dalam
dua bagian yaitu : pertama, Instrument atau alat musik dan yang kedua
adalah lagu tradisional Nias, kedua kelompok musik tradisional Nias. Beberapa
alat musik tradisional Nias tersebut memiliki fungsi sebagai musik ritmik yaitu; alat musik yang berfungsi
dan berperan memaikan irama seperti Gondra, Tutu, Tabolia, Koko, Famaerua dan
alat musik melodik yang berfungsi dan berperan memainkan melodik tertentu
seperti Lagia, Faritia, Doli-doli, Sigu, Surune, Duri Mbewe, Aramba, Duri Gahe.
Dewasa
ini Fungsi dari alat musik tradisional ini digunakan untuk hiburan, upacara ritual dan alat musik berburu dan ekspresi diri. Tetapi
hanya tiga alat musik yang difungsikan ketika ada pesta, seperti garamba,
gendara dan faritia. Dari beberapa alat
musik hanyalah ketiga alat musik ini yang suaranya besar sehingga alat musik
ini cocok digunakan saat ada pesta.[6]
Hal
tersebut diungkapkan pula oleh Simion Diparuma Harianja dan Dra. Pestaria
Naibaho dalam buku liturgi dan musik gerejawi, menurut mereka ; Gereja-gereja
Lutheran di Indonesia masih menggunakan musik bercorak Barat, menurut mereka
lagi keadaan ini adalah sebuah ironi khususnya jika dikaitkan dengan
pembangunan dan pemanfaatan alat-alat musik tradisional dalam liturgi ibadah di
gereja[7]
Lebih
dalam Emanuel Martasudjita, Pr bahwa musik dalam liturgi mengandung tiga
dimensi 1. Dimensi liturgis; Musik sebagai alat liturgi, 2. Dimensi
Ekklesiologis musik harus mengungkapkan partisipasi umat, 3. Dimensi
kristologis musik memperjelas misteri Kristus.[8]
Penelitian
ini berusaha meneliti kembali alat-alat
musik tradisional Nias sebagai salah satu
unsur seni budaya tradisional Nias termasuk diantaranya Musik, jenis nyanyian dan pola bernyanyi orang Nias
dan untuk memperkaya liturgi BNKP.
Peneliti
sangat menyadari bahwa tidak semua unsur seni budaya Nias telah dan dapat
memperkaya dalam hal ini liturgi di BNKP
khususnya. Untuk itu peneliti akan
selektif terhadap unsur-unsur tersebut dan kemungkinan-kemungkinan
dikombinasikan dalam liturgi.
BAB II
HASIL PENELITIAN ALAT
MUSIK TRADISIONAL NIAS
A. JENIS ALAT MUSIK
PERKUSI (PUKUL)
- GONDRA
(Gendang)
Gondra[9] adalah alat musik
tradisional Nias, merupakan alat musik perkusi (pukul) pusaka peninggal leluhur Nias. Alat musik ini masih digunakan sampai saat
ini dan selalu digunakan pada acara pesta adat perkawinan di lingkungan
masyarakat Nias bersama alat musik lainnya seperti aramba dan faritia.
Gondra
(Gendang)[10]
Umumnya alat musik Gondra ini dimainkan
menjelang pesta perkawinan adat di keluarga kedua belah pihak, sampai pengantin perempuan tiba di rumah
pengantin laki-laki.
1.1. Cara
pembuatan
Untuk membuat alat musik ini dibutuhkan
bahan-bahan dari : 1. Kayu (Jenis kayu Tumusi,
A’ awa, Tuho, Silo’ato), 2. Kulit
Kambing atau kulit ular sawah dan 3.
Rotan.
Gondra
(Aramba)[11]
Untuk membuatnya dimulai dengan:
a.
Memilih satu jenis batang kayu bulat yang
memungkinkan dapat mencapai garis tengah 70 s/d 90 cm.
b.
Kayu dipotong sepanjang ukuran yang dimaksud
pada poin a di atas dan dikupas kulitnya lalu ditarah sedikit agar lebih bulat
dan sambil membentuk tempat tali gantungannya.
c.
Setelah itu baru dilobang dari ujung ke
ujung menggunakan pahat, kapak dan
lain-lain dengan meninggalkan tepinya/pinggiran 1 cm rata-rata.
d.
Kemudian dikeringkan di dapur agar kena panas
api dapur dan asap dapur setiap hari selamat satu bulan.
e.
Setelah kering maka kedua ujungnya
ditutup/dibalut dengan kulit kambing yang sudah kering. Sebaikknya pemasangan dilakukan pada saat
cuaca hujan. Kulit kambing tadi
dililit-ikatkan dengan tali rotan yang dihubungkan dengan ikatan ujung yang
satu saling menyelingi agar terdapat hiasan lilitan pada badan Gondra
tersebut, selesailah pembuatan
Gondra. Biasaya bila tidak digunakan,
gondra disimpan dengan cara digantungkan di langit-langit rumah, agat tetapi
kering, semakin keringa suaranya akan semakin nyaring [12].
Jenis-jenis alat musik Gondra antara lain :
1)
Gondra Uli zawa.
Terbuat dari
kayu bulat yang dibolongkan dengan dinding tipis +- 2 jari, bentuknya seperti
trapesium. Panjangnya 9 si;u a lalu’a atau 7 si’u a sagofa atau 5 si’u a lito.
Ujung yang terluas dibalut dengan kulit ular ( Sawah/piton), yang sebelahnya
lagi tanpa balutan. Berdasarkan urutan besarnya ukuran tadi, Gondra Uli Zawa
diberi nama:
a)
Gondra Famahowu, hanya dibunyikan pada saat
penobatan satus tertinggi dalam adat atau Mondrako.
b)
Gondra Fa’awali, dibunyikan pada pesta (owasa) besar. Juga dibunyikan
pada saat upacara Famahowu sebagai iringan.
c)
Gondra Fo’ ana’a, dibunyikan pada saat
pesta/upacara Fangaruwusi/ Fangoroma Ana’a Wa’asalawa yang baru siap ditempa.
2)
Gondra Uli Laoyo, ukurannya 3 si’u a lalu’a
dengan diameter yang sama ujung ke ujung. Kedua ujungnya dibalut dengan kulit (
kambing/kijang, dsb). Berdasarkan cara memalu, Gondra ini dibedakan atas.
a)
Gondra Folobo Hilihili dano
b)
Gondra Famosi Hilihili dano
c)
Gondra Fa’abolo.[13]
1.2.
Cara
Memainkan
Cara
memaikan Gondra[14]
Gondra ini
dimainkan oleh oleh 2 (dua) orang pemain
dengan memakai 2 (dua) belah bambu tiap orang panjangnya 70 s/d 80 cm, tebal 1
cm, lebar 2 cm. Para pemain musik ini memukulkan bilah bambu pada ujung gondra yang
sudah ditutup dengan kulit kambing secara bergantian untuk mendapatkan
nada/irama yang baik. Biasanya kalau
gondra dimaikan harus diiringi dengan
alat musik lainnya yakni Faritia (gamelan) dan Aramba (Gong) . Dalm arti alat
musik yang seperangkatan pemakainya.
- TAMBURU
Tamburu adalah alat musik yang dibuat dengan
memasangkan kulit binatang selah kiri dan kanan, sering dipakai pada saat
pernikahan.
Tamburu[15]
2.1.
Cara
pembuatan
Tamburu[16]
ini dari kayu yang cara pembuatannya sama dengan TUTU dimana kayu bulat sepotong dilubangi yang berukuran 40 s/d 50
cm yng bergaris menengah 25 s/d 30 cm.
Tebal dinding penampang lubang kira-kira 1 cm. Setelah siap dilubangi dan dibersihkan maka
kedua ujung lubangnya ditutup dengan kulit kambing kering atau kulit biawak
lalu seterusnya diikat dengan rotan.
Tamburu[17]
Rotan dililitkan dan dihubungkan pada ujung
lilitan yang satu dan lalu disilang
kembali maka terjadi lilitan menyilang keliling yang menjadi hiasan pada seluruh bulatan badan Tamburu.
2.2.
Cara
Memainkan
Tamburu diikatkan pada ikat pinggang dengan
supaya salah satu permukaannya Berada di atas lalu dimainkan dengan menggunakan
i 2 potong kayu bulat garis tengah 1,5 cm panjangnya 25cm sebagai alat
Pemukul. Tamburu ini juga dapat dimaikan
dengan duduk dan menggunakan kedua tangan.
Cara
memainkan Tamburu[18]
Tamburu juga dapat dipakai pada waktu rombongan mempelai (
penganten laki-laki) Berangkat menuju rumah penganten perempuan dimana pesta
perkawinan dilaksanakan. Tamburu digendangkan
sepanjang jalan bersama dengan fatitia atau canang kecil.
3. TUTU
3.1.
Sejarah
Tutu[19]
ini adalah peninggalan leluhur yang aslinya sudah langka.
Tutu[20]
3.2.
Cara
Pembuatannya
Tutu ini dari bahan kayu Afoa atau Manowa,
dengan ukuran besarnya: 25 s/d 30 cm dan garis menengahnya 18-20 cm. Kayu ini
dilubangi, sehingga membuat permukaan kedua belah potongan kayu. Setelah
dibersihkan seluruhnya maka ditutup dengan kulit Biawak yang sudah kering dan
diikat dengan tali rotan sekaligus menjadi
hiasan pada badan Tutu itu sendiri.
3.3.
Cara
Memainkan
Alat musik
Tutu ini dipakai pada waktu pelaksanaan upacara Fo’ere, alat musik ini
dimainkan dengaan cara dipukul dengan menggunakan sekerat kayu atau juga
dipukul dengan tangan.
4. FONDRAHI
Fondrahi[21]
adalah alat musik tabuhan merupakan alat
musik khas Nias yang masih dapat dilihat di Museum pusaka Nias.
Fondrahi[22]
4.1.
Sejarahnya:
Alat musik Fondrahi[23] itu adalah salah satu alat
musik peninggalan leluhur dari dulu yang
digunakan untuk pemujaan kepada dewa atau roh-roh. Sekarang ini tidak dipergunakan lagi karena
pengaruh Agama. Oleh karena itu alat ini dialihkan Memainkannya pada golongan
musik ere atau famaerua sama sekali
terlepas dari syair lagu mantera-mantera.
Benda aslinya tidak ada dan benda ini sudah langka sekali tetapi
duplikatnya dapat di lihat di Museum Pusaka Nias.
4.2.
Cara
Pembuatan
Alat musik ini dibuat dari sepotong batang
aren yang tua yang dipotong panjangnya kira-kira 70 s/d 80cm, garis menengahnya
18 s/d 20cm. Setelah itu isi tengah potongan tadi dikeluarkan supaya
menghasilkan lubang sampai keujung
sebelah ( seperti pipa), tebal dindingnya yang menyerupai kulit setebal 1 cm.
Fondrahi[24]
Setelah selesai dilobangi dan dibersihkan potongan batang aren tadi maka pada penampang
salah satu ujung ditutup dengan kulit kambing yang mudah dan kering atau kulit
biawak kemudian diikat kulit tadi dengan rotan berulang-ulang kali sambil
membentuk hiasan dengan lilitan rotan tersebut pada badan fondrahi sampai pada
pertengahan, hiasan tersebut bermotif ni’ohulayo.
4.3.
Cara
Memainkan
Alat musik
fondrahi ini adalah alat musik yang dipukul dengan 2 (dua) batang kayu
bulat garis tengah 2 cm panjang 20 s/d 25 cm, atau dengan telapak tangan
bersama jari seperti memukul rebana. Biasanya Fondrahi ini dipakai pada waktu
mengadakan upacara penyembuhan orang sakit yang dilaksanakan oleh seorang ahli
yang bernama “Ere “ atau dukun.
Cara
memainkan Fondrahi ketika melakukan pemujaan
kepada dewa-dewa dan roh-roh[25]
Cara memainkannya Ere duduk dilantai dengan
bersila dan meletakkkan Fondrahi diantara paha kanan sebelah bawah dan pada
paha kiri sebelah atas dan dijepitoleh kedua ujung kaki sedang yang
disampingnya juga alat-alat musik lainnya yang bersamaan dipukul berganti-ganti
oleh Ere. Ere memulai menyembuhkan orang sakit dengan memukul Fondrahi dehulu
lalu diiringi dengan menembangkan lagu/mantera-mantera kata –kata penyembuhan.
Cara
memainkan Fondrahi
untuk
penyembuhan[26]
Demikian dilakukan terus –menerus sampai si
ERE menghentikannya dengan waktu yang ia tentukan sendiri atau berdasarkan
berat ringannya penyakit yang disembuhkan kadang-kadang sampai sehari penuh
atau 3 hari tiga malam berturut-turut.
5. RAFA’I
Rafa’i[27]
Rafa’i[28]
adalah sejenis alat musik gendang tradisional Nias yang memainkanya dilakukan
dengan mendudukan benda ini di atas tanah, ukuran alat muski ini jauh lebih
kecil dibandingkan dengan Gondra.
6. TABURANI
Taburani[29]
Taburani[30]
adalah Alat musik tradisional Nias sejenis bedug yang hanya terdapat di rumah
bangsawan.
- ARAMBA
(Gong)
Aramba[31]
adalah jenis alat musik tradisional Nias yang digunakan untuk pada acara-acara
tertentu dalam kehidupan masyarakat Nias misalnya pesta adat untuk perkawinan,
peristiwa pembunuhan, kebakaran, peperangan, kematian ketua adat dan Raja Adat. Aramba terbuat dari logam dan di Nias ada
beberapa jenis ukuran dan kegunaan.
Aramba[32]
7.1. Sejarahnya:
Aramba[33] ini adalah salah satu alat
musik peninggalan leluhur yang diperkirakan telah berumur lebih kurang 100
tahun dan masih terdapat dan dipakai sampai sekarang.
7.2. Cara
pembuatan
Aramba[34]
Masyarakat
Nias membuatnya dari bahan campuran logam yang dicairkan oleh pandai besi dan
membentuknya sesuai dengan bentuk dan ukuran yang dikehendaki.
7.3. Cara
memainkan
Alat
musik aramba adalah salah satu jenis alat musik perkusi (alat musik
pukul). Aramba dimainkan dengan cara
memukul bentolan alat tersebut yang terdapat di bagian tengah (hagu) dengan
menggunakan kayu/stik yang ujungnya dibungkus dengan kain atau kain goni
berbentuk bulatan. Pada saat dimainkan
alat ini dipukulkan dengan mengikuti irama alat musik lainnya.
Cara memainkan Aramba[35]
Alat musik ini bila dipakai pada waktu
kebakaran, peperangan pembunuhan dan kematian ketua adat atau raja adat. Dengan
memukul-mukul bentolan ( Hagu) Gong dengan menggunakan sepotong kayu yang
dibungkus dengan kain atau goni. Fungsi Gong/ Aramba ini adalah memberitahukan/
memberi kabar bahwa ada sesuatu kejadian yang mengerikan atau kekacauan kepada
seluruh penduduk desa dan sekitarnya.
Memainkan aramba disesuaikan dengan
peruntukan acara yang dilaksanakan.
Bentuk dan ukuran aramba pun disesuaikan dengan kebutuhan acara dimaksud
misalnya :
a.
Aramba Duria/Famaonndru, untuk memanggil
rakyat agar berkumpul dibalai atau duduk untuk menyiarkan pesan dari
Salawa/Tuhenori. Besarnya melebihi sedikit besarnya Saraina, diameter 30cm.
b.
Aramba Fatao, untuk mengikuti bunyi Gondra
dalam pesta adat, besarnya melebihi sedikit besarnya Famaondru, diameter 45 cm.
c.
Aramba Famolaya/Famanari, lebih besar dari
Fatao. Dalam pesta adat setelah bunyi Fatao 2 kali, Aramba Famolaya/Famanari
ini dibunyikan 1 kali, diameter 65 cm.
d.
Aramba Hongo, berukuran terbesar, terdalam
dan bernada terendah. Dipakai untuk pesta Owasa Negeri dalam hal peresmian
status sosial yang dihadiri oleh tokoh adat desa sekitar, diameter 80cm.
e.
Aramba Fa’awali/Famahono Lofo, ukurannnya
merupakan yang terbesar dengan nada yang rendah. Alat ini diperdengarkan pada
pesta Owasa besar, diameter 100 cm.[36]
- FARITIA
(Canang)
8.1.
Sejarahnya
Alat musik Faritia[37]
ini adalah peninggalan nenek moyang
orang Nias. Alat musik ini berasal dari luar daerah. Dan masih digunakan sampai sekarang. Dapat diperkirakan Faritia ini sudah berada di Nias lebih dari
100 tahun lamanya dan telah menjadi alat
musik yang penting di Nias.
Faritia[38]
Alat musik ini digunakan bersamaan dengan
memainkan Gondra dan Aramba pada waktu pesta adat perkawinan. Akan tetapi Faritia ini juga dapat digunakan
tanpa Gondra dan Aramba saat mengiringi datangnya pengatin laki-lagi dan ketika
meninggalkan rumah pengantin perempuan pada waktu pesat adat perkawinan.
8.2.
Cara
pembuatannya
Alat
musik ini dapat dibuat dari bahan-bahan berupa Bahan 1) Tembaga, kuningan, suasa dan nikel, 2)
Tali oholu, 3) kayu.
Faritia[39]
Alat musik
Faritia ini adalah diperbuat dari pada campuran logam-logam tersebut diatas.
Alat ini diperkirakan baru diketahui setelah pedagang-pedagang dari luar masuk
ke daerah ini.
8.3.
Cara
Memainkan
Melodi
bunyi alat musik Faritia :
1
3 1 3
1 1 3 3 1 1 3 3 Atau
5 6
5 6 5 5 6 6 5 5 66
Faritia[40] ini
dipakai pada waktu pesta adat seperti: pesta kawin, pesta owasa, dimainkan
dengan 2 buah (sepasang) Faritia oleh dua orang juga dengan menggunakan
sepotong kayu bulat panjangnya 20 cm garis tengah 2 cm,. Alat musik ini
dimainkan dengan cara mereka memukulkan
kayu tersebut pada bagian tengah dari Faritia yang menonjol. Kayu pukulan ini
diusahakan kayu yang lembut/lunak, jangan yang keras. Kedua buah Faritia ini
menghasilkan dua warna suara yaitu :
a. Suara tinggi: dinamakan Faritia perempuan ( Si alawe)
b. Suara
rendah: dinamakan Faritia laik-laki ( ( Si matua)
Cara
memainkan Faritia[41]
Dipukul
silih berganti untuk menghasilakan
suara/bunyi yang berirama bersahut-sahutan dengan berfariasi sesuai
dengan cara memukulnya. Ukuran-ukuran
Faritia ini adalah: Garis tengah
penampang mulutnya +_ 18 cm, Garis tengah permukaan 1 cm lempengan +_ 21 cm,
Lebar bibir melengkung +- 5 cm, tebal lempengan +- 4mm, Bagian yang menonjol
pada permukaan; garis tengahnya - 4 s/d 5 cm dan tingginya 2 s/d 3 cm.
Jadi, alat
ini berpasang-pasangan (sepasang atau lebih) untuk mengiringi rombongan dalam
perjalanan dalam rangka pesta adat.
Biasanya alat ini pada saat dimainkan diiringi juga oleh tetabuhan
Tamburu, sebagai pelengkap dalam seprangkat musik tradisional. Alat ini juga dipakai sebagai pengiring
fanari dan folaya bersama dengan intrument lainnya seperti Tutu, Fondrahi, dan
Gondra[42]
- DOLI-DOLI (Gahe/Ahita)
9.1.
Sejarahnya:
Doli-doli adalah suatu alat musik traditional
jenis bilangan yang sering dimainkan oleh muda –mudi di ladang akan dibawah
sambil menjaga burung dan sebagai penghibur leluhur.
Doli-doli[43]
9.2.
Cara
Pembuatan :
Alat musik Doli-Doli ini dibuat dari pada
kayu. Kayu yang baik dipergunakan adalah
jenis kayu “ duri dan kayu Handrifa” yang bulat batangnya dipotong dua potong
panjangnya 30 s/d 50cm, kulit kayunya dibuka.
Lebar garis tengahnya kira-kira 5 s/d 6 cm, kemudian dibelah rata
ditengah sehingga satu potong menjadi dua bilah yang sama. Kemudian dikeringkan
selama 1 s/d 2 minggu lamanya.
Doli-doli[44]
Selanjutnya untuk membentuknya, bilah-bilah
tadi diketok-ketok untuk mencari nada suara jika agak parau suaranya, maka sisi
bilah belahan tadi diraut sedikit lalu diketok-ketok lagi untuk mencari nada
yang sesuai dengan tinggi nada yang dikehendaki, setidak-tidaknya terdapat urutan nada
do-re-fa-mi. Jumlah bilah doli-doli ini
hanya 4 bilah saja.
9.3.
Cara
Memainkan
Alat musik doli-doli ini disusun diatas
pangkuan pemain, dalam arti si pemain
berada duduk di atas tempat yang agak tinggi sehingga kedua kaki gontai
sedikit, selanjutnya keempat bilah kayu tadi disusun menurut tangga nada
do-re-fa-mi.
Cara
memainkan Doli-doli
Kemudian
Doli-doli dimainkan dengan memakai 2 ( dua) potong kayu bulat ukuran
kira-kira 20cm yang bergaris tengah 2cm.
Kayu ini adalah alat untuk memukul
bilah-bilah kayu (doli-doli) tadi yang berada diatas pangkuan silih
berganti dipukul menurut nada/ lagu/ irama yang dikehendaki oleh si pemain (sj
pendendang).
- DOLI-DOLI BUE
10.1. Sejarahnya
Doli-doli bue ini adalah alat musik,
pelengkap alat-alat musik lain yang merupakan alat hiburan, alat ini adalah
peninggalan leluhur masyarakat Nias.
Doli-doli
Bue[45]
10.2. Cara
Pembuatan
Doli-doli bue ini dibuat dari sepotong kayu La’ore, Houra, Bui yang baru
kurun panjang 20 s/d 100cm, yang bergaris menengah bulatan batang 6 s/d 8 cm.
Mula-mula kulit kayu dikupas sesudah itu ditaruh melengkung dari ujung ke ujung
sepertiga bulatan batang. Sisanya yang dua pertiga diraut halus dan disalah
satu ujung dibuatkan lubang tempat ikatan tali rotan.
10.3. Cara
Memainkan:
Ujung doli-doli yang telah diikat dengan tali
rotan tadi diikatkan pada satu tiang dalam rumah atau dimana saja pada tempat
yang dapat memuat gantunagan doli doli tersebut.
Doli-doli
Bue[46]
Ujung sebelah dipegang dan diambil sepotong
dahan kayu yang bulat keras, panjangnya 20 s/d 30cm garis tengah 2cm, sebagai alat memukul. Doli-doli ini
dimainkan dengan cara memukul oleh
seorang sambil memutar-mutar tangan pada ujung pegangan dan dipukul tengahnya,
demikian dilakukan berulang-ulang.
11. DURI GAHE
11.1. Sejarahnya:
Alat musik ini adalah peninggalan nenek
moyang ( leluhur). Benda aslinya sudah jarang terdapat lagi, karena daya bahan
bambu kadang-kadang berapa waktu saja, atau mengalami kerusakan /pecah dan
sebagainya. Maka alat musik ini boleh di dapat yaitu merupakan duplikatnya,
yang dibuat dengan tidak menghlangkan ciri khas dan bentuk aslinya.
Duri Gahe[47]
11.2 Cara
Pembuatan
Dari beberapa batang bambu, dikeringkan atau di simpan di dalam
rumah menunggu sampai bambu itu tidak berair lagi (kering). Kemudian bambu ini
dipilih tentang mana yang baik untuk dipotong atau dikerat. Di dalam pemotongan
ini, buku bambu harus ikut serta dan berada di pertengahan bambu tersebut.
Setelah dipotong (dikerat), maka diraut, sehingga membentuk cocor bebek atau
dengan istilah daerah ( sobawa baewa).
Duri Gahe[48]
Pengrautan ini dimulai dari: buku bambu di
ukur 0,5 s/d 4 cm. Kemudian dilobangi diukur antara buku bambu 2cm arah rautan
cocor bebek yang garis menengahnya 0,5 cm. Lobang ini adalah lobang suara yang
dapat menentukan atau mengecilkan suara. Seterusnya pengrautan tersebut
dilakukan sebelah menyebelah batang bambu sehingga membentuk cocor bebek atau
sobawa baewa. Jumlah alat ini adalah sepasang. Ukuran panjangnya: 1K. 40cm.
Dengan garis menengah penampang bambu:
2,5 s/d 3 cm.
11.3. Cara Memainkan
Pada umumnya alat musik ini dipakai adalah
untuk hiburan. Bilamana waktu senggang selesai kerja dan sebagainya. Cara memainkan Durimbal ini adalah yang di
pukulkan cocor bebeknya pada paha atau
dengkul kaki, sambil duduk bersila atau berdiri dengan jarin jempol
mengatup-ngatupkan lobang suara, di samping getaran cocor bebek membentuk
suara.
12. KOKO (Kentongan)
12.1. Sejarahnya
Kentongan/
koko ini juga peninggalan nenek moyang yang benda aslinya sudah langka tidak
ada lagi.
Koko[49]
12.2. Cara
Pembuatan:
Salah
satu jenis kayu tersebut diatas dipotong
sepanjang: 70 s/d 80 cm, yang bergaris tengah bulatan badannya 15 s/d 20 cm.
Lalu dikuliti sehingga bersih.Kemudian dimulai membuat lubang ketinggian:
panjangnya: 45 s/d 55 cm dan lebarnya 7 s/d 10 cm.
Koko[50]
Pada ujung
sebelah atas dibuat mencuat tempat tali gantungan dan kemudian dilubangi tempat
tali. Alat untuk membuat lubang kentongan adalah kapak. Pahat dan baliung.
12.3. Cara
pemakaian:
Kentongan
(koko) ini digantung dirumah adat atau rumah kepala adat. Dan bila ada
pertemuan atau sesuatu yang perlu untuk memanggil orang banyak.
Letak
dan cara memainkan koko
maka kentongan (koko) tersebut dipalukan
dengan sepotong kayu yang telah disediakan dan biasanya berada dalam koko itu
sendiri. Waktu digunakan adalah pada saat diperlukan atau saat penting.
13. TABOLIA
13.1. Sejarahnya:
Pada mulanya Tabolia ini adalah asal dari
koko( keuntungan ) untuk memanggil/
membangunkan
orang di desa bila ada kejadian huru-hara atau memanggil ibu diladang
yang
bunyinya menangis-nangis di danau, digubuk
atau di rumah. Suara kentongan
ini memang nyaring (baik) dan para
seniman musik daerah mengambil perhatian, bahwa suara ini perlu dialihkan
kedalam musik, maka lahirlah suatu pembuatan alat musik yang sangat identik
dengan koko, yaitu tabolia.
Tabolia[51]
Dan alat
musik ini adalah juga peninggalan leluhur dan aslinya juga sudah langka dan
dapat di buat duplikatnya bila dikehendaki, dengan tidakmenghilangkan bentuk
keasliannya.
13.2. Cara
pembuatan
Diambil sebatang bambu, kemudian dikerat
sepanjang 40cm dengan ketentuan bahan Kedua bambu harus ikut dalam keratan batang bambu itu. Garis
menengah bambu tersebut Sebesar 10cm, pemotongan bambu pada salah satu buku.
Dilewatkan dari buku bambu 3cm. Dan ini
adalah sebagai kaki Tabolia. Kemudian
pengeratan/emotongan pada buku bambu yang lalu: 10 cm dari buku bambu ke
atas.Dan ini adalah sebagai . seterusnya bambu ini dikeringkan didalam rumah
atau di asapi/digantung diatas dapur
dengan maksud agar bambu ini cepat kering. Waktu pengeringan selama 1 atau 2
minggu.
Tabolia[52]
Setelah kering, maka dimulailah pengolahannya
yang pertama kali menaruh sebagian badan Tabolia dengan tujuan membuat lubang
yang panjangnya 15cm dan lebarnya 5cm,
dari antara buku ke buku bambu itu
sendiri. Jarak anatara dari buku bambu sebelah atas ke rautan 4cm.
Demikian pula sebaliknya jarak antara pada buku sebelah bawah (buku pada kaki
Tabolia). Lubang ini adalah lubang suara. Dan pada kepala tabolia juga diraut
membentuk suatu bilangan dengan menggunakan garis klasik yang merupakan niobawa
lawolo.
13.3. Cara
Memainkan:
Tabolia ini di dudukkan di lantai sambil
duduk untuk membuatnya, dengan mengguini nakan Sebuah atau sepotong kayu keras
bulat garis tengah 2 s/d 3 cm panjangnya 1k. 25 s/d 30 Cm. Kayu ini dipukulkan
pada dinding atau dimaksudkan ke lubang suara tabolia itu sendiri, Sesuai
dengan penghayatan si penabuhnya. Alat ini dapat di gunakan untuk intro atau
sound Efek dan sebagainya.
14.
Tutuhao/Tutuhena
14.1.
Sejarahnya
Alat musik
ini adalah peminggalan leluhur ( nenek moyang). Dan jarang sekali terdapat
lagi Yang sudah berumur.Karena benda ini
adalah dibuat dari bambu, maka berapalah daya tahan bambu, dan apalagi bila
mengalami kerusakan dan sebagainya.
Tutuhao[53]
14.2. Cara
Pembuatan
Dibuat dari
pada seruas bambu yang tua, termasuk kedalam ruas tersebut. Adapun ukuran
Ruasnya: panjang 1k: 70cm dan garis menengah bambu: 10cm. Kemudian
senarnya terdiri Dari kulit badan bambu itu sendiri yang di cungkil
membentuk senarnya yang lebarnya: 0,5 cm dan tebalnya 2cm. Sejumlah 2 (dua)
buah senar.
Tutuhao[54]
Pada ujung-ujung kedua senarnya diberi ganjal yang dibuat dari kayu yang
apanjangnya: 1cm , dan besarnya ; Garis menengah: O,5 cm, sehingga tempatnya lebih tinggi dari
pada permulaan badan tubuhnya itu sendiri. Ditengah-tengah badan tutuhao dekat
senr ( disamping) dibuat sebuah lobang: 2,5 cm garis menengahnya. Lubang ini adalah lubang suara.
Selanjutnya pada senar yang tidak
berdekatan dengan Lubang suara, diberi sebuah kuda-kuda yang tingginya 4 s/d
5cm, sehingga menimbulkan suara tinggi yang letaknya dipertengahan senar. Dan
tempat lidah suar ini tepat ( setengah) lubang suara. Ujung sebelah kiri
lubang. Kemudian kedua bambu tersebut juga di lubangi dengan ukuran garis
menengahnya 1 cm juga sebagai lubang suara.
14.3. Cara
Memainkan
Alat musik
ini adalah golongan alat musik pukul. Musik ini ditabuh pada waktu senggang dan
cara memainkannya sambil duduk dan Tutuhao ini disandarkan pada lutut kiri,
sedangkan ujung Tutuhao yang lain disebelah berada dibawah Tutuhao ini ditabuh
dengan memakai pukulan sepotong kayu.
Cara
memainkan Tutuhao[55]
Dan gendang
dan gong. Kemudian tangan kiri, memeti-suara gendang. Tutuhao terbuat dari seruas bambu (Hao,
Kauko/Lewuo Guru) yang kedua ujungnya berbuku.
15.
RITI-RITI
SOLE
Alat musik Riti-riti sole ini dibuat dari
tempurung kelapa yang diisi dengan biji-jian kemudian dimaikna dengan pada
kedua tangan dan digerak-gerakkan.
Riti-riti
sole[56]
B. JENIS ALAT MUSIK
GESEK
1. LAGIA
Lagia
adalah alat musik tradisional Nias, termasuk sebagai alat musik gesek merupakan peninggalan leluhur Nias.
Lagia[57]
Sampai sekarang benda ini tidak dapat
dilupakan oleh masyarkat Nias tetap benda aslinya tidak ditemukan lagi karena kurangnya pengurusan,
hanya duplikatnya saja yang ada.
1.1. Sejarah
Sejarah alat musik Lagia dilatarbelakangi
oleh cerita rakyat[58]
dimana seorang anak yatim bernama
Ba’aruna, anak dari seorang janda bernama Bulu Mbagoa yang beberapa waktu
kemudian meninggal dunia. Sejak ia
ditinggal ibunya tidak ada lagi orang yang menjaga dan merawatnya, hingga suatu
saat ia terkena penyakit kulit yang sangat menjijikan, ia dijauhi orang dan
dibuang ke hutan.
Berbekal kapak kecil yang ia bawa, ia memahat
kayu yang sudah kian berlubang dan ia membuat alat musik dari kayu tersebut
dangan menggunakan tali dari “waifo” sejenis tumbuhan merambat dan menyebut
benda tersebut sebagai Lagia. Kemudian
ia menggesek Lagia tersebut dengan menyanyikan lagu balada yang begitu menyayat
hati. Warga kampung yang mendengar lagu
tersebut merasa tergugah dan membawanya kembali ke kampung mereka.
1.2. Cara
membuat
Untuk membuat alat musik Lagia diperlukan
bahan-bahan dari : 1. Batang aren dan
batang Nibung, 2. Kayu, 3. Akar salak,
4. Tali rotan, 5. Pelepah pinang. Lankah-langkah yang dilakukan untuk membuat
alat musik Lagia adalah :
Lagia[59]
a.
Mula-mula batang aren/batang nibung dipotong sepanjang
lebih kurang 50cm, garis tengahnya 20cm. Kemudian kulit ari dibuang lalu
sesudah itu dilubangi/ dikerak dimulai dari pemulaan ujung sebelah sampai
tembus ke ujung sebelah, pinggirnya tebalnya 1cm.
b.
Setelah selesai pengerekan dan dibersihkan
maka dipilih sepotong kayu untuk lahan lagia yang ditempatkan pada salah satu
ujung penampang atau dibuat lubang ditengah-tengah badan lagia, lalu leher/kayu
dipancangkan dengan baik, gunanya tempat mengikatkan ujung tali senar dari akar
salak.
c.
Ukuran kayu tiang/ leher lagia kira-kira 60 s/d 70cm,
lebarnya/tebalnya 3 cm, dengan cara perautan tiang/ leher ini berangsur –
angsur menipis sampai ke ujung tebalnya tinggal 7 m lagi.
d.
Selanjutnya ujung penampang lainnya ditutup dengan
pelepah pinang ( mowa wino) yang mudah kering dengan memberikan
perekatnya/lemnya dari getah kayu mbinu-mbinu. Setelah itu dibuat lubang
ditengah-tengah tutup tadi dengan ukuran 2 cm X 3 cm.
e.
Leher lagia diikatkan pada badan lagia pada
tempat yang sudah ditentukan kemudian diikat dengan tali rotan yang selanjutnya
juga menjadi ikatan kayu leher lagi.
f.
Sebelah bawah yang langsung berhubungan
dengan pangkal tali senar untuk selanjutnya diteruskan ke atas ( ke ujung kayu
leher lagia yang ) melalui ujung penampang yang telah ditutup tadi dengan
pelepah pinang .
g.
Kemudian diberi kuda-kuda tali senarterbuat
dari bahan kayu yang bercabang dua dan diletakkkan pada pinggir lubang suara,
sedang tali senar berada diatas kuda-kuda yang melalui pertengahan tutup
pelepah pinang yang berlubang tadi.
h.
Kemudian pada ujung tali senar yang diikatkan
pada ujung atas leher lagia diikatkan rautan tali rotan yang agak halus guna
menekan tali senar itu berfungsi sebagai alat menyetem tinggi rendah pada suara
lagia.
i.
Penggosok lagia terdiri dari bahan rotan atau
bilah bambu yang dilengkungkan bentuknya setengah atau seperempat lingkaran. Caranya membentuk dengan mengikatkan tali rotan/ akar
salak pada ujung keujung dengan tegang yang ukuran panjangnya setidak-tidaknya
30cm.
1.3. Cara Memainkan
Bunyi
alat musik lagia :
1 2
1 1 .
1 2 1
1 . .
.
haoyo Lagia haoyo Lagia
Alat musik ini adalah alat musik gesek jenis biola
yang tergolong dalam musik hiburan. Musik gesek
lagia ini dimainkan oleh seorang pemain yang duduk di lantai. Pemain lagia menyandarkan lehernya pada ujung leher lagia
sebelah atas.
Cara
memainkan Lagia[60]
Jari jempol kiri dimasukkan diantara tali dan
dengan senarnya dan seterusnya jari telunjuk dan jari tengah berganti-ganti
menekan tali senar yang digesek agar terdapat irama yang dikehendaki sesuai
dengan tembangan lagu yang dilagukan oleh sipemain lagia. Letak duduk si penggesek lagia harus berada
pada permukaan badan lagia dekat piring suara atau pelepah pinang penutup
sebelah atas. Lagia ini biasa dimainkan orang pada waktu
senggang sebagai hiburan pelipur lara.
2. RABA
Raba adalah alat musik yang berasal dari
Tello, sebuah alat musik gesek dibuat dari tempurang, sebatang kaya dan
tali. Pada tempurung dipasang tali dan
dibuatkan juga alat geseknya.
Cara
memainkan Raba[61]
C. JENIS ALAT MUSIK
TIUP
1. TAMBURA
DANO
Alat musik tradisional ini dibuat dengan menggali tanah ditutup
dengan mowa fino, di atasnya dipasang wewe iti-iti (ici-ici) sejenis tumbuhan
menjalar.
Tambura
dano[62]
2. NDURI
MBEWE
Ndruri
Mbewe[63]
Alat musik ini dibuat dari besi yang
diletakkan di mulut yang terbuka.
Kemungkinan besar alat musik ini di bawa oleh misionaris ke Nias.
Cara
memainkan Ndruri Mbewe[64]
3. NDURI
WETO
Ndruri weto adalah alat musik yang sama
dengan ndruri mbewe cara menggunakannya yakni dimainkan pada mulut yang
terbuka, namun dibuat dengan bahan yang berbeda. Ndru weto dibuat dari Feto.
Ndruri weto[65]
4. SIGU ( Suling)
Suling[66]
4.1.
Sejarahnya
Alat
ini adalah sejenis alat musik tiup peninggalan leluhur. Alat musik ini masih
dipakai sekarang oleh orang-orang diladang/ sawah.
4.2.
Cara
Pembuatan:
Dipilih sebatang bambu yang agak tipis dan
ruas bukunya agak panjang kurang lebih 30 s/d 40 cm. Bambu ini biasa disebut “
Lewuo mbanua” dipotong seruas yang
sesuai ukuran diatas dan bergaris menengah penampangnya 1.5 cm. Kemudian diberi
lubang 4 buah berturut-turut dengan jarak tiap lubang 2 s/d 2,5 cm. Jarak
lubang pertama + _ 3 cm.
Suling[67]
Ujung sebelah tidak berbuku tetapi
penampangnya disumbat dengan sepotong kayu lembut yang berukuran 3 cm
panjangnya lalu diberi lubang tepinya, ini adalah jalan embusan/tiupan.
4.3.
Cara
Memainkan
Cara memainkan Suling[68]
Alat musik
ini dimainkan orang dengan cara meniup pada mulut yang telah disumbat
dan 2 jari kanan menekan 2 buah lubang dan 3 jari kiri menekan 2 buah lubang
juga sedang kedua jari besar menekan dari bawah, lalu diembus berganti-ganti
jari-jari tadi buka tutup. Disesuaikan dengan lagu yang akan ditembangkan oleh
sipemain.
5.
RIRI LEWUO
Riri lewuo adalah alat dari bambu yang di tiup, berasala dari Nias
Utara
Riri
Lewuo[69]
6.
FIFI
FOFO
Fifi
fofo adalah alat musik yang sangat sederhana dibuat dari bahan bambu atau kayu
sejenis. Alat musik ini berguna untuk
menirukan suara burung, sering dipergunakan oleh pemburu untuk menangkap
burung. Alat musik ini dikenal juga
dengan nama ufu-ufu.
Riri
lewuo[70]
B. JENIS ALAT MUSISK
PETIK
7.
MAGE-MAGE (Koroco)
Mage-mage adalah alat musik yang sangat populer di Nias, dimainkan
dengan cara yang hampir sama dengan gitar.
Koroco[71] Cara
memainkan koroco[72]
BAB III
NYANYIAN TRADISIONAL NIAS
A. JENIS-JENIS NYANYIAN ORANG NIAS
1. Nyanyian
di pesta (sinuno ba gowasa)
Nada
fangowai :
5
. 5
5 5 3
3 3 3
. . .
No
so a mi i
- ra
a- ma
1.1.
Bölihae
Boli hae dilakukan oleh
tamu pada saat mereka mengikuti pesta. seperti mendirikan rumah Adat, molau
mbanua, molau öri, pesta pernikahan (fagowalu), famasindro gowe, dalam
melaksanakan bölihae diiringi dengan maena dari tuan rumah (sowatö), dan tamu
(tome). Serta diiringi dengan gözö-gözö
atau nyanyian bebas, contohnya
naese-naese. Maola dilakukan oleh tuan rumah,
maola ibarat sepatah kata.[73]
1.2.
Maola-maola
yang di lakukan oleh tuan rumah dan tamu.
o
Sowato
Fanehe: sindruhu sa niwaö’u andrö solau maola, arara sa
niwao’u andro bame yaia
Tola maola :
1.
Ba da
wö uborogo sa maola da,
Baya wo utohu doi khomi bagamaedola
2.
Hanasa,
wa mi o oudo andro sa ba maola,
Irono wo draodo khomi andro
wo silo mangila.
3.
Mi
tegu we draono andro wo sangaoha-ngaoha,
Lo lai zatua ebolo wo
dodora.
Lo lai zatua ebolo wo
dodora.
4.
Hadia
wo tacufa andro wo dola sa maolada,
Hadia wo tacufa doi wo
khomi gamaedola.
o
Tome
1.3.
Fanehe
: sindruhu sa niwaö’u andrö solau maola, arara sa niwao’u andro bame yaia
Tola maola :
1.
iza
nina sobowo andro wa torosi,
iza nina so wua khomi ba
ndrima laosi
2.
iza wo
me moi mangawa ia me moi mondri,
tou wo ba hele tolu khonia
teoli.
3.
Icueni
sa nora hao kho nia ora ohi,
Icueni we noro kho nia siwa
wosi.[74]
1.4.
Fanehe
fangowai atau fame afo :
5 .
3 .
He - e
2.
Hoho (Wolaya, hiwö, wanari, maena) dalam masyarakat Nias
Syair pada tari folaya
0 1
1 1 2
3 4 3
2 . 2
Ae
da ta-lau mo -
la - ya
0 1
1 1 2
3 4 3
2 . 2
Mo-la-ya
ma- na - li -
khi
3. Pengertian
hoho
Secara etimologi kata hoho berasal dari akar kata oho (angin sepoi-sepoi). Dalam kaitannya
dengan komunikasi atau pembicaraan umum, terutama dalam kegiatan sosial dan
budaya, hoho berarti pengungkapan pikiran, perasaan, atau ide kepada orang lain
dengan meilih kata yang menarik dan disampaikan dengan lemah lembut seperti
tiupan angin sepoi-sepoi.[75] Salah satu kebiasaan Ono Niha dalam
menyampaikan ide, pikiran, perasaan yakni dengan hoho (puisi kuno). Contoh penggunaan hoho dalam tindak tutur :
Penutur
A:
Ba he yaugo amagu Balugu
He yaami amagu Salawa
Yae zumange sino ona-ona
Yae zumange si lo
bago-bagolo
Penutur B:
Ba yaia ae zumange andre
Balugu
Yaia ae mbeeso ndra salawa.
Hoho ini dituturkan oleh penurut A pada
saat memberikan sesuatu (sumange)
kepada penutur si B. dalam sastra Melayu hoho ini dapat disejajarkan dengan
syair. Atau dalam tradisi lisan Jawa memiliki kesamaan (tidak persis sama)
dengan macapat. Jadi hoho adalah salah satu tradisi lisan
Nias berbentuk syair yang ditembangkan untuk menyampaikan sesuatu pikiran,
perasaan, atau ide. Hoho adalah salah
satu tradisi lisan Nias yang merupakan ungkapan perasaan atau nyanyian keluh
kesah dan di nyanyikan orang dalam pesta-pesta adat.
4. Bentuk
hoho
Hoho dalam masyarakat Nias pada hakikatnya berbentuk syair. Hoho ini diucpkan oleh seseorang pada saat pesta adat
(mungkin pesta pernikahan) dari pihak tamu. Dalam acara pesa pernikahan
masyarakat Nias ada dua pihak yang turut berperan yaitu pihak pengantin
laki-laki yang disebut tome, (tamu) dan pihak pengantin perempuan yang disebut
sowato (pemilik rumah/keluarga). Jadi sebelum pembicaraan dilanjutkan, pihak
sowato wajib memberikan afo (sekpur
sirih) kepada tome yang diantar dengan hoho. Kemudian tome pun wajib menerimanya dengan hoho pula[76].
Ho ho terbagi beberapa
bagian yaitu untuk kematian, dan pesta. Ho ho dalam pesta ada 2 yaitu ada dari
sowato dan tome. Yang membedakan hoho kematian dengan hoho pesta yaitu
berdasarkan syair hoho. Hoho untuk kematian hanya dilakukan kepada keluarga
bangsawan atau satua Banua, yang dipimpin oleh ere.
Wolaya hampir sama dengan boli
hae, hiwo adalah salah satu tarian dari
nias, yang dilakukan oleh laki-laki dan perempuan, wanari dan maena merupakan
ciri khas orang Nias dan daerah dimana
untuk mempererat hubungan persaudaraan serta kekompakan dalam suatu perkumpulan
namun beda kelompok.
5.
Hendri-hendri
5 3
5 3 0
5 . 3
5 3 5
Ae
ba no ta
- te -
ma na - fo
o
Sowato :
Ae bano tabe’e nafo, ae
bano zitenga bӧ’ӧ
Hatotoi nafo bowo,
hakoli-koli mbua mawӧ-mawӧ,
Ha leu-leu dawuo danӧ,
Ayau wa’ebolo dӧdӧ
yaugo sitenga bӧ’ӧ andro
da’ӧ.
o
Tome :
Ae bano matema nafo Moroi
badanga zo watӧ,
Bama owai afo manӧ,
Fӧfӧnafo ndrundru tanӧ
Sifao memufailo mbowo raya
ba mboto Mazingo.
Si hekeini bae. Ae he he he he dan seterusnya:
Akha alawa Hendri – hendri Sowato moroi ba Dome. Niwao
gamaedola Alawa ngofi moroi ba molo.
o
Sowato
Mutandrosaigo,
Andro waatumbu khoma lala
wamoto-motokhi,
Andro waatumbu khoma lala
waneha nehago.
Yaaga
simano sowato melo ayama uwu mbalota mbago, ha maola-maola uwu duru. Hamaola
maola uwu danga. Ha kalinawa todo lalu’a, ha sarano talinga za’a, no mafo’osi
ombuyu dalu mbenua, baato sifasala bawamailo, bago sifasala ba wanada, fofo
nafo boro zinumana. Heebolo dodo mihona lo’o ira ama/ina.[77]
6.
Hu ina
Hu ina
ini, dilakukan oleh pengantin perempuan pada saat acara fame’e bene’ö, dimana
pengantin perempuan atau bene’ö menangis kepada orangtuanya, saudara dan
keluarga besarnya karena pertanda mengakhiri masa dewasanya atau onolawe dan
membentuk keluarga baru (mogambato), dimana ia hidup bersama suaminya dan
mertuanya. Ini menandakan bahwa pengantin perempuan sedih karna berpisah dengan
keluarganya yang melahirkan dia.
7. Fanguhugo
adalaah pertanda mulai sebuah acara adat.[78]
Holi-holi wanguhugo yaita sihasara
dodo....oooo
Huuuu
8. Nyanyian
pada saat kematian
a)
Fange’esi
: luapan perasaan orang yang ditinggal oleh orang yang meninggal karena
berpisah dengan keluarga untuk selamanya.
b)
Hoho
ba zimate : ini dilakukan kepada golongan bangsawan untuk menjunjung tinggi
kehormatan pemimpi kampung atau satua mbanua, yang dilakukan oleh ere.[79]
Andro owulo ita oi faondra,
Andro owulo it oi so,
Andro tokea
tobali-bali dodo,
Andro tokea
tobali-bali mbo,
Me so yomo garamba ni zambu-sambua,
Me so dutu nihela famago,
Me so yomo
zatua sawali-wali,
Me so yomo
zatua saetu no so.[80]
9. Sinuno
ba wo’adu
a)
Fo’ere
:
Fo’ere adalah sebuah
instrumen perkusi tradisional di Nias Selatan, yang berfungsi mengiringi
pengucapan mantra. Fo’ere memiliki bentuk yang dapat dibagi menjadi tiga bagian
yaitu: bidang atas, tengah dan bawah. Pada bidang tengah dan bawah tidak
digunakan sebagai bidang pukul. Antara bidang atas dan bidang tengah terdapat
pahatan yang sedikit lebih dalam sehingga berkesan berpinggang. Fo’ere
digunakan sebagai alat musik pukul untuk mengiringi upacara yang berkaitan
dengan religi lama. Fo’ere hanya digunakan oleh para ere (dukun), sehingga
fo’ere memiliki tempat yang sangat sacral bagi masyarakat Nias (alat musik
fo’ere sering disamakan dengan alat musik fondrahi)[81]
b)
Foere
ba ngawalo Nadu
Tuha Mbumbu
Ibozi fondrahi ere imane :
Mogaoni nonobohu bola
mogaoini nono si matua,
ikaoni Zobawi Si Hono,
Ikaoni Zobawi Banua.
....
Oi fakao niha ba mbato
Oi fakao niha ba zua
La be zumange solifua
Fasombata kho Lowalangi
Fasombata kho Luo Sambua,
Ae timba lala wa’amate,
Ae timba lala wamunua,
Ae timba horo ba danari,
O timba horo ba mbanua.[82]
....
B. NYANYIAN LAINNYA
a)
Ngenu-ngenu
: sebuah ratapan isi hati dalam
kehidupan sehari-hari.
b)
Mbolo-mbolo : ini merupakan nyanyian sembarangan dimana
syairnya tidak menentu, namun ini merupakan penghibur saja saat lagi suntuk.
c)
Mangdolu
d)
Kibu-kibu
Contoh
lagu saat menghibur diri ketika menjaga sawah atau ladang :
e)
Lailo/miti-miti
: ungkapan perasaan yang dimiliki seseorang untuk menghibur dirinya yang lagi
sedih atau suntuk.
C. MUSIK DAN NYANYIAN MODERN
Pada
pertengahan abad ke 19 masyarakat Nias mengenal alat musik modern seperti
Biola, Gitar, piano, drum, dan keyboard sehingga banyak masyarakat menciptakan
lagu-lagu Nias yang diiringi oleh musik modern bahkan melakukan rekaman, jadi
pengaruh ataupun kolaborasi musik Nias tradisional dan musik modern tidak dapat
dihindarkan[83]
. Contoh lagu-lagu Nias modern sangat
kenal baik oleh masyarakat Nias, lagu ini sangat populer ditengah masyarakat
Nias baik yang ada di Nias lbeih lagi bagi mereka yang telah lama hidup di
perantauan.
BAB IV
PEMBAHASAN HASIL
PENELITIAN
A. WARISAN
LELUHUR
Nenek moyang atau leluhur masyarakat Nias
telah mewarisi musik tradisional bagi generasi sekarang ini, memang dalam
kenyataannya masyarakat Nias tidak dapat dipisahkan dari seni musik, boleh
dikatakan bahwa masyarakat Nias tidak
dapat hidup tanpa musik yang mengiringi kegiatan ritual, kebudayaan dan
kehidupan sehari-hari baik mereka yang memiliki keahlian dalam memainkan alat
musik, bernyanyi maupun yang memiliki hobby mendengarkan musik.
Seni musik telah menjadi tradisi dalam
kehidupan kebudayaan masyarakat Nias, baik itu seni memainkan alat musik maupun
seni vocal yang ditampilkan baik dalam kegiatan perorangan, kelompok dan dalam
kegiatan-kegiatan ritual apalagi dalam kegiatan adat istiadat dan budaya pasti
tidak lepas dari seni musik.
Karena itu musik tradisional Nias telah
menjadi bagian dari kehidupannya dimana
musik menandai setia aktifitas sehari-hari, hal tersebut terlihat
dari pemakaian alat musik bagi
masyarakat Nias dapat dibedakan menurut jenis dan fungsi bahkan status orang
yang memainkannya juga tempat dimana musik itu dimainkan, misalnya untuk musik
hiburan, musik ritual, musik untuk komunikasi dan musik untuk acara adat
istiadat.
B. KEPUNAHAN
Masyarakat Nias memiliki kurang lebih 24
bentuk-bentuk alat musik yang telah diwariskan oleh para leluhur masyarakat
Nias, akan tetapi sangat disayangkan karena dari 24 alat musik yang berhasil
diteliti ternyata hanya tiga alat musik yang masih sering digunakan yaitu
Gondra, Aramba dan faritia, sedangakan alat musik lainnya sebanyak 21 jenis
sangat jarang digunakan dalam bentuk foto dan duplikat yang dapat dilihat di
Museum Pusaka Nias.
Alat musik tradisional Nias akan punah karena
cara membuat tidak diwariskan, cara memainkannya tidak diajarkan secara turun
temurun sementara mencipta atau pembuat alat musik tersebut sudah meniggal
dunia. Dewasa ini, generasi muda banyak yang tidak berminat menggunakan
alat-alat musik tradisional, karena kehadiran musik modern yang dapat mewakili
nada, melodi dan irama musiknya.
Kendatipun demikian, Puji Tuhan, karena saat
ini pihak Museum Pusaka Nias sedang berusaha membuat kembali alat musik
tradisional tersebut untuk dilestarikan dan dikembangkan, walaupun benda-benda
asli dari setiap alat musik tradisional Nias tersebut belum dapat ditemukan
apakah masih ada atau tidak.
C. PENGELOMPOKKAN
ALAT MUSIK
Alat
musik tradisional Nias dapat
dikelompokkan berdasarkan cara pemakaiannya seperti :
1.1.
Jenis alat
musik perkusi (pukul):
|
1)
Gondra |
9) Doli-doli |
|
2)
Tamburu |
10) Doli-doli bue |
|
3)
Tutu |
11) Koko |
|
4)
Fondrahi |
12) Tabolia |
|
5)
Fafa’i |
13) Tutuhao |
|
6)
Taburani |
14) Duri Gahe |
|
7)
Aramba |
15) Riti-riti Sole |
|
8)
Faritia |
|
1.2.
Jenis alat
musik Gesek:
|
9)
Lagia |
|
10)Raba |
|
11)Tambuni
Dano |
1.3.
Jenis alat
musik tiup:
|
1)
Nduri Mbewe |
|
2)
Ndrui Weto |
|
3)
Sigu |
|
4)
Fifi Fofo |
|
5)
Riri Lewuo |
1.4.
Jenis alat
musik petik :
|
1)
Mage 2)
mage (Koroco) |
Alat-alat
musik tradisional Nias tersebut di atas dapat berfungsi sebagai alat musik yang
menghasilkan irama dan nada tertentu sesuaia dengan kebutuhan dan
peruntukannya, namun beberapa alat musik Nias memiliki kelemahan karena tidak
memenuhi semua nada dalam solmisasi.
- Kegunaan
alat musik dan lagu tradisional Nias
2.1.
Musik ritual
Sebelum
masyarakat Nias mengenal Injil, nenek moyang telah memiliki kegiatan ritual
dengan menghormati roh-roh nenek moyangnya yang telah meninggal dan menyembah
roh-roh yang diyakini berdiam di pohon-pohon besar, gua-gua dan gunung-gunung
tertentu. Untuk melakukan hal tersebut
maka masyarakat Nias menggunakan jasa Ere (imam, pawang atau dukun) untuk
melakukan ritual yang disebut sebagaio fo’ere.
Ere akan
melakukan ritual dengan mengucapkan mantra-mantra yang diiringi dengan
musik Fondrahi dan Tutu, jadi kedua alat
musik tersebut dikenal sebagaio alat musik untuk memanggil arwah nenek moyang
yang telah meninggal, memuja roh-roh.
Tujuan foere ialah untuk meminta berkat dan menyembuhkan penyakit. Jadi kedua alat musik tersebut dikenal
sebagai alat musik ritual kepercayaan kepada roh nenek moyang yang telah
meninggal dan memuja roh-roh.
2.2.
Musik
hiburan (Fondrara dodo)
Masyarakat
Nias yang mayoritas bercocok tanam seperti sawah dan ladang yang berlokasi jauh
dari tempat bermukim sehingga mendirikan pondok-pondok (Ose-ose) karena keadaan
yang sunyi, maka untuk menghibur diri mereka memainkan alat musik atau benyanyi dengan menggunakan musik seperti :
1. Lagia
2. Doli-doli
3. Tabolia
4. Koko
5. Duri gahe
6. Tutuhao
7. Tamburu
8. Sigu
Alat
instrument tersebut di atas digunakan juga untuk mengiringi nyannyian lainnya,
seperti :
1.
Solo
: lailo, ngenu-ngenu atau mbolo-mbolo
2.
Tarian : Bolihae, hiwo-hiwo, Hoho,
hendri-hendri, maola dan Liwa-liwa.
2.3.
Musik
komunikasi
Masyarakat
Nias memiliki dua alat musik yang berguna sebagai alat komunikasi dalam
memanggil, memberikan aba-aba, dan ronda malam, kedua alat musik tersebut
adalah :
1)
Koko adalah kentongan yang terbuat dari bahan
kayu
2)
Tabolia kentongan yang terbuat dari bahan
bambu
Kedua alat musik tersebut dipergunakan untuk
kehipan keseharian warga masyarakat Nias
dalam berkomunikasi jarak jauh dengan sesama warga
lainnya seperti :
1)
Memanggil atau mengingatkan orang-orang yang
sedang bekerja disawah atau ladang untuk kembali ke rumah karena waktunya
pulang atau ada sesuatu yang terjadi di rumahnya misalnya ada anaknya yang
sakit atau mereka kedatangan tamu penting di rumah.
2)
Memberikan aba-aba kepada warga untuk
berkumpul karena ada kebakaran, pencurian, musuh yang menyerang dan juga untuk
memanggil warga ke balai desa untuk mengadakan pertemuan.
3)
Sebagai hiburan bagi penunggu sawah atau
ladang bila diserang ras ngantuk.
2.4.
Upacara adat
Musik
tradisional Nias sangat berguna untuk acara adat istiadat seperti pesta
perkawinan, kematian para bangsawan/tokoh adat, pemberian gelar
kebangsawanan. Alat musik yang digunakan
adalah :
1)
Gondra
2)
Aramba
3)
Faritia
Bahkan juga
dipakai untuk mengiringi tari-tarian, seperti : tari Moyo, tari Nihele, fanari
Saembu dan tarian penghormatan kepada tamu.
2.5.
Lagu
Tradisional Nias
Lagu
tradisional Nias sudah ada sebelum Injil masuk ke pulau Nias, itulah sebabnya
lagu tradisional Nias tidak ditujukan untuk menyembah Tuhan Yesus Kristus
tetapi Hoho atau syair lagu tradisional Nias ditujukan untuk menyembah roh-roh
nenek moyang yang telah meninggal dan menyembah roh-roh yang ada di alam
semesta yang diwujukan melalui foere.
Syair hoho ditujukan juga untuk ungkapan
penghibur diri, berkomunikasi dengan sesama dan alat untuk ungkapan
penghormatan dalam acara-acara adat istiadat di tengah masyarakat Nias.
BAB V
UPAYA MEMPERKAYA
LITURGI BNKP
Masyarakat Nias memiliki kekayaan
seni musik yang bernilai sangat
tinggi. Nenek moyang masyarakat
Nias telah mewarisi kepada generasi sekang alat-alat musik yang sangat indah dan
menghasilkan bunyi-bunyian yang mampu menggugah hati setiap kali musik tersebut
didengarkan. Masyarakat Nias juga
memiliki nyanyian dalam bentuk hoho syair lagu yang mengandung makna yang
sangat dalam dan sangat berarti dalam kehidupan karena memiliki tujuan
kemanusiaan dan keilahian. Masyarakt
Nias tidak bisa lepas dari musik dan tidak bisa hidupan tanpa musik.
A. IBADAH
Salah satu kebiasaan nenek moyang Nias pada
zaman dulu adalah menggunakan. Alat
musik –khususnya- Fondrahi dan Tutu untuk “ibadah” menyembah roh-roh dan memuja
dan menghormati roh nenek moyang untuk memohon berkat dan pertolongan. Hal itu terjadi sebelum Injil masuk ke Nias. Kebiasaan menggunakan alat musik untuk
menyembah roh-roh sudah lama ditinggalkan oleh masyarakat Nias umumnya, seiring dengan Injil Kristus yang telah
memasuki kehidupan masyarakat Nias, Injil telah menguduskan kehidupan beribadah
masyarakat Nias dan tentunya Injil juga menguduskan semua hasil karya kebudayaan
orang Nias termasuk alat-alat musik, irama dan nada nyanyiannya.
Kebiasaan menggunakan musik
tradisional untuk ibadah ini perlu terus dilestarikan, dihidupkan dan
dikembangkan dengan menggunakan musik
dan nada serta irama nyanyian tradisional dibawa masuk kedalam liturgi gereja dalam
bentuk ibadah.
Salah
satu contoh nyanyian berirama etnik Nias adalah Buku Zinuno No. 261 ;
|
261. YA'E ZUMANGE |
(iramatua) Ma'andrõ khõu fahowu'õ, zumange
ni'ohema khõ-Mõ.
(iramatua)
Ma'andrõ khõu fahowu'õ, zumange ni'ohema khõ-Mõ.
(iramatua)
Ma'andrõ khõu fahowu'õ, zumange ni'ohema khõ-Mõ.
(iramatua)
Ma'andrõ khõu fahowu'õ, zumange ni'ohema khõ-Mõ.
(iramatua) Ma'andrõ khõu fahowu'õ,zumange
ni'ohema khõ-Mõ.
(iramatua) Ma'andrõ khõu fahowu'õ, zumange
ni'ohema khõ-Mõ. |
Lagu
tersebut sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dalam Kidung Keesaan No.
386;
Karena musik dan nyanyian tidak dapat
dipisahkan dari perkembangan dan
kehidupan liturgi di gereja. Saat ini
hampir semua gereja-gereja bercorak Lutheran di Indonesia menggunakan musik dan
nyanyian bercorak barat. Sudah saatnya
gereja bercorak Lutheran menggunakan musik-musik tradisional untuk mengiringi
liturgi dalam gereja khususnya dalam masyarakat Nias yang kehidupannya
digerakkan oleh musik dan lagu, adalah hal yang sangat mendasar untuk
menggerakkan jiwa dan kehidupan masyarakat Nias dengan musik dan lagu
tradisionalnya sendiri karena dapat menghantar
jiwa dan semangat jemaat untuk beribadah.
B. FUNGSI ALAT MUSIK
DALAM IBADAH
Musik Nias full dapat ditempatkan dalam
liturgi BNKP sebagai pengiring lagu-lagu tertentu dalam ibadah, alat-alat musik
tersebut adalah ; Gondra, Aramba, Faritia, doli-doli, sigu, dll.
1.1.
Liturgi/Tata
Ibadah
|
Tata Ibadah |
Nyanyian |
Alat musik pengiring |
|
Persiapan Ibadah |
BZ. 1 = Haleluyah kho Yehowa
|
|
|
Lagu pujian |
BZ. 10 = Moroi ba dododa
|
|
|
Pengakuan dosa |
BZ. 212 = Metana khou ndrao
|
|
|
Pesembahan |
BZ. 261 = Yae zumange
(iramatua) Ma'andrõ khõu fahowu'õ, zumange
ni'ohema khõ-Mõ. |
|
|
Persiapan Khotbah |
BZ. 163 = Uhonogo Sibai dodogu Uhonogõ sibai dõdõgu, Ba wamondrondrongo li-Mõ Yesu. Mangalulu
ndra'odo fõna-U ba gametahõ-Mõ iada'a. Obayoini
eheha-U Yesu, dozigõ mbanua samati
khõ-U. Ubokai dõdõgu khõu Yesu,nahia daromali-U. Taromali-Mõ lõ
fa'atebulõ, menewi, ma'õkhõ, Ba
si'ogõtõ'õ, lõ sa mamalõ. Taromali-Mõ simõi fangabõlõ, Utema'õ soroi ba dõdõ, tolo ba wolo'õ. |
|
|
Respon atas Pemberitaan Firman
Tuhan |
BZ. = No mafondrondrongo Liu
|
|
|
Penutup Ibadah |
BZ. Ba danga Lowalangi
|
|
C. KOLABORASI
Kendatipun
alat musik tradisional Nias dapat mengiring lagu-lagu tetapi musik Nias tetap
membutuhkan musik lain untuk berkolaborasi, apalagi musik Nias tidak memiliki
solmisasi dan accord yang lengkap. Kalaborasi akan menghasilkan irama musik yang
indah dan menciptakan ruang bagi musik
Nias yang kurang mendapatkan tempat,
bahkan kolaborasi akan membuat alat musik Nias bertahan juga tidak membosankan
bila dikemas dengan baik bahkan akan mengangkat hati untuk memuji Tuhan.
KESIMPULAN DAN SARAN
Dalam Alkitab khususnya kitab Perjanjian Lama
terdapat beberapa kitab yang memuat tentang alat-alat musik yang digunakan
untuk memuji TUHAN. Alat-alat musik
baik yang dicatat dalam Alkitab adalah
alat musik yang dihasilkan oleh budi dan daya (budaya) manusia secara
tradisional oleh manusia yang hidup di zamannya dan digunakan untuk memuji
TUHAN.
Dalam Alkitab
terdapat bebearapa alat musik seperti alat musik tiup yakni : Syofar Ibrani
שׁוֹפָר , Nafiri, Trumpet (Ibrani: חֲצֹצְרָה – Khatsuts’rah), kecapi/ harpa
(Ibrani: כִּנּוֹר - Kinor), Seruling/pipe dalam
bahasa Ibrani adalah חָלִיל – Khalil dan suling (Nekhilot)
kata Ibrani: נְּחִילֹות - Nekhilot (bentuk plural).
Alat musik bersenar
seperti : kecapi/ harpa (Ibrani: כִּנּוֹר - Kinor) dan Seruling/ flute/
pipe (Ibrani עוּגָב - Ugav) dan Ada jenis alat
musik petik berdawai 8 yang disebut שְּׁמִינִית – Syeminit, istilah Ibrani מִינִּים – Minim ada Alat musik yang
disebut שָׁלִישׁ – Syalisy dan גִּתִּית - Gitit.
Alat musik perkusi
(pukul)Rebana dalam bahasa Ibrani adalah
: תֹּף – Tof, Ceracap dalam bahasa
Ibrani: צְלָצַ – Tselatsal, metselet dalam bahasa Ibrani
adalah : מְצֵלֶת - Metselet, kelentung,
castanets/ sistrums adalah מַנְעַנְעִים Mene'anim, giring-giring kuda,
Kerencingan kuda (Ibrani: מְצִלֹּות הַסּוּס – Metsilot Hasus), Guitar
adalah קִיתָרֹס
- Qitaros atau קתרוס - Qatros (bahasa Aramaic), סַבְּכָא - Sabkha dan Serdam kata
Aramaic: סוּמְפֹּנְיָה -Sum’pon’yah.
Musik tradisional Nias musik warisan nenek
moyang masyarakat Nias yang bernilai seni tinggi. Nias memiliki lebih dari 24 jenis dan
bentuk alat musik tradisional akan
tetapi hanya sekitar 3-5 jenis alat musik yang selalu dipergunakan , seperti ;
Gondra, Aramba, Faritia,
Doli-doli dan Sigu, namun alat-alat musik tersebut akan menuju kepada kepunahan
bila tidak dilestarikan.
Nyanyian masyarakat Nias yang dikenal dengan
Hoho juga memiliki Nilai seni yang sangat tinggi, Hoho Nias sarat dengan makan yang
menganggungkan sang pencipta, relasi dengan sesama, diri sendiri dan alam
semesta. Hoho Nias akan semakin
berkembang bila diaktualkan dalam kehidupan masyarakat Nias pada zaman modern
ini.
Injil membawa perubahan mendasar bagi
kehidupan masyarakat Nias, musik dan nyanyian berubah arah dari menyembah
roh-roh orang yang sudah meninggal dan memuja roh-roh kepada Allah yang hidup
di dalam Tuhan Yesus Kristus. Alat-alat musik Nias perlu diberi tempat dalam
ibadah disamping sebagai sarana pendukung liturgi juga melestarikannya.
Oleh karena itu alat musik dan nyanyian
tradisional Nias tidak lagi dipandang sebagai alat untuk tujuan animisme tetapi
telah menjadi simbol kebudayaan masyarakat Nias untuk kemuliaan Tuhan.
SARAN-SARAN
1.
Semua alat musik tradisional Nias perlu
diproduksi ulang
2.
Semua alat musik Nias perlu dilestarikan agar
tidak punah
3.
Alat musik Nias perlu dikembangkan
penggunaanya di dalam kegiatan kemasyarakatan dan keagamaan
4.
Musik tradisional Nias terus dikolaborasikan
dengan musik modern melalui festival-festival musik
5.
Nyanyian-nyanyian Nias diperlombakan untuk
menarik minat penyanyi, pemerhati musik dan pencipta lagu
6.
Perintah dan gereja perlu membuat dan
mengembangkan sanggar budaya Nias untuk memelihara musik Nias
7.
Gereja perlu juga menciptkan tata ibadah
alternatif untuk memberi tempat bagi musik tradisional Nias dan musik
kolaborasi dalam liturgi di BNKP.
|
DAFTAR PUSTAKA _______________Alkitab edisi Studi, Jakarta:
LAI,2013 Dra Pestaria Naibaho, M. Th
dan Simion Diparuma Harianja. Liturgi.
Dan musik Gerejawi Medan: Mitra dwi Lestari, 2011 Edward Rommen dan
Hesselgrave David J. Kontekstualisasi Makna, Metode, dan model. Jakarta: BPK
Gunung Mulia, 2010 dan musik gerejawi.
Emanuel Martasudjita,
Emanuel, Pr., Liturgi, Pengantar untuk
Studi dan Praktisis Liturgi Yogyakarta:Kanisus, 2011 Jebadu, Alex, Bukan Berhala!( penghormatan kepada para
leluhur). Yogyakarta: Ledalero, 2009. Sarosa, Samiaji, Penelitian Kualitatif ( dasar-dasar), Jakarta: Indeks, 2012. Prier sj, Karl-Edmund, Sejarah
Musik jilid 1, Yogyakarta Pusat Musik Liturgi,1991
Wiradnyana,
Ketut “Legitimasi Kekuasaan Pada Budaya Nias” Yayasan Pustaka Obor Indonesia
2010) |
|
|
PUSTA
[1]
.....................Alkitab edisi Studi, (Jakarta: LAI, 2013) h. 10006
[2] Karl-Edmund Prier sj, Sejarah Musik jilid 1, Yogyakarta Pusat Musik
Liturgi,1991, h. 13-17
[3]
Wawancara dengan O’o Zebua, Pemerhaiti dan pencipta lagu-lagu Nias, 19 dan 23
Agustus 2017
[4]
Wawancara dengan Pastor Yohanness Hammerle, Pendiri Museum Pusaka Nias.
[5] Hasil
wawancara kepada bapak Hezatulö Ndruru (menjaga ruang pameran atau konservasi
di Museum Pusaka Nias)
[6]
Wawancara kepada bapak Hezatulö Ndruru,
(staf Museum Pusaka Nias)
[7] Simion Diparuma Harianja dan Dra. Pestaria Naibaho, liturgi dan
musik gerejawi (Medan, Mitra (IKAPI: 2011) 49
[8] Emanuel
Martasudjita, Pr., Liturgi, Pengantar untuk studi dan praksis liturgi
(Semarang: Kanisius 2011) 195-196.
[9] Alat
musik Gondra milik STT BNKP Sundermann, disimpan di Laboratorium Musik
[10]
http://www.museum-nias.org/tarian-musik/
[11]101
Kumpulan catatan Pra survey benda-benda koleksi kebudayaan kabupaten Nias,
h.16-17, 1984
[12] 101
Kumpulan catatan pra survey...h.16-17
[13] Bahasa
dan sastra Nias...h. 119-120, 2003
[14] Para
mahasiswa STT BNKP Sunderman sedang memainkan Gondra
[15]
http://www.museum-nias.org/tarian-musik/
[16] 101
Kumpulan catatan pra survey....15
[17] 101
Kumpulan catatan pra survey...h...31
[18]http://www.museum-nias.org/tarian-musik/
[19] 101
Kumpulan catatan pra survey...14
[20]
http://www.museum-nias.org/tarian-musik/
[21] 101
Kumpulan catatan pra survey...12
[22]
http://www.museum-nias.org/tarian-musik/
[23] Bahasa
dan sastra Nias, h. 116
[24] 101
kumpulan catatan pra survey...h.30
[25]
Ensiklopedia Pusaka Pulau Nias, halaman sampul dan h. 22
[26]
http://www.museum-nias.org/tarian-musik/
[27]
http://www.museum-nias.org/tarian-musik/
[28]
http://www.museum-nias.org/tarian-musik/
[29]
http://www.museum-nias.org/tarian-musik/
[30]
http://www.museum-nias.org/tarian-musik/
[31] 101
Kumpulan catatan pra survey...18
[32] Aramba
milik STT BNKP Sundermann disimpan di Laboratorium Musik
[33] 101
Kumpulan catatan pra survey...h.20-22
[34] 101
kumpulan catatan pra survey...h. 34
[35] Mahasiswa
STT BNKP Sunderman sedang memainkan Aramba
[36] Makalah
Tim Penata Karya Seni Budaya Nias bekerjasama dengan Dinas Pariwisata Kab.
Nias, h. 119 tahun 2003
[37] 101
Kumpulan catatan pra survey...18
[38]Faritia
milik STT BNKP Sundermann disimpan di Lab Musik
[39] 101
kumpulan catatan pra survey...33
[40]101
Kumpulan catatan pra survey...h. 18-19
[41]
Mahasiswa STT BNKP Sundermann sedang memainkan Faritia
[42] Makalah
Tim Penata Karya Seni Budaya Nias..., h. 118., 2003
[43]
http://www.museum-nias.org/tarian-musik/
[44] 101
kumpulan catatan pra survey...h.26
[45]
http://www.museum-nias.org/tarian-musik/
[46] 101
kumpulan catatan pra survey....h. 26
[47]
http://www.museum-nias.org/tarian-musik/
[48] 101
kumpulan catatan pra survey...h.27
[49]
http://www.museum-nias.org/tarian-musik/
[50] 101
kumpulan catatan pra survey...h.37
[51]
http://www.museum-nias.org/tarian-musik/
[52] 101
kumpulan catatan pra survey...h.29
[53]
http://www.museum-nias.org/tarian-musik/
[54] 101
kumpulan catatan pra survey...h.28
[55]
http://www.museum-nias.org/tarian-musik/
[56]
http://www.museum-nias.org/tarian-musik/
[57]
http://www.museum-nias.org/tarian-musik/
[58] Tim
penyusun Ensiklopedia Pusaka Pulau Nias, (Gunungsitoli:PNPM-R2PN, 2011) h.24-25
[59] 101
kumpulan catatan survey...h.25
[60]
http://www.museum-nias.org/tarian-musik/
[61]
http://www.museum-nias.org/tarian-musik/
[62]
http://www.museum-nias.org/tarian-musik/
[63]
http://www.museum-nias.org/tarian-musik/
[64]
http://www.museum-nias.org/tarian-musik/
[64]
101 kumpulan catatan pra survey...h.27
[65]
http://www.museum-nias.org/tarian-musik/
[66]
http://www.museum-nias.org/tarian-musik/
[67] 101
kumpulan catatan pra survey...h.36
[68]
http://www.museum-nias.org/tarian-musik/
[69]
http://www.museum-nias.org/tarian-musik/
[70]
http://www.museum-nias.org/tarian-musik/
[71]
http://www.museum-nias.org/tarian-musik/
[72]
http://www.museum-nias.org/tarian-musik/
[73] Hasil
wawancara kepada bapak Hezatulö Ndruru (menjaga ruang pameran atau konservasi
di Museum Pusaka Nias)
[74]
OFM.Cap, P.Johannes M. Hammerle Ulu Noyo, cerita rakyat di hulu sungai oyo.(penerbit:
Yayasan Pusaka Nias Maret 2012). Hal 125-126
[75]
Wawancara dengan P.Johannes Hammerle 24 Juni 2017
[76]Dr.
Sadieli Telaumbanua, M.Pd, M.A “Representasi Budaya Nias Dalam Tradisi Lisan”
Gunungsitoli 2006, hlm 70-73
[77] Hasil
wawancara kepada bapak Hezatulö Ndruru (staf pameran atau konservasi di Museum
Pusaka Nias)
[78] Wawancara, Hezatulo Ndruru, staf Museum
Pusaka Nias, 21 Agustus 2017
[79] Wawancara, Hezatulo Ndruru, Staf Museum
Pusaka Nias,21 Agustus 2017
[80] P.
Yohannes M. Hammerle, OFMCap, Lawaendrona (Gunungsitoli : MPN, 1-2) 2013
[81] Ketut
Wiradnyana “Legitimasi Kekuasaan Pada Budaya Nias” Yayasan Pustaka Obor
Indonesia 2010, hlm 32-34
[82] P.
Yohannes M. Hammerle, OFMCap, Hikaya Nadu (Gunungsitoli : MPN, 527) 1995
[83]
Wawancara dengan Bp. Faty Zebua, pemerhati musik Nias, penulis dan pencipta
lagu tradisional Nias dan musik modern
Tidak ada komentar:
Posting Komentar