Khotbah PASKAH
1 Korintus 15:1-11
Pendahuluan
Korintus, sebuah kota kuno di Yunani, dalam banyak hal
merupakan kota metropolitan Yunani yang terkemuka pada zaman Paulus. Seperti
halnya banyak kota yang makmur pada masa kini, Korintus menjadi kota yang
angkuh secara intelek, kaya secara materi, dan bejat secara moral. Segala macam
dosa merajalela di kota ini yang terkenal karena perbuatan cabul dan hawa
nafsu.
Bersama dengan Priskila dan Akwila (1Kor 16:19) dan rombongan rasulinya sendiri (Kis 18:5), Paulus mendirikan jemaat Korintus itu selama delapan belas bulan pelayanannya di Korintus pada masa perjalanan misinya yang kedua (Kis 18:1-17). Jemaat di Korintus terdiri dari beberapa orang Yahudi tetapi kebanyakan adalah orang bukan Yahudi yang dahulu menyembah berhala. Setelah Paulus meninggalkan Korintus, berbagai macam masalah timbul dalam gereja yang masih muda itu, diantaranya adalah keraguan akan kepastian kebangakitan Tuhan Yesus pada hari yang ketiga.
Nats 1 Korintus 15:1-11 menghilangkan keraguan tersebut di atas. Yesus bangkit pada hari yang ketiga ini merupkan bukti tertulis dalam Alkitab bahwa pertama, kebangkitan Yesus merupakan bukti Iman (ayat 1-2) kedua, adanya saksi mata kebangkitan Yesus tersebut (ayat 3-9) dan yang ketiga, kebangkitan Yesus merupakan kasih karunia Allah bagi orang percaya (Ayat 10-11)
1 Korintus 15:1-11
1. Dan sekarang, saudara-saudara, aku mau mengingatkan kamu kepada
Injil yang aku beritakan kepadamu dan yang kamu terima, dan yang di dalamnya
kamu teguh berdiri. 2. Oleh Injil itu kamu diselamatkan, asal kamu teguh
berpegang padanya, seperti yang telah kuberitakan kepadamu kecuali kalau kamu
telah sia-sia saja menjadi percaya. 3.Sebab yang sangat penting telah
kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa
Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, 4. bahwa Ia
telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga,
sesuai dengan Kitab Suci; 5.bahwa Ia telah menampakkan diri kepada Kefas dan
kemudian kepada kedua belas murid-Nya. 6. Sesudah itu Ia menampakkan diri
kepada lebih dari lima ratus saudara sekaligus; kebanyakan dari mereka masih
hidup sampai sekarang, tetapi beberapa di antaranya telah meninggal. 7. Selanjutnya
Ia menampakkan diri kepada Yakobus, kemudian kepada semua rasul. 8. Dan yang
paling akhir dari semuanya Ia menampakkan diri juga kepadaku, sama seperti
kepada anak yang lahir sebelum waktunya. 9. Karena aku adalah yang paling hina
dari semua rasul, bahkan tidak layak disebut rasul, sebab aku telah menganiaya
Jemaat Allah. 10. Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku
ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia.
Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi
bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku. 11. Sebab itu,
baik aku, maupun mereka, demikianlah kami mengajar dan demikianlah kamu menjadi
percaya.
Khotbah
I. Kebangkitan Yesus sebagai Bukti Iman (1 Korintus 15:1-2)
Dalam bagian ini, Rasul Paulus menegaskan kembali dasar iman
Kristen, yaitu Injil yang telah diberitakannya kepada jemaat di Korintus.
Penegasan ini bukan tanpa alasan, melainkan karena jemaat mulai mengalami
kebimbangan, khususnya mengenai kebangkitan Kristus. Oleh sebab itu, Paulus
mengingatkan mereka kepada sesuatu yang paling mendasar, yaitu Injil yang telah
mereka terima sejak awal.
Injil yang dimaksud bukan sekadar kumpulan ajaran moral atau
etika keagamaan, melainkan kabar keselamatan yang berpusat pada pribadi Yesus
Kristus kematian-Nya, penguburan-Nya, dan terutama kebangkitan-Nya pada hari
yang ketiga. Kebangkitan Kristus menjadi inti dari Injil, karena tanpa
kebangkitan, seluruh pemberitaan menjadi tidak berarti. Dengan demikian, iman
Kristen berdiri bukan di atas spekulasi manusia, tetapi di atas peristiwa nyata
yang dikerjakan Allah dalam sejarah.
Paulus menyatakan bahwa jemaat “telah menerima” Injil
tersebut. Ini menunjukkan bahwa iman dimulai dari sikap menerima kebenaran
Allah dengan hati yang terbuka. Namun, penerimaan saja tidak cukup. Paulus
melanjutkan dengan mengatakan bahwa di dalam Injil itu mereka “teguh berdiri”.
Ini mengandung arti bahwa iman harus memiliki keteguhan dan kestabilan. Iman
bukan sesuatu yang berubah-ubah sesuai keadaan, tetapi harus tetap kokoh
meskipun menghadapi tantangan, tekanan, atau keraguan.
Lebih lanjut, Paulus menegaskan bahwa oleh Injil itu mereka
“diselamatkan”, dengan syarat bahwa mereka “teguh berpegang padanya”. Di sini
terlihat bahwa keselamatan berkaitan erat dengan ketekunan dalam iman.
Keselamatan bukan hanya pengalaman sesaat di masa lalu, tetapi realitas yang
terus dijalani dalam kesetiaan kepada Injil. Jika seseorang tidak berpegang
teguh pada Injil, maka imannya dapat menjadi “sia-sia”, yaitu iman yang tidak
menghasilkan keselamatan yang sejati.
Pernyataan tentang “percaya dengan sia-sia” menjadi
peringatan yang serius. Hal ini menunjukkan bahwa tidak semua bentuk
kepercayaan membawa kepada keselamatan. Iman yang sejati adalah iman yang
berakar pada Injil yang benar dan bertahan sampai akhir. Tanpa keteguhan
tersebut, iman dapat kehilangan maknanya dan tidak menghasilkan buah dalam
kehidupan.
Dengan demikian, kebangkitan Yesus Kristus menjadi bukti iman
yang sejati. Kebangkitan itu meneguhkan bahwa Injil adalah kebenaran, dan bahwa
keselamatan yang diberitakan bukanlah janji kosong. Karena Kristus hidup, maka
iman orang percaya memiliki dasar yang kuat dan tidak tergoyahkan. Oleh sebab
itu, setiap orang percaya dipanggil untuk tidak hanya menerima Injil, tetapi
juga hidup di dalamnya dan berpegang teguh sampai akhir.
II. Saksi Mata Kebangkitan Yesus (1 Korintus 15:3-9)
Dalam bagian ini, Rasul Paulus menegaskan kredibilitas Injil
melalui kesaksian para saksi mata. Ia memulai dengan menyatakan bahwa apa yang
diberitakannya adalah sesuatu yang “sangat penting” dan yang telah ia “terima
sendiri”. Ungkapan ini menunjukkan bahwa Injil bukanlah hasil pemikiran pribadi
Paulus, melainkan tradisi iman yang telah diwariskan secara otoritatif dalam
komunitas gereja mula-mula.
Inti Injil yang disampaikan Paulus terdiri dari tiga
peristiwa utama:
1.
kematian Kristus karena dosa manusia, penguburan-Nya sebagai bukti
bahwa Ia benar-benar mati, dan
2.
kebangkitan-Nya pada hari yang ketiga.
3.
Ketiga unsur ini tidak dapat dipisahkan, karena bersama-sama membentuk
dasar keselamatan.
Penegasan bahwa semua ini terjadi “sesuai dengan Kitab Suci”
menunjukkan bahwa peristiwa tersebut merupakan penggenapan rencana Allah yang
telah dinubuatkan sebelumnya.
Lebih jauh, Paulus menguatkan pernyataannya dengan
menghadirkan daftar saksi mata. Kristus yang bangkit menampakkan diri kepada
Kefas, kemudian kepada kedua belas murid, dan bahkan kepada lebih dari lima
ratus orang sekaligus. Kesaksian kolektif ini memiliki bobot historis yang
kuat, karena tidak mungkin sejumlah besar orang mengalami halusinasi yang sama
secara bersamaan. Paulus bahkan menambahkan bahwa sebagian besar dari saksi
tersebut masih hidup pada saat surat itu ditulis, sehingga kesaksian mereka dapat
diverifikasi.
Selanjutnya, Kristus menampakkan diri kepada Yakobus dan
semua rasul, dan akhirnya kepada Paulus sendiri. Pengalaman Paulus sangat
signifikan, karena ia sebelumnya adalah penganiaya jemaat. Transformasi radikal
dalam hidupnya menjadi bukti tambahan akan realitas kebangkitan Kristus. Tidak
ada penjelasan lain yang memadai selain bahwa ia benar-benar berjumpa dengan
Kristus yang hidup.
Dengan demikian, kesaksian para saksi mata memperlihatkan
bahwa kebangkitan Yesus bukanlah mitos atau simbol, melainkan fakta historis
yang dapat dipertanggungjawabkan. Hal ini memberikan dasar yang kokoh bagi iman
Kristen, karena iman tersebut tidak dibangun di atas cerita yang dibuat-buat,
melainkan pada peristiwa nyata dalam sejarah keselamatan.
III. Kebangkitan Yesus adalah Kasih Karunia Allah (1 Korintus
15:10-11)
Pada bagian ini, Rasul Paulus beralih dari pembelaan objektif
tentang kebangkitan kepada refleksi subjektif mengenai dampaknya dalam
hidupnya. Ia mengakui bahwa seluruh keberadaannya sebagai rasul adalah hasil
dari kasih karunia Allah. Pernyataan “aku adalah sebagaimana aku ada sekarang”
menunjukkan kesadaran mendalam bahwa identitas dan pelayanannya tidak berasal
dari dirinya sendiri, melainkan dari anugerah ilahi.
Kasih karunia yang dimaksud bukanlah sesuatu yang pasif,
melainkan aktif dan transformatif. Paulus menegaskan bahwa kasih karunia itu
“tidak sia-sia”, yang berarti bahwa anugerah Allah menghasilkan respons nyata
dalam bentuk kerja keras dan dedikasi dalam pelayanan. Meskipun ia menyatakan
telah bekerja lebih keras dari rasul-rasul lainnya, ia segera menegaskan bahwa
semua itu bukanlah karena kekuatannya sendiri, melainkan karena kasih karunia
Allah yang bekerja di dalam dirinya.
Di sini terlihat adanya keseimbangan antara anugerah dan
tanggung jawab manusia. Kasih karunia tidak meniadakan usaha, tetapi justru
memampukan dan menggerakkan manusia untuk melayani dengan sungguh-sungguh.
Dengan demikian, kehidupan Paulus menjadi contoh konkret bagaimana kebangkitan
Kristus menghasilkan perubahan hidup yang nyata dan produktif.
Ayat 11 menegaskan kesatuan pemberitaan Injil. Baik Paulus
maupun rasul-rasul lainnya memberitakan pesan yang sama, dan melalui
pemberitaan itulah jemaat menjadi percaya. Hal ini menunjukkan bahwa pusat iman
Kristen tetap satu, yaitu Yesus Kristus yang mati dan bangkit. Keseragaman
pesan ini memperkuat keabsahan Injil dan menegaskan bahwa iman jemaat Korintus
berdiri di atas dasar yang benar.
Dengan demikian, kebangkitan Yesus Kristus bukan hanya fakta
yang harus dipercayai, tetapi juga realitas yang mengalirkan kasih karunia
Allah dalam kehidupan orang percaya. Kasih karunia itu mengubahkan, memampukan,
dan mendorong setiap orang percaya untuk hidup bagi kemuliaan Allah.
Kesimpulan
Dari pembahasan 1 Korintus 15:1-11, terlihat dengan jelas
bahwa kebangkitan Yesus Kristus memiliki makna yang sangat mendasar bagi iman
Kristen. Pertama, kebangkitan Yesus merupakan dasar iman. Iman orang percaya
tidak berdiri di atas pemikiran manusia atau tradisi semata, melainkan pada
peristiwa nyata yang dikerjakan Allah dalam sejarah. Karena Kristus bangkit,
maka iman memiliki fondasi yang kokoh dan tidak sia-sia.
Kedua, kebangkitan Yesus adalah fakta yang disaksikan oleh
banyak orang. Kesaksian para saksi mata, seperti para rasul dan ratusan orang
lainnya, memberikan dasar historis yang kuat bahwa kebangkitan bukanlah cerita
yang dibuat-buat. Dengan demikian, iman Kristen bukanlah iman yang buta, tetapi
iman yang didasarkan pada kebenaran yang dapat dipercaya.
Ketiga, kebangkitan Yesus membawa kasih karunia Allah yang
mengubah hidup. Melalui kebangkitan Kristus, orang percaya menerima anugerah
yang tidak hanya menyelamatkan, tetapi juga memperbarui hidup. Kasih karunia
ini bekerja secara nyata, mengubahkan hati, pikiran, dan tindakan, sehingga
kehidupan orang percaya menjadi berbeda dari sebelumnya.
Penerapan
1. Berpegang
teguh pada Injil dalam segala keadaan
2. Menjadi
saksi kebangkitan melalui hidup yang berubah
3. Hidup
dalam kasih karunia dengan kesungguhan melayani
Oleh:
Juliman Harefa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar