Senin, 23 Maret 2026

Yesus Kristus Adalah Tuhan

Khotbah  29 Maret 2026, Palmarum

Filipi 2:5 –11. 

5 Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, 6 yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, 7 melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. 8 Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. 9 Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, 10 supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, 11 dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa!

Pendahuluan

Perikop Filipi 2:5-11 ini menjadi sangat menarik karena berbentuk nyanyian pujian (hymne Kristologis) yang menggambarkan dua gerakan besar, yaitu perendahan dan pemuliaan Kristus. Dalam nyanyian ini termuat inti Injil yang berpusat pada pribadi dan karya Kristus, di mana pada akhirnya seluruh ciptaan yang ada di langit, di bumi, dan di bawah bumi akan mengaku bahwa “Yesus Kristus adalah Tuhan.”

Proses menuju pemuliaan tersebut ditempuh melalui jalan perendahan diri. Kristus yang pada hakikatnya adalah Allah tidak mempertahankan kesetaraan-Nya dengan Allah sebagai sesuatu yang harus dipertahankan, melainkan Ia mengosongkan diri-Nya. Istilah “mengosongkan diri” dalam bahasa Yunani adalah ekenōsen (ἐκένωσεν), yang menjadi dasar dari konsep teologis kenosis.

Kenosis menunjuk pada tindakan Kristus yang secara sukarela merendahkan diri-Nya, bukan dengan melepaskan keilahian-Nya, tetapi dengan tidak menggunakan hak-hak ilahi-Nya, melainkan mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia. Ini menunjukkan kerendahan hati yang radikal dan ketaatan yang total terhadap kehendak Allah.

Dengan demikian, perendahan Kristus melalui kenosis justru menjadi jalan menuju pemuliaan-Nya. Allah meninggikan Dia dan mengaruniakan nama di atas segala nama. Karakter Kristus yang rela merendahkan diri, taat, dan berkorban inilah yang menjadi dasar etis dan teologis bagi kehidupan orang percaya dalam membangun relasi dengan sesama.

1. Hidup dalam Kerendahan Kristus (ayat 5)

Paulus menegaskan bahwa kehidupan Kristen dimulai dari perubahan batin, yaitu pikiran dan perasaan yang serupa dengan Kristus. Ia berkata, “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus.” Ini berarti kekristenan bukan hanya soal tindakan luar, tetapi dimulai dari dalam hati.  Pikiran Kristus adalah pikiran yang penuh kerendahan hati, bukan keegoisan. Ia tidak mencari keuntungan diri sendiri, tetapi mengutamakan orang lain. Dalam dunia yang menekankan ambisi pribadi, persaingan, dan kepentingan diri, orang percaya justru dipanggil untuk hidup berbeda hidup dalam kasih, saling memperhatikan, dan saling melayani.

Seringkali masalah dalam kehidupan, baik dalam keluarga, pelayanan, maupun gereja, bukan karena hal besar, tetapi karena tidak adanya kerendahan hati. Setiap orang ingin dihargai, didengar, dan diutamakan. Namun Firman Tuhan mengajar kita untuk memiliki pikiran Kristus pikiran yang rela merendahkan diri.  Kerendahan hati bukanlah tanda kelemahan, melainkan kekuatan rohani. Orang yang rendah hati adalah orang yang sadar akan kasih karunia Tuhan dalam hidupnya. Ia tidak meninggikan diri, tetapi juga tidak merasa rendah diri secara negatif. Ia hidup seimbang, berpusat pada Kristus.

Oleh karena itu, kerendahan hati bukan sekadar pilihan tambahan dalam hidup Kristen, tetapi merupakan identitas sejati orang percaya. Tanpa kerendahan hati, tidak mungkin seseorang dapat mencerminkan karakter Kristus dalam hidupnya.

2. Teladan Kerendahan dan Ketaatan (ayat 6 - 8)

Kristus menunjukkan kerendahan yang sempurna melalui kenosis atau pengosongan diri-Nya. Ia tidak mempertahankan hak-Nya sebagai Allah, tetapi mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia. Ini adalah tindakan yang luar biasa, karena Sang Pencipta rela menjadi ciptaan.

Lebih dari itu, kerendahan Kristus tidak berhenti pada inkarnasi saja. Ia melanjutkannya dalam ketaatan yang sempurna kepada Bapa, bahkan sampai mati di kayu salib. Salib adalah simbol penderitaan dan kehinaan, namun Kristus rela menanggung semuanya demi keselamatan manusia.  Di sini kita melihat bahwa kerendahan hati sejati tidak hanya terlihat dalam sikap, tetapi dalam tindakan nyata. Kerendahan hati selalu diikuti oleh ketaatan, dan ketaatan seringkali menuntut pengorbanan.

Dalam kehidupan kita, mungkin kita menghadapi situasi yang tidak mudah, tidak dihargai, disalahpahami, atau bahkan disakiti. Namun melalui teladan Kristus, kita diajar untuk tetap setia. Ketaatan kepada Tuhan tidak bergantung pada keadaan, tetapi pada komitmen kita kepada-Nya.  Kerendahan sejati terlihat ketika seseorang tetap melakukan kehendak Tuhan meskipun harus berkorban. Ketaatan sejati terlihat ketika seseorang tetap setia meskipun harus menderita.

Karena itu, hidup Kristen bukanlah hidup yang mencari kenyamanan, tetapi hidup yang mengikuti Kristus, termasuk dalam penderitaan. Namun kita percaya bahwa tidak ada pengorbanan yang sia-sia di dalam Tuhan.

3. Pengakuan Universal atas Tuhan (ayat 9 - 11)

Sebagai respons atas kerendahan dan ketaatan Kristus, Allah meninggikan Dia dan memberikan kepada-Nya nama di atas segala nama. Ini menunjukkan bahwa Allah menghargai ketaatan dan kerendahan hati.

Tujuan dari pemuliaan ini sangat jelas: supaya dalam nama Yesus setiap lutut bertelut dan setiap lidah mengaku bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan, bagi kemuliaan Allah Bapa. Ini adalah pengakuan universal yang meliputi seluruh ciptaan.

Hal ini mengajarkan kita sebuah prinsip rohani yang penting: jalan menuju kemuliaan adalah melalui kerendahan. Dunia mungkin mengajarkan bahwa untuk menjadi besar seseorang harus meninggikan diri, tetapi Firman Tuhan mengajarkan sebaliknya, siapa yang merendahkan diri akan ditinggikan.

Pengakuan bahwa Yesus adalah Tuhan bukan hanya pengakuan lisan, tetapi harus menjadi pengakuan hidup. Artinya, seluruh aspek kehidupan kita, pikiran, perkataan, dan tindakan harus tunduk kepada Kristus. Yesus bukan hanya Juru selamat yang menyelamatkan kita dari dosa, tetapi juga Tuhan yang memerintah atas hidup kita. Pertanyaannya adalah: apakah kita sungguh-sungguh hidup di bawah otoritas-Nya?  Suatu hari nanti, semua orang akan mengaku bahwa Yesus adalah Tuhan. Namun hari ini kita diberi kesempatan untuk mengakuinya dengan sukarela, melalui hidup yang taat dan memuliakan Dia.

Kesimpulan

Melalui Filipi 2:5–11 kita melihat pola hidup Kristus yang harus kita teladani: kerendahan, ketaatan, dan pemuliaan.  Kerendahan membawa kita kepada ketaatan, dan ketaatan membawa kita kepada pemuliaan Tuhan. Oleh karena itu, marilah kita belajar memiliki pikiran Kristus, hidup dalam kerendahan hati, dan setia dalam ketaatan kepada Tuhan.

Kiranya melalui hidup kita, nama Yesus dimuliakan, dan dunia dapat melihat bahwa benar, Yesus Kristus adalah Tuhan. Amin.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Yesus Kristus Adalah Tuhan

Khotbah   29 Maret 2026, Palmarum Filipi 2:5 –11.  5 Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga ...

Khotbah