Tuhan Membangkitkan Orang Mati
Paskah 2:
Yesaya 26:17-19
17 Seperti perempuan yang mengandung yang sudah dekat
waktunya untuk melahirkan, menggeliat
sakit, mengerang karena sakit beranak, demikianlah tadinya keadaan kami di
hadapan-Mu, ya TUHAN: 18 Kami mengandung, kami menggeliat sakit, tetapi
seakan-akan kami melahirkan angin: kami tidak dapat mengadakan keselamatan di bumi, dan tiada lahir penduduk dunia. 19
Ya, TUHAN, orang-orang-Mu yang mati akan
hidup pula, mayat-mayat mereka akan bangkit pula. Hai orang-orang yang sudah
dikubur di dalam tanah bangkitlah dan
bersorak-sorai! Sebab embun TUHAN ialah embun terang, dan bumi akan melahirkan
arwah kembali.
Pendahuluan
Paskah kita tidak hanya merayakan kebangkitan Yesus Kristus sebagai
peristiwa sejarah, tetapi juga sebagai kuasa Allah yang masih bekerja sampai
hari ini. Namun realitas hidup sering kali berbeda. Ada saat-saat di mana kita
sudah berdoa, berjuang, dan berharap, tetapi yang kita alami justru
penderitaan. Bahkan lebih berat lagi, ada harapan-harapan yang ternyata kosong seolah-olah
kita “melahirkan angin.”
Firman Tuhan dalam Kitab Yesaya 26:17–19 membawa kita masuk dalam tiga realitas hidup iman: penderitaan, kekecewaan, dan akhirnya kebangkitan oleh kuasa Tuhan. Di sinilah kita belajar bahwa Tuhan tidak pernah berhenti bekerja, bahkan ketika manusia sudah tidak mampu lagi berharap.
“Seperti perempuan yang mengandung yang sudah dekat waktunya
untuk melahirkan, menggeliat sakit dan mengerang karena sakit beranak,
demikianlah keadaan kami di hadapan-Mu, ya TUHAN.”
Mereka mengalami penderitaan yang sangat dalam, seperti
seorang perempuan yang hendak melahirkan. Mereka berkata, “Kami sudah seperti
perempuan yang hendak melahirkan, yang mengerang karena sakit beranak. Dengan
kecemasan dan upaya yang sangat besar, kami telah berusaha menolong diri kami
sendiri, tetapi masalah-masalah kami justru semakin bertambah karena
usaha-usaha itu.” Keadaan ini mengingatkan pada saat Musa datang untuk
membebaskan Israel, namun justru beban mereka semakin berat, bahkan jumlah batu
bata yang harus mereka buat dilipatgandakan.
Doa-doa mereka lahir dari penderitaan yang mendalam. Jeritan
mereka menjadi kuat dan nyaring, seperti teriakan seorang perempuan yang sedang
bersalin. “Demikianlah keadaan kami di hadapan-Mu, ya TUHAN!” Namun, di tengah
penderitaan itu, ada penghiburan: Allah melihat mereka. Ia tidak menutup mata
terhadap kesesakan mereka. Ia mengenal rasa sakit dan mendengar doa-doa mereka.
Seperti tertulis dalam Kitab Mazmur 38:10, “Tuhan, Engkau mengetahui segala
keinginanku, dan keluhku pun tidak tersembunyi bagi-Mu.”
Setiap kali mereka datang kepada Tuhan dengan keluhan dan permohonan, mereka merasakannya dengan sangat mendalam seperti seorang perempuan yang sedang menanggung sakit bersalin.
II. Umat Tuhan Menghadapi Kekecewaan (ayat 18)
“Kami mengandung, kami menggeliat sakit, tetapi seakan-akan
kami melahirkan angin; kami tidak dapat mengadakan keselamatan di bumi, dan
tidak ada penduduk dunia yang lahir.”
Mereka belum mencapai keberhasilan yang mereka inginkan dan
harapkan. Mereka berkata, “Kami mengandung. Kami memiliki harapan besar untuk
segera melahirkan dengan sukacita. Kami menyimpan harapan-harapan yang tinggi,
dan ketika kami mengalami kesakitan, kami menghibur diri dengan keyakinan bahwa
kelahiran yang membahagiakan akan membuat kami melupakan penderitaan itu,”
seperti yang diungkapkan dalam Injil Yohanes 16:21.
Namun kenyataannya sangat pahit: mereka “seakan-akan
melahirkan angin.” Kandungan itu ternyata sia-sia. Harapan-harapan mereka
dikecewakan. Penderitaan yang mereka alami bukanlah seperti sakit bersalin yang
menghasilkan kehidupan, melainkan lebih menyerupai penderitaan menuju
kehampaan.
Mereka menggambarkan kegagalan total: seolah mengalami
keguguran dan kehilangan daya untuk menghasilkan kehidupan. Semua usaha mereka
tidak membuahkan hasil. “Kami tidak dapat mengadakan keselamatan di bumi” baik
bagi diri sendiri, maupun bagi sahabat dan sekutu mereka. Bahkan, usaha mereka
justru memperburuk keadaan.
Musuh-musuh yang mereka hadapi pun tidak jatuh. Kekuasaan dan
harapan lawan tetap tegak dan tidak tergoyahkan, sama seperti sebelumnya.
Perhatikanlah: suatu perkara yang benar dapat diperjuangkan
dengan sungguh-sungguh baik melalui doa kepada Allah maupun usaha di tengah
manusia namun untuk sementara waktu tetap tertutup oleh kabut. Tujuannya belum
tercapai, dan hasilnya belum terlihat hal ini mengecewakan.
III. Tuhan Membangkitkan Umat-Nya (ayat 19)
“Ya, TUHAN, orang-orang-Mu yang mati akan hidup pula,
mayat-mayat mereka akan bangkit pula. Hai orang-orang yang sudah dikubur di
dalam tanah, bangkitlah dan bersorak-sorai! Sebab embun TUHAN ialah embun
terang, dan bumi akan melahirkan kembali arwah.”
Ini adalah pernyataan iman yang kuat tentang karya Tuhan yang
membangkitkan umat-Nya. Meskipun jemaat tidak mengalami sukacita seperti
seorang ibu yang berhasil melahirkan bahkan seakan-akan “melahirkan angin”
(ayat 18) kekecewaan itu bukanlah akhir. Tuhan sendiri bertindak, dan Ia
menggantikannya dengan pengharapan yang jauh lebih besar: “orang-orang-Mu
yang mati akan hidup pula.”
Mereka yang dianggap sudah mati yang merasa telah menerima
hukuman mati dalam diri mereka, yang terbuang dan seolah-olah tidak lagi
memiliki harapan akan dibangkitkan kembali dalam kekuatan yang baru. Roh
kehidupan dari Allah akan masuk ke dalam mereka, sebagaimana digambarkan dalam Kitab
Wahyu 11:11, sehingga mereka hidup kembali dan bersaksi. Demikian pula dalam Kitab
Yehezkiel 37:10, tulang-tulang kering dihidupkan kembali dan menjadi suatu
tentara yang sangat besar.
“Bersama dengan jasadku mereka akan bangkit.” Iman akan
kebangkitan orang mati, seperti yang dipegang oleh Ayub, memberikan keyakinan
bahwa Tuhan juga sanggup memulihkan umat-Nya di dunia ini. Ketika waktu Tuhan
tiba, seburuk apa pun keadaan umat-Nya, mereka akan dibangkitkan kembali.
Bahkan Yerusalem, yang tampak seperti mati dan hancur, akan dipulihkan,
dibangun kembali, dan mengalami kemuliaan yang baru.
Karena itu, sisa umat yang lemah, muram, dan tertekan yang
seolah-olah tinggal di dalam debu dipanggil untuk bangkit dan bersorak-sorai.
Mereka akan melihat pemulihan kota Allah menjadi tempat kediaman yang aman
(bdk. Yes. 33:20).
“Embun TUHAN” melambangkan perkenanan dan kuasa Allah yang
menghidupkan. Seperti embun malam menyegarkan tumbuhan yang layu karena panas,
demikianlah Tuhan memulihkan umat-Nya. Seperti embun musim semi yang menyirami
bumi dan menumbuhkan tunas-tunas baru, demikian pula kehidupan akan muncul
kembali dari apa yang sebelumnya tampak mati. Bumi, yang seolah-olah menjadi
tempat lenyapnya kehidupan, justru akan menjadi sarana lahirnya kehidupan
kembali.
Nubuat ini sejalan dengan penglihatan dalam Kitab Yehezkiel dapat
dipahami dalam dua makna:
1. Kebangkitan rohani.
Menunjuk pada orang-orang yang mati dalam dosa, yang dihidupkan oleh
kuasa Injil dan anugerah Kristus. Mereka dibangkitkan untuk hidup yang baru dan
menjadi bagian dari tubuh Kristus.
2. Kebangkitan akhir zaman. Menunjuk pada kebangkitan
orang-orang percaya pada akhir zaman. Sebagaimana Kristus adalah yang sulung
dari antara orang mati, demikian pula orang-orang percaya akan bangkit karena
persatuan mereka dengan Dia dan persekutuan dalam kebangkitan-Nya.
Kesimpulan
Dari firman Tuhan ini kita melihat sebuah perjalanan iman
yang nyata. Umat Tuhan tidak luput dari penderitaan. Mereka juga bisa mengalami
kekecewaan dan harapan yang sia-sia. Namun, semua itu bukanlah akhir cerita. Tuhan sendiri bertindak. Ia mengubah
kegagalan menjadi kemenangan, keputusasaan menjadi pengharapan, dan kematian
menjadi kehidupan. Apa yang tidak dapat dilakukan manusia Tuhan sanggup
melakukannya. Karena itu, iman kita
tidak bergantung pada hasil usaha kita, tetapi pada kuasa Tuhan yang
membangkitkan. Jika Tuhan sanggup membangkitkan yang mati, maka tidak ada
situasi yang terlalu sulit untuk dipulihkan.
Refleksi
- Belajar
melihat penderitaan sebagai bagian dari proses, bukan akhir dari rencana
Tuhan.
- Tidak
menggantungkan harapan pada kekuatan sendiri, tetapi bersandar sepenuhnya
kepada Tuhan.
- Hidup
dalam iman akan kuasa kebangkitan—percaya bahwa Tuhan sanggup memulihkan
apa yang sudah “mati” dalam hidup kita.
Komentar
Posting Komentar