Kamis, 26 Maret 2026

Refleksi Hineni


Oleh: Juliman Harefa

PENDAHULUAN

Tulisan ini dibuat sebagai salah seorang dosen di STT BNKP Sundermann yang mensyukuri tahun perak  (usia 25 tahun)  STT BNKP Sundermann yang didirikan sejak tahun 1998. 

Saat menulis refleksi ini penulis telah 23 tahun melayani sebagai  pendeta BNKP dan 8 tahun mengajar di STT BNKP Sundermann menemukan bahwa baik pelayanan di jemaat dan pengajaran di kampus merupakan perpaduan pengalaman yang sangat berguna dalam melaksanakan tugas sebagai dosen, karena di bidang pelayanan penulis mendapat pengalaman lapangan yang sangat berharga untuk dibagikan kepada para mahasiswa yang pada gilirannya akan terjun ke medan pelayanan.  Di bidang pendidikan dan pengajaran  di kampus dapat membekali mahasiswa dengan ilmu teologi yang memadai untuk melayani di jemaat dan masyarakat  suatu saat ini.  


“NAPAK TILAS” DI STT SUNDERMANN

Bagian pertama ini diberi judul “Napak Tilas” di STT BNKP Sunderman bertujuan untuk menelusuri kembali perjalanan penulis selama melaksanakan tugas mengajar di STT BNKP Sundermann.  STT BNKP Sundermann merupakan  tempat persemaian  para mahasiswa teologi dan mahasiswa Pendidikan Agama Kristen yang disiapkan menjadi  pelayan Tuhan yang melayani dalam konteks, khususnya di BNKP.

Menyadari bahwa STT BNKP Sundermann merupakan Lembaga persemaian yang membekali dan penyiapkan para pelayan Tuhan yang menjadi pendeta di BNKP dan tenaga penganjar  agama Kristen maka kegiatan pengajaran, Pendidikan dan pengabdian masyarakat merupakan amanah yang harus dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab.  Pengalaman penulis sebagai Pendeta BNKP yang  pernah menjadi pendeta jemaat BNKP Surabaya, Pendeta fungsional  BNKP Jemaat Kota Gunungsitoli, Praeses Resort 45 Jakarta dan pendeta jemaat BNKP Jemaat Mo’awō  dirasakan sangat bermanfaat dalam pelaksanaan  tugas pengajaran dan pendidikan untuk dibagikan kepada mahasiswa di ruang kelas STT Sundermann.  Dan Pendidikan Master of Theology (S2) yang penulis peroleh dari International Theological Seminary, CA, USA di bidang Biblika Perjanjian Lama merupakan  bekal  yang telah digunakan untuk mengajar Bahasa Ibrani, Teologi Perjanjian Lama, Pembimbing Perjanjian Lama  untuk membekali para mahasiswa di kampus STT BNKP Sundermann.

Karena itu, tulisan ini adalah sebuah refleksi penulis terhadap motto STT BNKP Sundermann memiliki yakni, Ini Aku Utuslah Aku yang terdapat dalam Yesaya 6:8, dalam melaksanakan tugas sebagai dosen di STT BNKP Sundermann dimana kombinasi pengalaman pelayanan di lapangan dan pengajaran di kampus merupakan dua hal yang sangat berguna dalam menunjang tugas-tugas sebagai dosen, kendati selalu menghadapi banyak tantangan dan pergumulan, bagi penulis ini merupakan stimulus yang menguatkan untuk melaksanakan tugas pengajaran, pendidikan dan pengabdian masyarakat karena motto tersebut merupakan pendorong dalam melaksanakan tanggungjawab sekaligus sebagai  pengikat yang kokoh untuk mengabdi dalam dunia Pendidikan dan pelayanan

Refleksi ini merupakan pengalaman penulis dalam dalam memaknai  motto Ini aku utuslah aku sebagai sebuah kepatuhan dan ketaatan kepada panggilan Tuhan dan belajar setia melaksanakan Firman-Nya yang terealisasi melalui Lembaga Pendidikan STT  Sundermann.  STT BNKP Sundermann bukan saja “ladang” persemaian konteks civitas akademika tetapi  juga  tempat dimana penulis mendapatkan  jabatan fungsional sebagai Lektor dan  Sertifikasi Dosen. 

 

BELAJAR DARI PANGGILAN NABI YESAYA

            Mengapa penulis belajar dari panggilan nabi Yesaya? penjelasan-penjelasan berikut merupakan retorika yang mendorong pengabdian penulis di STT Sundermann karena menurut Walter C. Kaiser menjelaskan bahwa Yesaya adalah nabi terhebat dari semua nabi-nabi dalam Perjanjian Lama karena pemikiran dan doktrinnya yang dalam dan luas, bahkan Walter menegaskan kalau nabi Yesaya empu dari para teolog. [1] Tentu penulis tidak bermaksud membeda-bedakan para nabi dalam Alkitab namun belajar dari sikap nabi Yesaya dalam merespons panggilan TUHAN adalah sesuatu yang baik untuk menguatkan dan semakin meyakinkan penulis dalam melaksanakan tugas Pengajaran, Pendidikan dan Pengabdian Masyarakat sebagai dosen STT BNKP Sundermann.

            Disamping itu nabi Yesaya dikenal juga sebagai “nabi kekudusan” karena ia menyatakan kekudusan Allah sebagai konsep moral, ia menentang semua konsep perilaku kejahatan, penyembahan berhala, penindasan, kesombongan, dan ketamakan bangsanya.[2] Kekudusan merupakan salah satu kata kunci penting bagi nabi Yesaya baik itu terkait dirinya sendiri maupun bagi bangsa Israel hal tersebut diperoleh bila belajar dari nabi Yesaya tanpa lepas dari konteks dekat dan konteks jauh dari teks sehingga gambaran menyeluruh dapat diperoleh sebagai pembuka wawasan dalam mempelajari panggilan nabi Yesaya untuk diterapkan dan pelayanan dan pengajaran.

Kitab Yesaya adalah kitab terpanjang dari semua kitab nabi dan Yesaya termasuk dalam kelompok nabi-nabi besar, kitab yang memiliki tempat dan berita yang unik berisi sejarah Israel kuno dari abad ke-8 SM hingga zaman Pembuangan pada abad ke-6 SM.  Menurut Jan Christian Gertz kitab Yesaya merupakan kitab yang paling signifikan secara teologis, kitab ini bertanggungjawab sendiri atas kekayaan teologisnya,[3] menunjukkan betapa pentingnya kitab ini. Kita dapat mengetahui tentang berita kenabian, tindakan yang dilakukan di tengah-tengah ketegangan dan krisis di dunia kuno; kita juga membaca tentang reaksi Israel, kekuatan iman dan Firman Allah, interpretasi sejarah dan berita yang bersifat mesianis.

            Nabi Yesaya menceritakan bagaimana Tuhan yang maha kudus memanggilnya untuk menjadi nabi, sesungguhnya  nabi Yesaya sangat kagum panggilannya. Ia kemudian memiliki kemampuan untuk menceritakannya kembali karena benar-benar terjadi padanya. Pengalaman panggilannya sangat memengaruhi berita kenabian yang dia sampaikan kepada Yehuda. Pada masa pemerintahan Raja Uzia sekitar tahun 783-742 SM, pemerintahan di Yehuda relatif stabil dan kehidupan masyarakat sejahtera secara material. Namun, setelah Raja Uzia meninggal dunia, situasi sosial politik mengalami perubahan yang cepat, menjadi titik balik dalam sejarah Yehuda. Nabi Yesaya dipanggil dalam konteks situasi sejarah beberapa tahun sebelum pecahnya perang Syro-Efraim pada tahun 734 SM.[4] Informasi tersebut di atas menggambarkan bahwa sesungguhnya nabi Yesaya melayani dalam konteksnya.

         Panggilan tersebut terjadi dalam Yesaya 6: 1-5   ketika ia sedang menghadiri upacara persembahan korban bakaran yang dilakukan oleh para imam. Saat asap korban tersebut memenuhi seluruh ruangan Bait Suci, Yesaya merasa seperti berada di bagian yang sangat suci dari Bait Suci itu sendiri. Ia merasakan kemuliaan dan kesucian Allah yang duduk di sebuah takhta yang sangat tinggi. Dalam penglihatannya, Yesaya melukiskan “takhta itu beserta ujung jubah-Nya yang meliputi Bait Suci". Ia menyaksikan takhta Allah yang sangat tinggi, menunjukkan bahwa Tuhan adalah Yang Mahatinggi dan menguasai langit dan bumi serta kekudusan-Nya mencakup seluruh Bait Allah.

             Para Serafim yang berdiri di samping takhta-Nya (ay. 2) Mereka dianggap sebagai "roh yang menyala". Pada zaman Raja Uzia, kultus asing berdampak pada gagasan tentang terang Serafim, yang merupakan kelompok makhluk yang menyerupai malaikat yang mengelilingi takhta Tuhan. Mungkin Raja Uzia memasukkan patung-patung Serafim ke dalam Bait Allah bukan untuk disembah, tetapi untuk menunjukkan kehadiran dan kemuliaan Tuhan di atas para Serafim. Para Serafim berdiri di hadapan takhta Tuhan yang mahakudus, dengan ketiga pasang sayap menutupi seluruh tubuh mereka. Mereka berdiri tegak di hadapan takhta-Nya, siap melayani dan melakukan apa yang dia perintahkan.

Ayat 3. Dalam penglihatannya, Nabi Yesaya juga mendengar lagu-lagu yang dinyanyikan oleh para Serafim dengan bergantian, memuji sifat-sifat Tuhan yang suci.

Lagu Kudus, kudus, kuduslah, TUHAN semesta alam.   Allah Yang Maha Suci telah menyatakan diri-Nya dengan baik, memanggil nabi tersebut dan mengutusnya. Kekudusan tersebut pada satu sisi menunjukkan bahwa ada jarak mutlak antara Tuhan dan manusia, tetapi pada sisi lain menunjukkan adanya komunikasi dan hubungan yang erat berdasarkan kasih setia-Nya.[5]

Yesaya 6:1-5 tersebut merupakan bagian yang penting dalam memahami seluruh perikop teks secara komprehensif. Hal ini dilihat dari catatan ayat 1-5 yang membuka diskusi tentang nyanyian para serafim dalam penglihatan Yesaya. Isi nyanyian ialah Kudus, Kudus, Kuduslah TUHAN semesta alam,  frasa ini dengan diperhadapkan  “bangsa yang najis bibir” menekankan tentang alasan Yesaya kemudian dipanggil Tuhan untuk mengingatkan bangsa Israel supaya kembali kepada pengajaran Allah.  Apa yang dapat di pelajari adalah Panggilan kepada seseorang memiliki hubungan dengan kondisi umat Tuhan.  Kalau Tuhan memanggil berarti Ia memiliki alasan, alasan itulah yang menjadi tugas dan tanggungjawab pelayan Tuhan.

 

MEDITASI TERHADAP YESAYA 6:5-8

Pembelajaran dari panggilan nabi Yesaya mengantar penulis kepada meditasi terhadap Yesaya 6:5-8 dimana tertulis  pengalaman Yesaya yang disucikan dan diutus oleh Tuhan. 

Lalu kataku: "Celakalah   aku! aku binasa!   Sebab aku ini seorang yang najis bibir, dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah melihat   Sang Raja, yakni TUHAN semesta alam.  (ayat 5)

 Ketika Yesaya berada di hadapan kekudusan dan kemuliaan Tuhan, dia dengan tiba-tiba menyadari kekurangan dan dosa dalam dirinya sendiri serta dalam bangsanya.  Meskipun dia lahir dari bangsa itu dan hidup di tengah mereka, dia tidak merasa memiliki kesucian yang memadai. Hal ini sangat penting untuk disadari oleh setiap hamba Tuhan bahwa meditasi berguna untuk menyadari bahwa seorang hamba Tuhan tetaplah seorang manusi yang penuh kekurangan dan dosa sehingga perlu bertobat, mengevaluasi diri terus menerus agar senantias berkenan kepada-Nya.

             Dalam ayat 6-7, ada seorang Serafim yang secara simbolis menyucikan Yesaya. dengan mengambil bara api dari mezbah dan menyentuhkan pada mulut Yesaya, ini menunjukkan bahwa Tuhan telah mengampuni dosa-dosanya dan menghapus kenajisannya.  Penyentuhan mulut dengan api melambangkan tanggung jawab kenabian Yesaya untuk memberitakan firman Tuhan dengan kemurnian hati dan keberanian. Dalam proses ini, Yesaya disucikan dan dipersiapkan untuk memenuhi panggilannya sebagai utusan Tuhan.

            Setelah Yesaya mendapatkan pengampunan atas semua kesalahannya dan dihapuskan dari dosanya, dia merasa tenang dan bersyukur, serta siap menerima tugas yang akan diberikan oleh Tuhan. Panggilan ini diberikan oleh Tuhan, terbaca sebenarnya bahwa ini bukan dalam bentuk perintah yang mutlak, tetapi sebagai sebuah tawaran dan tantangan retoris kepada Yesaya.

Lalu aku mendengar suara   Tuhan berkata: "Siapakah yang akan Kuutus ,  dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?  " Maka sahutku: "Ini aku, utuslah aku!" (ayat 8)

Respons Yesaya juga sangat menarik, dia memberikan jawaban secara pribadi dengan spontanitas, dan dengan tekad yang bulat serta penyerahan diri secara penuh dengan berkata: Ini aku, utuslah aku (הִנְנִי שְׁלָחֵנִי), adalah kesiapan nabi Yesaya dalam menerima dan melaksanakan panggilan TUHAN yang mengacu pada seluruh kepribadian dan kemampuan yang dimiliki Yesaya, siap untuk dipersembahkan dalam tugas-tugas pelayanan kepada umat-Nya. 

Menarik pelajaran dari jawaban nabi Yesaya terhadap panggilan Tuhan Widyapranawa memberi komentar: “Tugas panggilan missioner sebenarnya masih tetap diberikan kepada orang Kristen, dan Tuhan menantikan respons yang tegas dan rela dari orang percaya zaman modern ini juga.”[6]

 

REFLEKSI HINENI 

Ternyata, Hineni merupakan sebuah sikap hati dalam melaksanakan sebuah tanggjungjawab yang diberikan dan diterima dengan tulus iklas dan penuh penyerahan diri.  Kata Hineni adalah kata yang pertama kali diucapkan pelayan ibadah, pelayan doa dan pemimpin pujian dalam Sinagoga tradisi Yahudi Rabinik.  Pelayan ibadah memulai pelayanannya dengan berkata: Hineni (הִנֵּנִי) sebagai pernyataan kesiapan hati dan segenap kehidupannya untuk melayani Allah mengemban tugas dan tanggungjawab yang besar melayani umat Tuhan.

Nabi Yesaya telah menggunakan kata Hineni tersebut untuk menyatakan kesiapan hatinya menerima panggilan dan melaksanakan tanggungjawab dalam pelayanan, bahkan sebelumnya Abraham juga menggunakan kata Hineni dalam Kejadian 22:1-2 ketika menjawab panggilan Tuhan dalam bahasa Ibrani yakni Hineni (הִנֵּנִי), ini aku dan Lekh lekha (לֶךְ־לְךָ), artinya pergilah dalam ayat 2  adalah perintah yang sangat berat sebab Allah menyuruh Abraham untuk mengambil puteranya yang tunggal, yang dikasihinya, yakni Ishak, sebagai korban bakaran di Tanah Moria erets hamoriah  (אֶרֶץ הַמֹּרִיָּה ).

Merefleksikan Hineni berarti menyiapkan hati dan kehidupan dalam ke-hamba-an.  Wismoady Wahono mengatakan: “Itulah sebabnya maka ‘hamba’ bukanlah sembarangan ‘hamba’ melainkan ‘hamba Tuhan’.[7]  Karena itu seorang pengajar, pendidik dan pengabdi adalah hamba Tuhan yang perlu memiliki hati yang menghamba kepada Tuhan, dengan kata lain pengajar yang berhati hamba itulah pengajar yang ber-Hineni.

Itulah sebabnya Gerrit Singgih dalam bukunya Dunia Yang Bermakna berinteraksi dengan beberapa teolog yang menyatakan bahwa hamba Tuhan dalam rumusan election for service, not for honour (dipilih untuk melayani bukan supaya dihormati) dan “to be oneself for the sake of others” (menjadi diri sendiri demi kepentingan yang lain).[8]

Lalu seperti apa sikap hati seorang hamba Tuhan dalam melayani dan tentunya dalam mengajar juga ?. Yakni; Pelayan seyogyanya memulai pelayanannya dengan mengatakan: Hineni he’ani mima’as (הִנְנִי הֶעָנִי מִמַּעַש) artinya: “Ini aku seorang yang “miskin” yang melayani.”[9]  Pernyataan tersebut adalah pernyataan seorang yang “miskin” yang menghadap  Allah dalam artian seorang yang “miskin” yang bergantung sepenuhnya kepada sumber kehidupan yaitu Allah.  Seperti bangsa Israel yang menempuh perjalanan di padang gurun yang bergantung sepenuhnya kepada Allah sumber makanan dan minuman, dikala lapar Allah beri makan manna dan daging burung puyuh, dikala haus Allah beri air minum dengan cara mujizat.  Pelayan yang tidak layak tetapi dilayakkan-Nya dan seorang pendosa yang membutuhkan pengampunan dan belas kasihan Tuhan.

            Hineni he’ani mima’as  (הִנְנִי הֶעָנִי מִמַּעַש)  menyatakan bahwa pelayan dan umat Allah memang selayaknya disebut sebagai seorang atau umat  yang “miskin” di hadapan Allah. Sikap  seorang  pelayan ibadah sangat penting dalam  membawa jemaat kepada Allah juga kepada para mahasiswa di dalam kelas  penyembahan kepada Allah dalam setiap ibadah dan pengajaran.  Pelayan ibadah dan pendidik sangat perlu mengkonfirmasi dihadapan Tuhan bahwa dirinya dan umat-Nya sebagai seorang “miskin” yang hidupnya  bergantung penuh kepada Allah.

            Karena Pendidik, Pengajar dan Pengabdi adalah para hamba Tuhan yang “miskin” dihadapan Tuhan, menurut Singgih itulah inspirasi misi masa kini yakni sikap “miskin” yang terkandung dalam kitab Zefanya 3:12 yaitu: umat yang rendah hati, lemah dan mencari perlindugan kepada TUHAN.[10]

“Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah , karena merekalah yang empunya kerajaan Sorga” Matius 5:3

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Gerstz, Jan Christian dkk. Purwa Caraka: Ekplosrasi ke dalam kitab-kitab Perjanjian Lama dan

       Deuterokanonika, Jakarta: BPK Gunung Mulai, 2017

 Kaiser, Walter C. Jr. Teologi Perjanjian Lama, Michigan: Zondervan Publishing house, 1978

 Singgih, Emanuel Gerrit Prof, Ph.D. Dunia yang Bermakna, kumpulan karangan tafsir

      Perjanjian Lama, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2019

 Sosipater, Karel. Etika Perjanjian Lama (Edisi Revisi),Jakata: Suara Harapan Bangsa, 2016

 Widyapranawa.  Kitab Yesaya Pasal 1-39, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2013

 Wahono, Wismoady. Di Sini Kutemukan, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2015

Golinkin, David. Yom Kippur poem Hineni examines the power of humility

       https://www.jpost.com/judaism/jewish-holidays/yom-kippur-poem-hineni-

       examines-the-power-of-humility-679514, diakses pada tanggal 19 Desember 2023

 Manurung,Virdo.  Hineni Syelakheni: Analisis Historis Kritis Pemanggilan Yesaya dan

        Relevansinya terhadap Panggilan Pelayan dalam HINENI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa

       (sttsundermann.ac.id) diakses pada tanggal 18 Desember 2023.



[1] Walter C. Kaiser, Jr. Teologi Perjanjian Lama (Michigan: Zondervan Publishing house, 1978) h. 260-261

[2] Karel Sosipater, Etika Perjanjian Lama (Edisi Revisi), (Jakata: Suara Harapan Bangsa, 2016) h. 427-428

[3] Jan Christian Gerstz, dkk, Purwa Caraka: Ekplosrasi ke dalam kitab-kitab Perjanjian Lama dan Deuterokanonika (Jakarta: BPK Gunung Mulai, 2017) h. 478-479

[4] Widyapranawa, Kitab Yesaya Pasal 1-39, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2013) h. 33-34

[5] Virdo Manurung, Hineni Syelakheni: Analisis Historis Kritis Pemanggilan Yesaya dan Relevansinya terhadap Panggilan Pelayan dalam HINENI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa (sttsundermann.ac.id)

[6] Widyaprana, h. 35

[7] Wismoady Wahono, Di Sini Kutemukan, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2015) h. 255

[8] Emanuel Gerrit Singgih, Prof, Ph.D., Dunia yang Bermakna, kumpulan karangan tafsir Perjanjian Lama, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2019) h.18-19

[9] David Golinkin, dalam https://www.jpost.com/judaism/jewish-holidays/yom-kippur-poem-hineni-examines-the-power-of-humility-679514

 [10] Singgih, h. 19-22

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jawaban Tuhan di Awal Tahun

Refleksi: Suara Hati Perempuan Nigeria

                              Pendahuluan Pada hari Minggu tanggal 22 Maret adalah pelaksanaan ibadah Hari Doa sedunia [1] , ibadah HDS ini...

Khotbah