Oleh: Juliman Harefa
PENDAHULUAN
Tulisan ini dibuat sebagai salah seorang dosen di STT BNKP Sundermann yang mensyukuri tahun perak (usia 25 tahun) STT BNKP Sundermann yang didirikan sejak tahun 1998.
Saat menulis refleksi ini penulis telah 23 tahun melayani sebagai pendeta BNKP dan 8 tahun mengajar di STT BNKP Sundermann menemukan bahwa baik pelayanan di jemaat dan pengajaran di kampus merupakan perpaduan pengalaman yang sangat berguna dalam melaksanakan tugas sebagai dosen, karena di bidang pelayanan penulis mendapat pengalaman lapangan yang sangat berharga untuk dibagikan kepada para mahasiswa yang pada gilirannya akan terjun ke medan pelayanan. Di bidang pendidikan dan pengajaran di kampus dapat membekali mahasiswa dengan ilmu teologi yang memadai untuk melayani di jemaat dan masyarakat suatu saat ini.
“NAPAK
TILAS” DI STT SUNDERMANN
Bagian pertama ini diberi judul “Napak Tilas” di STT BNKP
Sunderman bertujuan untuk menelusuri kembali perjalanan penulis selama
melaksanakan tugas mengajar di STT BNKP Sundermann. STT BNKP Sundermann merupakan tempat persemaian para mahasiswa teologi dan mahasiswa
Pendidikan Agama Kristen yang disiapkan menjadi
pelayan Tuhan yang melayani dalam konteks, khususnya di BNKP.
Menyadari bahwa STT BNKP Sundermann merupakan Lembaga persemaian
yang membekali dan penyiapkan para pelayan Tuhan yang menjadi pendeta di BNKP dan
tenaga penganjar agama Kristen maka
kegiatan pengajaran, Pendidikan dan pengabdian masyarakat merupakan amanah yang
harus dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab.
Pengalaman penulis sebagai Pendeta BNKP yang pernah menjadi pendeta
jemaat BNKP Surabaya, Pendeta fungsional
BNKP Jemaat Kota Gunungsitoli, Praeses Resort 45 Jakarta dan pendeta
jemaat BNKP Jemaat Mo’awō dirasakan
sangat bermanfaat dalam pelaksanaan
tugas pengajaran dan pendidikan untuk dibagikan kepada mahasiswa di
ruang kelas STT Sundermann. Dan Pendidikan
Master of Theology (S2) yang penulis peroleh dari International Theological
Seminary, CA, USA di bidang Biblika Perjanjian Lama merupakan bekal yang telah digunakan untuk mengajar Bahasa
Ibrani, Teologi Perjanjian Lama, Pembimbing Perjanjian Lama untuk membekali para mahasiswa di kampus STT
BNKP Sundermann.
Karena itu, tulisan ini adalah sebuah refleksi penulis terhadap
motto STT BNKP Sundermann memiliki yakni, Ini Aku Utuslah Aku yang
terdapat dalam Yesaya 6:8, dalam melaksanakan tugas sebagai dosen di STT BNKP
Sundermann dimana kombinasi pengalaman pelayanan di lapangan dan pengajaran di
kampus merupakan dua hal yang sangat berguna dalam menunjang tugas-tugas
sebagai dosen, kendati selalu menghadapi banyak tantangan dan pergumulan, bagi
penulis ini merupakan stimulus yang menguatkan untuk melaksanakan tugas pengajaran,
pendidikan dan pengabdian masyarakat karena motto tersebut merupakan pendorong
dalam melaksanakan tanggungjawab sekaligus sebagai pengikat yang kokoh untuk mengabdi dalam dunia
Pendidikan dan pelayanan
Refleksi ini merupakan pengalaman penulis dalam dalam
memaknai motto Ini aku utuslah aku
sebagai sebuah kepatuhan dan ketaatan kepada panggilan Tuhan dan belajar setia
melaksanakan Firman-Nya yang terealisasi melalui Lembaga Pendidikan STT Sundermann.
STT BNKP Sundermann bukan saja “ladang” persemaian konteks civitas akademika tetapi juga tempat dimana penulis mendapatkan jabatan fungsional sebagai Lektor dan Sertifikasi Dosen.
BELAJAR
DARI PANGGILAN NABI YESAYA
Mengapa penulis belajar dari
panggilan nabi Yesaya? penjelasan-penjelasan berikut merupakan retorika yang
mendorong pengabdian penulis di STT Sundermann karena menurut Walter C. Kaiser
menjelaskan bahwa Yesaya adalah nabi terhebat dari semua nabi-nabi dalam
Perjanjian Lama karena pemikiran dan doktrinnya yang dalam dan luas, bahkan
Walter menegaskan kalau nabi Yesaya empu dari para teolog. [1]
Tentu penulis tidak bermaksud membeda-bedakan para nabi dalam Alkitab namun
belajar dari sikap nabi Yesaya dalam merespons panggilan TUHAN adalah sesuatu
yang baik untuk menguatkan dan semakin meyakinkan penulis dalam melaksanakan
tugas Pengajaran, Pendidikan dan Pengabdian Masyarakat sebagai dosen STT BNKP
Sundermann.
Disamping itu nabi Yesaya dikenal
juga sebagai “nabi kekudusan” karena ia menyatakan kekudusan Allah sebagai
konsep moral, ia menentang semua konsep perilaku kejahatan, penyembahan
berhala, penindasan, kesombongan, dan ketamakan bangsanya.[2] Kekudusan merupakan salah
satu kata kunci penting bagi nabi Yesaya baik itu terkait dirinya sendiri
maupun bagi bangsa Israel hal tersebut diperoleh bila belajar dari nabi Yesaya tanpa
lepas dari konteks dekat dan konteks jauh dari teks sehingga gambaran
menyeluruh dapat diperoleh sebagai pembuka wawasan dalam mempelajari panggilan
nabi Yesaya untuk diterapkan dan pelayanan dan pengajaran.
Kitab Yesaya adalah kitab terpanjang dari semua kitab nabi
dan Yesaya termasuk dalam kelompok nabi-nabi besar, kitab yang memiliki tempat
dan berita yang unik berisi sejarah Israel kuno dari abad ke-8 SM hingga zaman
Pembuangan pada abad ke-6 SM. Menurut
Jan Christian Gertz kitab Yesaya merupakan kitab yang paling signifikan secara
teologis, kitab ini bertanggungjawab sendiri atas kekayaan teologisnya,[3] menunjukkan betapa
pentingnya kitab ini. Kita dapat mengetahui tentang berita kenabian, tindakan
yang dilakukan di tengah-tengah ketegangan dan krisis di dunia kuno; kita juga
membaca tentang reaksi Israel, kekuatan iman dan Firman Allah, interpretasi sejarah
dan berita yang bersifat mesianis.
Nabi Yesaya menceritakan bagaimana Tuhan yang maha kudus memanggilnya untuk menjadi nabi, sesungguhnya nabi Yesaya sangat kagum panggilannya. Ia kemudian memiliki kemampuan untuk menceritakannya kembali karena benar-benar terjadi padanya. Pengalaman panggilannya sangat memengaruhi berita kenabian yang dia sampaikan kepada Yehuda. Pada masa pemerintahan Raja Uzia sekitar tahun 783-742 SM, pemerintahan di Yehuda relatif stabil dan kehidupan masyarakat sejahtera secara material. Namun, setelah Raja Uzia meninggal dunia, situasi sosial politik mengalami perubahan yang cepat, menjadi titik balik dalam sejarah Yehuda. Nabi Yesaya dipanggil dalam konteks situasi sejarah beberapa tahun sebelum pecahnya perang Syro-Efraim pada tahun 734 SM.[4] Informasi tersebut di atas menggambarkan bahwa sesungguhnya nabi Yesaya melayani dalam konteksnya.
Panggilan tersebut terjadi dalam Yesaya 6: 1-5 ketika ia sedang menghadiri upacara persembahan korban bakaran yang dilakukan oleh para imam. Saat asap korban tersebut memenuhi seluruh ruangan Bait Suci, Yesaya merasa seperti berada di bagian yang sangat suci dari Bait Suci itu sendiri. Ia merasakan kemuliaan dan kesucian Allah yang duduk di sebuah takhta yang sangat tinggi. Dalam penglihatannya, Yesaya melukiskan “takhta itu beserta ujung jubah-Nya yang meliputi Bait Suci". Ia menyaksikan takhta Allah yang sangat tinggi, menunjukkan bahwa Tuhan adalah Yang Mahatinggi dan menguasai langit dan bumi serta kekudusan-Nya mencakup seluruh Bait Allah.
Para Serafim yang berdiri di
samping takhta-Nya (ay. 2) Mereka dianggap sebagai "roh yang
menyala". Pada zaman Raja Uzia, kultus asing berdampak pada gagasan
tentang terang Serafim, yang merupakan kelompok makhluk yang menyerupai
malaikat yang mengelilingi takhta Tuhan. Mungkin Raja Uzia memasukkan
patung-patung Serafim ke dalam Bait Allah bukan untuk disembah, tetapi untuk
menunjukkan kehadiran dan kemuliaan Tuhan di atas para Serafim. Para Serafim
berdiri di hadapan takhta Tuhan yang mahakudus, dengan ketiga pasang sayap
menutupi seluruh tubuh mereka. Mereka berdiri tegak di hadapan takhta-Nya, siap
melayani dan melakukan apa yang dia perintahkan.
Ayat 3. Dalam penglihatannya, Nabi Yesaya juga mendengar
lagu-lagu yang dinyanyikan oleh para Serafim dengan bergantian, memuji
sifat-sifat Tuhan yang suci.
Lagu
“Kudus, kudus, kuduslah, TUHAN semesta alam. Allah Yang Maha Suci telah menyatakan
diri-Nya dengan baik, memanggil nabi tersebut dan mengutusnya. Kekudusan
tersebut pada satu sisi menunjukkan bahwa ada jarak mutlak antara Tuhan dan
manusia, tetapi pada sisi lain menunjukkan adanya komunikasi dan hubungan yang
erat berdasarkan kasih setia-Nya.[5]
Yesaya 6:1-5 tersebut merupakan bagian yang penting dalam
memahami seluruh perikop teks secara komprehensif. Hal ini dilihat dari catatan
ayat 1-5 yang membuka diskusi tentang nyanyian para serafim dalam penglihatan
Yesaya. Isi nyanyian ialah Kudus, Kudus, Kuduslah TUHAN semesta alam, frasa ini dengan diperhadapkan “bangsa yang najis bibir” menekankan tentang
alasan Yesaya kemudian dipanggil Tuhan untuk mengingatkan bangsa Israel supaya
kembali kepada pengajaran Allah. Apa
yang dapat di pelajari adalah Panggilan kepada seseorang memiliki hubungan
dengan kondisi umat Tuhan. Kalau Tuhan
memanggil berarti Ia memiliki alasan, alasan itulah yang menjadi tugas dan
tanggungjawab pelayan Tuhan.
MEDITASI
TERHADAP YESAYA 6:5-8
Pembelajaran dari panggilan nabi Yesaya mengantar penulis
kepada meditasi terhadap Yesaya 6:5-8 dimana tertulis pengalaman Yesaya yang disucikan dan diutus
oleh Tuhan.
Lalu kataku: "Celakalah aku! aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir, dan
aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah
melihat Sang Raja, yakni TUHAN semesta
alam. (ayat 5)
Ketika Yesaya berada
di hadapan kekudusan dan kemuliaan Tuhan, dia dengan tiba-tiba menyadari
kekurangan dan dosa dalam dirinya sendiri serta dalam bangsanya. Meskipun dia lahir dari bangsa itu dan hidup
di tengah mereka, dia tidak merasa memiliki kesucian yang memadai. Hal ini
sangat penting untuk disadari oleh setiap hamba Tuhan bahwa meditasi berguna
untuk menyadari bahwa seorang hamba Tuhan tetaplah seorang manusi yang penuh
kekurangan dan dosa sehingga perlu bertobat, mengevaluasi diri terus menerus agar
senantias berkenan kepada-Nya.
Dalam ayat 6-7, ada seorang
Serafim yang secara simbolis menyucikan Yesaya. dengan mengambil bara api dari
mezbah dan menyentuhkan pada mulut Yesaya, ini menunjukkan bahwa Tuhan telah
mengampuni dosa-dosanya dan menghapus kenajisannya. Penyentuhan mulut dengan api melambangkan
tanggung jawab kenabian Yesaya untuk memberitakan firman Tuhan dengan kemurnian
hati dan keberanian. Dalam proses ini, Yesaya disucikan dan dipersiapkan untuk
memenuhi panggilannya sebagai utusan Tuhan.
Setelah
Yesaya mendapatkan pengampunan atas semua kesalahannya dan dihapuskan dari
dosanya, dia merasa tenang dan bersyukur, serta siap menerima tugas yang akan
diberikan oleh Tuhan. Panggilan ini diberikan oleh Tuhan, terbaca sebenarnya
bahwa ini bukan dalam bentuk perintah yang mutlak, tetapi sebagai sebuah
tawaran dan tantangan retoris kepada Yesaya.
Lalu aku mendengar suara Tuhan
berkata: "Siapakah yang akan Kuutus , dan
siapakah yang mau pergi untuk Aku? " Maka sahutku:
"Ini aku, utuslah aku!" (ayat 8)
Respons Yesaya juga sangat menarik, dia memberikan jawaban
secara pribadi dengan spontanitas, dan dengan tekad yang bulat serta penyerahan
diri secara penuh dengan berkata: Ini aku, utuslah aku (הִנְנִי שְׁלָחֵנִי), adalah kesiapan nabi Yesaya dalam
menerima dan melaksanakan panggilan TUHAN yang mengacu pada seluruh kepribadian
dan kemampuan yang dimiliki Yesaya, siap untuk dipersembahkan dalam tugas-tugas
pelayanan kepada umat-Nya.
Menarik pelajaran dari jawaban nabi Yesaya terhadap
panggilan Tuhan Widyapranawa memberi komentar: “Tugas panggilan missioner
sebenarnya masih tetap diberikan kepada orang Kristen, dan Tuhan menantikan
respons yang tegas dan rela dari orang percaya zaman modern ini juga.”[6]
REFLEKSI
HINENI
Ternyata, Hineni merupakan sebuah sikap hati dalam
melaksanakan sebuah tanggjungjawab yang diberikan dan diterima dengan tulus
iklas dan penuh penyerahan diri. Kata Hineni
adalah kata yang pertama kali diucapkan pelayan ibadah, pelayan doa dan pemimpin
pujian dalam Sinagoga tradisi Yahudi Rabinik.
Pelayan ibadah memulai pelayanannya dengan berkata: Hineni (הִנֵּנִי) sebagai pernyataan kesiapan hati dan
segenap kehidupannya untuk melayani Allah mengemban tugas dan tanggungjawab
yang besar melayani umat Tuhan.
Nabi Yesaya telah menggunakan kata Hineni tersebut
untuk menyatakan kesiapan hatinya menerima panggilan dan melaksanakan
tanggungjawab dalam pelayanan, bahkan sebelumnya Abraham juga menggunakan kata
Hineni dalam Kejadian 22:1-2 ketika menjawab panggilan Tuhan dalam bahasa
Ibrani yakni Hineni (הִנֵּנִי), ini aku dan Lekh lekha (לֶךְ־לְךָ), artinya pergilah dalam ayat 2 adalah perintah yang sangat berat sebab Allah
menyuruh Abraham untuk mengambil puteranya yang tunggal, yang dikasihinya,
yakni Ishak, sebagai korban bakaran di Tanah Moria erets hamoriah (אֶרֶץ הַמֹּרִיָּה ).
Merefleksikan Hineni berarti menyiapkan hati dan
kehidupan dalam ke-hamba-an. Wismoady
Wahono mengatakan: “Itulah sebabnya maka ‘hamba’ bukanlah sembarangan ‘hamba’
melainkan ‘hamba Tuhan’.[7] Karena itu seorang pengajar, pendidik dan
pengabdi adalah hamba Tuhan yang perlu memiliki hati yang menghamba kepada
Tuhan, dengan kata lain pengajar yang berhati hamba itulah pengajar yang ber-Hineni.
Itulah sebabnya Gerrit Singgih dalam bukunya Dunia Yang
Bermakna berinteraksi dengan beberapa teolog yang menyatakan bahwa hamba
Tuhan dalam rumusan “election for service, not for honour (dipilih untuk
melayani bukan supaya dihormati) dan “to be oneself for the sake of others”
(menjadi diri sendiri demi kepentingan yang lain).[8]
Lalu seperti apa sikap hati seorang hamba Tuhan dalam
melayani dan tentunya dalam mengajar juga ?. Yakni; Pelayan seyogyanya memulai
pelayanannya dengan mengatakan: “Hineni he’ani mima’as” (הִנְנִי הֶעָנִי מִמַּעַש)
artinya: “Ini aku seorang yang “miskin” yang melayani.”[9] Pernyataan tersebut adalah pernyataan seorang
yang “miskin” yang menghadap Allah dalam
artian seorang yang “miskin” yang bergantung sepenuhnya kepada sumber kehidupan
yaitu Allah. Seperti bangsa Israel yang
menempuh perjalanan di padang gurun yang bergantung sepenuhnya kepada Allah
sumber makanan dan minuman, dikala lapar Allah beri makan manna dan daging
burung puyuh, dikala haus Allah beri air minum dengan cara mujizat. Pelayan yang tidak layak tetapi
dilayakkan-Nya dan seorang pendosa yang membutuhkan pengampunan dan belas
kasihan Tuhan.
Hineni
he’ani mima’as (הִנְנִי הֶעָנִי מִמַּעַש) menyatakan bahwa pelayan dan umat Allah
memang selayaknya disebut sebagai seorang atau umat yang “miskin” di hadapan Allah. Sikap seorang
pelayan ibadah sangat penting dalam
membawa jemaat kepada Allah juga kepada para mahasiswa di dalam
kelas penyembahan kepada Allah dalam
setiap ibadah dan pengajaran. Pelayan
ibadah dan pendidik sangat perlu mengkonfirmasi dihadapan Tuhan bahwa dirinya
dan umat-Nya sebagai seorang “miskin” yang hidupnya bergantung penuh kepada Allah.
Karena Pendidik, Pengajar dan
Pengabdi adalah para hamba Tuhan yang “miskin” dihadapan Tuhan, menurut Singgih
itulah inspirasi misi masa kini yakni sikap “miskin” yang terkandung dalam
kitab Zefanya 3:12 yaitu: umat yang rendah hati, lemah dan mencari perlindugan
kepada TUHAN.[10]
“Berbahagialah
orang yang miskin di hadapan Allah , karena merekalah yang empunya kerajaan
Sorga” Matius 5:3
DAFTAR PUSTAKA
Gerstz, Jan
Christian dkk. Purwa Caraka: Ekplosrasi ke dalam kitab-kitab Perjanjian Lama
dan
Deuterokanonika, Jakarta:
BPK Gunung Mulai, 2017
Kaiser, Walter C. Jr. Teologi Perjanjian Lama, Michigan: Zondervan Publishing house, 1978
Singgih, Emanuel Gerrit Prof, Ph.D. Dunia yang Bermakna, kumpulan karangan tafsir
Perjanjian Lama, Jakarta:
BPK Gunung Mulia, 2019
Sosipater, Karel. Etika Perjanjian Lama (Edisi Revisi),Jakata: Suara Harapan Bangsa, 2016
Widyapranawa. Kitab Yesaya Pasal 1-39, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2013
Wahono, Wismoady. Di Sini Kutemukan, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2015
Golinkin, David. Yom Kippur
poem Hineni examines the power of humility
https://www.jpost.com/judaism/jewish-holidays/yom-kippur-poem-hineni-
examines-the-power-of-humility-679514, diakses pada tanggal 19 Desember
2023
Manurung,Virdo. Hineni Syelakheni: Analisis Historis Kritis Pemanggilan Yesaya dan
Relevansinya terhadap Panggilan Pelayan
dalam HINENI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa
(sttsundermann.ac.id) diakses pada
tanggal 18 Desember 2023.
[1]
Walter C. Kaiser, Jr. Teologi Perjanjian Lama (Michigan: Zondervan
Publishing house, 1978) h. 260-261
[2] Karel
Sosipater, Etika Perjanjian Lama (Edisi Revisi), (Jakata: Suara Harapan
Bangsa, 2016) h. 427-428
[3] Jan
Christian Gerstz, dkk, Purwa Caraka: Ekplosrasi ke dalam kitab-kitab
Perjanjian Lama dan Deuterokanonika (Jakarta: BPK Gunung Mulai, 2017) h.
478-479
[4]
Widyapranawa, Kitab Yesaya Pasal 1-39, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2013)
h. 33-34
[5]
Virdo Manurung, Hineni Syelakheni: Analisis Historis Kritis Pemanggilan
Yesaya dan Relevansinya terhadap Panggilan Pelayan dalam HINENI: Jurnal
Ilmiah Mahasiswa (sttsundermann.ac.id)
[6]
Widyaprana, h. 35
[7]
Wismoady Wahono, Di Sini Kutemukan, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2015) h.
255
[8]
Emanuel Gerrit Singgih, Prof, Ph.D., Dunia yang Bermakna, kumpulan karangan
tafsir Perjanjian Lama, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2019) h.18-19
Tidak ada komentar:
Posting Komentar