PENDAHULUAN
Injil Matius menuliskan kronologis dari khotbah Yesus di
Bukit sangat sistematis, yang dimulai dari siapa Yesus menurut silsilah,
bagaimana dan seperti apa Yesus pada saat kelahirannya, dan setelah Yesus
dibabtis oleh Yohanes di sungai Yordan, Yesus mendapat ujian atau pencobaan di
padang gurun, dan ketika Yesus mendengar bahwa Yohanes ditangkap, maka Yesus
menyingkir ke Galilea, disana Yesus memanggil murid-murid Nya kemudian mengajar
serta melakukan penyembuhan.
Semakin hari
semakin banyak orang yang mengikutinya. Melihat banyaknya orang yang
mengikutinya, maka Yesus naik ke tempat yang lebih tinggi, yang disanalah Yesus
memulai pengajarannya, yang kemudian, pengajaran Nya disebut gunung. ini
dinamakan khotbah di bukit. Khotbah di bukit ditulis Matius pada pasal 5 sampai
dengan pasal 7, yang diawali dengan judul "Ucapan Bahagia."
Yesus mengajarkan 8 (delapan) ucapan Bahagia. Ucapan itu
bukanlah hal yang tidak mendasar, atau halusinasi yang tidak pernah berwujud
atau dapat terwujud, sebab sesungguhnya seluruh ucapan bahagia itu telah
terpenuhi dalam kehidupan Yesus. Yesus adalah manusia yang paling bahagia,
karena la memberikan diriNya dan seluruh hidupnya untuk Allah Bapa dan kepada
manusia
Karena itu, untuk menjadi manusia yang berbahagia, tidak
dapat dirasakan dari diri sendiri atau dari dunia ini, tetapi kebahagiaan yang
utuh dan sesungguhnya hanya didapat di dalam Yesus. Itulah yang disampaikan
oleh Yesus dalam khotbahNya, berikut ini.
1. Miskin di hadapan Allah.
Istilah "miskin" yang digunakan dalam ayat ini
adalah keadaan yang tidak memiliki apapun, dan apabila tidak ada datang
pertolongan, maka tidak lama lagi ia akan mati. Kondisi demikian yang digunakan
oleh Yesus dalam khotbahNya ini terkait kondisi iman dan spiritualitas manusia,
yang sungguh sangat memperihatinkan, jika tidak mendapat pertololongan dari
Tuhan sediri, maka manusia itu akan mati.
Tetapi Tuhan sungguh-sungguh baik, la menyediakan
kerajaanNya dan pemerintahanNya yang menjamin kehidupan setiap orang yang
berkenan kepadaNya. Jadi, ayat ini tidaklah bermaksud bahwa kemiskinan itu
membawa kebahagiaan, tetapi Allah sendirilah sumber kebahgiaan itu, sebab
manusia tidak ada kuasa untuk mencapainya. Sehubungan dengan itu Paulus
mengatakan bahwa keselamatan itu adalah anugerah Allah karena iman dan bukan
hasil usaha manusia (Bdk. Ef. 2: 8-9)
2. Orang yang berdukacita
Di dalam ayat ini, Yesus berkata bahwa berbahagialah
orang yang berdukacita tidak bermaksud bahwa mereka akan mendapat bantuan dari
berbagai pihak, melainkan orang yang berdukacita akan berbahagia sebab mereka
dipanggil dan dihubur dengan menerima damai sejahtera dari Tuhan dan sukacita
roh dari Tuhan.
3. Orang yang lemah lembut.
Lemah lembut adalah menggambarkan satu karakter
yang rendah hati, penuh pertimbangan. Lemah lembut dalam Bahasa Yunani dipakai
"praus," yang sering digunakan pada binatang atau ternak yang telah
dilatih dan tunduk pada perintah tuannya.
Untuk teladan yang dapat dicontoh sebagai orang yang
lemah lembut dalam ayat ini dapat dilihat dalam diri Yesus sendiri, Yesus
adalah sosok yang lemah lembut dan rendah hati. (Mat. 11: 29). Demikian Yesus
memberitakan bahwa Orang yang seperti itu akan mewarisi bumi.
4. Lapar dan haus.
Demikian juga dalam hal kebenaran, tidak sedikit orang
yang tidak mendapatkan, tetapi karena kemurahan Tuhan, mereka hadir hingga
merasakan kepuasan. Daud pernah mengalami hidup sebagai orang yang lapar dan
haus akan kebenaran. Artinya, ia harus melakukan sesuatu karena kebenaran,
meskipun itu sulit dan bertentangan dengan batinnya, misalnya: Pertama, Ketika
Daud harus membunuh dan mengalahkan Goliat (1 Sam. 17); kedua, Pada saat Daud
melarikan diri karena diancam dibunuh oleh raja Saul, di tempat pengungsian,
Daud mendapat kesempatan membunuh Saul, tetapi ia tetap berpegang teguh pada
kebenaran, ia tidak membunuh Saul (1 Sam. 24). Dan Ketika Daud melakukan apa
yang dikehendaki oleh Tuhan, Ia bebas dari rasa bersalah dan dosa, tetapi Ia
mendapat kelegaan. atau kepuasan.
5. Murah hati.
Orang yang bermurah hati adalah orang yang menaruh belas
kasihan, dan simpati terhadap orang yang menderita. Dalam khotbah di bukit,
para murid-Nya diajar agar berbuat baik, dan memberi pengampunan kepada semua
orang. Orang yang murah hati berjanji akan beroleh kemurahan, yaitu memaafkan
dan kebaikan.
Ciri-ciri orang murah hati adalah tidak suka pamer,
walaupun ia memiliki banyak keunggulan dan prestasi; suka mendengar orang lain;
menghormati siapa saja; ramah dan tidak membeda-bedakan; mudah dan bersedia
mengakui kesalahan; ikhlas membantu orang lain; dan sederhana dalam bersikap.
6. Suci hati.
Orang yang suci hati sama dengan pakaian kotor yang
dicuci hingga bersih, atau bagaikan gandum yang dibersihkan dari sekamnya.
Demikian halnya dengan orang yang telah dipisahkan menjadi kelompok yang bersih
dan yang terbaik, akan melihat Allah.
7. Orang yang membawa damai.
Orang yang membawa damai adalah orang yang selalu membawa
kebaikan kepada semua orang. Apabila terjadi persoalan dan perselisihan, selalu
dihadapi, diatasi dan diselesaikan sampai tuntas, walaupun untuk itu, harus
menghadapi jalan terjal. Selain dari itu, ia peduli dan membantu orang
menyelesaikan konflik dan menggiring untuk mencapai damai. Orang yang demikian
dinamakan oleh Yesus adalah anak-anak Allah.
8. Orang yang dianiaya.
Pada ayat 10-12 disebut, bisa saja mereka akan menghadapi
pertarungan, dicela, difitnah karena mengikut Yesus. Hal itu perlu disampaikan
oleh Yesus bahwa mengikut Yesus harus siap secara mental dan utuh. Hal seperti
itu tidak hanya satu kali disampaikan, tetapi beberapa kali, agar muridnya
tidak salah paham dalam mengikut Yesus.
Hal yang hampir sama juga pernah Tuhan sampaikan pada
kesempatan lain, Yesus mengatakan bahwa serigala mempunyai liang dan burung
mempunyai sarang, tetapi anak manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan
kepalanya (Mat. 8:20; Luk. 9:58).
KESIMPULAN
Minggu ini dinamakan Septuagesima. Septuagesima dari
Bahasa Latin yang berarti "tujuh puluh." Minggu septuagesima
diperingati 3 (tiga) hari Minggu sebelum hari Rabu abu. Masa septuagesima
diperingati untuk membantu umat gereja memasuki masa prapaskah.
Di masa prapaskah ini, melalui khotbah minggu seluruh
jemaat diingatkan untuk menjadi pengikut Yesus yang setia. Kesetiaan dituntut
mengingat bahwa tidak lama lagi gereja akan memasuki masa paskah, yaitu masa
peringatan pengorbanan dan kemenangan Yesus untuk mengalahkan maut. Di masa
persiapan ini diingatkan bahwa tidak sedikit orang jatuh, karena goncangan iman
atau godaan, baik yang datang dari dalam maupun dari luar gereja, semuanya itu
terkadang membuat seseorang lelah dan jatuh dan terjatuh lagi. Namun melalui
khotbah minggu ini, diingatkan bahwa ada kebahagiaan yang disediakan Tuhan bagi
mereka yang setia dan hidup dalam kebenaran Firman Tuhan.
Oleh karenanya, ingatlah bahwa manusia dapat setia dan
kuat, bukan karena kuat dan hebat manusia sendiri, tetapi hanya oleh Tuhan
sendiri, manusia akan dapat bertahan menghadapi seluruh bentuk dan hal-hal yang
terjadi dalam perjalanan hidup. Kiranya, bersama Tuhan Yesus semua orang tetap
mendapat kelegaan (Baca: Mat. 11: 28).