Monday, March 16, 2026

Hidup Berbahagia di dalam Tuhan Matius 5:1-12

 PENDAHULUAN

Injil Matius menuliskan kronologis dari khotbah Yesus di Bukit sangat sistematis, yang dimulai dari siapa Yesus menurut silsilah, bagaimana dan seperti apa Yesus pada saat kelahirannya, dan setelah Yesus dibabtis oleh Yohanes di sungai Yordan, Yesus mendapat ujian atau pencobaan di padang gurun, dan ketika Yesus mendengar bahwa Yohanes ditangkap, maka Yesus menyingkir ke Galilea, disana Yesus memanggil murid-murid Nya kemudian mengajar serta melakukan penyembuhan. Semakin hari semakin banyak orang yang mengikutinya. Melihat banyaknya orang yang mengikutinya, maka Yesus naik ke tempat yang lebih tinggi, yang disanalah Yesus memulai pengajarannya, yang kemudian, pengajaran Nya disebut gunung. ini dinamakan khotbah di bukit. Khotbah di bukit ditulis Matius pada pasal 5 sampai dengan pasal 7, yang diawali dengan judul "Ucapan Bahagia."

Yesus mengajarkan 8 (delapan) ucapan Bahagia. Ucapan itu bukanlah hal yang tidak mendasar, atau halusinasi yang tidak pernah berwujud atau dapat terwujud, sebab sesungguhnya seluruh ucapan bahagia itu telah terpenuhi dalam kehidupan Yesus. Yesus adalah manusia yang paling bahagia, karena la memberikan diriNya dan seluruh hidupnya untuk Allah Bapa dan kepada manusia

Karena itu, untuk menjadi manusia yang berbahagia, tidak dapat dirasakan dari diri sendiri atau dari dunia ini, tetapi kebahagiaan yang utuh dan sesungguhnya hanya didapat di dalam Yesus. Itulah yang disampaikan oleh Yesus dalam khotbahNya, berikut ini.

 

1. Miskin di hadapan Allah.

Istilah "miskin" yang digunakan dalam ayat ini adalah keadaan yang tidak memiliki apapun, dan apabila tidak ada datang pertolongan, maka tidak lama lagi ia akan mati. Kondisi demikian yang digunakan oleh Yesus dalam khotbahNya ini terkait kondisi iman dan spiritualitas manusia, yang sungguh sangat memperihatinkan, jika tidak mendapat pertololongan dari Tuhan sediri, maka manusia itu akan mati.

Tetapi Tuhan sungguh-sungguh baik, la menyediakan kerajaanNya dan pemerintahanNya yang menjamin kehidupan setiap orang yang berkenan kepadaNya. Jadi, ayat ini tidaklah bermaksud bahwa kemiskinan itu membawa kebahagiaan, tetapi Allah sendirilah sumber kebahgiaan itu, sebab manusia tidak ada kuasa untuk mencapainya. Sehubungan dengan itu Paulus mengatakan bahwa keselamatan itu adalah anugerah Allah karena iman dan bukan hasil usaha manusia (Bdk. Ef. 2: 8-9)

 

2. Orang yang berdukacita

Di dalam ayat ini, Yesus berkata bahwa berbahagialah orang yang berdukacita tidak bermaksud bahwa mereka akan mendapat bantuan dari berbagai pihak, melainkan orang yang berdukacita akan berbahagia sebab mereka dipanggil dan dihubur dengan menerima damai sejahtera dari Tuhan dan sukacita roh dari Tuhan. 

 3. Orang yang lemah lembut.

 Lemah lembut adalah menggambarkan satu karakter yang rendah hati, penuh pertimbangan. Lemah lembut dalam Bahasa Yunani dipakai "praus," yang sering digunakan pada binatang atau ternak yang telah dilatih dan tunduk pada perintah tuannya.

Untuk teladan yang dapat dicontoh sebagai orang yang lemah lembut dalam ayat ini dapat dilihat dalam diri Yesus sendiri, Yesus adalah sosok yang lemah lembut dan rendah hati. (Mat. 11: 29). Demikian Yesus memberitakan bahwa Orang yang seperti itu akan mewarisi bumi.

 4. Lapar dan haus.

Demikian juga dalam hal kebenaran, tidak sedikit orang yang tidak mendapatkan, tetapi karena kemurahan Tuhan, mereka hadir hingga merasakan kepuasan. Daud pernah mengalami hidup sebagai orang yang lapar dan haus akan kebenaran. Artinya, ia harus melakukan sesuatu karena kebenaran, meskipun itu sulit dan bertentangan dengan batinnya, misalnya: Pertama, Ketika Daud harus membunuh dan mengalahkan Goliat (1 Sam. 17); kedua, Pada saat Daud melarikan diri karena diancam dibunuh oleh raja Saul, di tempat pengungsian, Daud mendapat kesempatan membunuh Saul, tetapi ia tetap berpegang teguh pada kebenaran, ia tidak membunuh Saul (1 Sam. 24). Dan Ketika Daud melakukan apa yang dikehendaki oleh Tuhan, Ia bebas dari rasa bersalah dan dosa, tetapi Ia mendapat kelegaan. atau kepuasan.

 5. Murah hati.

Orang yang bermurah hati adalah orang yang menaruh belas kasihan, dan simpati terhadap orang yang menderita. Dalam khotbah di bukit, para murid-Nya diajar agar berbuat baik, dan memberi pengampunan kepada semua orang. Orang yang murah hati berjanji akan beroleh kemurahan, yaitu memaafkan dan kebaikan.

Ciri-ciri orang murah hati adalah tidak suka pamer, walaupun ia memiliki banyak keunggulan dan prestasi; suka mendengar orang lain; menghormati siapa saja; ramah dan tidak membeda-bedakan; mudah dan bersedia mengakui kesalahan; ikhlas membantu orang lain; dan sederhana dalam bersikap.

 6. Suci hati.

Orang yang suci hati sama dengan pakaian kotor yang dicuci hingga bersih, atau bagaikan gandum yang dibersihkan dari sekamnya. Demikian halnya dengan orang yang telah dipisahkan menjadi kelompok yang bersih dan yang terbaik, akan melihat Allah.

 

7. Orang yang membawa damai.

Orang yang membawa damai adalah orang yang selalu membawa kebaikan kepada semua orang. Apabila terjadi persoalan dan perselisihan, selalu dihadapi, diatasi dan diselesaikan sampai tuntas, walaupun untuk itu, harus menghadapi jalan terjal. Selain dari itu, ia peduli dan membantu orang menyelesaikan konflik dan menggiring untuk mencapai damai. Orang yang demikian dinamakan oleh Yesus adalah anak-anak Allah. 

 8. Orang yang dianiaya.

Pada ayat 10-12 disebut, bisa saja mereka akan menghadapi pertarungan, dicela, difitnah karena mengikut Yesus. Hal itu perlu disampaikan oleh Yesus bahwa mengikut Yesus harus siap secara mental dan utuh. Hal seperti itu tidak hanya satu kali disampaikan, tetapi beberapa kali, agar muridnya tidak salah paham dalam mengikut Yesus.

Hal yang hampir sama juga pernah Tuhan sampaikan pada kesempatan lain, Yesus mengatakan bahwa serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi anak manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepalanya (Mat. 8:20; Luk. 9:58).

 

PENUTUP

Minggu ini dinamakan Septuagesima. Septuagesima dari Bahasa Latin yang berarti "tujuh puluh." Minggu septuagesima diperingati 3 (tiga) hari Minggu sebelum hari Rabu abu. Masa septuagesima diperingati untuk membantu umat gereja memasuki masa prapaskah.

Di masa prapaskah ini, melalui khotbah minggu seluruh jemaat diingatkan untuk menjadi pengikut Yesus yang setia. Kesetiaan dituntut mengingat bahwa tidak lama lagi gereja akan memasuki masa paskah, yaitu masa peringatan pengorbanan dan kemenangan Yesus untuk mengalahkan maut. Di masa persiapan ini diingatkan bahwa tidak sedikit orang jatuh, karena goncangan iman atau godaan, baik yang datang dari dalam maupun dari luar gereja, semuanya itu terkadang membuat seseorang lelah dan jatuh dan terjatuh lagi. Namun melalui khotbah minggu ini, diingatkan bahwa ada kebahagiaan yang disediakan Tuhan bagi mereka yang setia dan hidup dalam kebenaran Firman Tuhan.

Oleh karenanya, ingatlah bahwa manusia dapat setia dan kuat, bukan karena kuat dan hebat manusia sendiri, tetapi hanya oleh Tuhan sendiri, manusia akan dapat bertahan menghadapi seluruh bentuk dan hal-hal yang terjadi dalam perjalanan hidup. Kiranya, bersama Tuhan Yesus semua orang tetap mendapat kelegaan (Baca: Mat. 11: 28).

No comments:

Post a Comment

Kasih Allah Besar Akan Dunia Ini Yohanes 3:1–17

  Pendahuluan Kisah perjumpaan Yesus dengan Nikodemus adalah kisah yang penuh makna rohani. Nikodemus datang kepada Yesus pada malam hari....