Pendahuluan
Pada hari Minggu tanggal 22 Maret adalah pelaksanaan ibadah Hari Doa sedunia[1], ibadah HDS ini secara khusus mendengarkan situasi dan kondisi kaum perempuan negara Nigeria dan mendoakan agar mereka terlepas dari kemiskinan dan penderitaan.
Komisi perempuan BNKP Efrata
Pangkalan Kerinci, Riau melaksanakan ibadah HDS ini mereka memerankan perempuan-perempuan
Nigeria yang menggunakan gaun dan sorban ala perempuan Nigeria.
Dalam kehidupan ini, banyak orang
memikul beban yang berat seperti kemiskinan, ketidakadilan, kehilangan, dan
juga penganiayaan karena iman. Namun di tengah semua itu, Tuhan tetap memanggil
setiap kita
“Marilah kepada Ku, semua yang
letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu” Matius 11:28
Kesaksian dari perempuan
perempuan di Nigeria ini mengingatkan kita bahwa penderitaan bukanlah akhir
dari cerita. Di dalam Tuhan selalu ada kekuatan, pengharapan, dan kelegaan.
Kita adalah satu tubuh dalam
Kristus. Ketika satu menderita, semua turut merasakan. Namun ketika satu
mengalami pemulihan, kita semua ikut bersukacita.
1. Beatrice Beban Penindasan
dan Ketidakadilan
Beatrice menjadi janda pada usia
28 tahun setelah suaminya tewas dalam konflik antar komunitas. Sejak saat itu
hidupnya berubah secara drastis. Ia
tidak hanya kehilangan pasangan hidup, tetapi juga kehilangan tempat dalam
masyarakat. Bersama tiga anak kecil ia harus menghadapi kemiskinan, kehilangan
penghasilan, dan tekanan dari keluarga suami yang ingin mengambil harta yang
tersisa.
Hari harinya dipenuhi
ketidakpastian. Ia tidak selalu tahu bagaimana memberi makan anak anaknya atau
membayar biaya sekolah. Namun di tengah kegelapan itu ia menemukan kekuatan
melalui iman dan komunitas. Dalam sebuah pertemuan gereja untuk para janda ia
menyadari bahwa ia tidak sendirian. Dari sanalah harapan mulai tumbuh.
Komisi perempuan BNKP Efrata dapat
belajar dari kisah Beatrice ini bahwa komunitas atau persekutuan sangat berguna
untuk saling menguatkan dan saling mendukung satu sama lain karena penderitaan
sering membuat seseorang merasa sendirian. Namun Allah bekerja melalui
komunitas dan menghadirkan kekuatan serta penghiburan.
2. Jato Beban Penganiayaan
karena Iman
Jato adalah seorang ibu Kristen di Nigeria bagian utara.
Setiap hari ia mengantar anaknya ke sekolah dengan hati yang penuh
kekhawatiran. Ia teringat kisah Leah Sharibu, seorang gadis yang diculik karena
imannya dan tetap setia kepada Kristus. Dalam situasi seperti ini iman bukan
hanya pengakuan tetapi juga sebuah harga yang harus dibayar.
Namun di tengah ancaman itu Jato memilih jalan Kristus yaitu
mengasihi musuh dan mendoakan mereka yang menganiaya.
Ia mengakui bahwa hal ini tidak mudah. Ada rasa takut dan
ada juga kemarahan. Namun kasih karunia Tuhan memampukan dia untuk tetap setia.
“Di dunia kamu akan mengalami kesusahan. Tetapi kuatkanlah hatimu. Aku telah
mengalahkan dunia” Yohanes 16:33 Iman sejati terlihat dalam kesetiaan di
tengah penderitaan. Kasih Kristus membawa damai bahkan dalam situasi yang penuh
tekanan.
Kisah Jato menjadi pelajaran bahwa “musuh” bukan hal yang
ditakutkan tetapi didoakan, Komisi Perempuan BNKP Efrata dapat belajar dari
kisah Jato ini untuk saling mendoakan satu sama lain karena dalam komunitas
perempuan tidak perlu ada permusuhan namun persaudaraan dalam Kristus untuk
saling menguatkan dalam iman.
3. Blessing Beban Kemiskinan dan Keputusasaan
Blessing adalah seorang perempuan dari Lagos yang
menyaksikan perubahan di negaranya. Namun perubahan itu tidak selalu membawa
kebaikan. Harga kebutuhan hidup semakin
meningkat. Pekerjaan sulit diperoleh. Banyak orang kehilangan harapan dan
mengalami tekanan dalam hidup mereka.
Namun di tengah keadaan itu ia melihat secercah terang. Ia menceritakan tentang tetangganya yang
tetap berjuang walaupun kehilangan pekerjaan dan suami. Dengan usaha kecil ia
tetap bisa bertahan dan memelihara keluarganya. Dari situ muncul keyakinan
bahwa Tuhan tetap bekerja. “Kita bukan
sekadar bertahan. Kita hidup oleh iman” Kemiskinan
tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan hidup tetapi juga menyentuh harapan
manusia. Namun iman menolong seseorang untuk tetap berdiri dan terus berjalan.
Para anggota komisi perempuan baik
juga jikalau turut membantu ekonomi keluarga dengan berdagang, home industri ataupun
membantu suami dalam mencari nafkah, setidaknya dapat menghemat penggunaan uang
dalam menyiapkan kebutuhan keluarga dan anak-anak.
Doa
Ya Allah yang penuh kasih. Engkau melihat setiap air mata dan mendengar
setiap seruan hati. Kami membawa kepada Mu mereka yang tertindas, yang miskin,
yang berduka, dan yang hidup dalam ketakutan. Kuatkan mereka yang lemah, hiburkan
mereka yang berduka berikan keadilan bagi yang tertindas.
Tuhan Yesus
Engkau memikul beban kami.
Ajarlah kami untuk tetap percaya ketika hidup terasa berat. Berikan kami hati
yang mengasihi bahkan kepada mereka yang menyakiti kami.
Roh Kudus
Jadilah Penghibur dan Penuntun
kami. Berikan kami iman untuk terus berjalan walaupun jalan terasa sulit. Pakailah kami menjadi alat Mu untuk membawa
terang, harapan, dan kasih bagi sesama. Dalam
nama Yesus kami berdoa Amin
Penutup
Kesaksian Beatrice, Jato, dan
Blessing menunjukkan bahwa dunia ini penuh pergumulan. Namun di dalam Tuhan
selalu ada pengharapan. Mereka
mengajarkan bahwa penderitaan tidak mematikan iman. Kasih lebih kuat daripada
kebencian, harapan tetap hidup di dalam Tuhan.
Dari kisah ini, ternyata
perempuan-perempuan Nigeria memberi teladan iman kepada perempuan di seluruh
dunia, lebih dari sekedar mendoakan mereka karena kondisi ekonomi dan
penderitaan. Namun saling mendoakan juga
merupakan bentuk dukungan spiritual bagi perempuan Nigeria dari kaumnya di
seluruh dunia.
Kiranya kesaksian ini
menggerakkan kita untuk berdoa, peduli, dan menjadi berkat bagi sesama dalam.
[1]Diadaptasi
dari tata ibadah HDS yang Disusun oleh:
Komisi Hari Doa Sedunia Dari Nigeria Tema: “Aku Akan Memberi Kelegaan Kepadamu,
Datanglah” (Matius 11 : 28-30)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar