Khotbah Minggu, 17 Mei 2026
Allah memerintahkan agar imam-imam Israel mengucapkannya. Berkat
tersebut kita temukan dalam Bilangan 6:22-27, yang sering disebut sebagai
Berkat Harun atau Berkat Imamat. Berkat ini memiliki kedalaman teologis dan
spiritual yang besar, sebab berisi janji Allah untuk memberkati, melindungi,
mengasihi, dan memberikan damai sejahtera kepada umat-Nya. Berkat ini tetap
dipelihara dalam liturgi, menegaskan bahwa umat Allah hidup di bawah naungan
kasih dan penyertaan-Nya.
Berkat berasal dari Allah, bukan dari manusia. Berkat ini bukan sekadar
doa, melainkan firman yang bersifat
menyeluruh dimulai dengan berkat jasmani (ay.24), lalu kasih karunia rohani
(ayat 25), dan terakhir berkat damai sejahtera yang sempurna (ay.26). Berkat
ini bersifat relasional.
Khotbah
22 TUHAN berfirman kepada Musa: 23
"Berbicaralah kepada Harun dan anak-anaknya: Beginilah harus kamu
memberkati orang Israel, katakanlah kepada mereka: 24 TUHAN memberkati engkau
dan melindungi engkau
Berkat untuk bangsa Israel dan umatmanusia bukan berasl dari manusia,
walaupun manusia yangmenyampaikan berkat tetapi berkat itu bersal dari Allah
dan atas perinta Allah. Allah sendiri.
Allah yang memberi kalimat berkat tersebut, dan tentu Allah pula yang memberi
kuasa atasnya. Allah menggunakan mulut para iman atau para pendeta di masa kini
utnuk mengucapkan berkat dari Firman berkat tersebut. Hal ini selaras dengan
keyakinan bahwa Allah bekerja melalui sarana lahiriah. Sedangka paa Pendeta
alat, tetapi yang bekerja adalah Allah sendiri melalui Firman dan sakramen.
Dengan demikian, ketika berkat diucapkan dalam ibadah, isi berkata dalam ayat
24 adalah berkat adalah Berkat dan Perlingungan.
Allah yang aktif melimpahkan berkat-Nya. Berkat Dalam Alkitab, berkat
berarti segala sesuatu yang baik yang diberikan Allah: kehidupan, kesehatan,
makanan, keluarga, pekerjaan, dan melainkan keselamatan dalam perjanjian Allah.
Dalam Perjanjian Baru, segala keperluan sehari-hari.
Berkat Perlindungan dari Allah berarti penjagaan dari segala
marabahaya, baik jasmani maupun rohani. Perlindungan ini bukan berarti bebas
dari penderitaan, tetapi Dalam Kristus, perlindungan ini terjamin sampai pada
hidup kekal. Allah berarti Allah tetap menyertai dan tidak membiarkan umat-Nya
binasa bukan hanya memberi, tetapi juga menjaga. Ia tidak hanya melimpahkan
berkat, tetapi juga memastikan berkat itu tidak dirampas musuh.
3. Berkat Sinar Wajah Allah dan Kasih-Nya (ayat
25)
“TUHAN menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia.”
(25)
Ketika Allah menyinari umat-Nya dengan wajah-Nya, hal itu berarti bahwa Allah berkenan kepada mereka. Kehadiran-Nya membawa terang, sukacita, pengharapan, dan pemulihan hidup. Allah bukan hanya menyinari umat-Nya dari kejauhan, tetapi menghadapkan wajah-Nya secara pribadi kepada mereka. Ini menunjukkan bahwa Allah menghendaki hubungan yang dekat dengan umat-Nya. Ia bukan Allah yang jauh dan tidak peduli, melainkan Allah yang hadir, menyertai, dan berkomunikasi dengan umat-Nya.
Ayat 25 ini juga menekankan tentang kasih karunia Allah. Kasih karunia
adalah pemberian Allah yang cuma-cuma kepada manusia. Dalam pemahaman iman
Kristen, hal ini mengingatkan pada prinsip sola
gratia bahwa keselamatan diberikan
semata-mata karena anugerah Allah, bukan karena usaha atau jasa manusia. Bangsa
Israel menerima kasih karunia bukan karena mereka selalu setia, sebab
berkali-kali mereka jatuh ke dalam dosa, melainkan karena Allah tetap setia
kepada janji-Nya.
3. TUHAN menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan
memberi engkau damai sejahtera. (ayat 26-27)
26 TUHAN menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi
engkau damai sejahtera. 27 Demikianlah harus mereka meletakkan nama-Ku atas
orang Israel, maka Aku akan memberkati mereka."
Hasil dari relasi yang dekat dengan Allah adalah damai sejahtera. Dalam
bahasa Ibrani digunakan kata shalom,
yang memiliki makna sangat luas. Shalom
bukan hanya berarti tidak adanya perang atau masalah, tetapi menunjuk pada
keadaan hidup yang utuh, penuh berkat, sejahtera lahir dan batin, harmonis
dengan Allah, sesama manusia, dan seluruh ciptaan.
Oleh karena itu, damai sejahtera yang Allah janjikan bukanlah damai
buatan manusia, melainkan damai yang melampaui segala akal (Fil. 4:7). Nama
Allah yang diucapkan adalah tanda
kehadiran dan otoritas-Nya. Dengan berkat ini, umat Israel dimeteraikan sebagai
milik Allah. Mereka hidup di bawah naungan nama-Nya.
Allah mendekat, menyinari, menghadapkan wajah-Nya, semua itu
menunjukkan hubungan yang intim antara Allah dan umat-Nya. Berkat ini menemukan
puncaknya dalam Kristus. Dalam Yesus, wajah Allah sungguh bersinar. Melalui
Dia, kasih karunia dicurahkan, dan kedamaian sejahtera diberikan kepada dunia.
KESIMPULAN
Berkat
imam dalam Bilangan 6:22-27 menegaskan bahwa Allah adalah sumber segala berkat
bagi umat-Nya. Berkat itu bukan berasal dari manusia, melainkan dari Allah
sendiri yang bekerja melalui firman-Nya. Melalui berkat tersebut, Allah
menyatakan pemeliharaan, perlindungan, kasih karunia, dan damai sejahtera
kepada umat-Nya.
Pertama,
Allah memberkati dan melindungi umat-Nya. Ia memelihara kehidupan umat-Nya,
mencukupi kebutuhan mereka, serta menjaga mereka di tengah berbagai pergumulan
hidup. Perlindungan Allah tidak berarti umat bebas dari penderitaan, tetapi
Allah tetap menyertai dan memegang hidup umat-Nya sampai kepada keselamatan
kekal.
Kedua,
Allah menyinari umat-Nya dengan wajah-Nya dan memberikan kasih karunia.
Kehadiran Allah membawa terang, sukacita, pengharapan, dan pemulihan. Kasih
karunia Allah diberikan bukan karena manusia layak menerimanya, tetapi
semata-mata karena kasih dan kesetiaan Allah kepada janji-Nya.
Ketiga,
Allah menghadapkan wajah-Nya dan memberikan damai sejahtera. Damai sejahtera (shalom) yang berasal dari Allah mencakup
keutuhan hidup secara jasmani dan rohani, serta hubungan yang harmonis dengan
Allah dan sesama. Berkat ini mencapai puncak penggenapannya di dalam Yesus
Kristus, sebab melalui Dia manusia menerima kasih karunia dan damai sejahtera
sejati.
Dengan
demikian, Berkat Harun menunjukkan bahwa umat Allah hidup di bawah naungan nama
Tuhan, dipelihara oleh kasih-Nya, dan disertai oleh damai sejahtera-Nya setiap
waktu.
REFLEKSI
Sebagai orang percaya, kita sering mencari berkat hanya dalam bentuk
materi atau keberhasilan hidup. Namun melalui firman ini kita diingatkan bahwa
berkat terbesar adalah kehadiran Allah sendiri dalam hidup kita. Ketika Tuhan
menyinari hidup kita dengan wajah-Nya, maka ada pengharapan di tengah
kesulitan, kekuatan di tengah kelemahan, dan damai di tengah pergumulan.
Firman ini juga mengajak kita untuk hidup dekat dengan Allah. Allah
bukan Pribadi yang jauh, tetapi Allah yang hadir dan mau berelasi dengan
umat-Nya. Karena itu, orang percaya dipanggil untuk hidup dalam iman, doa, dan
ketaatan kepada Tuhan.
Selain menerima berkat, kita juga dipanggil menjadi saluran berkat bagi
orang lain. Melalui perkataan, sikap, pelayanan, dan kasih, kita dapat
menghadirkan damai sejahtera Allah di tengah keluarga, gereja, dan masyarakat.
Oleh:
Pdt. Juliman Harefa