Menanti Ibu Datang
Saya yang bernama Isaura Tanida Harefa terlahir dari kedua orang tua yang lengkap bernama Juliman Harefa dan Victoria Lase. Saya memiliki satu saudara yaitu abang saya bernama Raphael Omasio Harefa, kami hanya dua bersaudara.
Saya dan abang saya hanya selisih 1 tahun, lebih tepatnya
abang lahir tahun 2008 dan saya 2009. Bulan lahir kami sama-sama November, cuma
tanggalnya yang beda, saya tanggal 13 dan abang tanggal 18. Saya lahir dari
keluarga yang sederhana namun harmonis. Saya lahir di Nias, tepatnya di Gunung
Sitoli. Mama saya bilang kalau saya dilahirkan normal tanpa operasi.
Saat saya masih bayi, saya sering dititipkan sama kakek dan
nenek, karena pada saat itu mama menderita sakit Steven Johnson yang
menyebabkan harus dirawat inap di rumah sakit selama beberapa minggu. Papa saya
setia menjaga dan merawat mama setiap pulang kerja sambil membawa abang saya
yang tidak bisa dipisahkan sama mama. Puji Tuhan mama bisa sembuh dan sungguh
itu mukjizat dari Tuhan karena penyakit mama cukup parah saat itu dan
kebanyakan yang kena penyakit itu tidak selamat.
Singkatnya beberapa tahun kemudian kami pindah ke Tangerang
karena profesi papa saya seorang pendeta dan tiap 5–7 tahun pindah sesuai SK
dari sinode. Saya dan abang hidup di tengah keluarga yang harmonis, kami
dibanjiri oleh kasih sayang dan mainan yang banyak sehingga masa kecil kami
puas saat itu. Kami sering diajak papa dan mama jalan-jalan ke rumah kakek dan
nenek di Cileungsi, ke Jakarta, bertemu keluarga lain hingga ke Jogja untuk
menciptakan momen hangat bersama keluarga.
Saat itu saya dan abang TK di NGS (lupa nama panjangnya),
tapi kami sekolah hanya 2–3 kali seminggu karena papa sibuk menjadi dosen dan
pendeta saat itu, dan mama hanya ibu rumah tangga dan tidak bisa mengantar kami
sekolah karena mama belum bisa mengendarai motor dan mobil saat itu. Sehingga
beberapa tahun setelahnya kami pindah lagi, masih di Pulau Jawa tapi saya lupa
nama kotanya. Di situ abang saya melanjutkan TK-nya di TK Santo Yoseph dan saya
tidak karena belum cukup umur. Tapi saat itu rasanya saya pengen banget ikut
abang dan bersekolah, sampai mencoba ikut tes yang didampingi guru hanya untuk
ditanya soal abjad dan lain-lain. Saya dipuji miss-nya karena saya tahu semua
yang ditanya dan saya pikir bakal masuk sekolah, tapi ternyata tidak karena tidak
cukup umur tadi.
Di rumah saya benar-benar lasak dan pengen mencoba semua
hal. Sampai-sampai saya selalu ditegur dan dinasihati mama karena nakal. Saya
suka manjat, minta sesuatu kalau tidak diturutin nangis, dan banyak hal
kenakalan lainnya.
Sampai tidak lama, di umur saya yang menginjak 6 tahun kami
pindah balik ke Nias karena papa dipindahin lagi di Nias. Saya mencoba masuk SD
tapi kata gurunya masih kurang umur, jadi saya lanjut TK B4 di TK Bhayangkari.
Di Nias saya makin lasak dan seperti anak perempuan tomboy saking ingin mencoba
semua hal tanpa takut risikonya.
Setahun kemudian baru saya masuk SD dan saya masuk ranking 2
karena pada saat itu rasa ingin belajar dan bersekolah saya tinggi sehingga
ingin tahu banyak hal. Namun karena saya cepat bosan, ranking saya perlahan
naik turun hingga semakin turun mulai dari kelas 4–6 saat Covid mulai melanda.
Saat masih kelas satu saya ikut lomba mewarnai dan dapat
juara 2 karena mengikuti arahan guru untuk mewarnai di satu garis saja. Saya
juga mulai menyadari kalau saya lumayan bisa menggambar karena banyak teman
saya yang minta tolong digambarin juga. Saya juga dijadikan contoh tulisan yang
rapi karena sebelum kami mulai belajar tulisan elok di sekolah, saya sudah
belajar dari rumah.
Saat kelas dua saya mendapat juara 2 lagi dalam lomba
menggambar/mewarnai yang disponsori oleh susu Zee. Oh iya, waktu SD saya
bersekolah di SD Swasta RK Mutiara sama dengan abang.
Sehari setelah saya juara lomba di kelas dua itu saya diare
dan demam sehingga tidak bisa ke sekolah. Padahal kalau saya datang saya
menantikan akan diumumkan dan dipanggil di lapangan saat apel pagi.
(Flashback ke masa waktu saya TK B4)
Waktu TK saya sering nangis kangen papa sama mama waktu
awal-awal masuk, karena sebelumnya saya belum pernah merasa benar-benar
ditinggalkan di sekolah untuk waktu yang lama. Waktu TK di NGS dulu orang tua
menjaga anaknya di lantai satu dan kami belajar di lantai dua sama mister dan
miss, sehingga saya jadi sering menghambat pelajaran karena drama saya yang
suka nangis sampai guru-guru menenangkan dan menelepon papa mama untuk
menjemput. Saya juga pernah pup di sekolah jadi dibantu guru dan teman-teman karena
saat itu saya masih belum pandai cebok sendiri.
Terus hal yang paling saya suka saat disuruh ke lab
komputer, karena saya sangat suka mengetik waktu itu.
(Kembali ke SD)
Singkatnya pas kelas 4–5 Covid, dan mulai sekolah lagi di
kelas 6 saya dapat juara 1 lomba gambar dan juara 1 pidato bahasa Inggris.
Pangkalan Kerinci, 26 Mei 2026, 04.04 WIB
Ditulis anakku Isaura.