Selasa, 26 Mei 2026

Kisah Isaura

Menanti Ibu Datang

Saya yang bernama Isaura Tanida Harefa terlahir dari kedua orang tua yang lengkap bernama Juliman Harefa dan Victoria Lase. Saya memiliki satu saudara yaitu abang saya bernama Raphael Omasio Harefa, kami hanya dua bersaudara.

Saya dan abang saya hanya selisih 1 tahun, lebih tepatnya abang lahir tahun 2008 dan saya 2009. Bulan lahir kami sama-sama November, cuma tanggalnya yang beda, saya tanggal 13 dan abang tanggal 18. Saya lahir dari keluarga yang sederhana namun harmonis. Saya lahir di Nias, tepatnya di Gunung Sitoli. Mama saya bilang kalau saya dilahirkan normal tanpa operasi.

Saat saya masih bayi, saya sering dititipkan sama kakek dan nenek, karena pada saat itu mama menderita sakit Steven Johnson yang menyebabkan harus dirawat inap di rumah sakit selama beberapa minggu. Papa saya setia menjaga dan merawat mama setiap pulang kerja sambil membawa abang saya yang tidak bisa dipisahkan sama mama. Puji Tuhan mama bisa sembuh dan sungguh itu mukjizat dari Tuhan karena penyakit mama cukup parah saat itu dan kebanyakan yang kena penyakit itu tidak selamat.

Singkatnya beberapa tahun kemudian kami pindah ke Tangerang karena profesi papa saya seorang pendeta dan tiap 5–7 tahun pindah sesuai SK dari sinode. Saya dan abang hidup di tengah keluarga yang harmonis, kami dibanjiri oleh kasih sayang dan mainan yang banyak sehingga masa kecil kami puas saat itu. Kami sering diajak papa dan mama jalan-jalan ke rumah kakek dan nenek di Cileungsi, ke Jakarta, bertemu keluarga lain hingga ke Jogja untuk menciptakan momen hangat bersama keluarga.

Saat itu saya dan abang TK di NGS (lupa nama panjangnya), tapi kami sekolah hanya 2–3 kali seminggu karena papa sibuk menjadi dosen dan pendeta saat itu, dan mama hanya ibu rumah tangga dan tidak bisa mengantar kami sekolah karena mama belum bisa mengendarai motor dan mobil saat itu. Sehingga beberapa tahun setelahnya kami pindah lagi, masih di Pulau Jawa tapi saya lupa nama kotanya. Di situ abang saya melanjutkan TK-nya di TK Santo Yoseph dan saya tidak karena belum cukup umur. Tapi saat itu rasanya saya pengen banget ikut abang dan bersekolah, sampai mencoba ikut tes yang didampingi guru hanya untuk ditanya soal abjad dan lain-lain. Saya dipuji miss-nya karena saya tahu semua yang ditanya dan saya pikir bakal masuk sekolah, tapi ternyata tidak karena tidak cukup umur tadi.

Di rumah saya benar-benar lasak dan pengen mencoba semua hal. Sampai-sampai saya selalu ditegur dan dinasihati mama karena nakal. Saya suka manjat, minta sesuatu kalau tidak diturutin nangis, dan banyak hal kenakalan lainnya.

Sampai tidak lama, di umur saya yang menginjak 6 tahun kami pindah balik ke Nias karena papa dipindahin lagi di Nias. Saya mencoba masuk SD tapi kata gurunya masih kurang umur, jadi saya lanjut TK B4 di TK Bhayangkari. Di Nias saya makin lasak dan seperti anak perempuan tomboy saking ingin mencoba semua hal tanpa takut risikonya.

Setahun kemudian baru saya masuk SD dan saya masuk ranking 2 karena pada saat itu rasa ingin belajar dan bersekolah saya tinggi sehingga ingin tahu banyak hal. Namun karena saya cepat bosan, ranking saya perlahan naik turun hingga semakin turun mulai dari kelas 4–6 saat Covid mulai melanda.

Saat masih kelas satu saya ikut lomba mewarnai dan dapat juara 2 karena mengikuti arahan guru untuk mewarnai di satu garis saja. Saya juga mulai menyadari kalau saya lumayan bisa menggambar karena banyak teman saya yang minta tolong digambarin juga. Saya juga dijadikan contoh tulisan yang rapi karena sebelum kami mulai belajar tulisan elok di sekolah, saya sudah belajar dari rumah.

Saat kelas dua saya mendapat juara 2 lagi dalam lomba menggambar/mewarnai yang disponsori oleh susu Zee. Oh iya, waktu SD saya bersekolah di SD Swasta RK Mutiara sama dengan abang.

Sehari setelah saya juara lomba di kelas dua itu saya diare dan demam sehingga tidak bisa ke sekolah. Padahal kalau saya datang saya menantikan akan diumumkan dan dipanggil di lapangan saat apel pagi.

(Flashback ke masa waktu saya TK B4)

Waktu TK saya sering nangis kangen papa sama mama waktu awal-awal masuk, karena sebelumnya saya belum pernah merasa benar-benar ditinggalkan di sekolah untuk waktu yang lama. Waktu TK di NGS dulu orang tua menjaga anaknya di lantai satu dan kami belajar di lantai dua sama mister dan miss, sehingga saya jadi sering menghambat pelajaran karena drama saya yang suka nangis sampai guru-guru menenangkan dan menelepon papa mama untuk menjemput. Saya juga pernah pup di sekolah jadi dibantu guru dan teman-teman karena saat itu saya masih belum pandai cebok sendiri.

Terus hal yang paling saya suka saat disuruh ke lab komputer, karena saya sangat suka mengetik waktu itu.

(Kembali ke SD)

Singkatnya pas kelas 4–5 Covid, dan mulai sekolah lagi di kelas 6 saya dapat juara 1 lomba gambar dan juara 1 pidato bahasa Inggris.

 

Pangkalan Kerinci, 26 Mei 2026, 04.04 WIB

Ditulis anakku Isaura. 

 

Kisah Isaura

Menanti Ibu Datang Saya yang bernama Isaura Tanida Harefa terlahir dari kedua orang tua yang lengkap bernama Juliman Harefa dan Victoria Las...