Pada Suatu Hari Nanti
Pada suatu hari nanti, aku mungkin sudah tidak ada lagi di
dunia ini. Waktu akan terus berjalan, orang-orang akan sibuk dengan kehidupan
mereka masing-masing, dan namaku perlahan dilupakan. Namun aku berharap,
tulisan-tulisan yang pernah kubuat tetap hidup di hati seseorang.
Setiap malam aku menulis sajak. Dalam setiap baitnya
kusimpan rasa rindu, harapan, dan cerita hidupku. Aku sadar manusia tidak akan
hidup selamanya, tetapi kata-kata bisa tinggal lebih lama daripada usia
manusia.
Aku membayangkan suatu saat seseorang membaca puisiku di
tempat yang sunyi. Mungkin ia sedang sedih, merasa sendiri, atau kehilangan
arah. Lalu ia menemukan sedikit kekuatan dari larik-larik sederhana yang
kutulis. Saat itu, meskipun ragaku telah tiada, aku merasa masih hadir
menemaninya.
Kelak suaraku tak lagi terdengar. Tidak ada lagi orang yang
mendengar tawaku atau percakapanku. Namun melalui puisi-puisi itu, aku ingin
tetap dikenang. Aku ingin seseorang tahu bahwa ada pernah hati yang mencintai
kehidupan dan menuangkannya ke dalam kata-kata.
Impian dan cita-citaku mungkin juga akan hilang ditelan
waktu. Tetapi aku percaya, selama puisiku masih dibaca, sebagian dari diriku
akan terus hidup. Karena itu aku terus menulis, berharap suatu hari nanti akan
ada orang yang mencari dan menemukan diriku di sela-sela huruf sajakku.
Setelah Dibawa ke Ruangan Besar
Aku benci pagi
Karena pagi
Selalu memisahkanku
dengan ibu
Di ruangan besar itu
aku duduk diam
menunggu sore datang
bersama langkah ibu
yang kurindukan
Kadang air mataku jatuh
Mbak Ratih memberi permen
dan mainan kecil
agar tangisku reda
meski rinduku
tetap sama
Ibu bilang
aku anak paling hebat
calon pilot
yang akan terbang tinggi
Tapi kenapa bu,
ibu selalu meninggalkanku di sini?
Ayah pun tak pernah pulang
Katanya bekerja jauh
membangun mimpi
untuk keluarga
Aku hanya anak kecil
yang belum mengerti
mengapa orang dewasa
sering menangis
saat mencari kebahagiaan
Pangkalan Kerinci 26 Mei 2026, 03.55 WIB
Ditulis oleh anak-ku: Isaura Tanida Harefa