Khotbah Minggu
7 "Dengarlah, hai umat-Ku, Aku hendak
berfirman, hai Israel, Aku hendak bersaksi
9 Tidak usah Aku mengambil
lembu
14 Persembahkanlah syukur
sebagai korban
Pendahuluan
Mazmur 50 adalah mazmur yang
ditulis oleh Asaf dan berbentuk pernyataan penghakiman Allah terhadap umat
perjanjian-Nya. Dalam mazmur ini, Allah tampil sebagai Hakim Agung yang
memanggil langit dan bumi menjadi saksi atas perkara-Nya dengan Israel (Mzm.
50:1–6). Yang menarik, Allah tidak sedang menghakimi bangsa-bangsa kafir,
tetapi justru umat pilihan-Nya sendiri karena mereka telah salah memahami
ibadah dan persembahan.
Pada ayat 7–15, Allah menegaskan
bahwa Ia tidak menegur Israel karena kurang membawa korban, sebab korban-korban
itu memang terus dipersembahkan di mezbah (ay. 8). Masalahnya adalah mereka
menganggap bahwa dengan mempersembahkan korban, mereka telah memenuhi kewajiban
kepada Allah dan dapat memperoleh perkenanan-Nya tanpa kehidupan yang benar.
Melalui firman-Nya, Allah
mengoreksi cara berpikir tersebut dengan menyatakan bahwa seluruh ciptaan
adalah milik-Nya: “Sebab punya-Kulah
segala binatang hutan, dan ternak di bukit-bukit beribu-ribu.” (Mazmur
50:10)
Karena itu, Allah tidak
membutuhkan persembahan manusia untuk memenuhi kebutuhan-Nya. Sebaliknya,
manusia dipanggil untuk mempersembahkan syukur, ketaatan, dan hidup yang benar
sebagai wujud penyembahan yang sejati.
Khotbah
1. Allah Memanggil Umat-Nya untuk Mendengarkan-Nya (ayat
7-8)
Kalimat "Dengarlah, hai umat-Ku" menunjukkan bahwa Allah
berbicara secara langsung kepada umat perjanjian-Nya, yaitu Israel. Panggilan
ini mengandung nada serius karena Allah hendak menyampaikan teguran dan menjadi
saksi atas kehidupan mereka.
Pernyataan "Akulah Allah, Allahmu" menegaskan hubungan perjanjian
antara Allah dan Israel. Allah memiliki hak untuk menegur karena Dialah Tuhan
yang telah memilih, memelihara, dan memberkati mereka. Sebagai Pemilik dunia
dan segala isinya, Allah juga adalah Pemilik umat-Nya.
Dalam teks ini kita belajar agar
sebelum mempersembahkan sesuatu kepada Tuhan, umat harus terlebih dahulu
mendengarkan suara-Nya dan hidup dalam ketaatan kepada-Nya. Ayat 8: "Bukan
karena korban sembelihanmu Aku menghukum engkau; bukankah korban bakaranmu
tetap ada di hadapan-Ku?"
Allah Tidak Menegur Karena
Kurangnya Korban. Allah tidak berkata
bahwa Israel berhenti mempersembahkan korban. Sebaliknya, mereka tetap
menjalankan ritual ibadah dengan baik. Korban bakaran masih terus
dipersembahkan sesuai dengan ketentuan Taurat.
Namun, persoalannya adalah mereka
hanya melakukan ritual lahiriah tanpa pembaruan hati. Mereka mengira bahwa
banyaknya korban sudah cukup untuk menyenangkan Allah. Allah ingin menunjukkan
bahwa masalah utama bukan pada jumlah korban, tetapi pada kualitas hubungan
mereka dengan-Nya.
2. Allah adalah Pemilik Dunia
dan Segala Isinya (9-13)
Pada bagian ini, Allah
menjelaskan alasan mengapa Dia tidak bergantung pada korban persembahan
manusia. Melalui pemazmur Asaf, Allah menegaskan bahwa segala sesuatu di alam
semesta adalah milik-Nya. Oleh karena itu, persembahan yang dibawa manusia
bukanlah sesuatu yang menambah atau memenuhi kebutuhan Allah.
Allah Tidak Membutuhkan
Persembahan Manusia (ay. 9) “Tidak usah
Aku mengambil lembu dari rumahmu atau kambing jantan dari kandangmu.”
Allah menegaskan bahwa Ia tidak
memerlukan lembu atau kambing milik Israel. Bukan berarti Allah menolak sistem
korban yang telah ditetapkan dalam Taurat, tetapi Ia menolak anggapan bahwa
korban tersebut dapat memenuhi kebutuhan-Nya. Korban adalah bentuk ketaatan dan
ungkapan syukur manusia, bukan karena Allah kekurangan sesuatu.
Seluruh Ciptaan Adalah Milik
Allah (ay. 10–11) “Sebab punya-Kulah
segala binatang hutan, dan beribu-ribu hewan di gunung. Aku kenal segala burung
di udara, dan apa yang bergerak di padang adalah dalam kuasa-Ku.”
Allah menyatakan kepemilikan
mutlak atas seluruh ciptaan. Binatang liar di hutan, ternak di gunung, burung
di udara, dan segala makhluk hidup berada di bawah penguasaan-Nya. Tidak ada
satu pun yang berada di luar otoritas Allah.
Ayat ini mengajarkan bahwa
manusia hanyalah pengelola (penatalayan), bukan pemilik sejati. Apa yang
dimiliki manusia sesungguhnya adalah titipan dari Tuhan.
Allah Berdaulat dan Tidak
Bergantung pada Manusia (ay. 12–13)“Jika
Aku lapar, tidak usah Kukatakan kepadamu, sebab punya-Kulah dunia dan segala
isinya. Daging lembu jantankah Aku
makan, atau darah kambing jantankah Aku minum?”
Ungkapan ini menggunakan bahasa
yang bersifat antropomorfis (menggambarkan Allah dengan sifat manusia) untuk
menegaskan bahwa Allah tidak memiliki kebutuhan seperti manusia. Seandainya pun
Allah lapar. Dia tidak perlu meminta kepada manusia karena seluruh dunia adalah
milik-Nya.
Pertanyaan retoris pada ayat 13
menekankan bahwa Allah bukan makhluk yang bergantung pada makanan atau minuman.
Dengan demikian, korban persembahan bukanlah untuk memenuhi kebutuhan Allah,
melainkan untuk membentuk hati manusia agar hidup dalam syukur dan ketaatan.
3. Allah Menghendaki Syukur
dan Kepercayaan Umat-Nya (ayat 14-15)
Setelah menegaskan bahwa dunia
dan segala isinya adalah milik-Nya (ay. 9-13), Allah kemudian menjelaskan
bentuk ibadah yang benar yang berkenan kepada-Nya. Allah tidak mengutamakan
banyaknya korban materi, melainkan hati yang penuh syukur, setia, dan percaya
kepada-Nya.
Allah Menghendaki Persembahan
Syukur (ay. 14) "Persembahkanlah syukur sebagai korban
kepada Allah dan bayarlah nazarmu kepada Yang Mahatinggi!" Perintah
ini menunjukkan bahwa korban yang paling berharga di hadapan Allah adalah ucapan
syukur yang lahir dari hati yang tulus. Syukur merupakan pengakuan bahwa segala
berkat, kehidupan, dan pemeliharaan berasal dari Tuhan. Selain itu, Allah
memerintahkan umat-Nya untuk membayar nazar, yaitu memenuhi janji yang telah
diucapkan kepada-Nya. Hal ini menegaskan bahwa Allah menghendaki kesetiaan dan
integritas, bukan sekadar kata-kata atau ritual keagamaan.
Dengan demikian, ibadah sejati
bukan hanya diwujudkan melalui persembahan di mezbah, tetapi juga melalui hati
yang bersyukur dan komitmen yang ditepati.
Allah Menghendaki Umat Bersandar
kepada-Nya (ay. 15a) "Berserulah
kepada-Ku pada waktu kesesakan, Aku akan meluputkan engkau." Allah
mengundang umat-Nya untuk datang kepada-Nya ketika menghadapi kesulitan. Seruan
ini menunjukkan bahwa Allah ingin membangun hubungan yang dekat dengan
umat-Nya, di mana mereka belajar bergantung kepada-Nya dan mempercayakan hidup
mereka kepada-Nya.
Janji untuk meluputkan umat-Nya
memperlihatkan kasih dan pemeliharaan Allah terhadap orang-orang yang berseru
dengan iman kepada-Nya.
Tujuan Akhirnya adalah Kemuliaan
bagi Allah (ay. 15b) "Dan engkau
akan memuliakan Aku." Pembebasan yang Allah berikan bukan semata-mata
untuk kenyamanan manusia, tetapi supaya manusia memuliakan Dia. Ketika Tuhan
menolong, respons yang benar adalah mengakui karya-Nya, bersyukur kepada-Nya,
dan hidup yang memancarkan kemuliaan-Nya.
Kesimpulan
Mazmur 50:7–15 mengajarkan bahwa Allah adalah
Pemilik dunia dan segala isinya. Karena itu, yang Tuhan kehendaki bukan sekadar
banyaknya persembahan atau ritual keagamaan, melainkan hati yang taat, penuh
syukur, dan percaya kepada-Nya. Sebagai umat Tuhan, marilah kita hidup sebagai
penatalayan yang setia, menggunakan segala yang kita miliki untuk
memuliakan-Nya, serta senantiasa berseru kepada-Nya dalam setiap keadaan.