Sabtu, 06 Juni 2026

Dunia dan Segala Isinya Milik TUHAN. Mazmur 50:7–15

Khotbah Minggu

7 "Dengarlah, hai umat-Ku, Aku hendak berfirman, hai Israel, Aku hendak bersaksi terhadap kamu: Akulah Allah, Allahmu! 8 Bukan karena korban sembelihanmu Aku menghukum engkau; bukankah korban bakaranmu tetap ada di hadapan-Ku? 

9 Tidak usah Aku mengambil lembu dari rumahmu atau kambing jantan dari kandangmu, 10 sebab punya-Kulah segala binatang hutan, dan beribu-ribu hewan di gunung. 11 Aku kenal segala burung di udara, dan apa yang bergerak di padang adalah dalam kuasa-Ku. 50:12 Jika Aku lapar, tidak usah Kukatakan kepadamu, sebab punya-Kulah dunia dan segala isinya. 13 Daging lembu jantankah Aku makan, atau darah kambing jantankah Aku minum? 

14 Persembahkanlah syukur sebagai korban kepada Allah dan bayarlah nazarmu kepada Yang Mahatinggi! 50:15 Berserulah kepada-Ku pada waktu kesesakan, Aku akan meluputkan engkau, dan engkau akan memuliakan Aku." Sela

Pendahuluan

Mazmur 50 adalah mazmur yang ditulis oleh Asaf dan berbentuk pernyataan penghakiman Allah terhadap umat perjanjian-Nya. Dalam mazmur ini, Allah tampil sebagai Hakim Agung yang memanggil langit dan bumi menjadi saksi atas perkara-Nya dengan Israel (Mzm. 50:1–6). Yang menarik, Allah tidak sedang menghakimi bangsa-bangsa kafir, tetapi justru umat pilihan-Nya sendiri karena mereka telah salah memahami ibadah dan persembahan.

Pada ayat 7–15, Allah menegaskan bahwa Ia tidak menegur Israel karena kurang membawa korban, sebab korban-korban itu memang terus dipersembahkan di mezbah (ay. 8). Masalahnya adalah mereka menganggap bahwa dengan mempersembahkan korban, mereka telah memenuhi kewajiban kepada Allah dan dapat memperoleh perkenanan-Nya tanpa kehidupan yang benar.

Melalui firman-Nya, Allah mengoreksi cara berpikir tersebut dengan menyatakan bahwa seluruh ciptaan adalah milik-Nya: “Sebab punya-Kulah segala binatang hutan, dan ternak di bukit-bukit beribu-ribu.” (Mazmur 50:10)

Karena itu, Allah tidak membutuhkan persembahan manusia untuk memenuhi kebutuhan-Nya. Sebaliknya, manusia dipanggil untuk mempersembahkan syukur, ketaatan, dan hidup yang benar sebagai wujud penyembahan yang sejati.

 

Khotbah

1. Allah Memanggil Umat-Nya untuk Mendengarkan-Nya (ayat 7-8)

Kalimat "Dengarlah, hai umat-Ku" menunjukkan bahwa Allah berbicara secara langsung kepada umat perjanjian-Nya, yaitu Israel. Panggilan ini mengandung nada serius karena Allah hendak menyampaikan teguran dan menjadi saksi atas kehidupan mereka.

Pernyataan "Akulah Allah, Allahmu" menegaskan hubungan perjanjian antara Allah dan Israel. Allah memiliki hak untuk menegur karena Dialah Tuhan yang telah memilih, memelihara, dan memberkati mereka. Sebagai Pemilik dunia dan segala isinya, Allah juga adalah Pemilik umat-Nya.

Dalam teks ini kita belajar agar sebelum mempersembahkan sesuatu kepada Tuhan, umat harus terlebih dahulu mendengarkan suara-Nya dan hidup dalam ketaatan kepada-Nya. Ayat 8: "Bukan karena korban sembelihanmu Aku menghukum engkau; bukankah korban bakaranmu tetap ada di hadapan-Ku?"

Allah Tidak Menegur Karena Kurangnya Korban.  Allah tidak berkata bahwa Israel berhenti mempersembahkan korban. Sebaliknya, mereka tetap menjalankan ritual ibadah dengan baik. Korban bakaran masih terus dipersembahkan sesuai dengan ketentuan Taurat.

Namun, persoalannya adalah mereka hanya melakukan ritual lahiriah tanpa pembaruan hati. Mereka mengira bahwa banyaknya korban sudah cukup untuk menyenangkan Allah. Allah ingin menunjukkan bahwa masalah utama bukan pada jumlah korban, tetapi pada kualitas hubungan mereka dengan-Nya.

 

2. Allah adalah Pemilik Dunia dan Segala Isinya (9-13)

Pada bagian ini, Allah menjelaskan alasan mengapa Dia tidak bergantung pada korban persembahan manusia. Melalui pemazmur Asaf, Allah menegaskan bahwa segala sesuatu di alam semesta adalah milik-Nya. Oleh karena itu, persembahan yang dibawa manusia bukanlah sesuatu yang menambah atau memenuhi kebutuhan Allah.

Allah Tidak Membutuhkan Persembahan Manusia (ay. 9) “Tidak usah Aku mengambil lembu dari rumahmu atau kambing jantan dari kandangmu.”

Allah menegaskan bahwa Ia tidak memerlukan lembu atau kambing milik Israel. Bukan berarti Allah menolak sistem korban yang telah ditetapkan dalam Taurat, tetapi Ia menolak anggapan bahwa korban tersebut dapat memenuhi kebutuhan-Nya. Korban adalah bentuk ketaatan dan ungkapan syukur manusia, bukan karena Allah kekurangan sesuatu.

Seluruh Ciptaan Adalah Milik Allah (ay. 10–11) “Sebab punya-Kulah segala binatang hutan, dan beribu-ribu hewan di gunung. Aku kenal segala burung di udara, dan apa yang bergerak di padang adalah dalam kuasa-Ku.”

Allah menyatakan kepemilikan mutlak atas seluruh ciptaan. Binatang liar di hutan, ternak di gunung, burung di udara, dan segala makhluk hidup berada di bawah penguasaan-Nya. Tidak ada satu pun yang berada di luar otoritas Allah.

Ayat ini mengajarkan bahwa manusia hanyalah pengelola (penatalayan), bukan pemilik sejati. Apa yang dimiliki manusia sesungguhnya adalah titipan dari Tuhan.

Allah Berdaulat dan Tidak Bergantung pada Manusia (ay. 12–13)“Jika Aku lapar, tidak usah Kukatakan kepadamu, sebab punya-Kulah dunia dan segala isinya. Daging lembu  jantankah Aku makan, atau darah kambing jantankah Aku minum?”

Ungkapan ini menggunakan bahasa yang bersifat antropomorfis (menggambarkan Allah dengan sifat manusia) untuk menegaskan bahwa Allah tidak memiliki kebutuhan seperti manusia. Seandainya pun Allah lapar. Dia tidak perlu meminta kepada manusia karena seluruh dunia adalah milik-Nya.

Pertanyaan retoris pada ayat 13 menekankan bahwa Allah bukan makhluk yang bergantung pada makanan atau minuman. Dengan demikian, korban persembahan bukanlah untuk memenuhi kebutuhan Allah, melainkan untuk membentuk hati manusia agar hidup dalam syukur dan ketaatan.

 

3. Allah Menghendaki Syukur dan Kepercayaan Umat-Nya (ayat 14-15)

Setelah menegaskan bahwa dunia dan segala isinya adalah milik-Nya (ay. 9-13), Allah kemudian menjelaskan bentuk ibadah yang benar yang berkenan kepada-Nya. Allah tidak mengutamakan banyaknya korban materi, melainkan hati yang penuh syukur, setia, dan percaya kepada-Nya.

Allah Menghendaki Persembahan Syukur (ay. 14)  "Persembahkanlah syukur sebagai korban kepada Allah dan bayarlah nazarmu kepada Yang Mahatinggi!" Perintah ini menunjukkan bahwa korban yang paling berharga di hadapan Allah adalah ucapan syukur yang lahir dari hati yang tulus. Syukur merupakan pengakuan bahwa segala berkat, kehidupan, dan pemeliharaan berasal dari Tuhan. Selain itu, Allah memerintahkan umat-Nya untuk membayar nazar, yaitu memenuhi janji yang telah diucapkan kepada-Nya. Hal ini menegaskan bahwa Allah menghendaki kesetiaan dan integritas, bukan sekadar kata-kata atau ritual keagamaan.

Dengan demikian, ibadah sejati bukan hanya diwujudkan melalui persembahan di mezbah, tetapi juga melalui hati yang bersyukur dan komitmen yang ditepati.

Allah Menghendaki Umat Bersandar kepada-Nya (ay. 15a) "Berserulah kepada-Ku pada waktu kesesakan, Aku akan meluputkan engkau." Allah mengundang umat-Nya untuk datang kepada-Nya ketika menghadapi kesulitan. Seruan ini menunjukkan bahwa Allah ingin membangun hubungan yang dekat dengan umat-Nya, di mana mereka belajar bergantung kepada-Nya dan mempercayakan hidup mereka kepada-Nya.

Janji untuk meluputkan umat-Nya memperlihatkan kasih dan pemeliharaan Allah terhadap orang-orang yang berseru dengan iman kepada-Nya.

Tujuan Akhirnya adalah Kemuliaan bagi Allah (ay. 15b) "Dan engkau akan memuliakan Aku." Pembebasan yang Allah berikan bukan semata-mata untuk kenyamanan manusia, tetapi supaya manusia memuliakan Dia. Ketika Tuhan menolong, respons yang benar adalah mengakui karya-Nya, bersyukur kepada-Nya, dan hidup yang memancarkan kemuliaan-Nya.

Kesimpulan

Mazmur 50:7–15 mengajarkan bahwa Allah adalah Pemilik dunia dan segala isinya. Karena itu, yang Tuhan kehendaki bukan sekadar banyaknya persembahan atau ritual keagamaan, melainkan hati yang taat, penuh syukur, dan percaya kepada-Nya. Sebagai umat Tuhan, marilah kita hidup sebagai penatalayan yang setia, menggunakan segala yang kita miliki untuk memuliakan-Nya, serta senantiasa berseru kepada-Nya dalam setiap keadaan.

 Oleh: Pdt. Juliman Harefa

Dunia dan Segala Isinya Milik TUHAN. Mazmur 50:7–15

Khotbah Minggu 7  "Dengarlah, hai umat-Ku, Aku hendak berfirman, hai Israel, Aku hendak bersaksi  terhadap kamu: Akulah Allah, Allahm...