Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya. (1 Tawarikh 16:28-36)

 aPendahuluan

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, setiap orang tentu pernah mengalami masa-masa sulit dalam hidup. Ada saat ketika doa belum terjawab, usaha belum berhasil, kesehatan menurun, keluarga menghadapi pergumulan, dan masa depan terasa tidak pasti. Dalam keadaan seperti itu, sering kali ucapan syukur menjadi hal yang paling sulit dilakukan. Bibir lebih mudah mengeluh daripada memuji Tuhan.

Namun firman Tuhan hari ini mengajarkan sesuatu yang sangat penting: syukur tidak bergantung pada keadaan, tetapi bergantung pada siapa Tuhan itu. Dalam 1 Tawarikh 16:28-36, umat Israel diajak untuk memuji dan bersyukur kepada Tuhan bukan karena hidup mereka selalu mudah, tetapi karena Tuhan itu baik, berkuasa, adil, dan kasih setia-Nya kekal selamanya.

Ketika Daud membawa tabut Allah dan umat berkumpul memuji Tuhan, mereka sedang menyatakan bahwa Tuhan tetap layak dipuji dalam segala musim kehidupan. Demikian juga kita hari ini. Apa pun keadaan kita, selalu ada alasan untuk bersyukur kepada Tuhan.

Hari ini kita akan belajar tiga alasan mengapa kita harus tetap bersyukur kepada Tuhan.

 

1. Bersyukurlah karena TUHAN layak menerima kemuliaan dan penyembahan (ay. 28-29)

28Kepada TUHAN, hai suku-suku bangsa, kepada TUHAN sajalah kemuliaan dan kekuatan!  29Berilah kepada TUHAN kemuliaan nama-Nya,  bawalah persembahan dan masuklah menghadap Dia! Sujudlah menyembah kepada TUHAN dengan berhiaskan kekudusan.

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, bagian firman ini dimulai dengan sebuah ajakan yang tegas: “Hai kaum-kaum bangsa, berilah kepada TUHAN, berilah kepada TUHAN kemuliaan dan kekuatan!” Ini berarti bahwa setiap manusia, setiap bangsa, setiap suku, dipanggil untuk mengakui bahwa hanya Tuhan yang layak menerima hormat dan pujian. Tidak ada pribadi, jabatan, kekayaan, atau kuasa dunia ini yang pantas mengambil tempat Tuhan dalam hidup kita.

Sering kali manusia ingin menerima pujian bagi dirinya sendiri. Ketika berhasil, kita mudah berkata bahwa semua karena usaha kita, kepintaran kita, atau kerja keras kita. Namun firman Tuhan mengingatkan bahwa segala sesuatu berasal dari Dia. Nafas kehidupan, kesehatan, pekerjaan, keluarga, kesempatan, bahkan keselamatan, semuanya adalah anugerah Tuhan. Karena itu, sudah sepatutnya kita mengembalikan kemuliaan kepada-Nya dengan ucapan syukur.

Ayat 29 berkata, “Berilah kepada TUHAN kemuliaan nama-Nya, bawalah persembahan dan datanglah ke hadapan-Nya.” Artinya, penyembahan kepada Tuhan tidak cukup hanya dengan kata-kata. Penyembahan harus disertai tindakan nyata. Umat datang membawa persembahan sebagai tanda hormat, kasih, dan penyerahan diri kepada Tuhan. Pada masa kini, persembahan kita bukan hanya materi, tetapi juga hidup yang dipersembahkan bagi Tuhan: waktu kita, tenaga kita, talenta kita, dan kesetiaan kita dalam melayani.

Firman Tuhan juga berkata, “Sujudlah menyembah kepada TUHAN dengan berhiaskan kekudusan.” Ini menunjukkan bahwa Tuhan bukan hanya melihat penampilan luar, tetapi hati yang kudus dan hidup yang benar. Kita bisa hadir di gereja, menyanyi, berdoa, bahkan melayani, tetapi bila hati penuh kepahitan, kesombongan, dan dosa yang tidak dibereskan, maka ibadah kita tidak berkenan kepada Tuhan.

Karena itu, bersyukur kepada Tuhan berarti datang kepada-Nya dengan hormat, dengan hati yang tulus, dan hidup yang mau dibentuk. Syukur sejati bukan hanya ucapan “terima kasih Tuhan,” tetapi hidup yang memuliakan Tuhan setiap hari.

Saudara, dunia boleh memuliakan manusia, tetapi orang percaya memuliakan Tuhan. Dunia boleh mencari tepuk tangan manusia, tetapi gereja mencari perkenanan Tuhan. Maka hari ini mari bertanya pada diri sendiri: apakah hidup kita sudah memberi kemuliaan bagi Tuhan? Apakah ibadah kita lahir dari hati yang sungguh mengasihi Dia?

Mari kita belajar bahwa alasan pertama kita bersyukur adalah karena Tuhan memang layak menerima segala kemuliaan dan penyembahan. Dialah Raja di atas segala raja, dan hanya Dia yang patut ditinggikan. Amin.

2. Bersyukurlah karena TUHAN memerintah dengan kuasa dan keadilan (ay. 30-33)

30Gemetarlah   di hadapan-Nya hai segenap bumi; sungguh tegak dunia, tidak bergoyang.    31Biarlah langit bersukacita dan bumi bersorak-sorak,  biarlah orang berkata di antara bangsa-bangsa: "TUHAN itu Raja!  32Biarlah gemuruh laut serta isinya,  biarlah beria-ria padang dan segala yang di atasnya, 33maka pohon-pohon   di hutan bersorak-sorai di hadapan TUHAN, sebab Ia datang untuk menghakimi  bumi. 

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, bagian kedua ini membawa kita melihat satu kebenaran besar: TUHAN adalah Raja. Firman Tuhan berkata, “TUHAN itu Raja! Maka tegaklah dunia, tidak bergoyang.” Kalimat ini menegaskan bahwa dunia ini tidak berjalan secara kebetulan, tidak dikuasai oleh nasib, dan tidak berada di luar kendali. Tuhanlah yang memerintah atas segala sesuatu dengan kuasa-Nya yang sempurna.

Sering kali kita melihat keadaan dunia penuh kekacauan. Ada peperangan, ketidakadilan, bencana alam, krisis ekonomi, penyakit, dan berbagai pergumulan hidup. Kadang kita bertanya, “Di manakah Tuhan?” Namun firman ini menjawab bahwa sekalipun dunia tampak goyah, sesungguhnya Tuhan tetap bertakhta. Kerajaan-Nya tidak terguncang, kuasa-Nya tidak berkurang, dan rencana-Nya tidak pernah gagal.

Ketika manusia memimpin, bisa terjadi kesalahan. Ketika penguasa dunia memerintah, sering kali ada ketidakadilan. Tetapi ketika Tuhan memerintah, semuanya berlangsung dalam kebenaran dan hikmat. Ayat ini menyatakan bahwa Tuhan menghakimi bangsa-bangsa dengan adil. Artinya, Tuhan melihat segala sesuatu dengan sempurna. Tidak ada kejahatan yang tersembunyi dari mata-Nya, dan tidak ada kebaikan yang dilupakan oleh-Nya.

Saudara, ini menjadi alasan besar bagi kita untuk bersyukur. Kita memiliki Allah yang berdaulat atas hidup kita. Saat keadaan keluarga tidak menentu, Tuhan tetap Raja. Saat usaha menurun, Tuhan tetap Raja. Saat tubuh sakit, Tuhan tetap Raja. Saat masa depan terasa gelap, Tuhan tetap Raja. Karena itu kita tidak hidup dalam ketakutan, tetapi dalam iman kepada Dia yang memegang kendali.

Ayat berikutnya menggambarkan seluruh ciptaan ikut bersukacita: langit bersukacita, bumi bersorak-sorai, laut bergemuruh, padang bersuka cita, pohon-pohon di hutan bersorak-sorak. Ini adalah gambaran bahwa seluruh alam mengenali kebesaran Penciptanya. Kalau ciptaan saja memuliakan Tuhan, apalagi kita yang telah menerima kasih dan keselamatan-Nya.

Kadang manusia justru lebih banyak mengeluh daripada bersyukur. Alam ciptaan memuji Tuhan tanpa suara keluhan, tetapi manusia yang diberi nafas kehidupan justru sering lupa berterima kasih. Firman ini mengingatkan kita untuk kembali bersukacita sebab Tuhan memerintah.

Saudara-saudara, bila kita tahu Tuhan adalah Raja, maka hati kita akan tenang. Kita tidak perlu panik menghadapi keadaan. Kita tidak perlu putus asa menghadapi masalah. Kita dapat berkata, “Tuhan, Engkau memegang hidupku. Engkau tahu jalan yang terbaik.”

Jadi alasan kedua kita bersyukur adalah karena TUHAN memerintah dengan kuasa dan keadilan. Dunia boleh berubah, keadaan boleh bergoncang, tetapi takhta Tuhan tetap kokoh selamanya.

3. Bersyukurlah karena kasih setia TUHAN kekal dan menyelamatkan (ay. 34-36)

34Bersyukurlah  kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya. 35Dan katakanlah: "Selamatkanlah kami, ya TUHAN Allah, Penyelamat  kami, dan kumpulkanlah dan lepaskanlah kami dari antara bangsa-bangsa, supaya kami bersyukur kepada nama-Mu yang kudus, dan bermegah dalam puji-pujian kepada-Mu." 36Terpujilah TUHAN, Allah Israel,  dari selama-lamanya sampai selama-lamanya. Maka seluruh umat mengatakan: "Amin! Pujilah TUHAN!"

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, pada bagian terakhir ini kita menemukan inti dari pujian umat Allah, yaitu kalimat yang sangat indah: “Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.” Inilah alasan terbesar mengapa umat Tuhan harus terus bersyukur: karena Tuhan itu baik, dan kasih setia-Nya tidak pernah berakhir.

Kebaikan manusia sering terbatas. Hari ini seseorang bisa baik kepada kita, besok bisa berubah. Janji manusia bisa gagal. Kasih manusia kadang tergantung keadaan. Tetapi kasih setia Tuhan berbeda. Kasih-Nya tidak berubah oleh waktu, tidak berkurang karena kelemahan kita, dan tidak berhenti karena kegagalan kita. Dari dulu, sekarang, sampai selama-lamanya, Tuhan tetap setia.

Kasih setia Tuhan terlihat dalam setiap bagian hidup kita. Nafas yang masih kita hirup hari ini adalah bukti kasih setia Tuhan. Kesehatan yang masih diberikan, keluarga yang dipelihara, pekerjaan yang masih ada, pertolongan yang datang tepat waktu, semuanya adalah tanda bahwa Tuhan masih mengasihi kita. Bahkan ketika kita melewati air mata dan penderitaan, kasih setia Tuhan tetap bekerja menopang kita.

Ayat 35 berkata, “Selamatkanlah kami, ya Allah penyelamat kami, kumpulkanlah kami dan lepaskanlah kami…” Ini menunjukkan bahwa umat Israel memahami satu hal penting: Tuhan bukan hanya layak dipuji, tetapi juga sanggup menyelamatkan. Ketika mereka menghadapi kesesakan, mereka datang kepada Tuhan sebagai Penolong dan Pembebas.

Saudara, syukur sejati bukan berarti hidup tanpa masalah. Syukur sejati lahir ketika kita percaya bahwa di tengah masalah, Tuhan tetap hadir dan menolong. Kita bersyukur bukan karena semua jalan mulus, tetapi karena Tuhan berjalan bersama kita. Kita bersyukur bukan karena tidak pernah jatuh, tetapi karena Tuhan mengangkat kita kembali.

Mungkin hari ini ada yang sedang bergumul dengan ekonomi, kesehatan, rumah tangga, pelayanan, atau masa depan. Firman Tuhan hari ini mengingatkan: jangan melihat besarnya masalahmu, lihatlah besarnya kasih setia Tuhan. Dia yang dahulu menolong, Dia juga yang sekarang memelihara, dan Dia pula yang akan menuntun sampai akhir.

Pada ayat 36 seluruh umat menjawab, “Amin! Pujilah TUHAN!” Ini adalah respons iman. Setelah mengingat kasih setia Tuhan, umat tidak tinggal diam. Mereka memuji Tuhan bersama-sama. Demikian juga seharusnya hidup kita. Orang yang sadar akan kasih Tuhan tidak akan pelit memuji Tuhan.

Saudara-saudara, alasan ketiga kita bersyukur adalah karena kasih setia TUHAN kekal dan menyelamatkan. Jika hari ini kita masih berdiri, itu karena kasih setia-Nya. Jika hari ini kita masih memiliki harapan, itu karena kasih setia-Nya. Jika hari ini kita diselamatkan, itu juga karena kasih setia-Nya.

Karena itu mari berkata bersama dengan iman: “Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik, bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.”

 

Kesimpulan

Saudara-saudara, dari firman Tuhan hari ini kita belajar bahwa bersyukur adalah respons iman kepada Allah yang hidup. Kita bersyukur bukan sekadar karena menerima berkat, tetapi karena mengenal Pribadi yang memberkati kita.

Kita telah melihat tiga alasan besar untuk bersyukur:

  1. Bersyukur karena TUHAN layak menerima kemuliaan dan penyembahan.
  2. Bersyukur karena TUHAN memerintah dengan kuasa dan keadilan.
  3. Bersyukur karena kasih setia TUHAN kekal dan menyelamatkan.

Mungkin keadaan hidup kita belum sempurna. Mungkin masih ada pergumulan yang belum selesai. Namun satu hal tidak pernah berubah: Tuhan tetap baik. Tuhan tetap Raja. Tuhan tetap setia.

Karena itu, jangan biarkan keadaan merampas ucapan syukur kita. Selama Tuhan masih bertakhta, selalu ada alasan untuk memuji Dia. Mari bersama berkata: “Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik, bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.”

Diskusi

  1. Apakah saya lebih sering mengeluh daripada bersyukur dalam menghadapi keadaan hidup?
  2. Apakah saya sungguh memuliakan Tuhan melalui ibadah dan kehidupan sehari-hari?
  3. Apakah saya percaya bahwa Tuhan tetap memegang kendali saat hidup terasa goyah?
  4. Apakah saya masih mengingat bukti kasih setia Tuhan dalam perjalanan hidup saya?
  5. Apa satu hal hari ini yang bisa saya syukuri di hadapan Tuhan?

 Oleh: Pdt. Juliman Harefa

 

Postingan populer dari blog ini

Sungguh Yesus adalah Anak Allah (Jumat Agung)

Yesus Kristus Adalah Tuhan

Tuhan Pemberi Nafas Kehidupan Yehezkiel 37:1–14