Khotbah Minggu 26 April 2026
Pendahaluan
Bagian firman Tuhan ini membawa kita kepada inti dari Injil: tentang Yesus dari Nazaret yang datang ke dunia, mati disalibkan, dan dibangkitkan oleh Allah. Dalam khotbah Rasul Petrus pada hari Pentakosta, ia menjelaskan bahwa semua yang terjadi atas Yesus bukanlah kebetulan, melainkan bagian dari rencana Allah yang kekal.
Yesus dinyatakan di tengah manusia melalui mujizat, tanda, dan kuasa
Allah. Namun manusia menolak-Nya dan menyalibkan-Nya. Meski demikian, kematian
bukan akhir dari cerita, sebab Allah membangkitkan Dia dan mematahkan kuasa
maut. Kebangkitan Kristus menjadi bukti bahwa dosa, penderitaan, dan kematian
tidak memiliki kemenangan terakhir.
Nas ini juga mengingatkan kita bahwa sejak dahulu Daud telah
menubuatkan pengharapan akan Mesias yang tidak akan dibiarkan binasa. Di dalam
Kristus, kita menemukan jalan kehidupan, sukacita sejati, dan pengharapan yang
kokoh.
Melalui firman ini, kita diajak untuk melihat bahwa Yesus bukan hanya
tokoh sejarah, tetapi Tuhan yang hidup, yang berkuasa menyelamatkan dan memberi
hidup baru bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya.
1. Kuasa Kebangkitan Mengalahkan Maut (ayat 22-23)
Pada hari Pentakosta, Petrus berdiri di hadapan orang banyak dan berkata, “Hai orang-orang Israel, dengarlah perkataan ini” (ayat 22). Melalui kalimat ini, Petrus memanggil bangsa itu untuk memberi perhatian penuh kepada kebenaran yang akan ia sampaikan. Ia ingin mereka membuka hati dan pikiran untuk memahami karya Allah yang sedang dinyatakan.
Kemudian Petrus menjelaskan, “Yang aku maksudkan ialah Yesus dari
Nazaret, seorang yang telah ditentukan Allah” (ayat 22). Artinya, Yesus
dari Nazaret bukan pribadi biasa. Kedatangan-Nya ke dunia bukan kebetulan,
melainkan bagian dari rencana Allah sejak semula. Ia datang sebagai Mesias yang
dijanjikan untuk membawa keselamatan kepada manusia.
Selanjutnya Petrus berkata bahwa
Yesus “dinyatakan kepadamu dengan
kekuatan-kekuatan dan mujizat-mujizat dan tanda-tanda yang dilakukan oleh Allah
dengan perantaraan Dia di tengah-tengah kamu” (ayat 22). Maksudnya, Allah
sendiri memberi bukti tentang siapa Yesus melalui segala perbuatan ajaib yang
terjadi selama pelayanan-Nya. Orang sakit disembuhkan, yang lumpuh berjalan,
yang buta melihat, badai ditenangkan, dan banyak tanda lain dinyatakan. Semua
itu menunjukkan bahwa kuasa Allah bekerja melalui Yesus dan bahwa Kerajaan
Allah hadir di tengah umat manusia.
Petrus menambahkan, “seperti yang kamu tahu” (ayat 22). Ini
berarti orang-orang yang mendengar khotbah itu tidak dapat menyangkalnya, sebab
mereka telah melihat sendiri atau setidaknya mendengar secara luas tentang
segala karya Yesus. Mereka memiliki cukup kesaksian untuk mengenal siapa Dia.
Namun Petrus melanjutkan dengan
perkataan yang sangat tegas, “Dia yang
diserahkan Allah menurut maksud dan rencana-Nya” (ayat 23). Kalimat ini
menunjukkan bahwa penderitaan dan kematian Yesus tidak terjadi secara
kebetulan. Semua itu ada dalam kedaulatan Allah sebagai jalan penebusan bagi
manusia berdosa. Allah memakai peristiwa salib untuk menggenapi rencana
keselamatan-Nya.
Walaupun demikian, Petrus juga
berkata, “telah kamu salibkan dan kamu
bunuh” (ayat 23). Ini menegaskan tanggung jawab manusia atas dosa mereka.
Walaupun Allah memiliki rencana, manusia tetap memilih menolak Yesus dan
menyerahkan-Nya kepada kematian. Penyaliban itu memperlihatkan pemberontakan
manusia terhadap kehendak Allah.
Ia menambahkan lagi, “oleh tangan bangsa-bangsa durhaka” (ayat
23). Maksudnya, penyaliban dilakukan melalui kuasa bangsa lain, yakni
pemerintahan Romawi pada waktu itu. Hal ini menunjukkan bahwa banyak pihak
terlibat dalam penolakan terhadap Yesus.
Dari seluruh ayat ini tampak dua
kebenaran besar. Pertama, manusia menunjukkan dosa dan kekerasan hatinya dengan
menolak Kristus. Kedua, Allah tetap berdaulat dan mengubah kejahatan manusia
menjadi jalan keselamatan. Salib yang tampak sebagai kekalahan justru menjadi
pintu kemenangan, sebab Yesus Kristus bangkit mengalahkan maut. Karena itu,
setiap orang yang percaya kepada-Nya menerima pengharapan, pengampunan, dan
hidup yang baru.
2. Kuasa Allah dalam
Kebangkitan (ayat 24-25)
Pada bagian ini, Petrus
menjelaskan kemenangan Allah atas maut melalui kebangkitan Yesus Kristus. Ia
berkata, “Tetapi Allah membangkitkan Dia”
(ayat 24). Kalimat ini menegaskan bahwa kematian Yesus bukan akhir dari
segalanya. Kuasa Allah bekerja secara nyata dengan membangkitkan Yesus dari
kubur. Manusia memang menyalibkan-Nya, tetapi Allah menyatakan kemenangan-Nya
melalui kebangkitan Kristus.
Selanjutnya Petrus berkata, “dengan melepaskan Dia dari sengsara maut”
(ayat 24). Ini menunjukkan bahwa Yesus telah masuk ke dalam penderitaan
kematian, tetapi tidak dibiarkan tinggal di dalamnya. Allah melepaskan Dia dari
kuasa maut dan mematahkan segala penderitaan yang mengikat manusia karena dosa.
Kemudian Petrus menegaskan, “karena tidak mungkin Ia tetap berada dalam
kuasa maut itu” (ayat 24). Artinya, maut tidak mempunyai kuasa untuk
menahan Yesus. Sebagai Anak Allah yang kudus dan benar, mustahil kematian
menguasai-Nya untuk selamanya. Kebangkitan Kristus membuktikan bahwa kuasa dosa
dan maut telah dikalahkan.
Untuk meneguhkan perkataannya,
Petrus mengutip nubuat Daud dengan berkata, “Sebab
Daud berkata tentang Dia” (ayat 25). Hal ini menunjukkan bahwa kebangkitan
Kristus sudah dinyatakan sebelumnya dalam Kitab Suci. Apa yang terjadi pada
Yesus bukan peristiwa mendadak, tetapi penggenapan janji Allah sejak dahulu.
Lalu dikatakan, “Aku senantiasa memandang kepada Tuhan”
(ayat 25). Ini menggambarkan hati yang terus tertuju kepada Allah. Orang
yang berharap kepada Tuhan memiliki iman yang tetap, tidak dikuasai rasa takut,
dan menjadikan Tuhan pusat hidupnya.
Selanjutnya, “karena Ia berdiri di sebelah kananku” (ayat 25). Maksudnya adalah
Tuhan hadir dekat sebagai penolong dan pelindung. Sebelah kanan melambangkan
kekuatan, pertolongan, dan dukungan ilahi. Kehadiran Tuhan memberi rasa aman
bagi umat-Nya.
Karena itu pemazmur berkata, “aku tidak goyah” (ayat 25). Orang yang
hidup dekat dengan Tuhan tidak mudah digoncangkan oleh keadaan. Walaupun
menghadapi ancaman, penderitaan, atau ketidakpastian, ia tetap teguh karena
dasar hidupnya adalah Allah yang setia.
Dari seluruh bagian ini terlihat
bahwa kebangkitan Kristus adalah bukti kuasa Allah yang lebih besar daripada
maut. Jika Allah membangkitkan Yesus, maka setiap orang percaya memiliki
pengharapan yang pasti. Kematian bukan akhir, sebab di dalam Kristus ada
kemenangan dan hidup yang kekal. Karena itu, hati orang percaya dapat tetap
bersukacita, tenang, dan tidak goyah, sebab Tuhan hidup dan menyertai umat-Nya.
Petrus
melanjutkan kutipan dari Daud untuk menunjukkan sukacita dan pengharapan yang
digenapi secara sempurna dalam Yesus Kristus. Ia berkata, “Sebab itu hatiku bersukacita dan jiwaku bersorak-sorak” (ayat 26).
Kalimat ini menggambarkan hati yang dipenuhi keyakinan kepada Allah. Sukacita
sejati lahir bukan karena keadaan hidup selalu mudah, tetapi karena percaya
bahwa Tuhan memegang hidup umat-Nya.
Selanjutnya dikatakan, “bahkan tubuhku akan diam dengan tenteram”
(ayat 26). Ini menunjukkan adanya rasa aman dan damai yang mendalam. Orang
yang berharap kepada Tuhan tidak hidup dalam ketakutan yang terus-menerus.
Sekalipun menghadapi pergumulan, ia dapat beristirahat dengan tenang karena
tahu bahwa Allah memelihara hidupnya.
Kemudian dijelaskan alasannya, “sebab
Engkau tidak menyerahkan aku kepada dunia orang mati” (ayat 27). Pernyataan ini
berbicara tentang kemenangan atas maut. Dalam penggenapan yang sempurna, ayat
ini menunjuk kepada kebangkitan Kristus. Allah tidak membiarkan maut berkuasa
atas Yesus, tetapi membangkitkan-Nya dengan kuasa-Nya.
Lalu dikatakan, “dan tidak membiarkan Orang Kudus-Mu melihat
kebinasaan” (ayat 27). Yang dimaksud dengan Orang Kudus adalah Yesus
Kristus. Tubuh-Nya tidak dibiarkan binasa dalam kubur. Ini menegaskan bahwa
kebangkitan Yesus adalah kemenangan mutlak atas dosa, maut, dan kebinasaan.
Selanjutnya tertulis, “Engkau memberitahukan kepadaku jalan
kehidupan” (ayat 28). Artinya, Allah menunjukkan jalan yang benar kepada
manusia. Jalan kehidupan itu bukan sekadar umur panjang di dunia, tetapi hidup
yang dipulihkan melalui keselamatan di dalam Kristus. Yesus sendiri menjadi
jalan yang membawa manusia kepada Bapa.
Kemudian dikatakan, “Engkau akan melimpahi aku dengan sukacita
di hadapan-Mu” (ayat 28). Ini menunjukkan bahwa hadirat Allah adalah sumber
sukacita sejati. Sukacita dari Tuhan tidak tergantung pada keadaan dunia.
Sukacita itu penuh, kekal, dan memberi kekuatan bagi orang percaya.
Dari seluruh bagian ini terlihat
bahwa kebangkitan Kristus membawa manusia kepada damai, pengharapan, dan
sukacita yang sejati. Maut bukan akhir bagi orang percaya, sebab Kristus telah
menang. Karena itu, siapa pun yang hidup di dalam Dia dapat berjalan di jalan
kehidupan dan menikmati sukacita yang berasal dari hadirat Allah.
Nas Kisah Para Rasul 2:22–28 menyatakan bahwa Yesus Kristus adalah
pusat rencana keselamatan Allah. Ia datang dengan kuasa, mujizat, dan
tanda-tanda ilahi. Meskipun disalibkan oleh manusia berdosa, kematian tidak
mampu menahan-Nya. Allah membangkitkan Dia dan menyatakan kemenangan-Nya atas
maut. Karena kebangkitan Kristus, setiap orang percaya memiliki pengharapan
baru, hati yang penuh sukacita, dan jaminan hidup kekal.
Kebangkitan Yesus bukan hanya peristiwa masa lalu, tetapi kuasa yang
masih bekerja sampai hari ini, menguatkan yang lemah, menghibur yang berduka,
dan memberi hidup baru bagi orang yang percaya kepada-Nya.
Penerapan
1. Percaya kepada Kuasa Kristus yang Mengalahkan Maut. Apa pun pergumulan kita, ingat bahwa Yesus sudah menang atas dosa, maut, dan kuasa gelap. Tidak ada persoalan yang terlalu besar bagi Tuhan.
2. Tetap Teguh dalam Rencana Allah. Kadang kita tidak memahami jalan hidup yang Tuhan izinkan. Namun seperti salib yang berakhir pada kebangkitan, Allah sanggup mengubah penderitaan menjadi kemenangan.
3. Hidup dalam Sukacita Sejati. Dunia memberi sukacita sementara, tetapi Kristus memberi sukacita yang tetap. Karena itu, jangan gantungkan kebahagiaan pada keadaan, tetapi pada Tuhan yang hidup.
4. Memiliki Damai dalam Menghadapi Masa Depan. Ayat ini berkata tubuh diam dengan tenteram. Orang percaya dapat menghadapi hari esok tanpa takut, sebab hidup kita ada dalam tangan Tuhan.
5. Berjalan di Jalan Kehidupan. Tuhan menunjukkan jalan kehidupan. Karena itu, hiduplah dalam kebenaran, taat pada firman, dan setia mengikuti kehendak-Nya.
Oleh: Pdt. Juliman Harefa