Kamis, 25 Juni 2026

Kasih yang Menggembirakan dan Menguatkan. Filemon 1:4-7.

 

Khotbah Minggu

Pendahuluan                                                            

Surat Filemon ditulis oleh Paulus sekitar tahun 60–62 M ketika ia berada di dalam penjara. Filemon adalah seorang rekan sekerja Paulus yang memiliki seorang hamba bernama Onesimus. Onesimus melarikan diri dari Filemon dan kemungkinan telah merugikannya. Dalam pelariannya ke Roma, Onesimus bertemu dengan Paulus, bertobat, dan menjadi pengikut Kristus serta rekan pelayanan Paulus. Namun, Paulus menyadari bahwa hubungan antara Onesimus dan Filemon perlu dipulihkan. Karena itu, Paulus mengirim Onesimus kembali kepada Filemon dengan sebuah surat yang berisi permohonan agar ia diterima kembali, bukan sebagai budak, melainkan sebagai saudara seiman yang terkasih di dalam Tuhan. Dari Kitab Filemon Filemon 1:4-7 kita belajar:

Khotbah

1. Iman yang Bertumbuh dalam Kasih (Ay. 4–5) Paulus bersyukur karena Filemon memiliki iman yang sungguh kepada Kristus. Iman yang benar tidak hanya menjadi pengakuan, tetapi menghasilkan kasih yang nyata kepada sesama, termasuk kesediaan untuk mengampuni dan menerima kembali Onesimus sebagai saudara seiman. 2. Kasih yang Dinyatakan Melalui Perbuatan (Ay. 6) 2. Kasih yang lahir dari iman harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Melalui perbuatan baik, pelayanan, dan kepedulian kepada sesama, orang percaya semakin mengalami kebaikan Tuhan dan membangun persekutuan yang semakin kuat. 3. Kasih yang Menghibur dan Menguatkan (Ay. 7) Kasih Filemon membawa sukacita, penghiburan, dan kekuatan bagi banyak orang, termasuk Paulus. Kehidupan yang dipenuhi kasih Kristus akan menjadi berkat yang menyegarkan dan menguatkan sesama dalam menjalani kehidupan dan pelayanan.

 

1. Iman yang Bertumbuh dalam Kasih (Ay. 4–5)

4 Aku mengucap syukur kepada Allahku,  setiap kali aku mengingat engkau dalam doaku, 5 karena aku mendengar tentang kasihmu kepada semua orang kudus dan tentang imanmu kepada Tuhan Yesus.

Paulus bersyukur kepada Allah karena Filemon memiliki iman yang sungguh kepada Kristus. Iman Filemon bukan hanya pengetahuan tentang Tuhan, tetapi kepercayaan dan penyerahan diri yang nyata kepada Yesus. Iman yang benar itu menghasilkan buah, yaitu kasih kepada sesama, khususnya kepada saudara-saudari seiman.

Kasih Filemon terlihat dalam sikapnya yang tidak membeda-bedakan orang, bahkan Paulus berharap kasih itu juga dinyatakan kepada Onesimus yang pernah bersalah kepadanya. Melalui kasih Kristus, Filemon didorong untuk mengampuni dan menerima Onesimus kembali sebagai saudara seiman. Kasih yang lahir dari iman mampu menghadirkan perdamaian, memulihkan hubungan yang rusak, dan membawa rekonsiliasi. Karena itu, orang percaya dipanggil untuk meneladani kasih Kristus yang tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, melainkan melakukan yang baik kepada semua orang.

2. Kasih yang Dinyatakan Melalui Perbuatan (Ay. 6)

6 Dan aku berdoa, agar persekutuanmu di dalam iman turut mengerjakan pengetahuan akan yang baik di antara kita untuk Kristus.

Paulus berdoa agar iman Filemon semakin nyata melalui persekutuan, pelayanan, dan perbuatan baik. Iman yang sejati bukanlah iman yang pasif, melainkan iman yang diwujudkan dalam tindakan kasih, kemurahan hati, dan kepedulian kepada sesama. Melalui perbuatan baik, orang percaya semakin mengalami dan memahami kebaikan Tuhan secara nyata dalam hidupnya.

Karena itu, iman harus terus bertumbuh dan dinyatakan dalam tindakan yang membangun persekutuan serta menguatkan sesama. Kasih yang hidup dan aktif inilah yang menjadi sumber sukacita dan kekuatan bagi banyak orang.

 

3. Kasih yang Menghibur dan Menguatkan (Ay. 7)

7 Dari kasihmu sudah kuperoleh kegembiraan besar dan kekuatan, sebab hati orang-orang kudus telah kauhiburkan,   saudaraku.

Kasih yang dimiliki Filemon membawa sukacita dan kekuatan bagi banyak orang, termasuk Paulus yang sedang berada di dalam penjara. Kehidupan Filemon menjadi berkat karena kehadirannya menghadirkan kelegaan, penghiburan, dan pemulihan bagi sesama. Melalui teladannya, kita belajar bahwa orang percaya dipanggil untuk menjadi saluran kasih Tuhan yang menyegarkan, sehingga kehadiran kita dapat membawa sukacita dan menguatkan orang lain.

Kesimpulan

Kasih yang menggembirakan dan menguatkan lahir dari iman yang sungguh kepada Kristus. Iman yang benar tidak hanya terlihat dalam pengakuan, tetapi juga dalam tindakan kasih, pengampunan, dan kepedulian kepada sesama. Seperti Filemon, orang percaya dipanggil untuk menjadi saluran kasih Tuhan yang membawa sukacita, penghiburan, dan kekuatan bagi orang lain. Karena itu, marilah kita hidup dalam iman yang aktif, melakukan kehendak Tuhan, serta menjadikan kasih Kristus sebagai dasar dalam setiap perkataan dan perbuatan, sehingga kehidupan kita menjadi berkat dan kemuliaan bagi nama Tuhan. Amin.

Kasih yang Menggembirakan dan Menguatkan. Filemon 1:4-7.

  Khotbah Minggu Pendahuluan                                                             Surat Filemon ditulis oleh Paulus sekitar tah...