Khotbah
Minggu
Pendahuluan
Surat Filemon ditulis oleh Paulus sekitar tahun
60–62 M ketika ia berada di dalam penjara. Filemon adalah seorang rekan sekerja
Paulus yang memiliki seorang hamba bernama Onesimus. Onesimus melarikan diri
dari Filemon dan kemungkinan telah merugikannya. Dalam pelariannya ke Roma,
Onesimus bertemu dengan Paulus, bertobat, dan menjadi pengikut Kristus serta
rekan pelayanan Paulus. Namun, Paulus menyadari bahwa hubungan antara Onesimus
dan Filemon perlu dipulihkan. Karena itu, Paulus mengirim Onesimus kembali kepada
Filemon dengan sebuah surat yang berisi permohonan agar ia diterima kembali,
bukan sebagai budak, melainkan sebagai saudara seiman yang terkasih di dalam
Tuhan. Dari Kitab Filemon Filemon 1:4-7 kita belajar:
Khotbah
1. Iman yang Bertumbuh dalam Kasih (Ay.
4–5) Paulus bersyukur karena Filemon memiliki iman yang sungguh kepada Kristus.
Iman yang benar tidak hanya menjadi pengakuan, tetapi menghasilkan kasih yang
nyata kepada sesama, termasuk kesediaan untuk mengampuni dan menerima kembali
Onesimus sebagai saudara seiman. 2. Kasih yang Dinyatakan Melalui Perbuatan
(Ay. 6) 2. Kasih yang lahir dari iman harus diwujudkan dalam tindakan nyata.
Melalui perbuatan baik, pelayanan, dan kepedulian kepada sesama, orang percaya
semakin mengalami kebaikan Tuhan dan membangun persekutuan yang semakin kuat. 3.
Kasih yang Menghibur dan Menguatkan (Ay. 7) Kasih Filemon membawa sukacita,
penghiburan, dan kekuatan bagi banyak orang, termasuk Paulus. Kehidupan yang
dipenuhi kasih Kristus akan menjadi berkat yang menyegarkan dan menguatkan
sesama dalam menjalani kehidupan dan pelayanan.
1. Iman
yang Bertumbuh dalam Kasih (Ay. 4–5)
4 Aku mengucap
syukur kepada Allahku, setiap kali aku
mengingat engkau dalam doaku, 5 karena aku mendengar tentang kasihmu kepada
semua orang kudus dan tentang imanmu kepada Tuhan Yesus.
Paulus bersyukur kepada Allah karena Filemon
memiliki iman yang sungguh kepada Kristus. Iman Filemon bukan hanya pengetahuan
tentang Tuhan, tetapi kepercayaan dan penyerahan diri yang nyata kepada Yesus.
Iman yang benar itu menghasilkan buah, yaitu kasih kepada sesama, khususnya
kepada saudara-saudari seiman.
Kasih Filemon terlihat dalam sikapnya yang tidak
membeda-bedakan orang, bahkan Paulus berharap kasih itu juga dinyatakan kepada
Onesimus yang pernah bersalah kepadanya. Melalui kasih Kristus, Filemon
didorong untuk mengampuni dan menerima Onesimus kembali sebagai saudara seiman.
Kasih yang lahir dari iman mampu menghadirkan perdamaian, memulihkan hubungan
yang rusak, dan membawa rekonsiliasi. Karena itu, orang percaya dipanggil untuk
meneladani kasih Kristus yang tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, melainkan
melakukan yang baik kepada semua orang.
2. Kasih
yang Dinyatakan Melalui Perbuatan (Ay. 6)
6 Dan aku
berdoa, agar persekutuanmu di dalam iman turut mengerjakan pengetahuan akan
yang baik di antara kita untuk Kristus.
Paulus berdoa agar iman Filemon semakin nyata
melalui persekutuan, pelayanan, dan perbuatan baik. Iman yang sejati bukanlah
iman yang pasif, melainkan iman yang diwujudkan dalam tindakan kasih, kemurahan
hati, dan kepedulian kepada sesama. Melalui perbuatan baik, orang percaya
semakin mengalami dan memahami kebaikan Tuhan secara nyata dalam hidupnya.
Karena itu, iman harus terus bertumbuh dan
dinyatakan dalam tindakan yang membangun persekutuan serta menguatkan sesama.
Kasih yang hidup dan aktif inilah yang menjadi sumber sukacita dan kekuatan
bagi banyak orang.
3. Kasih
yang Menghibur dan Menguatkan (Ay. 7)
7 Dari kasihmu sudah kuperoleh kegembiraan besar dan
kekuatan, sebab hati orang-orang kudus telah kauhiburkan, saudaraku.
Kasih yang dimiliki Filemon membawa sukacita dan
kekuatan bagi banyak orang, termasuk Paulus yang sedang berada di dalam
penjara. Kehidupan Filemon menjadi berkat karena kehadirannya menghadirkan
kelegaan, penghiburan, dan pemulihan bagi sesama. Melalui teladannya, kita
belajar bahwa orang percaya dipanggil untuk menjadi saluran kasih Tuhan yang
menyegarkan, sehingga kehadiran kita dapat membawa sukacita dan menguatkan
orang lain.
Kesimpulan
Kasih yang menggembirakan dan
menguatkan lahir dari iman yang sungguh kepada Kristus. Iman yang benar tidak
hanya terlihat dalam pengakuan, tetapi juga dalam tindakan kasih, pengampunan,
dan kepedulian kepada sesama. Seperti Filemon, orang percaya dipanggil untuk
menjadi saluran kasih Tuhan yang membawa sukacita, penghiburan, dan kekuatan
bagi orang lain. Karena itu, marilah kita hidup dalam iman yang aktif,
melakukan kehendak Tuhan, serta menjadikan kasih Kristus sebagai dasar dalam
setiap perkataan dan perbuatan, sehingga kehidupan kita menjadi berkat dan
kemuliaan bagi nama Tuhan. Amin.