Sabtu, 18 Juli 2026

Hari Sukacita Bagi Umat Tuhan. Ester 9:15-19

 

Khatbah Minggu 19 JULI 2026




Pendahuluan

Peristiwa ini terjadi di Susan (Susa), ibu kota Kerajaan Persia, pada masa pemerintahan Raja Ahasyweros Pada zaman Ester, banyak orang Yahudi masih hidup di negeri perantauan (diaspora) di bawah pemerintahan Persia. Walaupun masa pembuangan secara resmi telah berakhir melalui dekret Koresh, tidak semua orang Yahudi kembali ke Yerusalem. 

Ester 9:11–19 menceritakan tentang kemenangan orang Yahudi atas musuh-musuh mereka yang kemudian menjadi dasar penetapan Hari Raya Purim. Kata Purim berasal dari bahasa Ibrani pur, yang berarti "undi", yaitu undian yang dilemparkan Haman untuk menentukan hari pemusnahan orang Yahudi (Est. 3:7). Hari Raya Purim ditetapkan sebagai peringatan atas pembebasan umat Yahudi dari rencana jahat Haman dan para pengikutnya yang hendak memusnahkan mereka di Kerajaan Persia. Haman, yang menjabat sebagai pejabat tertinggi setelah raja, telah menyusun rencana untuk membinasakan seluruh bangsa Yahudi. Namun, melalui keberanian Ratu Ester dan hikmat Mordekhai, serta penyelenggaraan Allah yang bekerja di balik setiap peristiwa, rencana jahat itu digagalkan. Sebaliknya, orang Yahudi memperoleh kemenangan atas musuh-musuh mereka di seluruh wilayah kerajaan. Kemenangan tersebut kemudian dikenang melalui penetapan Hari Raya Purim sebagai ungkapan syukur atas perlindungan, pemeliharaan, dan penyelamatan Allah terhadap umat-Nya.

Berdasarkan Ester 9:11–19, kita akan melihat bagaimana Allah bekerja bagi umat-Nya melalui tiga kebenaran penting. Pertama, perlindungan Tuhan yang memberi kemenangan (ayat 11–14), yang menunjukkan bahwa Allah membela dan menyelamatkan umat-Nya dari ancaman musuh. Kedua, kemenangan yang menghadirkan sukacita (ayat 15–17), di mana pertolongan Tuhan membawa keamanan, perhentian, dan damai bagi umat-Nya. Ketiga, merayakan kemenangan dengan sukacita (ayat 18–19), yaitu respons iman umat Tuhan yang mengungkapkan syukur melalui perjamuan, sukacita, dan berbagi dengan sesama. Melalui ketiga kebenaran ini, kita diajak untuk semakin percaya kepada pemeliharaan Tuhan dan senantiasa hidup dalam sukacita serta ucapan syukur atas karya keselamatan-Nya.

1. Perlindungan Tuhan yang Memberi Kemenangan (ayat 11-14)

11 Pada hari itu juga jumlah orang-orang yang terbunuh di dalam benteng Susan disampaikan ke hadapan raja. 12 Lalu titah raja kepada Ester, sang ratu: "Di dalam benteng Susan saja orang Yahudi telah membunuh dan membinasakan lima ratus orang beserta kesepuluh anak Haman. Di daerah-daerah kerajaan yang lain, entahlah apa yang diperbuat mereka. Dan apakah permintaanmu sekarang? Niscaya akan dikabulkan. Dan apakah keinginanmu lagi? Niscaya dipenuhi. " 13 Lalu jawab Ester: "Jikalau baik pada pemandangan raja, diizinkanlah kiranya kepada orang Yahudi yang di Susan untuk berbuat besokpun sesuai dengan undang-undang untuk hari ini, dan kesepuluh anak   Haman itu hendaklah disulakan   pada tiang." 14 Rajapun menitahkan berbuat demikian; maka undang-undang itu dikeluarkan di Susan dan kesepuluh anak Haman disulakan  orang.

 

Ester 9:11-14 adalah bukti perlindungan Tuhan atas umat-Nya melalui Ester pada Ester,   pada hari kemenangan orang Yahudi itu di benteng Susan, jumlah musuh yang terbunuh dilaporkan kepada Raja Ahasyweros. Raja kemudian memberitahukan kepada Ratu Ester bahwa orang Yahudi telah membunuh 500 orang di Susan, termasuk kesepuluh anak Haman, lalu bertanya apakah masih ada permintaan lain yang diinginkan Ester. Ester memohon agar orang Yahudi di Susan diizinkan melanjutkan pembelaan diri pada hari berikutnya sesuai titah raja, serta agar mayat kesepuluh anak Haman digantung pada tiang sebagai tanda hukuman. Raja mengabulkan permintaan itu, mengeluarkan titah di Susan, dan mayat kesepuluh anak Haman pun digantung, sehingga kemenangan orang Yahudi semakin ditegaskan dan ancaman dari para musuh mereka benar-benar diakhiri.

Ester 9:11–14 menegaskan bahwa Allah adalah Pelindung umat-Nya yang setia dan berdaulat atas sejarah, sekalipun nama-Nya tidak disebutkan secara langsung dalam kitab Ester. Melalui keberanian dan hikmat Ester serta keputusan Raja Ahasyweros, Allah membalikkan keadaan dari ancaman kebinasaan menjadi kemenangan dan keamanan bagi umat-Nya. Kemenangan ini bukan semata-mata hasil kekuatan manusia, melainkan bukti penyelenggaraan (providensia) Allah yang bekerja di balik setiap peristiwa untuk menggenapi rencana-Nya. Hukuman terhadap musuh-musuh Israel juga menunjukkan bahwa Allah adalah Hakim yang adil, yang membela umat-Nya dan menegakkan keadilan terhadap kejahatan. Karena itu, orang percaya dipanggil untuk tetap percaya kepada pemeliharaan dan perlindungan Allah, sebab Dia sanggup bekerja melalui berbagai cara dan pribadi untuk menyelamatkan umat-Nya sesuai dengan kehendak-Nya.

 2. Kemenangan yang Meghadirkan Sukacita (ayat 15-17)

15 Jadi berkumpullah orang Yahudi yang di Susan pada hari yang keempat belas bulan Adar juga dan dibunuhnyalah di Susan tiga ratus orang, tetapi kepada barang rampasan  tidaklah mereka mengulurkan tangan. 16 Orang Yahudi yang lain, yang ada di dalam daerah kerajaan, berkumpul dan mempertahankan nyawanya serta mendapat keamanan  terhadap musuhnya;  mereka membunuh tujuh puluh lima ribu orang  di antara pembenci-pembenci mereka, tetapi kepada barang rampasan tidaklah mereka mengulurkan tangan.  Hal itu terjadi pada hari yang ketiga belas dalam bulan Adar.  Pada hari yang keempat belas berhentilah mereka dan hari itu dijadikan mereka hari perjamuan   dan sukacita. 

Umat Yahudi di berbagai wilayah termasuk kota Susan mengalahkan musuh-musuh mereka. Orang Yahudi berhasil membunuh musuh mereka di kota Susan sebanyak 300 orang, dan orang Yahudi lainnya yang ada di daerah Kerajaan itu membunuh tujuh puluh lima ribu orang, namun tidak mengambil harta rampasan mereka, (ayat 15–16: "Jadi berkumpullah orang Yahudi yang di Susan pada hari yang ke empat belas bulan Adar dan dibunuhnyalah di Susan tiga ratus orang..."). Susan adalah ibukota Kerajaan Persia, orang Yahudi yang tinggal di sana berkumpul bersama pada hari itu, tetapi mereka tidak mengambil barangnya karena hukum mengatakan mereka dapat membela diri namun tidak mengambil sesuatu dari mereka dan mereka mematuhi hukum.

Ester 9:15-17 mengajarkan bahwa kemenangan yang diberikan Allah menghadirkan keamanan, perhentian, dan sukacita bagi umat-Nya. Kemenangan orang Yahudi bukanlah kemenangan untuk memuaskan balas dendam atau memperoleh keuntungan materi, terbukti mereka tidak mengambil barang rampasan meskipun memiliki kesempatan. Hal ini menunjukkan bahwa tujuan mereka adalah mempertahankan hidup sesuai dengan ketetapan raja, bukan mencari kekayaan. Setelah ancaman berlalu, mereka berhenti dari peperangan dan mengadakan perjamuan serta bersukacita sebagai ungkapan syukur atas pertolongan Tuhan. Secara teologis, bagian ini menegaskan bahwa Allah tidak hanya membebaskan umat-Nya dari bahaya, tetapi juga memberikan damai sejahtera dan sukacita sebagai buah dari penyelamatan-Nya. Karena itu, orang percaya dipanggil untuk memandang setiap kemenangan sebagai anugerah Tuhan, menggunakannya untuk memuliakan Dia, hidup dalam integritas, serta mengucap syukur atas pemeliharaan-Nya.

3. Merayakan Kemengan dengan Sukacita (ayat 18-19)

18 Akan tetapi orang Yahudi yang di Susan berkumpul, baik pada hari yang ketiga belas, baik pada hari yang keempat belas dalam bulan itu. Lalu berhentilah mereka pada hari yang kelima belas dan hari itu dijadikan mereka hari perjamuan dan sukacita. 19 Oleh sebab itu orang Yahudi yang di pedusunan, yakni yang diam di perkampungan merayakan hari yang keempat belas bulan Adar  itu sebagai hari sukacita dan hari perjamuan, dan sebagai hari gembira untuk antar-mengantar  makanan.

Pada hari ke-13 bulan Adar orang Yahudi di seluruh propinsi berhasil melawan dan mengalahkan musuh-musuh mereka. Atas kemenangan itu, orang Yahudi membuat suatu perayaan yang dinamai Purim. Purim ini adalah sebagai peringatan tahunan yang dilaksanakan untuk perayaan dan ucapan syukur kepada Tuhan. Ketika mereka seharusnya dibinasakan, tetapi justru mereka menang. Di mana kemenangan ini berpuncak pada penetapan tanggal 13 dan 14 bulan Adar sebagai hari sukacita dengan kebiasaan makan-makan, saling mengirim hadiah (berbagi) yang menandai kemenangan dan mengingatkan akan pemeliharaan Tuhan. Hari itu ditetapkan sebagai hari sukacita dan perjamuan. Dalam hal ini terjadi perubahan signifikan dari situasi duka menjadi sukacita dan mengingat akan pemeliharaan Tuhan dan kenangan akan pembebasan. Hari raya Purim diperingati orang Yahudi sebagai peringatan akan penyelamatan mereka, sebuah keharusan bagi mereka dan keturunannya dan orang-orang yang bergabung dengan mereka. Peringatan hari raya Purim (ayat 26) perintahkan untuk dilakukan setiap tahun untuk mengingatkan umat Tuhan (Yahudi) akan karya penyelamatan Tuhan yang ajaib, dengan kata lain mengenang kebaikan Tuhan dalam hidup mereka. Itulah sebabnya orang Yahudi merayakannya. Suatu sukacita besar bagi umat Tuhan.

Ester 9:18-19 menegaskan bahwa kemenangan dan keselamatan yang diberikan Allah harus direspons dengan sukacita, ucapan syukur, dan peringatan yang terus-menerus. Orang Yahudi tidak berhenti pada kemenangan atas musuh, tetapi merayakannya melalui perjamuan, sukacita, dan saling mengirim makanan sebagai ungkapan syukur atas pemeliharaan Tuhan. Perayaan ini kemudian menjadi dasar Hari Raya Purim, yang diperingati setiap tahun agar setiap generasi mengingat karya penyelamatan Allah yang membebaskan umat-Nya dari kebinasaan. Secara teologis, bagian ini mengajarkan bahwa umat Allah dipanggil untuk tidak melupakan karya keselamatan-Nya, melainkan terus mengenangnya melalui ibadah, persekutuan, berbagi kasih kepada sesama, dan kehidupan yang penuh ucapan syukur. Bagi orang percaya masa kini, sukacita yang sejati mencapai puncaknya di dalam Yesus Kristus, yang telah memberikan kemenangan atas dosa dan maut, sehingga setiap hari menjadi kesempatan untuk memuliakan Tuhan dan membagikan kasih-Nya kepada sesama.

Kesimpulan

Ester 9:11–19 mengajarkan bahwa Allah setia melindungi, membela, dan memberikan kemenangan kepada umat-Nya. Kemenangan yang berasal dari Tuhan membawa keamanan, perhentian, dan sukacita yang diwujudkan dalam ucapan syukur, persekutuan, dan berbagi dengan sesama. Karena itu, sebagai umat Tuhan, kita dipanggil untuk selalu mengingat karya penyelamatan-Nya, hidup dalam iman kepada pemeliharaan-Nya, serta merayakan setiap anugerah-Nya dengan hati yang penuh syukur dan sukacita.

Oleh Pdt: Juliman Harefa

Hari Sukacita Bagi Umat Tuhan. Ester 9:15-19

  Khatbah Minggu 19 JULI 2026 Pendahuluan Peristiwa ini terjadi di Susan (Susa), ibu kota Kerajaan Persia, pada masa pemerintahan Raja...